Simfoni – Fa

Simfoni a story by qL^^ casts Kim Kibum, Kim Sooyan, SHINee, Park Hyeki, Kim Jihyun lenght chapter genre AU, angst, mystery, family, semi!romance rated PG-12

Previously on Simfoni : Mi

Simfoni

Simfoni

Nada keempat : Fa

Upside Down

Kim Kibum melangkah waspada sekaligus penuh wibawa dalam lobi kantor. Pekerja yang melewatinya, menyapa hormat seperti pagi-pagi biasa yang dibalas anggukan sekilas yang juga seperti biasa dilakukan Kibum. Kibum berusaha mencari tanda-tanda apakah ada di antara para karyawan yang tahu bahwa CEO mereka baru saja jatuh sakit. Namun semua berlangsung normal.

Saat pintu lift terbuka di lantai puncak gedung Lockets Enterprises, Kibum menemukan Kim Sooyan sudah datang. Sang sekretaris tampak sibuk membereskan setumpuk laporan, meski hari masih pagi dan jam kerja baru saja dimulai beberapa saat yang lalu. Sooyan hanya mengangguk sopan sebagai sapaan kepada Kibum dan tidak berkata apa-apa yang justru membuat Kibum keheranan.

Apakah Sooyan lupa kalau Kibum baru saja jatuh sakit atau Minho telah menipunya dengan berkata bahwa Sooyan yang menemaninya saat di rumah sakit tempo hari?

Ah, masa bodohlah.

Tapi ternyata Kibum tak bisa berkonsentrasi meski dia sudah berusaha melupakan masalah itu.

Pintu ruang kerja diketuk dan Sooyan masuk ke dalam ruangan. Sepert setiap pagi biasanya, membacakan jadwal Kibum hari ini dan janji-janji yang dibuat klien untuknya. Kibum memperhatikan Sooyan. Wanita itu bicara dengan nada monoton yang sama, tidak seperti orang yang pandangannya berubah terhadap Kibum.

“Apakah ada lagi yang bisa saya bantu, Direktur Kim?” Sooyan bertanya di akhir laporannya.

“Minho bilang kau yang mengantarku ke rumah sakit beberapa hari yang lalu. Apakah itu benar?” Kibum malah balik bertanya. Pertanyaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan Sooyan sebelumnya.

Sooyan mengangguk.

“Apakah tidak ada seorang pun di kantor yang mengetahui aku sakit?” Kibum bertanya lagi.

Sooyan terlihat terkejut, namun wanita itu menggeleng. “Tidak ada. Hanya keluarga Anda, saya, Supir Jang dan Dokter Kim yang tahu,” jawabnya.

Kibum menghela nafas. Rupanya dia tidak ditipu oleh Minho.

“Baiklah. Kau melakukan hal yang benar,” kata Kibum puas. “Oh iya,” tambahnya ketika Sooyan sudah akan berbalik pergi. Dia teringat pada pesan Minho ketika berada di rumah sakit. “Kurasa aku harus berterima kasih padamu karena sudah menolongku dan merahasikan seluruh kejadian itu.”

Sooyan hanya tersenyum tipis. “Terima kasih kembali, Direktur Kim.”

“Aku juga minta maaf karena perilaku Ibu dan Jungmi,” kata Kibum lagi.

Kalaupun Sooyan terkejut karena tak menyangka Minho menceritakan secara detil apa yang terjadi selama Kibum kehilangan kesadaran, dia tidak menunjukkannya. Sooyan hanya diam, sama sekali tidak merespon pernyataan maaf Kibum mengenai sikap ibunya dan Jungmi.

Mengabaikan sikap diam Sooyan, Kibum melanjutkan ucapannya. “Satu lagi, apa kau mau berteman denganku, Sooyan-ssi?” tawar Kibum.

Entah apa yang ada di kepala Kibum saat itu, namun dia rasa menawarkan pertemanan pada Sooyan bukanlah hal yang salah. Gadis itu cocok dengannya, setidaknya dalam hal sense mereka terhadap sesuatu dan mereka seumuran (Kibum mengintip catatan CV para karyawan untuk mengecek hal ini). Lagipula Sooyan akan bekerja dengannya dalam waktu lama. Menawaran pertemanan adalah hal yang wajar bagi Kibum dan kejadian tempo hari telah memberinya alasan untuk melakukannya.

Tak seperti biasanya, Sooyan terlihat sedikit terganggu mengenai tawaran Kibum. “Maaf, tapi Direktur….”

“Kau sudah banyak menolongku. Saat aku tiba-tiba menghilang. Saat kemarin aku jatuh sakit. Jadi ini yang terbaik yang bisa kutawarkan untuk membalas kebaikanmu,” kata Kibum lagi. “Kita seumuran dan kau bisa tetap memanggilku Direktur Kim selama kita bersama orang lain atau dalam jam kantor kalau itu membuatmu nyaman,” tambahnya.

Akhirnya Sooyan mengangguk.

Kibum mengulurkan tangannya sambil tersenyum penuh kemenangan. “Senang berteman denganmu, Sooyan-ah,” katanya dalam bahasa informal.

“Terima kasih, Kibum-ssi,” sahut Sooyan balas menjabat tangan Kibum.

Meski Sooyan masih menolak bicara dengan bahasa nonformal, namun jabatan tangan itu telah mengkonfirmasi pertemanan mereka. Tanpa mereka tahu, garis lingkaran orang-orang dalam baru saja lengkap dengan pertemanan mereka.

Cerita sebenarnya yang akan terkuak.

-Simfoni-

“Apa kau harus buru-buru pulang?”

Pertanyaan Kibum sebenarnya diucapkan dengan nada biasa dan terdengar sangat kasual bagi seorang teman, tapi tetap saja pertanyaan itu mengagetkan Sooyan. Mereka baru saja menyelesaikan rapat membahas proyek baru bersama klien di restoran mewah salah satu hotel bintang lima dan Sooyan sedang sibuk membereskan hasil notulensi rapat barusan. Para staf Lockets yang datang bersama mereka sudah pulang lebih dulu, menyisakan Kibum bersama Sooyan berdua saja di sana.

Sooyan harus berulang kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa sekarang Kibum sudah menganggap dirinya sebagai teman. Meski kadang dia masih terkaget-kaget ketika Kibum melontarkan pertanyaan tak terduga seperti tadi.

Dengan cekatan, Sooyan memasukkan seluruh dokumen penting dalam tas kantor dan melirik jam tangan. Masih pukul delapan malam, jauh dari kata larut untuk ukuran kota besar sesibuk Seoul. Lagipula malam ini Hyeki tak pulang karena harus jaga malam dan Sooyan benar-benar tak memiliki alasan yang mengharuskannya tiba di rumah pada jam segini.

“Tidak, aku tidak terburu-buru,” jawab Sooyan akhirnya.

Sooyan merasa dia bisa melihat mata Kibum langsung berbinar mendengar jawabannya. “Kalau begitu, ayo temani aku makan malam di sini,” pinta Kibum bersemangat.

Sooyan menelan ludah dan mengedarkan pandangannya risih. Kibum dan Sooyan sudah beberapa kali makan siang atau makan malam bersama, tapi itu selalu di kantor atau dalam rangka acara yang berhubungan dengan kantor. Dia hanya tidak nyaman, takut mereka justru akan menjadi pembicaraan orang-orang. Terutama apabila ia teringat kata-kata Nyonya Kim waktu itu.

Kibum menangkap keresahan Sooyan, namun dia hanya mengibaskan tangan acuh tak acuh. “Jangan pedulikan,” katanya cuek. “Aku dan kau berteman dan tidak ada yang salah bila teman makan malam bersama.”

Yeah, salah bila temanmu itu pimpinan perusahaan tempatmu bekerja, batin Sooyan. Meski akhirnya dia menurut saja saat Kibum memesankan makan malam untuk mereka berdua.

Makanan baru saja datang saat tiba-tiba ponsel Sooyan berbunyi dan nomer telepon rumah sakit tertera di layar. Sooyan memberi kode pada Kibum untuk mengangkat telepon dan dia menyingkir sedikit menjauhi meja. Waktu sudah berlalu selama sepuluh menit sejak Sooyan beranjak sampai dia kembali lagi ke mejanya dan Kibum setelah mengakhiri sambungan telepon. Sooyan sama sekali tak merasa kaget saat menemukan Kibum menatapnya dengan pandangan ingin tahu.

“Telepon dari siapa?” tanyanya.

“Hyeki,” jawab Sooyan singkat. “Shiftnya selesai lebih awal, jadi dia pulang dan terkejut karena aku belum di rumah.”

“Jadi kau harus pulang sekarang?” tanya Kibum lagi.

Sooyan tidak bisa berpura-pura tidak mendengar nada kecewa dari cara Kibum bertanya. Dia menggeleng. “Tidak, aku sudah bilang pada Hyeki akan menemanimu. Lagipula sayang sekali, makanan ini sudah terlanjur dipesan,” katanya sambil mulai mencomot salad di atas meja.

Kibum tersenyum senang dan mereka mulai makan. Denting bunyi sendok dan garpu menyelingi keheningan di antara mereka.

“Jadi itu Hyeki yang sama yang sering disebut Minho?” Kibum tiba-tiba bertanya.

Sooyan mengangguk.

“Wah, dia pasti gadis yang sangat hebat sampai bisa menolak pesona kharismatik Minho,” komentar Kibum. “Kau tahu gadis-gadis mengantri hanya agar bisa makan malam sekali saja dengan Pangeran Choi Minho.”

Tawa Sooyan meledak. Tawa kecil. “Ya, Hyeki memang hebat,” hanya itu yang dikatakan Sooyan.

Kibum meletakkan sendok dan garpunya, lalu mengelap bibir dengan serbet dan meraih gelas wine di atas meja. “Jadi, kau tinggal bersama Hyeki kan? Bagaimana dengan orangtuamu, Sooyan-ah?” tanya Kibum lagi.

Akhirnya Sooyan juga menyudahi makan malamnya dan meneguk segelas air putih sebelum menjawab pertanyaan Kibum. “Aku besar di panti asuhan, Kibum-ah. Orangtuaku meninggal sebelum aku berumur lima tahun,” kata Sooyan.

Sooyan tidak mengatakannya dengan nada sedih yang berlebihan tapi kalau melihat ekspresi Kibum, kau akan mengira Sooyan mengatakan hal yang paling menyedihkan di seluruh dunia. Mendadak Kibum terlihat tidak nyaman karena telah menanyakan hal itu pada Sooyan.

“Oh, aku turut berduka cita,” kata Kibum pelan.

“Tidak apa-apa,” balas Sooyan. “Lagipula aku punya kakak laki-laki, saudara laki-laki dan saudara perempuan di panti asuhan. Itu sudah cukup untuk memberiku keluarga,” tambahnya sembari teringat pada Jinki, Taemin dan Hyeki.

“Baiklah, baiklah, mungkin kita bisa ganti bicara tentang hal lain,” ujar Kibum, masih tak nyaman dengan topik sensitif mengenai keluarga Sooyan.

Sekarang giliran Sooyan yang bertanya pada Kibum. “Ayo, ceritakan padaku tentang keluargamu,” ujar Sooyan.

Kibum terdiam. Dia malah memainkan jarinya di atas bibir gelas sambil berpikir atau lebih tepatnya terlarut dalam lamunannya sendiri yang membuat Sooyan bingung.

“Kau tidak perlu menceritakannya kalau itu membuatmu tidak nyaman, Kibum-ssi,” kata Sooyan setelah membiarkan Kibum terdiam cukup lama.

Kibum menggelengkan kepalanya, lalu menatap Sooyan. “Aku punya keluarga lengkap. Ayah, Ibu dan seorang adik perempuan. Kau sudah bertemu ibuku bukan? Hubungan kami memang sedang tidak baik,” jelas Kibum.

Tak ada yang bisa dikatakan Sooyan, jadi dia mendengarkan.

“Adikku sakit. Sakit parah yang bahkan aku tak yakin bisa disembuhkan dan Ibu sama sekali tidak membantuku merawatnya,” Kibum menghela nafas dan menunduk memandanngi sisa wine di dalam gelas dengan menerawang.

Dari cara Kibum bicara, Sooyan tahu bahwa lelaki itu tidak pernah menceritakan hal ini pada siapa pun di luar lingkaran orang-orang terdekatnya. Fakta bahwa Kibum memberitahu mengenai masalah keluarganya pada Sooyan membuat gadis itu mau tak mau merasa istimewa. Dia merasa dipercaya sebagai teman Kibum.

“Aku turut menyesal,” kata Sooyan lembut.

Kibum malah tertawa getir. “Ini pertama kalinya kita bicara tentang keluarga dan siapa yang tahu ternyata kita senasib dengan kisah keluarga yang menyedihkan,” katanya sambil geleng-geleng kepala.

Sooyan tersenyum tipis. “Aneh bukan? Seolah kita fragmen terpisah yang dibuat menyatu,” komentar Sooyan.

“Itulah gunanya teman,” ujar Kibum. Kali ini tersenyum tulus.

Sooyan hanya balas tersenyum tulus.

Akhirnya dia bisa melihat sisi Kibum yang selama ini selalu menjadi misteri.

-Simfoni-

Minho hampir tersedak minumannya sendiri saat mendengar apa yang dikatakan Kibum. Dia menatap Kibum dengan tak percaya, tapi Kibum sama sekali tak terlihat seperti akan menarik ucapannya.

“Jadi itu benar?” tanyanya.

Kibum mengangguk.

“Jadi itu bukan rumor? Kau benar-benar berteman dengan Kim Sooyan?” tanyanya lagi.

Lagi-lagi Kibum mengangguk.

“Memangnya kenapa?” Kibum balik bertanya.

“Aish, Key! Kau ini gila atau bagaimana sih?! Untuk ukuran orang yang mengatakan padaku bahwa aku harusnya menyerah saja dengan Hyeki, tindakanmu ini benar-benar absurd,” komentar Minho gemas.

Kibum diam saja, lalu meraih cangkir kopi di atas meja dan meminum isinya perlahan. Dia tidak mengerti reaksi Minho yang terlihat seolah Kibum ‘melamar’ Sooyan, bukan mengajaknya berteman. “Jadi kau dengar rumor darimana mengenai pertemananku dengan Sooyan?” dia bertanya.

Kali ini Minho berdecak tak sabar. “Ibumu,” jawabnya singkat.

Darah Kibum seolah membeku dan jantungnya mencelos. “Ibu?” ulangnya.

Minho mengangguk. “Kau bukan pria lajang, Key. Sebesar apa pun rasa bencimu pada Jangmi, wanita itu tetap tunanganmu. Sekuat apa pun kau menolak apa yang ibumu inginkan, di mata orang lain kau itu pengusaha muda yang bertunangan,” kata Minho tanpa berbasa-basi. Dia menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan. “Kau pikir orang akan diam saja kalau mereka melihatmu sering makan siang atau makan malam berdua saja dengan sekretarismu di luar jam kantor? Kau pikir orang-orang akan berpikir positif, ‘ah, mereka cuma teman’? Tidak! Bagi mereka, kau berselingkuh dengan Sooyan dan Sooyan adalah wanita….” dia ragu sejenak sebelum akhirnya berkata dengan suara kecil, “nakal.”

Kibum terkesiap. Dia bukannya tidak tahu kalau hal ini sudah terjadi. Sooyan sudah berulang kali mengatakan hal ini padanya dan Kibum sangat sadar dengan kemungkinan rumor itu. Dia sama sekali tidak ambil pusing. Yang tidak Kibum sadari adalah bahwa kemungkinan orang-orang akan menimpakan prasangka yang tidak-tidak pada Sooyan.

“Lalu apa hubungannya dengan Ibu?”

“Kau sangat tidak beruntung karena yang mendengar rumor itu Ibumu, Key! Dan beliau menghabiskan cukup banyak waktu untuk menginterogasiku tentang Sooyan,” kata Minho.

Jadi, Ibu memutuskan untuk kembali ikut campur urusan Kibum. Bukankah dia sudah pernah dijanjikan kebebasan selama dia bersedia melanjutkan kepemimpinan perusahaan dan menikahi Jangmi?

“Abaikan saja semua rumor itu,” gerutu Kibum tak peduli. Dia menghabiskan sisa kopi di cangkir, merasakan pahit di lidahnya yang sama sekali tak berkaitan dengan kopi.

Mnho hanya diam, urung mendebat Kibum lebih jauh mengenai Sooyan. Kalau dia memutuskan berteman dengan Sooyan, itu urusannya dan Minho tidak akan ikut campur. Sama seperti Kibum tak pernah ikut campur urusannya dan Hyeki.

“Bagaimana kabar Jihyun?” Minho mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

Helaan nafas Kibum terdengar. “Tidak membaik dan tidak juga memburuk,” jawab Kibum putus asa. “Jonghyun melarangku berkunjung untuk beberapa waktu setelah Jihyun berulang kali mengamuk.”

“Jadi tidak ada perkembangan pasti?”

Pertanyaan Minho sungguh sulit dijawab.

“Kudengar kakak laki-laki Taemin kembali ke Korea,” kata Minho lagi.

Itu kabar baru bagi Kibum. Dia tidak tahu kalau Taemin dibesarkan bersama seorang kakak. Setahu Kibum, Taemin itu yatim piatu. Dibesarkan di panti asuhan. Begitulah caranya bertemu dengan Jihyun. Mereka jatuh cinta saat Jihyun mengajukan diri bekerja sukarela di panti asuhan tersebut. Saat pemakaman Taemin pun, Kibum tidak melihat satu keluarga pun di ruang duka. Hanya ada suster pengurus panti asuhan yang sempat ditemui Kibum untuk menyatakan belasungkawa.

“Bagaimana kau tahu?” Kening Kibum mengernyit bingung.

“Kenalanku di kepolisian memberitahu. Katanya, keluarganya ingin meninjau ulang kasus Taemin.”

Oh, tidak. Ini buruk sekali.

“Kuharap kenalanmu salah,” gumam Kibum getir.

Minho mengangkat bahu. “Kapan kau akan memberi tahu ibumu soal keberadaan Jihyun?” tanya Minho lagi.

Pandangan Kibum menerawang jauh ketika dia memikirkan jawaban pertanyaan Minho.

“Entahlah.”

Jawaban Kibum singkat.

-Simfoni-

Untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu kepulangan Jinki, Sooyan dan Hyeki akhirnya bisa makan malam lengkap bersama Jinki. Biasanya pria itu hobi lembur, namun malam ini Hyeki merengek dan mengeluarkan jurus pembujuknya agar Jinki mau meninggalkan kantor polisi lebih awal dan mampir ke apartemen mereka. Jinki takkan bisa  menolak Hyeki kalau dia sudah begitu. Sooyan tahu itu setelah bertahun-tahun tumbuh bersama mereka. Meski sampai saat ini, dia bertanya-tanya sendiri mengapa Hyeki dan Jinki tak kunjung menjadi sepasang kekasih.

Makan malam mereka sederhana. Masakan Korea yang dimasak oleh Sooyan. Hyeki hanya membantu seadanya. Sooyan sangat bangga karena Jinki memuji masakannya. Hal yang tidak pernah berubah meski keadaan di antara mereka terus berubah. Satu lagi yang tidak pernah berubah : kekompakan Hyeki dan Jinki untuk meledek Sooyan soal kekasih.

“Jadi siapa yang membuatmu pulang terlambat waktu itu?” Hyeki mulai menginterogasi saat mereka sudah selesai makan malam dan mulai menikmati puding.

Sooyan memberi Hyeki tatapan sebal. “Bukan siapa-siapa.”

“Kau punya kekasih dan tidak mengenalkannya pada kami?” tuduh Jinki pura-pura bersedih.

“Ya Tuhan! Dia bukan kekasihku!” protes Sooyan.

Jinki dan Hyeki tertawa, meski mereka masih tak menyerah mengorek informasi dari Sooyan.

“Oh, ayolah Sooyan, teman macam apa yang mengajak temannya makan malam sampai larut?” goda Hyeki lagi, disambut kekehan Jinki.

Sooyan melipat tangannya di depan dada dengan wajah sebal. Percuma saja kalau dia tidak menjelaskan. Hyeki dan Jinki pasti tidak akan berhenti menggodanya. “Baiklah, baiklah, dia Kim Kibum,” jawab Sooyan.

Mata Hyeki membelalak karena kaget. “Maksudmu Direktur Kim dari Lockets?”

Sooyan mengangguk ragu. “Aku tidak mengenal Kim Kibum yang lain, Hyeki-ya,” kata Sooyan.

Jinki diam saja saat Hyeki melemparkan pandangan tak nyaman pada pria itu. “Tapi, Sooyan-ah, bukankah kau sendiri yang bilang ibu Kibum itu… mengerikan?” tanya Hyeki hati-hati.

Pertanyaan Hyeki mau tak mau membuat Sooyan teringat pada kejadian di rumah sakit waktu itu. Sooyan menghela nafas. “Karena itu kukatakan bahwa kami hanya berteman. Ini tidak akan ada sangkut pautnya dengan Nyonya Kim,” ujar Sooyan defensif.

Baik Hyeki maupun Jinki tidak berkomentar lagi.

“Ngomong-ngomong soal kekasih, apa kalian berdua tahu seseorang bernama Kim Jihyun yang dekat dengan Taemin?” tanya Jinki akhirnya setelah lama hening.

Bunyi berdentang terdengar dari Hyeki yang menjatuhkan sendok pudingnya. Sooyan buru-buru memungut sendok itu dan memberi Hyeki sendok baru sementara gadis itu masih seperti membeku.

Oppa…” Hyeki berbisik lirik.

“Kami tidak mengenal kekasih Taemin, oppa,” kata Sooyan. “Apalagi mengetahui namanya.”

Jinki diam, merasa bersalah dengan atmosfir tegang yang tiba-tiba menyelimuti ruang makan. Tapi dia tidak bisa menyerah sekarang. “Aku menemukan nama itu di antara list kontak Taemin, tapi nomernya sudah tidak bisa dihubungi,” kata Jinki.

“Dia ……….menghilang?” suara Hyeki seperti desau angin.

Jinki mengangguk dan Sooyan terperangah.

Itu yang terjadi pada kekasih Taemin. Hilang tanpa jejak.

“Apa polisi tidak tahu? Kenapa mereka tidak menyelidikinya?” tanya Hyeki lagi.

Jinki hanya mengangkat bahu. “Entahlah, mungkin karena si supir truk mengaku dengan cepat sehingga mereka tidak ingin repot-repot menyelidiki lebih lanjut mengenai Kim Jihyun,” jawabnya seadanya.

“Apa gadis itu ada di sana saat kecelakaan terjadi?” kali ini Sooyan yang bertanya.

“Ya,” jawab Jinki singkat.

Hyeki dan Sooyan tanpa sengaja menghela nafas dalam-dalam secara bersamaan. Informasi dari Jinki membuat keduanya shock. Sama sekali tak menyangka bahwa ada orang lain yang bersama Taemin di hari naas itu.

“Kurasa topik ini tidak cocok dibicarakan di meja makan,” kata Sooyan, lalu bangkit menuju dapur sambil membawa gelas bekas puding. “Ada yang mau tambah puding lagi?”

-Simfoni-

“Apakah besok kau tidak masuk?” Sooyan bertanya pada Kibum.

Hanya ada mereka berdua di lift saat jam pulang kantor di hari rabu. Saat Sooyan bertanya, dia sama sekali tidak menoleh ke arah Kibum. Malah menatap Kibum melalui pantulan cermin di lift. Akhir-akhir mereka mulai mengurang frekuensi ‘bersahabat’ di luar jam kantor untuk mengurangi gosip-gosip, yah meskipun cara itu tidak sepenuhnya berhasil.

“Kau sudah tahu kalau jadwalku besok dikosongkan, Sooyan-ah,” jawab Kibum.

Sama seperti Sooyan, dia juga menatap gadis itu dari pantulan cermin.

Tidak ada respon. Perjalanan turun menuju lantai dasar berlangsung cepat. Dalam waktu beberapa detik, mereka sudah tiba di lantai dasar. Sooyan mengangguk pelan kepada Kibum sebagai tanda pamit sebelum mereka berpisah jalan.

Kibum bisa melihat ada sesuatu yang ingin ditanyakan gadis itu padanya. Lebih dari sekedar pertanyaan mengenai kehadirannya di kantor besok. Spontan, Kibum mengeluarkan ponselnya.

“Halo?” Sooyan menjawab telepon dengan bingung.

Jelas saja dia merasa bingung. Kibum hanya berjarak 200 meter dari tempatnya berdiri di lobi dan pria itu malah menelponnya.

“Tunggu aku di halte depan kantor.”

Satu kalimat singkat dan Kibum memutuskan sambungan telepon. Terburu-buru menghubungi Supir Yang untuk membawakan Audi miliknya yang jarang sekali digunakan. Betapa leganya Kibum saat dia menemukan Sooyan benar-benar menunggu di depan halte kantor. Dia pikir gadis itu tidak akan mendengarkannya.

“Ayo, naik,” ajak Kibum saat dia parkir di sebelah halte dan menurunkan jendela mobil.

Ekspresi terganggu muncul di wajah Sooyan. Kibum tahu dia pasti membenci tindakan spontan Kibum.

“Tidak, terima kasih,” tolak Sooyan keras kepala.

Kibum berdecak. “Ayolah, sebelum kita jadi tontonan orang-orang,” bujuknya.

Sooyan menghela nafas, lalu akhirnya menurut. Membuka pintu mobil dan berkendara bersama Kibum.

“Dimana kau tinggal? Aku akan mengantarmu,” tanya Kibum.

“Kenapa tiba-tiba ingin mengantarku?” Sooyan balik bertanya.

“Astaga! Kenapa kau membuatnya begitu sulit sih Kim Sooyan. Anggaplah temanmu yang istimewa ini sedang bermurah hati dan mengantarkanmu pulang,” sahut Kibum sambil tertawa geli.

Sooyan ikut tertawa, lalu menyebutkan alamatnya.

Sambil menyetir, Kibum memperhatikan Sooyan menatap foto yang diletakkan di dashboard mobilnya. Foto dirinya bersama Jihyun yang tersenyum lebar. Kibum masih ingat foto itu diambil hanya beberapa bulan yang lalu saat Jihyun nyaris lebih baik daripada sebelumnya. Dalam foto itu, Jihyun bahkan mengenakan pakaian pasien rumah sakit.

“Dia alasan kenapa aku selalu tak datang setiap hari kamis,” kata Kibum pelan.

Sooyan menoleh. “Dia…… adikmu?” tanya Sooyan.

Kibum mengangguk dan dia melihat Sooyan tersenyum.

“Adikmu cantik,” puji Sooyan.

“Namanya Jihyun. Kim Jihyun,” Kibum memberitahu Sooyan.

Dia melihat tubuh Sooyan sempat menegang mendengar nama adiknya, namun sesaat kemudian gadis itu sudah rileks kembali.

“Dia sakit apa?” tanya Sooyan lagi.

“Skizofrenia,” jawab Kibum.

Sooyan menutup mulutnya dengan tangan untuk meredam pekik kaget. “Oh, aku sangat menyesal.”

Kibum menggeleng. “Aku hanya berharap dia bisa hidup dengan normal,” kata Kibum menerawang.

Lama hanya ada hening di Audi Kibum saat Kibum menyadari Sooyan masih menatap lekat foto itu. Seolah berusaha mengingat apa yang dipancing oleh foto itu.

“Apakah Jihyun dirawat di Rumah Sakit Hyunshin?” tanya Sooyan.

“Bagaimana kau tahu?” Kibum balik bertanya.

Sooyan tersenyum. “Hyeki bekerja di sana,” kata Sooyan.

“Apa?” Kibum terkejut. Minho tidak pernah memberitahunya bahwa Park Hyeki teman Sooyan dan Park Hyeki cinta pertama Minho adalah seorang dokter. Dr. Park Hyeki. “Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau Hyeki itu dokter?”

Sooyan tertawa. “Maaf, mungkin aku lupa menyebutkannya.”

“Apakah kau punya foto bersama Hyeki?” tanya Kibum. Dia sangat penasaran dengan kemungkinan bahwa mereka kebetulan saling mengenal.

“Sebentar,” kata Sooyan mengambil ponselnya dari dalam tas tangan dan membuka album foto. Ah, pas sekali ada satu foto Hyeki sendiri yang diambil Sooyan diam-diam dari ponsel gadis itu. Hyeki lengkap dengan seragam dokternya.

“Ini,” Sooyan menyerahkan ponselnya pada Kibum saat mereka berhenti di lampu merah persimpangan.

Tawa Kibum meledak keluar saat dia melihat foto yang ditunjukkan Sooyan. Itu Park Hyeki yang sama. Yang selalu menggantikan Jonghyun di saat sahabatnya dinas keluar kota.

Dr. Park Hyeki.

“Kenapa tertawa?” Sooyan terlihat bingung.

Kibum berusaha bicara di antara gelak tawanya. “Aku sudah mengenal Hyeki, jauh sebelum mengenalmu Sooyan-ah,” katanya masih terkekeh.

Takjub pada kebetulan di antara mereka.

“Dunia benar-benar sekecil daun kelor.”

-Simfoni-

-to be continued-

 an : sorry for late updates

qL^^

Advertisements

One thought on “Simfoni – Fa

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s