Kabar Buruk

sebuah fiksi ditulis oleh qL^^

Semua nama tokoh dan tempat digunakan hanya untuk keperluan cerita.

Sebelumnya di Sepuluh Menit Genting

Hari masih bisa jadi lebih buruk lagi….

Kabar Buruk

Peristiwa itu langsung menjadi berita utama dalam hitungan menit. Ledakan bom di Stasiun Jakarta Kota. Sungguh mengejutkan! Seolah-olah kota ini sedang butuh sensasi di hari senin pagi yang sibuk namun tenang. Dio sudah melihat berita yang ditayangkan di televisi layar datar dalam ruang kerjanya. Tidak ada telivisi di dalam laboratorium mereka. Ia cemas, jantungnya berdebar-debar keras memikirkan seseorang. Ia sudah berkali-kali mencoba menghubungi orang tersebut, namun teleponnya selalu dijawab oleh operator selular yang menyatakan nomernya tidak aktif atau berada di luar servis area.

Dio mematikan ponselnya saat pintu ruang kerja terbuka. Nisya, asisten junior laboratorium mengintip dari pintu dengan wajah muram. Jantung Dio mencelos. Pasti kabar buruk.

“Ibu Kepala ingin bicara dengan Bapak,” gadis itu memberitahunya.

“Saya akan segera kesana,” sahutnya dan gadis itu mengangguk, kemudian pamit dari ruangan Dio.

Jarak dari ruang kerja menuju ruang Kepala Laboratorium tidak mencapai sepuluh menit sekalipun kau berjalan dengan kecepatan seperti siput dan persis itulah yang dilakukan Dio sekarang. Ia sengaja benar berjalan pelan sekali untuk mempersiapkan hati dan mentalnya mendengar apa yang akan dikatakan bosnya. Ia mengetuk pintu dan duduk di tempat yang dipersilahkan. Bu Shanti menatapnya prihatin.

“Saya tahu kamu bisa menduga kenapa saya memanggil kamu ke kantor,” wanita paruh baya itu membuka percakapan.

Dio menggeleng sopan. “Saya tidak paham, Bu.”

Bu Shanti menghela nafas pelan, meletakkan cangkir tehnya ke atas meja. Dio tidak luput mengamati tangan wanita itu yang sedikit bergetar saat melakukannya. “Saya belum melihat Dr. Amalia sejak pagi,” katanya lagi.

“Dr. Amalia sudah izin untuk tiba di kantor lebih siang. Beliau bilang dia akan naik kereta sehingga—“ kalimat Dio mendadak terhenti begitu ia menyadari benang merah antara dirinya, panggilan bos, ledakan bom dan Dr. Amalia yang belum muncul di kantor. Ia merinding.

Seolah melihat ekspresi pemahaman dalam wajah Dio, Bu Shanti bicara lagi. “Tim forensik menghubungi saya sepuluh menit yang lalu. Mereka sudah melakukan autopsi pada beberapa jenazah. Saya turut berduka cita, Dio. Rekam gigi Dr. Amalia ditemukan cocok dengan salah satu jenazah,” jelasnya dengan suara bergetar.

Rasanya Dio ingin menampar dirinya sendiri untuk memastikan ia tidak salah mendengar kabar buruk itu. Ia harus menahan diri untuk tidak gemetar ngeri memikirkan Lia dalam kantung jenazah. Tidak bisa dikenali selain dari rekam gigi. Dio menelan ludah dan menarik nafas dalam untuk menenangkan diri. Harusnya tidak seperti ini kejadiannya. Harusnya ia tidak membiarkan Lia sendirian naik kereta pagi ini. Harusnya ia memaksa menjemput gadis itu. Harusnya sekarang ia sedang membantu Lia menyiapkan presentasi hasil riset mereka yang mencengangkan. Harusnya…. harusnya….

Penyesalan itu merayapi kulit Dio, menyesap di antara tulang-tulang dan menggerogotinya dengan perasaan bersalah.

“Lalu sekarang bagaimana?” akhirnya ia bertanya.

Ia tahu Bu Shanti mengerti arah pembicarannya. Laboratorium itu dibangun khusus untuk membantu riset Lia. Lia adalah peneliti utama di sana sedangkan Dio cukup beruntung untuk dipercaya sebagai asisten seniornya. Tapi tanpa Lia, ia tidak tahu bagaimana nasib riset mereka selanjutnya.

“Yayasan memutuskan riset ini untuk sementara akan dihentikan sampai di sini, Dio. Kau dan Dr. Amalia sudah memberi Yayasan hasil yang sangat bagus untuk riset kalian. Laboratorium akan ditutup untuk sementara waktu,” jawab Bu Shanti.

“Hasil risetnya?” protes Dio. Semua itu hasil kerja keras Lia.

“Yayasan akan memilikinya dan menggunakannya untuk kepentingan yang baik,” jelas Bu Shanti.

Dio berdesis dalam hati. Bagus sekali, ia baru saja kehilangan seorang teman dan sekarang dipecat dari pekerjaannya tanpa diapresiasi!

“Kau boleh membereskan barang-barangmu dalam waktu seminggu dan uang pesagon akan dikirimkan langsung ke rekeningmu,” ucap Bu Shanti dengan nada final. “Sekali lagi, saya turut berduka, Dio.”

Kalimat tadi adalah petunjuk bagi Dio untuk keluar dari ruangan atasannya. Ia mengangguk pelan menanggapi ucapan belangsukawa sekedarnya dari atasannya itu. Ketika ia kembali ke ruang kerja, tatapan mata Dio tertumbuk pada fotonya dan Lia bersama anggota tim penelitian yang lain. Tidak ada yang lebih sedih dibandingkan Dio saat mendengar kabar itu karena Dio-lah yang hampir setiap jam dalam sehari bersama Lia dengan segala percobaan dan diskusi-diskusi ilmiah mereka.

Tidak ada yang tahu  dan sadar kalau Lia sangat hati-hati membagi hasil risetnya pada anggota timnya. Hanya Dio yang tahu sebanyak Lia mengetahui soal riset itu dan ia merasa sangat tersanjung dengan perlakuan itu.

Namun, kini semuanya sudah berakhir.

Pukul lima sore lebih lima belas menit, semua barang Dio sudah dipak di dalam boks. Ia meninggalkan semua barang pribadi Lia, mungkin nanti keluarga gadis itu akan mengambilnya. Komputer yang menyimpan semua data penelitian termasuk presentasi hasil riset sudah diberi password baru oleh Bu Shanti. Ia sama sekali tidak punya akses apa pun lagi di laboratorium itu.

Dio menghela nafas terakhir kali sebelum berpamitan dengan Bu Shanti dan semua orang yang bekerja bersamanya selama tahun-tahun terakhir. Ia terjebak kemacetan kota Bogor saat meninggalkan kantor. Mobilnya tidak bergerak dalam jalanan yang padat kendaraan dan ia butuh pelampiasan selain mendengarkan siaran radio yang terus menerus menyiarkan tentang ledakan bom itu.

Ponselnya berdenting halus. Ada sebuah surat elektronik yang masuk ke dalam kotak masuk pribadinya. Terlihat seperti jenis surat yang akan kaubuang dalam junk, namun subyek email itu menahannya.

The Last Bow.

Judul yang sama dengan seri Sherlock Holmes yang dipinjamnya dari Lia minggu ini. Mereka berdua punya hobi membaca buku misteri jadi bertukar buku sama sekali bukan hal yang aneh di antara mereka. Tapi tidak ada yang tahu tentang kegemaran mereka itu.

Tentu saja, selain Lia.

Dio membuka tautan email itu. Isinya pesan random yang membuatnya menyesal sempat tertarik pada email itu. Sampai ia menemukan deretan angka yang membuatnya mengernyit heran. Belum lagi baris akhir yang terlalu familiar baginya ‘v–L’. L adalah tanda yang dipakai Lia dalam email pribadi mereka dan V adalah simbol mencari pertolongan. Apakah ini pesan atau ia yang berpikir terlalu berlebihan?

Rasa penasaran Dio menang dibandingkan logika dan akhirnya Dio mengetikkan deretan angka itu melalui mesin pencarian Google. Hasil pencarian memberitahunya bahwa itu adalah koordinat dan mengarah pada satu tempat yang bahkan tidak dikenali mesin pencari itu. Detik itu juga, Dio memutuskan ia akan mencari tahu. Ia memacu mobilnya memasuki tol dalam kota yang macet.

Sebagai orang yang sangat ilmiah, Dio tidak pernah percaya pada yang namanya insting atau gut feeling. Mungkin ia shock setelah kehilangan partner terbaiknya. Atau mungkin juga ia frustasi karena mendadak kehilangan pekerjaannya, tapi yang jelas Dio memutuskan untuk sore itu ia tidak akan jadi seorang yang sangat ilmiah. Dia akan mengikuti insting. Dan insting membawanya menuju Menteng, lebih tepatnya lokasi spesifik di daerah itu yang tidak dikenal Google.

Apa pun yang ditemukannya di sana, Dio yakin tidak akan lebih buruh daripada kabar yang diterimanya. Semuanya terasa cukup buruk.

.

.

.

-selesai-

©2015 qL^^

.

.

an. masih mau dilanjut atau disudahi sampai disini?

.

Gambar diambil dari sini

 

Advertisements

7 thoughts on “Kabar Buruk

  1. HAHAHAHAH kamu tauuu, aku tuh langsung kebayang muka kakak kelas aku pas nama dio muncul xD namanya persis sama terus gatau deh kayak gerak gerik yang kamu ceritain di sini tuh klop aja gitu haha. anw dio sabar banget ya huhu. udah hasil kerjanya diambil gitu aja sama yayasan (iyasih dapet pesangon tapi kan tetep aja). kebayang banget pas dia galau abis nonton tv terus ada berita ledakan di stasiun heu. btw kok ini si bu shanti kayaknya enak banget “ngeberentiin” dio gini hm. aku curiga xD

    btw qi, mau sedikit koreksi boleh? tadi ada kata kantung, yg bener kata bakunya itu kantong hehehehe. dan… of course ini harus dilanjuuuut~~ sumpah i’m dying to know kelanjutan lia, dio, dan hasil riset merekaa. btw sama sekalian si ksatria-nya dooong hahaha kok dia sounds badass yaa kayaknyaaa uwuu xD keep writing yah qii!! ♡♡

    Like

    1. Lagi baca ulang dalam rangka pengen nulis lanjutannya, eh baru nyadar ternyata aku belum balesin komentarmu di sini, fik.

      Psst, sebenarnya nama Dio itu asalnya dari D.O yang di-Indonesiakan (halah) wkwkwk. Haha ga nyangka aku ternyata ada beneran orang dengan kepribadian kayak gitu u.u. hmm, bener ga yaa bu shanti mencurigakan? Hohoho

      makasih koreksinya fik, nnti aku edit kalau online dr pc. Ini sempat2in pake hp soalnya. Salam sayang dari Ksatria, muaah #lol

      Like

  2. baca tulisanmu aku pake buat belajar kak… bagus banget ceritanya, pastinya dengan baca tlisanmu juga bisa kasih ilmu dari perbendaharaan kata dan kosakata asingnya hehe.. good!!

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s