Identitas Baru

sebuah fiksi ditulis oleh qL^^

Semua nama tokoh dan tempat digunakan hanya untuk keperluan cerita.

Sebelumnya di Kabar Buruk

Kini hanyalah bagian dari kehidupan lama

Identitas Baru

Lia tidak pernah tahu bahwa sebuah rumah keamanan organisasi rahasia berada di antara rumah-rumah mewah berpagar tinggi di kawasan Menteng. Rumah itu tampak nyaris normal dari depan dengan warna cat dinding dan  atap yang sangat biasa. Pagar besi tinggi dengan barisan pepohonan cemara mungil di baliknya menghalangi pandangan langsung ke dalam pekarangan rumah. Jika kau memperhatikan dengan teliti, terlihat yang membedakan adalah setiap jengkal pagar diberi kamera pengawas dalam jarak tertentu.

Sejak tiba di rumah itu hanya setengah jam setelah peristiwa pengeboman di Stasiun Jakarta Kota yang nyaris menewaskan dirinya, Lia dibiarkan berada di sebuah ruangan yang sangat mirip penginapan. Sebuah tempat tidur, nakas, lemari pakaian, telepon kabel dan kamar mandi di sisi lain kamar. Aura kamar itu sangat nyaman, tapi Lia masih merasa gelisah.

Kamar yang ditempati Lia terletak di lantai dua. Lia bisa melihat melalui jendela ke arah Jalan Teuku Umar yang ramai karena sudah menjelang jam pulang kantor. Itu berarti ia sudah berada lebih dari sepuluh jam dalam kamar itu.

Pintu kamar diketuk seperti saat seseorang mengantarkan makan siang untuknya dan Lia membiarkan si pengetuk masuk.

“Menikmati pemandangan?” Lelaki itu, yang menyelamatkannya dan mengaku bernama Ksatria, bertanya.

Lia justru tak menanggapi basa-basi Ksatria. “Bagaimana?” ia balik bertanya.

“Tidak sabar sekali, Dokter,” komentar lelaki itu terkekeh geli. “Aku sudah mengirimkan email sesuai dengan instruksimu.”

Lia mengangguk puas.

Ksatria menyerahkan tablet Lia yang tadi sempat dipinjamnya. “Tim Teknologi Informasi sudah menonaktifkan sensor pelacak. Tidak ada data yang terhapus. Sekarang tablet itu aman digunakan,” ia menjelaskan.

Tidak ada perubahan yang terlihat jelas dari tablet itu. Alat elektronik itu masih terlihat sama seperti yang biasa ia gunakan. Jadi Lia hanya mengangguk, bersyukur hasil risetnya bisa diselamatkan.

Ksatria lalu meletakkan sebuah berkas di atas nakas, yang baru disadari Lia telah dipegang lelaki itu sejak tadi. Ia meraih isinya, membalik lembar demi lembar halaman berisi akta kelahiran, nomer identitas, ijazah dan berbagai surat-surat keterangan formal lain. Semuanya atas nama Dr. Aprilia Rudo.

“Untuk apa semua ini?” tanya Lia bingung.

“Identitas barumu,” jawab Ksatria singkat.

“Apa? Aku tak—”

“Dalam catatan kepolisian, Dr. Amalia Hussain tewas karena pengeboman Stasiun Jakarta Kota. Anda akan menerima identitas baru ini, kecuali Anda ingin dikenal sebagai mayat berjalan,” potong Ksatria.

Mendadak Lia merasa lututnya lemas. Kalimat lelaki itu menyentak fakta secara kasar dalam pemahamannya. Hidupnya memang sudah berakhir ketika ia memutuskan menerima bantuan lelaki itu.

“Aprilia….” Nama itu terasa asing baginya.

“Bersyukurlah setidaknya mereka membiarkanmu menggunakan nama panggilan aslimu,” Ksatria berkata lagi. Mungkin maksudnya menghibur namun bagi Lia terasa sangat ironis.

Nama panggilannya hanya satu-satunya identitas asli yang tersisa dari kehidupan lamanya.

“Apa namamu benar-benar Ksatria?” Lia bertanya, mendadak merasa penasaran dengan identitas lelaki itu.

Ksatria menggaruk dagunya. “Ya begitulah. Setidaknya itu nama yang dipilihkan untukku ketika mulai bekerja di sini,” jawabnya.

Entah mengapa ia merasa bersimpati karena jawaban lelaki itu.

“Apa yang aku lakukan di sini?” Lia bertanya. “Sepuluh jam lebih sudah berlalu, apakah kalian akan melepaskanku?”

Ksatria mengerang frustasi. “Kami butuh waktu untuk membuatkanmu identitas baru dan memastikan tidak ada yang tahu tentang modus operasi penyelamatanmu,” ia menjelaskan. “Lagipula, Kepala Organisasi ingin bertemu denganmu untuk membicarakan hasil riset yang fenomenal itu.”

Lia memijat kening. Sejujurnya ia sudah muak membahas hasil riset yang mengorbankan banyak hal, termasuk hidupnya. Tapi ia tahu ia tidak bisa egois. Kalau tebakannya benar, separuh populasi manusia akan bergantung pada hasil riset itu.

Mendadak, earpiece di telinga Ksatria berbunyi bip halus. Ia melirik Lia sebentar sebelum bergumam membalas apa pun yang diberitahukan melalui alat itu.

“Tamumu sudah tiba,” Ksatria memberitahu.

Senyum Lia mengembang dan ia dibawa untuk menemui sang tamu yang duduk gelisah dalam ruangan serba hitam.

“Dio!” panggil Lia.

Rasa lega, haru dan bahagia campur aduk menjadi satu.

“Astaga, Li! Kupikir—kupikir…”

Dan Dio melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan Lia akan dilakukan lelaki itu padanya. Ia memeluk Lia erat-erat dengan penuh kelegaan. Sementara itu, Ksatria memperhatikan interaksi mereka dengan mengerutkan dahi.

“Aku baik-baik saja,” bisik Lia lembut, menepuk-nepuk punggung Dio yang masih tidak melepaskan pelukan mereka.

“Ya Tuhan… kupikir aku benar-benar kehilanganmu,” balas Dio, mengeratkan pelukan mereka.

Dehaman Ksatria-lah yang akhirnya membuat mereka saling melepaskan diri. Lia dan Dio bertukar senyum canggung, sedangkan Ksatria menatap Dio, menilai.

“Temanmu tidak bisa ikut dalam agenda kita, Dokter,” Ksatria mengatakannya dengan tegas.

Lia membelalak. “Dio asisten risetku! Ia tahu sama banyaknya tentang riset ini seperti diriku! Aku tidak bisa melakukan ini sendirian tanpa Dio…” ia berkata dengan nada putus asa.

Itulah sebabnya ia meminta Ksatria mengirimkan surat elektronik pada Dio tadi sore. Ia butuh lelaki itu, bagian dari kehidupan lamanya yang masih bisa ia jaga.

Dio menatap Lia dan Kstaria bergantian, bingung dengan situasi yang terjadi. “Li, ada apa? Kau tidak terlibat sesuatu yang buruk bukan?”

Pertanyaan Dio nyaris membuat Lia menangis di tempat. Ia sendiri bahkan tak tahu ia terlibat dalam apa.

“Baiklah, ia bisa tinggal,” Ksatria akhirnya memutuskan. “Asalkan ia juga bersedia meninggalkan kehidupan lamanya.”

“Apa?” ulang Dio. “Maksudmu memiliki identitas baru seperti di film-film aksi?”

“Ya,” jawab Ksatria mencibir. “Dan jangan berharap itu sesuatu yang menyenangkan.”

Ini tidak adil, pikir Lia. Ia tidak bisa begitu saja melibatkan Dio dalam permasalahannya. Ia saja nyaris terbunuh dan ia tidak bisa membiarkan Dio dalam bahaya yang sama. Lia baru saja akan buka mulut untuk protes, namun Dio lebih cepat darinya.

“Akan kulakukan,” Dio berkata dengan nada final.

“Tidak!” Lia menolak. “Tidak perlu seperti itu, Dio—”

“Li, dengar,” potong Dio. “Aku pernah berpikir aku benar-benar kehilanganmu tadi pagi. Aku tidak bisa merasakan itu lagi. Aku… aku tidak cukup kuat untuk hidup di dunia yang tidak ada dirimu di dalamnya.”

Lia tertegun. Apakah ini pernyataan? Apakah Dio sedang mengakui perasaannya di saat mereka terlibat suatu hal yang tidak mereka pahami? Apakah ini gurauan dalam suasana serba genting ini?

“Manis sekali,” komentar Ksatria sarkartis. “Dokumen akan disiapkan untuk temanmu, Dokter. Lalu bersiaplah. Kepala Organisasi akan tiba kapan saja,” ia menambahkan sebelum keluar dan meninggalkan mereka berdua.

Lia dan Dio berpandangan dan menghela nafas bersamaan.

“Ceritakan padaku apa yang terjadi di stasiun,” pinta Dio.

“Dan ceritakan padaku apa yang terjadi di pusat riset,” Lia juga meminta hal yang sama.

Mereka punya banyak cerita yang harus dibagi sebelum keduanya dipaksa menghadapi cerita baru yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Setidaknya, kali ini Lia tidak sendiri.

©2016 qL^^

a.n slow update. please be patient

Gambar diambil dari sini

Advertisements

4 thoughts on “Identitas Baru

  1. ((terus aku bayangin muka ksatria tuh yang: iye sana peluk pelukan aje terus guenya ditinggal)). HAHAHAHAHA duh sumpah makin ke sini karakternya makin jelas aku sukaaaa x))

    omg i’ll be waiting qii, don’t you worry. semangat terus ngerjainnya yaaa hihi. semoga lancaaar~ hihihi.

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s