Let Out The Beast [9]

a fan fiction by qL^^

and

gorgeous poster by  HRa@HighSchoolGraphics

.

Casts : Do Kyungsoo, Kim Yoojung, Kim Jongin

Genre : Psychology, Mystery, Romance

Rating : PG 13- Teen

Length : Multichapter

.

Disclaimer : This is work of fan fiction. All mentioned artists belonged to agencies. No profit is intended.

Previously on Let Out The Beast : 8

beast2

Let Out The Beast

Chapter IX

Lady Luck

Time, go a little faster, yeah (I promise girl).

Make darkness fall, bring her to me.

 (Lady Luck – EXO)

Lady is moving.”

Suara rekan Kim Jongin masuk dari saluran radio polisi. Jongin menghela napas, melirik ke arah Oh Sehun yang gelisah.

“Bagus,” respon Jongin melalui radio akhirnya. “Ikuti dia.”

Tangan Kim Yoojung menggenggam tangan Jung Dongchan erat. Anak laki-laki itu terlihat gembira sekali, bisa keluar rumah sakit dan tidak perlu mengenakan pakaian rumah sakit. Sayang sekali Dongchan tidak bisa mengajak kakak laki-lakinya ikut serta lantaran kakaknya punya jadwal terapi yang tidak bisa ditinggalkan. Yoojung baru tahu bahwa Dongchan punya kakak laki-laki yang mengalami trauma mental lebih parah dari adiknya.

“Jadi ceritakan lagi pada Bibi tentang dirimu, Dongchan,” bujuk Yoojung lembut.

“Aku sudah menceritakan semuanya pada Bibi. Ibu pergi meninggalkan kami. Ayah sering memukuliku dan hyungHyung melindungiku sehingga ia lebih sering kena pukul. Setelah ayah meninggal, kami tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi. Paman Do yang paling sering menjenguk. Ia bilang ia datang sebagai atasan Ayah dan ia baik sekali. Aku menyukainya,” cerita Dongchan cepat-cepat, terlalu terdistraksi pada balon-balon besar berbagai warna di taman Lee Soon Shin untuk bicara lebih banyak.

Yoojung mengangguk paham. Ia sama sekali tidak menyangka bahkan Dongchan pun berkaitan dengan Do Kyungsoo. Apakah semua orang yang dikenalnya di dunia ini selalu memiliki keterkaitan dengan lelaki mengerikan itu? Ryeowook oppa, Jongin oppa, dan bahkan Jung Dongchan.

“Bibi, ayo kita ke sana,” seru Dongchan, mendadak menarik tangan Yoojung menuju kumpulan tokoh-tokoh dari kartun Pororo.

Malam ini Yoojung menepati janjinya pada Do Kyungsoo. Ia mengajak Dongchan ke Taman Lee Soon Shin sebagai alasan agar ia bisa meninggalkan rumah sakit. Ia tahu Jongin curiga dengan rencana dadakannya. Ia hanya berharap Jongin menyadari usahanya untuk membuat dirinya diikuti. Sekeras apa pun Do Kyungsoo memperingatkannya untuk datang sendiri, Yoojung sungguh berharap Jongin ada di suatu tempat dalam taman ini mengawasinya. Ya, ia memang sengaja membuat Jongin curiga.

Taman Lee Soon Shin ramai sekali, dipenuhi anak-anak bersama orangtua atau wali mereka. Ada berbagai stan penjual mainan, banyak kostum-kostum kartun seperti Dooly dan Robocop, penjual minuman dan makanan ringan dan bahkan panggung boneka. Singkatnya, malam ini Taman Lee Soon Shin benar-benar surga bagi para anak kecil. Lihat saja cengiran lebar di wajah Dongchan yang tidak menghilang sejak mereka menginjakkan kaki di sini.

Yoojung sedang menunggu gulali kapas untuk Dongchan saat ia tiba-tiba ditabrak oleh seseorang dari belakang. Ia gelagapan, mengeratkan pegangan tangannya pada Dongchan dan merasakan seseorang menyelipkan sesuatu pada tangannya yang bebas. Ketika ia berbalik, siapa pun itu telah menghilang dan kini ada selembar kertas kecil di tangan Yoojung.

Sekarang.

Satu kata yang membuat jantung Yoojung berdebar kencang.

“Bibi, kenapa?” tanya Dongchan polos.

Yoojung menggeleng dan tersenyum, lalu membayar gulali kapas Dongchan. Sambil melirik ke kiri dan ke kanan, Yoojung membawa Dongchan ke pos keamanan. Ia berjongkok dan menyerahkan gulali pada si anak laki-laki yang masih kebingungan. “Dongchan, Bibi harus pergi sebentar. Tidak lama, kok. Kamu tunggu di sini, ya, Sayang. Paman satpam akan menjagamu. Jangan kemana-mana sampai Bibi menjemputmu lagi. Kamu mengerti?” tanyanya.

Dongchan mengangguk.

Yoojung tersenyum lagi, lalu mengacak rambut Dongchan dengan lembut. Sudah cukup Yoojung melibatkan Dongchan dalam hubungannya dengan Kyungsoo. Ia kemudian menjelaskan kepada satpam untuk menitipkan Dongchan sebentar dan menyerahkan kartu namanya. “Kalau saya tidak kembali juga, tolong antarkan anak ini ke rumah sakit yang tertera di sana,” ia menambahkan.

Satpam itu menatapnya bingung. “Anda baik-baik saja, Nona?” tanyanya.

“Ya,” sahut Yoojung. Suaranya sedikit bergetar. “Mohon bantuannya.”

Satpam itu terlihat masih curiga, namun tidak bertanya lagi dan mengangguk sopan pada Yoojung.

Dengan langkah berat, Yoojung berjalan meninggalkan pos keamanan. Ia sama sekali tidak tahu kemana ia harus mencari Do Kyungsoo. Pesan tadi pasti dikirimkan olehnya dan Yoojung yakin sekali. Ia berjalan terus, mengelilingi keramaian festival sampai ia berhenti tepat di depan patung Lee Soon Shin.

Kuatkan hatimu, batinnya. Ini untuk terakhir kali.

Bagaikan mantera, Yoojung seolah memanggil Do Kyungsoo. Ia bisa merasakannya. Pergerakan nyaris ada dan tiada bahwa seseorang kini berdiri di belakangnya.

“Sudah kukatakan padamu untuk datang sendiri.”

Suara Do Kyungsoo yang familiar berbisik di telinga kirinya membuat Yoojung merinding. Nada bicaranya tidak selembut biasa. Ia terdengar marah dan tak suka yang semakin membuat Yoojung ketakutan. Tapi kalimatnya sedikit menenangkan Yoojung. Kalimatnya memberitahu Yoojung bahwa Jongin ada di sini dan mengawasinya.

“Aku tidak mengerti maksudmu, Do Kyungsoo-ssi,” balas Yoojung tajam masih memunggungi Kyungsoo. Jelas, ia berbohong dan berharap Kyungsoo tidak sadar. “Kalau kau bicara tentang Dongchan, ia hanya kujadikan alasan agar aku bisa kemari.”

Kyungsoo berdecak. “Dua mobil polisi di kanan, dua di sebelah kiri dan sekitar lima orang berpura-pura sebagai warga sipil di arena festival. Kim Jongin benar-benar berlebihan,” ia mencemooh.

Maka Yoojung berbalik untuk melihat lelaki itu dengan jelas. Do Kyungsoo tampak sangat normal, layaknya warga sipil biasa. Ia berpakaian serba hitam : blazer semiformal, kemeja, dan jins. Ia tidak mengenakan penyamaran apa pun, entah itu topi atau kacamata. Wajahnya dihiasi seringai khas, meski Yoojung bisa melihat beberapa lebam masih belum menghilang. Kenyataan bahwa Do Kyungsoo berdiri di arena festival dalam keramaian bersamanya membuat Yoojung sesak.

“Bagaimana mungkin kau muncul di sini tanpa ada yang mengenali?” bisiknya tak percaya.

Seringai itu bertambah lebar. Kyungsoo memajukan wajahnya dekat sekali dengan wajah Yoojung, lalu berkata dengan suara yang tenang dan penuh hasutan, “karena orang-orang terlalu egois.”

The Lady has met the beast!”

Mendengar itu, Jongin terburu-buru meraih binokular dan mengamati. Ia bisa menemukan mereka dengan mudah seolah mereka adalah bagian terpisah dari keramaian.

“Jangan lakukan gerakan besar dan terburu-buru,” perintah Jongin keras. “Seize the beast slyly!”

“Roger that!”

“Karena orang-orang terlalu egois.”

Kening Yoojung berkerut, tak paham dengan jawaban Kyungsoo. Lelaki itu tertawa kecil, jenis tawa khas yang sinis dan tanpa humor.

“Orang-orang terlalu mementingkan diri mereka sendiri, Yoojung-ie. Mereka tidak peduli pada keadaan di sekeliling mereka. Bagi mereka, aku hanya buronan yang dicari melalui siaran televisi. Bagi mereka, kau hanya korban yang sekilas diketahui dari berita. Bagi mereka, kita berdua tidak signifikan. Mereka tidak akan membayangkan bahwa aku bisa muncul di sini,” Kyungsoo mengedarkan pandangan pada arena festival yang sama.

Ekspresi Yoojung menunjukkan bahwa ia tidak setuju dengan apa yang dikatakan Kyungsoo, namun ia tidak mengatakan apa-apa.

“Ah, tapi Yoojung-ie,” Kyungsoo melanjutkan, “tujuanku bertemu denganmu bukan untuk membicarakan keegosian orang lain.”

“Kalau begitu, bicaralah sekarang karena aku tidak akan memberikanmu kesempatan lain,” ujar Yoojung tegas.

Tapi Kyungsoo hanya tersenyum simpul. Mendadak, ia memegang lengan Yoojung dan tanpa aba-aba menarik gadis itu mendekat padanya. Jantung Yoojung berdegup kencang sekali. Entah mengapa gestur ini mengingatkannya pada ciuman mereka. Sikap itu memancing Yoojung untuk berontak.

“Lepaskan! Kau bilang kau mau bicara!” protesnya keras.

Pegangan Kyungsoo melonggar, tapi ia tidak melepaskan Yoojung. “Di sini bukan tempat yang tepat.” Dan bersamaan dengan itu, ia menarik Yoojung yang kebingungan untuk berjalan dengan cepat dan zig-zag menerobos keramaian arena festival.

“Apa yang kaulakukan?!” desis Yoojung marah. “Kita mau kemana?!”

“Mencari tempat yang tepat untuk bicara,” jawab Kyungsoo kalem, masih sambil setengah memegang dan setengah menyeret Yoojung bersamanya. “Kau tidak boleh protes, Yoojung-ie. Ini semua karena dirimu. Membuat Kim Jongin mengikutimu dan mengacaukan pembicaraan kita. Jadi sebagai gantinya, kau harus menurutiku.”

Saat itulah, Yoojung bisa melihat beberapa orang juga berjalan cepat mendekat ke arah mereka. Ia tahu itu pasti rekan detektif polisi Jongin. Ia berusaha keras menghambat laju pergerakan Kyungsoo, tapi lelaki itu bergerak dengan gesit di antara celah orang-orang. Salah satu detektif  yang mengejar mereka kini berdiri tepat menghalangi jalan Kyungsoo dan Yoojung yang membuatnya bernapas lega. Tapi anehnya Kyungsoo justru terlihat biasa-biasa saja.

Ia hanya mengangguk pelan.

Satu gerakan cepat. Di belakang detektif itu sudah berdiri lelaki berpakaian hitam dan tanpa aba-aba, mata detektif itu membelalak dan ambruk ke tanah. Darah membasahi punggung detektif itu sedangkan si lelaki berpakaian hitam sudah menghilang dalam sekejap.

Dunia seakan berhenti.

Lalu jeritan salah seorang pengunjung terdengar ketika ia menyadari tubuh detektif yang menelungkup tak bergerak di atas tanah.

Yoojung masih terpaku saat Kyungsoo menariknya untuk mulai berjalan lagi. Tahu-tahu mereka sudah berada di luar taman Lee Soon Shin yang digunakan sebagai arena festival. Ia bahkan diam saja ketika Kyungsoo mendorongnya duduk di kursi penumpang dan memakaikan sabuk pengaman untuknya sebelum lelaki itu sendiri duduk di kursi pengemudi.

Seumur hidup, Yoojung sudah pernah melihat kematian. Di meja operasi, di ruang gawat darurat, bahkan di panti asuhan. Namun, ia baru pertama kali melihat pembunuhan. Tepat di depan matanya. Yoojung bergidik dan ingatan itu mengembalikan fokusnya.

“Apa yang kaulakukan?!” pekiknya. Audi A5 Kyungsoo melaju dengan kecepatan di atas rata-rata yang diperbolehkan di jalanan.  “Kau bilang kau tidak akan melukai siapa pun!”

“Janji itu tidak berlaku untuk mereka yang  membahayakan dirimu,” sahut Kyungsoo dingin.

“Astaga! Detektif itu tidak bersalah,” Yoojung masih berargumentasi.

“Situasi akan berbeda kalau aku tidak menyingkirkannya, Yoojung-ie,” potong Kyungsoo. “Kau harus ingat masih berhutang pembicaraan denganku.”

Yoojung sudah akan membalas perkataan Kyungsoo, namun sirene mobil polisi mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh ke belakang dan melihat tiga mobil polisi melaju dengan kecepatan tinggi berusaha menyusul Audi Kyungsoo.

Shit,” umpat Kyungsoo, kemudian meraih tombol merah di dashboard.

Sedan-sedan hitam yang muncul entah dari mana tiba-tiba membanjiri jalanan. Persis seperti lelaki berpakaian hitam tadi, sedan-sedan ini menghambat laju mobil polisi dan memberi keuntungan pada Kyungsoo untuk menghilangkan jejak. Dalam hati Yoojung bertanya-tanya, apakah ini bagian dari El Dorado yang dimaksud Kyungsoo? Apakah ini semua ‘para bawahan’ yang melakukan pekerjaan untuk Kyungsoo?

He is called beast.

Yoojung ingat pernah mendengar kalimat itu saat ia pertama kali bertemu Kyungsoo. Malam ini ia mengerti mengapa julukan itu begitu cocok dengan Do Kyungsoo.

Ada sesuatu yang menabrak punggung Audi sehingga membuat Yoojung dan Kyungsoo terlempar ke depan. Rupanya salah satu mobil polisi sudah berhasil menyusul meski dihimpit di kiri dan kanan oleh sedan-sedan hitam. Kyungsoo menginjak pedal gas lebih dalam, namun tiba-tiba memperlambat lajunya akibatnya mobil polisi yang tepat berada di belakang mereka bertubrukan dan salah satu mobil terbalik, menghalangi jalur mobil lain.

Tapi pengejaran terus berlangsung.

Satu mobil polisi yang berhasil lepas dari halangan berusaha menyalip Audi Kyungsoo dari sebelah kanan. Lelaki itu membanting stir, menabrakkan sisi kanan mobilnya membuat mobil polisi itu terdorong ke arah pembatas jalan. Yoojung menjerit saat spion di sisi kanan—tempat ia duduk—pecah dan tabrakan itu membuat pintu mobil penyok.

Audi Kyungsoo masih melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah jembatan sungaI Han. Tiba-tiba lelaki itu mengarahkan kemudi ke arah kiri dengan cepat. Audi Kyungsoo membelah jalanan dengan zig zag dan jejak mereka lolos dari pengerjaran kepolisian. Samar-sama suara sirene polisi masih terdengar, tapi kini ia berkendara dengan kecepatan normal.

Sepuluh menit kemudian, Audi Kyungsoo berhenti di persimpangan dekat Chinatown. Ada seorang pria berstelan hitam yang telah menunggu dengan sebuah sedan hitam Hyundai. Kyungsoo membukakan pintu mobil untuk Yoojung, kemudian menarik gadis itu untuk mengikutinya masuk ke dalam sedan hitam yang tidak terkunci. Ia melemparkan kunci Audi pada pria berstelan hitam, kemudian mengangguk yang dibalas anggukan hormat oleh pria itu. Tanpa menoleh lagi, ia kembali berkendara melebur dalam keramaian kota.

Jongin mengamati dari kejauhan saat puluhan mobil polisi membentuk barikade di tengah jembatan Sungai Han, akhirnya berhasil mengepung Audi Putih yang penyok di bagian samping dan belakang. Para polisi sudah berusaha keras melakukan pengejaran, meskipun mereka sempat kehilangan jejak Audi itu sesaat.

“Keluar dari mobil sekarang!” Suara petugas polisi dari pengeras suara terdengar nyaring. “Kau sudah dikepung, Do Kyungsoo!”

Semua orang menunggu dengan napas tertahan. Binokular Jongin tidak bisa melihat dengan jelas bagian dalam mobil tersebut sehingga ia tidak tahu bagaimana kondisi Yoojung. Perlahan, pintu pengemudi terbuka dan seseorang keluar dari dalam sana dengan tangan terangkat. Jongin terkesiap. Orang itu bukan Do Kyungsoo.

“Dimana Do Kyungsoo?!” raungnya penuh kemarahan melalui saluran radio.

Petugas polisi mengamankan si pria yang hanya bungkam saat diinterogasi. Jongin menumpat keras sekali membuat Sehun menggelengkan kepala prihatin. Ia memukul dashboard mobil dengan frustasi dan sekali lagi mengumpat mengenai kakinya yang cidera. Lagi-lagi, ia ditipu. Do Kyungsoo berhasil lolos dan membawa Yoojung tepat di bawah hidungnya.

Pertanyaannya: kemana mereka pergi?

“Kenapa kita ke sini?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Yoojung ketika sedan yang dikemudikan Kyungsoo meluncur masuk dalam lingkungan Rumah Sakit Universitas Seoul.

“Bukankah sudah jelas?” Kyungsoo menjawab sambil memarkirkan sedan itu. “Ini tempat kita pertama kali bertemu. Bukankah akan jadi tempat yang cocok untuk berpisah?”

Yoojung menelan ludah tak nyaman mendengar kalimat Kyungsoo. Ia membiarkan lelaki itu membukakan pintu mobil untuknya.

Persis seperti di taman Lee Soon Shin, tidak ada yang mencurigai dirinya maupun Kyungsoo meskipun banyak orang di sekitar lapangan parkir itu. Mereka berjalan menuju lobi rumah sakit. Yoojung melihat sosok familiar Taeyong menunggu di lobi bersama sosok anak laki-laki yang sedari tadi dicemaskannya karena ia tinggalkan di taman Lee Soon Shin.

“Bibiiii!” pekik Dongchan gembira, berlari cepat ke dalam pelukan Yoojung yang menyambutnya. Kelegaan menyelimuti perasaaan dokter muda itu saat merasakan anak laki-laki itu nyata dalam pelukannya.

“Kamu baik-baik saja, Dongchan-ah? Apakah ada yang luka?” tanya Yoojung khawatir sambil mengamati tubuh kecil itu. “Kamu pasti ketakutan, ya? Maafkan Bibi,” sekali lagi ia memeluk Dongchan dengan penuh penyesalan.

Tapi Dongchan menggeleng. “Aku baik-baik saja, Bi. Paman Taeyong mengantarkanku kemari,” ia menunjuk Taeyong yang hanya mengamati dari jauh.

Yoojung mengangguk sekali pada Taeyong sebagai gestur terima kasih yang dibalas dengan anggukan singkat dari sekretaris pribadi Kyungsoo itu. Kemudian ia mengerling Kyungsoo juga yang tersenyum puas.

“Kim Jongin bukan satu-satunya yang menempatkan orang di sana,” tukas Kyungsoo.

Dongchan melepaskan diri dari Yoojung dan memeluk kaki Kyungsoo layaknya sudah akrab sejak lama sekali. “Pamaan!” serunya gembira, lalu mulai berceloteh mengenai festival anak-anak yang baru saja didatanginya.

Yang mengejutkan Yoojung, Kyungsoo balas memeluk anak itu dan mengusap kepalanya. Ia bahkan ikut menanggapi celotehan Dongchan. Yoojung tidak pernah melihat ekspresi lembut seperti itu dari Do Kyungsoo, kecuali saat mereka sedang bersama-sama. Ia terlihat benar-benar tulus pada anak itu. Entah mengapa, itu membuat Yoojung bingung.

“Dongchan-ah, kembalilah ke kamarmu bersama Paman Taeyong, ya?” Yoojung mendorong anak itu ke arah Taeyong. Dongchan terlihat enggan melepaskan diri dari Kyungsoo, namun lelaki itu membujuknya dengan janji akan bertemu kembali. Akhirnya, Dongchan pergi bersama Taeyong setelah melambaikan tangan dengan wajah muram.

Mereka menatap kepergian Dongchan dan Taeyong. Lalu Kyungsoo tiba-tiba saja menarik Yoojung menuju lift.

“Kita harus bicara,” ia berkata. “Waktuku tidak banyak.”

Sebelum pintu lift menutup, Yoojung sempat melihat liputan di televisi lobi rumah sakit tentang barikade di sungai Han dan pengejaran Do Kyungsoo. Ia yakin tidak butuh waktu lama sebelum Jongin melakukan pencarian di rumah sakit. Lift berhenti di lantai paling tinggi gedung rumah sakit dan mereka menaiki tangga kecil menuju atap.

Angin malam berhembus cukup kencang. Langit pekat meskipun cahaya lampu menyala terang di seluruh penjuru kota. Atap rumah sakit bukan tempat yang sering dikunjungi Yoojung. Selain karena ia terlalu sibuk sebagai residen, ia juga tidak terlalu suka berada di tempat terbuka seperti ini. Ia tidak tahu kenapa Kyungsoo memilih tempat ini untuk bicara.

“Aku belum pernah bilang kenapa aku tertarik ketika pertama kali melihatmu dulu,” ujar Kyungsoo tiba-tiba.

Yoojung duduk di salah satu bangku yang ada di atap, kemudian mengingat-ingat. Ya, memang benar. Ia tidak pernah bertanya tentang hal itu. Ia terlalu sibuk memikirkan Jongin dan bagamana cara menghindari Kyungsoo untuk benar-benar berpikir mengapa lelaki itu mendadak mendekatinya dengan gencar.

“Iris matamu,” Kyungsoo menjawab sambil duduk di sebelahnya. Ia memajukan wajah sampai dekat sekali dengan wajah Yoojung. “Aku tidak pernah melihat iris seindah itu.”

Kalau situasinya berbeda, mungkin Yoojung akan tertawa mendengar kalimat cheesy seperti itu. Tapi Kyungsoo mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan itu membuatnya semakin tidak nyaman.

“Hanya karena iris mata?” Yoojung bertanya.

Kyungsoo terkekeh. “Kamu ingat ketika aku tergores kertas yang dilemparkan Ayah? Atau saat aku ditahan ketika kita berada di Jeju? Hanya kamu yang memiliki perhatian sebegitu besar untukku, Yoojung-ie,” tambahnya.

Yoojung tertegun. Ia bukannya tidak ingat kejadian-kejadian itu, tapi ia sama sekali tidak menyangka Kyungsoo menangkap maksud tindakannya sebagai sebuah perhatian. Ia memang peduli, tapi … entahlah, ia merasa kepeduliannya bukan dalam konteks sebuah perasaan.

“Jadi aku memutuskan untuk membebaskan diri karena aku tahu kamu menungguku,” lanjut Kyungsoo. “Ayah, ibu, kakak laki-lakiku bahkan teman-temanku tidak ada yang menjengukku selama aku ditahan. Mereka tidak mau terlibat apa pun yang terkait denganku. Kamu tahu betapa aku kecewa bahwa kamu ternyata juga sama ….”

Ia tidak tahu itu. Bahwa Kyungsoo sendiri menghadapi masa tahanan terlepas dari ia bersalah atau tidak. Ia merasa iba.

“Aku tahu kamu melihatku sebagai hewan buas. Monster. Beast,” ujar Kyungsoo. Yoojung bergidik. “Tapi bila seseorang tidak melakukan sesuatu yang jahat demi menyelamatkan orang lain, menurutmu apa yang akan terjadi? Pada Dongchan? Taeyong? Dan anak-anak lain di luar sana. Mereka akan menderita seperti diriku. Seperti apa yang Ayah lakukan padaku. Aku … hanya ingin melakukan sesuatu. Those are acts of mercy.”

Hening. Kali ini Yoojung menatapnya sedih.

“You are not God, Kyungsoo-ssi,” selanya. “You can’t decide whom you’ll give your mercy. Apa yang kamu lakukan pada Jung Soojung bukan belas kasihan.”

“Memang bukan,” sahut Kyungsoo. “Itu pembalasan.”

“Kami sudah mengecek ke rumah makan Kim Ryeowook, rumah tinggal keluarga Kim, mansion keluarga Do, Menara Do, rumah peristirahatan Kyungsoo di Jeju, jembatan sungai Han, dan taman Lee Soon Shin. Tapi kami tidak menemukan Kim Yoojung dan Do Kyungsoo,” lapor salah satu detektif pada Jongin.

Ia mengumpat lagi. Ia baru saja membereskan masalah detektif yang tewas di TKP akibat Do Kyungoo dan sekarang ia harus kembali frustasi karena kehilangan jejak.

Ponsel Yoojung tidak bisa dllacak karena dinonaktifkan. Do Kyungsoo pasti punya markas baru, namun menemukannya akan sulit sekali. Tidak, Do Kyungsoo tidak akan membawa Yoojung ke markasnya kalau ia tahu polisi masih melakukan pengejaran. Ia cukup pintar untuk tidak mengambil risiko lokasi markasnya diketahui mengingat itu akan mempersulit operasional El Dorado.

Pasti ada suatu tempat. Tempat yang umum dan sulit dicurigai.

Mendadak, Sehun menepuk jidatnya sendiri. “Astaga! Apakah sudah ada yang mengecek Rumah Sakit Universitas Seoul?” serunya.

Sial, maki Jongin. Bagaimana ia bisa lupa pada tempat itu?! Ia menghadap para rekannya. “Segera lakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit Universitas Seoul! Kali ini, jangan biarkan dia lolos!”

Lalu, ia meraih ponselnya sedangkan Sehun menatapnya aneh.

“Menelepon siapa?”

“Jung Soojung,” jawab Jongin singkat.

“Memang bukan,” sahut Kyungsoo. “Itu pembalasan.”

Ia melihat ekspresi syok di wajah Yoojung ketika ia menjawab dengan blak-blakan. Ia melirik jam tangan sadar bahwa ia tidak punya banyak waktu lagi. Dalam beberapa menit, bawahannya akan tiba untuk menjemputnya pergi.

“Aku tidak bisa berjanji bahwa aku akan berhenti,” Kyungsoo menambahkan. “Tapi aku bisa berjanji kalau aku akan mencoba. Bersamamu.”

Yoojung terlihat gelisah. “Aku ….”

“Satu-satunya yang kuinginkan hanya kamu, Kim Yoojung,” ia berkata. “Aku marah melhatmu disia-siakan oleh Kim Jongin. Aku sakit hati ketika kamu membenciku karena Kim Jongin. Aku tidak bisa melihatmu menderita karena Jung Soojung. Demi Tuhan, aku hanya ingin yang terbaik untukmu.”

“Kyungsoo-ssi, bukan seperti ini caranya,” desis Yoojung putus asa.

Tapi lelaki itu menggeleng. “Kita bertemu untuk bicara dan aku akan menepati janjiku. Bila setelah pembicaraan ini usai dan kamu tidak ingin bertemu denganku lagi, aku akan melakukannya.”

Kyungsoo bisa melihat pendirian Yoojung mulai goyah. Ia maju langkah demi langkah lebih dekat pada Yoojung sampai ia bisa merasakan harum napas gadis itu di wajahnya. Perlahan ia mengeluarkan liontin dari dalam sakunya. Tanpa meminta izin, Kyungsoo melingkarkan lengan di sekeliling leher Yoojung, memasangkan liontin itu.

“Aku mencintaimu, Kim Yoojung,” akhirnya ia mengatakannya. “Ikutlah denganku dan kita akan mulai semuanya dari awal.” Lalu ia mencium gadis itu.

Ciumannya berbeda dengan ciuman pertama mereka. Bila sebelumnya, Yoojung tidak menolak namun tidak membalas ciumannya juga, maka kali ini gadis itu meresponnya. Tangan gadis itu mencengkram bagian depan blazer Kyungsoo erat. Lelaki itu bisa merasakan debar jantung Yoojung ketika ia mendekapnya erat.

“Pergi jauh dari semua yang menyakitimu,” bisiknya di antara ciuman mereka.

“Lupakan mereka semua,” ia memeluk gadis itu lagi.

“Kita bangun El Dorado bersama,” akhirnya ia melepaskan ciuman mereka.

Yoojung membuka mata perlahan dan menatapnya. Ada berbagai emosi di sana dan ia menunggu gadis itu menjawabnya. Tiba-tiba saja Yoojung melepaskan diri dan melangkah mundur sambil menggelengkan kepala pelan. Jantung Kyungsoo mencelos ketika memperhatikan bahasa tubuh Yoojung. Tidak mungkin ….

Yoojung menghela napas pelan dan akhirnya ia siap menjawab penawaran Kyungsoo.

Jongin berusaha menaiki tangga lebih cepat.

Kaki Jongin yang cedera berdenyut dan nyeri sekali, namun ia mengabaikannya demi mencapai atap secepat mungkin. Sehun dan puluhan polisi lain menyebar di penjuru rumah sakit, berusaha mencari dimana Kyungsoo dan Yoojung berada. Kemungkinan paling besar adalah ruang rawat anak-anak dimana Dongchan berada. Jongin adalah satu-satunya yang berpikir untuk mencari di atap rumah sakit.

Di belakang Jongin, ada Soojung yang memaksa ikut ke atap meski ia sudah melarang karena berbahaya. Ia menelepon gadis itu sebelum ia tiba di rumah sakit, memastikan apakah Soojung melihat Yoojung atau tidak. Jawabannya negatif. Akhirnya, Soojung malah mengikuti Jongin, meskipun ia bersyukur dengan keberadaannya. Beberapa kali, Soojung membantu menyeimbangkan Jongin yang nyaris jatuh.

Pintu atap dibuka dan Jongin tidak bisa mempercayai penglihatannya. Yoojung ada di sana, bersama Do Kyungsoo tentu saja.

“I’ve got the beast,” bisik Jongin pada radio polisi. Ia mendengar sahutan samar Sehun dari ujung saluran.

Yoojung dan Kyungsoo berbalik bersamaan, menghadap ke arah Jongin dan Soojung. Ekspresi Yoojung terlihat kaget, sedangkan Kyungsoo berwajah datar. Ada semacam senyum puas aneh di wajahnya yang tidak disukai Jongin. Ia melangkah mendekat, namun Kyungsoo menarik Yoojung menjauh.

“Akhirnya aku menemukanmu, Tuan Do,” geram Jongin.

Kyungsoo menyeringai. “Lebih tepatnya, aku membiarkan diriku ditemukan.”

Jongin menggertakkan gigi. “Lepaskan Yoojung,” ia berkata.

Tapi Kyungsoo semakin mengeratkan genggamannya pada gadis itu. Ia melirik Soojung yang ada di belakang Jongin. “Sudah kubilang dia menyia-nyiakanmu,” tukasnya sinis pada Yoojung.

Yoojung diam saja, tidak bereaksi apa-apa. Hanya menatap pasrah Jongin dan Soojung bergantian. Ekspresinya tidak bisa dibaca Jongin. Soojung bergerak gelisah dan ketakutan. Sedikit banyak ia sadar bahwa ini situasi berbahaya. Apalagi ia tahu Do Kyungsoo adalah dalang di balik rencana yang nyaris membunuhnya.

Tidak ada tanda-tanda Kyungsoo akan menuruti perintah Jongin, tapi ia tidak ingin buru-buru bergerak. Jongin tidak ingin gagal lagi menangkap Do Kyungsoo. Pandangan matanya menyapu atap dan melihat para sniper kepolisian sudah bersiaga di atap seberang gedung. Siap bergerak dengan hanya satu kode singkat dari Jongin. Tapi ia harus berhati-hati. Tidak ada siapa pun di atap bukan berarti tidak ada bawahan Do Kyungsoo yang bersiaga di suatu tempat di rumah sakit.

“Waktumu bermain-main sudah habis, Tuan Do,” cecar Jongin, bergerak tertatih-tatih  untuk menyudutkan Kyungsoo ke sudut kiri atap—sudut mati posisi Kyungsoo. Ia juga harus mempertimbangkan bagaimana caranya agar tidak membahayakan Yoojung. “Menyerahlah.”

Kyungsoo menyeringai lebih lebar. “Tindakanku tergantung dari jawaban Yoojung,” ia menoleh pada gadis itu. “Bisakah kau memberikan jawabannya?”

Tapi Jongin tidak peduli dengan jawaban apa pun itu. Ia mengangkat telapak tangan terbuka ke udara, lalu menarik Soojung yang masih membuntutinya untuk berlindung. Dalam sekejap, hujan tembakan terjadi di atap.

Soojung yang pertama kali menjerit, namun Jongin memeluknya sambil melindungi gadis itu. Lalu disusul jeritan Yoojung yang membuat Jongin sedikit panik karena khawatir gadis itu terluka. Ia melihat Yoojung baik-baik saja dan bernapas lega. Do Kyungsoo akhirnya berhasil tertembak di bagian kaki. Lelaki itu jatuh berlutut, tapi masih berusaha melindungi Yoojung. Sekali lagi, Jongin mengangkat telapak tangan, lalu membentuk kepalan. Tembakan itu langsung berhenti.

“Ini gila!” jerit Yoojung panik pada Jongin. “Do Kyungsoo tertembak! Aku hampir tertembak juga!”

Jongin melepaskan diri dari Soojung dan melangkah lebih dekat. Harus diakui, ia merasakan kepuasan tersendiri melihat Do Kyungsoo kesakitan. “Aku tidak akan melukaimu, Yoojung-ie. Sekarang dia tidak bisa lari,” sahutnya dingin.

Yoojung menganga tak percaya. “Kau … sama monsternya seperti dia, Oppa,” bisiknya.

Jongin tidak menanggapi ucapan Yoojung. Ia menarik gadis yang masih berlutut di sebelah Kyungsoo itu berdiri dan membawanya pergi. Namun Kyungsoo, dengan sisa-sisa kekuatannya, sama sekali tidak melepaskan Yoojung.

“Yoojung yang berhak memutuskan akan pergi atau tidak,” ujar Kyungsoo susah payah.

Ah, menyusahkan, batin Jongin. Ia memberi kode sekali lagi dan ia tahu salah satu sniper bersiap membidik Kyungsoo tepat di lengan agar lelaki itu melepaskan Yoojung. Namun yang tidak diprediksi Jongin adalah Kyungsoo mengubah posis tubuhnya meski ia masih berlutut. Peluru itu meleset, tak jauh dari lengan memang, namun justru tepat mengenai dada Kyungsoo.

Detik berikutnya jerit Yoojung kembali terdengar.

Benang-benang itu, akhirnya terputus sudah ….

-bersambung-

©2016 qL^^

.

.

.

.

a.n mau ketawa miris dulu. ahaha maaafin yaa atas update yang sangaaaaaat lama ini. Btw, ini 13 halaman loh, ekstra panjang hehe. Chapter depan akan jadi chapter terakhir dan sesuai janjiku akan di password. Tapi, metodenya nggak akan via email. Kita akan tebak-tebakan password lagi yuhuuu~.

Password chapter terakhir adalah judul lagu EXO dalam album EXODUS yang belum dijadikan judul chapter untuk series Let Out The Beast ini.

Kalau kalian baca dengan jeli, kalian pasti tahu, hehe!

Clue : 1 kata, 4 huruf, dalam bahasa Inggris.

Selamat menebak!

.

for fairly warning, ending chapter will be password protected.

So please review guys 🙂

Aku sudah menyerah pada sider, jadi terserah deh mau review atau enggak.

See ya 🙂

 

Advertisements

20 thoughts on “Let Out The Beast [9]

  1. Akunya udah berdebar-debar gak karuan ini…
    Duuhhh… Apa ya judul lagu exo itu.. Aku gak terlalu paham ama lagu2 exo yang di album exodus

    Like

  2. Maigath
    Parah gila
    Gw pengennya yoojung sama kyungsoo tapi gw kebayang juga gmna takutnya yoojung ama kyungsoo
    Terus belum lagi kyungsoo ketembak d dada
    Mennnnn
    Nyeri gw bacanya
    Masih enggan kebayang gmn endingnya
    Warbyasah

    Like

  3. oh, my~ kakaaaa~ aku baru lihat ini… T_T
    Ah, Yoojung, kamu mah gimana sih jawab saja iya…!!! *aku gregetan* XD XD XD

    Jongin, ckckck, kamu jahat, masa kyungsoo ditembak-tembak begitu… Meskipun di sini Kyungsoo brutal, I adore him so much… Buang jauh bayangan Soojung adalah Mbak Krys, aku nggak sanggup ha~

    Adegan kejar-kejarannya mantap… Aku deg-degan bacanya daro awal sampe akhir… serius >< Good job, kakak… 🙂

    Like

      1. Bikos actually Yoojung juga galau wkwkwk.
        bagus lah, aku rewrite terus itu adegan kejar2annya makanya jadi ngaret ngeposnya huhuhu.

        soal daftar author, nanti aku pikir2 dulu *gaya beuts.
        thanks udah baca kaa 🙂

        Liked by 1 person

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s