World for Babies

a ficlet fanfiction

about medical and romance

casts : Choi Minho, Jo Jungmi, Lee Minna and Jo Hyunmin

World for Babies

World for Babies

To bring a baby into this world is complicated

 –

Minho membuka kaca mata baca, meletakkannya di atas meja, kemudian mengusap wajahnya perlahan dengan lelah. Matanya menatap wanita yang duduk di hadapannya dengan pasrah.

“Coba ulangi perkataanmu, noona,” kata Minho.

Jo Jungmi—wanita itu menatapnya tajam, mungkin sedikit tersinggung karena ini sudah ketiga kalinya Minho meminta Jungmi mengulang kembali perkataannya. Apa yang Jungmin ingin Minho lakukan pada tubuhnya.

“Aku ingin ikut program bayi tabung,” sahut Jungmi pendek. Rupa-rupanya dia sungguhan kesal sehingga memutuskan untuk menjawab singkat alih-alih menjelaskan kembali keinginannya panjang lebar seperti yang dilakukan sebelumnya.

Sampai di situ, Minho mengerti keinginan Jungmi. Seorang wanita ingin ikut program bayi tabung agar memilki keturunan. Lalu apa masalahnya sehingga Minho harus meminta Jungmi mengulang-ulang perkataannya?

Jo Jungmi belum menikah.

Namun sekarang Jungmi malah ingin punya anak dari program bayi tabung.

Minho sungguh-sungguh tidak mengerti.

“Kau yakin dengan permintaaanmu, noona?” tanya Minho sangsi.

Bukan apa-apa, Jo Jungmi adalah wanita yang sukses. Dia pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa milik keluarganya, strata pendidikannya tinggi dengan keluarga terpandang. Bukankah melakukan hal itu terkesan sangat ekstrim?

“Kau mengejekku?” Jungmi balik bertanya.

“Bukan, aku tidak bermaksud seperti itu, noona,” bantah Minho cepat-cepat sebelum Jungmi benar-benar marah. “Tapi akan lebih baik kalau kau mempertimbangkan kembali keinginanmu.”

Mata Jungmi yang sipit semakin menyipit saat mendengar pernyataan Minho. “Kalau kau memang tidak mau membantuku, baiklah,” Jungmi berdiri dari kursinya. “Aku akan cari dokter kandungan lain yang mau membantu.”

Mendengar kalimat Jungmi, Minho buru-buru berdiri dan mencegah wanita itu pergi. “Noona, baiklah, baiklah, mari kita bicarakan baik-baik,” kata Minho sambil memegang lengan Jungmi dan memaksa wanita itu duduk kembali.

Jungmi mendengus keras-keras sebelum kembali duduk di hadapan Minho.

“Jadi kau mau aku membantumu hamil dengan bayi tabung?” Minho mengulang permintaan Jungmi setelah menghela nafas panjang.

“Ya,” kata Jungmi.

“Bagaimana dengan spermanya?” tanya Minho.

Jungmi mengangkat bahu. “Kita bisa mendapatkannya dari bank sperma atau dari mana saja atau kau juga boleh menjadi donor. Terserahlah, aku tidak peduli spermanya berasal dari siapa,” sahut Jungmi acuh.

Mata Minho yang bulat nyaris membelalak saat mendengar perkataan Jungmi. Apa katanya? Tidak peduli? Padahal setengah dari gen keturunannya jelas-jelas akan mengandung kromosom si sperma. “Noona, kau tidak mungkin serius berkata begitu. Hamil bayi tabung dengan sperma donor di Barat mungkin biasa. Tapi di sini? Kita hidup di budaya Timur. Apa yang akan dikatakan orang tuamu?” Minho berkata pelan.

For godsake, Choi Minho,” geram Jungmi. “Tahun depan aku akan berusia 40 tahun, jadi berhenti bicara seolah-olah aku ini anak kecil.”

Kalau Jungmi sudah bicara dengan formal dan menyebut namanya secara lengkap, wanita itu pasti benar-benar marah.

Noona—“

“Dengar, Choi Minho! Kau tahu lebih baik daripada aku mengenai ini. Bagaimana menurutmu risiko seorang wanita berumur 40 tahun untuk hamil?” bentak Jungmi. “Apakah menurutmu aku harus menunggu sampai menikah dan berusia 40 tahun lebih baru mempunyai anak?”

Noona—“

“Aku juga ingin jadi ibu, Minho-ya,” gumam Jungmi akhirnya. Wanita itu menenggelamkan wajahnya dalam telapak tangannya, menyembunyikan air mata yang mulai mengumpul.

Minho menghela nafas. Dia mengenal Jungmi hampir seumur hidupnya. Ayahnya adalah dokter keluarga Jungmi dan Minho nyaris tumbuh besar bersama Jungmi. Dia mengagumi wanita itu. Cantik, tegar dan dewasa. Jungmi nyaris sempurna. Tapi Tuhan menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihannya. Secantik dan semapan apa pun Jungmi, dia ternyata tidak beruntung mengenai masalah jodoh. Dan sekarang Jungmi meminta bantuannya sebagai dokter kandungan.

Apakah Minho harus menolak?

“Baiklah, kita akan mulai prosedur setelah noona melengkapi berkas-berkas yang diperlukan,” kata Minho akhirnya.

Kebahagiaan di wajah Jungmi jelas kentara dengan air mata yang sebelumnya nyaris meledak.

Minho hanya tersenyum tipis.

“Lee Minna!” Minho berteriak memanggil tunangannya di seberang jalan.

Minna yang berdiri di seberang jalan sedang menggandeng seorang anak kecil berseragam TK dan bertopi. Tunangan Minho itu melambai dengan semangat, mengisyaratkan Minho untuk menyusulnya ke seberang jalan. Minho tidak mengenal anak itu dan yakin bahwa Minna pasti tidak mengenal anak itu juga. Mereka berdua hanya kebetulan sedang ada di Namwon untuk beberapa hari sebagai perjalanan dinas dari NYC ke Seoul.

Saat Minho tiba di seberang jalan, Minna sedang berjongkok di hadapan anak berusia lima tahun itu. Tatapan Minna teduh dan keibuan saat gadis itu menasihati si bocah, membuat senyum Minho muncul tanpa dicegah.

“Hyunminnie, kau harus menunggu di dalam TK, mengerti? Kalau Bibi tidak melihatmu tadi, kau bisa ditabrak oleh mobil-mobil itu,” pesan Minna. Ada nada khawatir dalam caranya bicaranya.

Bocah itu— Hyunmin mengangguk pelan sambil menatap sepatunya. Kelihatannya dia merasa bersalah. Minna mengacak-acak rambut Hyumnin.

“Ayo beri salam. Ini Paman Minho,” tunjuk Minna pada Minho untuk memperbaiki suasana.

“Halo, aku Minho,” sapa Minho ramah.

Hyunmin mendongak, menatap Minho yang tinggi menjulang. Matanya yang besar memandang penuh ingin tahu. “Halo, selamat siang, aku Jo Hyunmin,” katanya dalam bahasa yang cadel membuat Minho terkekeh. Bocah itu melirik Minna, kemudian sok berbisik di telinga gadis itu. “Apakah Paman ini pacarnya Bibi?”

Minna tertawa dan mencubit pipi Hyunmin gemas. Minna berdiri, lalu menepuk-nepuk roknya sedikit dan menggandeng lengan Hyunmin membawa bocah itu masuk kembali ke dalam pagar TK. Minho hanya mengikuti dari belakang, mengamati interaksi tunangannya dengan bocah yang baru dikenalnya itu.

Yang entah kenapa terasa sangat familiar.

Hyunmin!”

Suara seorang wanita membuat Minho, Minna dan Hyunmin berbalik. Hyunmin terpekik senang, sebelum melepaskan diri dan berlari dengan kecepatan penuh ke arah wanita itu.

Eomma!”

Kening Minho berkerut. Eomma?

Wanita itu Jo Jungmi dan Jo Jungmi kini dipanggil eomma.

“Bibi yang disana itu menolongku saat tadi hampir tertabrak dan paman yang disana itu pacarnya. Aku sudah bilang terima kasih pada Paman dan Bibi,” cerocos Hyunmin penuh semangat.

Jungmi membungkukkan badan, mengucapkan terima kasih dan mengobrol basa-basi dengan Minna, sedangkan Minho hanya terpaku. Sama sekali tidak bicara sepatah kata pun dengan wanita itu. Minho bahkan tidak bisa menatap Jungmi lurus-lurus.

Jungmi masih terlihat sama. Cantik, tegar dan dewasa. Namun ada satu gestur lain yang berbeda dari wanita itu. Gestur seorang ibu.

Jadi, Jo Hyunmin itu putra Jo Jungmi?

Tepukan halus di bahu Minho membuatnya sadar dari lamunannya. Minho menoleh dan mendapati Minna sedang melambai pada Hyunmin yang melambai penuh semangat dari jendela mobil ibunya, Jungmi. Mata besar Hyunmin penuh keceriaan khas anak-anak.

“Dia lucu ya?” komentar Minna saat mobil Jungmi sudah menghilang di tikungan jalan.

Minho hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Kau lihat matanya yang besar itu,” kata Minna sambil menatap Minho lekat-lekat, lalu mencubit hidung pria itu. “Mirip dengan mata kodokmu,” godanya sambil tertawa kecil.

Minho tertawa gugup.

“Kau sakit? Kenapa bicaramu sedikit sekali?” tanya Minna khawatir sambil meraba kening Minho.

Minho menyingkirkan tangan Minna dari keningnya dengan lembut, kemudian ganti merangkul Minna, menyeberang jalan menuju mobil mereka diparkir. “Aku sedang berpikir berapa banyak anak-anak lucu yang bisa kita miliki untuk menyaingi Hyunmin,” kata Minho.

Minna tertawa. “Setiap anak berbeda dan istimewa, Minho-ya.”

Minho setuju dan dia segera menyalakan mesin mobil setelah mereka berdua duduk nyaman di dalam mobil.

Setiap anak memang istimewa, namun Minho jelas bisa mengenali bagian fisik dirinya yang ada pada anak itu.

Jo Hyunmin.

Bayi tabung menggunakan donornya.

-Fin-

AN : What a crazy little FF -___-“

Comments and likes still good, no?

Loves, qL^^

Advertisements

2 thoughts on “World for Babies

  1. Gara2 baca twitter jadi membawaku kemari, ini mengingatkan aku pada film yg diperani jenifer aniston (bener gak nulisnya) bukan ceritanya mirip tapi temanya…

    Ceritanya bener2 bagus.. Ah entah kenapa cepet bgt selesainya..
    Aku suka sungguh..
    Jadi bertanya2 perasaan minho gimana yah..
    Apa tetap ada perasaan seorang ayah itu..

    Ahhh ini bagus..
    Salam kenal author shii..

    Like

    1. Haloo Anna or Dee ❤
      Wah twitter siapakah yang membawamu nyasar kemari?
      Ff ini emang mau menekankan ke sisi kontroversialnya. Dunno Minho akan ngerasa kaya apa. Tp yg pasti dia pasti ngerasa ada secuil ikatan sama anaknya. Gtu caranya ngenalin Hyunmin.
      Terima kasih udah baca dan review.
      Panggil Qi aja 🙂

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s