Manipulasi Emosi

Sebuah fiksi ditulis oleh qL^^

Semua nama tokoh dan tempat digunakan hanya untuk keperluan cerita.

Sebelumnya di Identitas Baru

me

Semuanya harus segera dihentikan…

Manipulasi Emosi

Akan tiba suatu masa ketika emosi tidak lebih bagaikan sebuah chip yang ditanamkan dalam tubuh manusia. Pada masa itu, para ilmuwan telah mengembangkan ilmu mengenai stimulus, neuron, interpretasi dalam otak dan respon. Pada masa itu, emosi dapat dimanipulasi dengan menghambat beberapa jalur transmisi sel saraf di sini dan di sana atau menghentikan interpretasi bagian otak tertentu terhadap rangsang. Hasil riset yang sedang dipresentasikan Lia dan Dio jelas-jelas mengarah menuju masa itu.

Dalam dunia ilmiah emosi dibagi dalam lima bagian besar : kebahagiaan, kemarahan, kebosanan, kesedihan dan ketakutan. Pekerjaan tertentu menuntut kestabilan lima emosi tersebut untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sebut saja, seperti pekerjaan Ksatria sebagai agen Republik. Bayangkan ketika dokter bisa menonaktifkan emosi ketakutan seorang agen, maka yang ada hanyalah agen pemberani dalam setiap misi Republik. Itu cukup untuk membangun sebatalion agen yang siap diluncurkan kapan saja dalam misi apa pun. Ksatria bisa menangkap logika itu dari cara Ketua memperhatikan dengan antusias presentasi hasil riset tersebut.

“Yang perlu diingat adalah emosi bersifat kompleks,” Lia menjelaskan. “Kehilangan satu emosi dapat mempengaruhi emosi-emosi yang lain dalam diri manusia.  Ketika emosi kesedihan menghilang, manusia yang kehilangan rasa simpati dan tidak didukung dengan pemikiran yang matang dapat menjadi sumber bencana bagi manusia lain.”

“Belum lagi,” Dio menambahkan, “kode etik dan hukum yang mengatur pelaksanaan metode manipulasi emosi ini belum ada.”

Ketua menatap kedua peneliti itu tajam. “Tapi sejauh ini hasilnya signifikan?”

“Subjek lumba-lumba dengan kecerdasan tinggi menunjukkan respon yang siginifikan terhadap manipulasi emosi, meski…” Lia menjawab dengan ragu.

“Ada apa?” Ketua bertanya.

Lia dan Dio saling bertukar pandang dengan ragu.

“Sifat dasarnya sebagai lumba-lumba berubah,” Ksatria tidak bisa menahan diri untuk menjawab.

Semua orang yang hadir dalam presentasi hasil riset itu menatap ke arahnya dengan penasaran. Lia dan Dio bahkan menatapnya dengan terkejut, seolah tidak percaya Ksatria bisa menyimpulkan sampai ke sana.

Lia akhirnya berdeham, kemudian mengangguk. “Ksatria benar,” ia mengakui. “Subjek penelitian kami bersikap seperti predator, layaknya hiu.”

Suasana ruangan sunyi.

“Yang tidak saya mengerti adalah mengapa ada kelompok yang ingin membunuh hanya demi hasil riset ini?” Lia bertanya.

Tidak ada yang menjawab.

Ksatria berani bertaruh orang-orang tidak menjawab bukan karena tidak tahu, namun tidak ingin. Orang-orang yang hadir dalam ruangan ini dan menyaksikan presentasi Lia dan Dio adalah para pemegang jabatan tinggi dalam Republik : Ketua, para kepala divisi dan para pemimpin dalam setiap tim agen seperti dirinya. Mereka tahu alasan terburuk di balik hasil riset yang terkesan polos itu, namun mengungkapkannya pada peneliti yang sama polosnya seperti Lia dan Dio bukanlah pilihan.

“Terima kasih kerja samanya, Dr. Aprilia Rudo,” puji Ketua. Ksatria bisa melihat Lia berjengit tak suka ketika lelaki bertubuh besar khas pimpinan agen rahasia itu menyebut nama barunya.

“Terima kasih kembali, Ketua,” balas sang dokter dengan sama sopannya.

Ketua mengangguk ke arah Ksatria, sebelum meninggalkan ruangan bersama para pertinggi lainnya. Dio sudah dikawal oleh agen lain. Lelaki yang membantu Lia di laboratorium itu harus diberikan identitas baru layaknya Lia. Sedangkan Lia sendiri akan dikawal kembali ke kamarnya oleh Ksatria.

Mereka menuju kamar Lia dalam diam. Dokter muda itu menggenggam erat-erat tabletnya dan ia tahu apa yang Lia sembunyikan.

“Hasil yang ditunjukkan oleh subjek manusia juga signfikan, bukan?”

Lia menoleh cepat, menatap Ksatria dengan horor.

“Itu sebabnya kau naik kereta pagi itu. Kau tidak bisa membayangkan manusia benar-benar mampu memanipulasi emosinya sendiri,” Ksatria berkata lagi.

Kepala Lia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka. Ia berjalan cepat dan Ksatria mengikutinya menuju kamar gadis itu.

“Kau tidak boleh memberitahu siapa pun tentang itu!” bentak Lia keras begitu pintu kamar tertutup. Ia terlihat khawatir, marah, dan gugup sekaligus membuat Ksatria mau tak mau menilai Lia tidak sepolos perkiraan awalnya. Dokter muda itu tahu lebih banyak daripada yang ia duga.

Lia berjalan mondar-mandir di dalam kamar.

“Riset ini dimaksudkan untuk membantu penyembuhan anak autis. Kau bisa bayangkan ketika emosi mereka yang meledak-ledak bisa dikendalikan? Itu artinya mereka bisa hidup nyaris normal. Hidup dengan lebih baik,” ia bercerita.

“Dan lalu kau sadar, kalau justru yang dimanipulasi itu emosi manusia normal—“

“Sedikit kesalahan, maka dunia akan kacau,” Lia mengakhiri ucapan Ksatria.

Kini Ksatria paham. “Itu sebabnya kau tidak menampilkan hasil riset terhadap subjek manusia?”

Lia menghela nafas, kemudian mengangguk. “Aku bisa melihat dari ekspresi para petinggi tempatmu bekerja tentang prospek sebatalion agen tanpa emosi ketakutan. Mereka akan jadi mesin pembunuh paling efektif.” Gadis itu bergidik ngeri.

Ksatria hanya tersenyum geli mendengar pemilihan kata Lia yang sama persis dengan pemilihan kata yang digunakannya.

“Kenapa kau memberitahuku?” tanya Ksatria.

“Kau menyelamatkanku,” Lia menjawab sesederhana itu. “Lagipula aku tidak punya banyak pilihan orang yang bisa kupercayai untuk saat ini. Aku masih tidak tahu siapa yang ingin membunuhku di stasiun kereta dan aku tidak bodoh untuk menunjukkan ketidaksukaanku pada Ketua ketika aku dan Dio masih di sini dalam perlindungan Republik.”

Lia benar-benar mengejutkan Ksatria dengan pemikirannya. Dokter muda itu tahu strategi, memahami politik kekuasaan dan kepentingan serta pintar membaca situasi.

“Lalu apa rencanamu?”

Kali ini Lia menghela nafas lagi. Ia memijat keningnya seolah merasa pusing sedangkan Ksatria menunggu jawabannya.

“Proyek manipulasi emosi ini harus dihancurkan.”

“Mereka punya salinan datanya saat memperbaiki tabletmu,” sanggah Ksatria.

“Dio bisa mengurusnya,” Lia menjawab, kembali berjalan mondar-mandir.

Ksatria berdengus. Entah mengapa ia tidak terlalu yakin dengan lelaki bernama Dio itu.

“Dan kalau mereka memaksamu untuk menunjukkan cara melakukan prosedur itu?” Ksatria memancing dengan skenario lain.

Data boleh saja dihapus atau diubah, tapi Lia adalah peneliti utama riset itu. Sebanyak apa pun yang diektahui Dio tidak akan menandingi Lia yang menyusun gagasan penelitian itu sejak awal. Ksatria tahu gadis itu bisa menghafal metode manipulasi emosi itu di luar kepala. Ia bahkan yakin Lia bisa mengulang penelitian itu dari nol bila memang terpaksa. Lia pasti mengenal prosedur manipulasi emosi itu sebaik ia mengenal fungsi tubuhnya sendiri.

Kau bisa mengurusnya,” akhirnya Lia menjawab dan ia mengedikkan kepala ke arah sisi kanan tubuh Ksatria.

Lelaki itu tidak perlu menoleh untuk tahu benda apa yang ada di sana,

Pistol.

.

.

.

-selesai-

©2016 qL^^

a.n sedikit lagiii kita sudahi yaa

Advertisements

6 thoughts on “Manipulasi Emosi

  1. LHO QI JANGAN BILANG LIA-NYA MINTA DIBUNUH HEUUU :” atuhlah aku baca fiksi kamu kayaknya endingnya emang setipe ending yang aku suka but menyakitkan :” ((kalimat apa ini hahahahaha)). btw aku suka karakternya lia di sini nggak yang gimanaaa gitu. dia kuat, cerdik, terus bisa berpikir cepat (terbukti dia bisa baca apa yg sebenernya diinginkan republik in the first place). arggggh suka suka sukaaa sampe sejuta kaliii. keep writing qiii! x))

    Like

    1. Engga kok, dia ga minta dibunuh, cuma ya kalau keadaan memaksa, mau ga mau gtuuu deh. Tuuh kan emg fika dah yang tau banget tipe2 ending tulisanku kayak apa.

      Lia itu karakter yg paling seneng aku tulis hehe, she’s amazing. Tunggu kelanjutannya yaa, sedang berusaha mengumpulkan niat dan mencuri waktu biar bisa lama2 di depan pc selain baca jurnal -___-“

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s