Simfoni – Re

Title : Simfoni | Author : qL^^ |

Casts : Kim Kibum, Kim Sooyan, SHINee, Park Hyeki, Kim Jihyun

Lenght :  Chapter | Genre : Angst, Friendship, Family, Psychology

Rating : PG-12

—-

Simfoni

Simfoni

Nada Kedua : Re

The Ugly Truth

“JIHYUN!

Kibum memanggil nama gadis itu. Panik, meskipun dia berusaha keras tidak terdengar histeris.

“Apa yang kaulakukan di tepi jendela? Turun sekarang juga!” jerit Kibum lagi.

Kibum bicara pada Jihyun dari dalam kamar, berharap dirinya bisa membujuk Jihyun untuk turun dari jendela yang hanya berlapis kerangka besi tipis. Jihyun bisa tergelincir kapan saja dari sana dan Kibum tidak mau membayangkan apa akibatnya. Jonghyun beserta para perawat dan asisten dokter berdiri menunggu di bawah jendela. Semua orang terlihat tegang dan was-was. Pasien yang kambuh di pagi hari bukanlah awal yang menyenangkan.

“Tidak! Aku tidak mau turun! Taemin berjanji bertemu disini, kami harus sembunyi,” isak Jihyun.

“Jihyun, Taemin tidak akan membahayakan hidupmu dengan berdiri di sana. Ayo turunlah,” bujuk Kibum sambil mengulurkan tangan.

Jihyun terlihat seperti mempertimbangkan argumen Kibum, menatap uluran tangan Kibum dengan ragu. Matanya berpindah dari Kibum ke barisan tim medis di bawah sana.

“Apa mereka akan menangkapku kalau aku ikut bersama oppa?” tanyanya ragu.

“Tidak,” sahut Kibum. “Mereka akan menolongmu,” katanya.

Namun Jihyun sudah menggeleng. “Aku akan menunggu sampai Taemin datang,” kata Jihyun bersikeras.

Kibum ingin sekali memaksa gadis itu, menyentaknya menjauh dari tepi jendela. Namun pemaksaan hanya akan memperburuk kondisi psikologis Jihyun. Mata Kibum tertuju pada piano dan kertas-kertas not balok di atas sana.

Dia punya ide.

“Kalau kau tidak mau turun, aku dan Taemin akan memainkan musik kami tanpa dirimu,” ujar Kibum, berharap Jihyun akan termakan umpannya.

“Taemin akan di sini, dia tidak akan bersama oppa,” Jihyun masih bersikeras.

Maka Kibum duduk di piano, meletakkan jarinya di tuts dan memainkan melodi aneh dari kertas musik di atas piano. Dia sudah bermain selama hampir semenit saat dia menyadari bahwa Jihyun sudah turun dari jendela dan kembali ke kamar. Jihyun terpaku menatap Kibum yang duduk sendiri di hadapan piano.

“Mana Taemin?” suara Jihyun serak.

“Pergi,” sahut Kibum.

“Kemana?” Jihyun bertanya lagi.

Tapi sebelum Kibum sempat menjawab, Jonghyun sudah menempelkan suntikan di lengan Jihyun. Gadis itu terkulai dan Kibum menangkapnya, lalu membaringkan Jihyun di tempat tidur. Wajah Jihyun yang terlelap sangat damai, kontras ketika dia kambuh seperti tadi. Para perawat dan asisten dokter bergegas mengecek kondisi vital Jihyun.

“Bagaimana bisa begini?” tanya Kibum pada Jonghyun.

“Sesuatu memancing traumanya. Kurasa karena tanggal, dia melihat kalender sebelum mendadak episodenya kambuh,” kata Jonghyun.

Informasi itu membuat Kibum menoleh ke arah kalender di dekat tempat tidur. Dia tersentak.

“Kondisi Jihyun mulai tidak stabil sejak awal musim semi, Kibum. Kurasa jadwal terapinya harus ditingkatkan,” ujar Jonghyun.

“Lakukan yang terbaik.”

Ya, hanya itu yang bisa dipinta Kibum.

-Simfoni-

Direktur Kim menghilang dan Sooyan kewalahan.

Yah, Kim Kibum bukan menghilang secara literal. Hanya saja CEO muda itu tidak masuk kantor tanpa sama sekali mengabari Sooyan atau staf lainnya membuat Sooyan kelabakan. Dia tidak lagi menghitung berapa banyak pesan yang ditinggalkan lewat telepon untuk Kibum. Memonya terasa penuh dan mejanya dipenuhi tempelan post-it pesan-pesan. Dia juga tidak lagi menghitung berapa banyak klien yang sudah memarahinya karena beberapa acara harus dijadwalkan ulang. Klien-klien mengeluh pada Sooyan dan Sooyan harus berbicara dengan lembut menenangkan si klien agar tidak terjadi masalah. Dia lelah dan kesal. Semuanya karena CEO Kim Kibum menghilang.

Ini bukan hari kamis. Tapi nomer ponselnya tak bisa dihubungi.

Ya Tuhan! Sooyan bisa mati berdiri kalau begini terus.

Helaan nafas Sooyan lolos begitu saja dari mulutnya saat dia melihat Shim Jungmi datang mendekat. Demi Tuhan, Sooyan sangat tidak ingin berurusan dengan wanita angkuh itu. Harinya sudah cukup buruk tanpa harus ditambah dengan masalah wanita itu.

“Mana Kibum?” tanya Jungmi sinis.

“Direktur Kim tidak masuk dan tidak ada satu orang pun yang tahu dimana dia berada,” jawab Sooyan sabar. “Anda bisa meninggalkan pesan atau datang lagi di lain waktu.”

Shim Jungmi menatap Sooyan dengan pandangan mencela angkuh yang sama yang ditunjukkannya ketika Sooyan pertama kali bertemu wanita itu. “Jangan coba-coba berbohong padaku,” ancamnya.

Sooyan menarik nafas. Emosinya sudah dalam ambang batas, dia bisa meledak kapan saja kalau Shim Jungmi terus memprovokasinya seperti ini. “Nona Shim, tolong mengertilah. Kami sedang repot karena Direktur Kim tidak masuk,” kata lagi-lagi Sooyan mencoba bersabar.

“Apa kau bilang? Jangan sekali-kali mengajariku, sekretaris sok tahu,” umpat Jungmi, mengangkat tangan siap menyerang Sooyan.

Tapi tangan Jungmi tertahan di udara. Choi Minho menahan tangan Jungmi sembari mendelik menatap wanita itu. Sooyan sama sekali tidak menyadari sejak kapan Choi Minho ada di sini.

“Kau ini!” tegur Minho kasar sambil menghempaskan tangan Jungmi. “Sama sekali tidak punya sopan santun layaknya putri keluarga Shim!”

Shim Jungmi berdecih. “Kau membela sekretaris rendahan ini Minho-ya?” tanya Jungmi, lalu tertawa mengejek. “Gadis murahan!”

YA!” bentak Minho mengagetkan bukan hanya Jungmi, namun juga Sooyan. Dia belum pernah melihat Minho marah seperti ini. Pria itu memegang lengan Jungmin, mendorongnya menghadap Sooyan. “Minta maaf pada Sooyan. Cepat!” perintah pria itu.

Sooyan tidak menahan Minho untuk menyuruh Jungmi minta maaf. Dia biarkan saja Minho memaksa Jungmi minta maaf pada dirinya. Sooyan pantas mendapatkan maaf dari wanita itu dan Shim Jungmi memang harus diajari sopan santun.

“Ada apa ini?”

Sooyan menoleh cepat sangat mengenali suara unik khas Kibum. Dan yang sudah ditunggu ada di sana, berdiri dalam balutan jas seperti biasa. Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang kabur dari pekerjaannya. Kibum berjalan mendekat dan mengamati Jungmi, Minho dan Sooyan yang masih saling berhadap-hadapan.

“Kau!” kata Kibum dingin sambil menatap Jungmi. “Aku sudah melarangmu untuk kemari. Apa kau tuli?” bentaknya.

“Kibum-ah……..” Jungmi tertegun.

Meski Sooyan tadinya kesal sekali melihat Jungmi, kini dia merasa iba pada wanita itu. Melihat perlakuan Kibum saat ini, Sooyan menduga desas desus yang beredar selama ini memang benar. Kim Kibum tidak pernah akur dengan Shim Jungmi.

“Minta maaf pada sekretarisku! Sekarang!” perintah Kibum.

Bibir bawah Jungmi bergetar menahan tangis, menatap Kibum dengan penuh amarah. Tanpa berkata apa-apa, wanita itu berbalik pergi. Masih berusaha mempertahankan harga diri di depan Sooyan.

Kibum menoleh kepada Minho. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

Minho mengangkat bahu, mengesturkan ke arah Sooyan. “Kalau tidak aku di sini, sekretarismu sudah habis jadi bulan-bulanan Jungmi,” kata Minho.

Kali ini Kibum menoleh pada Sooyan. “Kita perlu bicara,” katanya pada Sooyan, “tapi setelah aku bicara dengan Minho,” tambahnya. Pria itu mengisyaratkan agar Minho mengikutinya masuk ke dalam kantor.

Sooyan memandangi punggung keduanya yang menghilang di balik pintu mahogani kantor Kibum, lalu membuang nafas kasar. Ya Tuhan! Harus berekspektasi seperti apakah dia saat menghadapi Kibum nanti?

Simfoni-

Rasanya baru beberapa bulan lalu, Minho mampir ke kantor Kibum setelah memaksa Sooyan agar memberinya nomer telepon temannya. Hari ini Minho kembali duduk di kursi yang sama seperti beberapa bulan lalu. Bedanya, Kibum terlihat sangat kacau hari ini.

“Menghilang seperti itu bukan dirimu,” komentar Minho.

Tangan Kibum bergerak ke rambut, mengusap kepala yang terasa sangat penat. “Aku tahu.”

“Kemana saja kau?” tanya Minho.

Kibum diam, mempertimbangkan jenis jawaban yang ingin diberikannya pada Minho. Namun akhirnya memutuskan untuk jujur. Seseorang harus mulai mengetahui kondisinya. “Jihyun kambuh dan nyaris melompat dari jendela lantai 3,” kata Kibum.

Minho terperangah, kaget. “Kupikir dia sudah jauh lebih baik dari setahun yang lalu,” kata Minho tak percaya.

“Ilusinya tak pernah membaik, Minho. Apalagi saat dia melihat tanggal di kalender,” Kibum memberitahu Minho dengan nada putus asa.

“Apa yang disarankan Jonghyun?” tanya Minho. Jonghyun pasti menyarankan sesuatu pada Kibum sehingga membuat Kibum bersikap aneh seperti ini.

Helaan panjang terdengar sebelum kalimat Kibum terucap. “Dia bilang aku harus membawa Jihyun pulang dan mulai membantu Jihyun melawan ilusinya,” sahut Kibum.

Minho mengangguk mengerti. Tanpa dijelaskan lebih lanjut dia tahu letak permasalahannya. Bahwa Kibum tidak akan bisa membawa Jihyun pulang selama dia masih terus tinggal bersama ibunya.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Kibum frustasi.

Minho menggeleng. Dia tidak bisa memberi saran apa pun. “Kuharap dia akan lebih baik setelah peringatan kematian Taemin lewat,” kata Minho.

Kibum mengangguk setuju, meskipun dia tahu kemungkinan itu kecil sekali.

Setelah berbincang selama hampir setengah jam, Minho akhirnya pamit untuk kembali ke Flames Corp. Kibum menelpon meja sekretaris, meminta Sooyan untuk masuk ke dalam ruangannya.

Sooyan masuk dengan catatan penuh di pelukan tangannya.

“Selamat siang Direktur Kim. Saya perlu bacakan beberapa penjadwalan ulang—“

“Tunggu,” potong Kibum. Sooyan mengerjap, menatapnya bingung. “Aku tidak memanggilmu untuk membicarakan klien atau jadwal.”

Mata Sooyan melebar terkejut. “Oh!”

Kibum mengesturkan agar wanita itu duduk di kursi di hadapannya dan Sooyan duduk dengan patuh.

“Aku ingin minta maaf karena aku mendadak menghilang,” kata Kibum pelan.

Sooyan hanya diam, tak menjawab dan menatap Kibum dengan pandangan aneh. “Anda serius?” tanya Sooyan.

“Aku tahu aku tidak bersikap profesional, karena itu aku minta maaf,” tambah Kibum.

Sooyan mengangguk kaku. Kibum tahu itu karena tidak pernah sebelumnya CEO Kim Kibum harus meminta maaf pada bawahannya. Tapi Sooyan sudah terlalu banyak mendapatkan masalah karena dirinya hari ini.

“Tinggalkan saja catatan pesan klien dan laporan perubahan jadwal di mejaku. Aku akan memeriksanya nanti,” ujar Kibum lagi.

Sooyan meletakkan dua map di atas meja, lalu cepat-cepat menyingkir dari ruangan Kibum.

Kibum menghela nafas. Pikirannya kembali pada Jihyun, adiknya yang malang dan tanggal di kalender. Peringatan kematian Taemin malam ini.

Apakah ada yang akan mengingat Taemin?

Simfoni-

“Jauh-jauh datang ke Incheon hanya untuk menemuiku? Wah, wah,” puji Jinki dengan nada mengejek dan sinis pada wanita paruh baya yang duduk di hadapannya.

Kafe di sudut bandara itu sepi dan relatif tersembunyi, sesuai sekali dengan jenis percakapan yang ingin dilakukan oleh Nyonya Kim. Jinki sendiri curiga bahwa kafe itu memang sengaja disewa untuk Nyonya Kim saja, karena tidak ada siapa pun di sana selain petugas kafe dan ajudan Nyonya Kim.

Nyonya Kim hanya tersenyum licik alih-alih meledak marah karena ucapan Jinki. “Kupikir kau pengecut, tapi ternyata kau berani kembali ke sini lagi,” ucapnya tak kalah sinis.

Kalau ada yang berubah dari Nyonya Kim, itu adalah sikapnya yang tak meledak marah. Biasanya tanpa perlu diprovokasi pun, Nyonya Kim mampu melayangkan tangan dan berteriak tak terkontrol. Mungkin Nyonya Kim ikut rehabilitasi atau semacamnya tapi itu sama sekali bukan urusan Jinki.

Yang jelas Jinki tetap tidak menyukai cara wanita itu bicara, termasuk kalimatnya barusan. Pengecut? Cih.

Wajah Jinki berubah gelap. Pria itu menatap Nyonya Kim dengan pandangan tajam dan penuh amarah. “Apa mau Anda, Nyonya?” tanya Jinki geram.

“Kuharap kau tidak kembali untuk membuat masalah,” kata Nyonya Kim sambil mengangkat bahu. “Aku sudah cukup repot membereskan Taemin dan mengorbankan Jihyun. Jangan menambah pekerjaanku, Jinki.”

Jinki berdesis. ‘Membereskan Taemin’ katanya. Wanita ini sungguh-sungguh sudah gila. Jinki mencabut kembali kemungkinan Nyonya Kim telah ikut rehabilitasi. Tidak, dia masih sama seperti setahun yang lalu. Kasar, penuh amarah dan kejam.

“Aku kembali untuk Taemin,” kata Jinki tenang, meneguk latte memberi waktu kalimat itu diserap Nyonya Kim.

Nyonya Kim menatap Jinki berang. Matanya berkilat marah. “Kau tidak akan bisa membuktikan apa-apa,” kata Nyonya Kim kasar.

Jinki terkekeh sinis. “Oh, belum tentu. Aku bukan Lee Jinki yang sama, Nyonya,” sahut Jinki dan sengaja benar, meletakkan badge kepolisiannya di atas meja.

Inilah alasan utama kenapa Lee Jinki pulang. Dia belum memberitahu siapa pun bahwa dia  diterima bekerja di kepolisian Seoul dan ini akan menjadi peluangnya untuk mencari kebenaran mengenai Taemin.

Jinki tahu Nyonya Kim terkejut dan wanita itu berusaha keras tidak menunjukkannya. Untuk sesaat, Jinki merasa menang karena telah berhasil memprovokasi Nyonya Kim. Apalagi ketika melihat wanita itu mencengkram tepi meja dengan kuku-kuku tajam bercat merah. Jinki menyeringai.

“Kurasa aku harus pergi sekarang, Nyonya,” kata Jinki memasukkan kembali bagde-nya saat dia melihat sosok Sooyan berdiri di depan gerbang kedatangan yang terlihat jelas dari posisi duduknya di kafe.

Nyonya Kim diam saja.

I’ll expect our next confrontation,” tambah Jinki, lalu membungkuk pamit seraya mengambil koper dan barang bawaan. Jinki berjalan menuju Sooyan yang sudah menunggu tanpa jawaban Nyonya Kim.

“Sooyan!” panggilnya.

Gadis itu berbalik, lalu berlari menyambut Jinki dalam pelukan hangat. “Ya Tuhan! Aku rindu sekali pada oppa,” kata Sooyan tersenyum lebar.

“Aku juga rindu padamu,” sahut Jinki. “Mana Hyeki?” tanyanya.

Sooyan mengangkat bahu. “Sibuk,” jawabnya singkat. “Kita akan bertemu langsung di tempat peringatan saja.”

Jinki mengangguk, lalu mengikuti Sooyan keluar bandara.

“Siapa wanita yang mengobrol bersamamu di kafe?” tanya Sooyan mendadak saat mereka sudah duduk nyaman di dalam mobil.

Jinki pikir tadi Sooyan sama sekali tidak melihatnya, jadi dia sedikit terkejut mendapatkan pertanyaan itu. “Bukan siapa-siapa, hanya percakapan acak sesama pengunjung bandara,” jawab Jinki.

Sooyan mengangguk paham, menstarter mesin mobil, lalu berkendara keluar bandara.

Mereka menuju peringatan kematian Taemin.

Simfoni-

Mobil Minho parkir di halaman sebuah panti asuhan di pinggiran Seoul. Kening pria itu berkerut saat tadi Hyeki menyuruhnya berhenti di sini.

“Kita…. tidak salah alamat kan?” tanyanya bingung pada Hyeki.

Hyeki menggeleng. “Terima kasih sudah mengantar saya,” kata Hyeki sopan. “Dan kuharap ini terakhir kali Anda mengantar saya.”

Minho berdecak. “Sudah berapa kali kukatakan, jangan bicara dengan bahasa formal, Hyeki. Panggil saja aku oppa, Minho oppa,” kata Minho tak sabaran. “Lagipula, mengapa kau memperingati kematian kerabatmu di panti asuhan?” tanya Minho lagi. Dia tidak mengerti. Kalau kerabat Hyeki berasal dari panti asuhan, berarti gadis itu…. Oh!

Kelihatannya Hyeki bisa melihat ekspresi tebakan Minho pada wajahnya. Gadis itu hanya menatap Minho datar, kemudian bertanya, “Sudah paham sekarang?”

“Kau… dibesarkan di sini,” Minho tidak tahu dia mengatakannya sebagai pernyataan atau pertanyaan.

“Ya,” Hyeki menjawab tanpa jeda. “Karena itu Anda mengerti kan kenapa semua sikap Anda sangat membuat saya tak nyaman,” tambahnya.

Minho menggeleng. “Minho oppa, Hyeki-ya,” dia menekankan kembali nama panggilan itu. “Tapi aku sungguh menyukaimu,” katanya putus asa.

Hyeki tersenyum pahit. “Lupakan saja dan selamat malam, Tuan Choi,” kata Hyeki dan dengan gerakan cepat, gadis itu sudah meninggalkan mobil Minho untuk masuk ke dalam panti asuhan.

Minho masih terpaku. Tak bisa berkata apa-apa. Sooyan tidak pernah bilang padanya kalau Hyeki tinggal di panti asuhan. Apakah Sooyan juga berasal dari tempat yang sama? Dan… Lagipula panti asuhan ini entah mengapa terasa begitu familiar bagi dirinya, seolah dia pernah mengunjungi tempat ini.

Akhirnya Minho menyerah. Dia akan membujuk Hyeki lagi nantinya. Minho tidak bisa melepaskan Hyeki begitu saja. Dia jatuh cinta pada gadis itu, meskipun dia tahu dia terlalu cepat memutuskan ini cinta.

Helaan nafas Hyeki lolos begitu saja saat dia mengintip dari jendela dan melihat mobil Minho akhirnya meninggalkan panti asuhan. Choi Minho itu pria yang menyenangkan. Yah, setidaknya dia berbeda dengan deskripsi Sooyan tentang CEO Kim Kibum. Meski Minho bersikeras mengatakan suka padanya, Hyeki tetap tidak bisa menerimanya begitu saja. Hal itu mengingatkannya pada hubungan cinta Taemin.

Status mereka terlalu berbeda.

“Hyeki….” panggil Sooyan.

Hyeki menoleh. “Hmm?”

“Jinki oppa ada di sini,” katanya lembut dan bergeser, memperlihatkan sosok pria yang paling dirindukan Hyeki.

Oppa…” suara Hyeki seperti bisikan.

Dalam sekejap, Hyeki sudah berada dalam rengkuhan Jinki, menghirup wangi parfum pria itu dan merasakan hangat tubuh Jinki di dekatnya. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya dari Jinki, membuat Hyeki tersenyum simpul.

Oppa pulang……..” pertanyaan Hyeki tersangkut di tenggorokan.

“Ya, demi dirimu,” sahut Jinki mengeratkan pelukan mereka.

Satu lagi alasan mengapa Hyeki tak bisa menerima Minho begitu saja.

Karena selalu ada Lee Jinki bagi dirinya.

Simfoni-

Satu tahun.

Sooyan sama sekali tidak menyangka bahwa mereka masih punya kesempatan untuk berkumpul. Dia pikir bahwa tahun ini hanya ada dirinya dan Hyeki saja, berdua mempersiapkan malam peringatan kematian Taemin. Rasanya sungguh seperti mukjizat saat Jinki memutuskan pulang. Setidaknya malam ini tidak terlalu sepi.

Mereka sudah selesai memberi penghormatan bersama seluruh penghuni panti asuhan, baik penghuni lama seperti para bibi pengasuh panti asuhan atau penghuni baru seperti anak-anak usia sekolah yang hanya mengenal Taemin sebagai donatur tetap panti asuhan. Bibi Wang, pengurus panti yang dulu juga menjaga mereka membiarkan Sooyan, Hyeki dan Jinki tetap ada di dalam ruang memorial.

Di sinilah mereka. Menatap foto Taemin yang tersenyum lebar.

“Aku rindu Taemin,” lirih Hyeki. Sooyan tak perlu menoleh untuk memastikan gadis itu sudah terisak.

Lengan Jinki merangkul Hyeki dan Sooyan. Protektif seperti saat dulu dia melindungi mereka. Adik-adiknya.

Hening menyelimuti mereka semua sampai Jinki mendadak bicara.

“Aku harus mengatakan sesuatu tentang Taemin,” katanya.

Sooyan dan Hyeki menoleh dan saling berpandangan.

“Kurasa… Taemin dibunuh,” Jinki melanjutkan ucapannya.

Hyeki terpekik dan Sooyan hanya bisa terperangah, menatap Jinki tak percaya.

Oppa, jangan bicara yang aneh-aneh,” kata Sooyan.

Lelucon Jinki sama sekali tidak lucu.

“Tidakkah kalian merasa kematian Taemin aneh? Dia kecelakaan mobil dan kekasihnya menghilang. Ya Tuhan! Pasti ada sesuatu yang disembunyikan!” teriak Jinki frustasi.

Sooyan terdiam, menelaah ucapan Jinki. Jinki benar. Taemin memang mendadak mengalami kecelakaan fatal tepat sebelum hari kelulusan universitas. Pelakunya mengaku menyetir sambil mabuk. Hanya Taemin yang tewas dan jalanan itu sepi sekali. Oh! Oh! Dan kekasih Taemin yang kaya raya itu menghilang setelah pemakaman Taemin tepat hari ini setahun yang lalu. Tidak ada yang tahu kemana gadis itu pergi.

Astaga!

“Kalian pasti berpikiran yang sama denganku?” tanya Jinki melihat ekspresi kontemplasi di wajah Sooyan dan Hyeki.

“Tapi, oppa, kalau itu benar, maka….” kalimat Hyeki menggantung.

“Aku akan menyelidikinya,” kata Jinki. Saat itulah dia mengeluarkan badge kepolisiannya menunjukkan pada Hyeki dan Sooyan.

Keduanya hanya menatap Jinki dengan putus asa. Tahu bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan Jinki di saat pria itu sudah membuat keputusannya.

“Kita akan menemukan kebenarannya,” kata Jinki dan dia teringat ucapan Nyonya Kim beberapa jam yang lalu yang membuat darahnya mendidih karena marah. ‘Membereskan Taemin’ katanya. “Ini semua demi Taemin,” tambahnya.

Sooyan, Hyeki dan Jinki kembali menatap Taemin.

Taemin balas menatap mereka dengan senyum riang khasnya dari dalam foto.

Simfoni-

-to be continued-

AN : Halo readers! Maaf ya bagian ke dua Simfoni baru di pos hari ini. FF nya sendiri udah selesai sejak lama, cuma karena aku sakit (dan hari ini sebenarnya juga masih ga enak badan), jadi baru di post hari ini.

Jangan lupa tinggalkan komentar kalian 🙂

XOXO, qL^^

NO SIDER. NO PLAGIARIST!

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s