Let Out The Beast [8]

a fan fiction by qL^^

and

gorgeous poster by  HRa@HighSchoolGraphics

.

Casts : Do Kyungsoo, Kim Yoojung, Kim Jongin

Genre : Psychology, Mystery, Romance

Rating : PG 13- Teen

Length : Multichapter

.

Disclaimer : This is work of fan fiction. All mentioned artists belonged to agencies. No profit is intended.

Previously on Let Out The Beast : 7

beast2

Let Out The Beast

Chapter VIII

Call Me Baby

Oh I don’t care, even if I have to go far

I’ll be the one man to be by your side

 (Call Me Baby – EXO)

Sepertinya Kim Yoojung memang tidak bisa terlalu lama berjauhan dengan rumah sakit. Selalu ada alasan yang menariknya kembali ke sana, meskipun seperti sekarang ini, di saat ia sedang mengambil cuti bekerja, ia masih harus menginjakkan kaki di rumah sakit. Tidak, bukan demi dirinya. Tapi demi tunangannya, kalau mereka masih bisa disebut sebagai tunangan tanpa ada cincin pertunangan. Demi Kim Jongin.

Yoojung menutup pintu ruang rawat Jongin dengan perlahan, melewati dua polisi penjaga di depan pintu kemudian berjalan di lorong dengan gontai dan duduk pada salah satu kursi panjang yang ada di sana. Ada sebuah botol minum kosong di tangan kanannya, alasan Yoojung meninggalkan ruang rawat. Ia memilih meninggalkan Jongin di kamar rawatnya bukan karena lelaki itu tertidur, namun karena tiba-tiba saja Jung Soojung muncul di sana. Yoojung sedang tidak ingin memperkeruh suasana hatinya sendiri dan ia yakin ia tidak akan sanggup berdiam diri di sana menyaksikan mereka berdua, meskipun mereka tidak melakukan apa-apa, jadi ia beralasan pada Jongin bahwa ia akan mengambilkan air minum untuknya. Yoojung bahkan langsung keluar tanpa menunggu jawaban Jongin ataupun respon Soojung.

Kalau mau jujur, Yoojung masih bersikap dingin pada Jongin seperti sebelum peristiwa ini terjadi. Namun sekarang kadarnya jauh berkurang karena ia sungguh tak tega melihat kondisi Jongin. Sekarang setidaknya ia bicara lebih banyak dan merespon semua ucapan Jongin meskipun dengan nada datar. Melihat Soojung di sana hanya membuat Yoojung kembali teringat pada apa yang disaksikannya di layar bersama Kyungsoo. Dan ia yakin ia akan bersikap dingin lagi pada Jongin tanpa bisa menahan diri.

Tangan Yoojung mengusap wajahnya pelan, kemudian ia menghela napas. Ia terpekik kaget ketika Sehun mendadak muncul di hadapannya dengan membawa dua gelas kertas.

“Kau mengagetkanku!” protesnya kesal.

Sehun terkekeh, kemudian menyerahkan salah satu gelas kertas pada Yoojung. Gadis itu menyambutnya, menghirup aroma manis coklat dari gelas itu dan menghela napas lagi penuh kelegaan.

“Kupikir kau ada di kamar Jongin, Yoo,” Sehun berkomentar sambil menyesap isi gelasnya sendiri.

Nama panggilan menyebalkan itu lagi, tapi Yoojung sedang tidak berminat mengoreksi Sehun. Jadi ia hanya menggeleng. “Ada Jung Soojung di sana,” sahutnya.

Sehun menoleh pada Yoojung dengan horor, kemudian mengulurkan tangannya pada gadis itu. “Ayo, kutemani kau kembali ke kamar Jongin. Astaga, Yoo! Aku tahu kau ini mempercayai Jongin dan Jongin tidak akan macam-macam, tapi meninggalkan tunanganmu berdua di dalam kamar dengan gadis yang mengincarnya sejak kalian remaja itu berbahaya!” celoteh Sehun panjang, lalu ia tiba-tiba menutup mulutnya sendiri. “Astaga! Kalimat terakhir itu terdengar sangat salah!”

Mau tak mau Yoojung tertawa mendengar ocehan Sehun. Lelaki itu benar, tapi cara ia bicara terasa sangat lucu bagi Yoojung. Jadi, ia tertawa dan terus tertawa sampai Sehun menatapnya dengan aneh. Sudah lama sekali sejak Yoojung tertawa seperti ini dan ironisnya ia menertawakan lelucon mengenai hubungannya dan Jongin.

“Tidak perlu,” ia akhirnya berkata ketika sudah bisa mengendalikan tawanya. “Mungkin aku sudah lelah menjadi seseorang yang selalu berada di antara mereka.”

Kali ini Sehun hanya diam.

“Bagaimana keadaannya?” tanyanya lagi.

“Sudah lebih baik, tapi ia akan kesulitan berjalan selama beberapa minggu sampai kakinya sembuh,” sahut Yoojung singkat.

Sehun menggelengkan kepala sedih. “Aku beruntung tidak berada di kantor saat peristiwa mengerikan itu terjadi,” ungkapnya.

Yoojung menelan ludah pahit. Ya, Sehun benar. Ia beruntung. Yoojung teringat pada saat ia ditelepon oleh polisi yang memberitahukan alamat rumah sakit dimana Jongin dirawat. Ia hanya bisa terpaku saat melihat wajah Jongin babak belur dengan darah dan luka memenuhi sekujur tubuhnya. Ia hanya bisa menangis saat mendengar Jongin membisikkan namanya bahkan di antara kondisi sadar dan tidak sadarnya. Semua ini karena Do Kyungsoo.

Ah, telepon itu!

“Aku sudah menginstal aplikasi pelacak telepon pada ponselmu, telepon restoran Ryeowook hyung, telepon kantormu di Orthopaedi dan beberapa tempat lain yang sering kaudatangi dan kemungkinan akan ia hubungi,” Sehun memberitahu.

“Syukurlah,” ujar Yoojung lega.

Ia tidak ingin diganggu lagi oleh telepon-telepon Do Kyungsoo. Ia hanya ingin fokus merawat Jongin. Tapi ketika melihat ekspresi di wajah Sehun, Yoojung merasa masih ada yang belum dikatakan detektif polisi itu padanya.

“Memang ada masalah lain, Yoo,” Sehun mengakui. “Tentang El Dorado.”

Setelah kejadian mengerikan yang menimpa Jongin, Yoojung akhirnya menceritakan segala hal yang terjadi pada malam penculikan itu termasuk tentang El Dorado. Organisasi yang dirahasiakan Do Kyungsoo.

“Mereka tidak percaya tentang El Dorado?” tanya Yoojung.

Sehun menggeleng. “Bukan itu, namun justru lebih parah. Para petinggi di kepolisian sudah tahu tentang El Dorado.”

“Tidak mungkin….” bisik Yoojung ngeri.

“Ya, El Dorado memang masih baru, tapi kekuatannya terlalu besar, Yoo. Dengan dukungan dari berbagai organisasi gelap lain, bahkan dari luar negeri, para petinggi pemerintah tidak mau mengambil risiko mengatasi masalah ini. Belum lagi ternyata beberapa bisnis dibantu oleh El Dorado dalam kelancaran pelaksanaannya. Lagipula tidak ada bukti nyata keterkaitan El Dorado dengan Do Kyungsoo. Ia nyaris… tidak tersentuh,” kata Sehun pelan.

Penjelasan Sehun masuk akal. Itulah sebabnya tidak ada yang melakukan apa pun meskipun Do Kyungsoo sudah ditahan. Itulah sebabnya ia bisa kabur dengan mudah bahkan dalam pengawasan polisi. Itulah sebabnya ia bisa menghilang dengan mudah dan tidak ada satu pun pencarian polisi yang membuahkan hasil.

“Maafkan aku, Yoo,” kata Sehun menyesal saat melihat ekspresi kaku Yoojung.

Ketika ia berusaha bicara, suaranya terdengar sangat kaku.

“Lantas aku harus bagaimana?”

Sehun menggeleng. “Berdoalah agar ia pergi jauh dan tidak mencarimu lagi,” ujarnya.

Kemungkinan yang sangat kecil, tapi tidak ada jawaban lain bagi Yoojung selain mengangguk.

Ia kembali menuju kamar Jongin dua puluh menit kemudian setelah Sehun pamit kembali ke kantor polisi. Isi kepala Yoojung mendengungkan kata-kata Sehun, kemudian kata-kata Suho. Cepat atau lambat ia akan menemukan cara untuk menemuimu. Yoojung bergidik, kemudian melangkah lebih cepat menuju kamar Jongin. Satu-satunya yang ia inginkan saat ini adalah melihat Jongin agar ia lebih tenang.

Dua polisi penjaga memberi hormat pada Yoojung saat ia lewat. Tangan Yoojung sudah menggengam pegangan pintu saat ia melihat ke dalam ruang dari kaca transparan di pintu. Lagi, Soojung sedang memeluk Jongin. Gestur yang Yoojung yakin akan dikatakan gadis itu sebagai tanda pertemanan dekat mereka. Perlahan tangan Yoojung melepaskan pegangan pintu. Akhirnya, Yoojung urung masuk dan pergi ke kamar kecil.

Di sana, ia menangis dalam diam.

Seperti tangis anak kecil yang ketakutan dan kesepian.

“Semuanya sudah beres, Tuan.”

Do Kyungsoo mendengar Taeyong memberikan laporan. Mereka sedang berada di markas baru El Dorado. Rumah peristirahatannya di Jeju terlalu berisiko untuk digunakan kembali, maka Kyungsoo memutuskan menggunakan markas baru. Taeyong telah bekerja dengan baik untuk menjaga stabilitas El Dorado selama Kyungsoo masih ditahan.

Kyungsoo menoleh menatap sekretaris pribadinya. “Kau sudah bertemu pimpinan kepolisian?” tanyanya.

Taeyong mengangguk. “Ya, mereka sudah menjamin tidak akan mengusut kasus Anda lebih jauh lagi. Mereka membutuhkan bantuan Anda melalui El Dorado untuk mengawal beberapa transaksi gelap. Kasus Anda tetap akan disiarkan, namun tidak ada tindak lanjut. Secara tidak langsung, Anda telah bebas,” ia menjelaskan.

“Jung Soojung?”

“Wanita itu tidak melihat Anda pada malam ia diculik, jadi kesaksiannya tidak bisa dipakai untuk memberatkan Anda. Sedangkan masalah pelarian Anda dari kantor polisi tempo hari, seluruh CCTV telah diamankan kru El Dorado kita, Tuan,” tambah Taeyong.

“Bagus,” Kyungsoo mengangguk puas. “Lalu bagaimana dengan Dr. Kim Yoojung?”

“Itu…. Tidak dapat dipenuhi, Tuan Do,” sahut Taeyong menyesal.

Langkah Kyungsoo terhenti. Ia berbalik menatap Taeyong dengan ekspresi tak suka. “Apakah kau sudah mengatakan pada mereka bahwa itu perintah, bukan permintaan?” ia bertanya lagi.

Taeyong mengangguk cepat. “Mereka tidak bisa memenuhi perintah itu.”

“Karena?”

Pertanyaan itu membuat Taeyong terlihat tidak nyaman. Sekretaris Kyungsoo itu menelan ludah sebelum menjawab. “Maaf, Tuan, tapi kepolisian sudah terlanjur menginstal alat pelacak pada sejumlah nomer telepon yang sering digunakan Dr. Kim. Mereka tidak bisa menolak melakukannya karena tunangan Dr. Kim adalah detektif polisi. Ia detektif yang sama yang mengunjungi Anda di rumah sakit beberapa bulan yang lalu dan detektif yang sama yang memukukuli Anda di kantor polisi.”

“Ya, aku sudah tahu itu.”

Kim Jongin keparat, umpat Kyungsoo dalam hati.

“Sebagai gantinya, kami sudah menyiapkan seperti yang Tuan inginkan,” kata Taeyong.

Taeyong membukakan pintu untuk Kyungsoo dan ia langsung bisa melihat replika ruang kerjanya pada ruang baru ini. Komputer-komputer, berbagai peta dan tumpukan foto. Bahkan susunan furnitur dalam ruangan ini hampir sama persis seperti ruang kerjanya di Jeju. Kyungsoo menyeringai. Inilah sebabnya ia begitu puas dengan kinerja Taeyong sebagai sekretarisnya.

“Kerja bagus, Taeyong,” pujinya.

Taeyong mengangguk, kemudian menunjuk salah satu layar komputer.

Kyungsoo bisa melihat Kim Yoojung meskipun ia tidak benar-benar melihatnya. Ia hanya melihat Yoojung dalam sekian banyak tayangan CCTV rumah sakit yang berhasil diretas salah satu kru El Dorado. Oh, bahkan dari layar kecil komputer saja, Kyungsoo bisa melihat gadis itu sedang menderita dan ia ikut menderita karenanya.

Taeyong menggerakkan kursor, memperbesarkan salah satu tayangan dimana Yoojung menjadi fokusnya. Kemudian ia menyerahkan satu telepon genggam pada Kyungsoo.

“Jung Dongchan akan membantu Anda, Tuan Do,” kata Taeyong. Lalu ia membungkuk singkat dan pamit keluar ruangan, meninggalkan Kyungsoo sendiri di hadapan layar itu.

Kyungsoo masih memperhatikan ketika Yoojung sedang duduk sendirian dengan kepala yang dibenamkan dalam lengan, tak jauh dari kamar rawat Jongin dan seorang anak laki-laki mendekati gadis itu.

“Bibi…” panggil si anak lelaki.

CCTV tidak menangkap suara, namun suara anak itu terdengar sampai pada Kyungsoo melalui telepon genggam yang ada di tangannya.

Perlahan, Kyungsoo melihat Yoojung mengangkat kepala dan menatap anak laki-laki itu dengan bingung.

“Kau bicara denganku?” tanyanya ragu.

Anak laki-laki itu mengangguk dan tersenyum. “Apa Bibi sedang bersedih? Kenapa Bibi duduk sendirian di sini?” ia bertanya dengan polos.

Senyum Yoojung terkembang; Kyungsoo bisa melihat kesedihan di baliknya.

“Bibi sedang butuh waktu sendiri untuk berpikir,” jawab Yoojung ramah, lalu mengulurkan tangan menarik anak itu mendekat. “Siapa namamu, hmm? Dimana kamar rawatmu? Apa orang tuamu tahu kau berkeliaran sendirian?” kali ini ia balik bertanya.

Anak itu menggeleng. “Ibu dan ayah tidak pernah bersamaku, jadi yang menemaniku hanya Paman,” jawabnya pelan.

“Paman?” ulang Yoojung bingung.

“Ya,” anak itu mengangguk polos. “Paman ingin bicara dengan Bibi dan aku ingin membantu Paman,” tambahnya kemudian mengulurkan telepon genggam yang masih terhubung dengan Kyungsoo.

Ekspresi di wajah Yoojung terlihat sangat terkejut ketika ia menerima telepon genggam dari si anak laki-laki. Yoojung menarik anak itu lebih dekat, memeluknya dengan sikap melindungi seolah takut anak itu terluka apabila dibiarkan pergi menjauh. Kepala Yoojung menoleh ke kiri dan ke kanan seperti memastikan tidak akan ada seseorang yang muncul tiba-tiba di sana. Dan Kyungsoo masih mengamati semuanya melalui CCTV.

“Sekedar informasi, aku tidak akan melukai anak itu,” kata Kyungsoo sebelum Yoojung sempat mengatakan halo.

“Aku tidak tahu apa yang akan dan tidak akan kau perbuat,” sahut Yoojung marah. “Bagaimana mungkin kau melibatkan anak kecil dalam urusan ini? Hanya untuk membuatku bicara denganmu? Ia hanya anak-anak!”

Kyungsoo menghela napas mendengar nada menghakimi Yoojung. Kelihatannya gadis itu marah besar dengan apa yang dilakukan Kyungsoo pada Jongin. Padahal bukan Kyungsoo yang memulai semua itu. Ia hanya membalas apa yang dilakukan oleh Jongin padanya.

Mata selalu dibalas dengan mata.

“Aku tidak memaksa anak itu membantuku,” Kyungsoo membela diri. “Kau dengar sendiri apa yang dikatakannya. Ia melakukannya atas kemauan sendiri untuk membalas kebaikanku yang membebaskannya dari orang tuanya.”

Yoojung menatap anak laki-laki dalam pelukannya dan anak laki-laki itu —Jung Dongchan— malah menatap Yoojung dengan ekspresi tidak mengerti dan ketakutan karena Yoojung baru saja marah-marah di telepon. Kyungsoo memperhatikan bahwa ekspresi ketakutan Dongchan justru membuat Yoojung semakin mengeratkan pelukannya pada anak itu.

“Apa maumu?” Yoojung akhirnya bertanya.

“Aku merindukanmu, Yoojung-ie,” jawab Kyungsoo apa adanya. “Bukankah sudah kukatakan padamu kalau aku bisa bebas dengan cepat? Aku ingin menepati janjiku untuk menjemputmu. Tapi… kenapa kau menghindariku?”

Sejenak hening.

“Ini salah, Do Kyungsoo,” Yoojung menggelengkan kepala.

“Lalu menurutmu tetap berada di samping Kim Jongin yang menyia-nyiakanmu itu sikap yang benar?”

Kyungsoo bisa melihat ekspresi terkejut Yoojung yang menyatakan bahwa gadis itu tidak menyangka kalau Kyungsoo akan tahu mengenai apa yang terjadi di rumah sakit. Harus Kyungsoo akui gadis itu menutupinya dengan baik, tapi ia bisa membaca Yoojung semudah membaca buku yang terbuka.

“Jadi, menurutmu kau tidak akan melakukan itu padaku?” Yoojung balik bertanya dengan frustasi. “Kau tidak akan menyia-nyiakan diriku?”

Pertanyaan Yoojung membuat Kyungsoo tersenyum lebar.

“Tidak akan pernah,” janjinya.

Apa pun akan Kyungsoo lakukan untuk membuat Yoojung selalu berada di sisinya.

Rasanya ia ingin mendekap Yoojung lagi. Merasakan gadis itu sebagai miliknya, memastikan ia selalu terlndungi dan bahagia.

“Berhentilah, Kyungsoo-ssi,” pinta Yoojung pelan dengan lirih.

Hati Kyungsoo terasa remuk saat mendengar permintaan gadis itu. Ia sudah bersusah payah keluar dari penjara hanya untuk menemui Yoojung yang sudah dijanjikannya untuk dijemput. Namun Yoojung kini bersikap sangat sulit. Menolak seluruh kontak darinya. Ia bahkan tidak mendengarkan ucapan Kyungsoo sama sekali.

Baiklah, jika itu memang keinginan Yoojung, maka Kyungsoo harus menggunakan cara yang lain. Jika ia tidak bisa memaksa Yoojung ikut dengannya, ia harus bisa membuat Yoojung memberinya kesempatan untuk bertemu langsung. Terakhir kali mereka bertemu, gadis itu jauh lebih mudah untuk dipersuasi.

“Mari kita buat sebuah kesepakatan,” Kyungsoo menawarkan. “Aku akan berhenti menghubungimu dan menghilang dari duniamu kalau kau sepakat untuk bertemu denganku terakhir kali. Aku akan membiarkan hidupmu bersama Kim Jongin.”

Ia bisa melihat Yoojung mempertimbangkan tawarannya.

“Terakhir kali dan kau tidak akan mengangguku lagi?”

“Jika setelah bertemu itu yang kau inginkan, aku akan melakukannya,” sahut Kyungsoo.

Kelemahan Yoojung adalah ia selalu memberi kesempatan kedua ketika melihat potensi seseorang untuk berubah. Itulah sebabnya kenapa ia selalu memaafkan Kim Jongin meski ia terus menyakiti gadis itu. Dan sifat itu kini akan dimanfaatkan Kyungsoo.

“Kau harus berjanji untuk tidak melukai siapa pun,” Yoojung mengajukan syarat.

“Ya, aku janji.” Selama orang itu tidak menyakitimu, Yoojung-ie.

Helaan napas Yoojung terdengar. “Jadi dimana kita akan bertemu?”

“Dua hari lagi akan ada malam festival anak-anak. Aku akan menunggumu di dekat patung Lee Soon Shin pukul 7 malam,” putus Kyungsoo cepat. “Dan aku ingin kau datang sendiri, tanpa ditemani atau dikawal oleh siapa pun.”

Yoojung mengigit bibir ragu. “Baiklah.”

Senyum puas tersungging di bibir Kyungsoo.

“Kau membuat segalanya lebih sulit untuk Yoojung.”

Kim Jongin mendelik mendengar ucapan rekan kerjanya, Oh Sehun yang sedang bersandar di nakas seberang tempat tidur dalam ruang rawatnya. Jung Soojung baru saja pulang setelah diusir secara halus oleh Sehun sedangkan Yoojung belum kembali. Tadi Yoojung bilang ia ingin berjalan-jalan sebentar karena terlalu lama duduk, meskipun Jongin tahu alasan sebenarnya gadis itu meninggalkan ruang rawatnya. Soojung terus menerus menempelinya walau Jongin sudah melarangnya untuk datang. Apa boleh buat, Jongin hanya salah satu dari sedikit relasi Soojung yang tersisa.

“Maksudmu?” tanya Jongin sengit.

“Kau membuat segalanya lebih sulit untuk Yoojung,” Sehun mengulang kalimatnya.

Jongin mendengus. “Jelaskan ucapanmu, Oh Sehun!”

Sehun menghela napas, berusaha bersabar menghadapi emosi Jongin yang memang meledak-ledak. “Yoojung sedang dalam masa-masa sulit karena Do Kyungsoo. Tapi kau menambah masalahnya dengan memprovokasi Do Kyungsoo sehingga membuatmu seperti ini. Lalu membiarkan Jung Soojung terus menerus datang hanya karena ia ‘temanmu’. Demi Tuhan, Kim Jongin! Kau ini tunangan Yoojung! Kalau kau terus menerus seperti ini, kau hanya akan membuat Yoojung semakin terpuruk!”

Tidak semua yang dikatakan Sehun salah, tapi Jongin punya alasan.

“Dengar, Soojung saat ini hampir sama seperti aku dan Yoojung. Ia tidak punya keluarga, Sehun. Satu-satunya yang ia punya hanya aku, sahabatnya,” kata Jongin. “Dan tentang Do Kyungsoo. Aku tidak memprovokasinya.”

“Bah,” decih Sehun. “Aku tahu apa yang terjadi di ruang interogasi, Kkamjong. Jangan coba-coba berkelit.”

“Lelaki itu menciumnya!” balas Jongin sengit. “Ia.. ia… terobsesi…”

“Terobsesi pada siapa?”

Mendadak Yoojung muncul. Botol minum yang dibawanya keluar kini sudah terisi penuh. Wajahnya mengernyit bingung dan bersamanya ada seorang anak laki-laki yang tidak dikenali Jongin, namun wajahnya begitu familiar.

“Lama sekali, Yoo. Kupikir kau mengambil air di Mars,” celetuk Sehun yang dihadiahi tatapan galak dari Yoojung.

“Ada sesuatu yang terjadi,” sahut Yoojung sambil meletakkan botol minum di atas nakas dan menggiring anak laki-laki itu duduk di sofa dalam ruang rawat. “Siapa yang terobsesi pada apa?” ia bertanya lagi.

Sehun mengibaskan tangan asal. “Kasus lama. Jangan dipikirkan.”

Yoojung masih memberi mereka tatapan curiga saat ia menawarkan biskuit untuk anak laki-laki itu.

“Siapa dia?” Jongin akhirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya .

“Jung Dongchan,” Yoojung menjawab. “Ia kesepian karena tidak ada yang menemani, jadi aku membawanya ke sini. Ayo, Dongchan, beri salam pada Paman Kim Jongin dan Oh Sehun.”

Anak laki-laki itu berdiri dan membungkuk dengan patuh ke arah Jongin dan Sehun, kemudian duduk lagi di sebelah Yoojung.

“Halo, aku Jung Dongchan.”

Lalu bagaikan ada yang menyalakan lampu di kepala Jongin, ia bertukar pandang dengan Sehun dan mengangkat alis memberi kode. Anak laki-laki itu salah satu saksi kasus pembunuhan berantai mereka. Jongin lupa bahwa Jung Dongchan dirawat di rumah sakit untuk mengawasi perkembangan mentalnya pasca trauma setelah pembunuhan yang menimpa ayahnya.

Ekspresi di wajah Sehun menandakan bahwa ia memahami kode Jongin.

“Aku ingin mengajak Dongchan ikut festival anak-anak di taman Lee Soon Shin dua hari lagi,” kata Yoojung.

Mendadak sekali, batin Jongin. Ia menggeleng. “Tidak boleh. Aku tidak bisa menemanimu, Yoojung-ie,”

“Tidak masalah,” sahut Yoojung cepat. “Aku tidak perlu diawasi lagi, Oppa dan masa pengawasanku sebagai korban juga sudah berakhir, jadi ya aku bisa pergi dan menjaga diri sendiri.”

Tapi Jongin sama sekali tidak menyukai itu. Yoojung benar masa pengawasan Yoojung sebagai saksi sekaligus korban telah lewat. Ia tidak punya alasan untuk melarang Yoojung dan geraknya masih terbatas mengingat ia masih harus tetap tinggal di rumah sakit. “Kau bisa mengajak Dongchan lain kali. Setidaknya tunggu aku sampai sembuh dan kita bisa pergi bersama,” bujuknya.

“Taman Lee Soon Shin tidak jauh dari sini, Oppa. Tidak perlu khawatir,” kata Yoojung.

Jongin sudah akan membantah ucapan Yoojung, namun tiba-tiba pintu ruang rawat Jongin diketuk. Seorang petugas polisi wanita berseragam masuk dan memberi salam hormat pada Jongin dan Sehun serta mengangguk singkat pada Yoojung. “Maaf, detektif Kim dan Oh. Saya datang untuk menjemput dan mengantar Jung Dongchan kembali ke ruang rawatnya,” ia memberitahu mereka.

“Oh! Kau polisi yang bertugas menjaga Dongchan?” tanya Yoojung.

Petugas polisi itu mengangguk.

“Kebetulan sekali ada yang ingin kubicarakan denganmu mengenai Dongchan,” ujar Yoojung lagi dengan nada ceria yang entah mengapa membuat Jongin khawatir.

Ekspresi di wajah polisi itu berubah tidak nyaman. “Maaf, Dr. Kim Yoojung. Jung Dongchan memang sering kali kabur dari pengawasan, padahal saya sudah mengatakan bahwa hal itu berbahaya,” ia berkata dengan takut-takut. Jongin bisa menilai polisi ini masih baru dan ia takut kalau Yoojung akan memarahinya karena lalai.

Yoojung terlihat terkejut. “Bagaimana kau tahu namaku?”

Polisi itu semakin salah tingkah. “Err, semua anggota kepolisian juga tahu sejak kasus Do Kyungsoo…”

Jawaban itu membuat Yoojung menghela napas, tapi ia tidak memaksa polisi itu mengjelaskan lebih lanjut..

“Ayo, kita bicara sambil mengantarkan Dongchan,” kata Yoojung dan dengan itu, tanpa menoleh pada Jongin maupun Sehun, Yoojung menuntun Dongchan berdiri dan meninggalkan ruang rawat lagi bersama polisi itu.

Baik Jongin dan Sehun saling pandang lagi.

“Tadi itu…. mencurigakan sekali,” komentar Sehun.

Mau tak mau Jongin mengangguk. Jongin yakin sekali Yoojung sedang berusaha melobi polisi itu agar mengizinkannya mengajak Dongchan pergi dan Jongin juga sama yakinnya bahwa Dongchan akan diperbolehkan pergi mengingat tidak ada bahaya nyata untuk anak itu membebaskannya pergi dengan izin.

Jongin merasa terjebak. Di satu sisi, ia yakin apa pun yang akan dilakukan Yoojung dengan membawa Dongchan terdengar mengundang bahaya. Namun di sisi lain, ia sama sekali tidak punya bukti bahwa memang ada bahaya yang mengancam mereka. Setahu Jongin, Do Kyungsoo justru bersikap sangat baik pada Jung Dongchan dan anak-anak lain yang juga terkait pembunuhan berantai yang kebetulan orang tua mereka adalah korban dan pekerja Perusahaan Konstruksi Do. Mengenai Do Kyungsoo dan Yoojung…. Ah, ia juga tidak punya bukti Do Kyungsoo akan mencelakakan Yoojung.

“Ikuti mereka,” Jongin berkata.

“Apa?” tanya Sehun merasa salah dengar.

“Pada malam festival nanti, kirim orang untuk mengikuti mereka,” Jongin mengulangi instruksinya. Insting Jongin mengatakan ada yang salah dengan semua ini. “Siapkan mobil juga. Aku akan ikut mengawasi Yoojung saat itu.”

Sehun berdecak frustasi. “Kakimu masih tidak bisa digerakkan, Kkamjong.”

“Aku bisa pakai kruk,” potong Jongin, kemudian menatap tajam Sehun yang sudah akan melontarkan protes lagi. “Aku harus melakukan ini, Sehun. Entah mengapa, aku merasa ini akan berakhir buruk dan aku akan kehilangan Yoojung…”

“Dasar drama king,” umpat Sehun keras-keras, jelas sekali tidak ingin mendebat Jongin. “Baiklah, akan kulakukan sesuai instruksimu.”

Jongin mengangguk sebagai ucapan terima kasih dan memandang ke luar jendela. Hanya terlihat langit malam pekat yang sama sekali tidak membantunya mengenyahkan perasaan tak nyaman yang berusaha diperingatkan instingnya.

Ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan Yoojung lagi.

Waktu untuk memilih akhirnya telah tiba…….

-bersambung-

©2016 qL^^

.

.

.

.

a.n haaaai!!! I’m back!! Mohon maaf untuk keterlambatan update part 8 yaa. I can’t promise you when part 9 will be posted but I’ll finish this series. I promise you :3 Tinggal 2 chapter lagi sebelum selesai hehehe

Buat yang penasaran, Taeyong asisten Do Kyungsoo aku ambil dari Taeyong dari SM Rookies yang sekarang sudah debut di NCT!

Criminal Consultant inspired by Jim Morriarty from Sherlock Holmes.

.

for fairly warning, ending chapter will be password protected.

So please review guys 🙂

 

Advertisements

21 thoughts on “Let Out The Beast [8]

  1. Huhuu,ga sabar endingnya datang,, Kyungsoo tu sebenernya jahat/ atw baik c,disatu sisi dia bagaikan malaikat,tp disisi lainya dia seperti iblis,yg terobsesi dengan Kim yoojung,
    Seruu

    Like

  2. long time no see kakaaaaa akhirnya update juga uhhh
    Kasian Yoojung, Jongin ga mikirin apa perkataan Sehun, Yoojung juga lagi masa-masa sulit tapi malah deket2 sama Soojung, si Soojung kegatelan lagi uhhhh
    Kyungsoo keren banget sama segala macam peralatan canggihnya dan aku kebayang muka dia yang psikopat2 gitu haha
    keep writing, dan semoga El-Dorado juga update yeay!!!

    Like

    1. hahaha poor soojung. kasian juga sih sama soojung tp ya gmna wong tunangan orang wkwkw. sehun favorit bgt yaa di sini hehe.
      tuuh kan emg cocok bgt si kyung peran2 yg kayak gini haha
      sabar menanti yaa, makasiih udah bacaa ❤

      Like

  3. Dikit lagi tamat
    Hhhhh gak rela ini tamat begitu cepat

    Jadi anak2 yg jadi korban pembunuhan itu kyungsoo yg ngurus?
    Wow
    Dia baik ama orang tertentu aja wkwkwkw

    Ini kenapa dah taeyong setia banget ama kyungsoo
    Apa yg udh kyungsoo lakuin buat taeyong?

    Like

    1. halo Enggar! maafin yaa aku belum sempat balas komenmu di chapter sebelumnya. makasih udah ngikutin dari awal dan meninggalkan jejak di setiap chapter.

      yoii karena kyung di sini holang kaya jadi buang-buang duit buat ngurus anak orang hoohoho. Taeyong ya hmmm nnti diceritakan di chapter berikutnya. sedang didraft kok. sabar yaaa 🙂

      Like

  4. Sukaaaaa banget sama jalan ceritanya.. Ternyata fanfic ini udah lama.. Maafkan aku yang baru meninggalkan jejak.. Diriku juga baru2 ini sangat menyukai kim yoo jung karna di moonlight drawn by cloudsnya.. Mangkanya ngubek2 ttg dirinya di google dan menemukan fanfic ini.. And betapa aku sangat penasaran dengan tiap next chapter.. Dan sangat di sayangkan aku gak bisa baca chapter 6 karna sedikitnya ilmu pengetahuan ttg fanfic, gk tau cara2 tinggalkan jejak atau ngikutin pembaruannya… Tapi apapun itu senang sekali rasanya membaca cerita kamu.. So mulai sekarang aku akan sering2 mampir di blog kamu.. **fighting**

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s