Beautiful (1/3)

poster-ql

poster oleh https://yellowpinkash.wordpress.com/.

ditulis oleh qL^^

Bagian 1

Sometime Beauty Does Hurt

Anak panah itu melesat cepat, membelah udara dan menancap tepat di lingkaran merah yang berjarak kurang dari 10 meter dari pemanah. Sang pemanah memicingkan matanya berusaha  memastikan anak panah itu memang benar tepat sasaran.

“Wuoah, daebak!!” seru seseorang membuat sang pemanah berbalik cepat.

Orabeoni memang ahli memanah,” ujar suara itu lagi terkagum-kagum.

Taemin ─sang pemanah─  hanya memutar bola matanya melihat gadis itu. Gadis berpakaian ksatria itu hanya nyengir lebar dan melangkah mendekati lapangan memanah Taemin. Taemin mengacuhkan gadis itu dan malah mengambil panah yang tadi ditembakkannya.

“Sedang apa kau disini?” tanya Taemin. Nada bicaranya memang selalu dingin dan gadis itu tidak pernah ambil pusing.

Hyeki mengangkat bahu. “Paman menyuruhku melihat keadaan orabeoni dan aku membawakanmu makanan buatan Shin ahjumma,” jawab Hyeki sambil mengacungkan bungkusan makanan di hadapan hidung Taemin.

“Aku bisa mengurus makananku sendiri, Hyeki-ya,” sahutnya tidak suka. Taemin selalu jengah diperhatikan seperti itu, tapi sepertinya gadis itu tidak pernah memikirkan pendapat Taemin.

“Aku hanya menjalankan perintah Paman,” jawab Hyeki berdalih.

Taemin menghela napas. Dia sedang tidak ingin berdebat, jadi dia mengambil bungkusan makanan itu dan memberi isyarat agar Hyeki mengikutinya ke pondoknya yang tidak jauh dari lapangan. Hyeki tidak pernah protes mengenai pondok itu karena gadis itu sudah terlalu terbiasa dengan Taemin. Dia bahkan tidak pernah berjengit ketika melihat wajah Taemin, satu-satunya hal yang paling disyukuri Taemin dari Hyeki. Taemin sudah terlalu muak dengan orang-orang yang bahkan lari ketakutan setiap kali melihatnya.

Ketika sampai di pondoknya, Taemin membiarkan Hyeki mengatur makanan di atas meja sedangkan dirinya pergi ke belakang rumah untuk mencuci muka karena udara panas siang ini. Taemin kembali ke dalam rumah sambil mengeringkan muka. Tidak ada cermin di dalam gubuk ini, Taemin tidak membutuhkannya.

“Paman bilang orabeoni harus kembali ke rumah keluarga Lee sesegera mungkin,” Hyeki membuka percakapan sambil mereka menyantap makanan.

“Dan membiarkan Paman dicemooh lagi?” Taemin bertanya sarkartis. “Tidak, aku tidak akan dekat-dekat kota sama sekali,” tolak Taemin.

Hyeki menatap sepupunya dengan pandangan kasihan. Dia sama sekali tidak menyangka Taemin sangat terganggu dengan hal itu. “Paman tidak pernah marah pada orabeoni karena itu. Orabeoni harus kembali ke sana demi dirinya,” bujuk Hyeki lagi.

Taemin meletakkan sumpitnya dengan  kasar di atas mangkuk. “Aku tidak mau membuat hidupku semakin menyedihkan, Park Hyeki,” geram Taemin.

Hyeki tidak takut, dia sudah terlalu kebal dengan gertakan Taemin yang bisa membuat pria dewasa penakut kabur ketakutan. Gadis yang berusia 3 tahun lebih muda dari Taemin itu mengangkat sebelah alisnya. “Penginapan Bunga Lili itu milikmu, milik ayahmu. Orabeoni harus kembali,” gadis itu masih bersikeras.

Taemin menatap Hyeki dengan pandangan terluka. Akhirnya gadis itu mengungkit-ungkit lagi masa lalunya yang menyedihkan.

“Pulanglah dan katakan pada Paman agar jangan pernah mengharapkanku pulang,” Taemin berkata dan bangkit dari kursinya. Pria itu berjalan keluar gubuknya dan meninggalkan Hyeki sendirian di sana.

***

Bangsawan Lee Jinki mengusap pelipisnya yang berdenyut setelah mendengarkan penjelasan Shaman Kim Kibum mengenai prospek kehidupan keponakannya. Kibum turut prihatin namun dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi keponakan Jinki.

“Jadi yang kita bisa lakukan hanya menunggu?” tanya Jinki memastikan.

Ye, Tuan. Ini legenda kuno yang bahkan tidak seorang pun yang masih hidup yang mampu membuktikannya,” jawab Kibum. “Satu-satunya cara untuk mempercepat proses itu adalah membiarkan Tuan Lee Taemin berinteraksi dengan banyak gadis, Tuan,” tambah Kibum.

Jinki mendesah. “Tapi sudah menjadi keinginan Taemin untuk mengurung diri di kaki pengunungan,” keluh Jinki.

Kibum mengangguk paham. Dia mengingat betul bagaimana Taemin memohon padanya untuk membiarkannya mengasingkan diri. Kibum sendirilah yang menyarankan pondok kecil di kaki gunung itu sebagai tempat tinggal Taemin.

“Nona, Tuan Lee sedang bertemu Shaman Kim. Anda tidak boleh masuk,” seru suara Minho ─pengawal Jinki─ yang terdengar dari luar ruang belajar (sarangbang) Jinki.

Kedua pria itu mendengar suara gaduh dan memperkirakan satu-satunya gadis di keluarga Lee itu sudah pulang dan sedang berdebat dengan Choi Minho di depan pintu. Pintu ruangan itu akhirnya terbuka dan Hyeki muncul di depan pintu. Jinki tidak bisa menahan tawanya melihat keadaan Hyeki. Wajahnya merah seperti habis menangis kontras dengan pedang pendek yang tersampir di punggungnya dan baju ksatria yang dipakainya.

“Dia tidak mau pulang,” gadis itu mengeluh. Suaranya serak karena habis menangis. “Taemin orabeoni tidak mau pulang. Dia memarahiku dan meninggalkanku sendirian di sana,” ujar Hyeki dengan nada kesal.

Jinki hanya tertawa dan mengisyaratkan agar gadis itu mendekatinya. Dia mengusap kepala gadis itu dan tersenyum. “Kau sudah berusaha,” ujarnya menenangkan gadis itu.

Kibum menatap Jinki dan memberi isyarat untuk pamit. “Hamba pergi dulu, Tuan. Hamba akan mampir mengecek keadaan Tuan Lee di perjalanan nanti,” ujar Kibum.

“Terima kasih banyak, Shaman Kim. Aku berhutang padamu,” sahut Jinki dan Kibum segera meninggalkan ruangan itu.

Jinki menoleh pada Hyeki yang masih merengut. “Kenapa kau memakai baju ksatria kalau kamu menangis, hm?” goda Jinki.

“Paman menyebalkan,” gumam Hyeki sambil menghapus bekas air matanya.

Jinki tertawa lagi. Pria itu menatap Hyeki. “Shaman Kim bilang Taemin harus segera bertemu dengan gadis yang mencintainya. Hanya itu satu-satunya cara memusnahkan kutukan itu,” ujar Jinki memberitahu Hyeki.

“Bukankah itu hanya legenda?” wajah Hyeki berpilin bingung.

Jinki mengangkat bahu. “Layak dicoba. Kita harus mencoba segala hal yang bisa mengembalikan Taemin seperti semula,” ujar Jinki pasrah.

“Aku takut semakin lama dia akan semakin seperti monster,” ujar Hyeki lalu bergidik mengingat ekspresi menyeramkan Taemin.

Jinki menggeleng. “Dia tetap akan menjadi Taemin yang kita kenal,” ucapnya yakin.

***

Pintu gerbang kediaman Saudagar Kim terbuka diikuti seruan panik salah seorang pelayan wanita. Pelayan itu berlari cepat menuju kamar putri tunggal Saudagar Kim.

“Nona Kim, Tuan Muda Han ada di halaman,” pelayan wanita itu berkata panik.

Raut wajah Kim Sora yang tadinya tenang berubah panik. Sora menarik napas dalam sebelum melangkah keluar untuk menemui Tuan Muda Han yang datang tiba-tiba.

“Oh! Sora-ya,” Tuan Muda Han Jinsook tersenyum lebar pada Sora dengan gaya flamboyannya.

Sora mengigit bibirnya kesal, pria itu bicara banmal dengannya!

“Kau cantik sekali hari ini,” Jinsook memuji Sora, namun di telinga Sora terdengar seperti rayuan kuno.

Jinsook tidak bohong. Kim Sora, putri tunggal Saudagar Kim adalah gadis tercantik di seluruh kota. Wajahnya semulus porselen dan proporsi tubuhnya sangat bagus. Belum lagi dia dibesarkan dalam keluarga yang baik-baik, maka tutur katanya anggun dan posisinya sangat dihormati dalam masyarakat. Bagi Jinsook, Kim Sora adalah calon istri terbaik yang harus diperolehnya.

Sora dengan luwes menghindari Jinsook. “Ada perlu apa, Tuan Muda?” gadis itu bertanya sopan sambil menghindari bertatapan langsung dengan Jinsook.

Jinsook menarik tangan Sora hingga gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh dalam pelukannya. Semua pelayan menoleh, tidak berani menatap putra Menteri Han ini. Sora berusaha membebaskan diri. Dia gadis terhormat yang tidak akan membiarkan dirinya sembarangan disentuh pria mana pun. Sayangnya cengkraman Jinsook terlalu kuat untuk dilawan Sora. Jinsook makin merapatkan tubuh mereka.

Sora bisa merasakan deru napas Jinsook di pipinya karena gadis itu memalingkan wajahnya. Jemari Jinsook menyusuri pipi Sora dan Sora bergidik ketakutan. Jinsook meletakkan jarinya di dagu Sora, memaksa gadis itu menatap wajahnya.

“Dimana ayahmu?” pria itu bertanya dengan nada mengancam. Hilang sudah suara yang dimanis-maniskannya ketika merayu Sora tadi.

“Ayah belum pulang,” jawab Sora masih tidak mau menatap mata Jinsook walaupun wajahnya dipaksa menghadap pria itu.

Jinsook tertawa. Dia kembali mengelus pipi Sora membuat Sora rasanya ingin menangis ketakutan. “Katakan padanya aku sudah tidak sabar menyentuh seluruh bagian dari tubuh indah ini. Pernikahan kita akan dilakukan secepatnya,” bisik pria itu tegas.

Sora menelan ludah. Pernikahan? Ayahnya tidak pernah menyebut kata itu di hadapannya. Sora bisa merasakan neraka akan segera menghampirinya.

Jinsook melepaskan Sora, lalu merapikan jeogori dan gatnya yang sedikit berubah posisi. Pria muda itu kembali dengan senyum liciknya.

“Pastikan kau menyampaikan pesanku pada ayahmu, Sora-ya,” ujar pria itu sebelum melangkah meninggalkan kediaman Saudagar Kim.

Sora hanya bisa menatap kepergian pria itu dengan nanar. Lututnya melemah dan Sora terjatuh duduk di tanah. Tidak peduli dengan hanbok sutranya yang kotor atau panggilan panik dari pelayan wanitanya.

Nirwana sedang menjatuhkan hukuman pada dirinya.

***

Abojie?” Kim Sora memanggil ayahnya. Sora tahu ayahnya sudah pulang karena malam sudah cukup larut.

Saudagar Kim Jonghyun terlonjak kaget mendengar panggilan Sora.

“Ayah di sini,” pria itu menjawab sambil segera menyembunyikan surat yang baru saja diselipkan oleh entah siapa di atas mejanya.

Sora menggeser pintu kamar ayahnya dengan hati-hati. “Ayah tidak makan malam? Apakah ayah sakit?” gadis itu bertanya khawatir.

Jonghyun hanya menggeleng. “Ayah tidak apa-apa,” jawabnya berusaha menepiskan kekhawatiran Sora.

Kalaupun Sora menyadari keanehan yang dialami ayahnya, dia memutuskan untuk tidak membahas masalah itu lagi. “Ah ya, tadi sore Tuan Muda Han Jinsook datang lagi,” Sora memberitahu ayahnya. Gadis itu menunduk dalam mengingat ucapan Jinsook sore tadi.

Jonghyun langsung merasa khawatir mendengar penuturan Sora. “Benarkah? Apakah dia melakukan hal buruk padamu?” tanya Jonghyun sambil mengamati putrinya baik-baik. Dia tahu persis bagaimana brutalnya Jinsook.

Aniya, aku baik-baik saja. Jinsook tidak melakukan apa pun. Dia hanya bilang bahwa sebentar lagi aku akan menjadi miliknya. Benarkah itu?” Sora bertanya ragu-ragu.

Sebenarnya dia merasa takut pertanyaannya akan menyinggung ayahnya, namun dia tidak sanggup membayangkan dirinya menjadi istri Jinsook. Siapa yang tidak mengenal Jinsook, Tuan Muda Han yang tampan namun suka bermain wanita dan kejam pada kaum budak.

Sekarang Jonghyun mengerti dari mana surat tak bernama itu berasal. Jinsook pasti benar-benar menginginkan Sora.. Tubuh Jonghyun bergetar karena cemas dan kemarahan mengingat isi surat yang baru saja diterimanya.

Sora tiba-tiba membungkuk dalam. Dahinya menyentuh lantai karena dia benar-benar memohon belas kasihan ayahnya. “Abojie, tolong selamatkan aku,” pintanya lirih.

Air mata Jonghyun tidak bisa dibendung lagi. Pria itu menarik putrinya yang masih membungkuk dan memeluknya. Jonghyun bisa merasakan air mata Sora membasahi bagian depan jeogorinya. Ah, Jonghyun merasa sangat bersalah pada mendiang istrinya. Dia telah melukai putrinya sendiri.

Jonghyun menghapus air mata Sora. “Jangan menangis,” ucapnya. “Ayah akan menyelamatkanmu,” tambahnya.

Wajah putrinya tidak berubah. Gadis itu menangis semakin keras. Walaupun matanya memerah dan riasannya terhapus, Sora tetap terlihat cantik. Ah, terkadang cantik memang melukai. Seperti saat ini, dimana seluruh pria bangsawan muda tertarik pada putrinya sedangkan Jonghyun tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya seorang saudagar yang tidak memiliki kekuatan politik apa pun dibandingkan keluarga Han.

Pasti ada cara, pasti ada cara. Jonghyun mensugestikan dirinya untuk menyelamatkan putrinya. Dia tidak bisa membiarkan putrinya hidup menderita bersama Han Jinsook.

Sora sangat berterima kasih pada ayahnya. Dia selalu ingin menjadi anak baik yang tidak menyusahkan ayahnya, namun Jinsook adalah sesuatu hal di luar kuasanya. Hal yang tidak bisa ditolerir oleh hatinya. Sora memutuskan akan mempercayai ayahnya untuk masalah ini. Semoga Dewa akan membantu mereka.

***

Siang ini tidak sepanas siang kemarin. Taemin tidak menghabiskan waktunya dengan berlatih memanah. Dia sedang berkonsentrasi melatih ilmu pedangnya. Shaman Kim datang mengunjunginya kemarin dan mengajarinya beberapa trik ilmu pedang untuk mengalirkan energi positif ke tubuhnya. Berkat konsentrasinya, Taemin bisa membelah apel yang dilemparkan Hyeki dengan sengaja dari jarak dua meter.  Taemin menggerutu, tidak habis pikir mengapa bocah itu masih saja menganggunya.

“Kenapa kemari lagi?” tanya Taemin dingin.

Hyeki menjulurkan lidahnya. “Orabeoni hanya menyuruhku pulang. Bukan menyuruhku tidak kembali ke sini bukan?” sahut gadis itu acuh.

Hyeki mendekat dan duduk di rerumputan sambil menyaksikan Taemin berlatih. Di belakangnya, pengawal Choi Minho berdiri waspada.

Hyeongnim tidak datang untuk memaksaku pulang bukan?” Taemin bertanya pada Minho yang diam saja.

Minho menggeleng. “Aku di sini untuk mengawal Nona Park,” jawab Minho tenang.

Taemin tertawa. “Sejak kapan Hyeki butuh pengawal? Dia bisa menggunakan pedang sebaik aku,” ejek Taemin yang dihadiahi lemparan sejumput rumput oleh Hyeki.

Taemin menatap Hyeki galak yang dibalas dengan juluran lidah sedangkan Minho hanya tertawa kecil. Momen seperti ini selalu menyenangkan bagi Taemin walaupun dia tidak mau mengakuinya. Momen ini seakan selalu membangkitkan ingatan Taemin bahwa dia masih manusia.

Langit semakin menggelap pertanda akan hujan. Taemin, Hyeki dan Minho menyudahi kegiatan mereka di taman hutan dan kembali ke pondok Taemin. Di sana mereka melanjutkan berbincang. Hyeki dan Minho sama sekali tidak mengungkit masalah kepulangan Taemin, jadi pembicaraan mereka berlangsung menyenangkan.

Bunyi guntur di luar mengagetkan Hyeki, Taemin dan Minho. Rupanya hujan di luar sudah berubah menjadi badai besar dan membuat langit siang yang cerah menjadi gelap gulita seolah malam. Tidak ada gunanya pulang di saat badai begini. Hyeki dan Minho bisa tersesat dalam gelapnya hutan kaki gunung, jadi mereka memutuskan menunggu di pondok Taemin.

Nun jauh di sisi hutan yang lain, Saudagar Kim Jonghyun sedang bersusah payah memegang lengan putrinya, Sora. Mereka berlari kencang semakin jauh ke dalam hutan dan mencegah mereka bertemu dengan suruhan Han Jinsook.

Sora merintih. Bukan hanya ketakutan, gadis itu juga kelelahan karena tidak biasa dengan medan berat seperti ini. Sora tahu dia tidak boleh menyerah. Ayahnya sudah mengorbankan segala hal yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan Sora.

Jonghyun harus menahan diri untuk tidak menangis setiap kali dia mendengar rintihan Sora yang berlari di sebelahnya. Dia tidak tahu dimana hutan ini akan berakhir tapi Shaman Kim mengatakan bahwa sisi hutan kaki gunung yang lain dilindungi kekuatan baik yang akan melindungi putrinya.

Hujan semakin lebat. Jonghyun dan Sora sudah basah kuyup dan mengigil kedinginan. Keduanya terus berlari dan berlari hingga akhirnya mereka melihat sesosok cahaya dari jendela sebuah pondok. Pondok Taemin.

Hyeki berinisiatif membukakan pintu saat mendengar pintu pondok Taemin diketuk, tapi Minho menahan Hyeki. Minho lah yang membukakan pintu dan semuanya tercengang saat dua sosok yang basah kuyup tergeletak pingsan di depan pintu pondok Taemin.

***

Hujan di luar masih terdengar walaupun sudah tidak ada badai. Dua sosok itu belum juga sadar dan terbaring di atas ranjang Taemin. Hyeki memeriksa denyut nadi keduanya. Selain hobi mengenakan pakaian ksatria yang harusnya pakaian pria dan berlatih ilmu pedang, Hyeki juga senang belajar ilmu filsafat dan kedokteran. Taemin sering sekali menggoda Hyeki seharusnya gadis itu lahir sebagai pria saja dan Hyeki lebih sering tidak merasa tersinggung.

Denyut nadi mereka sudah normal dan keduanya tidak demam. Minho membantu menggantikan baju si pria yang lebih tua. Hyeki tidak bisa mengganti baju si wanita muda karena Taemin tidak punya baju wanita di gubuknya. Jadi Hyeki hanya menyelimuti wanita itu dengan selimut tebal dan berharap itu akan membuat wanita itu cukup hangat.

“Siapa mereka?” pertanyaan itu terus dilontarkan Minho sejak tadi.

“Mungkin mereka kabur dari penjahat atau penjahat yang kabur?” tebak Hyeki, lalu bergidik membayangkan tebakannya.

Taemin hanya diam. Dia berdiri di dekat perapian jauh dari ranjangnya. Dia merasakan hal aneh dengan kejadian ini. Pertama, dia harus mengakui wanita yang pingsan itu sangat cantik. Kedua, dia tidak mempercayai dua orang yang ditolong Hyeki dan Minho itu. Ketiga, dia yakin sekali dua orang itu akan kaget dan histeris melihatnya dan dia tidak siap melihat reaksi itu.

“Aku pergi,” ujar Taemin pelan.

Hyeki menahan lengannya. “Orabeoni mau kemana? Di luar masih hujan,” ujar gadis itu prihatin.

“Aku tidak ingin melihat reaksi mereka ketika terbangun dan melihatku,” kata Taemin jujur dengan nada pahit.

“Tetap di sini, Tuan Lee. Kau tidak boleh kemana-mana. Dua orang ini berhutang budi atas pertolonganmu di sini,” Minho berkata dengan nada tenang.

Sebelum Taemin sempat menjawab, pria tua itu bergerak sedikit. Kelopak matanya perlahan mulai terbuka dan dia duduk dengan kaget. Minho bergerak cepat dengan meletakkan pedangnya di leher pria itu.

“Sebutkan nama Anda,” ujar Minho dengan nada memerintah.

“Kim Jonghyun,” jawab pria itu berusaha menguasai dirinya.

Hyeki menatap pria itu baik-baik. Dia melepaskan tangannya dari Taemin dan berjalan sedikit mendekat. Hei, Hyeki mengenali pria itu. Dia sering mengikuti paman saat mengurus bisnis dengan Saudagar Kim.

“Saudagar Kim?” Hyeki bertanya bingung. “Astaga! Apa yang kaulakukan di hutan di saat badai seperti tadi?”

Jonghyun juga mengenali Hyeki. Tentu saja, Hyeki anak perempuan yang berbeda yang senang mengikuti bangsawan Lee ketika datang ke kantornya. Jonghyun tidak segera menjawab pertanyaan Hyeki. Pria itu menyusuri seluruh sudut gubuk dengan matanya untuk memastikan keamanan sebelum menjawab dan saat itulah matanya menangkap sosok Taemin yang masih berdiri di perapian di sebelah Hyeki.

Sosok monster Taemin. Besar dan berbulu dengan mata setajam elang. Bola mata Jonghyun melebar dan pria itu siap berteriak kalau saja Minho tidak menutup mulut pria itu lebih dulu. Hyeki menoleh ke arah Taemin dan mengetahui bahwa Taemin pasti terluka dengan sikap Saudagar Kim. Hyeki tidak bisa menyalahkan Tuan Kim. Normal bagi semua orang yang baru saja terbangun dari pingsannya di pondok aneh yang berisi …. entahlah, tidak ada kata yang tepat untuk menjelaskan kondisi Taemin.

“Tenanglah Saudagar Kim,” Hyeki berusaha menenangkan pria itu. “Ini Lee Taemin, sepupuku,” Hyeki berusaha menjelaskan.

Jonghyun masih terpaku di tempatnya dengan tangan Minho yang masih membekap mulutnya.

“Oh, lepaskan dia, Minho-ssi,” Hyeki memerintah Minho yang sigap melaksanakan perintahnya. “Selamat datang di rumah Lee Taemin dan jangan menatapnya seperti itu, Saudagar Kim. Taemin orabeoni sama normalnya dengan aku, Minho-ssi dan Anda, hanya saja dia memiliki lebih banyak bulu dan tulang yang besar,” ujar Hyeki sedikit bergurau.

“Dia ─dia..” Jonghyun tidak bisa menemukan kata yang tepat.

“Dia manusia,” Hyeki menyelesaikan kalimat itu.

Taemin merasa tersentuh dengan pembelaan Hyeki. Dia berusaha menggerakkan mulutnya yang kaku. “Maaf bila aku mengagetkanmu,” ujar Taemin.

Jonghyun terkesiap. Makhluk itu bicara. Dia bicara. Dia bukan monster. Jonghyun menelan ludahnya gugup.

“Kau sudah lama tinggal di sini?” tanya Jonghyun akhirnya.

“Sejak bertahun-tahun yang lalu,” jawab Taemin singkat.

Oh! Hati Jonghyun langsung diselimuti kelegaan. Inilah dia. Inilah yang dikatakan Shaman Kim mengenai orang yang akan melindungi putrinya. Tanpa menahan diri, Jonghyun menceritakan segala hal tentang Sora dan Jinsook, termasuk surat ancaman yang akan menjadikan Sora budak bila Jonghyun menolak lamaran Jinsook.

Shaman Kim? Bukankah itu Shaman yang sering ditemui Bangsawan Lee?” tanya Minho.

Hyeki mengangguk. “Jadi Shaman Kim mengirim Sora eonni untuk Taemin orabeoni?” Hyeki bertanya sekaligus menyimpulkan.

Saat itulah Sora terbangun. Kelopak matanya bergerak dan perlahan-lahan terbuka. Wanita muda itu berusaha duduk dan dia terlihat kebingungan saat melihat suasana gubuk yang dipenuhi orang. Mata Sora perlahan menangkap sosok Taemin yang masih tidak beranjak dari perapian. Hampir saja Sora berteriak histeris kalau ayahnya tidak segera menenangkannya.

Aboeji, apakah maksud semua ini?” Sora bertanya dengan suara serak. Siap menangis lagi.

“Kita sudah sampai di tujuan Sora,” Jonghyun memberi tahu putrinya. “Kau akan aman di sini,” tambahnya lagi.

Sora menatap ayahnya tidak mengerti.

“Kau akan tinggal di sini bersama Taemin hingga ayah mengatur keselamatanmu,” Jonghyun menjelaskan.

“Taemin?” Sora mengulang nama Taemin dan matanya tertuju langsung pada sosok monster Taemin yang disinari cahaya api perapian.

Sora tidak tahu apakah ini jalan yang terbaik. Walaupun dia terbebas dari Jinsook, Sora tidak bisa membayangkan masa depannya : hidup bersembunyi dengan sesosok monster!

*to be continued*

In order to complete Prompts Challenge A1 : look!

AN : Look yang aku definisikan di sini bukan sebagai kata kerja, tapi kata benda yang bisa berarti ‘paras’ atau ‘rupa’.’ That’s why yang diambil fairytale ini. Ini ff pertama yang main casts nya Taemin dan ff ini sudah selesai ditulis dan akan dipublish tiap sabtu pagi. 

Comments and likes are always loved.

XOXO,

qL^^

Advertisements

2 thoughts on “Beautiful (1/3)

  1. Hai qL/? maafkan jika aku salah panggil heu😢. Aku visit karena liat balesan komen kemarin, yeay/plakk/ ini saeguk kan ya? Taemin kan ya yang main? Ih maaf aku banyak tanya. Aku suka, tapi awalnya aku kirain bakal kaya D.O kemarin ada unsur kerajaan nya gitu. Tapi aku suka, suka banget😊

    Like

  2. Iyaa ini saeguk. Tp emg bukan saeguk kerajaan sih. Semacam The Merchant lah ya ga terlalu berhubungan sama kerajaan.
    Kuharap set, gaya bahasa dan pemilihan ceritanya terasa ngena bgt ke saeguknya. Makasih udah suka yaa

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s