Beautiful (2/3)

poster-ql-ver-2

poster oleh https://yellowpinkash.wordpress.com/

ditulis oleh qL^^

Bagian 2

There is Beauty Beyond The Beast

Sora masih terdiam. Dia duduk seperti patung di ranjang Taemin, tidak bergerak sama sekali. Langit sekarang sudah benar-benar gelap. Matahari sudah terbenam sejak beberapa saat yang lalu dan Minho, Hyeki dan ayahnya, Jonghyun sudah kembali ke kota. Di pondok itu kini hanya ada Taemin dan dirinya. Sora menghela nafas berat dan perlahan melirik Taemin. Pria itu ─Sora bingung harus menyebut Taemin apa─ terlihat mengacuhkannya, sibuk mengelap pedangnya yang berkilauan.

“Kau bisa pergi,” ujar Taemin, tahu bahwa Sora memperhatikannya. “Aku tidak menahanmu untuk tinggal.”

Sora terkesiap, lalu menunduk malu. “Maafkan aku,” ujarnya.

 “Kalau begitu, istirahatlah. Aku akan menyiapkan makan malam,” ujar Taemin.

Taemin bangkit dari duduknya lalu menyulut api kompor. Sora bergegas berdiri dan mengikuti Taemin.

“Biar aku saja. Aku yang akan memasak makan malam,” kata Sora sambil berdiri di belakang Taemin.

Taemin mengangkat bahu dan membiarkan Sora bekerja sedangkan dirinya membantu menyiapkan bumbu yang dibutuhkan Sora. Sora cukup cekatan dalam hal mengurus rumah tangga. Dia memang dididik untuk menjadi istri yang sempurna, sayang sekali pilihannya malah menjadi istri Jinsook.

Makanan siap dihidangkan. Sora makan bersama Taemin. Gadis itu masih sering mencuri pandang berusaha membaca ekspresi Taemin di antara wajahnya yang tertutup bulu.

“Kenapa kau tinggal di sini?” Sora bertanya. “Aku mengenal gadis kecil tadi. Dia putri angkat Bangsawan Lee Jinki bukan? Bukankah kalian bersepupu?”

Taemin menghentikan makannya dan menatap Sora tajam. “Aku tidak suka melihat orang-orang berjengit setiap kali melihat rupaku,” jawab Taemin.

Hati Sora mencelos mengingat tingkahnya yang sangat tidak sopan dengan bersikap histeris saat pertama kali melihat Taemin. Sora bisa memperhatikan walaupun Taemin terlihat buruk rupa tetapi gaya bicaranya dan caranya berprilaku, pria itu bahkan lebih gentle dibandingkan pria bangsawan lain seperti Jinsook.

Setelah itu mereka tidak banyak bicara. Sora membantu Taemin membereskan pondok. Kehadiran seorang wanita di pondok Taemin sedikit banyak membuat pondok itu lebih rapi dan Taemin sedikit merasa senang. Jujur saja, Taemin merasa gugup ketika berbicara dengan Sora. Wanita muda itu cantik, seperti yang sudah disadari Taemin sebelumnya dan gerak geriknya yang selalu anggun mencerminkan keluarga terhormat.

Malam itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lee Taemin merasa dia sangat manusia.

***

“Sora kabur?!” pria muda itu bertanya dengan suara marah.

Jonghyun tidak menyangka bahwa Jinsook akan tiba di rumahnya malam ini untuk memastikan  haknya akan Sora. Jonghyun diam saja walaupun Jinsook di hadapannya mulai murka ketika dia tidak menemukan Sora di rumahnya.

Ye, Tuan Muda. Anak perempuan hamba menghilang sejak kemarin siang,” jawab Jonghyun.

Jinsook menunjuk jarinya ke wajah Jonghyun. “Kau melepaskannya bukan? Kau menyuruhnya lari?” cecar Jinsook penuh amarah.

Jonghyun tidak menjawab.

“Aaargh!” teriak Jinsook. Dengan langkah cepat, pria itu mengambil pedang salah seorang pengawalnya dan mengayunkannya menuju leher Jonghyun yang hanya pasrah.

Bunyi logam beradu terdengar saat Jinsook melihat pedangnya tidak menebas leher Jonghyun, melainkan beradu dengan pedang milik pria kecil berbaju ksatria.

“Siapa kau?” bentak Jinsook. “Jangan ikut campur urusanku!”

Hyeki menyalak balik. “Kalau kau melakukan pembunuhan, aku yakin Menteri Han pun tidak akan mampu membebaskanmu dari hukuman,” jawabnya ketus.

Hyeki menyentak pedangnya sehingga membuat pedang Jinsook ikut tersentak dan pria itu terhuyung ke belakang. Gadis itu membantu Jonghyun berdiri dari posisinya masih yang berlutut di tanah. Jinsook semakin marah ketika dirinya dikalahkan oleh pria kecil yang tidak dikenalinya. Dia mulai mengayunkan pedangnya lagi saat Hyeki membelakangi Jinsook untuk membawa Jonghyun ke dalam rumah. Untunglah, Minho ada di sana. Mata Jinsook membulat saat mengenali Minho dan dia langsung sadar siapa pria kecil itu.

“Hentikan!” perintah Minho sambil menahan pedang Jinsook. “Bangsawan Lee tidak akan suka bila Anda menyakiti putrinya.”

Jinsook melemparkan pedang itu sembarangan. “Aku akan menemukan Sora,” dia berbicara kepada Jonghyun. “Gadis itu harus jadi milikku,” tambahnya penuh obsesi lalu meninggalkan halaman rumah Jonghyun.

Setelah keadaan tenang, Hyeki dan Minho duduk di ruang belajar bersama Jonghyun.

“Terima kasih sudah menyelamatkanku,” ujar Jonghyun. “Aku berhutang budi pada kalian,” tambahnya.

Animida, Saudagar Kim. Kami senang bisa menolong Anda,” jawab Hyeki ramah. Lalu dia kembali berbicara sambil mengecilkan volume suaranya, “apakah Han Jinsook memang menyeramkan seperti itu?” tanyanya khawatir.

Jonghyun menghela nafas. “Biar aku saja yang mengurus Jinsook, Nona Park. Lebih baik kalian segera kembali ke kediaman keluarga Lee. Bangsawan Lee pasti merasa cemas,” sahut Jonghyun sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hyeki.

Jonghyun menyerahkan bungkusan pakaian Sora yang akan diantarkan Hyeki dan Minho ke pondok Taemin besok pagi.

“Sampaikan pada Sora bahwa segalanya akan baik-baik saja,” pesan Jonghyun.

Baik Minho maupun Hyeki hanya mengangguk, urung berkomentar walaupun mereka tahu segalanya tidak akan sebaik-baik itu. Melihat temperamen Jinsook tadi, Hyeki dan Minho tahu pria itu dapat berbuat segalanya untuk mendapatkan Sora kembali.

Ye, Saudagar Kim. Kami pamit dulu. Kami akan menolong Anda kalau Han Jinsook berbuat onar lagi,” ujar Minho.

Jonghyun tersenyum dan Hyeki serta Minho membungkuk singkat sebelum melangkah keluar gerbang kediaman Saudagar Kim. Jonghyun terdiam dan melihat langit. Saat ini, Hyeki, Minho dan Taemin adalah orang-orang yang bisa dipercayainya untuk menjaga Sora. Semoga Nirwana akan membantu mereka.

***

Pagi itu Sora terbangun dengan perasaan yang lebih baik. Semalam dia bergulat dengan dirinya sendiri, memastikan dirinya akan baik-baik saja selama tinggal di pondok ini bersama Taemin. Taemin bersikap sangat sopan dengan membiarkan Sora tidur di ranjangnya sedangkan pria itu tidur di kursi. (Sora sudah memutuskan menganggap Taemin pria)

Sora menemukan Taemin masih tertidur pulas. Perlahan wanita muda itu mendekati Taemin. Sora berjongkok di samping Taemin dan memperhatikan pria itu tidur. Kepala pria itu terkulai ke samping dan kakinya diselonjorkan sepanjang kursi lain. Sora tahu posisi tidur itu tidak nyaman dan dia sangat berterima kasih atas pengorbanan Taemin. Sora menatap Taemin lekat-lekat. Segala hal tentang pria ini membuatnya penasaran. Kenapa dia menjadi sosok seperti ini? Mengapa dia mengasingkan diri? Bagaimana rupa Taemin yang sebenarnya?

Beberapa menit bergulat dengan hatinya, Sora memutuskan tidak membangunkan Taemin. Wanita muda mengecek bahan makanan dan tidak menemukan apa-apa di dapur Taemin. Wanita itu memutuskan mencari tumbuhan atau kalau dia beruntung seekor kelinci untuk sarapan pagi mereka hari itu. Sora bergegas keluar rumah dan mulutnya sedikit terbuka.

Pondok Taemin yang terletak di pinggir hutan itu terlihat sangat magis di pagi hari. Sora bisa melihat tetes embun di dedaunan tumbuhan hias yang ditanam Taemin di sekitar pondoknya. Dia bisa mendengar suara burung-burung kecil dan merasakan udara segar yang tidak bisa dia rasakan di kota. Tanpa sadar, Sora tersenyum dan mengikuti suara burung-burung ke dalam hutan.

Seperti terhipnotis, Sora berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Sora mengagumi indahnya hutan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Sora dibesarkan dengan tata krama yang ketat membuatnya selalu menjauhi kehidupan liar seperti ini.

Sora tersentak ketika dia mendengar suara geraman yang dia tidak tahu arahnya dari mana. Suara burung itu sudah menghilang. Yang ada hanya keheningan diselingi suara geraman. Sora merinding. Bagaimana kalau itu hewan buas? Apakah dia harus lari? Kemana dia harus lari? Sora bahkan tidak tahu dia ada di hutan sebelah mana.

Ketika suara geraman itu semakin mendekat, Sora memutuskan untuk lari. Chima yang dikenakannya mempersulit untuk lari lebih cepat sedangkan Sora bisa mendengar hewan itu juga berlari di belakangnya. Sora harus menahan nafas ketika menyadari seekor serigala sedang mengejarnya.

Setelah berlari beberapa lama, akhirnya kaki Sora menyerah. Wanita itu tersungkur jatuh. Sora menyeret tubuh merapat ke pepohonan dan melihat serigala itu menatapnya dengan lapar. Sora menutup mata, pasrah jika serigala itu melompat dan menerkamnya. Namun alih-alih serigala, Sora malah merasa ada seseorang yang menamenginya. Sora membuka matanya perlahan dan melihat Taemin memposisikan dirinya di antara Sora dan serigala itu.

Serigala itu menggeram sekali, mengancam Taemin tapi Taemin tidak bergeming. Taemin ikut menggeram membuat bulu kuduk Sora berdiri. Wanita itu bisa melihat cakar di ujung jari Taemin. Serigala itu melompat dan menerkam. Hewan buas itu mulai berusaha mencabik tubuh Taemin namun Taemin dengan mudah membanting serigala itu ke samping dan membuat serigala itu menabrak pohon. Mati.

Sora masih terlalu kaget dengan hal yang terjadi di hadapannya dalam hitungan kurang dari satu menit. Sora menoleh ke arah serigala yang mati dan Taemin yang berdiri membelakanginya. Apa itu tadi? Apa itu sifat monster Taemin? Bagaimana mungkin?

Setelah berhasil menguasai diri, Sora berusaha berdiri dan menghadap Taemin yang masih mematung setelah membiarkan sifat monsternya keluar.

“Taemin goon?” panggil Sora pelan. Suaranya bergetar.

Taemin membalikkan badannya dan menatap Sora seolah memastikan wanita itu tidak terluka. “Kau baik-baik saja?” tanyanya dengan suara yang terdengar seperti geraman bagi Sora.

Sora mengangguk perlahan. Dia masih bisa merasakan sisa-sisa ketakutan walaupun dia bisa berdiri. Dia tidak bisa berhenti memperhatikan Taemin yang balas menatapnya dengan ekspresi aneh. Khawatirkah? Bagaimana monster bisa mengkhawatirkan orang lain?

“Ikuti aku kembali,” ujar Taemin. Suaranya sudah kembali normal.

Sora mengikuti Taemin kembali ke gubuk. Mereka berjalan dalam diam dengan Taemin sebagai pemandunya. Pria itu dengan mudah menunjukkan jalan menuju gubuknya seolah-olah dia sudah menghafal seluruh seluk beluk hutan.

Sora kembali memperhatikan Taemin dari belakang dan terkejut melihat darah merembes dari lengan jeogorinya.

Begitu tiba di gubuk, Sora langsung terduduk lemah di salah satu kursi. Dia memang tidak lagi ketakutan, tapi dia sangat lelah. Lelah karena segala hal yang mengejutkan ini.

“Apa yang kaulakukan di dalam hutan? Huh?” tanya Taemin. “Kau ingin pergi? Kalau kau ingin pergi, harusnya kau mencari jalan yang lebih aman!” Taemin berbicara dengan nada tinggi penuh emosi.

“Taemin goon─” Sora berusaha menyela.

“Kau tidak tahu di hutan banyak hewan buas? Huh? Bagaimana kalau aku tidak menyelamatkanmu?” Taemin terus mencecar Sora.

“Taemin goon─” Sora menyela kembali.

“Bagaimana kalau kau terluka? Atau lebih parah, bagaimana kalau kau mati?” cecar Taemin emosional.

“TAEMIN GOON!!” Sora berteriak.

Taemin terdiam dan berhenti berbicara. Sora mulai terisak. Air mata itu mengalir membasahi pipi Sora. Taemin mendadak salah tingkah. Tangis Sora pecah.

“Kenapa memarahiku?” Sora bergumam di sela tangisnya. “Aku tidak pernah tahu ada hewan itu di hutan. Aku tidak pernah menyangka kalau akan seperti ini. Aku hanya ingin mencari bahan makanan. Aku─” Sora tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi karena tangisnya semakin deras.

Sora semakin terisak dan kaget saat merasakan sebuah tangan besar melingkar memeluknya. Memberinya rasa aman akan ketakutannya, memberinya rasa hangat saat tangisnya membuat dirinya merasa dingin. Sora tahu itu Taemin dan anehnya dia tidak merasa keberatan Taemin memeluknya seperti itu. Dia butuh tempat untuk menumpahkan segala hal menyedihkan yang terjadi dalam hidupnya. Bahkan lengan berbulu Taemin pun terasa begitu normal baginya.

“Ssh, maafkan aku,” ujar Taemin canggung. “Aku tidak tahu kau keluar untuk mencari bahan makanan. Kau bisa membangunkanku,” tambahnya.

Isakan Sora melambat, perlahan dia mengusap bekas air mata di pipinya dalam posisi masih di pelukan Taemin. Lalu perlahan mereka melepaskan pelukan dengan canggung.

“Maaf, aku sering melakukan itu tanpa sadar kalau Hyeki menangis,” ujar Taemin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya.

Sora menahan tawa melihat Taemin. Dia bisa merasakan ketulusan itu. “Maafkan aku membuatmu khawatir,” ujar Sora sambil menunduk.

Taemin tertegun. Benarkah dia merasa khawatir? Wanita itu bahkan belum genap sehari bersamanya. Bahkan saat ini, ketika wanita itu menunduk karena rasa bersalah dan menyembunyikan wajah bekas tangisnya, Taemin masih saja terhipnotis dengan kecantikan Sora.

Jantung Taemin berdegup kencang. Perasaan apakah ini? Taemin tersentak saat Sora meraih lengannya yang terluka.

“Kau punya obat?” tanya Sora sambil memperhatikan luka Taemin.

“Biarkan saja, nanti juga sembuh,” elak Taemin. Taemin sedikit menarik lengannya dari pegangan Sora, namun wanita itu tidak mau melepaskannya.

Sora menatap Taemin dengan memohon. “Izinkan aku mengobatimu sekali saja. Aku berhutang budi terlalu banyak karena kau menyelamatkan nyawaku dua kali,” mohon Sora.

Taemin akhirnya mengalah dan membiarkan Sora merawat luka bekas gigitan serigala itu. Tidak sakit sebenarnya, namun wanita itu dengan hati-hati membubuhkan obat dan membalut lukanya.

Sora tidak tahu kenapa dia harus memaksa Taemin agar mau diobati, tapi dia merasa pelukan Taemin dan sikapnya yang penurut saat Sora merawat lukanya membuatnya Sora merasa Taemin terlihat jauh lebih manusiawi daripada yang pertama kali dilihatnya.

Posisi mereka yang sangat dekat saat ini membuat Sora dan Taemin semakin canggung, apalagi setelah pelukan sebelumnya. Sora merasa gugup entah karena apa dan Taemin merasa jantungnya semakin berdegup kencang. Keduanya saling bertatapan hingga sebuah suara menginterupsi kontak mata mereka.

“Taemin Orabeoni!” suara Hyeki terdengar nyaring dari halaman.

Taemin tanpa sadar berdecak kesal, sedangkan Sora tertawa kecil melihat ekspresi Taemin yang menggerutu. Hyeki dan Minho melangkah memasuki gubuk Taemin. Hyeki tersenyum lebar sama sekali tidak peduli dengan wajah Taemin yang dongkol sedangkan Minho setia mengikutinya di belakang. Hari ini gadis itu kembali memakai pakaian ksatria yang membuat Sora iri betapa bebasnya gadis itu.

“Kenapa datang lagi?” tanya Taemin ketus.

Hyeki melirik Taemin dan menatapnya dengan pandangan menggoda. “Waeyo? Orabeoni tidak senang waktu berduaan dengan Sora eonni diganggu?” tanyanya.

Pipi Sora memerah mendengar ucapan Hyeki dan Taemin merasa telinganya panas karena malu. Bocah itu benar-benar!

“Kami ke sini mengantarkan pakaian Anda, Nona,” Minho memberitahu Sora dan Hyeki menyerahkan bungkusan pakaian kepada Sora.

“Paman Kim bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja, eonni,” tambah Hyeki menyampaikan pesan Jonghyun.

Sora menerima bungkusan pakaian itu dan mendekapnya erat. Air mata mulai menggenang lagi di pelupuk matanya, namun Sora menguatkan diri.

“Ada apa dengan lenganmu?” tanya Minho pada Taemin saat dirinya menyadari perban yang melingkar di sana.

Taemin mengibaskan tangannya. “Bukan apa-apa,” jawab Taemin sambil lalu, namun Sora memotong ucapannya dengan menjelaskan peristiwa serigala tadi pagi. Tentu saja, tanpa menceritakan tangisan Sora dan pelukan Taemin.

Sora bisa melihat Hyeki melongo mendengar ceritanya. Minho dan Hyeki saling bertukar pandang yang membuat Sora sedikit khawtir kedua orang itu berpikir macam-macam. Sedangkan Taemin terlihat sama sekali tidak peduli dengan reaksi Minho maupun Hyeki. Pria itu kembali ke sisi dinginnya seperti saat pertama kali Sora melihatnya. Sora menatap Taemin intens. Berapa banyak sisi pria itu yang tidak diketahui Sora?

***

Bangsawan Lee Jinki tersenyum lebar saat melihat Hyeki dan Minho memasuki gerbang kediaman keluarga Lee. Jinki sedang duduk di gazebo sambil menatap tarian ikan koi di dalam kolam teratai di bawah gazebo itu. Dia sedang menunggu kedatangan Shaman Kim Kibum untuk membicarakan masa depan Taemin bersama Hyeki dan Minho.

“Kalian sudah kembali?” tanya Jinki gembira.

Minho dan Hyeki menunduk memberi hormat, lalu bergabung bersama Jinki di gazebo. Beberapa saat kemudian, Shaman Kim Kibum tiba dan ikut bergabung bersama mereka.

“Bagaimana keadaan Taemin?” tanya Jinki.

“Paman, jangan khawatir!” Hyeki menenangkan Jinki. “Dia terlihat sangat baik bersama Sora eonni.”

Shaman Kim tersenyum puas. “Jadi, Saudagar Kim berhasil mengantarkan putrinya ke sana?” tanya Kibum.

Minho mengangguk membenarkan. “Semalam kami bertemu Han Jinsook dan sepertinya dia tidak akan menyerahkan putri Saudagar Kim begitu saja,” ujar Minho menimpali.

“Paman harus tahu pria itu mengerikan,” tambah Hyeki.

Jinki mengangguk mengerti. “Lalu bagaimana dengan legenda kuno itu? Apakah kita harus menunggu untuk melihat apakah putri Saudagar Kim bisa membantu kita?” tanya Jinki lagi.

“Anda benar, Tuan. Kita hanya bisa menunggu. Hamba sudah berusaha membaca tanda-tanda dari Nirwana, namun belum bisa mendapatkan petunjuk sama sekali,” jawab Kibum.

“Baiklah, untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah memastikan kerahasiaan bahwa putri Saudagar Kim ada bersama Taemin,” putus Jinki.

Semuanya mengangguk setuju.

“Tapi,” Hyeki berkata kembali. “Aku merasa dua orang itu memiliki sesuatu yang berbeda,” ujarnya dan menceritakan insiden serigala yang diceritakan oleh Sora.

Mata Jinki membulat. “Taemin menyelamatkan gadis itu?” tanya Jinki tak percaya.

“Itu benar,” jawab Minho. “Kami melihat sendiri bekas lukanya.”

“Kalau begitu, seseorang yang menyelamatkan nyawa orang lain biasanya akan terikat oleh takdir. Walaupun kita belum tahu takdir apa yang mengikat dua orang itu, semoga akan membantu Taemin kembali seperti semula,” kata Kibum menyimpulkan.

Jinki tersenyum, setidaknya ini berita baik untuk mereka.

“Tetap awasi Taemin dan Kim Sora,” pesannya pada Minho dan Hyeki yang mengangguk paham.

Nah, sekarang Taemin sudah memiliki kesempatan bersama seorang gadis, maka tugas Jinki berikutnya adalah memastikan bahwa kesempatan ini tidak sia-sia.

***

Han Jinsook menggeram. “Apa katamu?” tanyanya pada pengawalnya.

“Ada yang melihat Saudagar Kim membawa putrinya menuju hutan tengah hari kemarin. Namun, akhirnya Saudagar Kim kembali ke kota sendirian,” ujar pengawalnya.

Kening Jinsook berkerut. Untuk apa Saudagar Kim membawa Sora ke hutan? Ayah seperti Saudagar Kim tidak mungkin membunuh darah dagingnya sendiri, berarti Sora disembunyikan di hutan. Tapi untuk apa? Bukankah hutan sangat berbahaya bagi gadis lemah seperti Sora?

“Telusuri seluruh hutan dan cari lokasi yang bisa dijadikan persembunyian!” perintah Jinsook. “Sora pasti disembunyikan di sana.”

Pengawalnya mengangguk. “Dan ada satu lagi Tuan,” ujar pengawalnya lagi.

“Apa maksudmu?”

“Ini tentang gadis itu, Park Hyeki dan pengawalnya, Choi Minho. Kami juga menyelidiki mereka,” kata pengawal itu.

Jinsook langsung merasa tertarik dengan perkataan pengawalnya. “Ceritakan!” perintahnya.

“Park Hyeki dan Choi Minho, kedua orang itu dikabarkan sering memasuki hutan secara teratur. Para penduduk sering melihat mereka namun mereka pikir itu hal biasa karena Park Hyeki memang belajar ilmu bela diri dari Choi Minho dan para penduduk berpikir mereka belajar bela diri di hutan,” sahut pengawalnya.

Park Hyeki? Putri angkat keluarga Lee? Choi Minho? Jinsook curiga kepada dua orang itu sejak konfrontasi mereka di kediaman Saudagar Kim tempo hari. Apakah Bangsawan Lee juga terlibat dalam membantu Saudagar Kim dan Sora?

“Ikuti Park Hyeki dan Choi Minho jika mereka kembali masuk hutan dan laporkan padaku,” perintah Jinsook.

Pengawal itu mengangguk paham dan pamit meninggalkan ruang belajar Jinsook.

Jinsook menatap lukisan Sora di atas mejanya dengan penuh amarah. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya mendapatkan Sora. Gadis itu akan selalu menjadi miliknya.

*To be continued*

In order to complete Prompts Challenge A1 : look!

AN : Look yang aku definisikan di sini bukan sebagai kata kerja, tapi kata benda yang bisa berarti ‘paras’ atau ‘rupa’.’ That’s why yang diambil fairytale ini.

Last part will be protected by password. So, leave your email below so I’ll give you.

Comments and likes are always loved.

XOXO,

qL^^

Advertisements

2 thoughts on “Beautiful (2/3)

  1. TBC, lagi rame padahal. Eung itu taemin udah terbiasa kayanya sama sora, moga aja taemin berubah#aamiin. Kak aku izin baca yang ketiga boleh? Email:hanifa17sp@gmail.com

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s