Simfoni – Sol

Simfoni : a story by qL^^ casts Kim Kibum, Kim Sooyan, SHINee, Park Hyeki, Kim Jihyun length chapter genre AU, angst, mystery, family, semi!romance rated PG-12

Previously on Simfoni : Fa

Simfoni

Simfoni

Nada kelima : Sol

Lies Beneath

“Mau pergi?” Hyeki bertanya sambil mengaduk-aduk segelas susu di meja dapur.

Sooyan tersentak, kaget mendapati Hyeki di apartemen. Dia malah balik bertanya, “kau sudah pulang?”

Kening Hyeki berkerut heran, meskipun toh dia mengangguk sambil menggesturkan asal ke arah dirinya sendiri. “Jadi, kau mau pergi?” Hyeki masih bertanya, tak menyerah.

Sooyan menelan ludah tak nyaman. Ini bukan pertama kali Sooyan pergi bersama Kibum di luar jam kantor dan hanya berdua saja, tapi ini akan jadi kali pertama Sooyan ketahuan oleh Hyeki. Bukannya dia ingin menutup-nutupi, tapi dia memang tidak ingin Hyeki berspekulasi macam-macam mengenai kedekatannya dengan Kibum.

Pagi ini Sooyan sama sekali tak menyangka akan tertangkap basah oleh Hyeki. Seingatnya Hyeki masih ada shift jaga ruang gawat darurat sampai nanti siang dan dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya mengetahui Hyeki pulang lebih awal. Sooyan juga tidak bisa berbohong. Dia jelas sudah berdandan rapi yang menjadi ciri ‘mau pergi’. Sooyan jelas tahu itu. Di balik pertanyaan standar ‘mau pergi’, Hyeki menuntut penjelasan lebih dari Sooyan.

“Ya,” akhirnya Sooyan menjawab singkat.

Alis Hyeki terangkat. Dia meneguk susu dari gelas dengan tenang, menunggu Sooyan melanjutkan ucapannya dengan sabar.

“Baiklah, baiklah,” kata Sooyan menyerah. “Aku akan pergi dengan Kibum,” jelasnya.

Tepat seperti dugaan Sooyan, Hyeki mulai menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Kibum? Direktur Kim Lockets? Berdua saja? Di akhir minggu? Untuk apa? Tentu saja ini bukan soal pekerjaan bukan?”

Pertanyaan mana yang harus dijawab Sooyan lebih dahulu.

Sooyan menghela nafas.

“Kibum memintaku menemaninya untuk mencari hadiah. Dia bilang hadiah itu untuk adiknya, Kim Jihyun dan ngomong-ngomong, aku baru tahu dari Kibum kalau Kim Jihyun itu ternyata salah satu pasienmu, Hyeki-ya,” Sooyan memberitahu Hyeki.

Kening Hyeki berkerut lagi selama dia berpikir, berusaha mengingat-ingat di antara pasien yang pernah dirawatnya dan Sooyan bisa melihat ketika ingatan itu muncul.

Hyeki melongo. “Astaga!”

“Ya, adiknya menderita Skizofenia kan? Apa sakitnya parah sekali?” tanya Sooyan.

Hyeki berdeham, mengembalikan wajah netral seperti biasa. “Yah, aku tidak bisa memberitahukan kondisi kesehatannya Sooyan-ah. Itu rahasia antara pasien, keluarganya dan tenaga medis yang merawat. Tapi yah kalau kau benar bahwa Kim Jihyun itu adik Kim Kibum, maka dia memang pasien Skizofrenia yang sedang kutangani,” jawabnya.

Sooyan mendesah. “Apakah dia bisa sembuh?” tanyanya.

“Dalam dunia psikiatri, yang terbaik yang bisa kauharapkan dari pasien kelainan mental adalah mereka mampu hidup normal,” jawab Hyeki pelan.

“Kasihan sekali Kibum,” gumam Sooyan.

Hening sesaat sebelum Hyeki mengerling Sooyan. “Apa ibu Kibum tahu?”

“Tahu apa?”

“Tentang kalian.”

Sooyan tertawa gugup. “Memangnya kami kenapa?”

Kali ini giliran Hyeki yang tertawa. Ada nada sedikit sinis yang bisa ditangkap. “Tinggal menunggu waktu kalian akan bersama,” katanya datar.

“Hyeki!” protes Sooyan.

“Hanya mencoba bersikap rasional, Sooyan-ah,” Hyeki mengangkat bahu.

Sooyan menghela nafas lagi, duduk di hadapan Hyeki di pantry. Hyeki benar, Sooyan tak tahu apakah Nyonya Kim tahu. Yang dia tahu gosip-gosip di kantor mengenai kedekatannya dengan Kibum mulai pudar. Entah apa yang sudah dilakukan Kibum untuk menghentikan gosip-gosip itu. Pria itu tak pernah mau memberitahunya.

Bunyi bel pintu apartemen menghentikan pembicaraan mereka. Sooyan mengerling Hyeki, memberi tahu bahwa itu Kibum yang datang. Ini pertama kalinya ada pria yang berkunjung ke apartemen mereka selain Jinki dan Taemin. Sooyan terburu-buru membukakan pintu untuk Kibum.

“Halo, kau sudah siap?” sapa Kibum begitu pintu terbuka.

Sooyan tersenyum dan mengangguk. “Masuklah dulu, aku akan mengambil tas di kamar,” kata Sooyan. “Kau mau minum sesuatu?” tawarnya lagi saat Kibum sudah duduk di ruang tengah.

Kibum menggeleng. “Tidak, terima kasih,” tolaknya halus. “Kau tidak keberatan kan kalau aku melihat-lihat?” tanya Kibum.

“Tidak,” jawab Sooyan. “Aku ada di kamar kalau kau butuh sesuatu. Aku tidak akan lama,” katanya lagi dan meninggalkan Kibum yang berkeliling apartemen.

Kibum baru melihat-lihat ruang tengah saat dia mengenali sosok familiar yang duduk di pantry sambil membaca buku.  “Oh, annyeonghaseyo Park uisa,” sapa Kibum kaget.

Kepala Hyeki terangkat dari halaman yang sedang ditekuninya, menatap Kibum. Dia balas menyapa. “Annyeonghaseyo Kim sajangnim.”

“Wah, akhirnya kita bertemu di luar rumah sakit,” komentar Kibum.

Jawaban Hyeki hanya berupa anggukan seadanya.

“Anda baru selesai bertugas atau justru akan pergi bertugas?” tanya Kibum.

“Baru saja selesai dan terkejut bahwa Sooyan ternyata sudah punya janji pergi,” jawab Hyeki. “Tidak semua orang punya waktu bebas seperti Anda dan Sooyan di akhir minggu,” tambahnya sambil menunjuk ke arah baju jaga instalasi gawat darurat yang masih dipakainya.

Kibum tersenyum masam, jelas tak nyaman dengan sarkasme yang dilontarkan Hyeki. Untunglah Sooyan keluar dari kamar beberapa menit kemudian dan segera menyeret Kibum keluar apartemen setelah melambai pamit pada Hyeki dengan seadanya.

“Kurasa Hyeki tidak menyukaiku,” kata Kibum ketika dia menyetir mobil keluar dari parkir apartemen.

Sooyan tertawa kecil. Dia juga menyadari hal itu meski tak tahu kenapa dan dia tidak ingin Kibum merasa tak nyama. “Hyeki hanya sedikit sensitif karena kau sepupu Minho,” jelas Sooyan.

Helaan nafas Kibum lolos begitu saja. “Kuharap begitu.”

Simfoni

Great Genie tidak ramai di akhir minggu, sesuatu yang tidak berubah setelah sekian lama Kibum tak berkunjung ke sana. Sejak peristiwa mengerikan yang menimpa keluarganya dan Jihyun sakit, Kibum sama sekali tak punya alasan untuk menghabiskan akhir pekan di kafe itu. Great Genie terletak di Gangnam dan kafe itu menyediakan pelayanan penuh privasi yang membuat Kibum menyukai tempat itu. Dulu sekali dia senang melihat Jihyun terkikik geli sambil memandangi idolanya yang sedang makan di sana.

“Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Kibum saat dia tersadar sedari tadi dia melamun padahal Sooyan sedang bicara dengannya.

Sooyan menggeleng. Ada senyum geli tersungging di bibirnya. “Kau sedang tersenyum sendiri sambil melamun,” jawab Sooyan.

Kibum menggelengkan kepala, menyembunyikan rasa malunya. Dia memang tidak bisa memungkiri sesaat dia merasa bahagia terlarut dalam pikiran mengenai Jihyun. Adiknya yang sehat dan menggemaskan.

“Aku memikirkan Jihyun,” Kibum memberitahu Sooyan.

Senyum itu lenyap, digantikan oleh ekspresi simpati yang mendalam. Kibum tahu Sooyan mengerti perasaannya. Gadis itu kehilangan keluarganya dan kehilangan yang dialami Sooyan jauh lebih menyedihkan dengan apa yang dialami Kibum.

She will be fine,” bisik Sooyan lembut, menepuk-nepuk telapak tangan Kibum di atas meja, berharap dapat menghibur Kibum.

Satu ide gila muncul di kepala Kibum ketika dia melihat tangan Sooyan yang masih menepuk telapak tangannya kemudian berpindah pada buket bunga lavender yang mereka pilih sebagai kado ulang tahun Jihyun minggu depan.

“Kau mau bertemu Jihyun?” tanya Kibum pelan.

Terkejut, Sooyan menatap Kibum heran. “Apa?”

Tidak, mungkin menawarkan pertemuan dengan Jihyun terlalu cepat bagi Sooyan. “Tidak, aku pikir mungkin kau mau bertemu dengannya, tapi kurasa kondisi Jihyun memang tidak tepat,” Kibum buru-buru meralat.

“Hush,” Sooyan menghentikan Kibum. “Kau tidak boleh bicara begitu tentang adikmu. Kau harus selalu menjadi orang yang paling percaya pada kesembuhannya,” tambah Sooyan. “Lagipula aku setuju untuk bertemu Jihyun.”

Kibum membelalak, tak percaya. “Benarkah?”

Sooyan mengangguk. “Tentu saja,” dan jawabannya disambut dengan senyum lebar Kibum.

Gemerincing bel di atas pintu kafe mengalihkan perhatian mereka. Kibum langsung mengenali sosok yang melangkah melewati pintu. Wanita paruh baya dengan kacamata hitam, syal sutera dan tas tangan kulit. Sepatu hak tinggi hitamnya mengetuk lantai saat melangkah menuju tempat Kibum dan Sooyan duduk

Punggung Kibum tegak, bahunya menegang dan ekpresinya defensif.

“Ibu,” sapanya ketus dan bangkit berdiri, berusaha menutupi Sooyan dari pandangan Nyonya Kim.

Nyonya Kim tersenyum tipis, mengerling Sooyan yang kini juga berdiri dari balik bahu Kibum. “Makan siang yang menyenangkan, eh, Anakku Sayang,” komentarnya dengan sarkasme yang kental.

“Ya, tapi itu sebelum Ibu datang,” sahut Kibum tanpa basa-basi. “Ada apa?” tanyanya.

“Maaf kalau Ibu menganggu makan siangmu,” kata Nyonya Kim meski Kibum sama sekali tak menangkap ada nada menyesal apa pun dari cara ibunya bicara. “Ibu hanya mengingatkanmu kalau kalau wanita ini membuatmu lupa bahwa nanti malam kita akan makan malam dengan keluarga Jangmi,” tambahnya, lalu menunjuk Kibum. “Dan kau tidak punya alasan untuk menolaknya.”

Kibum tahu benar bahwa ibunya sengaja datang dan mengingatkannya mengenai makan malam itu yang sebenarnya bisa dilakukan via telepon atau pesan singkat. Ini peringatan dari ibunya dan Kibum tahu peringatan ibunya bukan ditujukan hanya pada dirinya. Tapi juga ada gadis yang berdiri kaku di sebelah Kibum tanpa bicara apa-apa.

Sooyan.

“Kalau begitu, ibu pergi dulu,” pamit Nyonya Kim mencemooh. “Nikmati makan siangmu, Kim Sooyan-ssi,” ujarnya sembari tersenyum mengejek.

Amarah Kibum ingin meledak. Dia tidak menyadari bahwa tangannya sudah terkepal erat, membuat buku-buku jarinya memutih sampai Sooyan menarik tangannya, melepaskan kepalan tangan itu dengan wajah prihatin.

“Maaf,” bisik Kibum pelan.

Sooyan tersenyum tipis. “Ayo, kita lanjutkan makan siang yang tertunda,” ajaknya.

Kibum hanya bisa mengangguk.

Simfoni

Bunyi kode pintu apartemen yang dimasukkan terdengar, disusul dengan bunyi pintu yang dibuka dan ditutup kembali. Hyeki sudah tahu siapa yang datang dan dia tidak merasa perlu repot-repot mengecek pintu depan. Hanya sedikit orang yang tahu password apartemennya dan Sooyan.

“Hyeki-ya….” Suara Jinki terdengar dari ruang tengah.

“Aku di sini, oppa,” sahut Hyeki dari gudang di belakang dapur.

Derap langkah kaki terdengar dan Hyeki melambai ke arah sosok Jinki yang muncul di gudang. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya melihat Hyeki yang memakai apron bersih-bersih dan sarung tangan kerja kepayahan mengangkat kardus-kardus. Tanpa disuruh, Jinki buru-buru meraih kardus itu, takut kardus itu justru akan melukai Hyeki.

“Di mana Sooyan?” tanya Jinki saat dia selesai meletakkan kardus sesuai perintah Hyeki.

Hyeki tersenyum masam. “Kencan,” jawabnya singkat.

Alis Jinki terangkat naik mendengar nada bicara Hyeki. “Kencan? Dengan siapa?”

“Sooyan memang tidak bilang itu kencan sih, tapi dia pergi berdua saja dengan Direktur Lockets, Kim Kibum,” sahut Hyeki sambil membersihkan debu di atas salah satu kardus.

“Kau tidak terlihat senang,” komentar Jinki.

Hyeki berbalik menatap Jinki dan menghela nafas. “Memang tidak. Aku benci kalau Sooyan harus berhubungan dengan pria kaya itu. Ini jadi seperti cerita Candy dalam manhwamanhwa,” gerutu Hyeki.

Jinki tertawa kecil, meski dia mengakui Hyeki ada benarnya.

“Sooyan tidak mau mengaku kalau mereka dekat,” ujar Hyeki lagi.

“Bagaimana dia mau mengaku kalau kau marah-marah begini?” goda Jinki mencubit pipi Hyeki gemas.

“Aww,” Hyeki mengaduh mengusap pipinya. “Maksudku Kibum bahkan bercerita pada Sooyan tentang adiknya yang sakit. Namanya Kim Jihyun dan coba oppa tebak, ternyata dia pasienku.”

Nah, ini fakta penting yang menarik. “Kim Jihyun? Dia sakit apa?” tanya Jinki.

Hyeki memberi Jinki pandangan mencela. “Aku tidak bisa bilang. Aku bersumpah di bawah kode etik kedokteran,” jawabnya. “Lagipula…. oppa tidak terlihat heran dengan kedekatan Kibum dan Sooyan,” ujar Hyeki memperhatikan Jinki yang tenang.

Hyeki sekilas melihat ketidaknyamanan Jinki saat pernyataan itu dikatakan, namun Jinki sudah mengangkat bahu. “Mari kita lupakan kencan Sooyan dan Kibum. Aku akan membantumu beres-beres, lalu kita akan makan di luar, bagaimana?” tawar Jinki.

Mata Hyeki berbinar, melupakan kecurigaannya sejenak. “Oppa mengajakku kencan?” tanyanya dengan penuh semangat.

“Makan di luar, Hyeki-ya, bukan kencan,” koreksi Jinki lembut.

Hyeki cemberut, meskipun begitu dia mengangguk dan membiarkan Jinki membantunya. Mereka menyortir barang, memilah barang-barang lama yang harus dibuang dan yang masih bisa dipakai lagi. Hanya dalam waktu setengah jam, mereka sudah selesai. Jinki sudah memindahkan barang-barang yang harus dibuang ke dalam kardus dan akan mengangkatnya keluar gudang. Dia memperhatikan sekeliling dan berhenti bergerak.

Sebuah kotak di sudut gudang menarik perhatian Jinki. Langkahnya terhenti dan kembali berjalan mendekati kotak itu.

Oppa…” tegur Hyeki tak mengerti mengapa Jinki tiba-tiba mengubah arah.

“Itu… kotak apa Hyeki-ya?” tanya Jinki, mengodekan ke arah kotak itu dengan gerakan kepalanya.

Hyeki terdiam dan terlihat berpikir. Mungkin dia lupa kotak apa itu karena setelah dilihat dari dekat kotak itu jelas berdebu dan tak tersentuh dalam waktu lama. Ekspresi Hyeki berubah muram saat dia sudah mengenali kotak apa itu.

“Itu barang-barang peninggalan Taemin,” sahut Hyeki. Suaranya tercekat dan air mata mengumpul di pelupuk matanya.

Jinki berjongkok, meletakkan kardus yang tadi hendak dibawanya keluar gudang kembali di lantai. Tangannya menarik kotak itu mendekat, lalu membawanya keluar gudang. Hyeki mengikuti, penasaran mengapa Jinki tertarik dengan barang-barang peninggalan Taemin.

Oppa, ada apa?” tanya Hyeki cemas, terus memperhatikan Jinki yang membersihkan debu yang menempel.

“Apa kau pernah membuka kotak ini?” Jinki balik bertanya.

“Pernah,” jawab Hyeki cepat. “Tidak ada apa-apa di dalamnya.”

Tapi sepertinya tidak begitu menurut Jinki. Pria itu membuka penutup kotak dan mulai membongkar isinya. Satu persatu barang Taemin dikeluarkan. Bingkai foto. Bola baseball. Beberapa jersey favorit Taemin. Cangkir. Jam tangan. Dompet. Beberapa komik dan buku. Beberapa lembar kertas musik dengan not. Harmonika. Hyeki benar, isinya memang barang-barang biasa.

Jinki masih belum menyerah. Membolak balik buku-buku milik Taemin berharap ada petunjuk yang terselip. Selembar foto Kim Jihyun pun tak masalah. Namun nihil. Kini Jinki malah membuka lembar kertas musik, menatap not not balok dengan aneh.

“Kau pernah memainkan ini, Hyeki-ya?” tanya Jinki mengacungkan lembar musik pada Hyeki.

Hyeki menggeleng, mengigit bibir.

Jinki meneliti kertas itu lagi. Ada jeda di antara not-not yang ditulis oleh Taemin. Tanpa pikir panjang, Jinki berlari menuju piano di sudut ruang tengah.

“Hyeki, ayo kemari,” panggil Jinki, memaksa Hyeki duduk di bangku piano juga.

Jinki mulai memainkan nada-nada di kertas musik sedangkan Hyeki mendengarkan. Nada yang sangat familiar sekali. Hyeki memandang Jinki tak percaya, kelihatannya juga mengenali nada ini.

“Bukankah ini… In my room?” Hyeki bertanya menyebutkan judul lagu yang terlintas dalam pikirannya.

Jinki mengangguk setuju. “Kurasa benar. Kau tahu liriknya?” tanya Jinki.

Hyeki mengangguk pelan dan mulai bernyanyi diiringi alunan piano Jinki.

“Stop,” kata Hyeki ragu. “Ada nada yang hilang…”

Jinki bergumam setuju, menuliskan nada dan lirik yang hilang dibantu oleh Hyeki. Mereka memainkan seluruh nada di kertas musik itu, mengalunkan simfoni yang terpotong di beberapa tempat namun masih tetap familiar. Akhirnya setelah sepuluh menit mereka selesai dan Jinki mulai merangkai nada dan lirik yang hilang.

Sebuah kalimat terbentuk dari nada dan lirik yang hilang.

Tolong selamatkan Jihyun! (지현을 저장하십시오! – jihyeon eul jeojang hasibsio!)

Hyeki dan Jinki saling berpandangan dalam kebingungan.

“Ini….” tunjuk Hyeki ragu.

“Pesan kematian,” Jinki menyelesaikan ucapan Hyeki.

Bulu kuduk Hyeki berdiri mendengar kalimat Jinki. Dia kembali menatap Jinki nanar. “Maksud oppa, Taemin dibunuh demi menyelamatkan Jihyun? Apa ini Jihyun pacar Taemin yang tidak pernah kita kenal?”

Jinki mengangguk pelan, kembali menatap kalimat itu. “Namanya Kim Jihyun. Dia pacar Taemin.”

Hyeki tertegun. Nama itu terngiang-ngiang di kepalanya. “Jangan bilang…. ini Kim Jihyun yang sama? Apakah pacar Taemin dan adik Kibum adalah orang yang sama?” tanya Hyeki sama sekali tidak bisa menyembunyikan nada frustasi dalam suaranya.

Jinki tidak menjawab, meski sebenarnya dia yakin Kim Jihyun yang ini adalah Kim Jihyun yang sama. “Entahlah, Hyeki-ya, oppa masih menyelidikinya. Keluarga Kim menyembunyikan Jihyun dan sangat besar kemungkinan mereka terlibat dalam pembunuhan Taemin,” jawab Jinki pelan. “Jangan katakan apa pun pada Sooyan untuk sementara,” kata Jinki sembari menyimpan kertas musik beserta pesan kematian yang tadi mereka tuliskan.

“Kenapa tidak? Sooyan adalah anggota keluarga. Dia berhak tahu,” kata Hyeki menahan Jinki. “Oh, astaga! Ini buruk sekali apalagi hubungannya yang semakin dekat dengan Kibum sekarang,” tambah Hyeki lagi.

Jinki hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Justru itulah alasan mengapa dia harus merahasiakan ini dari Sooyan. Hubungan Kibum dan Sooyan bisa memberi bias dalam penyelidikan mereka.

Oppa, jangan katakan padaku kau memang sengaja membiarkan Sooyan berhubungan dekat dengan Kibum,” tebak Hyeki melihat diamnya Jinki dan ketika Jinki masih terdiam, Hyeki kembali bicara, “Astaga! Oppa!”

Ini menjelaskan segalanya. Alasan mengapa Jinki sama sekali tidak heran pada mereka berdua. Alasan mengapa Jinki menyarankan Sooyan melamar pekerjaan di Locket Enterprises. Alasan mengapa Sooyan diterima bekerja di sana. Bagaimana Hyeki bisa lupa bahwa orangtua angkat Jinki adalah pengusaha besar di Amerika dan bukan tidak mungkin mereka punya saham besar di perusahaan Kibum.

“Dengar, Hyeki-ya,” Jinki mencengkram Hyeki yang kini terlihat kalut. “Harus ada yang dikorbankan untuk mencapai sesuatu.”

“Apakah harus Sooyan?” tanya Hyeki terisak.

“Perasaan Sooyan pada Kibum akan berubah dengan sendirinya kalau dia tahu fakta yang sebenarnya,” kata Jinki dingin, menghapus jejak air mata di wajah Hyeki.

Hyeki menelan ludah. “Bagaimana kalau Kibum sama sekali tidak terlibat?” tanyanya dalam bisikan.

Jinki sama sekali tak punya jawaban untuk itu.

-tbc-

a/n. poorly edited, tapi tetap berharap ada review 🙂

Advertisements

One thought on “Simfoni – Sol

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s