About Half [2]

AH

About Half
By qL^^

Disclaimer :
This is work of fiction. The Mortal Instruments are Cassandra Clare’s and all mentioned artists belonged to themselves.
No profit is intended.

Being Thomas Parabatai was like a glass with half-filled water
Is it half-full? Or half-empty?

“Oh, selamat sore, Ally,” Magnus Bane menyapa dari balik pintu rumahnya.

“Alicia, Mr Bane,” koreksi Alicia sambil masuk ke dalam apartemen Magnus. Alicia memperhatikan dekorasi furnitur apartemen Magnus yang kali ini bergaya Mediteranian, kontras dengan gaya klasik serba Inggris dalam lingkungan tempat tinggal mereka. Konon yang sering didengar Alicia dari para pemburu bayangan di Institut, Magnus memang senang mengubah dekorasi apartemennya sesuka hati, terutama saat dia masih tinggal tinggal di New York.

“Magnus saja, Ally,” kata Magnus. “Sudah berulang kali kukatakan padamu bahwa baru pertama kali selama eksistensiku seorang anak pemburu bayangan begitu sopan memanggilku Mister,” tambahnya dengan nada mengeluh.

Sebuah tawa kecil terdengar dari Alicia. Magnus Bane adalah Warlock* Tinggi Brooklyn yang sekarang tinggal di Edinburgh. Alicia dan Thomas sering mengunjungi Magnus ketika mereka punya waktu senggang dan Warlock itu sedang baik hati menerima tamu. Lagipula Magnus senang berpesta dan sejak Thomas cukup umur, mereka berdua sudah menjadi tamu tetap dalam pesta Magnus.

“Ada maksud apa atas kunjunganmu kemari, Ally sayang?” tanya Magnus pada Alicia yang sudah duduk di sofa sambil melipat kaki. Chairman Meow sudah melingkar di atas pangkuan gadis itu sambil mendengkur selama Alicia menggaruk telinganya.

Alicia mengangkat bahu. “Tidak ada. Aku bosan,” jawabnya singkat.

Mata Magnus menyipit curiga. “Kau tidak berencana melakukan sesuatu yang terlarang bukan?”

Kali ini Alicia tertawa geli. “Tentu saja tidak. Aku sudah menyerah belajar sihir Warlock, ingat? Keturunan Nephilim dari ritual Naik tidak cukup kuat untuk menghasilkan sihir apa pun,” jawabnya.

Keluarga Carter dan keluarga Sangster bukan keluarga yang memiliki darah Nephilim secara turun menurun. Pada akhir Perang Gelap di tahun 2007, Kunci merekrut cukup banyak kaum Fana untuk mengemballikan keseimbangan jumlah populasi Nephilim. Kakek dan nenek keluarga mereka termasuk yang terpilih dalam ritual Naik. Magnus Bane sendiri ikut serta dalam ritual tersebut, itulah sebabnya ia mengenal keluarga mereka dan mengapa mereka tak pernah dilarang berteman dengan Magnus.

“Di mana Thomas?” tanya Magnus, akhirnya menyinggung subjek yang sangat ingin dihindari Alicia untuk dibicarakan saat ini.

“Kencan,” Alicia berusaha menjaga nada bicaranya agar terdengar biasa saat menjawab, namun gagal.

Alis Magnus terangkat naik. “Kencan? Dengan Lucy si Pirang dan Cantik?”

“Uh huh.” Jawabnya sambil lalu.

Magnus berdecak. “Astaga, kupikir Thomas bercanda saat dia memberitahuku kalau dia berkencan dengan kaum Fana,” komentarnya sambil menyeduh sesuatu yang berbau seperti teh hijau. “Harusnya aku tahu dia tidak bercanda saat melihat kalian berpisah begini. Mana pernah kalian berdua tidak bersama saat mengacau apartemenku sejak kau mendapatkan rune pertama.”

Alicia ingat itu. Saat itu dia masih berumur 11 tahun dan Thomas berumur 13 tahun. Dia sudah menunggu saat mendapatkan rune pertama dan sangat bersemangat menunjukkannya pada Magnus. Mereka nyaris menyenggol dan menumpahkan sekuali penuh ramuan-entah-apa milik Magnus yang bisa meledakkan apartemen. Alicia jadi ingin tertawa mengingat itu, namun urung saat dia ingat mereka masih membicarakan Thomas.

Alicia menggeleng. “Kau mengenal Thomas, dia tidak pernah bercanda. Seperti apapun yang dikerjakannya, Thomas serius berkencan dengan gadis itu,” jelasnya.

“Mungkin gadis itu memang pantas untuk dianggap serius?” Magnus mencoba menawar.

“Thomas terus menerus bicara tentang mungkin saja Lucy itu Fana yang Berbakat atau justru punya darah pemburu bayangan yang tersembunyi sepertI Clarissa Fairchild. Dia terus menerus bicara bahwa mereka mirip Clary dan Jace. Aku tahu Clary dan Jace. Lucy sama sekali tidak seperti Clary. Dia itu…. dia itu hanya Fana biasa,” kata Alicia penuh penderitaan. Ia menunduk sambil berpura-pura memperhatikan bulu Chairman Meow dalam genggamannya. Ia tahu Magnus memperhatikan ekspresinya. Ia hanya bisa berdoa semoga ekspresi datar yang dipelajarinya bertahun-tahun dan minimnya cahaya dalam apartemen Magnus akan menyembunyikan ekspresi yang sebenarnya.

Magnus menyeruput teh hijau itu. Mata kucing khas Warlocknya masih tak lepas menatap Alicia. “Kau tidak terdengar senang.”

Yang dikatakan Magnus barusan itu fakta, bukan komentar asal lempar. Sebuah kejujuran yang terang-terangan.

“Memang,” sahut Alicia sama jujurnya. “Dia mencuri sahabat baikku.” Bahkan Alicia sendiri bergidik mendengar betapa cara bicaranya dipenuhi kebencian dan kegusaran yang mendalam.

Hening. Tidak ada suara di dalam apartemen seolah-olah mendadak ia menjadi tuli atau apartemen itu berubah menjadi hampa udara. Bahkan Chairman Meow pun berhenti mendengkur meski Alicia masih terus menggaruk telinganya. Ia terpaksa mengangkat wajah untuk memastikan bahwa Magnus masih duduk di kursi bar dapur sambil menyesap teh. Bukan menghilang ke suatu tempat dengan manteranya.

Dan ya, Magnus memang masih di sana.

Tapi kini ekspresinya berubah dan Alicia sama sekali tidak menyukai ekspresi jenis itu dari Magnus.

“Sejak kapan?”

Pertanyaan Magnus sangat tepat sasaran, tapi Alicia berpura-pura tak tahu. “Apa?”

Magnus berdesis tak sabar. Warlock itu berpindah dari kursi bar dan duduk di sofa di sebelah Alicia agar dapat melihat gadis itu lebih jelas. Chairman Meow tiba-tiba melompat turun dari pangkuan Alicia, pergi dengan ekor bergoyang seolah sekongkol dengan Magnus agar gadis itu tidak punya alasan untuk terdistraksi dengan interogasi yang akan dilakukan selanjutnya.

“Aku sudah cukup tua untuk bisa membaca ekspresimu, Ally sayang,” kata Magnus dengan lembut sekaligus mendesak. “Sejak kapan?” tanyanya lagi.

Alicia terdiam sejenak. “Aku tidak tahu,” akunya pelan.

Magnus menghela nafas. “Ah, tentu saja. Kau terlalu sering bersama Thomas sampai kau tidak sadar dan Thomas tidak pernah berkencan sebelum ini. Lalu ketika kau sadar, kau sudah benar-benar kehilangan Thomas. Pemburu bayangan memang aneh,” komentar Magnus sambil mengibaskan tangan.

“Kau tidak boleh jatuh cinta pada parabataimu sendiri. Itu ilegal!” ujar Alicia keras sampai dirinya sendiri terkejut dengan volume suaranya yang tinggi.

Magnus menggeleng tak setuju. “It wasn’t forbidden to fall in love, but to act upon it. Perasaan toh tidak bisa dilarang,” sahutnya sambil mengoyang-goyangkan telunjuk di depan wajah Alicia.

Alicia menghela nafas. Dia sama sekali tidak menyangka datang ke apartemen Magnus justru memaksanya bicara mengenai hal yang selalu ditutupinya dari siapa pun. Rahasia terdalamnya. “Aku tidak tahu harus melakukan apa,” katanya putus asa.

“Kalau begitu jangan lakukan apapun, biarkan Thomas yang memilih,” kata Magnus sembari menepuk pundah Alicia.

Magnus benar.

“Ah, perbincangan ini menambah kelam suasana apartemenku saja,” keluh Magnus lalu bangkit dari posisi duduknya, lalu berputar-putar mengelilingi apartemen.

“Bagaimana kalau kita mengubah suasana menjadi lebih ceria, Ally sayang? Kau ingin gaya apa? Princess Disney? Mungkin aku berbaik hati membiarkanmu mencoba sihir warlock lagi. Sedikit sihir untuk bantalan Chairman Meow sepertinya tidak masalah.”

Racauan demi racauan terus keluar dari mulut Magnus dan Alicia mau tidak mau tersenyum geli.

Mungkin memang keputusan yang tepat untuk datang kemari.

—-

*Warlock yang dikenal juga sebagai Anak-anak Lilith adalah ras immortal yang termasuk golongan Penghuni Dunia Bawah yang merupakan keturunan campuran dari kaum Fana dan Iblis. Mereka memiliki bakat menggunakan sihir.

a/n will continue this mini series in euphoria after finishing the mortal instruments 🙂

mind to review?

qL^^

Advertisements

2 thoughts on “About Half [2]

  1. daaan… karakter Magnus favoritku! ahhh dia keren banget jadi kakak cowok huhu. penyayang xD omg Magnus sini maen ke rumah dong biar bisa gonta-ganti gaya ruangan biar ga bosen haha. aku suka itu si Meow yg langsung ngibrit kaya: wah wah udah serius. ga ikutan ah ga ikutan.
    terus terus aku sukaaaa Alicia-nya yg kayak bingung sama galau gituu. more human aku bilang hihi.
    oiyaaa. tadi nemuin ada kata ‘merubah’. itu maknanya ‘menjadi rubah’, kata bakunya me + ubah itu mengubah hehe. termasuk kata yg paling banyak salah penggunaannya sih hehe. maaf tiba tiba ngoreksiin ginii :((
    aku lanjut baca lagi yaah!

    Like

    1. iyaa, Magnus itu memang cocok dijadiin karakter kayak gt secara dia udah hidup lama banget dan pacaran dengan semua golongan makhluk hidup mulai dari peri sampai permburu bayangan haha. Dan Chairman Meow musuh sejati Simn juga lucu menurutku wkwkwk, favorit!

      siaap, makasih infonya sudah aku edit 🙂 #gercep

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s