[PC-C10] Pure

qL^^ presents

a fanfiction based on The Expendables Movie

about new definition of family

casts : Lily Carter | Logan Lerman | The Expendables

Pure

Pure

Lily means purity…

“Lilypop, do you copy?” 

Suara Thron masuk dari earphone yang digunakan Lily menjadi satu-satunya suara di dalam lubang udara itu, selain desing samar bunyi mesin. Lily menahan diri untuk tidak mendengus mendengar Thorn menggunakan nickname itu. Jelas sekali dia sedang mencoba bergurau dengan Lily.

“Kau lihat persimpangan di ujung saluran? Pilih ke arah kanan, itu akan langsung mengarahkanmu pada target,” Thorn memberikan instruksi.

Lily bisa membayangkan saat ini Thorn sedang duduk tenang di kursi van berhadapan dengan tiga layar komputer yang menampilkan gambaran CCTV gedung yang telah berhasil diretas pria itu alih-alih merangkak dalam saluran udara yang seperti yang kini dilakukan Lily. Entah kenapa bayangan itu membuat Lily ingin menendang sesuatu.

Copy that,” sahut Lily, meneruskan merangkak dan berbelok ke arah kanan. “Ugh, di sini sempit sekali,” keluhnya.

Dengusan Thorn terdengar. “Percayalah Lilypop, berada di lapangan jauh lebih mengasyikkan daripada di depan komputer,” katanya.

“Dan kalau saja lubang udara itu sebesar tubuhku, aku pasti akan mengajukan diri untuk menyusup ke sana,” ada suara lain yang menyahut. Lily mengenali suara itu, itu suara John Smilee yang penuh dengan nada sarkastik. Lily tak pernah menyukai orang itu.

Lily masih merangkak dan berhenti tepat di atas penutup lubang udara. Gadis itu berusaha mengintip ke bawah dari celah-celah penutup.

“Dua penjaga dan satu target,” bisik Lily.

“Yep,” Thorn mengkonfirmasi. Dia pasti melihatnya juga dari layar CCTV. “Pintunya sudah kukunci. Kau bisa masuk,” tambahnya,

“Hati-hati Lilypop,” suara Luna memberi peringatan.

Lily menarik nafas dalam sebelum mulai mengangkat penutup lubang udara itu. Dia menunggu sampai dua penjaga itu membelakanginya, lalu melompat turun dari atas. Tangan Lily menarik penjaga pertama,  lengannya melingkari leher si penjaga dan dengan gerakan cepat menempelkan stun gun tepat di pinggang si penjaga. Penjaga pertama merosot pingsan.

Penjaga kedua terpekik kaget dan mulai menyerang. Lily mendorong tubuh si penjaga pertama yang tak sadarkan diri ke arah si penjaga kedua. Keduanya jatuh tersungkur dan Lily mengambil kesempatan dengan menekankan stun gun di lekuk leher si penjaga kedua.

Mudah, gumam Lily dalam hati. Dia menggulingkan tubuh dua penjaga yang tak sadarkan diri itu dengan kakinya ke arah dinding dan menoleh ke sosok pemuda yang terikat di bangku tepat di sudut ruangan. Pemuda itu menatapnya dengan ekspresi horor.

“Halo,” kata Lily ramah. “Aku datang untuk menyelamatkanmu.”

Lily mendekat, mengeluarkan pisau dengan gagang yang berukiran tengkorak (itu hadiah dari Lee Christmas), kemudian memotong tali yang mengikat pemuda itu. Kelihatannya pemuda itu sudah terlalu lama berada dalam posisi duduk dan terikat sehingga dia sedikit goyah ketika berdiri, membuat Lily harus membantunya.

“Ini buruk,” gumam Thorn terdengar samar-samar dari komunikator mereka.

“Apa? Kenapa?” tanya Lily sembari membantu memapah target mereka.

“Kembali ke saluran udara. Sekarang! Mereka datang!” suara Thorn terdengar panik.

“Apa? Tapi bagaimana mereka bisa tahu?” Lily juga ikut merasa panik.

“Tenanglah, kalian berdua!” Suara bass memotong dialog Lily dan Thorn. Barney, pikir Lily lega. “Lils, jangan buang waktu. Segera kembali ke saluran udara. Bantu si target! Thorn, lakukan segala yang kau bisa untuk memberi Lily cukup banyak waktu,” tegasnya.

“Aye!” sahut Lily dan Thorn bersamaan.

Dengan cekatan, Lily melompat kembali ke saluran udara. Dia mengulurkan tangan untuk membantu si pemuda naik. Untunglah pemuda itu tinggi dan cukup kuat untuk memanjat naik. Lily memberi kode agar pemuda itu ikut merangkak mengikutinya melalui saluran udara.

“Aku mengunci seluruh pintu ke arahmu tapi mereka mulai mendobraknya. Kalau beruntung kau bisa keluar sebelum mereka mencapai ruangan tadi,” Thorn memberitahu Lily.

Nyaris saja Lily mengumpat mendengar ucapan Thorn yang sama sekali tidak membantu. “Kita harus cepat,” bisik Lily pada si pemuda dan mereka merangkak dengan terburu-buru.

Dalam kegelapan dan hanya dengan bantuan senter kepala, Lily bisa melihat akhir saluran udara yang akan menuju atap gedung. Jalan keluar yang sama dengan yang digunakannya sebagai jalur masuk. Dengan sekuat tenaga, Lily mendorong penutup saluran udara hingga terbuka dan melompat keluar. Pemuda target mengikuti langkahnya di belakang. Saat itu Lily langsung terpaku.

Kira-kira selusin pria bersenjata menghadang mereka. Wajah-wajah garang para musuh itu menatap dengan mengancam, mau tak mau membuat Lily menelan ludah.

Guys,” kata Lily sangat pelan. “I think we’re trapped.”

Tidak ada suara yang menjawab Lily. Hanya dengung samar komunikator dan sunyinya malam. Lalu tiba-tiba Lily mendengar bunyi desing halus yang lewat di hadapannya dan menancap tepat di dada salah satu musuh mereka.

“Kami datang, Lilypop,” kata Lee dengan nada gembira yang berlebihan.

Senyum Lily mengembang. Bagaimana mungkin dia tidak mengenali ukiran khas dari semua pisau milik Lee seperti yang kini menumbangkan salah satu pria bersenjata? Lily terburu-buru menarik pemuda target di sebelahnya untuk tiarap karena hanya selang beberapa detik kemudian satu persatu musuh di hadapannya terjatuh dengan peluru menembus tubuh mereka yang tak siap.

Di balik para musuh yang roboh, The Expendables berdiri tegap dengan senjata teracung.

Gemuruh suara helikopter terdengar.

“Ke helikopter! Sekarang!” komando Barney.

Semua anggota bergerak cepat menuju helikopter yang terbang rendah di dekat atap. Lily membantu si pemuda target naik ke helikopter sebelum dia juga ikut naik. Hanya ada Luna, Barney, Lee dan Caesar di dalam helikopter. Lily menduga sisanya pasti menggunakan van bersama Thorn dan lainnya.

Good job, Lily,” puji Barney menepuk bahu Lily.

Nyengir, Lily membantu si pemuda duduk sebelum pindah ke kursi co-pilot di sebelah Lee.

– The Expendables – 

Misi ini mudah. Jauh lebih mudah daripada yang biasanya mereka hadapi. Logan tahu itu. The Expendables merayakannya di markas mereka dan Logan mau tak mau harus ikut serta. Logan tidak henti-hentinya mengerling ke arah gadis yang tadi menyelamatkannya hingga dia tidak sadar bahwa Barney Ross kini berdiri di hadapannya dengan senampan makanan.

“Makanlah,” kata Barney singkat, meletakkan nampan itu di meja di hadapan Logan.

Logan memperhatikan nampan itu. Makanannya lumayan dan Logan kelaparan, meskipun dia sedikit curiga apakah makanan itu diracuni. Tapi Barney adalah sedikit orang yang mungkin bisa dipercayainya di antara anggota The Expendables yang lain, jadi Logan memutuskan untuk makan.

“Aku Barney Ross,” ujar Barney lagi setelah Logan makan beberapa suapan.

Logan meletakkan sendoknya, berhenti makan sejenak untuk menjawab. “Aku tahu.”

Alis Barney terangkat seolah sangsi bahwa pemuda di hadapannya mengenal dirinya. Logan tidak ambil pusing, memang tidak banyak yang tahu mengenai kemampuannya.

“Aku tahu namamu dan aku tahu kalian siapa. The Expendables. Grup yang selalu ‘membereskan’ masalah CIA kan? Aku bisa menamai kalian satu persatu kalau kau mau,” kata Logan mengangkat bahu, tapi kemudian buru-buru menambahkan, “yah kecuali dia,” sambil mengerling ke arah Lily yang sibuk bermain catur dengan Gunner.

“Wah, kau tahu banyak dibandingkan kelihatannya, Kid,” seru Doc. “Pantas saja CIA takut kau jatuh ke tangan Smith.” Logan bisa menangkap nada tak percaya dan kagum dari pria kulit hitam itu.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Barney.

“Mudah. Semuanya ada di berkas CIA. Confidential,” jawab Logan. Salahkan sistem pertahanan CIA yang buruk sehingga bisa ditembus dengan kemampuan hacking Logan. “Yah, kecuali dia,” tambahnya menunjuk Lily.

Ya, Logan tahu nama gadis itu Lily. Dia mendengar Barney menyebut nama gadis itu saat di helikopter. Nickname-nya Lilypop. Meskipun Logan baru mengenal gadis itu, dia setuju dengan nickname itu. Lily terlihat lucu dan manis seperti Lollypop. Tapi di balik itu semua, gadis lucu manis itu telah menyelamatkan Logan dengan hanya berbekal stun gun.

Shit! Harga diri Logan terluka.

Diselamatkan seorang gadis hanya dengan stun gun!

Barney kelihatan tidak senang melihat Logan dua kali menunjuk Lily, tapi Logan tidak peduli. Dia terlalu penasaran pada gadis itu.

“Siapa gadis itu? Dia anggota kalian juga? Tapi kenapa dia tidak bertato?” tanya Logan bertubi-tubi.

Lee yang sedang bermain-main dengan pisaunya tergelak geli mendengar pertanyaan Logan, namun Barney malah berwajah semakin masam.

“Siapa gadis itu tidak ada urusannya bagimu,” tukas Barney galak. “Besok kami akan mengantarmu kepada agen CIA di bandara, lalu kau harus tutup mulut dan melupakan segala hal tentang kami.”

 “Bandara?”

“Program perlindungan saksi CIA,” sahut Doc yang disambut anggukan dari Barney.

Gunner dan Lily menghentikan permainan catur mereka untuk mendengarkan instruksi lebih lanjut dari Barney.

“Luna, John, Lily dan aku akan mengantar pemuda ini sampai agen CIA menjemputnya di pintu keberangkatan. Yang lain tetap siaga di dalam atau di luar bandara,” kata Barney singkat.

Semuanya mengangguk.

Logan memperhatikan Lily yang melesat mendekati Barney.

“Jadi aku akan dapat senjataku besok?” tanya Lily penuh harap.

Barney menggeleng. “Not tomorrow Lily.”

Lily terlihat kecewa, tapi Barney hanya diam saja dan menepuk pundak Lily sebelum berlalu pergi.

Semuanya masih tak luput dari pengamatan Logan.

– The Expendables – 

Asap rokok Barney mengepul di pekatnya malam. Barney sudah pernah berjanji pada Lily bahwa dia akan berhenti, namun dia selalu merokok kembali ketika merasa ada tertekan.

“Kau mengikutkannya dalam misi tanpa memberinya senjata?”

Suara Lee menginterupsi pemikiran Barney.

“Kau sudah memberinya senjata walaupun kularang,” sahut Barney membuat Lee mendengus.

“Hei, itu cuma sebilah pisau,” protes Lee.

Barney tergelak. “Kau membunuh lebih banyak orang menggunakan pisau daripada pistol, Christmas,” katanya tenang.

Oh shit,” Lee mengumpat, lalu berdiri di sebelah Barney. “Tapi misi ini berbahaya Barney. Lily bisa terluka,” tambahnya.

Barney menghembuskan nafas membuat asap rokok berputar-putar di depan wajahnya. “Kita semua berisiko terluka dan Lily bisa menjaga diri. Lagipula aku bisa melindunginya,” sahut Barney.

“Kau sudah melindunginya dari segala hal sejak dia tiba di sini : percobaan pembunuhan, musuh-musuh kita dan bahkan pria,” kata Lee sambil mengedikkan kepala ke arah Logan yang sedang berbicara berdua saja dengan Lily.

Wajah Barney berubah masam melihat keduanya, namun pria itu memalingkan wajahnya lagi. Barney membuang sisa puntung rokok dan menginjaknya dengan kaki sebelum menatap Lee.

“Kau tahu kenapa aku memberinya nama Lily ketika dia muncul di sini?” tanya Barney.

Lee menggeleng.

Lily of Valley means purity.  She doesn’t supposed to kill,” ujar Barney.

Lee hanya bisa berdecak tak sabar. “That flower is poisonous. Besides we don’t supposed to kill too,” tukas Lee galak menekankan pada kata ‘kita’.

Barney hanya tertawa hambar. “Kita sudah terlalu tua dan profesional untuk menggunakan alasan itu, Chirstmas. Pergilah dan persiapkan untuk misi besok,” kata Barney sebelum dia melangkah masuk ke dalam markas kembali.

Lee menggelengkan kepalanya tak mengerti atas pikiran sahabatnya. Terkadang Barney memang seperti memiliki dua kepribadian. Pria lembut kebapakan sekaligus pembunuh berdarah dingin. Lee bergidik, kemudian mengikuti langkah Barney kembali ke dalam.

– The Expendables – 

Bandara.

Ramai dan penuh hiruk pikuk. John dan Luna memainkan peran mereka dengan baik sebagai sepasang kekasih yang hendak liburan, bergandengan tangan. Alih-alih seragam tempur, keduanya berpakaian layaknya warga sipil biasa, Luna bahkan memakai sepatu berhak tinggi. Lily, Logan dan Barney berjalan 100 meter di belakang Luna dan John, berpakaian sama kasualnya. Mereka seperti trio keluarga aneh tanpa disertai ibu.

Logan mengamati sekitar. Dia bisa mengenali beberapa anggota The Expendables yang juga menyamar di dalam bandara. Kebanyakan dari mereka menggangguk, nyaris tak kasatmata, ke arah Barney.

“Arah jam dua. Max Drummer,” kata Barney, lalu menyodok punggung Logan agak keras memaksa pemuda itu berjalan lebih cepat menuju tempat agen CIA itu berdiri.

Punctual as usual, Barney,” kata Max Drummer tersenyum miring. Laki-laki berkacamata hitam dengan stelan jas hitam itu mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Barney.

“Ambil segera pemuda ini dan pergi. Aku ingin semuanya cepat selesai,” kata Barney tak berbasa-basi.

Logan mengangkat alis, sebal karena mereka bicara seolah-olah dia tidak ada di sana.

Drummer kini menatap Logan, menilai. “Ready to go, boy?”

Dengan cepat, Logan menggeleng, lalu menoleh ke arah Lily yang berdiri waspada di sebelah Barney. “Beri aku lima menit. Aku butuh bicara dengan Lily,” katanya, lalu dengan tergesa menarik lengan Lily menjauhi Barney dan Drummer.

Logan bersumpah Lily hampir saja membantingnya ke lantai karena refleks terkejut oleh tarikan Logan dan dia bersyukur Lily lebih dulu tersadar sehingga badan Logan tidak perlu remuk. Logan membawa Lily ke sudut sepi yang masih terlihat oleh Barney dan Drummer, namun cukup jauh dari jangkauan pendengaran dua pria tua itu.

Go with me,” kata Logan.

What?” ulang Lily tak percaya.

“Ayo, pergilah bersamaku,” ulang Logan sekali lagi.  “Kau tidak aman bersama mereka Lily. Kau bukan anggota, kau tidak punya tato. Kau tidak punya senjata. Lagipula kau maish bersih. Kau belum pernah membunuh. Kalau kau ikut bersamaku, kau bisa ikut program perlindungan saksi juga. Mungkin mereka bisa menjadikanmu adikku atau apa pun—”

“Woah, woaah! Tunggu,” potong Lily. “Relaks.”

Logan menarik nafas, menunggu gadis itu bicara, tapi Lily malah tertawa.

“Kau menarikku menjauh karena ingin mengatakan ini?” tanya Lily dan ketika Logan mengangguk, Lily kembali tertawa.

“Aku baik-baik saja bersama mereka. Tidak perlu khawatir, Logan,” kata Lily sambil tersenyum.

Logan tertegun. Itu pertama kalinya Lily memanggil namanya dan seperti ada ratusan kupu-kupu berterbangan di perut Logan saat Lily menyebut namanya sambil tersenyum.

“Kau cuma punya stun gun, for god sake, Lils,” hardik Logan.

Kali ini giliran Lily yang terlihat tertegun. Entah karena Logan baru saja memaki di hadapan gadis itu atau karena Logan baru saja memanggil Lily ‘Lils’. Entah mengapa nama panggilan itu lebih pas untuk Lily.

Lily mengerjap.

“Kau benar-benar tidak mau ikut denganku?” tanya Logan lagi, kali ini penuh harap.

DDUAAR!!!

Ledakan besar telah menahan Lily menjawab pertanyaan Logan. Gadis itu refleks merunduk, menarik Logan bersamanya dan melihat ke arah sumber suara ledakan. Teriakan histeris mulai memenuhi lorong bandara. Hiruk pikuk bandara berubah menjadi teror. Lily melihat dinding barat lorong roboh, berlubang kehitaman dan berasap. Barney dan Drummer tiba-tiba saja sudah muncul di dekat mereka.

“Ada yang menyabotase rencana kita,” kata Drummer geram.

“Kau harus membawanya ke pesawat! Sekarang!” teriak Barney.

Drummer mengangguk. Beberapa agen CIA muncul kali ini bersama John dan Luna. Drummer memberi instruksi pada agennya untuk mengawal Logan. Lengan Logan dicengkram dan dia dipaksa berjalan mengikuti mereka, berpisah dari Lily yang kini mencengkram stun gun erat-erat.

Bunyi ledakan kedua terdengar, entah darimana asalnya, Logan tidak bisa melihat. Dia tidak bisa menoleh ke belakang sama sekali, tertahan oleh pegangan para agen. Namun tiba-tiba saja, seseorang menabrak tubuhnya membuat terjatuh ke lantai bersama agen-agen CIA yang lain. Bunyi rentetan tembakan terdengar, berdesing melewati tubuh mereka yang tiarap di lantai. Saat itulah, Logan baru menyadari bahwa tubuh yang menabraknya itu Lily.

Polisi berseragam kini ikut masuk ke bandara, mengevakuasi warga sipil yang ada di sana. Logan nyaris tidak sempat bernafas ketika Lily menariknya berdiri dan mengajaknya berlari. Mereka berlari zig zag di antara kerumunan orang-orang yang panik menuju pintu keberangkatan,

“Lee dan agen CIA sudah menunggu di pesawat. Ayo kita harus tiba sebelum Smith menemukanmu,” kata Lily terengah sambil terus berlari.

Well, Logan mengagumi stamina gadis ini karena jelas Logan saja sudah nyaris terseok berlari dengan kecepatan luar biasa.

“Awas!” Lily mendorong tubuh Logan, merapat pada tembok dan detik selanjutnya puluhan peluru berdesing melewati tempat Logan tadi berdiri.

Logan terengah. Jantungnya berdegup kencang.

Suara tembakan lagi-lagi terdengar. Kali ini disertai teriakan Barney.

“Pergi! Pergi!” teriaknya pada Lily dan Logan. “Kami akan menahan mereka di sini!”

Dan Barney sudah bergabung bersama Drummer menghadapi para pria bersenjata dengan tato macan.

Logan merasa tangannya ditarik dan dia kembali berlari bersama Lily.

– The Expendables – 

Lily menarik tangan Logan lagi, memaksa Logan kembali berlari mengikutinya. Mereka sudah melewati pintu keberangkatan, terus berlari menuju landasan pesawat. Lily kembali mendesah saat melihat Lee dan beberapa agen CIA kini juga sudah terlibat baku tembak.

Mereka mundur dan Lily menyadari kini dia dan Logan kembali terjebak.

Seorang wanita berdiri di hadapan mereka dengan pistol di tangan. Rambutnya pirang seperti warna rambut Luna, tapi pembawaannya terkesan sangat kejam.

“Aku tahu kau,” kata si wanita lambat-lambat. Matanya menatap Lily tajam.

“Sayangnya aku tidak tahu kau,” balas Lily.

Ada sesuatu yang aneh dari caranya menatap Lily, seolah-olah ada amarah yang sudah lama terpendam. Heck, Lily bahkan baru melihat wanita itu hari ini.

Alis wanita itu terangkat. “Serahkan pemuda itu dan kau kubiarkan pergi.”

Lily menggeleng. “Tidak akan.”

Wanita itu menyeringai dan mulai menembak. Lily melompat dan mendorong Logan tiarap di bawah meja check in. Lengannya tergores pecahan kaca yang berjatuhan ditembaki wanita itu. Lily berdecak, lalu berguling ke samping dengan cepat meninggalkan Logan di bawah perlindungan meja. Tangannya menyambar pisau yang diselipkan di antara kaus kakinya dan melemparkannya dengan akurat seperti ajaran Lee.

Pisau itu menancap tepat di punggung tangan wanita itu membuat pistolnya terlepas jatuh.

Lily menggulingkan dirinya lagi, menyambar pistol itu dan menendang kaki wanita itu hingga terjatuh. Lalu dia cepat-cepat mundur, berdiri dengan pistol diacungkan ke arah si wanita.

Wanita itu menjerit marah, mencabut pisau dari punggung tangannya dan melemparkannya kembali ke arah Lily. Lily, mengikuti refleks, berkelit menghindari pisau itu yang akhirnya menancap pada dinding di belakangnya. Darah mengucur dari punggung tangan wanita itu, seperti keran yang tutupnya terbuka.

Tangan Lily bergetar. Pistol itu terasa bagai berton-ton beban di tangannya.

“Bunuh,” kata wanita itu geram. “Bunuh saja aku. Kau tidak akan bisa melakukannya.”

Bagaimana wanita itu tahu? Ini kali pertama Lily menggunakan pistol. Tidak, dia tidak bisa membunuh di saat Barney masih melarangnya. Dia bahkan tidak punya hak untuk memegang senjata. Tapi cemoohan wanita itu telah membuat darah Lily mendidih.

Lily melirik langit-langit, lalu menyeringai. “Oh, bisa saja.”

Dan dia menembak putus penahan lampu gantung membuat lampu itu jatuh berdebam, meremukkan si wanita tadi.

Terengah, Lily melihat Lee muncul di belakangnya bersama beberapa orang agen CIA. Kelihatannya baku tembak di landasan pesawat sudah berakhir. Lee hanya nyengir melihat pistol di tangan Lily dan mencabut pisau di dinding. Dia berjalan menuju Lily, mengambil pistol dari tangan gadis itu dan menukarnya dengan pisau tanpa berkata apa-apa.

Logan keluar dari bawah meja, berdarah akibat goresan kaca dan terlihat terguncang.

“Kau membunuhnya………….” bisik Logan.

Lily diam saja, namun Lee menjawab.

“Tapi dia menyelamatkan nyawamu.”

– The Expendables – 

Ketika back-up team Drummer muncul, Barney sudah tidak repot-repot lagi membereskan apa pun. Drummer mengurus anak buah Smith, meski penjahat itu kabur sebelum Barney sempat membunuhnya. Logan, si pemuda hacker itu, sudah diamankan. Lukanya dirawat dan pemuda itu siap diterbangkan dengan helikopter dalam beberapa menit.

Maka selesailah misi hari itu dan mereka kembali ke markas.

Atmosfir perayaan ini jauh lebih menyenangkan daripada perayaaan misi penyelamatan Logan tempo hari. Perayaan kali ini di bar langganan mereka. Barney memperhatikan anggota The Expendables yang saling berbincang sambil minum-minum. Luna, John, Thorn dan Mars bahkan sudah mulai sesi konser mereka. Lily duduk bersama Christmas dan pacarnya, Lacy.

Barney tahu soal Lily dan pistol tempo hari itu. Dia juga tahu soal wanita yang harus dihadapi Lily. Barney sadar Lily jelas ingin bertanya banyak tapi dia belum berusaha membicarakannya dengan gadis itu.

“Hi Lilypop,” Barney menyapa ikut bergabung di meja mereka.

Christmas tergelak. “Kau sakit Barney?” ejeknya.

Jelas saja Christmas bersikap begitu. Barney adalah satu-satunya di antara mereka yang tidak memanggil Lily dengan sebutan Lilypop. Gunner yang temperamental saja ikut menggunakan nickname ciptaan Thorn itu. Tapi Barney mengabaikan Christmas dan meletakkan sebuah kotak di atas meja.

“Selamat ulang tahun, Lilypop,” katanya.

Lily menatapnya bingung. “Aku?” dia menunjuk dirinya sendiri.

“Well, Dear Lee, bagaimana kalau kita berdansa?” Lacy tiba-tiba berbicara, menarik Lee berdiri dan menjauh dari meja. Meninggalkan Barney dan Lily di sana.

Lily masih menatap kotak itu. “Kita tidak pernah merayakan apa pun. Lalu kenapa tiba-tiba………?”

Barney menghela nafas. “Hari ini bertepatan dengan hari kau pertama kali bergabung besama kami. Hari pertama kali aku memutuskan untuk membiarkan kau tinggal,” kata Barney.

Lily tertawa getir. “Gadis tujuh belas tahun, tanpa nama, tanpa memori apa pun yang diadopsi oleh pria-pria besar bersenjata,” ujarnya.

Barney tertawa juga dan mengangguk.

“Wanita itu… Dia pembunuh bayaran yang bekerja pada siapa saja. Kali ini dia bekerja dengan Smith. She’s the bitch that made you lost your life,” kata Barney lagi.

“Apa?”

“Yeah, dan kau membunuhnya. Kurasa itu impas.”

Lily menggeram, menahan marah. Pantas saja wanita itu mengenalnya. Lily kini bisa menjelaskan mengapa wanita itu terlihat memendam perasaan benci padanya.

Well, everything is over. I am Lily now,” ujar Lily pelan.

Yeah, and we’ll mark this day officially as your birthday,” kata Barney menepuk bahu Lily.

Lily nyengir.

Barney mengedikkan kepala ke arah kotak itu. “Open it!

Tangan Lily membuka kotak itu dan dia nyengir lebih lebar melihat isinya. Setangkai Lily of valley dan sebuah pistol. Lily teringat apa yang dikatakan Lee mengenai alasan pemilihan namanya dan dia jelas merasa terharu dengan pilihan Barney.

Thanks Barney, but I bet it is seldom for people to get a gun as birthday gift,” guraunya.

Barney tersenyum. “Well, itu cukup biasa di The Expendables,” sahutnya, kemudian menambahkan. “But I bet everyone wants a tattoo as birthday gift, isn’t it?” 

Mata Lily membelalak tak percaya, tapi melihat anggukan Barney. Lily tahu itu benar. She’ll get The Expendables tattoo! Yeay! Buncah oleh rasa gembira, Lily menghambur memeluk Barney, sama sekali tak sadar bahwa para anggoata The Expendables yang lain sudah memperhatikan.

They look like a cute father-daughter couple,” komentar Lacy berbisik di telinga Lee.

Lee menyeringai. “Cute and crazy they are,” balasnya berbisik dan mendapatkan hadiah cubitan di perut dari Lacy karena ucapannya.

Barney Ross sudah lupa kapan terakhir kali dia dipeluk seperti dipeluk oleh keluarganya. Barney sudah lupa bahwa pelukan hangat seperti yang sedang dilakukan Lily telah lama hilang dalam hidupnya. Baginya, keluarga adalah The Expendables. Misi. Senjata.

Ketika dia memutuskan membiarkan Lily tinggal, dia berharap bisa mempertahankan kemurnian hati gadis itu dari kebrutalan kehidupan mereka. Tanpa senjata. Tanpa pembunuhan. Dan itu bukan cara yang tepat. Barney tahu Lily akan tetap memiliki kemurnian hati selama gadis itu mau menjaganya.  Kini saatnya dia percaya Lily bisa menjaga diri.

“Oiiii,” Doc berteriak. “The hacker boy ada di sini!!”

Lily melepaskan pelukannya dan berbalik menghadap ke arah Doc. Di dekat pintu tempat Doc berdiri, Barney bisa melihat Logan. Rambut pemuda itu acak-acakan dan dia sedikit berkeringat. Lily terlihat kaget, tapi Barney tidak. Dia tahu satu hal lagi yang akan sulit dilindungi Barney dari Lily : pria.

“Hi,” sapa Logan kikuk.

“Hi,” balas Lily tersenyum.

“Bisa kita bicara di luar?” Logan mengesturkan ke arah pintu di antara hiruk pikuk bar.

Lily mengangguk, mengikuti pemuda itu keluar. Barney juga mengikuti mereka berdua dengan pandangannya, sampai mereka hilang di balik pintu.

“Kau terlihat seperti ayah yang pencemburu,” komentar Lee.

Oh, shut up Christmas,” potong Barney.

Lee tertawa keras.

Oooh, they are kissing,” itu suara Luna yang sudah berhenti bernyanyi dan mengintip keluar memperhatikan Lily dan Logan.

“Oh, shit!” umpat Barney.

Dan kali ini Lee tertawa lebih keras dan mendapatkan tinjuan di bahu kanannya dari Barney.

Whatever, a kiss couldn’t steal all Lily’s purity right?

– The Expendables –

-Fin-

In order to complete Prompts Challenge C-10 : Lily of Valley!

A.N : Hmm, udah lama ga nulis action dan well, ini pasti absurd hiiks

Ya udah, intinya adalah aku suka banget The Expendables The Movie dan mengikuti seluruh filmnya. Makanya aku iseng pengen nulis iniii

comments and likes are appreciated 🙂

xoxo, qL^^

Advertisements

2 thoughts on “[PC-C10] Pure

  1. spite of my lacking knowledge regarding The Expendables, I enjoyed this story nevertheless. 🙂

    Ngebaca ini buatku ngerasa lagi baca orific, soalnya aku benar2 asing sama setiap cast yg muncul di dalam cerita. Dan mungkin itu sebabnya aku ngerasa sedikit ‘lost’ ketika nama2 baru yg sebelumnya blm disebut2 muncul menjelang akhir cerita kyk sih Lacy sama Doc itu.

    Tapi kyk yg aku bilang, biar gitu aku enjoy bacanya. Penulisannya rapih, bahasa yg tertata rapi dan gaya penulisan yg konsisten. Promptnya juga dieksplor dgn tepat.

    Lily of Valley means purity. But also known as one of the most poisonous flower. And I could see it well, how purity and poisonus being described in Lily character here.

    Good job! ^^

    Like

    1. well, I feel like I got A+ on my test haha 😀

      Thanks kak diyan, komentarnya sangat berarti buatku karena ini pertama kali aku nulis fiksi fans non korea hehe. Jangan bosan baca tulisanku kalau aku ikut PC lagi ya kak 🙂

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s