Happy Virus

He is the only one who can turn your mood upside down…

H-1 acara!

Dan aku semakin stres.

Tadinya kupikir aku tidak bisa mencapai level stres lebih tinggi lagi daripada sebelumnya, namun ternyata aku salah. Semakin mendekati hari dan waktu pelaksanaan acara, level stresku justru semakin menjadi-jadi. Semua itu karena aku bertanggung jawab sebagai koordinator acara dan sifat perfeksionis dalam diriku membuatku ingin semuanya berjalan lancar. Baiklah, sebenarnya itu berlebihan. aku seharusnya tidak perlu sekhawatir itu. Toh selama ini, tidak ada masalah berarti dalam persiapan acara. Kak Suho selaku ketua acara juga terlihat sangat puas dengan hasil kerja panitia.

Sekarang sudah pukul sepuluh malam waktu Seoul. Kebanyakan panitia sudah pulang untuk beristirahat atas perintah Kak Suho agar mereka bisa bertugas dengan maksimal esok hari. Yang tersisa hanya beberapa anggota bidang acara, konsumsi, sponsorship dan logistik serta koor bidang tersebut masing-masing ditambah Kak Suho dan Kak Amber sang sekretaris. Kami seharusnya juga sudah bisa pulang kalau saja tadi tidak ada staf sponsorship yang tiba-tiba datang membawa banner sponsor yang harus dipasang di panggung. Katanya, dia lupa memberitahu soal banner itu tadi sore saat mereka mengatur layout venue acara.

Bah! aku sungguh kesal mendengarnya.

Dan oknum tersebut, Wendy, sedang mengkeret ketakutan di sudut hall karena death glare-ku. Sekali lagi, perlu kutekankan, stres dan amarah bukanlah dua kombinasi favoritku.

“Halo! Halo! Tes satu dua dicoba!”

Tiba-tiba saja mikrofon menyala dan Kak Chanyeol sudah berdiri santai tepat di tengah panggung dengan mikrofon di tangannya. Tes suara sudah dilakukan tadi sore bersamaan dengan gladi resik, tapi Kak Chanyeol terlihat masa bodoh saja berdiri di sana seolah mereka sedang melakukan tes suara lagi. Aku mendesah dalam hati. Memberikan mikrofon pada Kak Chanyeol berarti venue hall ini akan siap untuk berisik kembali.

“Jong! Hun! Tolong itu banner dari Wendy dipasang di sudut sana ya,” seru Kak Chanyeol. Dia masih berbicara dengan menggunakan mikrofon sambil menunjuk-nunjuk sisi panggung yang dimaksud, membuat panitia yang menonton aksinya terkekeh.

Jongin dan Sehun pun sebagai staf logistik kompak langsung mengerjakan perintah dari koordinator bidang mereka itu, mungkin supaya semua segera beres.

“Hun, bannernya miring ke kiri!” Kak Chanyeol bicara lagi. Matanya kali ini terpejam sebelah, jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan dan kiri dibentuk seperti persegi supaya akurat melihat kesimetrisan banner yang dipasang Jongin dan Sehun.

“Begini?” tanya Sehun setelah menggesernya lebih ke kanan.

Kak Chanyeol masih dengan pose sebelumnya yang terlihat sangat konyol berusaha mengukur presisi, tapi kemudian bertepuk tangan dan mengacungkan jempol. “Ya, ya, begitu sudah bagus!”

Lalu saat Jongin dan Sehun selesai memasang banner, ia bicara lagi.

“Jong, hati-hati turun tangganya! Gawat kalau kehilangan satu anak buah,” teriaknya heboh dan suaranya semakin bergema heboh akibat mikrofon

Mendengar itu wajah Jongin merah padam dan semua panitia tertawa geli, termasuk Wendy yang padahal semenit yang lalu masih terdiam karena merasa bersalah dan takut padaku. Alhasil, aku mendelik lagi pada gadis malang itu, membuat Wendy buru-buru menghentikan tawanya dan menunduk.

Rupa-rupanya Kak Chanyeol memperhatikan apa yang kulakukan sehingga tiba-tiba dia bicara.

“Rania, lihat Kak Chanyeol sini.”

Suara bass Kak Chanyeol membuatku menatapnya.  Aku sungguh tak menyangka Kak Chanyeol akan memanggilku begitu di hadapan semua panitia. Dengan menggunakan mikrofon pula! Dan lafal La-ni-ya yang khas. Lihatlah Kak Chanyeol berdiri di sana dengan earphone walkie-talkie panitia inti mereka masih terpasang, kemeja pink yang membuatku geleng kepala, kaus putih yang basah oleh keringat hasil kerja keras mengatur venue, celana jins biru yang ujungnya dilipat dan sepatu kets hadiah ulang tahun yang lalu dariku. Dan dia tersenyum miring dengan jenaka.

“Jangan galak begitu ah, Ra, nanti cantiknya hilang,” dia mengatakannya dengan gaya berbisik, tapi tetap menggunakan mikrofon.

Astaga!

Rasanya aku ingin sekali menghilang dengan ber-Apparate ala Harry Potter atau menggunakan Rune Tudung Pesona ala Mortal Instruments sementara panitia yang tersisa merespon ucapan Chanyeol dengan heboh. Ada yang tertawa geli, ada yang bertepuk tangan, dan bahkan ada yang bersiul menyoraki mereka.

Kak Chanyeol ini benar-benar!

Meskipun malu, akhirnya aku ikut tertawa juga sambil menyangkal sorak-sorakan panitia yang lain. Aku sampai lupa bahwa harusnya saat ini aku mendelik lagi pada Wendy yang kini juga sedang tertawa. Tapi masa bodohlah.

Tiba-tiba aku sudah tidak merasa stres dan emosi lagi.

-fin.-

©2016 qL^^

a.n you guys should check @lokal_pcy on twitter. It is fun and inspires me to write this.

And lately  I’m on WB, so it delayed my progress.

But don’t worry!

El Dorado III and LOTB 7 will pulished ASAP. Please continue to support me

Advertisements

2 thoughts on “Happy Virus

  1. Hihi geli sendiri bayangin chanyeol bilang gitu pake microfon, aku kalo jadi rania itu antara malu sekaligus seneng. Btw itu covernya cocok banget hihi. Keep writing yaa! 💪

    Like

    1. Senyum senyum sendiri terus tapi sambil bilang apaan siih, pura-pura marah di antara yang cie cie in hahaha
      Makasih udah baca ya hellen. Salam kenal 🙂

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s