About Half [3]

AH

About Half

By qL^^

Disclaimer : This is work of fiction. The Mortal Instruments are Cassandra Clare’s and all mentioned artists belonged to themselves. Footnote credits to shadowhunter.wikia.com

No profit is intended.

Being Thomas Parabatai was like a glass with half-filled water

Is it half-full? Or half-empty?

Angin malam berhembus cukup keras, menerbangkan dedaunan kering di pinggir jalan. Alicia dan Thomas berjalan bersisian menelusuri rute patroli mereka malam itu. Malam sudah larut dengan bulan purnama menerangi langit yang kelam. Dari kejauhan, mereka bisa mendengar siulan Anak-anak Bulan, sekelebat bayangan motor terbang Anak-anak Malam dan Perburuan Liar bangsa Peri di sela-sela hiruk pikuk dunia malam kaum Fana.

Thomas dan Alicia tidak menggunakan Tudung Pesona malam ini. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan dan mereka juga tidak terlihat mencolok. Namun sedari tadi, saat berpapasan dengan gadis-gadis kaum Fana, Alicia tidak bisa berhenti menyadari bahwa gadis-gadis itu sering sekali menoleh dua kali untuk melihat Thomas lebih baik dan dilihat dari seringai puas di wajahnya, Alicia tahu Thomas menikmati perhatian itu. Diperhatikan baik-baik, Thomas memang terlihat keren dalam seragam tempur pemburu bayangan yang serba hitam. Tingginya yang mencapai 5’6’’ terlihat lebih tinggi dengan sepatu bot tempur. Rambut pirangnya kontras dengan seragam gelap. Dia memang tampan.

“Berhentilah tersenyum seperti itu,” dumal Alicia memukul bahu Thomas pelan.

Thomas terkekeh, merangkul gadis itu mendekat. “Bukankah kau senang bisa bersama dengan cowok keren?”

Alicia mendengus. “Aku sudah melihat sisi terjelekmu yang bisa mengalahkan seluruh pesona yang kau sebut keren itu, Tommy,” jawabnya menjulurkan lidah mengejek.

Thomas tidak membalas, hanya membiarkan dirinya tetap merangkul gadis itu selama mereka terus berjalan.  Mereka berbelok ke arah Hotel Gibroni, hotel tua yang tak jauh dari Institut dan mendadak Sensor Iblis di pergelangan tangan Alicia berdenyut-denyut. Dia berhenti tepat di depan pintu hotel membuat Thomas ikut berhenti dan menatapnya heran.

“Ada apa?” tanyanya dalam bisikan.

Alicia mengigit bibir, mengangkat pergelangan tangannya ke dekat wajah Thomas untuk menunjukkan Sensor Iblis pada gelangnya yang berubah warna menjadi biru terang dan berdenyut. Thomas mengeluarkan Stela miliknya, menggambar rune Tudung Pesona pada lengan atasnya dan pergelangan tangan Alicia. Dalam sekejap mereka berdua kini tak terlihat lagi oleh kaum Fana.

“Sebaiknya kita kembali ke Institut dan melapor pada Mr Edward,” kata Alicia saat mengamati hotel tua itu.

Namun Thomas menahan lengannya. Seringai muncul di wajah pemuda itu. Alicia mengenal dengan baik ekspresi itu. Thomas sedang ingin membuktikan diri sebagai pemburu bayangan. “Kurasa lebih baik kita periksa dulu. Apakah benar-benar iblis yang ada di dalam sana atau ini hanya sisa-sisa pekerjaan mereka,” kata Thomas, mengeluarkan Pisau Seraph dari sabuk senjatanya.

“Tommy….” protes Alicia tak setuju.

“Ayolah, Ally,” bujuk Thomas. “Kalau kau tidak mau, aku akan masuk sendiri,” putusnya.

Alicia menghela nafas. Thomas tahu benar ia tidak akan membiarkan Thomas masuk hotel sendirian. Lagpula ia mempercayai Thomas lebih dari hidupnya sendiri. Jadi, ia mengeluarkan Suluh Sihir dan Pisau Seraph, mengikuti Thomas yang sudah masuk ke dalam hotel.

Lobi hotel itu gelap dan berbau aneh seperti campuran dupa, bunga-bunga dan darah. Alicia merasakan denyut sensornya bertambah keras saat ia melangkah semakin jauh memasuki hotel. Thomas berjalan beberapa meter di depannya. Rune hening dalam langkah mereka membuat suasana hotel semakin hening. Alicia mengangkat Suluh Sihirnya tinggi-tinggi, berusaha menerangi sejauh mungkin lobi.

“Kurasa bukan di sini,” Alicia memberitahu Thomas.

“Tetap berjalan di belakangku, Ally,” Thomas menginstruksikan gadis itu yang mengangguk.

Mereka berjalan terus, memasuki lorong sebelah kanan yang mengarah pada ruang luas yang mirip ballroom. Ada siluet benda-benda besar yang secara samar terlihat saat Suluh Sihir berusaha menerangi. Alicia menajamkan pendengarannya. Kalau ada satu hal yang bisa diandalkan dari dirinya adalah pendengaran yang tajam memberinya keuntungan bertarung dalam kondisi minim cahaya seperti ini.

Ada gerak samar dari sebelah kanan dan sensor Alicia berdenyut lebih keras sampai terasa sakit. Alicia mendorong Thomas menjauh dari sisi kanan, menarik keluar Pisau Seraph dan melemparkannya sambil berteriak, “Raphael!”

Adamas* dalam pisau itu menyala, merespon panggilannya dan mengoyak kulit iblis yang menyerang mereka. Iblis itu mengeluarkan bunyi kesakitan kemudian musnah menjadi tumpukan abu.

Thomas sama sekali tidak terlihat terkejut dengan serangan tiba-tiba barusan. Ia hanya menepuk bahu Alicia, sambil berkata, “kerja bagus, Ally.”

Alicia mengangguk, menelan ludah tak nyaman, menemukan satu iblis bisa jadi indikator ada lebih banyak lagi jenis mereka di tempat ini.

Bau dupa, bunga dan darah itu semakin tajam saat mereka semakin dekat dengan bagian tengah ruangan luas itu. Sensor iblis Alicia kini sudah berhenti berdenyut, hanya menyisakan perubahan warna yang masih biru terang.

“Apapun yang mereka lakukan di sini, kurasa mereka sudah menyelesaikan pekerjaannya,” ujar Thomas, mengarahkan Suluh Sihir menerangi jejak bunga di lantai.

Nafas Alicia tercekat.

“Tommy, kurasa mereka baru memulai,” bisiknya lirih.

Suluh Sihir Alicia terangkat tinggi, menerangi ruangan luas yang sepertinya memang dulunya adalah ballroom. Di tengah ruangan ada sebuah altar. Bukan seperti altar gereja, namun seperti altar dalam pesta pernikahan. Tiang-tiang dihiasi bunga-bunga yang berbau sama seperti yang mereka baui sejak awal. Ada dupa dan persembahan di meja dekat altar. Dan bau darah tadi berasal dari sini.

Rune-rune dilukis dengan darah di lantai altar membuat perut Alicia mual. Alicia mengenal rune-rune itu : Rune Iblis yang pernah dilihatnya dalam koleksi buku-buku di perpustakaan Institut dan di rumah Magnus.  Thomas ikut mendekat untuk mengamati rune itu bersama Alicia. Meneliti deretan alfabet yang tumpang tindih dengan rune-rune di atasnya.

Hell….. no,” umpat Thomas tak percaya. Suaranya putus asa.

Alicia juga bisa melihatnya.

LUCY.

*Adamas adalah metal surgawi yang ditemukan di dasar Idris (Negara Pemburu Bayangan) yang digunakan untuk membuat alat-alat seperti pisau Seraph, Stela, Suluh Sihir dan lain-lain bagi Pemburu Bayangan. Adamas ditempa oleh Saudari Besi, satu-satunya yang mampu menangani material tersebut.

a/n little bit late

still hope for review

qL^^

Advertisements

6 thoughts on “About Half [3]

  1. Huwahhh!! Aku kedampar disini gara2 blog FF Chanyeol, dan langsung nyerbu epep ini gara2 ketarik sama foto thomas. Aaaaaa thomas!!
    mbak, dirimu suka thomas ta?

    Like

  2. (sek pertama mau minta maaf dulu pasti notifmu tinung-tinung terus ya aku komen huhu maaf yaaa) pas mereka nemuin hotel, aku tuh yg: jangan masuk, jangan masuk, jangan, jangan. terus akhirnya mereka masuk. terus matiin iblis. terus yg pas Ally bilang mereka mau mulai atuh lah x(( sukaaaa sama penggambarannya. lanjut lanjut :))

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s