Close to Heart

a stand alone series fan fiction about Hyeki and Jinki
about long distance relationship

JHS

Close to Heart

Jarak dan waktu takkan berarti
Karena kau akan selalu di hati

(Ran – Dekat di Hati)

Sekarang pukul delapan lewat delapan menit waktu setempat New York dengan cuaca berkabut ringan dalam suhu sebelas derajat celcius, Park Hyeki duduk berhadapan dengan laptopnya, menunggu jaringan Skype menghubungkannya ke belahan lain benua, harap-harap cemas. Sementara itu, saat ini pukul dua puluh dua lewat delapan menit waktu setempat Seoul dengan cuaca hujan dalam suhu 6 derajat celcius, Lee Jinki atau Onew juga duduk berhadapan dengan laptopnya, notifikasi telepon video Skype muncul di layarnya, tersenyum senang.

“Selamat ulang tahun!” Hyeki berkata riang.

Atribut yang dikenakannya membuat senyum Onew bertambah lebar : topi kerucut ulang tahun, terompet gulung dan choco pie yang disusun mirip kue ulang tahun bertingkat dengan satu lilin di atasnya.

“Aku tiup lilinnya ya,” kata Hyeki lagi dan tanpa menunggu jawaban Onew, lilin itu pun padam.

“Hei, setidaknya make a wish dulu,” protes Onew akhirnya, pura-pura sebal dengan tingkah gadis itu.

Hyeki hanya tertawa dan mengangkat bahu tak peduli membuat Onew gemas. Kalau saja gadis itu benar-benar ada di hadapannya, pipi Hyeki pasti sudah merah akibat cubitan Onew.

“Terima kasih ucapannya, Hyeki,” Onew tersenyum lagi, tak bisa bertahan marah terlalu lama meski hanya pura-pura. “Oppa pikir kamu lupa.”

Kali ini Hyeki nyengir, wajahnya terlihat merasa bersalah. “Sejujurnya aku memang hampir lupa, untung saja Sooyan mengingatkanku,” ia mengaku, takut-takut pengakuannya merusak suasana hati Onew yang sedang berbahagia. Tapi Onew memang terlampau bahagia hari ini, seharian merayakan ulang tahunnya bersama penggemar, anggota SHINee, keluarganya dan keluarga SM telah memberinya suplai kebahagiaan yang berlebihan. Dan kini, ditutup dengan telepon video bersama Hyeki.

Sempurna.

“Hari ini tidak ada jadwal kuliah?” tanya Onew.

Hari ini hari senin, hari pertama yang mengawali minggu sibuk seorang mahasiswa magang seperti Hyeki. Hari masih pagi, ia tahu itu karena jam ponselnya diatur dengan dua waktu, Seoul dan New York. Lagipula Onew jarang sekali melihat Hyeki berpakaian rapi dan sedikit berdandan saat melakukan panggilan video dengannya. Itu membuatnya merasa perlu bertanya.

“Aku mendapat giliran jaga malam,” Hyeki menjawab. “Jadi, aku bisa menghabiskan pagi ini bicara dengan Oppa.”

“Tapi kamu berpakaian rapi dan—“ Oh!

Onew menghentikan ucapannya sendiri ketika ia menyadari alasan mengapa Hyeki berpakaian rapi dan berdandan. Ada semburat merah menjalar di pipi Hyeki yang samar bisa dilihat Onew dari layar laptop dan itu lagi-lagi membuat Onew tersenyum lebar.

“Terima kasih,” kata Onew lagi.

Hyeki hanya mengangguk, berusaha tidak terlihat salah tingkah atau malu-malu.

Tidak ada yang lebih ingin dilakukan Onew daripada merengkuh gadis yang sangat disayanginya itu ke dalam pelukannya, tapi apa daya ia tidak kuasa. Onew mendesah, apakah ulang tahunnya akan terus menerus dirayakan melalui sambungan seperti ini? Telepon dan panggilan video memang sangat membantu, tapi Onew ingin bisa melihat langsung wajah gadis itu, merasakan kehadirannya, menatap gadis itu tepat di matanya dan merengkuhnya.

Dadanya terasa sesak saat menyadari perasaan apa itu.

Ia rindu.

“Onew O, kenapa diam?” tanya Hyeki khawatir.

Onew menggeleng, menepis rasa rindu yang menyesakkan itu. Ia tidak akan merusak hari bahagianya dengan bersikap melankolis. “Sedang berpikir,” ia menjawab.

Diperhatikannya Hyeki yang menatapnya heran dari layar laptop baik-baik. Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat pada layar agar bisa mengamati gadis itu dengan lebih baik, membuat gadis itu berjengit mundur lebih ke belakang layar seolah ia takut hidung Onew yang dekat sekali dengan layar, bila bersentuhan dapat menembus layar.

“Berat badanmu turun lagi?” Onew bertanya.

Hyeki tersentak kaget. Astaga! Ia sudah mengenakan berlapis-lapis pakaian meskipun ia berada di dalam kamar karena saat ini sedang musim dingin, namun Onew dengan mudah bisa mengetahui perubahan berat badannya. Apa karena pipinya terlihat semakin tirus?

Jemari Onew menunjuk pergelangan tangan Hyeki dimana gelang dengan bandul-bandul L,J,K,P,H,K, melingkar. “Gelangmu terlihat lebih kendur,” ia menambahkan.

Tidak mungkin Hyeki menyangkal di saat Onew menyudutkannya seperti itu, jadi ia hanya diam.

“Lingkaran di bawah matamu juga terlihat jelas, Hyeki. Apa seniormu senang mengerjaimu hingga tidak tidur?” tanya Onew lagi.

Hanya Onew yang di hari ulang tahunnya masih menyempatkan diri memikirkan orang lain. Hyeki menghela nafas kemudian berkata, “aku baik-baik saja. Magang memang membuatku kurang tidur.”

Onew sudah mengenal berbagai jenis jawaban dari Hyeki, termasuk jenis yang seperti itu. Artinya gadis itu memang sedang punya masalah, namun ia belum ingin menceritakannya pada Onew. Tapi Onew harus tahu atau ia tidak akan melewatkan sisa malam ulang tahunnya dengan tenang.

“Ada apa, Hyeki?”

Hening sejenak. Hyeki melepaskan topi kerucut di kepalanya dan meletakkannya tak jauh dari meja. Mendadak ekspresi wajahnya berubah muram.

“Aku ingin pulang.”

Kalimat itu sederhana, namun menyembunyikan banyak kompleksitas di dalamnya. Hyeki bisa pulang kapan saja, keluarganya lebih dari mampu untuk membayar biaya transportasi Seoul – New York bolak-balik. Tapi tentu saja tidak semudah itu. Ada tanggung jawab Hyeki di kota itu yang tidak bisa ditinggalkannya begitu saja. Pendidikan yang telah diperjuangkannya dengan tak mudah.

Onew tahu gadis itu sedang merasakan hal yang sama dengannya.

Rindu.

Onew bisa saja menyusul gadis itu ke New York, tapi lagi-lagi waktu dan tanggung jawab tak bisa membuatnya bersikap sebebasnya. Sejak awal ia tahu konsekuensi memiliki hubungan jarak jauh seperti ini bukanlah main-main. Selama setahun, frekuensi mereka benar-benar bertatap muka dapat dihitung dengan jari. Bahkan untuk berkata mereka memandang langit yang sama saja tak semuah itu. New York dan Seoul berbeda empat belas jam. Ada kalanya matahari sudah terbenam di langit Seoul saat New York baru saja memulai hari dengan terbitnya sang surya. Menemukan waktu yang cocok untuk saling menyapa saja sesulit menemukan jadwal SHINee yang kosong di penghujung tahun.

Menyedihkan.

Tapi mereka bertahan.

“Bersabarlah,” Onew berkata, setengah menghibur, setengah menjanjikan. “Setelah sekolahmu selesai, kita akan berkumpul bersama. Kamu dan Oppa. Kita.”

“Aku tahu,” Hyeki terisak, mengusap sudut matanya yang basah. “Tapi ini rasanya berat sekali.”

“Memang,” Onew menyetujui. “Tapi kita sudah bertahan sejauh ini.”

Hyeki menghela nafas. “Tinggal sedikit lagi,” ia berkata dan Onew mengangguk.

Kini Hyeki sudah tersenyum lagi membuat Onew tersadar gadis itu sudah dewasa. Ia belajar banyak mengendalikan diri dan emosinya.

“Seharusnya aku tidak membuat hari ulang tahun Oppa jadi menyedihkan,” Hyeki berkata dengan nada menyesal.

Mungkin sudah saatnya Onew mengembalikan situasi agar tidak suram seperti sebelumnya.

“Memang apa yang ingin kau lakukan kalau kau pulang, Hyeki?” tanya Onew. “Berencana mengajak Oppa menikah muda seperti Dongho dan Eli?” ia menambahkan dengan bergurau.

“Onew O!” pekik Hyeki, matanya melotot marah.

Onew terkekeh. “Yah, tidak apa-apa sih. Kelihatannya menikah muda memang sedang tren saat ini. Jangan-jangan sebelum tiup lilin tadi, kamu memohon hal itu,” komentarnya, lalu mengedipkan sebelah mata jahil.

“Dasar gila!” omel Hyeki kesal pada tuduhan Onew sedangkan Onew malah tertawa semakin keras.

Tidak ada yang bisa menyangkal fakta bahwa Hyeki dan Onew dipisahkan oleh benua, perbedaan waktu, area pekerjaan dan kesibukan yang tak sama. Tapi yang seperti Onew katakan, mereka bertahan dan ia percaya mereka hanya butuh sedikit lagi waktu untuk menuntaskan tanggung jawab yang belum selesai. Sedikit saja kesabaran, lalu mereka bisa bersama. Entah untuk memikirkan lebih serius masa depan mereka atau meniru jejak Eli dan Dongho.

Yang jelas dengan menatap wajah Hyeki dalam layar persegi panjang laptopnya, Onew merasa cukup. Biarlah mereka jauh di mata, tapi ia tahu Hyeki akan selalu dekat di hatinya.

©2015 qL^^

.

.

an. 

  1. maafkan kalau fiksi ini alay sekali
  2. rasanya merasa bersalah kalau ultah Onew O ga dirayain dengan fiksi
  3. karena Onew O tetap bias no #1 di hati
  4. and yeaah, Qi sedang galau di hari ini
  5. selamat ulang tahun Onew O, mari kita ucapkan sekali lagi
  6. terima kasih untuk Ran, lagunya jadi sumber inspirasi
  7. sampai nanti 🙂

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s