Confession of The Day

A story by qL^^
casts Do Kyungsoo, You, and mentioned EXO members genre school-life!AU, semi-romance, friendship lenght ficlet rating general backsong EXO – Call me baby

COTD

Confession of The Day

Chaos!

Aku sama sekali tidak menyangka kecelakaan kecil saat praktikum bisa membuat kerusuhan sebesar ini. Salahkan Min Doori. Gadis menyebalkan itu dengan sengaja menyenggol jatuh tabung reaksi kimia membuatku mau tak mau membantu membereskan pecahan tabung dan akibatnya salah satu tabung malah menancap di telapak tanganku. Darah mengalir pelan di antara pecahan tabung dan kulitku dan Min Doori bukannya menolong malah berteriak-teriak heboh.

“Oooh, dia berdarah! Berdarah!”

Ingin sekali aku memarahi gadis itu, tapi rasa nyeri yang mulai menyebar di tanganku membuatku terpaksa tutup mulut. Teriakan Doori telah membuat sahabat-sahabatku ikut panik. Mereka mendekatiku dengan terburu-buru, mengabaikan percobaan kimia yang beberapa menit yang lalu mereka lakukan dengan penuh konsentrasi. Chanyeol, si paling tak bisa diam, yang pertama tiba di hadapanku, disusul Baekhyun, si raja berlebihan dan Jongin, si iseng.

Tangan Chanyeol yang besar memegang tanganku yang luka dan ikut meringis. Baekhyun menggelengkan kepala khawatir dan mengomeli Doori sedangan Jongin hanya mendecakkan lidah sambil mengataiku ceroboh. Aku sudah tahu itu, Jongin, omelku dalam hati sambil menahan diri untuk tidak menjitak Jongin dengan tanganku yang sehat.

Guru Kim sudah tiba di kursiku, memperhatikan tanganku yang terluka yang masih dipegang Chanyeol. Guru itu menghela nafas, namun segera mengambil tindakan.

“Ketua kelas!” panggil Guru Kim. “Tolong bawa dia ke ruang kesehatan!”

Chanyeol langsung protes. “Biar kami saja, Guru Kim!”

Guru Kim menggeleng, lalu menatapnya galak. “Kalian punya tugas yang harus diselesaikan, Park Chanyeol, Byun Baekhyun dan Kim Jongin! Biar Ketua Kelas yang membantunya. Mengerti?”

Tidak ada yang akan membantah kalau Guru Kim sudah berkata dengan nada final (dan galak) seperti tadi. Jadi sahabat-sahabatku membubarkan diri dan kembali ke kursi mereka masing-masing. Aku terlalu sibuk tersenyum menenangkan pada sahabat-sahabatku karena melihat wajah cemas dan kecewa mereka yang tidak bisa menemaniku sampai aku tidak menyadari bahwa Ketua Kelas sudah berdiri di sebelahku.

“Ayo,” ajaknya sambil menarikku berdiri. Meskipun suara Do Kyungsoo, si ketua kelas, sangat dingin dan penuh formalitas, gerakannya saat membantuku berjalan menuju ruang kesehatan sangat lembut.

Ruang kesehatan kosong. Suster Nam sedang tidak ada di tempat. Aku berusaha menahan ringisan sakit selama menunggu beliau, namun rasa perih itu sangat menyiksa. Kyungsoo tiba-tiba sudah mengambil sebaskom air, handuk, dan kotak P3K, lalu duduk di hadapanku. Sepertinya dia tidak tega membiarkanku menunggu dengan rasa sakit ini. Dia menarik tanganku lembut dan menatapku serius.

“Aku akan mencabut pecahan kacanya,” dia memberitahuku.

Aku mengangguk. Mengigit bibir kuat-kuat saat merasakan pecahan kaca itu ditarik dari kulitku. Rasanya perih sekali. Kyungsoo membersihkan darah di telapak tanganku, membubuhkan antiseptik, kemudian memperbannya. Selama dia merawat tanganku, aku memperhatikannya.

Kyungsoo dan aku sekelas sejak kelas satu sekolah dasar sampai sekarang saat kami sedang di kelas dua sekolah menengah, sama halnya seperti aku sekelas dengan Chanyeol, Baekhyun dan Jongin. Bedanya, aku dan tiga anak laki-laki itu bersahabat dekat sedangkan Kyungsoo dan aku… Kami.. entahlah. Kyungsoo dan aku tidak dekat, namun juga cukup sering berinteraksi untuk disebut sekedar teman. Lagipula, kami bertetangga. Tapi duduk dekat dengannya begini memang membuatku berdebar-debar. Dia terlihat serius sekali merawatku membuat pipiku memerah karena malu.

Psst, sebenarnya ini rahasia. Aku menyukainya sejak kelas satu dulu. Do Kyungsoo mungkin memang tidak setinggi Chanyeol, tidak sesupel Baekhyun dan tidak sejago Jongin dalam hal menari. Tapi dia selalu tenang sekaligus ramah. Dia pintar dan ketua kelas. Pokoknya dia keren. Tuh kan, aku jadi malu sendiri. Ya Tuhan! Jangan sampai Kyungsoo tahu soal perasaaanku. Aku buru-buru membuang muka agar tidak ketahuan sedang memperhatikannya.

“Sudah?” aku bertanya untuk mengalihkan perhatian.

Kyungsoo mengangguk, memperhatikan tanganku yang sudah diperban. “Apakah masih sakit?” dia bertanya.

“Sedikit,” jawabku, menarik tanganku agar tidak terlalu lama dipegang Kyungsoo, membuatku semakin salah tingkah saja. “Apakah kita bisa kembali sekarang? Aku tidak suka membuat Chanyeol dan yang lain khawatir.”

Kyungsoo diam sejenak. “Lebih baik kau istirahat dulu. Lukamu cukup besar dan mengeluarkan banyak darah,” katanya. “Lagipula, aku juga khawatir padamu.”

Aku yang tadinya hendak bersandar di kursi, langsung duduk tegak kembali. Mataku menatap Kyungsoo, tak percaya dengan apa yang barusan dikatakannya. “Apa?”

“Apa kau memang selalu tidak sensitif seperti ini?” tanya Kyungsoo.

Jantungku berdegup kencang. Gelagapan. “A-apa maksudmu?”

Hening.

Lalu dia berkata.

“Could I be one of the guys you like?”

Aku membeku.

Tiba-tiba saja semuanya berubah. Suaranya. Caranya menatapku. Ekspresi serius di wajahnya. Ya Tuhan! Aku yakin ini bukan Do Kyungsoo. Seseorang pasti menggunakan ramuan Polijus untuk menyamar menjadi dirinya. Kyungsoo yang kukenal sejak sekolah dasar tidak mungin berkata seperti itu. Aku mengerjap, sekali dua kali, namun ekspresi Kyungsoo masih tidak berubah. Jadi aku melakukan sesuatu yang paling rasional untuk dilakukan.

“Kau sakit, Kyungsoo-ya?” tanyaku sembari menempelkan telapak tanganku yang tidak diperban ke dahi Kyungsoo.

Tidak panas.

Buru-buru kutarik tanganku kembali dan menatapnya curiga. “Astaga! Siapa kau? Kau bukan Do Kyungsoo ya?!” hadirku kasar, menggeser posisi dudukku menjauh darinya.

Kyungsoo atau siapa pun yang menyamar menjadi dirinya saat ini mendesah, kelihatan sangat frustasi melihat responku yang sangat absurd. “Ini aku, Do Kyungsoo,” katanya, suaranya sarat nada putus asa.

Aku ingin percaya itu Kyungsoo, tapi kata-katanya masih mengejutkanku. “Kyungsoo-ya…”

“Cepat berikan aku jawaban. Aku tidak bisa terus menerus seperti ini,” potong Kyungsoo. Dia masih menatapku dengan ekspresi yang sama. “Could I be one of the guys you like?”

“Tapi aku….aku….”

Aku tidak bisa mengatakannya. Tenggorokanku tercekat.

Kyungsoo menghela nafas. Kini ekspresinya muram. Dia menunduk menatap lantai, lalu menggelengkan kepalanya sedih. “Sudah kuduga, kau tidak akan bisa. Sejak kecil, kau memang tidak pernah menganggapku apa-apa,” bisiknya sedih.

Tanpa berkata apa-apa, Kyungsoo merapikan kotak P3K yang tadi dipakainya untuk membalut telapak tanganku yang luka. Ia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ia akan meninggalkanku sendiri di ruang kesehatan sekolah.

Saat itulah tubuhkan bergerak tanpa kendali. Tiba-tiba saja aku sudah berdiri di belakang punggung Kyungsoo, memeluknya erat-erat, mencegahnya pergi dan membuat Kyungsoo mematung dengan telapak tangan yang sudah hampir menyentuh kenop pintu.

“Hei…” dia memulai, tapi aku sudah memotongnya.

Yes, you could!”

Punggung Kyungsoo menegang dan dia berbalik, melepaskan pelukanku dengan lembut. Aku menunduk, takut menatapnya, takut semuanya sudah terlambat. Namun tangan Kyungsoo memegang daguku, memaksaku menatapnya.

Are you sure I could be one of the guys you like?”

Aku mengangguk, mengigit bibir cemas. “You always be the one I like,” bisikku lirih.

Kyungsoo tertawa. Tawa yang membuatku ingin tertawa bersamanya. “Jangan bohong, gadis kecil,” dia mencubit hidungku lembut.

“Aku tidak bohong,” protesku sebal.

Dia malah tertawa lagi, lalu kemudian dengan suara yang dimiripkan suara anak kecil, dia mengatakan sesuatu. “Aku punya banyak teman. Teman baikku bernama Park Chanyeol, Kim Jongin, Byun Baekhyun. Kami bersekolah bersama dan bermain bersama. Ah, aku juga punya satu teman lain. Namanya Oh Sehun. Kami tidak satu sekolah. Sehun masih TK, tapi kami tetap bermain bersama. Aku menyukai mereka karena mereka teman-temanku.”

Mataku membelalak tak percaya. Itu esai pertamaku di kelas satu sekolah dasar. Cerita tentang orang-orang yang kusukai yang kutulis hampir sepuluh tahun yang lalu dan Kyungsoo masih mengingatnya! Dia bahkan menghafal setiap katanya.

Kyungsoo tersenyum tipis. “Kau tidak menuliskan namaku di sana,” katanya dengan nada kecewa yang samar.

Kali ini giliranku yang tertawa. Ah, kalau saja Kyungsoo tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Aku tersenyum kecil teringat pada essai lama yang masih disimpan eomma di rumah. “Itu karena aku memang tidak menganggapmu teman yang kusukai,” jawabku.

Kening Kyungsoo berkerut. Bingung.

Aku tertawa lagi, membiarkan Kyungsoo kebingungan sendiri. Tentu saja aku ingat, di akhir esai itu, di baris paling bawah ada bekas kalimat yang dihapus karena aku malu. Satu kalimat yang membuat pipiku bersemu hingga kini.

Oh, dan aku juga suka Do Kyungsoo karena dia anak laki-laki yang keren dan tampan.

-Fin-

a/n siapa yang udah nonton EXO Next Door ep 10?

Kyaaa~~ DO KYUNGSOO, YOU’RE KILLING ME WITH YOUR BOLDNESS!!! Aww, envy that girl very much

Btw,  ada review EXO Next Door di sini loh. Mungkin kita bisa meratap atau fangirling bersama haha

Anw, RCL please

qL^^

Advertisements

2 thoughts on “Confession of The Day

  1. Aih D.O so sweet amat wkwkwkkwk
    Jadi sepatutnya si “aku” berterimakasih pada Doori ya… coba nggak kena pecahan, pasti alurnya beda lagi wkwkwk
    2 jempol buat kakak ^^

    Like

  2. ohoy aku mendarat di sini yaa Qi~~
    gatau mau komen apa pokoknya ini bagooosssssss walaupun aku agak gagal paham sama english maapkeun

    keep writing Qi! ^^

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s