The Proposal

a story by qL^^ poster by DazDhev @ HSG 

starring Xi Luhan, Song Saena (OC covered by IU) lenght ficlet genre friendship, romance rating PG 12 – young adult recommended back song Super Junior – Marry You, EXO – Tell Me What is Love

—-

the-proposal

The Proposal 

Once upon a time for best friends….

“Menunggu lama?”  Saena bertanya pada Luhan yang duduk tenang sambil menyesap wine putih dalam gelas sloki di atas meja.

Luhan hanya tersenyum tipis. “Well, yang bisa aku lakukan hanya menunggu sang dokter menyelesaikan tugas mulianya,” jawabnya sambil mengangkat bahu.

Jangan salahkan Saena karena sudah membuat Luhan menunggu. Salahkan Luhan yang dengan semena-mena telah membuat reservasi untuk makan malam mereka padahal pria itu tahu Saena jelas punya jadwal operasi meski itu di akhir minggu seperti malam ini. Luhan terlihat tampan dengan blazer semi formal dan kemeja yang dipadu dengan jins, sedangkan Saena merasa dirinya lusuh sekali dengan kemeja dan celana bahan khas setelan rumah sakit. Dia hanya sempat mandi setelah operasi selesai dan sama sekali tidak sempat berdandan.

Kafe tempat mereka janji bertemu merupakan tempat makan malam mereka yang biasa. Kafe sederhana yang terletak di sudut Fifth Avenue dengan menu makan malam yang biasa dan pertunjukan musik yang tak seberapa. Sedikit kehidupan ‘biasa’ yang bisa didapatkan Luhan di antara kehidupan super mewah khas selebriti yang selama ini dijalani pria itu.

Pelayan wanita sudah pergi sembari membawa pesanan makanan mereka. Saena meminum lemon tea hangat yang dipesankan Luhan untuknya. Pria itu jelas ingat bahwa Saena membenci segala jenis alkohol.

“Tahun depan aku akan berusia 28 tahun,” kata Luhan.

Alis Saena terangkat. “Aku juga akan berusia 27 tahun,” sahutnya. “Kenapa kau tiba-tiba membicarakan usia?” tanya Saena heran.

Luhan menghabiskan sisa wine di dalam gelas, lalu meletakkan gelas itu di atas meja dengan sedikit keras. “Kau lupa dengan percakapan kita lima tahun yang lalu?” Luhan malah balik bertanya.

Bicara soal ingatan, Saena adalah pengingat terbaik di antara mereka berdua, jadi apa yang Luhan ingat tidak mungkin dilupakan Saena dan memang benar. Saena mengingat percakapan mereka seolah kejadian itu baru berlangsung kemarin.

Saena yang berusia 21 tahun duduk berdampingan bersama Luhan yang berusia 22 tahun di resepsi pernikahan teman mereka yang menikah di usia 22 tahun. Demi Tuhan, mereka saat itu baru saja lulus kuliah dan bekerja atau bagi Saena, memulai internship di rumah sakit, tapi teman mereka malah sudah ada yang menikah.

Topik pembicaraan mengalir begitu saja : pernikahan.

Dua insan yang belum dewasa membicarakan pernikahan. Saena rasa mereka berdua saat itu memang sedang tidak waras.

“Aku tahu kau pasti ingat,” ujar Luhan penuh kemenangan.

Tentu saja Saena akan ingat. Dia ingat bagaimana Luhan bertanya-tanya mengapa ada yang mau menikah di usia yang sangat muda. Bagi Luhan, dia belum pantas menikah di saat dia belum belajar apa-apa mengenai kehidupan. Saena ingat saat itu Luhan harus menghadapi sengketa dengan agensi dan berjuang mengatur kembali karir selebritis yang sedang goyah.

Namun yang paling diingat Saena adalah pernyataan Luhan bahwa lekaki itu tidak yakin kalau dia bisa jatuh cinta.

“Lalu?” tanya Saena berusaha kembali fokus pada apa yang diinginkan Luhan. “Kenapa kau harus menyebut percakapan lama?”

Luhan menghela nafas, memainkan jemarinya di atas bibir gelas.

“Aku ingin menikah sebelum usiaku 28 tahun,” jawabnya yang sama sekali di luar prediksi Saena.

Terkejut, Saena hanya bisa menatap Luhan. Meskipun kemudian gadis itu tertawa sinis. “Menikah dan menghancurkan karir selebritismu?” Saena bertanya lagi.

“Aku akan tetap jadi aktor meski sudah menikah, Saena,” kata Luhan. “Tidak ada larangan untuk itu.”

Saena mendengus tak percaya.

“Kau juga sebaiknya menikah sebelum usiamu 27 tahun,” saran Luhan.

Kali ini Saena mendengus lebih keras, lalu meminum habis lemon tea sebelum menjawab Luhan dan kalimatnya yang sembarangan.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih,” ketusnya.

“Hei, bukankah dari dulu sudah kukatakan, kalau kau tidak boleh terlalu mandiri sebagai perempuan,” kata Luhan. Ada nada khawatir dalam ucapannya yang justru membuat Saena kesal.

Saena masih ingat saat itu Luhan memang pernah berkata jangan makan malam sendiri dan jangan merasa kesepian.  Sejak kuliah, Saena memang tinggal sendiri di Amerika dan melakukan segala hal sendiri sedangkan Luhan bahkan masih tinggal bersama keluarganya. Saat itu Saena hanya menanggapi Luhan sambil lalu dengan berkata dia sudah terbiasa, meski di dalam hati, Saena membenci segala ucapan Luhan dan kebenaran yang ada di dalamnya.

“Lupakan, Luhan. Lebih baik sekarang kita bicarakan dirimu yang ingin menikah,” Saena mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Jadi sekarang kau sudah jatuh cinta pada siapa?” tanya Saena.

Jawaban Luhan hanya berupa gelengan, tapi Saena sama sekali tidak terkejut.

“Aku sudah bilang padamu kalau aku tidak akan bisa jatuh cinta seperti orang lain rasakan atau seperti skenario film-film,” kata Luhan santai.

“Lalu?” pancing Saena.

“Aku hanya merasa sudah siap untuk menikah,” Luhan berkata dengan nada santai yang sama seperti kalimat sebelumnya.

Saena menggelengkan kepala dan berseru gemas. Dokter spesialis bedah anak itu berdecak tak sabar. “Ya, aku tahu kau berpikir dirimu itu tampan, tapi tolonglah Luhan. Kau tidak bisa menikahi dirimu sendiri,” seru Saena.

Luhan tergelak, mungkin dia merasa Saena yang gemas pada sikapnya terlihat lucu. Kadang Saena memang tidak mengerti Luhan yang selalu menganggap dirinya yang kesal atau cemberut seperti boneka-boneka lucu di etalase toko mainan.

“Aku sudah siap menikah dan aku mencari orang yang akan menemaniku melewati pernikahan,” jawab Luhan sederhana.

“Tapi, Lu, kenapa kau harus mengatakan semua ini padaku kalau kau—”

Ucapan Saena terhenti di tengah saat dia menyadari apa yang akan dikatakannya bersamaan dengan sepotong kalimat Luhan di masa lalu yang luput dari ingatannya.

Aku mencari gadis terbaik di antara semua gadis yang aku temui untuk menikah denganku. 

Astaga! Apakah Luhan sedang melamarnya?

Luhan terlihat sangat menikmati ekspresi panik di wajah Saena dan kini mulai tertawa keras.

“Luhan!” protes Saena kesal. “Ini tidak lucu!” omelnya.

Tawa Luhan masih belum berhenti meski dia berusaha menahan tawanya untuk menghormati Saena. Tangan Luhan memegangi perutnya yang melilit karena tertawa.

“Kau harus bercermin dan melihat ekspresimu,” kata Luhan masih tertawa geli.

Saena cemberut. Demi Tuhan, Luhan ini sebenarnya serius atau sedang mengerjainya sih?

“Kalau kau tidak berhenti tertawa dalam hitungan lima, aku akan pulang,” ancam Saena, tak peduli meski makanan mereka belum juga tiba.

“Satu!”

“Dua!”

“Tiga!”

“Baiklah, baiklah,” kata Luhan berusaha keras mengembalikan ekspresi serius di wajahnya, meski sisa tawa masih ada di sana. “Sampai mana kita tadi,” kata Luhan mengingat-ingat. “Ah, sampai gadis terbaik untuk kunikahi,” tambahnya.

Saena mengigit bibir.

“Lima tahun yang lalu kau bilang padaku masih banyak impian yang ingin kaukejar saat aku bertanya kapan kau ingin menikah,” kata Luhan. “Bukankah sekarang sudah tercapai?” tanyanya lagi.

“Tunggu dulu,” potong Saena panik. “Biar kuluruskan dulu, apa kau sekarang benar-benar sedang mengajakku menikah?” Saena bertanya.

Jawaban Luhan harus tertunda karena pelayan wanita telah kembali dengan membawa pesanan mereka. Steak tenderloin untuk Luhan dan spaghetti carbonara untuk Saena. Mereka mengucapkan terima kasih dan pelayan itu pergi.

“Bukankah sudah jelas?” Luhan balik bertanya.

Saena malah gelagapan menanggapi sifat terus terang Luhan. “Tapi… tapi…”

“Kita sudah membicarakan ini sejak dulu sekali, Saena,” kata Luhan gampang sambil memotong steak-nya. “Seharusnya kau tidak perlu terkejut,” tambahnya lagi.

Ugh, Saena tidak tahu bagaimana caranya Luhan bisa makan dengan tenang di saat mereka membicarakan hal seperti ini. Saena saja sudah tak berminat untuk menyentuh spaghetti meski dia sangat lapar.

“Bagaimana dengan orang tuamu? Orang tuaku? Keluarga kita?” desak Saena.

Mereka berdua berasal dari keluarga yang jauh berbeda. Seluruh keluarga Saena adalah dokter sedangkan keluarga Luhan kebanyakan berprofesi sebagai pengusaha atau selebriti seperti Luhan. Keluarga Saena adalah keturunan asli Korea, tanpa darah campuran dengan kebudayaan Timur yang sangat ketat sedangkan keluarga Luhan adalah keluarga China-Amerika yang lebih liberal. Mereka dididik dengan cara berbeda. Saena sendiri heran bagaimana mungkin mereka bisa bersahabat nyaris enam tahun lamanya dengan begitu banyak perbedaan.

“Yang menikah kan kita. Kau dan aku. Kurasa tidak akan ada masalah,” jawab Luhan, lagi-lagi dengan nada santai.

Bagi Saena, pernikahan bukan tentang dia dan Luhan saja, tapi seluruh keluarga mereka. Namun Luhan tidak mempermasalahkan itu, baginya pernikahan cukup hanya dia dan Saena saja.

“Bagaimana dengan karir aktormu?” tanya Saena lagi.

Kali ini Luhan terlihat sedikit tak sabar. “Aku sudah bilang kan kalau aku akan tetap jadi aktor dan aku tidak akan melarangmu untuk terus bekerja sebagai dokter bedah,” jelas Luhan.

Kini Luhan menatap Saena lekat-lekat membuat gadis itu gugup. “Kenapa? Kau tidak suka kalau aku melakukan adegan kissing?” tanya Luhan. Meski Saena tidak menjawab, Luhan sudah melanjutkan kalimatnya. “Aku bisa berkompromi, Saena. Aku bisa jadi aktor film action yang tidak ada adegan romantis. Kita sudah sepakat kan sejak lima tahun yang lalu, kalau pernikahan adalah kompromi bukan cuma komitmen saja.”

Ya, Saena tahu itu. Itu kesepakatan pertama mereka ketika membahas topik pernikahan.

“Apa masih ada yang menganggumu?” Luhan bertanya, jelas bisa membaca ekspresi kalut di wajah Saena.

Hal yang menganggu Saena sebenarnya bukan tentang karir Luhan atau keluarga mereka yang sangat paradoks. Tapi….

“Oh,” ekspresi Luhan berubah paham. “Kau takut karena aku tidak mencintaimu?”

Skatmat!

Luhan menebaknya dengan akurat sehingga Saena terpaksa menunduk malu.

Saena sangat mengerti dengan pendapat Luhan mengenai jatuh cinta. Dia juga tidak bisa membayangkan dirinya akan jatuh cinta dengan seseorang sampai membuatnya mabuk. Saena memang bukan tipe gadis melankolis romantis, tapi dia setidaknya juga ingin dicintai pria yang akan menikahinya. Apalagi jika pria itu Luhan yang sudah dicintai Saena sejak mereka saling mengenal nyaris enam tahun silam.

“Pernikahan itu untuk Tuhan, bukan? Yang terpenting bukan bersama orang yang kau cintai saja, tapi bagaimana kau mencintainya karena Tuhan,” kata Luhan bijak, sesuatu yang jarang Saena dengar dari Luhan yang blak blakan dan hobi bercanda.

“Aku akan mencintaimu,” kata Luhan lagi, “demi Tuhan, dirimu dan… diriku sendiri.”

“Luhan….” bisik Saena lirih.

Kalimat itu memang terdengar sangat chessy, tapi Saena tak bisa menahan senyum mendengar Luhan mengatakannya dengan tulus.

So, Song Saena,” kata Luhan sambil meletakkan kotak cincin dengan beledu biru di atas meja. “Will you marry me?”

Cincin berlian berkilauan ditimpa cahaya lampu kafe.

Mana mungkin Saena berkata tidak pada Luhan dan ekspresi penuh harapnya, jadi dia dengan mantap berkata, “Yes, I do.

-Fin-

AN : Haloo. Aku bawa fict Luhan – Saena lagi yeaaay/ seneng gaa? ini cuma selingan aja selama menunggu Gone dan Simfoni yaa

Btw, comments and likes, pleaase 🙂

qL^^

NO SILENT READERS! NO PLAGIARISTS!

Advertisements

5 thoughts on “The Proposal

  1. SPOT JANTUNG PAS BACA BAGIAN AKHIR, GA TAU NAPA AQ BISA NGERASAIN APA YG DIRASAIN SAENA. Huwaa..aq jg pengen dilamar dng cara implisit ky gtu.
    Trus aq jg suka wktu ‘luhan sangat menikmati ekspresi panik di wajah saena’, sumpah luhan evil bgt pas bag itu.

    ‘Pernikahan adlh kompromi, bukan cm komitmen. |
    Aq akan mencintaimu, demi Tuhan, dirimu, dan diriku sendiri.’
    | oke fix, aq suka, mw aq jadiin status facebook. Hahay, blh ya qi?

    Like

    1. hihi ini fict alay ga ngerti juga keidean dari mana
      ciee kak fafa udah pengen dilamar tuuh /kode-garis-keras/

      boleh kak, boleh banget
      jangan lupa cantumin namaku yaa /becanda/
      thanks komennya ❤

      Liked by 1 person

      1. haaiiissss,,, qiqi! tau aja deh, aku jadi malu kan. hhahay..
        alamatmu mana, ntar aq kirimi undangannya, wkwkwkwkwk

        tenang, ntar aku cantumin namamu deh, biar terkenal.

        Like

  2. hollaaaaa… apa kehadiranku sudah tidak diharapkan lagi disini??? aaaa… aku minta maaf udah telat main kesini. kmrin pas kamu kasih link itu, aku lagi ujian dan skrg baru sempat main ke sini. yeee!

    back to your ff!!

    Ini fluff bingittt!!! simple ya, ga usah cheesy2 banget buat dapatin hati wanita. /Luhan ga usah ngapa2in jg udah berhasil dapatin hati aku/
    aku mauuu jadi saenaaaa! ga usah dikasih janji2 manis! langsung kawin aja! ahahah.

    uhuhu, aku suka banget loh^^ tetap berkarya ya. eh, tapi kita blum kenalan loh. aku dev 95 line, kekasih Minseok, selingkuhan Chen. salam kenal ya…^^

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s