El Dorado – 4

a fan fiction by qL^^

.

Casts : Park Chanyeol, Choi Bomi, Kim ‘L’ Myungsoo,

Yook Sungjae, Park ‘Joy’ Sooyoung, Byun Baekhyun

Genre : Adventure, Fantasy, Romance

Rating : PG 13- Teen

Length : Multichapter

.

Disclaimer : This is work of fan fiction. All mentioned artists belonged to agencies. No profit is intended. Please do not copy paste!

Previously on El Dorado : 3

El.jpg

Bagian 4

Even if we’re walking in storms on some days

If we’re together, I won’t be afraid, oh El Dorado rado

(from El Dorado – EXO)

Api di ujung jari-jari tangan Chanyeol.

Hanya sekejap, namun Bomi tahu kalau ia tidak salah lihat.

Kertas itu terbakar begitu saja menjadi abu. Chanyeol terlihat sama terkejutnya seperti Bomi yang membuatnya yakin bahwa kejadian itu pasti baru pertama kali dialami Chanyeol. Lelaki itu menatap kedua tangan seolah tangannya baru saja melakukan tindakan keji di luar kuasanya.

Belum sempat Bomi mencoba bicara, tiba-tiba saja ada cahaya biru yang menyala dari bagian dalam pergelangan tangan kanan Chanyeol. Ada semacam tato berbentuk burung menyala terang. Sama seperti kertas yang terbakar, nyalanya hanya sekejap dan setelah itu tato dan cahaya biru itu menghilang. Hanya menyisakan kulit Chanyeol yang terlihat normal.

Beberapa menit berlalu saat Bomi dan Chanyeol sama-sama terpaku.

Setelah menguasai diri, akhirnya Bomi bicara.

“Chanyeol…” ia memulai.

Panggilan Bomi menyadarkan Chanyeol seolah ia sejak tadi sedang trans.

“Bomi…. tadi itu apa?” tanyanya.

Bomi melihat berbagai ekspresi melintas di wajah Chanyeol : cemas, tak percaya, bingung, marah, antusias, lalu bingung lagi. Kalau Bomi bisa melihat ekspresi pada wajahnya sendiri, mungkin ia juga memiliki ekspresi yang sama seperti Chanyeol. Ia sama tak tahu menahu dengan lelaki itu, tapi menambah kebingungan Chanyeol tidak akan ada gunanya jadi Bomi menepuk bahu Chanyeol pelan dengan penuh simpati.

“Kita akan mencari tahu,” ia berkata.

Chanyeol menatap Bomi dengan berat. “Hal ini harus dirahasiakan dari yang lain,” putusnya. “Dan kita harus segera pergi dari sini sebelum hal-hal yang lebih aneh terjadi lagi.”

Tapi Bomi menggeleng.

“Aku setuju merahasiakan tentang api itu, tapi tidak tentang panah ini,” tolaknya. “Kita baru saja melewati tahap ketidakpercayaan satu sama lain, Yeol, kau hanya akan menambah masalah baru dengan merahasiakan sesuatu lagi.”

Chanyeol menghela napas, mempertimbangkan ucapan Bomi. “Kau benar,” akhirnya ia berkata, kemudian mengulurkan tangan pada Bomi. “Ayo, kita kembali ke tenda sekarang,” ajaknya.

Kali ini Bomi tidak ragu menyambut tangan Chanyeol yang menariknya lebih dekat. Bersama, mereka kembali ke tenda. Bomi memperhatikan bahwa Chanyeol membawa serta panah yang dicabutnya dari tanah. Bomi tak bisa mengalihkan pandangannya dari panah itu.

Siapa yang menembakkan panah dengan pesan aneh itu?

Tadinya Bomi pikir semua anggota tim sudah tertidur ketika ia dan Chanyeol kembali ke tenda. Namun ternyata semua anggota tim sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing meski malam telah larut. Joy dan Sungjae duduk bersampingan pada kursi-kursi di sudut tenda, mendiskusikan sesuatu dengan suara berbisik. Baekhyun terlentang di atas salah satu dipan kayu, tidak tidur namun mengamati batuan dalam tabung yang dipungutnya kemarin di dekat lokasi mereka berkemah. L sedang menggunakan tabletnya sambil sesekali memperhatikan peta lusuh dari EXO yang terbentang di hadapannya. Tidak ada yang menoleh ketika Bomi dan Chanyeol memasuki tenda.

“Oh, kalian sudah kembali?” Baekhyun yang pertama kali menyadari kehadiran Bomi dan Chanyeol bertanya.

Barulah Joy, Sungjae dan L mengalihkan pandangan ke arah mereka.

Sama-sama enggan bicara, baik Chanyeol maupun Bomi mengangguk untuk menjawab pertanyaan Baekhyun.

“Apa itu di tangan, hyung?” kali ini Sungjae yang bertanya. Ia memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak di atas kursi dan mencondongkan tubuh untuk melihat lebih jelas, padahal kursinya di sudut cukup jauh dari pintu masuk tenda.

Chanyeol mengangkat panah yang ada di tangan kirinya lebih tinggi.

“Alasan mengapa kita harus pergi dari sini secepat mungkin,” jawabnya dan ia mengeratkan genggaman tangannya pada Bomi yang mendadak baru menyadari bahwa mereka masih berpegangan tangan. Itu menjelaskan ekspresi dingin di wajah Joy.

Perlahan Bomi menarik lepas tangannya dari genggaman Chanyeol tetapi lelaki itu terlalu keras kepala untuk melepaskan.

“Maksud oppa?” alis Joy terangkat bertanya.

“Seseorang menembakkan panah ini ke arah kami. Lebih tepatnya di posisi Bomi berdiri,” Chanyeol menjelaskan dan Bomi menelan ludah tak nyaman. “Instingku bergerak cepat menarik Bomi, tapi kalau tidak, aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi.”

Begitu Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, L melompat dari posisinya duduk dan bergerak cepat sekali seperti bayangan, menyeberang tenda dan tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan Bomi. Ia menarik Bomi lebih dekat padanya, suatu gestur yang tak terduga dan mengakibatkan lepasnya genggaman tangan Chanyeol pada Bomi, untuk memperhatikan gadis itu dengan baik.

“Kau baik-baik saja, Bomi?” tanyanya. Bomi mendengar nada khawatir yang sangat kentara. “Apakah kau terluka? Ada bagian yang sakit?”

Bomi terbiasa melihat L sebagai seseorang yang tidak ekspresif. Dingin, meskipun ia peduli. Namun sejak malam dimana Joy menuduhnya tak bisa dipercaya, ia melihat sisi lain L. Seseorang yang punya selera humor yang payah namun tetap berusaha menghiburnya. Ia menganggap L sebagai teman dekatnya sejak saat itu dan ia tersentuh melihat L begitu khawatir padanya.

Jadi, ia menggeleng. “Aku baik-baik saja, L.”

L masih menatap Bomi dengan sangsi, tapi kemudian mengangguk. Ia melihat ke arah Chanyeol. “Hanya itu?” pancingnya.

Sekilas Bomi bisa melihat Chanyeol meliriknya, meskipun lelaki itu segera menatap pada anggota tim yang lain sebelum menjawab. “Ada pesan yang dilekatkan pada panah itu.”

“Pesan?” ulang Baekhyun.

Bomi mengangguk. “Ya, tentang kau akan memperlihatkan tandamu atau semacam itu.”

“Tanda?” tanya Sungjae bingung. “Apa maksudnya?”

“Entahlah,” Bomi mengangkat bahu.

“Lalu dimana pesan itu sekarang?” Joy bertanya.

Kali ini Chanyeol melirik Bomi lagi sekilas.

“Kertasnya terbakar,” ia menjawab.

Bomi menahan napas, menunggu reaksi anggota tim yang lain. Ia sungguh berharap tidak ada yang bertanya bagaimana kertas itu bisa terbakar.

Well, tidak ada gunanya jika kertas itu sudah jadi abu,” Joy berkomentar dan Bomi nyaris saja menghembuskan napas lega. Tapi Joy justru menggunakan kesempatan itu untuk mendelik pada Bomi. “Tapi mengapa yang dijadikan sasaran hanya Bomi eonni?”

Pertanyaan yang sarat nada curiga itu membuat Bomi memutar bola mata.

“Pesan itu tidak spesifik ditujukan untuk siapa. Bisa saja panah itu meleset,” L membela Bomi.

Chanyeol mengangguk setuju. “Yang jelas kita harus pergi dari sini secepat mungkin,” ia mengulang ucapannya. “Salah satu dari kita atau bahkan kita semua bisa saja dalam bahaya.”

“Kita tidak bisa pergi begitu saja,” Joy menggeleng. “Tidak setelah memberitahu Marina dan Albertico bahwa kita akan tinggal sampai matahari terbit.”

“Tapi—“

“Aku setuju dengan Joy,” Bomi akhirnya berbicara. “Kita tidak bisa meninggalkan kota ini begitu saja setelah kebaikan mereka menerima kita. Apalagi kalau kita pergi diam-diam. Itu tidak sopan dan kurasa mencari musuh di sini bukanlah tindakan bijaksana setelah apa yang terjadi dengan panah itu. Kita bisa menunggu dan berangkat begitu matahari terbit,” ia menyarankan.

Bomi mengedarkan pandangannya. Joy jelas-jelas menolak untuk pergi malam ini. Sungjae, Baekhyun dan L bergumam setuju. Hanya Chanyeol yang terlihat masih ragu, namun setelah beberapa detik akhirnya ia mengalah dan menghembus napas.

“Baiklah, kita tetap berangkat besok pagi-pagi sekali, tapi aku ingin kita berkemas sekarang,” kata Chanyeol memberi instruksi.

Seluruh anggota tim segera bergerak, mengemas barang-barang mereka. Tidak banyak barang yang harus dikemas mengingat hampir seluruh barang logistik masih ditinggalkan dalam jeep-jeep mereka yang terparkir tak jauh dari tenda. Hanya dalam waktu kurang dari seperempat jam, semua barang selesai dikemas dan yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu.

Perasaan Bomi tidak karuan setelah insiden dengan panah itu. Pesan yang datang bersamaan dengan panah itu mengusiknya, seolah memberitahukan masih ada yang belum diketahui Bomi sebagai arti pesan itu. Ia terlalu larut dalam pemikirannya sampai tidak sadar bahwa Sungjae tiba-tiba saja menghampirinya.

Noona, kau pucat sekali,” Sungjae berkata sambil menyerahkan sebotol air mineral. “Kau harus jaga diri baik-baik supaya bisa terus merawat kami.”

Bomi terkejut, tapi ia menerima botol air itu. “Terima kasih.”

Sejak ekspedisi dimulai, Bomi tidak pernah bicara terlalu personal dengan Sungjae, kecuali saat pemberian vaksin. Ia tidak banyak mengetahui tentang pemuda itu selain dari apa yang diberitahukan Chanyeol. Sedikit banyak ia pikir Sungjae menghindarinya atas dasar rasa tidak suka Joy terhadap dirinya dan rasa suka Sungjae pada Joy, tapi sepertinya ia sudah salah menduga.

“Apakah noona masih marah pada Joy?” tanya Sungjae yang kini duduk di sebelahnya. “Joy memang selalu mudah cemburu kalau itu tentang Chanyeol hyung,” tambahnya.

“Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mempercayai seseorang,” balas Bomi pelan.

Sungjae mengangguk. “Aku tahu, tapi aku tidak bisa tidak berpihak padanya.”

Jawaban Sungjae membuat Bomi tersenyum. “Joy beruntung sekali memiliki orang yang menyukainya sebesar rasa sukamu,” ia menepuk pundak Sungjae pelan.

Tapi Sungjae hanya tertawa miris. “Bahkan meski sebesar itu rasa sukaku, Joy masih tidak bisa melihatnya.”

Bomi menatap lekat-lekat Sungjae untuk menilai ekspresi pemuda itu. Ia bahagia tapi bersedih atas perasaannya pada Joy dan Bomi mau tak mau bersimpati padanya. Ia baru saja akan mengucapkan sesuatu untuk mengangkat semangat Sungjae saat sekelebat gambaran muncul di kepalanya.

Pasir. Badai. Teriakan-teriakan. Dan…. Astaga! Sungjae yang berlumuran darah.

Gambaran itu muncul dengan cepat dan hilang dengan cepat juga. Lalu Bomi merasakan cahaya biru muncul dari bagian dalam pergelangan tangan kanannya, samar terlihat karena terhalang oleh blus sifon Bomi yang berlengan panjang. Pola tatonya berbeda dengan Chanyeol; miliknya terlihat seperti bunga. Cahaya biru dan tato itu juga hilang dalam sekejap seperti yang terjadi pada Chanyeol dan ia bersyukur Sungjae tidak sempat melihatnya.

Tapi Bomi tidak mengerti.

Apa yang tadi muncul di kepalanya terasa seperti deja vu. Seperti memori yang sudah terjadi dan terasa familiar tapi Bomi jelas belum pernah mengalami kejadian seperti itu. Ia merinding, mengingat Sungjae yang berlumuran darah dalam gambaran itu dibandingkan dengan Sungjae yang sehat yang kini duduk di sebelahnya. Apakah itu visi? Gambaran masa depan?

Noona, kau baik-baik saja?” tanya Sungjae khawatir sembari memegang pundaknya.

Sepertinya Bomi sudah terdiam terlalu lama. Bomi berusaha keras mengembalikan fokusnya pada Sungjae. Ia meletakkan tangan di atas tangan Sungjae pada pundaknya.

“Aku baik-baik saja,” katanya.

Di sisi lain tenda, hanya Bomi yang memperhatikan bahwa Chanyeol masih menatap telapak tangannya dengan ngeri.

Tidak ada anggota tim yang tidur sampai matahari terbit. Begitu berkas sinar fajar mulai menerangi perkemahan di luar tenda, seluruh anggota tim mulai bergerak menuju jeep-jeep mereka. Albertico dan Marina sudah menunggu bersama selusin pengawal mereka. Chanyeol mengulurkan tangan pada Albertico sebagai ucapan terima kasih atas jamuan mereka yang dibalas dengan jabat tangan ramah dari lelaki paruh baya itu, kemudian seluruh anggota tim mengikuti jejak Chanyeol untuk berjabat tangan dengan Albertico dan Marina secara bergantian.

Bomi benar-benar tidak menyukai tatapan Marina saat Marina sedang berjabat tangan dengan Chanyeol. Ada sesuatu yang berbeda dalam senyum dan kilatan mata wanita itu seolah-olah ia tahu apa yang terjadi padanya dan Chanyeol semalam. Mungkin Marina memang benar-benar tahu, toh ia seseorang yang bisa melihat masa depan. Akan tetapi pikiran itu mengusik Bomi bahkan ketika ia berjabat tangan dengan Marina.

Marina tersenyum. “Sayang sekali kalian tidak bisa tinggal lebih lama,” katanya.

Wajah Bomi terasa kaku saat ia berusaha membalas senyum Marina. “Kami harus segera menemukan El Dorado,” ia menjawab.

Rasanya Bomi ingin menghempaskan tangan wanita itu yang menangkup tangannya, tapi Marina melihat Bomi seolah ia sedang mencoba menerawangnya.

“Tugasmu lebih dari sekedar dokter dalam menemukan El Dorado, Choi Bomi, terutama setelah apa yang kau saksikan semalam,” ucap Marina serupa bisikan. Melihat ekspresi terkejut Bomi, wanita itu melanjutkan. “Kau sudah melihat tanda-tanda itu pada dirimu dan Chanyeol. Dan kau masih akan melihat tanda itu lagi.”

“Tapi itu… sebenarnya tanda apa?”

“Saat kau menemukan El Dorado, kau akan mengerti,” kata Marina, mengusap kulit sebelah dalam pergelangan tangan Bomi tempat tato berbentuk bunga itu muncul dan hilang semalam, membuat Bomi merinding. Kemudian Marina melepaskan tangan Bomi dan berdiri sedikit menjauh.

Ternyata Bomi adalah anggota tim terakhir yang berjabat tangan dengan Albertico dan Marina. Ia bisa merasakan tatapan penasaran Chanyeol dan anggota tim lain saat ia kembali bergabung dengan mereka.

Segera setelahnya mereka segera menaiki jeep masing-masing. Tidak ada yang berubah dari pembagian tim. Baekhyun, Joy dan Sungjae akan tetap dalam jeep yang sama dan Bomi akan kembali bersama Chanyeol dan L. Ia curiga Chanyeol akan menempelinya lebih ketat selama masa ekspedisi ini setelah apa yang terjadi selama.

Mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya, mereka berangkat meninggalkan kota Admonitus. Gerbang dari kayu oak setinggi kira-kira dua puluh meter dan dijaga oleh selusin laki-laki bertombak itu tertutup di belakang mereka. Mau tak mau Bomi bisa merasakan kelegaan menyelimutinya.

Beberapa ratus meter setelah mereka berkendara, L menoleh ke belakang.

“Admonitus sudah menghilang,” ia memberitahu mereka dengan nada getir.

Bomi ikut menoleh seperti yang lain dan jantungnya mencelos saat mendapati di belakang mereka tidak ada apa-apa selain jalan berpasir. Kemudian kembali menghadap ke depan. Ia menghela napas dan menenagkan debaran jantungnya yang bertalu-talu. Kata-kata Marina kembali terngiang di pikiran Bomi yang membuatnya tak tenang, namun buru-buru ditepisnya. Tak ada gunanya mencemaskan apa yang sudah terjadi dan apa yang belum terjadi.

Landmark berikutnya menunggu untuk dieksplorasi.

Pasir.

Sejauh mata Bomi sanggup memandang yang terlihat olehnya hanya pasir kuning. Debu-debu tipis berterbangan ditiup angin gurun. Bomi sama sekali tidak melihat apa pun selain pasir, entah itu mahkluk hidup lain atau bangunan, sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mereka sudah berkendara selama hampir sepuluh jam, berhenti hanya untuk sekedar istirahat dan makan. Jika Bomi tidak percaya pada kemampuan L membaca peta dan memimpin arah, maka ia akan beranggapan bahwa sedari tadi mereka hanya berkendara berputar-putar di tempat yang sama.

Hawa panas menyengat gurun pasir kontras dengan hawa kota Admonitus yang baru saja mereka tinggalkan. Meskipun sama-sama panas, udara gurun pasir lebih menyesakkan dibandingkan udara Admonitus. Bomi merasa gerah. Ia sudah meninggalkan jaketnya, namun ia tetap khawatir panasnya matahari membakar kulitnya apabila ia membiarkan lebih banyak bagian tubuhnya terekspos. Chanyeol dan L juga telah melepaskan jaket mereka. Kaos mereka lengket di tubuh karena basah oleh keringat.

“Dimana landmark berikutnya?” tanya Bomi.

L menunduk menbaca peta. “Sekitar satu atau dua hari perjalanan lagi,” jawabnya sambil menunjuk gambar bangunan di tengah-tengah gurun. “Sisa-sisa bangunan ini akan menjadi landmark kita berikutnya.”

Bomi mengangguk paham, meskipun ia pesimis mereka bisa menemukan kota itu di tengah gurun pasir seluas ini sekalipun dibantu oleh alat-alat pemetaan L yang canggih. Ia melirik Chanyeol yang sedang mengendalikan laju jeep mereka di antara pasir. Sesekali Bomi menangkap Chanyeol menggelengkan kepala pelan untuk mengembalikan fokusnya. Udara panas memang mudah memecah konsentrasi.

Sejak mereka berangkat, Chanyeol sama sekali tidak berusaha bertanya pada Bomi mengenai apa yang dibicarakannya dengan Marina. Ia terlihat penasaran, namun kelihatannya sudah memutuskan bahwa tidak bijaksana menanyakan hal yang seharusnya mereka rahasiakan. Jadi mereka bersikap seolah tidak ada apa-apa.

Seluruh anggota tim sedang beristirahat saat Bomi merasakan perubahan sikap mendadak dari L. Lelaki itu sedang duduk di kursi belakang jeep sambil menegak air di sebelah Bomi, sesekali bergurau dengan leluconnya yang payah namun tetap membuat Bomi tertawa dan Chanyeol berkomentar penuh sarkasme. Lalu tiba-tiba saja L melompat dari tempat duduknya dan meraih pengukur kecepatan angin di dashboard jeep. Angin memang sedikit lebih kencang sejak beberapa menit yang lalu. Ia mengamati alat itu sesaat, menatap langit luas seolah berusaha menerawang, kemudian berpaling pada Chanyeol dengan sikap tegang.

Perubahan bahasa tubuh Chanyeol terlihat jelas sekali. Bomi memperhatikan bagaimana lelaki itu tadinya rileks dengan sisa-sisa candaan mendadak menjadi tegang dan waspada serta mulai mengomando anggota tim lain.

“Bersiaplah,” Chanyeol berkata pada anggota tim yang lain.

Bomi masih tidak mengerti apa yang terjadi.

“Ada apa?” ia bertanya.

Chanyeol mengedikkan kepala pada jaket Bomi yang tergelatak di jok belakang jeep, kemudian ia menyerahkan kacamata yang mirip kacamata renang pada Bomi. “Pakai ini,” katanya. “Kalau prediksi L benar dalam beberapa menit kita harus berhadapan dengan badai pasir.”

Jawaban Chanyeol membuat Bomi terkesiap. Ia merinding, kemudian tanpa bisa dicegah memori atau deja vu atau visi yang semalam ia lihat kembali lagi.

Pasir. Badai. Teriakan-teriakan. Dan…. Astaga! Sungjae yang berlumuran darah.

Tanpa banyak bicara, Bomi mengenakan jaket dan kacamata, kemudian menyambar tas peralatan medis daruratnya. Ia akan membutuhkan tas ini kalau apa pun yang dilihatnya benar-benar terjadi. Bomi melangkah mendekati Sungjae yang juga sedang memakai jaket dan kacamata. Ia menarik lengan lelaki itu untuk mendapatkan perhatiannya. Bomi berusaha keras mengabaikan tatapan curiga dari Joy saat ia melakukannya.

“Sungjae,” panggil Bomi.

“Ada apa, noona?” ia bertanya heran.

“Dengar, mungkin ini terdengar aneh, tapi sebisa mungkin selama badai hindari apa pun yang bisa melukaimu,” kata Bomi cepat.

Kerutan di dahi Sungjae terlihat jelas. “Huh?”

“Pokoknya dengarkan saja ucapanku, oke?” desak Bomi lagi.

Meskipun Sungjae masih terlihat bingung, ia akhirnya mengangguk. Lalu Bomi segera kembali menuju jeep mereka dimana Chanyeol dan L sudah menunggu. Chanyeol menyerahkan sebuah belati pendek pada Bomi.

“Untuk apa ini?” ia bertanya.

“Berjaga-jaga,” sahut Chanyeol singkat.

“Meskipun kami akan berusaha melindungimu,” L menimpali.

Bomi tetap menarima belati itu meskipun ia memutar bola mata mendengar kalimat Chanyeol dan L. Ia bisa melindungi diri dengan baik, terima kasih banyak batinnya dalam hati. Sejak menjadi dokter militer, Bomi sudah dilatih menggunakan berbagai jenis senjata ukuran ringan, termasuk belati dan pistol kecil.

Maka selanjutnya mereka menunggu.

Perubahan pola angin terasa sangat kentara. Bunyi seperti siulan dan gemuruh datang dari arah utara dengan diikuti oleh langit yang berangsur-angsur menggelap. Dari jauh Bomi bisa melihat pusaran badai pasir yang semakin mendekat. Ia mencengkram belatinya dengan lebih erat sementara merasakan Chanyeol dan L berdiri lebih rapat padanya. Bomi berdoa agar badai pasir itu datang tanpa apa pun yang menyertainya.

Gelombang pertama badai yang menyerang nyaris membuat Bomi kewalahan. Angin kencang bercampur pasir menerpa tubuh dan wajahnya. Bomi bersyukur ia tadi mengikat rambut pendeknya alih-alih menggerainya karena ia yakin butiran pasir menempel hampir di seluruh jengkal tubuhnya. Ia sedikit terhuyung melawan deru angin, namun Chanyeol dan L membantu menyeimbangkan dirinya. Setidaknya kacamata membantu ia tetap bisa melihat di antara angin berpasir yang nyaris membutakan.

Tepat saat itu Bomi melihat sesuatu yang lain.

Siluet sosok yang berjalan dengan mudah melintasi badai pasir. Bomi memicingkan mata agar bisa melihat lebih jelas. Awalnya ia pikir itu sekelompok manusia yang sama seperti mereka, penjelajah atau semacamnya, namun semakin dekat mereka berjalan ke arahnya ia tahu bahwa itu bukan manusia.

Rasa takut merayap di permukaan kulitnya.

“Chanyeol…” Bomi tercekat, tak bisa melanjutkan ucapannya.

Di sebelahnya, Chanyeol mengumpat keras meski suaranya terbawa angin. Ia juga mencengkram belati sama seperti Bomi dan sebelah tangannya menggenggam tangan Bomi. “Tidak apa-apa, aku pernah menghadapi mereka sebelumnya. Itu Sand Shadow—Bayangan Pasir. Mereka akan mencoba melukaimu, jadi menghindarlah. Tusuk mereka tepat di dada dan mereka akan menjadi pasir lagi,” ia memberitahu.

Kemudian Chanyeol menarik Bomi mundur, diikuti oleh L. Bersama-sama mereka berdiri berdekatan dengan Sungjae, Joy dan Baekhyun. Semua anggota terlihat waspada dan mendadak Bomi tidak lagi merasa takut karena mereka bersama meskipun ia masih mengkhawatirkan Sungjae.

Sand Shadow mendekat dan berlari menyerang mereka. Dari dekat mereka terlihat seperti tubuh transparan dibentuk oleh pasir. Di wajah mereka ada dua titik sebesar kelereng berwarna kuning mengerikan dan robekan gelap bergerak-gerak yang dianggap Bomi sebagai mata dan mulut. Tangan mereka tidak memegang senjata apa pun yang semakin membuat Bomi takut.

Genggaman tangan Chanyeol terlepas saat ia berusaha mempertahankan diri dari serangan salah satu dari mereka. Bomi berjuang sendirian melawan salah satu dari mereka. Ia menyabet, namun belatinya menembus lengan mereka. Tangan Sand Shadow berusaha menjangkaunya, namun Bomi berkelit. Ia berusaha menyabet lagi, namun kali ini tangan kirinya dicengkram oleh si Sand Shadow yang menarik Bomi. Betapa kagetnya Bomi bahwa tangan Sand Shadow terasa solid saat mencengkramnya.

Alih-alih melawan, Bomi malah bergerak lebih cepat menggunakan momentum tarikan untuk melemparkan tubuhnya pada tubuh Sand Shadow dan menusuk tepat di dada. Tubuh Sand Shadow musnah seperti pecah menjadi partikel-partikel kecil pasir diiringi bunyi melolong yang memekakkan telinga.

Bomi berhenti sejenak mengambil napas.

Ia baru saja menghancurkan satu Sand Shadow. Tangannya gemetar, namun Bomi berusaha mengendalikan diri. Bekas cengkraman Sand Shadow itu terasa nyeri dan berdenyut, tapi ia mengabaikan dan berlari ke arah anggota tim yang lain untuk membantu.

“Awas!” Sungjae berteriak.

Bomi tidak menyadari satu Sand Shadow ada di balik punggungnya, berusaha mencekiknya dari belakang. Ia merunduk tepat pada waktunya ketika mendengar peringatan Sungjae. Sungjae menahan tangan Sand Shadow itu sementara Bomi mengambil kesempatan untuk menusuk makhluk itu yang segera musnah menjadi pasir.

Ia tidak tahu berapa banyak Sand Shadow yang berhasil mereka musnahkan karena mereka selalu muncul kembali. Ia juga tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu. Tapi ia tahu bahwa tubuhnya mulai merasa kelelehan. Tusukannya pada Sand Shadow beberapa kali meleset membuatnya terkena pukulan mahkluk itu.

Tapi kemudian perubahan pola angin kembali terasa.

Langit tidak berangsur mencerah, namun pusaran angin semakin lama semakin mereda sampai akhirnya berhenti sama sekali. Sand Shadow terakhir seolah terserap ke dalam pasir ketika badai perlahan bergerak menjauh ke selatan. Meninggalkan anggota tim mereka yang kelelahan dan berlapiskan pasir.

Semua anggota tim terduduk begitu saja di atas pasir. Langit sudah gelap, kini ditaburi bintang. Padahal hari masih siang saat badai pertama kali menyerang. Chanyeol perlahan bergerak untuk mengecek kondisi jeep mereka yang juga berselimutkan pasir. Jeep itu setidaknya cukup kuat menahan terpaan padang pasir. Mereka memutuskan untuk tidak mendirikan tenda malam itu, namun tetap membuat api unggun.

Bomi bekerja membantu para anggota lain untuk meredakan nyeri akibat pukulan atau cengkraman Sand Shadow dengan menyemprotkan pereda nyeri. Itu akan meninggalkan luka lebam selama beberapa hari, namun Bomi bersyukur tidak ada yang terluka parah terutama Sungjae.

Visi atau apa pun itu tidak terjadi.

Rasanya Bomi baru saja tidur selama beberapa menit di jok belakang jeep saat ia mendengar bunyi aneh.

Bomi terduduk perlahan dan melihat L serta Chanyeol juga telah terbangun di jok depan. Begitu pun dengan Sungjae, Joy dan Baekhyun. Bomi merasa linglung karena baru bangun dan sedikit lemas karena ia masih merasa lelah. Tapi ia tahu bahwa bunyi aneh itu nyata dan semua orang mendengarnya.

“Suara apa itu?” Joy bertanya dalam bisikan.

Bunyi aneh itu ternyata sebuah suara. Terdengar seperti nyanyian dalam bahasa kuno dengan irama aneh yang membuat Bomi bergidik. Melodi halus yang membujuk seolah memanggil mereka untuk mendekat. Sebuah panggilan.

“Darimana asalnya?” Baekhyun bertanya.

Tidak ada yang menjawab.

Chanyeol mengerling sekitar, kemudian menghela napas dan bicara pada L. “Nyalakan tabletmu. Periksa koordinat posisi kita.”

Tanpa banyak tanya L melakukannya, kemudian ia tergagap. “Mustahil…” gumamnya menyerahkan tablet itu pada Chanyeol yang mengambilnya.

Ekspresi Chanyeol serius sekali ketika membandingkan apa yang ditunjukkan pada tablet L dengan peta lusuh EXO. Ia mendesah dengan berat hati, memberikan tablet itu kembali pada L. “Istirahat kita terpaksa harus dipotong sampai di sini. Kita sudah tiba di landmark berikutnya,” katanya.

“Apa? Bagaimana mungkin?” pekik Sungjae tak percaya.

Chanyeol mengangkat bahu. “Kelihatannya padang pasir ini bukan hanya bisa menyembunyikan satu kota, namun juga bisa memindahkan kita ke posisi yang tak terduga,” jawabnya.

Seperti menyetujui ucapan Chanyeol, terdengar bunyi retakan di tanah berpasir yang mengagetkan semua anggota tim. Satu persatu melompat turun dari jeep mendekati sumber bunyi retakan itu dan melihat sebuah tangga batu mengarah ke bawah tanah membuka di dekat jeep mereka. Pasir-pasir halus memenuhi undakan batu. Semua anggota saling berpandangan hingga pandangan mereka bertumpu pada Chanyeol.

“Yah, kita tidak punya pilihan lain selain jalan terus,” kata Chanyeol santai sambil menyeringai.

Anggota lain menggangguk.

Bomi menghela napas, menatap tangga batu yang mengarah pada suatu tempat yang gelap gulita. Ia merasa tidak nyaman harus menghadapi sesuatu yang tidak ia ketahui dalam waktu sekejap. Chanyeol kelihatannya menyadari ketidaknyamanan Bomi karena ia kembali menggengam tangan Bomi dan tersenyum menenangkan. Gestur itu mengingatkan Bomi alasan mengapa ia ikut mencari El Dorado.

Oppa.

Tidak, ia pasti bisa menemukan oppa.

Dan nyanyian bahasa kuno itu masih terus terdengar.

.

.

.

-bersambung-

© 2016 qL^^

.

.

.

an a little bit lame don’t you think? but still, review please?

Advertisements

13 thoughts on “El Dorado – 4

  1. For all readers, comment moderation for this blog has been switched off, so your comments won’t need to wait for moderation anymore, even if you are new. So please and pretty please, leave your review behind, okay?

    Like

  2. Wuaaaa akhirnya bisa kebuka jugaaa. Pantesan ga mau terxata gara gara aku buka di operamini. Pas nyoba di charome eh bisa akhirnya wkwkwkwkwkw gaptek ih 😂

    Setelah sekian lama ff kesukaan pun nongol juga. Dan terxata yg mulai memperlihatkan tanda2x bukan cuma Chanyeol, tapi Bomi juga. Waaahh kekuatan apa ya punya Bomi itu? Pas penglihatan pertama meleset. Dikirain kejadian beneran ternyata enggak. Tapi apa kekuatanx dia emang bisa ngeliat masa depan? Hmmmm kepo deh hehe… penasaran juga apa yg lainnya juga bakal menunjukkan tandanya, btw musuhnya serem… mengingatkanku sama monster pasirnya Hydra.. duh lupa namanya 😅

    Making Seru pokoknya! Next next nextttt ^^

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s