Titik Lemah

Sebuah fiksi ditulis oleh qL^^

Semua nama tokoh dan tempat digunakan hanya untuk keperluan cerita.

Sebelumnya di Manipulasi Emosi

4_905

Saatnya mengucapkan selamat tinggal.

Harusnya Ksatria tahu bahwa mempercayakan rencana pemberontakan—sekecil apa pun rencana tersebut—pada dua ilmuwan kelewat polos dan sama sekali tidak berpengalaman dalam dunia espionase adalah kesalahan besar. Dan saat ini ia terpaksa menyaksikan kesalahan besar itu terjadi di depan matanya.

Alarm dalam rumah keamanan Republik berbunyi nyaring. Akses keluar diblokir dan dijaga ketat oleh beberapa agen. Sisanya berjaga dengan pistol teracung waspada di dalam laboratorium. Ksatria tiba di sana bersamaan dengan agen-agen lain dalam kondisi sama bingung namun tetap waspada. Yang dilihatnya di sana justru Lia yang berdiri di tengah ruangan dengan tangan terangkat di bawah todongan pistol para agen. Anehnya, dokter muda itu berwajah sangat tenang.

Partner lab-nya, Dio, ada di sudut kiri, berlutut dengan posisi tangan di belakang kepala. Ekspresinya cemas. Ada Ketua di sana bersama seorang wanita paruh baya yang tidak dikenali Ksatria berdiri paling dekat deretan komputer. Ksatria langsung tahu kalau wanita itu berasal dari Yayasan yang mendanai fasilitas penelitian Lia dan Dio, dinilai dari logo pada badgenya dan ekspresi Lia serta Dio saat berkontak mata dengan wanita itu. Apa hubungannya Yayasan itu dengan Republik, Ksatria sama sekali tidak tahu.

Kondisi laboratorium kacau. Kabel-kabel dilepas paksa dari mesin Manipulasi Emosi—yang diduga Kstaria menjadi pemicu alarm—memercikkan bunga-bunga api. Beberapa layar komputer menyala, namun terlihat seolah virus mengacaukan software-nya. Dua petugas laboratorium terkapar di lantai, tak sadarkan diri dan jelas dipukuli oleh entah siapa pelakunya—Dio atau Lia—yang tidak ingin ditebak Ksatria.

Satu hal yang bisa disimpulkan Ksatria dari situasi ini: pemberontakan kecil mereka terancam gagal.

“Lakukan saja, Lia!” seru Dio putus asa. “Mereka bisa membunuhmu.”

Lia menggeleng.

Pintar, dengus Ksatria dalam hati. Gadis itu tahu kalau Republik dan mungkin Yayasan masih membutuhkannya untuk meneruskan riset manipulasi emosi. Jadi, mereka tidak akan membunuhnya. Setidaknya sampai mereka tahu bagaimana cara mengoperasikan atau justru memperbaiki mesin manipulasi emosi.

“Sudah kubilang dia sulit diajak bekerja sama,” wanita dari Yayasan itu berkata sambil menggelengkan kepala. “Mempertahankannya hanya buang-buang tenaga. Lebih baik kita lanjutkan saja riset ini tanpa dia. Toh kita sudah mendapatkan prototype-nya.”

“Dr. Aprilia Rudo sudah berhasil menyempurnakannya, Shanti. Kita tidak perlu repot-repot menunggu lebih lama kalau kita bisa mendapatkannya sekarang,” tolak Ketua. “Dr. Aprilia hanya butuh motivasi tambahan.” Ketua mengulurkan tangan pada agen yang berdiri paling dekat. Glock 17 berpindah ke tangan Ketua yang kemudian menghadap Dio dan tiba-tiba saja menembak.

Ketegangan menyebar ke seluruh ruangan. Teriakan Dio terdengar nyaring bersamaan dengan darah dari lubang dimana peluru menembus kulit paha lelaki itu. Lia terkesiap, tanpa pikir panjang berlari dan berjongkok di hadapan Dio yang roboh. Tangannya gemetar ketika merobek lengan kemejanya untuk mengikat kaki Dio. Diam-diam Ksatria merasa salut pada dokter muda itu yang tetap bertindak sesuai insting dokternya meski ia jelas terlihat kalut.

Untuk kali ini Ksatria tahu Ketua memiliki tangan di atas. Seorang agen selalu bisa melihat titik lemah yang ada pada lawan. Dalam kasus Lia, Ketua tahu Dio adalah titik lemahnya. Sebagaimana Lia adalah titik lemah Ksatria.

“Kali berikutnya, Dok, peluru ini bisa menembus kepalanya,” Ketua berkata tenang.

“Pengecut,” hardik Lia.

Ketua mengangkat bahu. “Anda tidak memberi saya banyak pilihan, Dokter. Sekarang, apakah Anda akan bekerjasama atau saya perlu menghabisi teman Anda?”

Saat itulah, untuk pertama kalinya sejak Kstaria menginjakkan kaki di ruangan itu, ia akhirnya berkontak mata langsung dengan Lia dari posisinya yang masih berjongkok di depan Dio. Lia memberinya tatapan itu. Tatapan yang sama kala berada di kamar sang dokter, yang kini mengarah pada Beretta di tangannya. Mendadak Ksatria merasa bimbang. Bukankah sudah ia bilang bahwa Lia adalah titik lemahnya?

“Lebih baik saya mati daripada membiarkan riset ini jatuh ke tangan yang salah,” Lia berkata dengan berani.

Seharusnya itu menjadi semacam petunjuk agar Ksatria segara menarik pelatuk Baretta yang moncongnya memang sudah mengarah pada Lia. Tapi entah mengapa noble idiocity dan sikap martir klasik gadis itu justru menahannya. Lia tidak memilih kehidupan yang seperti ini dan yang bisa menyelamatkannya kali ini juga hanya Ksatria.

“Baiklah. Saya sudah bilang, kali berikutnya peluru ini akan menembus kepala,” kata Ketua tenang, sedangkan wanita dari Yayasan itu tersenyum puas. “Bunuh temannya.” Ketua menggesturkan pada sembarang agen, namun Ksatria bergerak cepat daripada agen lainnya sehingga dialah yang tepat berada di posisi untuk melakukan eksekusi.

“Tidak! Jangan sentuh Dio!” jerit Lia panik.

Ia masih berjongkok, merentangkan tangan di depan Dio dengan sikap melindungi. Lagi, ia bertatapan dengan Ksatria. Tatapan Lia masih tak berubah dan cengkraman Ksatria pada Baretta semakin erat, lalu dokter muda itu tersenyum. Senyum pertama yang diberikannya untuk Ksatria yang menguatkan tekad agen itu. Ksatria membidik dan peluru dilepaskan.

Lalu Lia ambruk.

Sekali lagi, seisi ruangan kembali kacau.

-selesai-

©2016 qL^^

.

A.N : Jangan didemo, salam damai! #peace

Advertisements

9 thoughts on “Titik Lemah

  1. Halooo!! Lagi suntuk jadinya jalan-jalan mweheehe. IIhh kenapa keren sekali iiiihhh XD
    Jadi-jadi-jadi-jadi…. ah kenapa Ksatria jahat banget 😦 nggak tahu sih tapi kayak… gaterima 😦
    But still, ini keren! suka suka sukaaa!!

    Like

  2. kak kiki, hai! semoga masih inget aku ya kak 😀 just in case, aku nadya dan kemarin sempet komen di tulisan kak kiki di ws ^^

    baru tau ih kalo ‘sepuluh menit genting’ ada lanjutannya, telat banget aku baru baca 😦 it’s a masterpiece kak, as always huhuhu

    Like

    1. Hihi halo Nadya, temen seline Jungkook 😀 makasih loh udh mampir demi mengejar Ksatria sampai sini hehe. Semoga tulisanku yg berikunya juga bisa kamu anggap masterpiece yaa 🙂

      Like

  3. Penantian 2 th… dan ini yang kudapatkan :’)
    Authornya kurang baik apa coba..
    Semangat bikin cerita yg perih kek gini yya thor :))

    Like

  4. ini seriusan udah ending masa???
    gantunggg!! tapi firasatku tembakan Ksatria ga membunuh Lia. itu hanya mnipulasi buat mengaburkan rencana rival.. i think hehe

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s