Best Luck [3]

poster-best-luck

Poster oleh Pinkash Design.

You are my luck, I can’t avoid it (EXO’s Chen – Best Luck).


[3]. Nanny’s First Day

Joonmyeon tidak bisa berkonsentrasi bekerja sepanjang hari ini. Ini hari pertama Yoori resmi bekerja di rumahnya sebagai pengasuh. Bomi sudah mulai bekerja di rumah sakit mulai hari ini dan Chanyeol sedang sibuk memproduseri band pendatang baru. Sedangkan jadwal mengajar Joonmyeon di kampus sangat penuh, mengingat ini semester baru. Ia harus mempercayakan Leo seharian ini pada Yoori tanpa ada ia, Bomi atau Chanyeol yang menemani. Bukannya ia tidak percaya pada kemampuan wanita itu, tapi ini pertama kali Leo bersama seseorang yang tidak terlalu dikenalnya dan biasanya anak itu tidak terlalu ramah.

Tugas Yoori cukup banyak meski Joonmyeon tahu ia sanggup melakukannya. Ia hanya perlu menjemput Leo dari taman kanak-kanak, menemani Leo makan siang, memastikan Leo tidur siang, kemudian memandikan Leo setelah bangun. Setelahnya menemani Leo bermain dan makan cemilan sore, sampai Joonmyeon tiba di rumah untuk makan malam. Yoori hanya bekerja sampai sebelum makan malam. Setelah itu, Joonmyeon yakin ia atau Bomi masih bisa bergantian mengurus makan malam Leo dan menidurkan anak itu.

Itu juga kalau semuanya berjalan lancar. Masalahnya terkadang Leo harus dibujuk untuk makan atau menolak tidur siang dan mandi. Anak itu bisa meledak-ledak kalau keinginannya tidak dipenuhi. Joonmyeon hanya berharap Yoori bisa mengatasi hal itu.

Oleh sebab itu, begitu jam kuliah berakhir, Joonmyeon terburu-buru menyetir pulang. Sejauh ini tidak ada laporan apa pun dari Pengurus Han, namun ia tetap tidak merasa tenang. Ia perlu memastikan sendiri bahwa Leo dan Yoori bisa berinteraksi dengan baik.

Pengurus Han yang membukakan pintu saat Joonmyeon tiba. Suasana rumah sangat tenang sama sekali tidak seperti bayangannya. Pengurus Han yang sedang menyiapkan makan malam memberitahu Joonmyeon bahwa Leo dan Yoori ada di kamar Leo.

Yang ditemukan Joonmyeon ketika ia mengintip ke kamar Leo adalah sepotong percakapan bahasa Inggris antara Leo dan pengasuhnya.

Green is good,” kata Leo sambil mengambil krayon berwarna hijau.

Pengucapan Leo memang tidak sempurna, tapi ia bicara dengan lancar dengan bahasa yang bukan bahasa ibunya untuk ukuran anak berumur lima tahun.

Mereka berdua menunduk di atas lembar mewarnai dengan berbagai warna krayon tersebar di antaranya.

Why?” pancing Yoori.

Because Crong is green,” Leo beralasan sambil menunjuk plushie Crong ukuran jumbo di sudut tempat tidurnya yang dibelikan oleh Chanyeol.

Yoori tertawa kecil. “Do you like green hair?”

Joonmyeon baru menyadari bahwa Leo mewarnai rambut si anak laki-laki dalam lembar mewarnai dengan warna hijau.

Leo menggeleng-gelengkan kepalanya. “I like red hair like Uncle Chanyeol,” sahut Leo mempertahankan pilihan warna rambutnya.

Saat itulah Joonmyeon memutuskan untuk membiarkan keberadaannya diketahui.

“Lain kali, aku akan melarang Chanyeol untuk mengecat rambut,” katanya sambil berjalan masuk ke dalam kamar Leo.

Yoori tertawa mendengar kalimat Joonmyeon sedangkan Leo berlari menyambutnya sambil berteriak girang, “Appa!”

Joonmyeon menangkap Leo, memutar-mutarnya di udara dengan gerakan helikopter yang membuat anak itu terkikik geli, kemudian memeluk dan mengecupnya. Leo menggeliat, melepaskan diri kemudian mengambil gambar yang diwarnainya tadi.

Appa! Lihat! Rambutnya berwarna hijau seperti Crong,” Leo memamerkan pada Joonmyeon.

“Bagus sekali,” puji Joonmyeon menepuk-nepuk kepala Leo dengan lembut. “Tapi Leo belum boleh punya rambut berwarna merah seperti Paman Chanyeol.”

Leo cemberut, namun langsung terallhkan oleh panggilan Pengurus Han bahwa makan malam sudah siap. Ia tidak menunggu Joonmyeon atau Yoori, melainkan langsung melesat menuju ruang makan saat mendengar Pengurus Han membuatkan puding coklat sebagai hidangan penutup. Baik Joonmyeon maupun Yoori tidak bisa menahan senyum melihat tingkah Leo.

“Bagaimana kau tahu kalau Leo bicara dalam bahasa Inggris?” Joonmyeon mendadak merasa penasaran, mengingat percakapan antara Leo dan Yoori tadi.

“Nona Bomi memberitahuku. Ia bilang Anda melatihnya bicara dua bahasa dan memintaku untuk sesekali mengajaknya bicara dalam bahasa Inggris,” Yoori menjelaskan. “Tidak heran, Anda menamainya Leo.”

Joonmyeon merasa aneh dengan bahasa formal yang digunakan Yoori. Mereka terbiasa bicara dengan bahasa nonformal, namun ia tidak ingin memprotesnya. Biar bagaimana pun sekarang Yoori bekerja untuk Joonmyeon dan formalitas di antara keduanya adalah hal yang wajar.

“Apakah Leo nakal seharian ini?” tanya Joonmyeon.

“Sedikit. Ia hanya cranky karena teman bermainnya tidak masuk sekolah,” jawab Yoori sambil tertawa.

Ia bisa membayangkan sikap Leo yang biasanya sering membuat Bomi mengomel.

“Kau akan tinggal untuk makan malam?” Joonmyeon bertanya basa-basi pada Yoori yang sudah menyandang tasnya, bersiap untuk pulang.

Yoori menggeleng. “Jam kerja saya sudah habis, Professor Kim. Lagipula saya sudah punya janji,” tolaknya halus.

Joonmyeon mengangguk kikuk. “Perlu saya panggilkan taksi?”

“Tidak perlu,” lagi-lagi Yoori menggeleng, jadi Joonmyeon harus puas hanya mengantarnya sampai ke pintu depan.

Setelah menutu pintu depan, Joonmyeon langsung berhadapan dengan Leo yang kelihatannya sudah tak sabar menunggu ayahnya yang terlalu lama menuju meja makan. Leo menatap Joonmyeon dengan wajah penasaran.

“Bibi Yoori sudah pulang?” tanya Leo.

“Sudah,” jawab Joonmyeon, lalu menghampiri Leo dan menggiring anak itu menuju ruang makan. “Apa kalian bersenang-senang hari ini?” Joonmyeon balik bertanya.

Leo mengangguk polos. “Bibi Yoori baik hati seperti guru sekolah Leo.”

Pengurus Han tertawa kecil mendengar respon Leo membuat Joonmyeon menyipitkan mata, sadar bahwa Leo menyembunyikan sesuatu. Yang ditatap hanya nyengir lebar tidak merasa bersalah sambil memakan ayam gorengnya.

“Leo tidak mau mengaku?” pancing Joonmyeon.

Anak itu nyengir semakin lebar.

“Tadi Leo menumpahkan mainan,” ia akhirnya mengaku, tapi buru-buru menambahkan. “Tidak sengaja, kok. Leo tidak sengaja menendang kotak mainan. Leo kesal karena hari ini Dennis tidak masuk.”

Joonmyeon menghela napas. Ia lebih dari sekedar tahu bahwa Leo bukan hanya kesal. He was throwing tantrum. “Lalu?”

“Bibi Yoori bilang Leo tidak boleh kesal karena Dennis, ‘kan, sedang sakit. Lalu kami main siapa-yang-paling-cepat-rapi dan Leo jadi pemenangnya,” cerita Leo di sela-sela kunyahannya.

Mau tak mau Joonmyeon tersenyum, menyadari taktik pintar Yoori untuk membuat Leo termotivasi membereskan mainan yang ditumpahkannya. Joonmyeon pernah menyuruh Leo membereskan mainannya, yang terjadi malah ia menduduki mobil-mobilan Leo yang entah bagaimana bisa ada di kamarnya.

Entah Yoori memang ahli dalam mengurus anak-anak atau ia memang berbakat dalam dunia itu, yang jelas Joonmyeon yakin hari-hari berikutnya ia tidak akan khawatir lagi meninggalkan Leo dengan Lee Yoori sebagai pengasuhnya. Lagi-lagi ia merasa beruntung Lee Yoori adalah pengasuh Leo.

-to be continued-

©2017 qL^^

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s