Facade

48dcabae91e1dfb12b8f16b47c2885e6

Disclaimer : Based on The Huntsman – Winter War  of The Snow White Chronicle by Universal Production. No profit is intended.

Put your scary face and you’ll be alright

Pippa tidak melihatnya saat ia dan anak-anak lain yang baru bergabung dalam Para Pemburu digiring untuk sarapan di aula besar. Biasanya setiap pagi Pippa selalu mencuri-curi pandang padanya dan ia selalu membalas tatapan malu-malu Pippa dengan senyum kecil yang membuat gadis kecil itu sangat bersemangat untuk belajar mengayunkan pedang dan menembakkan panah saat latihan sesudah sarapan. Belum lagi ditambah dengan pujian yang ia berikan kalau ia kebetulan sedang lewat di padang latihan saat panah Pippa tertancap tak jauh dari lingkaran sasaran. Pippa memang tak sehebat Sara, sang pemanah legendaris Pemburu, namun pujian kecil itu membuatnya sangat bangga. Ia diam-diam telah menjadi semacam mentor untuk Pippa.

Ya, tapi sayangnya Pippa tidak melihatnya pagi ini.

Semangatnya memudar dan Pippa hanya mengaduk-aduk bubur dalam mangkuk kayu dengan lesu. Suasana aula pagi ini memang lebih suram daripada biasa meski Pippa tak tahu alasannya apa. Ia memperhatikan sekelompok Pemburu yang lebih senior yang duduk tak jauh darinya. Ia bisa melihat luka-luka pada tubuh mereka yang bisa dikenalinya sebagai luka baru. Mereka berusaha bicara dalam bisikan tapi Pippa masih bisa mendengarnya dengan cukup jelas.

“Damn that bastard! I got beaten up early in the morning,” gerutu salah satu dari mereka, laki-laki berambut panjang dengan luka sayat di pelipis kiri.

Yang lain menjawab dengan gerutuan dan geraman.

Perempuan berambut pendek gelap yang memilki luka lebam besar di pipi kanan ikut menyahut. “Well, at least it gave you some satisfaction,” ia berkata dengan nada sinis. “You know, to threw his dead body on the river.”

He deserved more than just a river for betraying Ice Queen like that,” laki-laki gempal di antara mereka menyela. “Eric The Betrayer. Proper name, eh?”

Kalimat terakhir yang dikatakan si laki-laki gempal membekukan seluruh tubuh Pippa. Ia mencengkram sendok kayunya erat-erat untuk menahan air mata yang tiba-tiba saja sudah mengumpul di pelupuk mata. Untunglah teman-teman semejanya terlalu sibuk dengan diri mereka sendiri untuk memperhatikan dirinya.

Apa kata mereka? Eric… tewas?

Sebagian diri Pippa menolak untuk percaya. Eric adalah Pemburu terbaik mereka. Ia tidak mungkin tewas semudah itu. Lagipula mereka mengatakan sesuatu tentang berkhianat. Eric tidak mungkin melakukannya. Ia sejak dulu selalu memenangkan perang demi Sang Ratu. Ia tidak mungkin berkhianat. Tapi sebagian diri Pippa tahu luka-luka seperti itu memang hanya bisa kaualami jika bertarung melawan Eric.

“He wasn’t that great if he could be killed easily by us,” laki-laki gempal itu bicara lagi.

Kali ini perempuan berambut pendek itu tertawa keras. “Stupid little Eric. Died for a stupid little woman and false love,” tambahnya mengejek.

Tangan Pippa gemetar dan amarah memenuhi dirinya. Ia hampir saja berdiri dan berteriak pada perempuan itu. Tak peduli meskipun ia hanya gadis empat belas tahun dan prajurit baru yang menantang seorang prajurit senior Pemburu.

Tapi seseorang mendahuluinya melakukan itu.

Enough!” raung Tull, salah satu komandan senior Pemburu. Ia telah berdiri dan memukulkan telapak tangan di atas meja yang menimbulkan bunyi duk keras yang membuat aula mendadak menjadi sunyi senyap.

Tull menatap berkeliling aula dengan tajam. Setelah Pippa perhatikan, ia juga tidak melihat Sara pagi ini dan mendadak ia sadar bahwa kini Tull yang mengambil alih komando mereka. Saat Tull bicara, suaranya tegas dan kasar, namun Pippa bisa mendengar rasa putus asa yang terselip di sana.

“Starting today, we do not speak of his name ever again,” Tull memperingatkan. “His death is a warning for those who dare to defy The Queen’s law. The Queen saved us and raised us and being a Huntsman is our way to pay her back.”

Tidak ada yang bicara saat Tull menyelesaikan pidatonya.

Tull bicara lagi. “She summons us to the autrium this morning. Go now.”

Keheningan di aula besar akhirnya pecah oleh bunyi derit-derit kursi yang digeser. Semua orang berdiri, meninggalkan sarapan mereka begitu saja dan melangkah menuju pintu tanpa saling bicara. Pippa juga berdiri dan mengikuti yang lain keluar, namun tiba-tiba Tull memanggilnya.

Langkah Pippa terhenti dan Tull menghampirinya. Pippa tidak pernah bicara dengan Tull sebelumnya, meski ia tahu Tull pernah melihat saat Eric memujinya di padang latihan. Laki-laki berkulit hitam itu bertubuh tinggi dan besar, hampir sama seperti Eric. Ada bekas luka berbentuk jari tercetak pada rahang bawah Tull. Pippa tahu bagaimana ia mendapatkan luka itu.

Put your brave face in front of the Queen,” kata Tull datar, “or you’ll end up like him.”

Jantung Pippa mencelos. Memori Pippa mengulang sebuah kenangan dalam kepalanya dengan jelas seolah terjadi kemarin. Ia yang bergelung dalam tumpukan jerami kereta, berusaha bersembunyi agar tak perlu bertemu Ice Queen yang menakutkan. Ia yang ditemukan oleh Eric untuk pertama kalinya. Ia masih ingat dengan jelas ekpresi jenaka di wajah Eric saat ia mengajarkan Pippa bagaimana caranya agar Sang Ratu tidak bisa mengetahui apa yang dipikirkannya. Put your scary face and you’ll be alright, kata Eric saat itu. Eric dan ‘wajah menyeramkannya’. Eric dan kedipan kecilnya. Eric dan senyum penuh dukungannya. Dada Pippa terasa sesak dan ia merasakan air mata mulai memenuhi pelupuk matanya lagi. Namun ia menarik napas dalam-dalam untuk menguasai diri, lalu menatap Tull.

I won’t put my brave face,” Pippa memberitahu Tull. “I’ll put my scary face.”

Ketika ia berbaris bersama Para Pemburu dalam atrium kastil dan melihat Ice Queen berdiri di hadapan mereka dalam gaun keperakan, mahkota es dan keping-keping salju yang berterbangan, Pippa benar-benar memasang fasad ‘mengerikan’ dalam ekspresinya dan mengulang kalimat yang diucapkan Eric dalam hati.

“I’ll be alright.”

­-selesai-

©2016 qL^^


an. percobaan gagal yang kedua untuk prompt #legend. gimana menurut kalian?

Advertisements

2 thoughts on “Facade

  1. o-ow~ entah kenapa aku membayangkan Arya Stark sebagai Pippa di sini. kkk~
    Karakter mereka agak mirip di sini (atau mungkin aku cuma tahu Game of Thrones doang XD )

    Jujur, aku belum pernah nonton The Huntsman, kak… Jadi, agak kurang paham dengan situasinya. Tapi, aku suka karakter Pippa. Mungkin kalau agak panjangan dikit kali, ya, aku bakalan puas banget… hehehe~

    Keep writing, kak ^^

    Like

    1. ku ga bisa nulis panjang T.T
      ini juga iseng dari prompt terus failed ga jadi aku submit hahaha

      iyaa, pippa karakter ini emg sengaja kubikin badass kayak Arya. kalau di film dia ga terlalu keliatan kok sifatnya kayak apa.

      makasih udah mampir ikka 🙂
      aku menunggu lanjutan Dance of Storm nyaa

      Liked by 1 person

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s