[Special] Movie Review : Glory Day

suho_1457658035_suho

PROFIL FILM

  • Judul : One Way Trip (English title) / Glory Day (Korean English title)
  • Revised romanizationGeulroridei
  • Hangul: 글로리데이
  • Sutradara : Choi Jeong-Yeol
  • Penulis skenario : Choi Jeong-Yeol
  • Produser : Ahn Byung-Rae, Lim Soon-Rae
  • Sinematografer : Lee Hyung-Bin
  • Premiere Dunia : 3 Oktober 2015 (Busan IFF)
  • Tanggal Rilis : 24 March 2016
  • Durasi : 93 min.
  • Genre: Drama / Friends
  • Bahasa : Korea
  • Asal Negara : Korea Selatan

SINOPSIS

Yong-Bi (Ji Soo), Sang-Woo (Suho), Ji-Gong (Ryoo Joon-Yeol) dan Doo-Man (Kim Hee-Chan) adalah empat sahabat yang baru berusia 20 tahun. Mereka merencanakan perjalanan ke Pohang selama dua hari satu malam untuk Sang-Woo yang akan segera masuk wajib militer. Malam itu, mereka minum-minum di pantai dan melihat pemandangan laut. Saat itu, ke-empat sahabat itu menyaksikan seorang wanita dipukuli oleh seorang pria. Mereka pun berusaha menyelamatkannya.

Credit profil dan sinopsis film dari  http://asianwiki.com/One_Way_Trip

KOMENTAR

Tarik nafas dulu sebelum menulis. Yap, aku baru saja menonton Glory Day atau One Way Trip tidak sampai satu jam yang lalu dan aku tidak tahan untuk menuangkan pikiranku tentang film yang mengaduk-aduk perasaan ini. Ini film Korea kedua yang berhasil membuatku banjir setelah Miracle in Cell No. 7. Film ini sendiri sudah lama aku tunggu-tunggu sejak kabar produksinya dimulai dan aku merekomendasikan kalian untuk menontonnya.

Pertama-tama, aku menyukai semua pemeran dalam film ini, dimulai dari Ji-Soo, cinta bertepuk sebelah tangan di Sassy Go Go; Suho, leader EXO kita tercinta; Ryoo Joon-Yeol, si Jungpal Reply 1988; dan Kim Hee-Chan, si adik menyebalkan Producer. Lalu aku dikejutkan oleh penampilan Kim Dong-Wan, salah satu personil Shinhwa yang sudah lama debut jadi aktor sebagai kakak Ji-Soo. Man, I don’t know why but I really love him as Ji-Soo’s hyung. Sebenarnya aku sedikit khawatir dengan akting Suho mengingat ini proyek film pertamanya, namun syukurlah akting Suho cukup bagus meskipun agak sulit menilainya karena ia tidak mendapatkan terlalu banyak dialog. Tapi setidaknya, casting yang solid, check!

Secara sinematografi sejak awal film ini sudah dibangun dengan suasana kelam dan suspense, namun adanya flashback dalam suasana yang lebih ceria menyebabkan tensinya tidak terlalu menegangkan di setengah awal. Aku sendiri menyadari bahwa memasuki setengah akhir film, aku sama sekali tidak tersenyum lagi saat menonton.

f0ogsg
Poster promosi versi kedua dengan judul Glory Day

Secara personal, aku lebih setuju kalau film ini disebut sebagai One Way Trip dibandingkan Glory Day, karena aku tidak bisa menemukan ‘glory’ yang dimaksud di dalam film ini, sedangkan One Way Trip sangat mengena karena perjalanan ke-empat sahabat ini merubah persahabatan mereka dan sama sekali tidak memiliki jalan untuk kembali seperti semula —a literal one way trip. Akan tetapi karena dalam promonya dan kredit film mereka menggunakan ‘Glory Day’, maka dalam review ini aku akan menggunakan Glory Day.

Glory Day adalah kisah persahabatan klasik seperti yang sudah tertulis pada sinopsis di atas. Keempat sahabat ini memiliki sifat yang berbeda dengan latar belakang yang berbeda pula. Yong-Bi yang temperamental namun emosional, Ji-Gong yang usil dan pemberontak, Sang-Woo yang tenang, dan Doo-Man yang polos. Film ini tidak menyajikan latar belakang mereka dalam satu potongan flashback utuh, namun poin demi poin, hingga akhirnya kita mengerti mengapa Yong-Bi sangat emosional melihat wanita dipukuli, mengapa Sang-Woo memutuskan masuk wamil lebih dulu, mengapa Ji-Gong selalu diawasi ibunya dan mengapa Doo-Man tidak menyukai bisbol. Dalam film tidak diceritakan bagaimana awal persahabatan mereka, namun aku bisa melihat kedekatan mereka yang ditunjukkan oleh interaksi mereka satu sama lain.

Sayang sekali, tanpa diduga-duga niat baik mereka justru menyebabkan kesulitan bagi mereka. Kejadian naas itu terjadi berturut-turut : mereka terkena tuduhan penganiyaan, lalu Sangwoo menjadi korban tabrak lari yang menyebabkannya koma.

fullsizephoto645805

Masalah semakin rumit ketika satu-satunya saksi mata, yaitu wanita yang mereka tolong malah berbalik menyalahkan mereka atas kematian suaminya. Belum lagi sang wanita ternyata cukup terkenal di Pohang sebagai pembawa berita dan ingin kasus itu ditangani secepat mungkin tanpa menimbulkan tanda tanya. Kasus itu berubah dari hanya sekedar kasus kekerasan dan penganiayaan menjadi kasus pembunuhan. Mereka diinterogasi layaknya kriminal dan saat itu aku benar-benar bisa melihat bahwa ke-empatnya benar-benar hanya anak polos dan naif yang sedang berusaha mengejar impian mereka. Perjalanan ini hanya sebagai break sesaat, namun justru mengubah segalanya.

Aku sungguh menyukai bagaimana sutradara film ini mengangkat ironi realita sebagai bagian dari film, seperti ketika Kepala Polisi menyatakan bahwa mereka sibuk sekali, lalu kemudian kamera menyorot komputernya yang sedang bermain game judi atau kondisi kontras antara Petugas Choi yang sedang menelfon kantor polisi cabang untuk mencari bukti CCTV atau black box sedangkan teman sejawatnya justru sibuk memesankan makanan untuk Kepala Polisi. Belum lagi ironi ketika orang tua mereka memaksa mereka menumpahkan kesalahan hanya pada satu orang saja demi menyelamatkan masa depan mereka. Lalu hanya Petugas Choi yang percaya pada anak-anak itu dan mengingkan penyidikan yang lebih serius, namun justru dibantah oleh seniornya karena masih banyak tugas lain yang lebih penting. Bukankah kenyataan selalu seperti itu, bahwa yang berkepentingan selalu memiliki tangan di atas dibandingkan yang tidak memiliki kuasa apa pun?

[SPOILER ENDING – STOP HERE IF YOU DON’T WANT TO BE SPOILED]

glory-day-korean-movie-teaser

Setelah sebelumnya kecewa dengan akhir film Pure Love atau Unforgettable, akhir film Glory Day menurutku sangat memuaskan, meskipun aku tidak bisa menahan diri untuk menangis. It’s so unfair that it hurts. Film ini ditutup dengan persidangan dimana mereka bertiga secara sepihak menyatakan bahwa pelaku utama yang menyebabkan kematian korban adalah Sang-Woo yang saat itu masih koma. Kemudian adegan dipotong oleh isi surat Sang-Woo untuk neneknya. Ya ampuun, isi suratnya tulus sekali yang membuatku benar-benar berpikir Sang-Woo cuma anak baik yang tidak ingin menyusahkan neneknya. Lalu adegan berganti menjadi pemakaman yang hanya dihadiri oleh Yong-Gi, tanpa teman-temannya yang lain.

Sungguh tidak adil!

Sejak awal aku sudah curiga mereka akan menimpakan kesalahan pada salah satu di antara mereka dan aku sudah menduga itu Sang-Woo mengingat kondisinya yang masih koma dan satu-satunya dengan wali yang tidak terlalu mengerti hukum. Namun ketika tahu bahwa dia mati di akhir film, aku sungguh merasa sedih. Menyadari bahwa Sang-Woo si anak baik harus mati dalam keadaan sebagai terdakwa kasus pembunuhan benar-benar miris. Aku tidak bisa membayangkan duka yang harus ditanggung si nenek selain karena ditinggalkan Sang-Woo, namun juga harus mendengar kabar bahwa cucunya yang baik adalah kriminal. Lalu dimana Ji-Gong dan Doo-Man yang tidak hadir di pemakaman Sang-Woo? Apakah mereka ditahan orang tua masing-masing? Atau mereka terlalu takut dan terlalu merasa bersalah untuk saling bertemu kembali karena mengingatkan pada ‘catatan kelam’ mereka?

I really want to give standing applause for the director for choosing this real ending!

Pada akhirnya, Glory Day menjadi pelajaran untuk kita semua bahwa persahabatan yang kuat pun tak luput dari hal-hal yang bisa menceraiberaikannya. Ketiga anak muda ini tidak akan lagi memandang dunia sama seperti sebelumnya. Rest in peace, Sang-Woo!

exo-suho_1458066695_af_org
Sang-Woo si anak baik sedang memperbaiki gerobak Nenek

.

.

.

Gambar diambil dari Google.

Advertisements

3 thoughts on “[Special] Movie Review : Glory Day

  1. Aku juga barusan nonton film ini… Dan yah.. awalnya terlalu excited banget sama film Pure Love karena ceritanya romance gitu.. tapi ternyata biasa saja, seperti film romance biasa.. malah lebih suka alur ceritanya glory days ini.. lebih ngena..
    nice review kak..

    Like

    1. Iya, aku masih kecewa sama Pure Love. Dua2nya sbnrnya cerita klasik sih, cuma ya itu twist di akhir Glory Day emang ngena banget.
      Makasih udah baca yaa 🙂

      Like

  2. Aku malah agak kecewa sama film ini soalny ngegantung endingny.. dan sangwoo mati.. bias gue meninggal, gaklah cuman akting tp ttp aj sedih ud muncul dikit meninggal pula..

    tapi akting suho disini mnurutku bagus mskipun ini film pertama doi..

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s