Simfoni – Mi

Title : Simfoni | Author : qL^^ |

Casts : Kim Kibum, Kim Sooyan, SHINee, Park Hyeki, Kim Jihyun

Lenght : Chapter | Genre : Angst, Friendship, Family, Psychology

Rating : PG-12

Simfoni

Simfoni

Nada Ketiga : Mi

The First Time in Foverer

Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak Sooyan berdiri di hadapan bingkai foto yang terpajang di bufet lorong kamar. Di dalam foto itu, Hyeki, Taemin, Sooyan dan Jinki tertawa lebar merayakan hari ulang tahun Sooyan. Foto itu diambil hanya beberapa bulan sebelum kecelakaan fatal menewaskan Taemin, membuat Jinki meninggalkan Korea dan hidup mereka berantakan.

Ah, bicara soal kecelakaan fatal itu, Sooyan tidak tahu apakah dia mempercayai Jinki bahwa semua hal itu memang diatur untuk membunuh Taemin. Dia sulit percaya bahwa ada orang di dunia ini yang menginginkan kematian Taemin. Taemin yang ceria, baik hati, kelewat polos dan senang menolong.

“Sooyan-ah……” panggil Hyeki pelan.

Sooyan tersentak dan berbalik, menemukan Hyeki berdiri di depan pintu kamar sambil menatap Sooyan prihatin.

“Ada apa?” Sooyan balik bertanya.

Hyeki mengangkat bahu. “Aku sudah memanggilmu berulang kali dan kau tidak mendengarkan panggilanku. Bukankah harusnya aku yang bertanya ada apa?” Hyeki balik melemparkan pertanyaan pada Sooyan.

Rupanya memang Sooyan sudah terlalu lama memandangi foto itu.

“Kau masih tidak percaya dengan ucapan Jinki oppa?” Hyeki bertanya hati-hati.

Sooyan menghela nafas. “Bukan tidak percaya. Jinki oppa tidak akan membohongi kita. Hanya saja aku tak tahu harus bereaksi bagaimana kalau itu benar,” jawab Sooyan.

Kali ini Hyeki ikut terdiam, memandangi foto itu juga.

“Apa kau tidak pernah bertanya-tanya soal kekasih Taemin yang menghilang?” tanya Hyeki lagi.

Sooyan menggeleng. “Astaga! Apa kau mau bilang bahwa mungkin saja kekasih Taemin terlibat?” Sooyan terdengar sangat panik.

Lagi-lagi Hyeki mengangkat bahu. “Aku tak tahu, Sooyan-ah. Hanya saja Taemin tidak pernah mengenalkan gadis itu pada kita. Nama dan wajahnya, kita sama sekali tidak tahu. Meskipun aku yakin, Jinki oppa pasti tahu,” ujar Hyeki.

“Karena itu Jinki oppa meninggalkan Korea?” Sooyan bertanya.

Hyeki menelan ludah ragu. “Mungkin.”

Keduanya terdiam sejenak. Membiarkan kalimat-kalimat spekulasi mereka dicerna oleh pemikiran masing-masing. Hyeki lebih dulu bicara pada akhirnya.

“Baiklah, ayo tidur. Masih banyak yang harus kita kerjakan besok,” kata Hyeki. “Direktur Kim tidak akan senang kalau sekretarisnya terlambat bangun.”

Sooyan tertawa. Hyeki hanya tidak tahu bahwa besok hari kamis. Direktur Kim tidak akan muncul di kantor. Sooyan belum menceritakan mengenai kebiasaan aneh Kibum di hari kamis pada Hyeki. Menurutnya itu privasi perusahaan yang harus dia jaga.

“Ngomong-ngomong, kudengar dari Minho-ssi, dia mengantarmu ke panti asuhan tempo hari?” goda Sooyan.

Mata Hyeki membelalak. “Apa? Dia cerita padamu?”

Sooyan tertawa kecil. “Ya. Minho-ssi khawatir kau berbohong tentang mau kemana, jadi dia menanyakan padaku,” jawab Sooyan.

Hyeki berdecak. “Sudah kubilang padanya kalau hubungan kami tidak akan berhasil. Dia bahkan tidak tahu kalau aku besar di panti asuhan. Berani taruhan, dia pasti memandangku rendah,” sahut Hyeki gemas.

“Minho-ssi tidak begitu, Hyeki-ya,” bela Sooyan. “Aku sudah menjelaskan padanya soal latar belakang kita setelah dia bertanya. Dia sama sekali tidak mencelamu. Kurasa itu malah membuatnya semakin menyukaimu.”

Hyeki menggeleng. “Hal itu tidak akan berhasil. Sama seperti hubungan Taemin dan kekasih kaya rayanya itu.”

“Tidakkah kau lihat Minho-ssi sangat tulus padamu? Ini akan berbeda dengan hubungan Taemin,” kata Sooyan menekankan.

“Sooyan-ah….” rengek Hyeki, jelas sekali dia menolak membahas masalah ini.

“Apa karena Jinki oppa kembali?” tanya Sooyan pelan sekali, sedangkan Hyeki sudah menunduk. “Kau masih berharap pada Jinki oppa?”

Hyeki diam saja, lalu langsung berbalik badan. “Aku akan tidur duluan. Selamat malam Sooyan-ah,” katanya dan tanpa menunggu jawaban Sooyan, Hyeki menutup pintu kamarnya.

Sooyan menghela nafas. Dia tidak bermaksud membuat situasi tidak nyaman dengan menanyakan hal tadi. Sooyan hanya ingin membantu. Minho terlalu banyak menolongnya dan dia ingin melihat Hyeki bahagia, bukan terus menerus berharap pada Jinki yang Sooyan yakin hanya menganggap mereka semua adiknya. Tidak lebih.

Sooyan menatap foto itu untuk terakhir kali, sebelum masuk ke kamarnya yang berhadapan dengan kamar Hyeki.

Simfoni-

Kibum berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat Jihyun. Dia disambut oleh dr. Park Hyeki, asisten Jonghyun. Kibum sudah pernah bertemu dengan dokter muda itu sebelumnya. Dr. Park selalu bertugas menggantikan Jonghyun jika Jonghyun sedang dinas atau menghadiri seminar di luar kota. Seperti hari ini.

“Selamat pagi Tuan Kim,” sapa Hyeki ramah. “Nona Jihyun sudah menunggu Anda sejak tadi.”

Kibum mengangguk, mengikuti langkah dokter muda itu menuju kamar Jihyun. “Apakah ada kabar terbaru mengenai Jihyun?” tanya Kibum.

“Episodenya tidak pernah kambuh sejak hari itu, namun saya harus jujur mengatakan bahwa frekuensi ilusi yang dialami masih cukup sering,” jawab Hyeki prihatin sambil sesekali mengecek catatan pasien Jihyun. “Saya rasa membawa Nona Jihyun keluar dan berjalan-jalan akan lebih mudah untuk membantunya membedakan ilusi dan kenyataan,” tambah Hyeki.

Kibum paham mengenai hal itu. Jonghyun sudah menjelaskan melalui telepon dan itulah yang akan dilakukan hari ini bersama Jihyun.. Berjalan-jalan di bawah sinar matahari musim semi.

Saat Kibum tiba, Jihyun sudah siap dengan pakaian rapi. Adiknya melompat ke dalam pelukannya dan tersenyum girang saat menerima sebuket lavender dari Kibum.

“Kau terlihat cantik, Jihyun-ah,” puji Kibum.

Jihyun tersenyum cerah. “Terima kasih, oppa. Aku memaksa para suster membiarkanku memakai gaun ini,” katanya, lalu mengisyaratkan agar Kibum mendekat dan berbisik, “Ini gaun favorit Taemin.”

Kibum menelan ludah. “Ayo kita berangkat,” ajaknya.

Jihyun mengangguk bersemangat, menggandeng lengan Kibum keluar kamar.

Setelah Kibum memastikan Jihyun sudah duduk aman di mobil dengan sabuk pengaman, dia kembali untuk berpamitan pada Hyeki.

“Telepon kami jika ada situasi darurat, Tuan Kim,” pesan Hyeki.

“Jihyun akan baik-baik saja. Dia bersama oppa-nya,” ujar Kibum mengulurkan tangan dan menjabat tangan Hyeki yang hanya bisa mengangguk maklum.

Mobil Kibum melaju di kawasan pinggiran Busan, menyusuri jalanan yang tak terlalu ramai menuju sebuah taman dengan danau yang luas. Taman ini indah dipenuhi bunga-bunga yang mulai bermekaran. Yang lebih penting lagi, taman itu tidak terlalu sepi dan juga tidak terlalu ramai. Kibum memilih salah satu lokasi yang cukup rindang sebagai tempat mereka berpiknik.

Jihyun bersikap nyaris normal pada setiap kesempatan. Membantu Kibum membentangkan lembar selimut kotak-kotak sebagai alas, membongkar makanan yang disiapkan oleh Min Ahjumma, dan yang paling penting sama sekali tidak menyebut-nyebut Taemin..

“Aku tidak suka guru piano yang baru,” protes Jihyun pada Kibum.

“Kenapa?” Kibum bertanya.

“Dia tidak suka aransemen musik yang kita ciptakan. Katanya melodi itu aneh,” kata Jihyun mengeluarkan unek-uneknya.

Oh, Kibum tahu aransemen musik itu. Yang konon diciptakan sebagai lagu pengantar tidur Jihyun, yang kemudian diklaim Jihyun sebagai buatan Taemin.

“Memangnya menurutmu arasnsemennya tidak aneh?” tanya Kibum lagi. Kalau dia bisa menjauhkan Jihyun dari aransemen musik itu, ilusi tentang Taemin mungkin akan ikut berkurang.

Oppa!” seru Jihyun marah. “Itu buatan Taemin.”

Kibum menghela nafas. “Jihyun-ah, lihat oppa baik-baik,” kata Kibum. Kesabarannya mulai menipis. Dia harus bisa mematahkan ilusi Jihyun. “Lihat baik-baik, apakah kau melihat Taemin di sekitarmu?” tanyanya.

Jihyun diam, mengigit bibir dan memandang berkeliling. “Tidak…” sahutnya lirih.

“Itu karena Taemin tidak pernah ada di sini, Jihyun-ah. Taemin sudah pergi, pergi jauh sekali dan tidak akan kembali,” kata Kibum lembut.

“Dia berjanji tidak akan meninggalkanku…” bisik Jihyun.

“Dia tidak meninggalkanmu. Dia pergi karena memang harus, Jihyun-ah,” bujuk Kibum.

Jihyun menggeleng. “Tidak mungkin. Jadi selama ini…”

“Itu bukan Taemin,” potong Kibum.

Terhenyak. Jihyun hanya bisa memandang Kibum kalut. Tak tahu harus berkata apa. Kibum merasa sedikit bersalah, memaksakan pengetahuan itu pada Jihyun. Dia bersyukur Jihyun terlihat bisa menerima, alih-alih episodenya kembali kambuh.

“Tunggulah, disini. Oppa akan membelikanmu es krim, oke?” bujuk Kibum.

Jihyun mengangguk pelan.

Kibum mengacak rambut Jihyun, sebelum beranjak dari duduknya dan menuju penjual es krim di seberang jalan. Dia hanya butuh waktu sepuluh menit untuk kembali ke tempat Jihyun dan terlonjak kaget saat tak menemukan Jihyun di sana. Jerit-jerit pengunjung taman membuat Kibum berlari ke arah kerumunan tanpa pikir panjang. Es krimnya terjatuh, namun Kibum tak peduli. Asalkan dia bisa menemukan Jihyun.

“Jihyun!” teriak Kibum.

Jihyun ada di tengah danau, berjalan dengan pandangan kosong menuju satu titik. Meski Kibum tak bisa melihat, dia tahu itu ilusi Jihyun mengenai Taemin.

Tanpa membuang waktu, Kibum melompat ke dalam danau dan menarik Jihyun keluar. Adiknya meronta dan menjerit.

“Lepaskan! Kibum oppa salah! Taemin ada di sana!” jerit Jihyun histeris.

Dia terus menerus mengulang kalimat itu.

Kibum dibantu dengan beberapa orang akhirnya berhasil menarik Jihyun keluar dari danau. Kibum merogoh saku jasnya, mencari obat penenang Jihyun yang diberikan Hyeki jika sewaktu-waktu episode Jihyun kambuh. Kibum memaksa Jihyun menelan obat itu dan lambat laun gerakannya berhenti. Tertidur di bawah sedasi.

Orang-orang yang tadinya berkumun menonton sudah pergi. Kibum sama sekali tidak mengucapkan maaf atau bahkan terima kasih pada orang yang telah menolongnya. Dia menggendong Jihyun ke dalam mobil, lalu menyetir dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit dan disambut oleh Hyeki yang terkejut.

“Siapkan ranjang dorong,” perintah Hyeki tenang.

Kali ini Kibum menyusuri lorong rumah sakit di belakang ranjang dorong Jihyun. Pintu ruang rawat Jihyun menutup di depan wajahnya, membuat Kibum menunggu di lorong rumah sakit.

Kedinginan dan pilu.

Simfoni-

“Anda sakit?”

Sooyan akhirnya memberanikan diri bertanya setelah seharian ini hanya mengamati gerak-gerik Kibum. Atasannya itu terlihat pucat, lebih pucat daripadanya biasanya. Wajahnya yang kurus terlihat lelah dan lesu dan ada lingkaran hitam di bawah matanya yang sedikit berhasil disembunyikan dengan bantuan make up. Seharian ini Kibum selalu meminta minuman hangat dan Sooyan sesekali menangkap pria itu bersin.

Ditanya seperti itu sebenarnya menjengkelkan untuk Kibum. Dia tahu kondisi tubuhnya sedang tidak fit, kalau tidak mau dibilang sakit. Dan fakta bahwa Sooyan bertanya, menunjukkan kalau Kibum tidak berhasil menyembunyikan keadaan fisiknya dengan baik.

“Apa terlihat jelas?” akhirnya Kibum malah balik bertanya.

Gerakan Sooyan yang sedang merapikan berkas-berkas hasil rapat direksi beberapa saat yang lalu terhenti.

“Kurasa para direksi tidak menyadarinya, kalau itu maksud Anda,” jawab Sooyan sopan.

Kibum menyeringai. Ini yang disukainya dari Sooyan. Mereka seakan berada dalam frekuensi pikiran yang sama, sehingga Sooyan terkadang menjawab pertanyaannya dengan tepat meskipun Kibum menyimpan implikasi lain dalam kalimatnya.

“Apakah ada jadwal lagi sebelum waktu pulang?” Kibum kembali bertanya.

Sooyan mengecek agendanya lagi, meskipun dia hafal di luar kepala jadwal hari ini. “Tidak ada. Anda hanya perlu menyelesaikan koreksi berkas-berkas Shim Co. Lalu Anda bisa pulang dan beristirahat, Direktur Kim,” jawabnya.

Kibum mengangguk. “Tolong antarkan segelas teh hangat ke kantorku,” pesannya sebelum meninggalkan ruang rapat lebih dulu dari Sooyan.

Setelah mengantarkan teh, Sooyan kembali tenggelam dalam kesibukannya mengatur jadwal dan menyiapkan laporan ringkasan rapat direksi. Dia baru menyadari bahwa sudah waktunya pulang saat melirik jam di atas meja. Seingatnya, Kibum juga belum keluar dari ruangannya sejak tadi.

Hati-hati karena takut dimarahi, Sooyan mengetuk pintu ruang kerja Kibum dengan sopan.

“Permisi Direktur Kim. Saya akan pulang sekarang. Apakah Anda akan lembur?” tanyanya.

Tidak ada jawaban.

Sooyan mengetuk lagi. “Permisi, Direktur Kim.”

Masih tidak ada jawaban.

Sooyan mulai cemas. Jangan-jangan…

“Permisi, Direktur Kim,” Sooyan mengetuk lebih keras, namun masih tidak ada jawaban.

Akhirnya dengan nekat, Sooyan membuka pintu ruang kerja Kibum. Dia mengintip ke dalam dengan hati-hati, takut melanggar privasi atasannya.

“Direktur Kim….” panggilnya.

Sooyan melangkah masuk.

“Astaga!” pekiknya.

Kibum terbaring di lantai entah sudah berapa lama. Sooyan segera menghampiri Kibum dan berjongkok di dekatnya. Panik menyerang Sooyan. Dengan sekuat tenaga, dia mengangkat tubuh Kibum menuju sofa yang tidak jauh letaknya. Setelah membaringkan Kibum, Sooyan meraba kening pria itu.

Rasanya seperti memegang bara api. Panas sekali.

Tanpa pikir panjang, Sooyan meraih ponselnya, menghubungi Minho. Dia tidak tahu harus menghubungi siapa.

“Halo Minho-ssi?” sapa Sooyan.

“Ya, ada apa Sooyan-ah?” suara Minho menyapa.

“Direktur Kim sakit. Dia pingsan dan tubuhnya panas sekali. Apa yang harus kulakukan?” tanya Sooyan panik.

“Astaga, Key!” omel Minho. “Merepotkan orang lain saja.”

Sooyan berdecak tak sabar. Bagaimana mungkin Minho masih sempat mengomel di saat Kibum demam tinggi begini?

“Apa yang harus kulakukan?” desak Sooyan lagi.

“Baiklah, baiklah, Lady. Tenang dan tarik nafas,” instruksi Minho. “Telepon Supir Jang dan minta dia membantumu membawa Kibum ke Rumah Sakit Universitas Seoul. Aku akan menghubungi dr. Kim Jonghyun agar dia bisa menyambutmu di sana,” tambahnya.

Sooyan mengangguk, mengakhiri sambungan telepon dengan Minho dan menghubungi Supir Jang. Bersama-sama mereka melaju ke Rumah Sakit Universitas Seoul. dengan Kibum yang masih tak sadarkan diri di kursi belakang. Minho tak bohong karena begitu mobil mereka tiba, dr. Kim Jonghyun sudah siap bersama timnya dan ranjang dorong, membawa Kibum menuju UGD.

Sooyan membiarkan Supir Jang pulang meskipun dia sendiri memutuskan menunggui Kibum yang kini sudah dipindahkan ke ruang rawat sampai Minho datang. Hanya Minho keluarga Kibum yang dikenal Sooyan.

Malam sudah sangat larut. Sooyan menunggu sambil terkantuk-kantuk di dekat ranjang Kibum. Tidur Kibum tidak tenang. Dia bergerak-gerak gelisah dan bergumam terus, membuat Sooyan khawatir.  Dr. Jonghyun bilang demamnya sudah turun dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sooyan baru menyadari bahwa dia belum makan malam dan bahkan belum mengabari Hyeki kalau dia akan pulang terlambat. Sooyan baru saja bangkit dan akan menuju pintu untuk menelpon Hyeki saat pintu ruang rawat itu terbuka.

Ada Choi Minho, Shim Jungmi dan seorang wanita paruh baya yang tidak pernah dilihat Sooyan sebelumnya. Wanita itu menatap Sooyan dengan pandangan menghina dan kejam, lebih kejam daripada pandangan kotor yang diberikan Shim Jungmi padanya.

“Kau bisa pulang sekarang,” kata wanita itu dingin, lalu berbisik sehingga hanya Sooyan yang bisa mendengar. “Jangan berharap lebih hanya karena kau menolong Kibum sekali.”

Mata Sooyan membelalak mendengar kalimat itu. Apa dia sedang diancam? Apa dia terlihat seperti gadis matrialistis?

Sooyan tidak menjawab, melainkan hanya membungkuk singkat dan keluar dari ruang rawat Kibum tanpa menoleh. Dia terkejut ketika menyadari Minho menyusulnya.

“Apa Bibi Kim mengatakan sesuatu yang buruk padamu?” tanya Minho.

“Bibi Kim? Itu Ibu Direktur Kim?” tanya Sooyan tak percaya.

Minho mengangguk. “Apa pun yang dikatakannya, jangan diambil hati. Kau mau pulang? Aku bisa mengantarmu,” tawar Minho.

Tetapi Sooyan menggeleng. “Aku bisa pulang sendiri, Minho-ssi. Terima kasih tawarannya,” ujar Sooyan.

Sooyan bergegas berbalik badan sebelum Minho bisa memaksa atau membujuknya membiarkan Minho mengantarnya pulang. Tepat di luar lobi rumah sakit, Sooyan menghela nafas lelah.

Ada sesuatu dari tatapan Nyonya Kim yang menyatakan ketidaksukaan pada dirinya meski ini pertam kali mereka bertemu. Nyonya Kim tidak pernah muncul dalam jamuan perusahaan apa pun, selalu Tuan Kim —Ayah Kibum yang hadir. Mungkin Sooyan akan memasukkan Nyonya Kim dalam list kehidupan pribadi Kibum yang membuatnya tertarik.

Taksi kuning cerah berhenti di depan Sooyan, membawa gadis itu pulang ke apartemennya.

Simfoni-

Saat Kibum terbangun, dia bertanya-tanya apa yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Kibum mengenali ciri khas ruang rawat VIP ini. Dia pernah berjam-jam selama berbulan-bulan menemai ibunya dan Jihyun di sana. Kali ini, dia yang harus terbaring di ranjang rawat. Kibum tak mengerti kenapa dia justru harus melihat Jungmi sebagai orang yang pertama kali dilihatnya setelah siuman. Beruntung, Minho masuk ke dalam ruang rawat beberapa saat kemudian.

“Kenapa dia di sini?” tanya Kibum pada Minho sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.

Jungmi sendiri yang menjawab pertanyaan Kibum. “Waeyo? Apa kau berharap sekretarismu yang ada di sini? Cih!”

Minho memberi Jungmi tatapan memperingatkan. “Kau bisa pulang, Jungmi-ya. Kau bisa berhenti pura-pura jadi tunangan yang baik karena Bibi Kim juga sudah pulang diantar supir Jang,” kata Minho datar.

Jungmi tersenyum sinis, mengambil tas tangannya lalu menoleh pada Kibum. “Cepat sembuh, Kibum-ah,” katanya dengan nada mengejek.

Kibum tidak menjawab, memperhatikan Jungmi keluar dari ruang rawatnya sampai pintu tertutup.

“Tadi Sooyan di sini,” ujar Minho pelan sambil duduk di kursi dekat ranjang Kibum.

“Apa katamu? Sooyan? Kim Sooyan?” tanya Kibum tak percaya. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri karena dia terlalu banyak bergerak.

Minho mengangguk.

“Bagaimana bisa?” tanya Kibum lagi.

“Dia menemukanmu pingsan di kantor dan membawamu kemari,” jawab Minho kalem, kentara sekali menikmati melihat Kibum tersiksa karena sakit kepala.

Kibum hanya bisa menghela nafas. “Dia tahu terlalu banyak tentang diriku.”

“Kau demam tinggi, bodoh! Bersyukurlah karena Sooyan bersedia membawamu kemari,” kata Minho lagi menunjuk-nunjuk wajah Kibum dengan tegas.

Kibum mencibir. “Kurasa aku bisa gila,” omelnya pada diri sendiri.

Minho menggelengkan kepala lagi, tak habis pikir dengan kelakukan sepupunya. “Kau sakit karena kedinginan kan? Ibumu sibuk menginterogasi Jonghyun, untunglah Jonghyun tutup mulut,” komentar Minho.

Kibum tidak menjawab apa pun. Pikirannya sibuk menelaah apa yang harus dilakukan dengan kondisi yang seperti ini. Yang paling penting, ibunya tidak boleh tahu penyebab Kibum jatuh sakit.

“Kau tahu aku ditolak Park Hyeki,” entah atas dasar apa tiba-tiba Minho bercerita.

“Siapa Park Hyeki?” Alis Kibum terangkat. Jelas tertarik dengan cerita Minho. Lagipula nama itu terlalu familiar. Park Hyeki, bukankah namanya sama dengan asisten dokter Jonghyun?

“Teman Sooyan yang kuceritakan padamu,” sahut Minho.

Oh, Kibum ingat sekarang. Yang nomer ponselnya diminta oleh Minho tempo hari. Bukan, Park Hyeki yang ini tidak mungkin sama dengan dokter Park Hyeki.

Kibum tertawa kecil. “Kenapa dia menolakmu?”

“Status,” sahut Minho, terpekur di kursi. “Dia bilang kami tidak akan pernah berhasil.”

Kali ini, Kibum tertawa lebih keras. “Kau ini seperti drama saja.”

“Hei, aku serius,” protes Minho keki karena ditertawakan.

Sebenarnya Kibum setuju dengan pendapat gadis itu. Hubungan dengan status yang terlalu berbeda pasti akan sangat sulit. Seperti…. Taemin dan Jihyun.

“Kurasa lebih baik kau mendengarkan ucapan Hyekimu itu,” kata Kibum kali ini dengan nada serius. “Kau mengingatkanku pada Taemin dan Jihyun.”

Minho terdiam. Eskpresi horor mengingat kisah tragis itu.

“Aku pulang sekarang,” pamit Minho tiba-tiba dan mengambil jaketnya. “Jaga dirimu baik-baik Kibum-ah dan jangan lupa berterima kasih pada Sooyan,” pesannya sambil menepuk bahu Kibum.

Sepi. Ruang rawat itu sepi sekali setelah Minho pergi.

Kibum terdiam. Mungkin itulah sebabnya ilusi Jihyun tak pernah berhenti. Dia terus menerus menciptakan Taemin untuk menemaninya dalam sepi. Kibum merinding ketika pikiran itu melintas di otaknya.

Dan Kibum akhirnya memutuskan untuk tidur saja.

Simfoni-

Lee Joon tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Jinki sedari tadi terpaku di meja kerjanya bersama tumpukan dokumen-dokumen kepolisian. Juniornya itu baru bekerja selama seminggu dan dia bekerja bagaikan mesin. Kalau sedang tidak menyelesaikan kasusnya sendiri, Jinki akan tenggelam dalam kasus kecelakaan Yongsan satu tahun yang silam. Meskipun Joon tak mengerti apa yang menarik dari kasus itu.

“Jinki-ya, kau tidak mau pulang?” panggil Joon. “Sekarang sudah jam sebelas,” pria itu menunjuk jam dinding.

Jinki bahkan tidak menoleh, melambai asal pada arah suara Joon. “Hyung bisa pulang duluan.”

Sambil berdecak, Joon meninggalkan kantor polisi.

Jinki kembali menulis sesuatu di catatannya, melengkapi daftar yang dibuat untuk menyelidiki kecelakaan Taemin. Plat mobil. Rekaman CCTV. Saksi mata. Kecelakaan itu sungguh rapi. Bahkan si pengemudi truk mengakui kelalaiannya yang membuat Taemin tewas.

Eh, tunggu dulu. Ada yang aneh. Salah seorang saksi mata mengatakan ada dua orang di mobil itu, namun salah seorang keluar dari mobil hanya sesaat sebelum mobil yang terparkir itu dihantam truk. Namun tidak ada rekaman apa pun yang didapat menunjukkan Taemin bersama seseorang.

Pikir, Jinki, batinnya. Ayo pikir.

Kekasih Taemin!

Gadis itu pasti bersama Taemin di hari itu dan menghilang tepat sesudahnya.

Tapi siapa nama gadis itu dan siapa yang membawanya pergi?

Jinki membongkar tumpukan dokumen, mencari daftar nomer telepon Taemin. Hanya nama-nama yang tidak familar bagi dirinya, sampai dia menemukan sebuah nama yang terus menerus muncul dalam kontak Taemin.

Kim Jihyun.

Putri Nyonya Kim juga bernama Kim Jihyun, batin Jinki.

Semakin besar keterkaitan dengan Nyonya Kim, maka semakin besar kemungkinan Kim Jihyun adalah jawaban dari misteri ini.

Jinki harus menyelidikinya.

Simfoni-

­-to be continued-

 A.N : Writing Simfoni is the hardest FF till now. Bukan cuma karena plotnya berat tapi juga karena nentuin tiap scene berkaitan sama yang lain bikin pusing hahaha

I know this isn’t brialliant, but it still need lot of works. Karena itu, demi menghargai saya, tolong yaa reviewnya dooong.

Besties, qL^^

PS : Ada Lee Joon jadi cameo~ Hihihi

Advertisements

One thought on “Simfoni – Mi

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s