Simfoni – La

Simfoni : a story by qL^^ casts Kim Kibum, Kim Sooyan, SHINee, Park Hyeki, Kim Jihyun length chapter genre AU, angst, mystery, family, semi!romance rated PG-12

Previously on Simfoni : Sol

Simfoni

Simfoni

Nada ke enam : La

Suddenly Resurface

Rumah keluarga Kim terlihat sepi. Para pelayan rumah besar itu berada di dapur, namun tidak terlihat sibuk mempersiapkan apa pun. Mau tak mau Kibum merasa heran. Bukankah malam ini akan ada jamuan makan malam bersama keluarga Shim? Apakah tiba-tiba acaranya dibatalkan?

“Pelayan Im,” panggil Kibum.

Pelayan Im menoleh pada Kibum dan tersentak kaget mendapati Tuan Muda Kim sudah pulang. “Ya Tuan?”

“Apakah makan malam bersama keluarga Shim dibatalkan?” tanya Kibum.

Pelayan Im menelan ludah tak nyaman, menunduk menghindari tatapan bertanya Kibum. “Saya rasa saya bukan orang yang tepat untuk menjawab pertanyaan Tuan Muda,” jawabnya pelan. “Nyonya Besar ada di ruang kerja kalau Tuan Muda ingin bicara,” tambah pelayan itu lalu membungkuk sopan dan terburu-buru menyingkir dari hadapan Kibum.

Kibum hanya mengernyit heran, namun akhirnya mengikuti saran pelayan Im untuk bicara langsung dengan ibunya. Biar bagaimana pun urusan rumah tangga keluarga Kim pada akhirnya tetap menjadi tanggung jawab ibunya sebagai Nyonya Besar.

Ruang kerja terletak di lantai dua, di antara kamar tidur Tuan Besar dan Nyonya Besar. Ruang itu sebenarnya milik Tuan Besar Kim, namun beliau jarang ada di rumah sehingga ibunya yang kerap kali menggunakan ruangan itu. Kibum membuka pintu ruang kerja dan menemukan ibunya sedang duduk di sofa kulit dengan segelas anggur merah di tangan dan musik klasik yang mengalun pelan dari pengeras suara di pojok kanan.

Nyonya Kim menoleh ke arah pintu saat menyadari kehadiran Kibum, namun tidak mengatakan apa pun. Kibum melangkah masuk, masih bingung dengan keanehan yang terjadi di rumah.

“Apakah makan malam bersama keluarga Shim dibatalkan?” tanya Kibum sambil duduk berhadapan dengan ibunya.

Alih-alih menjawab, Nyonya Kim malah mendorong amplop putih di atas meja ke arah Kibum. Kibum mengamati amplop itu dan mengernyit heran. Ia melihat lambang kepolisian tertera di depan amplop dan kebigungannya bertambah. Ia mengambil surat di dalamnya, kemudian membaca dalam diam. Kibum sama sekali tidak bisa mempercayai apa yang dibacanya. Ia membacanya berulang-ulang dan masih menolak untuk percaya. Akhirnya, ia hanya bisa menatap ibunya.

“Ini….”

“Ya, kepolisian menginginkan investigasi ulang untuk kasus kecelakaan Yeongsan satu tahun yang lalu,” kata Nyonya Kim muram.

Yeongsan… Jihyun… Taemin…

Kibum menggelengkan kepalanya. “Tapi kasus itu sudah ditutup!” katanya berang. “Persidangan sudah selesai, bahkan tersangkanya mengaku!”

Nyonya Kim mengangkat bahu. “Status kadaluarsa kasus itu belum tiba, Kibum-ah. Lagipula kepolisian yakin mereka menemukan bukti baru,” jelasnya dengan suara rendah.

Tidak! Kibum tidak bisa membiarkan Jihyun terlibat lagi dengan semua investigasi itu. Satu pertanyaan tentang Taemin bisa menghancurkan kestabilan Jihyun selama satu minggu. Ia tidak bisa membiarkan Jihyun melewati masa-masa sulit lagi karena mengingat Taemin.

“Bagaimana mungkin…?” tanya Kibum bingung.

“Salah satu kerabat Taemin di panti asuhan yang meminta kasus ini dibuka kembali,” jawab Nyonya Kim. “Dasar yatim piatu tak tahu diuntung!” umpatnya kasar.

Kibum diam saja, mempertimbangkan kemungkinan cara untuk keluar dari situasi ini tanpa mengorbankan Jihyun. Ada banyak ide, namun semuanya sama tak mungkinnya.

“Ibu tahu kau menyembunyikan Jihyun, Kibum-ah. Tapi sekarang sudah saatnya kau membawanya kembali ke rumah. Kepolisian akan senang sekali kalau tahu Jihyun menghilang dari rumah keluarga Kim,” kata Nyonya Kim sambil meneguk anggurnya.

Nyonya Kim meletakkan gelas anggur yang sudah kosong di atas meja, lalu menatap Kibum serius. “Pikirkan baik-baik, Anakku Sayang,” ujarnya, kemudian bangkit dengan anggun dan meninggalkan Kibum di ruang kerja.

Simfoni

Hyeki terburu-buru menyeberangi jalanan yang cukup ramai di waktu makan siang. Ia baru saja bebas dari shift pagi. Tadinya ia bermaksud langsung pulang dan beristirahat di kamar asrama residen, namun Jinki tiba-tiba meneleponnya dan mengajak makan siang. Mana mungkin Hyeki menolak kesempatan bertemu dengan Jinki sejak terakhir kali mereka menemukan boks peninggalan Taemin di gudang apartemen.

Kasus kecelakaan Yongsan yang menewaskan Taemin satu tahun yang lalu kembali dibuka. Hyeki sudah tahu itu akan terjadi karena ia mengenal Jinki dengan baik. Jinki tidak akan menyia-yiakan satu kesempatan untuk menemukan kebenaran dari kematian Taemin. Analisa sidik jari dan tulisan tangan membuktikan bahwa kertas partitur musik itu itu benar-benar milik Taemin. Sampai saat ini Hyeki masih merinding mengetahui kenyataan itu. Fakta bahwa ada orang yang menginginkan Taemin mati sungguh mengerikan. Taemin hanya pria biasa, yatim piatu yang berusaha menjalani hidup sebaik-baiknya.

Belum lagi kecurigaan Jinki bahwa keluarga Kim memiliki andil dalam kecelakaan itu. Hyeki mengerti maksud Jinki bahwa ada kemungkinan Taemin dibunuh karena hubungannya dengan Kim Jihyun, tapi ia sama sekali tak bisa menemukan motif yang bisa menjadi alasan rekayasa kecelakaan itu. Apakah kekayaan? Dendam? Sampai sekarang, mereka masih merahasiakan kecurigaan itu dari Sooyan, membuat Hyeki tak nyaman.

Hyeki mendorong pintu kafe hingga terbuka. Ia menemukan Jinki yang berseragam polisi duduk di dekat jendela dan langkahnya langsung terhenti saat ia melihat seorang wanita dalam balutan stelan blazer duduk di sebelah Jinki. Hyeki menelan ludah tak nyaman, sebelum menarik nafas dan melanjutkan langkahnya menuju meja Jinki. Setelah duduk, Hyeki bisa melihat bahwa wanita itu cantik dan anggun. Tipe wanita klasik. Usianya mungkin hampir sama dengan Jinki dan jelas lebih tua daripada Hyeki.

“Menunggu lama?” tanya Hyeki berbasa-basi.

Wanita itu menggeleng. “Tidak apa-apa, Hyek-ssi. Kami mengerti kesibukanmu sebagai residen,” jawab wanita itu.

Hyeki menahan diri untuk tidak mengernyit mendengar wanita itu menyebut dirinya dan Jinki sebagai ‘kami’ seperti satu paket.

“Ini Nam Bora,” Jinki memperkenalkan wanita itu pada Hyeki. “Ia temanku saat di Amerika dan sekarang bekerja di Firma Pengacara Han yang terkenal.”

Oh! Jinki tidak pernah bercerita apa pun tentang wanita ini pada Hyeki sebelumnya.

“Senang berkenalan dengan Anda, Bora-ssi,” kata Hyeki ramah.

“Aku juga senang bertemu denganmu,” sahut Bora tak kalah ramah. “Jinki bercerita banyak tentang adik-adiknya di panti asuhan, termasuk kau dan Taemin. Aku sendiri tidak seberuntung Jinki saat masih tinggal di panti asuhan.”

Jadi, Nam Bora juga seorang yatim piatu dan ia tahu latar belakang Jinki. Dan tentang yang diceritakan Jinki tentangnya pada Bora, bahwa ia hanya seorang adik….

“Bora akan menangani kasus Yongsan. Ia punya track record yang sangat baik. Kurasa kita bisa optimis,” kata Jinki penuh semangat memberitahu Hyeki.

Hyeki hanya mengangguk sambil memperhatikan bahwa Bora tersipu malu saat Jinki memujinya. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda di antara Jinki dan Bora. Cara Jinki beberapa kali memujinya. Cara Jinki menatap Bora yang penuh kekaguman. Interaksi akrab di antara mereka berdua dan gestur intim yang tidak pernah dilihat Hyeki dilakukan Jinki selain pada orang terdekatnya……

Rasanya seperti ada besi yang menghantam hati Hyeki saat ia sadar.

Jinki…. menyukai Bora.

Air mata mulai terkumpul di bawah kelopak mata Hyeki saat pikiran itu menghampiri, namun seseorang memanggil namanya membuat ia terdistraksi.

“Hyeki-ya!”

Hyeki menoleh dan menemukan Choi Minho berdiri di sampingnya, sedang menatap heran pada Jinki dan Bora.

“Pengacara Nam? Sedang apa kau disini?” tanya Minho heran.

Bora bangkit dan tersenyum pada Minho. “Halo, Direktur Choi. Saya hanya sedang makan siang bersama kolega. Apakah Anda ingin bergabung?” tawarnya. “Direktur Choi dari Flames Corp dan aku pernah bekerjasama,” jelas Bora pada Jinki.

Mengenali Minho sebagai sepupu Kim Kibum, Jinki hanya mengangguk, mempersilahkan pada kursi kosong di sebelah Hyeki.

Minho sudah hampir duduk, kalau saja Hyeki tidak tiba-tiba berdiri. Hyeki tidak sanggup kalau ia harus makan siang bersama Bora dan Jinki, ditambah lagi dengan Minho. Ia buru-buru menyambar tasnya.

“Jinki oppa, kurasa aku harus kembali ke asrama sekarang. Aku akan meneleponmu lagi untuk hal ini,” katanya berusaha keras agar suaranya tidak bergetar, sebelum pamit dengan terburu-buru dan melesat keluar kafe tanpa menunggu jawaban dari siapa pun.

Hyeki merasa seseorang mengejarnya dari belakang. Lengan Hyeki ditarik dan tubuhnya dipaksa berbalik membuat Hyeki berhenti berjalan. Minho memegang lengan Hyeki erat. Ekspresi wajahnya khawatir sekali.

“Kau seharusnya tidak pergi begitu saja karena aku bergabung makan siang bersama kalian, Hyeki-ya. Kau seharusnya bilang keberatan dan aku akan pergi,” kata Minho pelan.

Hyeki menggeleng, berusaha melepaskan pegangan Minho darinya. Minho hanya sedikit alasan untuk lari dari acara makan siang itu. Jinki menyukai Bora. Pemikiran itu terus menerus mengisi kepalanya, membuat Hyeki ingin meledak dalam tangis dan ia tidak bisa melakukannya di sana.

Semakin keras Hyeki memberontak, Minho malah semakin erat memegangnya.

Waeyo, Park Hyeki?! Aish, jangan membuatku khawatir!” tanyanya frustasi, menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dari kondisi Hyeki.

Hyeki menggeleng lagi, masih berusaha lepas dari Minho.

“Siapa mereka? Apa dia mantan kekasihmu? Apa dia menyakitimu?” tanya Minho lagi bertubi-tubi. Konfrontasi mereka mulai menarik perhatian para pejalan kaki di sekitar mereka. “Ya! Jawab aku, Park Hyeki!”

Satu teriakan itu akhirnya membuat pertahanan Hyeki runtuh. Tanpa bisa ditahan, air matanya tumpah begitu saja. Minho tertegun melihat Hyeki mendadak menangis, akhirnya hanya bisa pasrah dan menarik Hyeki ke dalam pelukannya. Hyeki terlalu emosional untuk protes, membiarkan dirinya menyerah pada Minho dan menangis, terus menangis sampai ia lupa mengapa ia harus menangis.

Para pejalan kaki yang tadinya tertarik mulai membubarkan diri saat Hyeki menangis dan tepat di depan kafe, Jinki bersama Bora menatap Hyeki yang dipeluk Minho erat.

Simfoni

“Ini Jihyun,” Kibum memperkenalkan sosok gadis dalam pakaian rumah sakit kepada Sooyan.

Gadis itu berambut hitam kecoklatan dengan mata cokelat yang besar. Ia kurus, pucat dan kira-kira usianya mungkin hampir sama atau lebih muda daripada Taemin. Gadis itu cantik dan Sooyan bisa melihat beberapa garis wajah yang mirip sekali Kibum.

Sooyan tersenyum ramah pada gadis itu. “Halo, Jihyun-ah. Aku Kim Sooyan,” ia menyapa Jihyun.

Dalam hati, ia sedikit cemas menunggu respon Jihyun terhadap dirinya. Salah-salah kehadirannya bisa menimbulkan ketidakstablian emosi bagi Jihyun. Tapi Jihyun balas menatapnya lekat-lekat seolah sedang berusaha mengingat-ingat dimana ia pernah melihat Sooyan sebelum ini, meskipun akhirnya gadis itu menggeleng pelan dan balas tersenyum pada Sooyan yang mau tak mau menghela nafas lega.

Hari ini Kibum menepati janjinya untuk memperkenalkan Sooyan pada Jihyun. Sooyan tahu ia adalah salah satu dari sedikit orang yang dibiarkan Kibum untuk mengenal Jihyun. Ia bersyukur Kibum mau membuka diri mengenai itu. Ia sendiri menimbang-nimbang mungkin ia juga akan segera menceritakan pada Kibum mengenai keluarga yang didapatnya di panti asuhan.

Barang-barang Jihyun sudah dipak. Kibum sudah memberitahu Sooyan bahwa ia akan memindahkan Jihyun ke penthouse yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu. Sooyan tidak banyak bertanya mengapa Kibum mendadak mengajak Jihyun pindah dan mengapa pria itu tidak membawa Jihyun pulang ke rumah besar keluarga Kim. Ia hanya menggangguk dan berjanji membantu Kibum pindah bersama Jihyun hari ini.

Sejauh ini, tidak ada yang terlihat aneh dari Jihyun. Ia memang pendiam. Lebih sering menatap kejauhan dengan pandangan menerawang. Namun Jihyun selalu merespon perkataan Sooyan dengan baik layaknya seseorang yang normal. Kibum bicara dengan Jonghyun untuk mengurus berkas kepindahan terakhir kalinya sebelum mereka berkendara menuju penthouse Kibum bersama dua suster jaga 24 jam yang ditugaskan Jonghyun untuk mengawasi Jihyun selama di rumah.

Tiba di penthouse, Sooyan membantu Jihyun menata barangnya di kamar sedangkan Kibum sedang sibuk mengurus barang miliknya sendiri. Mereka hanya berdua saat itu, namun Sooyan sama sekali tidak merasa kehadiran Jihyun sebagai sesuatu yang asing. Ia sudah bisa menganggap Jihyun layaknya adik sendiri seperti Taemin. Justru tiba-tiba Jihyun yang mengajaknya bicara, sedikit mengagetkan Sooyan.

“Sooyan eonni,” panggil Jihyun. “Apa boleh aku memanggilmu begitu?”

Sooyan tertawa kecil. “Tentu saja.”

Jihyun tersenyum. “Apakah eonni kekasih Kibum oppa?” tanyanya.

“Kenapa kau berpikir begitu?” Sooyan balik bertanya.

Oppa tidak pernah mengenalkanku dengan wanita mana pun sebelum ini. Ia tidak pernah benar-benar punya pacar,” cerita Jihyun polos.

Kali ini Sooyan tertawa lebih keras. “Itu karena kau istimewa, Jihyun-ah, jadi hanya dikenalkan pada orang tertentu saja,” sahut Sooyan.

Jihyun menggeleng sedih. “Tidak apa-apa, eonni, tidak perlu bohong. Aku tahu alasannya bukan karena itu, tapi itu terjadi karena aku sakit. Eomma juga tidak pernah menyukaiku,” katanya menghela nafas.

“Apa maksudmu, Jihyun-ah?” tanya Sooyan.

Meski ia tahu hubungan buruk antara Jihyun dan ibunya, Sooyan sama sekali tidak menyangka bahwa Jihyun mengerti dan sadar akan situasi itu.

“Kibum oppa tidak memberitahumu eonni?” Jihyun justru balik bertanya. Sikapnya saat menjawab terlihat sedih, sekaligus berusaha tak peduli. “Aku bukan putri kandung Nyonya Kim. Aku adik tiri Kibum oppa. Kami memiliki ibu yang berbeda.”

Astaga! Sooyan tercengang mendengar fakta itu. Ia sekarang mengerti mengapa Nyonya Kim begitu membenci Jihyun. Beliau pasti marah karena harus membesarkan putri suaminya dari wanita lain. Tak heran mengapa Kibum begitu melindungi Jihyun dan menjauhkan gadis itu dari ibunya. Dalam hati, Sooyan bertanya-tanya apakah kondisi psikologis Jihyun dipengaruhi oleh kondisi keluarganya? Atau adakah trauma lain yang memicunya?

“Ibuku meninggal waktu aku kecil dan Nyonya Kim terpaksa harus membesarkanku. Beliau sama sekali tidak menyukaiku. Menganggap semua orang miskin sama hinanya dengan ibuku yang mencoba merayu suaminya. Tapi tahukah eonni kalau karma bisa terjadi?” Jihyun tertawa getir. Ia memainkan ujung bajunya dengan tak fokus.

Kemudian ia melanjutkan. “Aku justru jatuh cinta dengan orang miskin. Yatim piatu,” kata Jihyun pelan. Ia meraih sebuah bingkai foto dari dalam salah satu kardus yang memuat barang-barang pindah rumah miliknya, kemudian menyerahkannya pada Sooyan. “Dia tampan, ‘kan?”

Jantung Sooyan mencelos saat melihat wajah yang tersenyum dalam bingkai foto itu.

“Namanya Lee Taemin. Ia pria baik dan ramah, tapi Eomma begitu membencinya. Beliau selalu berusaha memisahkanku dengan Taemin. Membuatku masuk rumah sakit dan bahkan berbohong mengatakan Taemin sudah meninggal,” jelas Jihyun lagi.

Tangan Sooyan yang menggenggam bingkai foto itu bergetar. Oh, uri Taemin. Adiknya di panti asuhan. Ia menatap Jihyun sedih, merasakan matanya mulai berkaca-kaca, tak kuasa menahan letupan emosi dalam dirinya.

“Dan Taemin punya seorang noona yang bernama sama denganmu, eonni. Lucu sekali bukan?”

“Oh,” tanpa bisa menahan diri, Sooyan sudah memeluk Jihyun erat-erat, melepaskan tangisnya karena mengingat Taemin.

Eonni, kenapa menangis?” tanya Jihyun bingung.

Takdir mempertemukan mereka dengan kejam. Kibum dulu pernah bercanda dengan mengatakan bahwa dunia hanya sekecil daun kelor, namun sekarang Sooyan terpaksa harus menyetujui ucapannya. Bagaimana mungkin adik Kibum yang skizofrenia secara kebetulan adalah kekasih Taemin yang tak pernah dikenal Sooyan sama sekali? Bagaimana mungkin Hyeki merawat Jihyun tanpa tahu hubungan gadis itu dengan Taemin? Bagimana mungkin Kibum berteman dengannya tanpa menyadari bahwa Sooyan berhubungan erat dengan Taemin? Seolah mereka adalah segelintir orang dalam lingkaran maha tak sempurna dan penuh kesedihan ini.

“Tidak apa-apa,” sahut Sooyan berusaha mengusai diri, mengusap ujung mata yang basah. “Aku hanya sedih mendengar ceritamu.”

Jihyun justru menepuk-nepuk bahu Sooyan pelan. “Tenanglah, eonni. Aku dan Taemin akan selalu bersama,” katanya menenangkan Sooyan, yang justru nyaris membuat Sooyan menangis lagi.

Dan di balik pintu kamar, Kibum mendengarkan semuanya.

Simfoni

Minho menyerahkan sekaleng minuman dingin yang diacuhkan oleh Hyeki. Gadis itu sekarang tidak mau memandangnya, hanya menunduk memandang tanah yang dipenuhi serbuk bunga yang berjatuhan.

“Oh, ayolah, Hyeki-ya! Kau sudah menangis sepuasnya di pelukanku dan sekarang menolak menerima minuman dariku?! Oh, aku terluka,” kata Minho dengan berlebihan. Ia memaksa meletakkan minuman kaleng itu dalam genggaman Hyeki.

Kali ini Hyeki menerima minuman itu meskipun masih menatap Minho galak yang justru dianggap Minho imut karena Hyeki masih berwajah merah dan bermata sembab.

“Terima kasih, tapi saya harus pergi,” potong Hyeki cepat, masih menggunakan bahasa formal ketika bicara dengan Minho membuat pria itu mendengus kesal.

Ia bangkit berdiri dari bangku yang mereka duduki di pinggir taman, namun Minho sudah mencekal tangannya.

“Tidak terlalu cepat, Hyeki-ya. Kau berhutang penjelasan padaku,” tuntutnya.

Biar bagaimana pun, Minho jelas merasa penasaran dengan mengapa Hyeki makan siang bersama seorang polisi muda yang wajahnya sangat familiar serta pengacara Nam. Kalau ia tidak salah dengar, mereka juga menyebut tentang Yongsan, tempat yang amat dihafal Minho sebagai lokasi kecelakaan Jihyun dan Taemin. Serta mengapa Hyeki harus pergi dari sana sambil menangis. Apakah pria itu kekasihnya? Apakah pengacara Nam selingkuhan pria itu? Aaargh, Minho merasa otaknya seperti memiliki suplai drama berlebihan.

Hyeki mengibaskan tangan, melepaskan cengkraman Minho. “Sudah saya bilang berkali-kali bahwa Anda harus berhenti. Kita tidak akan bisa bersama,” jerit Hyeki frustasi.

Minho menggeleng dan berkata, “Aku tidak mau mendengar alasan klise seperti status, Hyeki.”

Gadis itu menghela nafas dalam-dalam. “Ada alasan yang lebih besar mengapa kita tidak bisa bersama, Tuan Choi Minho. Kalau Anda tahu, saya yakin Anda akan berpikir dua kali mengenai kita,” ujar Hyeki lemah.

Ada sesuatu dari cara gadis itu bicara yang begitu menganggu Minho. Seolah ada rahasia besar tersembunyi yang harus dipecahkannya dan firasat Minho mengatakan itu bukanlah rahasia yang menyenangkan.

“Tolonglah, biarkan saya pergi,” mohon Hyeki putus asa.

Tanpa sadar, Minho melepaskan pergelangan tangan Hyeki, membiarkan gadis itu pergi dengan terburu-buru dari hadapannya.

Benaknya terus berputar-putar memikirkan alasan mengapa Hyeki harus mengatakan hal itu hanya demi membuatnya menjauh. Ia mengingat-ngingat seluruh detil yang pernah dikatakan Sooyan mengenai Hyeki dan apa yang diketahuinya tentang Hyeki. Panti asuhan. Malam peringatan kematian. Residen spesialis penyakit kejiwaan. Polisi muda yang familiar. Pengacara Nam. Sekretaris Kibum. Status.

Oh. Oh. Oh!

Tidak! Minho tidak boleh mengambil keputusan sendiri. Ia harus mengkonfirmasi kebenarannya pada Kibum, satu-satunya orang yang terkait dalam seluruh masalah ini.

Simfoni

Kibum sudah tahu ada sesuatu yang salah dari Sooyan saat ia mengantar wanita itu pulang. Sooyan hanya diam saja sepanjang perjalanan tanpa sama sekali berkomentar apa pun mengenai pertemuan pertamanya dengan Jihyun.

Sejujurnya Kibum merasa lega pertemuan pertama antara Jihyun dan Sooyan berlangsung lancar. Jihyun cenderung bereaksi tak terduga terhadap orang-orang yang dekat dengan Kibum dan reaksi tak terduga itu cenderung meninggalkan bekas yang tidak menyenangkan dengan orang yang mengenal Jihyun. Untunglah, Jihyun terlihat bisa menerima Sooyan dengan baik. Bahkan mau menceritakan rahasia pribadi dengan sukarela meski mereka baru saling mengenal.

Sooyan juga terlihat sangat menghargai Jihyun, memperlakukan adik Kibum itu senormal mungkin dan Kibum merasa sangat terharu akan itu. Diam-diam ia tersenyum sendiri ketika mengingat ‘tuduhan’ Jihyun akan dirinya dan Sooyan, bahwa mereka sepasang kekasih. Ah, entahlah, seakan ada secercah perasaan bahagia dalam diri Kibum meski itu hanya sekedar tuduhan.

Baiklah, lupakan masalah perasaannya. Kibum harus tahu apa yang menganggu Sooyan.

“Sooyan-ah…” panggilnya berusaha memulai obrolan.

Yang dipanggil sama sekali tidak menjawab, hanya membuang muka menatap jalanan.

Kibum tak ingin menyerah begitu saja. “Apa kau terganggu mengetahui siapa ibu kandung Jihyun sebenarnya?” tanyanya. “Atau apa kau tak nyaman mendengar semua curhat—“

“Taemin…” potong Sooyan pelan membuat Kibum tertegun.

“Apa?” tanyanya bodoh.

“Kenapa kau tak pernah cerita padaku kalau Taemin adalah penyebab Jihyun menderita skizofrenia?” Sooyan balik bertanya, menatap Kibum lekat.

Ada nada menuduh dalam kalimatnya yang menohok Kibum.

“Jihyun sudah punya kecenderungan skizofrenia ringan sejak remaja. Taemin… hanya memicunya menjadi lebih parah,” jelas Kibum, masih tak mengerti kemana arah pembicaraan ini. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang Taemin?”

Sooyan menarik nafas dalam dan membuangnya keras-keras. “Aku pernah bercerita padamu kan tentang keluargaku di panti asuhan, bukan?” Ia memulai, lalu menambahkan, “Selain Hyeki, yang termuda di antara kami adalah Taemin.”

Keheningan mengisi ruang di antara mereka sementara Kibum mencerna maksud kalimat Sooyan.

“Mustahil…. Lee Taemin kekasih Jihyun dan Lee Taemin keluargamu….”

“Adalah orang yang sama,” Sooyan menyelesaikan ucapan Kibum.

Bulu kuduk Kibum berdiri saat menyadari kebetulan yang tidak beruntung ini. Astaga!

“Lalu kecelakaan Yongsan itu…” tenggorokan Kibum tercekat.

Sooyan mengigit bibirnya, mencegah air matanya jatuh. “Ia tewas di sana.”

Sekarang Kibum mengerti mengapa Sooyan menangis saat melihat foto Taemin yang disimpan Jihyun. Ada perasaan bersalah yang menyelinap dalam hati Kibum. Fakta bahwa adiknya selamat dalam kecelakaan itu sedangkan Sooyan harus kehilangan anggota keluarga yang disayanginya untuk kedua kali.

“Maafkan aku, Sooyan-ah,” ujar Kibum meski ia tahu itu bukan salahnya.

“Kau tidak perlu minta maaf,” kata Sooyan pelan. “Pastikan saja Jihyun tahu yang sebenarnya.”

Kibum mengangguk walaupun ia tahu ia tidak dapat memenuhi janji itu.

“Kenapa kau harus menyembunyikan Jihyun?” tanya Sooyan lagi. “Aku tidak ingin ikut campur, tapi kau mendadak memindahkannya dari rumah sakit, lalu menjauhkannya dari ibumu. Kalau itu tidak ada kaitannya dengan Taemin, kau tidak perlu menjawab pertanyaanku.”

Kibum mendesah. Sooyan begitu berhati-hati bersikap dengannya saat ini. “Aku tidak menyembunyikannya, Sooyan-ah. Hanya saja semakin sedikit kontak Jihyun dengan kasus Yongsan, maka semakin sedikit frekuensi episodenya kambuh,” jawab Kibum. “Apalagi dengan rencana kerabatmu untuk meninjau ulang kasus kecelakaan Yongsan.”

Alis Sooyan terangkat mendengar kalimat terakhir Kibum, namun ia tidak bertanya apa-apa lagi.

Ponsel Kibum bergetar sekali, notifikasi dari pesan masuk. Kibum menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala dan menggunakan kesempatan itu untuk membaca pesan tersebut. Dari Minho. Isinya singkat saja, namun membuat jantung Kibum berdegup kencang tak nyaman.

‘Jauhi Sooyan!’

*tbc*

a/n a very late update

please review

qL^^

Advertisements

2 thoughts on “Simfoni – La

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s