Let Out The Beast [7]

a fan fiction by qL^^

and

gorgeous poster by  HRa@HighSchoolGraphics

.

Casts : Do Kyungsoo, Kim Yoojung, Kim Jongin

Genre : Psychology, Mystery, Romance

Rating : PG 13- Teen

Length : Multi-chapter

.

Disclaimer : This is work of fan fiction. All mentioned artists belonged to agencies. No profit is intended.

Previously on Let Out The Beast : [6]

beast2

Let Out The Beast

Chapter VII

Exodus

Past your arms that trapped me, into that path

Toward that light, I’ll escape from you

(Exodus – EXO K)

“Kau menjadi pendiam belakangan ini, Yoojung-ie.”

Kim Jongin berkata pada Kim Yoojung yang duduk dengan sebuah buku tebal di pangkuannya ditemani secangkir coklat hangat buatan Kim Ryeowook.

Tiga hari sudah berlalu sejak penculikan Yoojung dan Soojung secara bersamaan. Kedua dokter muda itu diberikan cuti selama sebulan untuk pemulihan. Jongin bersyukur setidaknya Yoojung tidak terluka secara fisik saat ditemukan dan ia sangat berterima kasih pada Sehun mengenai hal itu. Ryeowook hyung menjadi berkali-kali lipat lebih protektif pada Yoojung. Ia tidak membiarkan Yoojung keluar rumah tanpa ditemani dirinya atau Jongin. Untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan belakangan ini, Yoojung tinggal di rumah bersama Ryeowook. Jongin datang sesekali, ketika ia tidak bertugas atau tidak ada investigasi kasus Do Kyungsoo.

Bicara soal kasus Do Kyungsoo, Ryeowook hyung sama sekali tidak percaya bahwa Kyungsoo mampu melakukan hal-hal sekejam nyaris menenggelamkan Jung Soojung. Ia percaya ketika Sehun menemukan Yoojung bersama Kyungsoo itu berarti Kyungsoo berjasa menyelamatkan Yoojung. Jongin sudah lelah berdebat dengan Ryeowook, jadi ia biarkan saja hyungnya dengan pendapatnya sendiri.

Selama tinggal di rumah, Yoojung tidak melakukan apa pun selain membaca. Ia bahkan tidak bicara kecuali Ryeowook mengajaknya bicara. Ia hanya diam saja dan itu membuat Jongin khawatir. Seperti saat ini, Jongin sudah mengatakan sesuatu, tapi Yoojung tidak merespon ucapannya dan hanya menatap dari atas buku tebalnya.

“Kau menjadi pendiam belakangan ini, Yoojung-ie,” Jongin mengulangi.

Oppa juga akan pendiam kalau jadi aku,” akhirnya Yoojung menjawab, meski nada bicaranya terdengar menghakimi Jongin.

Jongin mendekat dan berjongkok di hadapan Yoojung. Ia meraih tangan Yoojung dan menggenggamnya, tapi mau tak mau menyadari bahwa tunangannya itu berjengit saat merasakan sentuhannya seolah-olah sentuhan Jongin melukai kulit Yoojung.

Oppa minta maaf tidak tiba di sana lebih dulu,” Jongin berkata.

Yoojung menarik tangan dalam genggaman Jongin. “Oppa sudah minta maaf sekian ratus kali. Aku mengerti. Jung Soojung dalam kondisi yang lebih gawat untuk diselamatkan,” tukasnya dingin.

Ia marah, batin Jongin.

Jongin tahu itu tapi ia tidak ingin keadaan ini berlarut-larut.

“Ceritakan padaku, apa yang terjadi ketika ia menculikmu, Yoojung-ie?” tanya Jongin hati-hati agar tak terkesan menuduh. Sesuatu pasti terjadi sehingga mengubah Yoojung menjadi seseorang yang sulit dijangkau Jongin. Seseorang yang sama sekali berbeda.

Hening sesaat, kemudian Yoojung menjawab, “tidak ada.”

Meski kebohongan itu sangat kentara, Jongin tidak ingin memaksa Yoojung bicara. Ia tidak ingin merusak hubungan mereka lebih jauh lagi. Jadi Jongin hanya mengulurkan tangan dan mengusap kepala Yoojung. Gadis itu masih berjengit dan Jongin menatapnya lekat-lekat. Saat itulah ia sadar entah sejak kapan Yoojung tidak lagi memakai kalung dengan cincin pertunangan mereka sebagai bandulnya.

“Dimana kalungmu, Yoojung-ie?” Jongin bertanya heran.

Tangan Yoojung langsung terangkat dan menutupi lehernya seolah berusaha menyembunyikan benda yang tidak lagi melingkar di sana. Yoojung berdiri dengan cepat sampai bukunya jatuh dengan bunyi duk pelan di lantai dan menjauh dari Jongin.

“Yoojung…”

Ekspresi Yoojung panik dan ia terlihat sangat bingung saat memutuskan bagaimana harus menjawab Jongin.

“Ka-kalung i-itu…”

Jongin mendekati Yoojung hati-hati berusaha menenangkan gadis itu. Mungkin kalung itu terjatuh saat atau sesudah penculikan terjadi. Tidak ada gunanya mengkhawatirkan kalung di saat nyawa Yoojung jauh lebih penting daripada itu.

“Tidak apa-apa,” Jongin memberitahu. “Hilangnya kalung itu cuma kecelakaan kecil, Yoojung-ie. Kita akan membeli cincin yang baru nanti.”

Yoojung menggeleng dan mengigit bibir bawahnya dengan kalut. Jongin melihat sorot horor dalam mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca. Gadisnya terlihat kacau. Yoojung gadis yang kuat dan ini pertama kalinya Jongin menyaksikan gadis itu begitu menderita.

Jongin ingin memeluk Yoojung tapi gadis itu menjauh darinya.

“Kumohon, Yoojung-ie. Jangan begini,” ujarnya putus asa. “Kau harus membiarkan oppa membantumu.”

Tangan Jongin terulur, siap menyambut Yoojung kapan saja gadis itu memutuskan untuk membiarkan Jongin menenangkannya. Tapi gadis itu hanya menatap tangan Jongin dengan ragu. Air matanya sudah tumpah.

“Ia menciumku,” bisik Yoojung pelan. Suaranya bergetar. Ada rasa bersalah yang sangat kental dalam cara kalimat itu diucapkan. “Do Kyungsoo…. ia menciumku,” ulangnya lagi.

Kalimat itu menyentak Jongin dengan kuat. Do Kyungsoo sudah menyentuh tunangannya dan membuat gadisnya ketakutan setengah mati. Sialan kau, Do Kyungsoo! umpatnya penuh kemarahan. Pantas saja Yoojung berjengit setiap kali Jongin menyentuhnya. Tangis Yoojung seolah menambah pilu dalam hati Jongin dan tangannya terkepal. Amarah memenuhi setiap jengkal isi kepala Jongin.  Ia akan membuat perhitungan dengan Do Kyungsoo untuk hal ini.

“Yoojung, tidak apa-apa,” bujuk Jongin, tangannya masih terulur dan ia masih berusaha mendekati Yoojung tapi gadis itu malah semakin menjauh. “Ia memaksamu! Kau tidak bersalah—“

“—Tidak!” potong Yoojung takut. “Oppa tidak mengerti! Ia menciumku dan aku tidak melakukan apa pun saat ia menciumku…”

Jongin terpaku.

“Aku tidak bisa menolaknya….” isak Yoojung, memeluk dirinya sendiri seolah berusaha melindungi diri. “Melihat oppa bersama Jung Soojung, aku…”

Kini Jongin mengerti. Do Kyungsoo telah memanipulasi semua kejadian ini. Menanamkan keraguan tentang dirinya dan Soojung pada Yoojung, lalu menjadi pahlawan dan memenangkan gadis itu untuk dirinya sendiri. Kalau Jongin egois, ia ingin sekali mencium Yoojung lagi saat ini. Membiarkan ciumannya menghapus semua jejak Do Kyungsoo dari gadis itu. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Tidak di saat Yoojung bahkan tidak mau menyentuhnya.

Jongin menghela napas.

“Istirahatlah, Yoojung-ie,” akhirnya ia berkata. “Dan jangan pikirkan lagi tentang ciuman itu sedetik pun. Kau ingat kan, biar bagaimanapun, aku adalah tunanganmu,” tambahnya.

Yoojung tidak menjawab. Ia masih menangis tanpa suara dan sama sekali tidak menatap wajah Jongin. Akhirnya Jongin bangkit berdiri dan meninggalkan gadis itu. Ia segera memacu jeepnya dengan kecepatan penuh. Ia tidak bisa menunggu lagi untuk bertemu Do Kyungsoo sesegera mungkin.

Ini bukan kali pertama Do Kyungsoo berada di ruang interogasi. Ia tahu ia diamati dari kaca satu arah yang tertempel di dinding tapi ia tidak peduli. Para detektif dan polisi itu boleh saja duduk di balik kaca itu seharian, namun mereka tidak akan mendapatkan apa pun darinya. Do Kyungsoo akan tetap seperti itu : tenang dengan seringai tipis di wajahnya. Lagipula ia tidak akan lama berada di dalam sini. Semua persiapan sudah selesai dan ia akan kembali menikmati udara segar.

Sejak Kyungsoo ditahan, belum ada satu pun anggota keluarga Do yang menginjakkan kaki untuk menjenguknya di kantor polisi. Ayahnya hanya mengirimkan pengacara keluarga mereka satu kali, namun pengacara itu tidak pernah datang lagi setelah mengetahui seberapa besar kasus yang dituduhkan pada Kyungsoo. Ibunya jelas tidak bisa berbuat apa-apa. Kakak laki-lakinya? Ah, mungkin sedang bersulang bersama kakak iparnya untuk merayakan kepemilikan tunggal mereka atas Perusahaan Konstruksi Do.

Bukannya Kyungsoo berharap akan ada salah satu anggota keluarganya yang datang. Ia sudah lama sekali menyerah pada konsep keluarga. Namun ia sungguh berharap akan ada satu orang yang peduli padanya.

Kim Yoojung.

Gadis yang ia janjikan akan segera ia temui kembali.

Pintu ruang interogasi terbuka dengan bunyi menjeblak yang keras. Kim Jongin melangkah masuk dengan wajah dipenuhi amarah. Pria itu nyaris saja menyerang Kyungsoo kalau saja refleks Kyungsoo tidak begitu bagus. Kyungsoo berkelit meskipun dalam keadaan diborgol dan luput dari pukulan membabi buta Jongin. Beberapa petugas polisi ikut masuk ke dalam ruang interogasi untuk menahan Jongin agar tidak memukuli Kyungsoo lagi.

“Tenanglah, Kim!” bentak pria yang dikenali Kyungsoo sebagai atasan Jongin, Kepala Detektif Choi.

Jongin berhenti memberontak dalam pegangan para polisi itu, tapi ia masih menatap Kyungsoo dengan penuh amarah dan Kyungsoo menganggap tatapan itu lucu sekali. Bagaimana tidak? Ia terborgol dan duduk di kursi tanpa perlindungan tapi polisi sok hebat itu sama sekali tidak bisa menyakitinya. Satu pukulan saja bahkan tidak kena.

“Saya harus bicara dengan Do Kyungsoo,” tunjuk Jongin pada Kyungsoo.

Alis Kyungsoo terangkat. “Saya tidak akan bicara tanpa ditemani pengacara saya,” sahutnya dingin.

Lagi, Jongin melangkah maju dan menggebrak meja. “Kau tidak berhak menolak!” ujarnya dengan nada rendah dan berbahaya.

Detektif Choi menatap Jongin dan Kyungsoo bergantian, kemudian mengedikkan kepala agar Jongin dilepaskan dari pegangan para polisi lain. “Off record,” ia berkata pada Jongin dengan tegas. “Dan jangan lakukan apa pun pada Do Kyungsoo. Aku tidak mau membereskan berkas rumit hanya demi kepuasanmu memukulnya, Kim!”

Pintu ruang interogasi terbanting menutup di belakang mereka. Suasana di dalam ruangan tegang sekali meskipun Kyungsoo hanya menyeringai tipis.

“Kau menciumnya!” desis Jongin penuh amarah.

Kalimat pertama Jongin mau tak mau membuat Kyungsoo tersenyum mengejek. Jadi, itukah penyebab kemarahan Jongin? Ia melihat sisi lain Kim Jongin hari ini : ia bisa menjadi buas jika teritorialnya diganggu.

“Yoojung tidak menolaknya,” respon Kyungsoo santai.

Jongin menggebrak meja lagi. Kali ini lebih kuat sampai meja itu maju beberapa senti nyaris menghantam tubuh Kyungsoo. “Jangan berani-berani menyebut namanya, Keparat!”

Ah, Kyungsoo sangat menyukai ini. Semakin Kim Jongin dikuasai amarah, semakin mudah ia untuk diprovokasi. Kemenangan kecil untuknya.

“Jadi, aku tidak boleh mencium tunanganmu sedangkan kau boleh dipeluk dengan sukarela oleh wanita lain?” tanya Kyungsoo retoris. Ia semakin senang melihat wajah Jongin merah padam. “Kau bahkan lebih memilih menyelamatkan wanita lain daripada tunanganmu sendiri.”

Skat mat.

Jongin menghempaskan tinjunya ke arah wajah Kyungsoo, namun lagi-lagi Kyungsoo berkelit dengan kelincahan luar biasa menyebabkan tinju Jongin hanya mengenai udara, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai akibat ulahnya sendiri. Tapi Jongin berdiri dengan cepat dan mencengkram kerah Kyungsoo.

“Kau!” bentaknya. “Kau yang membuatku harus memilih di antara mereka. Kau pikir aku akan tertipu, huh?!”

Kyungsoo tertawa sinis. “Aku memberimu pilihan, Tuan Detektif. Kau sendiri yang memilih untuk menyelamatkan siapa. Kau bisa saja mengabaikan perintah atasanmu demi Yoojung,” ia menyahut. “Tapi tebak apa? Kau tidak melakukannya,” tambahnya penuh kemenangan. “Lalu sekarang kau menyalahkanku karena Yoojung lebih memilihku?”

Ketika Kyungsoo mengatakan kalimat yang terakhir, ia sudah tahu bahwa ia telah melewati batas. Ia bisa melihat kebencian memenuhi kilatan mata Jongin dan amarah telah mengaburkan pikiran jernih lelaki itu. Kyungsoo sama sekali tidak terkejut ketika Jongin kali ini memukulknya telak di wajah, membuatnya tersungkur jatuh ke lantai. Jongin terus menerus memukulinya di lantai sedangkan Kyungsoo menerima saja pukulan-pukulan itu. Namun diam-diam ia berhitung dalam hati.

Tiga…

Dua…

Satu…

Dan pintu ruang interogasi menjeblak terbuka.

Namun kali ini alih-alih Detektif Choi, yang muncul di balik pintu adalah sekelompok lelaki berpakaian hitam dengan topi dan wajah yang ditutupi masker hitam. Senyum kemenangan Kyungsoo semakin terlihat jelas tatkala melihat keterkejutan di wajah Jongin. Para lelaki itu menyeret Jongin menjauh dari Kyungsoo, kemudian tanpa aba-aba memukuli Jongin tanpa ampun. Tentu saja Jongin melawan dengan kemampuan bela dirinya sebagai detektif, tapi satu lawan lima tetaplah bukan lawan yang sebanding.

Hanya ada satu lelaki yang mendekati Kyungsoo yang masih terbaring di lantai. Lelaki itu mengulurkan tangan untuk membantu Kyungsoo berdiri.

“Anda baik-baik saja, Tuan Do?”

Kyungsoo menyambut uluran tangan itu dan berdiri, sedikit mengernyit merasakan luka-luka hasil pukulan Jongin. “Kurasa aku hanya butuh sedikit perawatan dari Dr. Kim, Taeyong.”

Ia bisa melihat Taeyong tersenyum di balik maskernya. “Apa pun yang Anda perintahkan, Tuan.”

Kemudian ia menoleh pada Jongin yang kini terpuruk di dekat dinding dan terlihat tak berdaya. Darah segar mengalir dari luka dekat pelipisnya dan beberapa bagian wajahnya mulai terlihat memerah dan bengkak. Kyungsoo hanya tersenyum sinis saat Jongin menatapnya dengan penuh amarah, namun tidak bisa melakukan apa-apa untuk membalas dirinya.

“Mobil Anda sudah menunggu di luar, Tuan Do,” Taeyong memberitahu.

Kyungsoo mengangguk, kemudian berbalik tanpa menoleh pada Jongin lagi.

Sepanjang perjalanan dari ruang interogasi menuju lobi bagian depan kepolisian, Kyungsoo hanya bisa tersenyum puas melihat hasil kerja bawahannya. Beberapa petugas polisi terkapar tak sadarkan diri di lantai. Beberapa merintih-rintih namun terlalu lemah untuk menghentikan mereka. Ia menatap CCTV dengan sengaja, kemudian menyeringai.

“Pada akhirnya, mereka paham untuk tidak mencari masalah dengan El Dorado,” ia berbisik pada dirinya sendiri.

Lalu dengan langkah tenang, Do Kyungsoo menaiki mobil yang telah disiapkan dan menghilang begitu saja dalam keramaian kota.

“Yoojung-ie?”

Kim Yoojung menoleh saat mendengar namanya dipanggil dan menemukan Kim Ryeowook berdiri di luar pintu kantor manajemen restoran mereka. Ekspresinya terlihat ragu sekaligus khawatir saat menatap Yoojung. Gadis itu meletakkan buku bacannya dan balas menatap Ryeowook dengan alis terangkat.

“Ada apa, Oppa?” tanyanya.

Ryeowook menelan ludah tak nyaman. Dari balik tubuh kecilnya yang menghalangi pintu, Yoojung bisa melihat keramaian restoran yang memang wajar mengingat sekarang sudah memasuki jam makan siang. Ia akan mengerti kalau-kalau Ryeowook membutuhkan bantuannya, namun kakak angkatnya tidak perlu segugup itu hanya untuk meminta tolong. Jadi, pasti ada hal lain.

“Ada yang ingin bertemu denganmu,” akhirnya Ryeowook berkata.

Jantung Yoojung berdegup keras. “Siapa?”

“Katanya ia kolegamu dari rumah sakit,” jawab Ryeowook.

Yoojung menebak-nebak dalam hati siapa koleganya di rumah sakit yang datang menemuinya di saat mereka tahu bahwa ia diberikan izin cuti ‘memulihkan diri’ selama sebulan. Ia mengikuti Ryeowook yang membawanya ke deretan kursi dan meja hampir di bagian belakang restoran. Yoojung mengerjap beberapa kali ketika melihat siapa yang duduk di sana.

“Dr. Kim?” ia memanggil dengan tak yakin.

Karena di antara semua koleganya di rumah sakit, Yoojung benar-benar tidak mengharapkan seniornya ini yang muncul di hadapannya. Tapi itu memang Dr. Kim Suho, yang berbalik dan tersenyum ramah.

“Apa kabar?” Suho menyapa ramah.

Ryeowook meninggalkan mereka berdua setelah Suho menyebutkan pesanannya. Yoojung duduk berseberangan dengan lelaki itu dalam diam, memainkan jari-jarinya dengan cemas. Ia tidak tahu harus berkata apa dan sangat bersyukur ketika Suho-lah yang memulai pembicaraan mereka.

“Kau terlihat pucat sekali, Yoojung,” Suho berkomentar.

“Saya hanya tidak enak badan, Dr. Kim,” jawab Yoojung singkat dengan formal.

Suho menghela napas. “Kau boleh meninggalkan segala formalitas, Yoojung. Aku di sini bukan sebagai seniormu di rumah sakit. Aku di sini sebagai teman,” ia berujar.

“Teman?” tanya Yoojung sarkastik, kemudian mendengus tak suka. “Kupikir Oppa justru datang sebagai terapis. Apakah pihak rumah sakit sudah memastikan diagnosa bahwa aku salah satu pengidap PTSD?”

Tatapan tak percaya Suho membuat Yoojung tak enak hati, namun ia tidak peduli. Ia lelah ditatap terus menerus sebagai korban dan diperlakukan seperti porselen rapuh. Ia trauma, ia punya ilmu psikatri yang cukup untuk mendiagnosa dirinya sendiri. Tapi ia bisa mengatasi itu. Hatinya hanya sedang bingung, tentang Do Kyungsoo dan Kim Jongin.

“Dengar baik-baik, Yoojung, pihak rumah sakit sama sekali tidak tahu menahu soal kunjunganku kemari,” Suho memberitahu Yoojung. “Alasan sebenarnya aku kemari adalah aku harus menghadapi rasa bersalahku yang telah menyebabkan semua ini terjadimu.”

Alasan yang aneh, Yoojung mengernyitkan kening.

“Maksud Oppa?”

“Harusnya sejak awal aku mencegahmu berhubungan dengan Do Kyungsoo,” Suho menjawab dengan nada menyesal.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Yoojung. Secara instingtif, ia mencengkram tepi meja demi mendapatkan pegangan setelah mendengarkan pengakuan Suho. Yoojung merinding, teringat pada pertemuan pertamanya dengan Do Kyungsoo dan kecurigaannya pada lelaki itu. Ucapan Suho membuktikan bahwa nalurinya selama ini benar. Tapi….

Oppa… Bagaimana mungkin oppa…”

Kekecewaan terdengar kental dalam suaranya. Yoojung merasa dikhianati. Hampir-hampir seperti ketika ia menyaksikan Jongin memeluk Soojung setelah menyelamatkan gadis itu dari upaya permbunuhan.

“Kyungsoo tidak pernah bersikap seperti ini dengan gadis mana pun,” Suho menjelaskan. Ia menggelengkan kepalanya dengan berat. “Kupikir ia hanya tertarik sesaat padamu. Tapi ternyata…”

“Ia terobsesi…” sambung Yoojung.

Tangannya membekap mulutnya untuk meredam teriakan yang sangat ingin dilakukannya ketika Suho mengangguk membenarkan ucapannya.

“Lalu semua pembunuhan itu?” tanya Yoojung. Suaranya bergetar ketika bicara.

“Semua korbannya adalah para orang tua yang menyakiti anaknya. Kau tahu bagaimana kondisi psikologis seorang pembunuh berantai, Yoojung. Mereka berulang-ulang melakukan pembunuhan dengan ciri korban yang mirip. Dalam pikiran mereka, mereka membunuh orang yang sama berulang-ulang,” sahut Suho prihatin.

“Ayah ibunya…” bisik Yoojung ketika pemahaman itu menghampirinya begitu saja.

Suho mengangguk lagi. “Lihat, kan, Kyungsoo bahkan memberitahumu mengenai keluarganya. Ia bahkan butuh waktu lebih dari setengah tahun untuk membuka diri padaku sebagai terapisnya meskipun kami sudah mengenal sejak lama. Memang belum ada bukti yang menyatakan Kyungsoo sebagai pembunuhnya, namun kondisi psikologisnya memberatkan tuduhan itu padanya.”

“Demi Tuhan…”

Seluruh tubuh Yoojung terasa lemas.

“Dan Dr. Jung,” Suho melanjutkan, namun Yoojung sudah memotong ucapannya.

“Kyungsoo akan melenyapkan siapa saja yang ia anggap menyakitiku.”

“Tepat sekali,” Suho membenarkan. Ekspresi wajah Suho mendadak terlihat sangat lelah. Ia mengusap wajah, kemudian memijat keningnya seolah semua masalah ini membuat kepalanya mendadak berdenyut. “Itulah yang kukhawatirkan sekarang.”

Yoojung terdiam. Ia seharusnya memang tidak seterkejut ini setelah apa yang terjadi padanya ketika penculikan itu terjadi. Ia seharusnya sudah tahu ketika melhat bagaimana perlakukan Kyungsoo pada Soojung dan seluruh rencana mengenai El Dorado. Yoojung bergidik. Ciuman pada malam itu dan permintaan Kyungsoo agar Yoojung ikut bersamanya. Ia tidak mengatakan pada siapa pun mengenai hal itu dan ia setengah berpikir untuk memberitahu Suho saat ini.

“Apa kau mau menemuinya di kantor polisi?” tanya Suho, yang terdengar seperti bujukan.

Sejak ia berdiam diri di rumah ataupun restoran, Yoojung sudah pernah mempertimbangkan untuk menemui Kyungsoo. Namun, ia tidak bisa mempercayakan hatinya yang bingung dan ragu untuk menghadapi lelaki itu. Ia tidak yakin ia bisa menolak Kyungsoo seperti yang dilakukannya malam itu. Ia lemah. Jadi, Yoojung menggeleng untuk menjawab pertanyaan Suho.

Suho terlihat kecewa. “Aku berharap kau bisa bicara dengan Kyungsoo.”

“Aku tidak akan dekat-dekat dengannya, Oppa,” tolak Yoojung tegas. “Lagipula ia tidak akan mendengarkanku.”

Jawaban Yoojung membuat Suho menghela napas. Ia mengusap wajahnya sekali lagi, lalu menatap Yoojung prihatin. “Aku tahu ini semua berat untukmu, Yoojung-ie, tapi kau juga tahu cepat atau lambat Kyungsoo akan menemukan cara untuk bertemu denganmu,” ia berkata.

Tangan Yoojung bergetar dan ia menyembunyikannya di bawah meja. “Polisi akan menghentikannya….”

Ucapan Yoojung terpotong saat ia terdistraksi dengan breaking news yang baru saja muncul di layar televisi yang digantung di dekat kursi ia dan Suho duduk. Pikirannya serasa kosong saat membaca deretan kalimat yang tertera di layar bersamaan dengan foto seseorang yang amat dikenalnya. Suho ikut berbalik ke arah televisi dan Yoojung bisa mendengar tarikan nafas kaget lelaki itu.

Suara reporter itu seolah terdengar datang dari jauh, memenuhi rungu Yoojung dengan kenyataan pahit. “…..D dinyatakan melarikan diri dari tahanan kantor kepolisian Gangnam. Hingga saat ini D belum bisa dilacak. Masyarakat diharapkan menghubungi hotline di bawah ini apabila melihat….”

Yoojung tahu ia memiliki ekspresi horor yang sama seperti yang ditunjukkan Suho dan Ryeowook yang mendadak telah tiba di dekat meja mereka. Telepon tanpa kabel ada dalam genggamannya dan kakak angkatnya menyerahkan telepon itu perlahan-lahan. Tangan Yoojung masih bergetar ketika ia meraih telepon itu.

“Halo?”

“Merindukanku, Yoojung-ie?”

Ia nyaris bisa membayangkan dengan jelas seringai Do Kyungsoo di seberang sana.

Ia tidak akan menyerah begitu saja…….

-bersambung-

©2016 qL^^

.

.

.

.

a.n i’m sorry for delaying this part. Please do not ask me when will I publish the next chapter. Writing needs time, so please spare me some. And be kind to leave review. I make sure to reply yours. Thanks

clue next part : Call Me Baby!

Criminal Consultant inspired by Jim Morriarty from Sherlock Holmes.

.

for fairly warning, ending chapter will be password protected.

So please review guys 🙂

 

 

Advertisements

43 thoughts on “Let Out The Beast [7]

  1. Am I the first?
    Wah. Mr.Do is very cruel and possesive. Like it! Hope Yoojung will consider her heart to Mr.Do. Iam obsessed to this. Next?

    Like

  2. gilaaaaaaaa ini ceritanya makin seru qL!!!
    gatau kenapa aku bisa bayangin semua alurnya dan berasa kaya nonton film
    penjabarannya oke banget deeehhh bikin ga kerasa tau tau udah bersambung aja
    berharap banget fast update huhu
    keep writing 🙂

    Like

    1. WAAAAH tadinya kupikir chapter ini membosankan karena kebanyakan kan isi relevation, akhirnya semuanya udah saling tahu satu sama lain, termasuk Suho yang bukan karakter utama dan emang ini lebih pendek dibandingkan Chapter 6
      makasih udah baca yaa ❤ sabar menunggu lanjutannya

      Like

  3. dr awal aku dh curiga ma taeyong,,hemm tp ga sangka klo dia seorg dokter juga,,jng jng pengeksekusi semua korban itu memang taeyong.. wawwwww ini kyungsoo yang gila apa taeyong,,, apa mungkin taeyong pernah d tolong kyungsoo sampe dia setia ma kyungsoo???????
    keren…..!qL JJang!

    Like

    1. Waah kamu salah paham deh reisya, yg dimaksud dr. Kim oleh Kyungsoo itu Kim Yoojung, bukan Taeyong. Dari awal aku blm pernah menyebutkan nama depan Taeyong dan perhatikan deh setelah Kim ada tanda koma (,) yg berarti Kim disitu bukan tertuju utk Taeyong. Nnti aku edit lagi yaa biar tidak rancu.
      Makasih sudah baca 🙂

      Like

  4. Akhirnya.. dilanjut juga nih ceritanya.. aku benar2 suka sama alur ceritanya.. jadi pengen cepet ke endingnya.. (lohh! wkwkwk)
    kira2 kurang berapa chapter lagi nih kak? ditungguu kelanjutannya 😀

    Like

  5. Ini dia yang di tunggu tunggu
    Yaa.. though i was late reading for nine days.
    Aaaaakk Kyungsoo parah gilaaa.
    Obsesinya, usahanya, dan segala galanya yang dia lakuin ke yoojung, bikin aku merinding, feel nya tuh dapet banget, mencekam gimanaaa gitu wkwkwk :v
    Ini tuh bacaan yang pas untuk melepas setelah selesai UN :3
    Ditunggu next chap nya ya kak
    HWAITING!!! 💪

    Like

  6. Hayah bodohnya aku smpe kelewatan update yg ini …
    Ini slh satu ff favoritku,ahay.. Suka bgt ngebyangin dio bgini hahahhaa

    Mkin seruu kak, suer! Smga bisa cpat diupdate yahh biar readersnya gak kehilangan jejak hehehe

    Ganbatte!!!

    Like

  7. Kyungsoo tobatlah, Nak… T___T
    Aku nggak jadi punya keinginan menjadi Yoojung kkk~

    Aku suka ceritanya, Kak… jarang” aku membaca tiap detil kata” dan kalimat sebuah FF… tapi, FF ini sunggguh bikin aku bisa bayangin adegan”nya secara nyata… Feel-nya itu lho… dapet banget… ❤ ❤ ❤

    Keep writing, Kak Kiki… 🙂

    Like

  8. Langsung baca part 7 hehe
    “Merindukanku, Yoojung-ie?”
    Yaampun kalimat terakhir itu bikin melelehhh
    Aku merinding setiap baca adegan Kyungsoo
    Dia keren banget disini, licik dan cerdas
    Tapi dia orang yg lembut banget ke Yoojung dengan caranya sendiri huaa

    Like

  9. Wohooooooo
    Kondisi semakin tegang dan menegangkan

    Ah gw kira kyungsoo bakalan kabur karena gak ada bukti yg bisa nangkap dia, tauya karena kepolisian d hajar ama ank buahnya
    Ckckckck

    Dia langsung nelp yoojung lagi ya ahahaha warbyasa kyungsoo ni
    Bisa apa ya yoojung

    Jadi sebenernya pembunuhan slama ini tu kyungsoo apa bukan sih?
    Atw bener dia emang cuman jadi konsultan?
    Gw juga konsultan sih tapi bukan konsultan pembunuh juga wkwkwkw

    Like

  10. kyungsoo ku…ada apa dengan dirimu nak??? ini beneran kyungsoo sejahat ini? aku pikir dia cuma korban adu domba…huwaaaaa
    qii aku uda kirim email ya buat chap. 6…thank youu

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s