The Scarlet Letter

The Scarlet Letter

A story and banner by qL^^

casts Do Kyungsoo (D.O), OC lenght 880words genre angst, romance, AU, young adult rating general

backsong Taylor Swift – Love Story

also posted in DKFI

SL

—-

“Waktunya aku pergi.”

Do Kyungsoo menghentikan kegiatannya berpura-pura membaca buku. Mata bulat D.O semakin besar tatkala dia menatapku dengan membelalak tak percaya. Oh, wajah D.O terlihat sangat lucu dan aku terpaksa menahan tawa mengingat kondisi yang tak memungkinkan tertawa dalam situasi yang bisa disebut kritis bagi kami.

Kami sedang duduk bersama di meja baca sudut rak filsafat dan puisi perpustakaan kota. Satu-satunya tempat aman untuk bertemu tanpa dicurigai. Sudut itu tidak terlalu ramai, namun juga tidak terlalu sepi untuk menarik perhatian bila kami duduk bersama di sana. Lagipula ini tempat pertama kali kami bertemu, jadi ya benar, perpustakaan ini menyimpan banyak hal sentimental tentang hubungan rumitku dan laki-laki bernama Do Kyungsoo.

Aku sudah mengenal D.O sejak kenal, atau lebih tepatnya mengetahui namanya tanpa tahu rupa wajahnya. Diam-diam aku suka menertawakan nama kecil yang diciptakan untuk dirinya sendiri : D.O. Seperti singkatan sesuatu, seperti Drop Out atau apalah. Aneh bukan? Meskipun demikian aku termakan karmaku sendiri. Kini lidahku mengucapkan namanya seperti mengucapkan nama sendiri.

“Kau bisa tinggal lebih lama,” pinta D.O halus. “Kumohon.”

Aku mengigit bibir ragu. “Tapi Sekretaris Smith bisa tiba kapan saja. Dia sudah di perjalanan menjemputku,” bantahku ragu.

“Biarkan dia menunggu,” D.O menjawab.

Kuhela nafas putus asa. D.O kadang keras kepala. “Ayah sudah mulai curiga pada frekuensi kunjunganku ke perpustakaan, D.O. I can’t make him more suspicious or I’ll lose the only chance and way to see you,” kataku putus asa.

Sejak kecil dan setiap pesta dansa, gala dinner atau perayaan apa pun, Ibu selalu cerewet melarangku dekat-dekat dengan putra keluarga Do. Keluargaku dan keluarga D.O punya hubungan buruk yang diwariskan turun temurun meskipun aku dan D.O tak tahu alasannya.

“Lagipula kau punya janji dengan Nona Spencer. Don’t make her wait,” bisikku lirih.

Suaraku yang seperti porselain rapuh telah membuat D.O meletakkan buku yang hanya menjadi kedok sejak tadi. Tangannya terulur di atas meja, menggengam tanganku yang gemetar di atas buku yang tertutup. Matanya menyorotkan ketenangan, sama seperti senyum tanggung yang disunggingkannya.

“Aku bohong. Aku tidak punya janji apa pun dengan Spencer,” D.O mengaku. “Itu hanya cara agar aku punya alasan untuk keluar Manor dan bertemu denganmu.”

Kali ini giliranku yang tersentak.

“Ibu tahu tentang kebohonganku, tapi beliau membantuku berbohong pada Ayah. Kurasa Ibu sudah terlalu lelah melarangku untuk jatuh cinta padamu,” ujar D.O dengan jenaka.

Tapi aku sama sekali tidak menganggap itu lucu.

Ya Tuhan, kenapa takdir ini kejam sekali? Kenapa kami harus terjebak dalam kebencian dua keluarga?

Let’s elope,” ajak D.O tiba-tiba.

Raut wajahnya serius sekali sehingga membuatku tak berani bertanya apakah dia bercanda dengan ucapannya atau tidak.

“Kita akhiri kisah Romeo dan Juliet ini,” kata D.O lagi.

Aku mengerjap, lalu menempelkan tangan yang bebas dari genggaman D.O ke pipinya. Tidak panas. Tidak demam. D.O tidak sakit dan tidak terlihat sakit tapi kenapa bicaranya melantur sekali.

“Kau salah makan?” tanyaku polos.

Dia menggeleng, namun aku tak sempat merespon lebih jauh. Siluet Sekretaris Smith yang terlihat dari jendela mozaik membuatku buru-buru berdiri dan menjauh dari D.O. Aku sama sekali tak fokus sehingga tak sadar bahwa D.O juga telah berdiri dan malah menarikku merapat dalam labirin rak-rak perpustakaan. Dia mengurungku di antara rak buku dan tubuhnya. Wajahnya hanya beberapa centimeter dari wajahku. Ini jarak terdekat kami sejak kami menjalin hubungan.

“Aku serius,” bisik D.O membuatku menahan nafas. “I mean every single word I’ve said.”

Aku masih tak menjawab. Tenggorokanku tercekat.

“Kalau kau bersedia, aku akan menunggumu. Taman James, pukul 09.00 malam, hari ini,” kata D.O. Matanya menatap mataku intens, membuatku seolah tenggelam dalam lautan gelap iris matanya. “I’ll take you somewhere we can be alone.”

D.O tidak menunggu jawabanku. Dia malah melakukan sesuatu yang membuat jantungku berdegup kencang. D.O mencium keningku dengan lembut, lalu tersenyum. Lagi-lagi aku terpesona menatapnya.

“Ah, Nona, Anda di sini rupanya,” suara Sekretaris Smith menyentakku.

Aku berbalik. D.O sudah menghilang. Rasanya seperti habis dicium oleh bayangan. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak kecewa.

“Anda baik-baik saja, Nona? Apakah kita bisa pulang sekarang?” Sekretaris Smith bertanya.

Helaan nafasku lolos. “Ya,” jawabku singkat.

Perjalanan pulang ke Manor tidak pernah terasa selama ini. Keningku masih merasakan sensasi sentuhan bibir D.O di sana. Aku merabanya tanpa sadar dan menurunkan tanganku segera begitu melihat Sekretaris Smith memperhatikanku dari kaca dalam mobil.

Semua kenanganku tentang D.O berputar-putar dalam benak. D.O yang kejatuhan buku setebal ensiklopedia berjilid karena menyelamatkanku. Ekspesi gembira yang disembunyikan D.O saat aku berterima kasih. D.O dengan tuksedo hitam dan topeng emas pada dansa pertama di malam tahun baru (terima kasih pada tema pesta dansa Masquarade sehingga kami bisa pertama). Wajah serius D.O saat membaca buku. Tangan D.O yang hangat. Kedamaian di wajah D.O ketika dia ketiduran. Suaranya saat bernyanyi, menyebut namaku dan mengucapkan ‘I love you.’

Aku jatuh cinta. Dan aku tidak bisa menyangkalnya lagi.

Taman James, pukul 09.00 malam, hari ini.

Suara D.O seperti berbicara langsung denganku.

“Sekretaris Smith?” panggilku.

“Ya, Nona?”

“Apakah aku punya jadwal untuk malam ini?”

Sekretaris Smith diam sejenak, sibuk membalik lembar agenda untuk hari ini. “Ah ya, sudah pernah saya sampaikan, ada jamuan makan malam outdoor bersama walikota malam ini,” jawabnya.

Splendid,” komentarku sinis. “Dan dimanakah jamuan itu berlangsung?”

“Taman James, Nona.”

Senyum di wajahku muncul tanpa bisa dicegah. Aku tak pernah sebahagia itu mendengar jawaban dari Sekretaris Smith.

Wajah D.O dan janjinya.

Sempurna.

-Fin.-

a.n : long time no post wkwkwk 😛

please, review

qL^^

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s