Jarak

Title                 : Jarak

Author            : qL^^

Casts               : Onew SHINee, Park Hyeki

Others             : SHINee

Genre              : Hurt/comfort, romance

Lenght            : Ficlet

Rating             : General

Summary         : Ada jarak yang tidak bisa terukur dengan satuan. Mungkin kita adalah salah satunya.

JHS

Jarak

Ya, ruang antara kau dan aku.

Satu tahun.

Waktu yang cukup relatif tergantung dari bagaimana kau memandangnya. Park Hyeki misalnya, memandang satu tahun sebagai waktu yang relatif singkat bila diukur berdasarkan apa yang telah dilakukannya.

Dalam setahun, Hyeki sudah lulus menjadi sarjana dan melanjutkan internship di Rumah Sakit Universitas Seoul. Setahun pula telah berlalu dan kini Park Jungsoo, kakak laki-laki kesayangannya telah menyelesaikan program wajib militer. Setahun pula, Park In Young, kakak tertuanya telah mematangkan rencana pernikahan dengan Han Seungho di pertengahan bulan depan.

Namun, Hyeki juga memandang satu tahun sebagai waktu yang relatif lama bila berkaitan dengan Onew. Rasanya seperti sudah berabad-abad yang lalu ketika Hyeki bertengkar dengan Onew dan Onew mengalami cedera. Hingga saat ini sama sekali tidak ada komunikasi di antara mereka. Kecuali, berita mengenai Onew dan SHINee yang sesekali dilihat Hyeki di televisi atau internet selama masa magangnya di rumah sakit.

Hyeki sudah mengira ketika mereka bertemu lagi suatu hari nanti, pertemuan mereka akan canggung. Namun Hyeki sama sekali tidak menyangka bahwa pertemuan itu harus terjadi di acara syukuran pelepasan Jungsoo dari wamil. Betapa canggungnya mereka di antara keluarga Jungsoo dan anggota serta staff SM.

Saat acara dimulai, Hyeki memilih duduk di antara Kyuhyun dan Sungmin, tidak mau bergeser dari posisinya meskipun Kyuhyun mengabaikannya karena sibuk bercanda dengan Kyu-line : Minho dan Changmin. InYoung dan eomma sedang mengurus beberapa hal acara bersama Jungsoo dan Hyeki harus mencari posisi teraman dan terjauh dari Onew agar tidak perlu bicara dengan orang itu.

Sungmin memperhatikan gerak-gerik Hyeki yang gelisah dengan wajah bingung. “Kenapa Hyeki-ya?” tanyanya.

Hyeki menggeleng cepat sebelum Sungmin bertanya macam-macam. “Tidak apa-apa,” sahutnya.

Meskipun dari raut wajahnya Hyeki tahu Sungmin masih merasa penasaran, tapi Sungmin tidak bertanya apa-apa lagi dan Hyeki merasa sangat bersyukur.

Jari Hyeki menyusuri bibir gelas berisi jus yang diminumnya. Kepalanya terasa sedikit pusing. Mungkin dia lelah karena program magang yang menyita waktu dan tenaganya. Hyeki berdiri dan berjalan menuju Jungsoo dan Eomma yang sedang mengobrol dengan CEO Lee Sooman. Hyeki menyentuh lengan Eomma pelan membuat Eomma menoleh.

“Eomma, aku mau pulang,” rengek Hyeki. “Pusing,” dia berbisik sambil memijat pelipisnya.

CEO Lee Sooman menyela pembicaraan mereka karena beliau harus meninggalkan tempat acara. Eomma dan CEO Lee saling membungkuk dan pamit dan baru setelah itu Eomma menoleh lagi pada Hyeki.

“Kau sakit?” Eomma bertanya khawatir, meletakkan punggung telapak tangannya di kening Hyeki.

Hyeki menggeleng. “Hanya sedikit pusing.”

“Ayo, kuantar pulang,” ajak Jungsoo sambil merangkul Hyeki, tapi Hyeki sudah menggeleng lagi.

“Ini acara, oppa. Masa oppa malah mengantarkanku pulang? Aku bisa pulang sendiri dengan taksi,” tolak Hyeki.

“Hyeki benar,” sela Eomma. “Biar Eomma telepon Seungho saja untuk menjemputmu, bagaimana?” tawar Eomma.

“Tidak, aku bisa pulang sendiri,” Hyeki masih bersikeras.

Jungsoo dan Eomma menatapnya khawatir.

“Bagaimana kalau aku saja yang mengantar Hyeki pulang?”

Hyeki kenal suara itu. Sangat kenal. Mendengar suara itu membuat Hyeki ingin lari dan sembunyi di tempat yang tidak bisa ditemukan orang itu. Astaga! Apa gunanya Hyeki memastikan dia berjarak sejauh mungkin dari Onew kalau tiba-tiba Onew menawarkan diri mengantarnya?

“Bisakah aku minta tolong padamu, Onew-ah?” tanya Jungsoo.

Onew mengangguk. “Tentu saja, hyung. Lagipula aku memang ingin sekalian pamit pulang ke dorm. Kurasa aku masih tidak nyaman setelah operasi,” tambah Onew menjelaskan.

Hyeki tahu itu. Operasi mukosa faring beberapa minggu yang lalu yang sebenarnya kalau mau jujur sempat membuat Hyeki menangis semalaman dan khawatir hingga SM mengeluarkan penjelasan resmi.

Jungsoo dan Eomma mengangguk, memberikan Onew izin untuk mengantar Hyeki pulang. Hyeki sudah berusaha mengerling Jungsoo, memberikan kode pada oppa-nya dengan gelengan pelan bahwa dia tidak mau diantar Onew, tapi Jungsoo entah pura-pura tidak melihat atau semacamnya tidak menggubris Hyeki sama sekali.

Akhirnya Hyeki terpaksa mengikuti Onew menuju parkiran di basement. Mobil Onew, Mercedes seri terbaru yang belum pernah dilihat Hyeki, terparkir di sudut. Onew membukakan pintu mobil untuk Hyeki dan gadis itu masuk. Dia sudah selesai memakai seatbelt ketika Onew duduk di belakang kemudi dan mulai menyalakan mesin mobil.

Oppa cukup mengantarkanku sampai lobby depan, setelah itu aku bisa naik taksi,” kata Hyeki.

Onew menggeleng, terus melajukan mobilnya dan tidak berhenti bahkan ketika melewati lobby gedung SM. “Oppa akan mengantarmu sampai rumah. Tidak boleh protes,” ujar Onew singkat.

Hyeki diam saja, memilih tidak menjawab pertanyaan Onew dan membuang muka. Pelipisnya semakin berdenyut dan Hyeki mulai memijat-mijat pelipisnya lagi untuk mengurangi rasa pusing yang semakin parah.

“Kau tidak apa-apa?”

Mata Onew melirik Hyeki di antara konsentrasinya menyetir. Hyeki mengangguk pelan, dia baik-baik saja.

Oppa tahu kau sedang tidak enak badan, tapi kuharap kita bisa mencari waktu untuk membicarakan sesuatu,” kata Onew mendadak.

Jantung Hyeki mencelos dan perutnya seolah diputar dengan rasa tak nyaman. “Kita?” Hyeki mengulang perkataan Onew.

Onew menelan ludah, ragu untuk melanjutkan namun terlanjur memulai. “Ini sesuatu yang mungkin sejak dulu seharusnya sudah kita bahas,” kata Onew.

“Sekarang saja bicaranya. Aku tidak apa-apa,” sahut Hyeki walaupun rasa pusing kembali menyerangnya.

Mercedes Onew menepi di jalan depan rumah Hyeki, tepat di seberang pagar rumah. Onew membiarkan mesin mobil tetap menyala dan Hyeki menunggu Onew mengatakan sesuatu. Pemuda itu malah sibuk merogoh-rogoh kantung jaket kulit yang sedang dipakainya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Onew menatap Hyeki lekat-lekat saat dengan gerakan yang pelan, ia membuka kotak kecil dan Hyeki terpekik. Kotak kecil itu berisi gelang dengan bandul-bandul berhuruf L, J, K, P, H dan K disertai beberapa bandul berbentuk kepala panda, daun dan lain-lain. Gelang itu bagus sekali dan Hyeki tidak bisa menyangkal bahwa ia menyukainya dan terharu Onew menyiapkannya.

Aku menyukaimu,” kata Onew. Pelan, namun cukup jelas dan tegas dalam ruang sempit Mercedes itu.

Oh! Tiga kata itu membuat ekspresi Hyeki membeku.

Onew mendesah. Seharusnya bukan begini kejadiannya. Tidak ada gadis yang akan menampilkan ekspresi horor yang ditunjukkan Hyeki saat ini di saat ada pria yang menyatakan perasaannya, apalagi pria itu Onew dan Hyeki jelas-jelas fans-nya.

Denyut di pelipis Hyeki semakin terasa. Hyeki tak tahu apakah dia merasa mual karena pusing atau karena kepalanya yang sakit menolak untuk memikirkan jawaban apa yang harus diberikannya untuk Onew.

Pernyataan Onew terasa mustahil bagi Hyeki walaupun Hyeki tidak menyangkal bahwa degup jantungnya berdebar dua kali lebih kecang daripada biasanya saat mendengar pernyataan itu. Onew dan Hyeki sudah  tidak bicara selama hampir satu tahun. Satu tahun! Dan di pertemuan pertama mereka setelah satu tahun, Onew langsung menyatakan perasaannya? Apakah itu mungkin?

“Hyeki…..”

Oppa, tapi selama setahun….” Hyeki memotong kalimat Onew dan membiarkan kalimat yang diucapkannya menggantung.

Hyeki mendengar Onew mendesah lagi. Hyeki belum pernah melihat Onew serius seperti ini, kecuali saat mereka bertengkar di hari valentine tahun lalu. Sekarang Onew menatapnya seolah menjelaskan teori fisika paling sulit pada seorang anak SD.

“Selama setahun, oppa tidak bisa melepaskanmu. Tidak sekali pun. Oppa mengikutimu, Hyeki-ya, mencari tahu berita tentangmu. Sebanyak apa pun jarak di antara kita, oppa tidak akan pernah bisa melupakanmu,” kata Onew sungguh-sunnguh.

Astaga! Hyeki ingat mobil yang sering parkir di dekat rumahnya di malam-malam bersalju saat Hyeki terpaksa pulang sendiri. Apakah itu Onew?

“Apakah karena Donghyun?” tanya Onew. “Kau menyukai dia?”

Hyeki tersentak. Mendengar fakta bahkan Onew mengetahui dan menyebut soal Donghyun secara kasual membuat darah Hyeki seolah membeku. Onew benar-benar mencari tahu tentangnya.

“Dia hanya teman. Tidak lebih,” jawab Hyeki.

Tangan Onew meraih pergelangan tangan Hyeki, menarik Hyeki sedikit lebih dekat. Onew mengeluarkan gelang itu dari kotaknya dan memakaikannya di pergelangan tangan kanan Hyeki tanpa meminta izin Hyeki. Bodohnya, Hyeki membiarkan saja gelang itu terpasangan di pergelangan tangan kanannya.

“Tidak usah dijawab,” kata Onew. “Oppa tidak akan memaksamu.”

Perubahan tiba-tiba itu membuat Hyeki mematung.

“Masuklah ke dalam, wajahmu pucat sekali,” ujar Onew, lalu keluar dari mobil  untuk membukakan pintu bagi Hyeki.

Hyeki masih diam, membiarkan Onew menggiringnya sampai depan pintu pagar rumah.

Onew tersenyum pelan. “Oppa, pergi dulu Hyeki-ya,” pamitnya.

Onew berbalik dan berjalan kembali menuju mobilnya. Hyeki menatap punggung Onew yang berbalut jaket kulit. Kepalanya terasa semakin pusing. Hyeki tidak bisa berpikir tapi dia merasa harus melakukan sesuatu.

Spontan, Hyeki melangkah mendekati Onew dan memeluk pria itu dari belakang. Langkah Onew otomatis terhenti. Badannya terasa kaku saat lengan Hyeki melingkar di perut Onew.

“Hyeki-ya….”

“Sebentar saja,” bisik Hyeki pelan. Pandangannya sedikit berbayang karena pusing. “Aku….”

Tapi ucapan Hyeki terpotong saat Onew justru melepaskan pelukan Hyeki dan ganti memeluk gadis itu erat-erat. Hyeki menghela nafas, menyerah kalah pada pelukan nyaman Onew di saat kondisi tubuhnya yang sama sekali tidak baik.

Hyeki yang sehat mungkin tidak akan melakukan hal spontan seperti ini. Berdiri berpelukan di depan rumah di malam musim panas. Bersama Onew. Onew yang sangat dekat yang praktis bau parfumnya menyeruak memasuki indera Hyeki, mengurangi sedikit denyut di kepalanya.

“Maafkan oppa,” bisik Onew. Wajahnya dibenamkan di puncak kepala Hyeki dan tangannya memeluk gadis itu. “Ayo kita mulai dari awal,” ajaknya.

Call,” kata Hyeki, mengangguk dalam pelukan Onew dan dia bisa merasakan senyum Onew saat Onew semakin mengeratkan pelukan mereka.

Satu tahun.

Terasa begitu lama saat mereka tidak bersama, namun juga terasa begitu singkat karena semuanya kembali seperti semula dalam semalam. Seolah satu tahun itu tidak pernah ada.

Seolah tidak pernah ada jarak di antara mereka.

Hyeki tahu, babak baru hidupnya telah dimulai.

-Fin.-

AN : JinHye series is back!!!! Make some noises~ Booo

Oke, ini absurd. 

Comments dan likes are welcomed 🙂

Xie xie, qL^^

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s