About Half [5]

AH

About Half

By qL^^

Disclaimer : This is work of fiction. The Mortal Instruments are Cassandra Clare’s and all mentioned artists belonged to themselves. Footnote credits to shadowhunter.wikia.com

No profit is intended.

Being Thomas Parabatai was like a glass with half-filled water

Is it half-full? Or half-empty?

Chapter V

Pertempuran tidak pernah mudah, meskipun mereka hanya melawan sekelompok kaum Fana yang bekerja sama dengan iblis lemah. Para iblis itu berterbangan, meliuk bagai hewan melata dan mendesiskan kekejaman di sekitar mereka. Alicia sama sekali tidak berpisah dengan Thomas selama pertempuran. Mereka seperti satu tubuh yang bergerak bersama tanpa perlu saling bicara. Pedang kembar mereka –hadiah dari Saudari Besi- menebas iblis-iblis lemah.

Sebagian pemburu bayangan dewasa meringkus kaum Fana yang terlibat, sebagian lagi menyebar ke dalam Mansion, mencari lebih banyak kaum Fana yang bersembunyi. Alicia mengikuti Thomas yang menaiki tangga menuju lantai dua. Mereka punya misi tersendiri : menyelamatkan Lucy. Sensor iblis di gelang Alicia kembali berdenyut dan samar-samar dia mulai mencium bau yang sama seperti yang dirasakannya di Hotel Gibroni.

Pintu ganda berkayu oak itu terkunci dan baik Alicia maupun Thomas tahu bahwa yang mereka cari ada di balik pintu itu.

“Aku akan memanggil yang lain,” kata Alicia bersiap untuk berbalik menuruni tangga, namun Thomas mencekal tangannya.

“Jangan!” tahan Thomas. “Ini tentang Lucy. Kau sendiri yang bilang kita harus merahasiakannya.”

Alicia mengigit bibir, cemas. “Tapi bagaimana kalau kita tidak sanggup menghadapi mereka, Tommy?”

“Kita pasti bisa. Kita parabatai terhebat yang ada di Akademi Pemburu Bayangan, ingat?” Thomas menenangkan Alicia, menepuk pundak gadis itu sekilas, kemudian mengambil kuda-kuda untuk menendang pintu itu.

Tendangan Thomas menghancurkan engsel pintu dan pintu itu berderit membuka. Alicia bisa melihat altar yang sama dan mencium bau yang sama seperti di hotel Gabrino beberapa jam yang lalu: dupa, bunga dan darah. Seorang gadis berambut pirang panjang terbaring di altar dengan gaun putih layaknya gaun pengantin.

“Lucy!” teriak Thomas, berlari tanpa pikir panjang ke arah altar.

Dalam kekalutan pikirannya, Alicia tahu Thomas tidak melihat ada iblis berlendir seperti kelabang yang juga melesat dalam arah yang sama dengan pemuda itu, sehingga mau tak mau membuat Alicia mengeluarkan Pisau Seraphnya dan melemparkannya tepat menusuk di leher iblis itu. Iblis itu berubah menjadi abu tepat di kaki Thomas.

Mendadak, ruangan itu menjadi lebih terang dengan cahaya lilin. Cahaya baru itu membuat Alicia tersadar bahwa mereka terkepung dengan dikelilingi belasan iblis. Baik Alicia maupun Thomas berdiri dalam posisi siap menyerang, saling memunggungi. Tak ada suara dalam ruangan itu.

Hawa ruangan perlahan mulai mendingin, seolah ada penyedot kehangatan yang tiba-tiba muncul di langit-langit. Alicia merasakan ketidaknyamanan menyelinap di atas kulitnya, mengitarinya seperti predator, membuat bulu kuduk berdiri. Tepat saat itu muncul sosok iblis yang hanya pernah dibacanya dari buku-buku. Iblis itu seperti manusia, hanya saja kulitnya bersisik kelabu dengan ekor seperti kalajengking yang mencuat dari balik punggungnya. Wajahnya dingin, kejam dan murka, jelas tak senang karena pestanya terganggu. Dia Iblis Kuat itu, yang mana Lucy akan dijadikan pengantinnya.

“Pemburu bayangan,” suaranya berdesis dalam nada bengis.

Alicia bergidik, namun dia menggenggam pedang kembar dengan mantap, menghimpitkan bahu dengan Thomas lebih rapat, siap menyerang.

“Pestamu sudah selesai,” seringai Thomas. “Pengikutmu sudah ditangkap dan dimusnahkan.”

Iblis itu tertawa. “Lucu sekali mendengarmu bicara begitu mengingat kalian berdua justru terperangkap di tengah-tengah pestaku,” ejeknya.

“Serahkan gadis itu,” hardik Alicia.

Senyum sinis muncul di wajah bersisik itu. “Aku tidak tahu kalau pemburu bayangan tertarik dengan kaum Fana. Ah, sayang sekali. Gadis ini milikku,” katanya lamat-lamat. Jarinya yang berkulit abu-abu terjulur ringan, menyentuh pipi Lucy dan Alicia merasakan ledakan kemarahan yang berasal dari Thomas.

Pisau Seraph Thomas dilemparkan ke arah tangan si iblis, memutuskan jarinya. Kelihatannya amarah telah membuat kendali Thomas akan senjata menjadi sepuluh kali lipat lebih baik. Si iblis berteriak kesakitan. Lalu tanpa aba-aba, iblis-iblis lemah lain mulai menyerang mereka.

Iblis berbentuk seperti campuran usus yang direkatkan dengan lendir serta dihiasi bintil-bintil aneh mengeliat di sekitar mereka. Mata kuningnya yang hanya satu menatap Alicia penuh kemarahan sementara dia menjulurkan usus itu untuk menangkap kaki Alicia. Alicia melemparkan diri ke samping, luput dari serangan si iblis, lalu melemparkan pedangnya tepat menusuk mata kuning itu. Abu hitam-kelabu berterbangan menyisakan pedangnya yang jatuh di lantai. Alicia mengambil pedangnya, lalu menebas iblis berbentuk belalang sembah yang sedang menyerang Thomas. Badannya terbagi dua sebelum ia juga menghilang sebagai abu.

Alicia membersihkan jalan, membunuh lebih banyak iblis agar memudahkan jalan Thomas menuju altar. Si Iblis Kuat sudah menghilang. Alicia tidak peduli kemana perginya dia. Thomas sudah mencapai altar, mengangkat Lucy dan menggendong gadis itu dalam pelukannya. Alicia tidak tahu apakah gadis itu pingsan atau tidur, yang jelas mereka harus segera pergi dari sini.

Dalam menit-menit yang tak terduga berikutnya, Alicia melihat lecutan ekor ke arah Thomas. Thomas berkelit mundur, namun dia kehilangan keseimbangan dengan Lucy sebagai beban dalam pelukannya. Ekor itu menyabet bahu Thomas, merobek seragam tempurnya dan darah mulai merembes dari sana. Thomas jatuh terduduk, namun masih berusaha menjaga Lucy tetap terlindung. Ekor itu menyabet lagi, tapi Alicia lebih cepat. Pedangnya memotong ekor itu membuat si Iblis Kuat berteriak lagi. Tangan Alicia bergetar saat dia berlari dan menghujamkan mata pedang tepat di dada si Iblis Kuat. Dia terhuyung mundur, masih gemetar saat melihat Iblis itu seperti vas yang pecah berkeping-keping. Keping yang menghilang menjadi abu dalam udara. Pedang Alicia jatuh ke lantai menimbulkan bunyi kelontang keras bersamaan dengan hilangnya si Iblis Kuat.

Suara langkah kaki berdatangan. Alicia berbalik dan melihat para pemburu bayangan dewasa telah menemukan mereka. Dia menghela nafas lega dan kembali pada posisi dimana Thomas terluka. Thomas masih dalam posisi yang sama, namun Brian telah memindahkan Lucy dari pelukan pemuda itu. Alicia berjongkok dekat Thomas, mengambil Pisau Seraph dan merobek bahu seragam tempur Thomas. Luka itu mengalirkan darah kehitaman, kulit di bawahnya bengkak dan merah. Racun iblis itu merusak kulit Thomas.

Dalam detik-detik pertama, Alicia hanya bisa menatap luka itu dengan keterkejutan. Diam tak bergerak seperti patung. Dalam sejarah pertempuran mereka, Thomas belum pernah terluka. Melihat Thomas semakin pucat dan lemah dalam pengaruh racun iblis seolah melumpuhkan saraf Alicia.

Nafas Thomas satu-satu, namun dia berjuang tetap membuka mata dan menahan rintihan. Alicia akhirnya bergerak, meski seperti robot, mengambil Stela di saku dan menorehkan Iratze* pada kulit bahu Thomas. Tanda itu diserap seperti kertas menyerap tinta, namun lukanya sama sekali tidak terlihat membaik.

“Tidak bisa,” kata Brian yang sedari tadi memperhatikan Thomas, putus asa. “Iratzenya tidak bekerja.”

Panik, Alicia bisa merasakan seolah ikatan dalam rune parabatai mereka memudar dengan semakin lemahnya Thomas.

“Ally,” Thomas memanggil namanya, pelan sekali sembari mengernyit. Seolah membuka mulut saja menyebabkan lukanya berjuta-juta kali lebih parah. “Ayo coba lagi. Kau pasti bisa,” bisiknya menyemangati.

Alicia menahan tangis. Tangannya kembali gemetar saat mengulang torehan rune pada kulit Thomas. Dia baru menyadari bahwa luka itu hanya berjarak beberapa milimeter dari rune parabatai mereka. Ironis sekali. Kali ini Iratze yang dibuat Alicia bertahan cukup lama, meskipun masih tidak cukup untuk menutup luka Thomas.

Alicia tidak bisa menyerah sekarang. Dia tidak bisa dan tidak boleh kehilangan Thomas. Dia berdoa dalam hati, sembuhkan, sembuhkan, selamatkan, selamatkan. Menorehkan rune berulang-ulang dengan penuh harapan. Seluruh sel sarafnya berkonsentrasi, bekerja, berdoa agar Iratzenya kali ini bekerja.

Kali ini memang bekerja. Iratze itu berpendar di kulit Thomas dan Alicia merasa dia seolah sedang memindahkan energinya ke dalam rune itu, memberi Thomas kekuatan untuk sembuh.

Perlahan Alicia bisa melihat luka Thomas mulai sembuh. Perdarahan mulai berhenti, kulit terbuka itu mulai menutup dengan kemerahan dan bengkak yang semakin memudar. Alicia melihatnya dalam pandangan samar-samar, memburam lalu mendadak penglihatannya menjadi gelap.

Meskipun dia masih sempat tersenyum.

Karena dia tahu Thomas sembuh.

*Iratze adalah bentuk rune penyembuh paling dasar yang biasa digunakan Pemburu Bayangan

-to be continued-

©2015 qL^^

an. only 2 more chapters

Advertisements

2 thoughts on “About Half [5]

  1. WAAAAA AKU BACANYA SAMBIL MELUK GULING HUHUHU. suka waktu bagian Thomas nyemangatin Alicia, sungguh aku suka banget bagian itu. terus terus scene berantemnya kereeeen. aku baca pelan pelan biar bisa picturing iblis usus di dalem kepala, dan ternyata dia creepy banget bentuknya hih! tinggal 2 chapter :(( please let me know kalo chapter barunya udah posting hehehe. keep writing, dan semangat buat 2 chapter lainnya yaa x)

    Like

    1. seru yaa. aku juga paling suka nulis scene berantem, meskipun itu scenenya agak kurang kreatif siih
      haha, siaap chapter baru akan segera di posting begitu rapi 🙂

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s