Phoenix Reborn

medium_ynrr9j

Ditulis oleh qL^^

Disclaimer: Inspired by MAMA- EXO.

“The phoenix must burn to emerge.” 
― Janet FitchWhite Oleander


Pohon itu kokoh namun terlihat tua sekaligus. Bila dilihat dari kejauhan, puncak pohon tertinggi terlihat sejajar dengan puncak menara kastil yang paling tinggi. Akarnya yang besar menonjol di permukaan tanah seperti garis-garis otot yang keras di permukaan kulit. Diameter batang yang lebar dengan cabang-cabang dahan dan beribu ranting kecil yang menyebar ke segala arah dipenuhi daun-daun keunguan yang nyaris layu. Gurat-gurat kayu pada batang pohon entah bagaimana membentuk pola layaknya hati. Inti pohon—menurut legenda—yang semakin lama semakin kering.

Mereka—lagi-lagi menurut legenda—menamakannya sebagai Pohon Kehidupan.

Tepat di bawah naungan dedaunan nyaris layu Pohon Kehidupan itulah Bomi bersimpuh dengan mata terpejam dan tangan yang bertaut. Meski matanya terpejam, ia bisa mendengar bunyi langkah kaki yang mematahkan ranting jatuh di atas tanah selain bunyi semilir angin yang membuat daun gemerisik.

“Apa kau sudah selesai berdoa?”

Pertanyaan itu membuat Bomi perlahan membuka mata. “Ya,” jawabnya. Ia berdiri dari posisinya yang bersimpuh, membiarkan saja daun-daun yang berguguran menempel pada jubahnya, kemudian menatap Suho yang berdiri hanya beberapa meter darinya dengan memakai jubah identik seperti yang dipakainya.

“Ia masih tidak memberitahumu apa pun, bukan?”

Bomi jarang sekali mendengar nada sinis dari Suho. Lelaki itu persis seperti elemen yang dikendalikannya: tenang namun menghanyutkan, bahkan saat ia sedang marah. Karena itu, mendengar emosi negatif yang nyata dari Suho cukup mengagetkan Bomi. Ia menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Suho.

“Tidak,” kata Bomi. “Ia hanya menunjukkan visi yang sama. Api dan burung Phoenix.”

Selama menjawab pertanyaan Suho, jemari Bomi menyusuri gurat-gurat kayu pada batang pohon. Ia sengaja berlama-lama menyentuh bagian berbentuk hati dan merasakan denyut halus yang nyaris ada dan tiada di bawah kulit jari tangannya. Mereka harus berhasil jika ingin melihat Pohon Kehidupan benar-benar hidup kembali.

Bunyi langkah kaki bersamaan dengann udara yang mendadak terasa lebih membeku mengumumkan kedatangan seseorang membuat Bomi dan Suho menoleh secara bersamaan. Baik Bomi maupun Suho tidak terkejut mendapati Xiumin yang menatap mereka dengan wajah muram. Sama seperti Bomi dan Suho, ia juga mengenakan jubah.

“Semua persiapan sudah selesai,” Xiumin memberitahu mereka yang disambut dengan anggukan.

Keduanya mengikuti Xiumin yang membawa mereka menuju lapangan terbuka yang tidak terlalu jauh dari Pohon Kehidupan. Sembilan sosok berjubah—Bomi menghitung saat melewati mereka—berdiri dalam formasi, termasuk Kris yang biasanya jarang sekali menginjakkan kaki di tanah. Mau tak mau Bomi menyadari bagian kosong dari formasi yang membuatnya merasa jantungnya seperti diremas.

Seperti yang dikatakan Xiumin, semua persiapan memang sudah selesai. Luhan pasti telah mengeluarkan banyak energi untuk mengatur semua ini. Kini tepat di hadapan mereka ada lingkaran yang dibuat dari potongan kayu yang disusun sedemikian rupa dengan bagian tengah yang ditumpuk dan dibentuk layaknya dipan.

Di sanalah Chanyeol terbaring.

Matanya terpejam, tangan terlipat di depan dada dan mengenakan jubah yang sama seperti yang lain.

Bomi mendekat dan menyentuh tangan Chanyeol. Kulitnya terasa dingin pada kulit Bomi. Lambang burung Phoenix di sebelah dalam pergelangan tangan kanan Chanyeol terlihat kontras pada kulitnya yang sepucat perkamen. Sama seperti terakhir kali Bomi memegang pergelangan tangan Chanyeol saat lelaki itu dibawa pulang dari pertempuran dengan tubuh bersimbah darah, Bomi juga tidak bisa menemukan denyut nadi di sana. Dan mendadak ia merasakan dorongan kuat untuk menangis. Hal yang ia rasakan setiap kali kenyataan menamparnya dengan fakta yang tak terbantahkan.

“Aku selalu menyesal membiarkan Chanyeol pergi. Harusnya aku memutar balik waktu untuk menahannya,” Bomi mendengar Tao bergumam resah dalam formasi di belakangnya.

“Kau tidak boleh main-main dengan waktu, Tao,” Chen memperingatkan.

D.O mencibir. “Seolah-olah kau tidak pernah menggunakan petir untuk menakut-nakuti Troll tempo hari.”

“Tidak masalah,’kan, Tuan Bumi? Toh, kita akhirnya menang dan mengalahkan mereka karena itu,” sahut Chen mengangkat bahu.

“Menang, tapi kita kehilangan Chanyeol,” dengus D.O.

Chen mendelik pada D.O. Tiba-tiba saja gumpalan awan di atas mereka bergerak dengan bunyi gemuruh yang mengerikan, bersamaan dengan tanah yang mulai bergetar. Kai yang berada di tengah formasi berpindah tempat dalam sekejap di antara D.O dan Chen.

“Hentikan kalian berdua!” bentak Kai keras. “Sekarang bukan waktunya untuk bertengkar!”

Huru-hara itu langsung berhenti dan suasana berangsur tenang kembali. Kai kembali ke posisinya. Bomi rasa The Red Forces masih belum benar-benar hilang dalam diri mereka melihat begitu mudahnya emosi negatif terpancing dan mempengaruhi kendali elemen mereka.

Bomi masih berdiri di dekat Chanyeol dengan jemari menyentuh pergelangan Chanyeol, menunda sedikit lebih lama ritual yang akan mereka lakukan setelah ia melihat visi itu. Ia sendiri yang menyaksikan api menyala-nyala dalam visinya dan ia sendiri yang menyanggupi untuk melakukan ritual. Namun saat menyentuh tubuh dingin Chanyeol, keraguan kembali menyeruak dalam hatinya.

“Apakah tidak ada cara lain?” Sehun menyuarakan keraguan yang sama. Angin berputar-putar dan mendesau di sekitar mereka mengisiki kegelisahan Sehun yang begitu kentara.

Suho menggeleng. “Ini kesempatan terbaik kita.”

“Mungkin Lay bisa mencoba lagi?” Baekhyun bertanya, penuh harap.

Lay heals the living, not the dead.” Kali ini Kris yang menjawab. “Bomi tahu apa yang dilakukannya. Kita hanya harus percaya padanya.”

Mendengar Kris begitu mempercayainya, mau tak mau membuat Bomi merasa lebih berani. Ia menghela napas, menyentuh pergelangan tangan Chanyeol untuk terakhir kali kemudian ikut bergabung dalam formasi. Ia kemudian mendongak menatap langit di atas kepala mereka.

“Sudah waktunya,” Lay berbisik saat matahari dan bulan berada dalam posisi yang sama.

Bumi gelap total. Satu-satunya penerangan di sekitar mereka hanya dari jentik cahaya di ujung jari Baekhyun dan api yang dimunculkan Kris pada obor yang dipegangnya. Obor itu melayang perlahan digerakkan oleh Luhan ke arah Bomi.

Save him,” kata Luhan tepat bersamaan dengan Bomi mengambil obor itu.

Langkah Bomi pelan saat ia berjalan menuju lingkaran. Ia berusaha untuk tenang, meskipun perasaannya sungguh tak karuan. Anehnya, tangan Bomi yang memegang obor sama sekali tidak bergetar seolah menunjukkan ia siap melakukannya. Bomi tidak merapalkan mantera apa pun saat ia menyentuhkan ujung api obor pada kayu-kayu yang menyusun lingkaran. Ia hanya mengucapkan satu kalimat. Sebuah doa. Sebuah permintaan.

Biarkan ia lahir kembali.

Api itu menyebar dengan cepat. Membakar tumpukan kayu menjadikannya lingkaran api yang kemudian menyambar dipan kayu dimana Chanyeol terbaring. Lingkaran api itu semakin membesar membuat mereka tidak bisa melihat apa pun selain kobaran api yang menjilat-jilat sementara Bomi berdiri mematung dengan mengulang-ulang kalimat yang sama dalam kepalanya. Mencurahkan seluruh kemampuan manteranya ke dalam kalimat itu. Bomi tidak tahu mana yang lebih baik: tidak bisa melihat sama sekali atau menyaksikan tulang dan kulit Chanyeol meleleh dalam kobaran api.

Dalam sepersekian detik, matahari dan bulan telah kembali pada posisi mereka masing-masing. Cahaya langit telah kembali. Lalu, perlahan-lahan api itu padam, menyisakan bara api, sisa arang dari kayu yang hangus terbakar dan kepulan asap. Sehun menggerakkan angin dengan hati-hati untuk memecah asap dan menjernihkan pandangan mereka.

Jantung Bomi berdegup kencang sekali dalam menit-menit penuh penantian.

Samar-samar mereka mendengar nyanyian burung Phoenix. Lalu mereka melihatnya. Berdiri tegak di antara sisa-sisa kayu yang telah menjadi arang. Jelaga menempel dalam setiap jengkal kulitnya yang terlihat. Jubahnya satu-satunya benda yang tidak terbakar yang menutupi tubuh. Ia seperti bayi yang baru lahir.

Dan Ia, Chanyeol, tersenyum miring di balik asap yang mulai menipis.

“Merindukanku?”

Kelegaan menguasai Bomi sebelum ia balas tersenyum miring.

Lambang-lambang kekuatan di sebelah dalam pergelangan tangan kanan mereka mulai berpendar biru, termasuk milik Bomi. Tak jauh dari mereka, Bomi bisa merasakan denyut Pohon Kehidupan menjadi lebih kuat.

© 2016 qL^^

Picture credits to Google


a.n percobaan gagal untuk prompt #legend, gimna menurut kalian?

 

Advertisements

5 thoughts on “Phoenix Reborn

  1. Hai kakkk… aku readers mu di DKFFi yg nyasar ke blog pribadimu dan mulai mengacak-acakk… ehhh ktmu FF ini….
    Bagus kak! bahasanya juga bagus…. Suka deh 😉

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s