The Sweet Wind in Spring

TSWiS

The Sweet Wind in Spring 

 

Sequel of The Wind that Blows in Summer

a fanfiction by qL^^

about family, love and forgiveness

Cast :

Park Jungsoo | Park Jihyun (OC) | Kim Sora (OC) | Byun Baekhyun

and Park Minji

—-

Byun Baekhyun adalah pria paling tampan di dunia,

tentu saja setelah Jungsoo oppa

—-

Angin musim semi berhembus pelan, menerbangkan pucuk-pucuk calon bunga yang akan mekar. Bunyi dedaunan bergemerisik nyaris kontras dengan bunyi mesin dan klakson kendaraan yang berlalu lalang. Sama kontrasnya dengan taman yang terletak di pusat kota, dikelilingi gedung pencakar langit dan padatnya lalu lintas.

Akhir minggu telah membuat taman itu padat pengunjung. Beberapa keluarga kecil sedang berpiknik bersama. Beberapa remaja tanggung sedang bernyanyi di hadapan sekelompok kecil pengagum. Beberapa pelukis lepas membuka kanvas mereka lebar-lebar mengabadikan keindahan musim semi dalam goresan kuas, seperti Park Jihyun.

Jihyun menatap kanvasnya dengan penuh konsentrasi, memulas warna dan menorehkan garis. Kepalanya sedikit dimiringkan, sibuk membandingkan lukisannya dengan objek lukisnya yang duduk di bangku di hadapanya. 

“Eits, jangan bergerak dulu Minji-ya,” kata Jihyun begitu menyadari objek lukisnya bergerak ke kanan.

“Gatal,” gerutu Minji, menahan diri agar tidak menggaruk pipi kanannya yang terasa gatal.

Jihyun tertawa kecil. “Tinggal sebentar lagi kok,” katanya.

“Benarkah?” Mata gadis kecil itu berbinar.

Jihyun mengangguk. “Makanya, jangan banyak bergerak dulu,” perintahnya lembut.

Minji mengangguk bersemangat, memperbaiki posisi duduknya dan berusaha sekuat tenaga mengabaikan rasa gatal yang mendadak muncul di tempat-tempat aneh di tubuhnya. Di rambut, pipi, belakang telinga.

“Selesai,” seru Jihyun lima belas menit kemudian.

Tanpa aba-aba, Minji melompat dari kursinya dan mendekati Jihyun, tak sabar untuk melihat hasil lukisan dirinya.

“Wuooooaaah,” puji Minji kagum sambil mengacungkan dua jempolnya.

“Bagaimana? Kau suka?” tanya Jihyun mengelus kepala berkuncir dua itu.

“Sukaaaa sekali,” jawab Minji sambil merentangkan tangannya lebar-lebar ingin menunjukkan sebegitu besar rasa sukanya pada lukisan Jihyun. “Yang ini boleh buatku lagi kan?” tanya Minji penuh harap sambil menunjuk kanvas itu.

Jihyun baru saja akan menyela Minji, namun didahului oleh ucapan seseorang.

“Ya! Ya! Setidaknya kau harus menyisakan satu lukisan untuk paman.”

Suara seorang pria membuat Jihyun dan Minji menoleh bersamaan. Pria itu tersenyum lebar sambil merentangkan tangan siap menyambut Minji yang sudah berlari sambil berteriak, “Paman Bacooooon!!!”

Byun Baekhyun menangkap Minji dalam pelukannya, menggendong gadis kecil itu sambil mendekati Jihyun. Baekhyun menatap lukisan potret Minji, ekspresinya pura-pura berpikir sambil menatap Minji dan lukisan itu bergantian.

“Lukisan Bibi Jihyun lebih bagus daripada wajah Minji yang asli,” komentarnya.

Minji langsung cemberut.  “Paman Bbaek jahat!” protesnya memukul bahu Baekhyun kesal.

Tawa Baekhyun pecah, lalu pria itu mencubit pipi Minji gemas. “Itulah sebabnya Paman Baekhyun minta lukisannya, supaya Paman bisa melihat wajah cantik Minji setiap hari di rumah,” katanya lagi dengan nada membujuk. Baekhyun melirik Jihyun dan mengedipkan sebelah matanya.

Jihyun mendengus.

Benar-benar Byun Baekhyun.

Minji mengeliat, meronta diturunkan dari gendongan Baekhyun karena anak itu baru saja melihat temannya. Minji berlari riang mendekati temannya, meninggalkan Baekhyun dan Jihyun berdua saja.

Keduanya sama-sama mengamati lukisan potret Minji yang duduk di bangku sambil tersenyum dengan berlatarkan taman dan gedung tinggi. Sudut kontras yang menarik dengan wajah polos khas anak-anak milik Minji. Jihyun tersenyum tipis.

Melukis telah menjadi bagian dari terapi yang dijalani Jihyun selama ini selain obat-obat yang harus rutin diminumnya dan konsultasi ke dokter psikiatri yang terus dilakukannya. Melukis, lalu memberikan lukisan tersebut pada orang lain. Entah bagaimana hal itu telah membantu Jihyun melepaskan sifat obsesifnya pada sesuatu secara perlahan.

Yang paling penting dia punya orang-orang yang sangat menyayanginya di sekelilingnya.

….. dan Byun Baekhyun.

Orang pertama yang dilihatnya ketika sadar setelah terbaring selama hampir dua hari. Mata Baekhyun yang bengkak karena kurang tidur, wajahnya yang pucat dan kemeja putihnya yang kusut dan penuh bercak darah Jihyun yang tidak diganti selama dua hari. Jihyun tidak akan bisa melupakan memori itu seumur hidupnya.

Sejak hari pernikahan Jungsoo, Jihyun memutuskan tidak tinggal di rumah keluarga Park lagi. Dia pindah ke apartemen Baekhyun, mencari perlindungan dan pelarian. Baekhyun tidak berkata apa-apa. Seperti biasa, Baekhyun diam saja dan mendukungnya. Hingga suatu hari di musim semi, Baekhyun memaksa Jihyun melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Menginjakkan kaki di rumah sakit, menuju bangsal bayi.

Bayi Minji tergolek dalam boks bayi.

Mungil sekali dalam balutan selimut pink.

Lalu Jihyun merasa jahat. Jahat karena terus menganggu hidup Jungsoo dan Sora. Jahat karena egois menginginkan Jungsoo untuk dirinya sendiri.

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri dari saudara bahwa darah lebih kental daripada air. Di bangsal bayi itu, dihadapan kaca besar yang berhadapan dengan boks bayi Minji, Jihyun bertemu Jungsoo untuk pertama kalinya setelah pernikahan kakaknya.  Jungsoo tersenyum, lalu merengkuh adiknya dalam pelukan hangat seorang kakak seolah mereka berpisah tanpa masalah. Jungsoo memaafkannya tanpa syarat, tanpa Jihyun perlu berbuat banyak untuk menebusnya.

Lalu Jihyun juga bertemu Sora yang menyusui Minji. Jihyun masih sering merasa iri pada Sora. Karena Jungsoo. Karena Minji. Karena hidup normal wanita itu. Baekhyun bilang tidak apa. Itu sesuatu yang positif asalkan Jihyun tidak menyakiti dirinya sendiri lagi. Itu artinya Jihyun punya semangat hidup.

Baekhyun bilang Jihyun juga bisa punya kehidupan yang bahagia, asalkan dia mau berusaha. Jihyun menjawab dia mau, tentu saja, tapi dia hanya akan melakukannya bersama Baekhyun. Jihyun tidak mau orang lain.

“Ayo pulang setelah Jungsoo hyung menjemput Minji,” ajak Baekhyun sambil menggenggam tangan Jihyun. “Banyak yang harus dimatangkan untuk pernikahan kita minggu depan.”

“Angin musim semi sedang sejuk sekali dan kau lebih memilih mengurung diri di rumah dengan alasan pernikahan. Astaga!” protes Jihyun.

Baekhyun mengedipkan sebelah matanya, menggoda Jihyun. “Apa pun kulakukan asal bisa menculikmu untukku saja,” katanya menggombal membuat Jihyun memutar bola matanya.

Perhatian Jihyun teralih pada Minji yang melambai dari kejauhan, berjalan mendekati Jihyun dan Baekhyun dengan  mengandeng pria dan wanita di sisi kiri kanannya.

Jungsoo dan Sora.

Lima tahun telah berlalu. Jungsoo sekarang ayah dan suami, bukan hanya kakak laki-laki. Sora sekarang ibu dan seorang istri, bukan rival lagi. Raut wajah keduanya berubah lebih dewasa seolah kehadiran Minji telah memancing naluri ayah dan ibu dari keduanya. Namun tetap saja, bagi Jihyun sosok kakak selalu terlihat jelas di matanya.

Jungsoo memeluk Jihyun hangat seperti biasa. “Kau menikmati angin musim semi, Hyun?” bisik Jungsoo pelan.

Jihyun balas memeluk Jungsoo. “Ya.”

Jungsoo tersenyum dan melepaskan pelukannya dan Jihyun ganti memeluk Sora. Sora yang dulu selalu histeris saat melihat Jihyun kini memeluk gadis itu bagai adiknya sendiri, menepuk punggung Jihyun sambil membisikkan kata semangat.

Saat Jungsoo, Sora dan Baekhyun mengobrol, Minji menarik ujung baju Jihyun pelan membuat gadis itu menoleh menatap Minji.

“Ada apa?” tanyanya sambil berjongkok di sebelah Minji.

Minji adalah perpaduan sempurna dari Sora dan Jungsoo. Lesung pipi yang muncul di saat anak itu tersenyum tak pernah gagal membuat Jihyun luluh.

“Bukankah Paman Baek itu tampan?” tanya Minji setelah beberapa detik mengamati Baekhyun dengan sok teliti. Wajahnya serius sekali membuat Jihyun menahan tawa. “Apakah Bibi benar-benar akan menikahi Paman Baek yang tampan?”

Jihyun tersenyum, lalu berkata, “Sini Bibi bisikkan satu rahasia.”

Minji mendekat dengan bersemangat, memiringkan kepalanya agar Jihyun bisa berbisik langsung di telinganya dengan penuh sikap sok rahasia.

Byun Baekhyun adalah pria paling tampan di dunia,” bisik Jihyun pelan. “tapi tentu saja setelah Jungsoo oppa.”

Mata Minji membulat, tak percaya. “Benarkah?”

Jihyun mengangguk pasti, lalu berdiri dan menepuk kepala Minji pelan.

Walaupun kini dia hanya melihat Baekhyun sebagai satu-satunya pria dalam hidupnya, tapi baginya Jungsoo tetaplah oppa yang paling tampan sedunia.

Dia tetap adik Park Jungsoo.

-END-

AN : First of all! No sequel again pliiis. Ini udah tamat sampai di sini aja haha. Buat kalian yang bingung, Jihyun itu OCD tapi dia bisa hidup normal asal dirawat dengan obat-obatan dan terapi yang teratur. That’s why dia normal di sini. 

Baekhyuuuun!! Kalau ada yang ga jatuh cinta sama Baekhyun di sini, duh, dimana hati kalian??

hahaha

Anyway, comments and likes like usual yaa 🙂 

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s