Proud of You

poster proud of you

Proud of You

a fanfiction written under my other pen name key^^

inspired by Idol Star Athletic Championship 2013

Starring :

Lee Minyuk BtoB | Shin Jihyun (OC)


People said what important is not winning,
But if you proud because I win, that will make winning is important

“Isi formulir kalian dengan sungguh-sungguh, lalu kumpulkan formulir tersebut pada Ketua Kelas Lee. Ingat! pekan olahraga ini persaingan antar kelas dan kita harus menunjukkan bahwa kelas 2-4 adalah kelas terbaik. Kalian mengerti?” Guru Jo berkata dengan berapi-api di hadapan kelas.

“Mengerti!” koor seluruh kelas mengamini ucapan Guru Jo.

“Baiklah, kalian boleh istirahat. Ketua kelas Lee temui saya di ruang guru,” kata Guru Jo lagi.

“Baik,” sahut Minhyuk, kemudian memberi aba-aba. “Bersiap! Beri hormat!”

“Terima kasih banyak Guru,” koor seluruh kelas lagi.

Guru Jo menjawab ucapan itu dengan gumaman dan beranjak keluar kelas. Begitu punggung Guru Jo menghilang di balik pintu kelas, seluruh murid langsung berhamburan ke mana saja. Ada yang menuju kantin, ada yang terburu-buru mau ke toilet dan bahkan ada yang sudah mulai bergerombol membahas kandidat juara Pekan Olahraga Sekolah semester ini. Pekan Olahraga Jeongsan High School adalah acara rutin semacam olimpiade olahraga di setiap akhir semester yang menunjukkan persaingan ketat kelas terbaik.

“Jangan pura-pura tidak dengar, Hyuk, aku tahu itu menganggu pikiranmu,” Jihyun berkata dengan nada jenaka.

Sial, Minhyuk ketahuan sedang menguping pembicaraan teman-teman perempuannya di dekat loker belakang kelas. Kursi mereka memang hanya berselang dua kursi dari loker. Pembicaraan mengenai siapa MVP Pekan Olahraga semester ini. Tentu saja anak-anak perempuan akan lebih tertarik pada pembicaraan  siapa MVP nya ketimbang bagaimana orang itu bisa menjadi MVP. Sudah jadi rahasia umum, MVP Pekan Olahraga akan jadi selebritis di sekolah mereka, contohnya saja Choi Minho sunbaenim.

“Aku tidak tertarik,” sahut Minhyuk defensif.

Jihyun tertawa kecil sambil mengeluarkan kotak bekalnya. “Bagiku tidak masalah kalau kau tertarik soal MVP. Bukankah kau jago olahraga dan selalu ikut Pekan Olahraga?” tanya Jihyun. Gadis itu lalu menawarkan pancake di kotak bekalnya pada Minhyuk.

Minhyuk mencomot pancake itu sambil berpikir. Memang benar, olahraga adalah pelajaran favorit Minhyuk meskipun Guru Jo yang aneh dan eksentrik itu adalah pengajarnya. Kemampuannya lumayan dan Guru Jo sering memujinya. Jihyun juga sering kali minta bantuannya dalam pelajaran yang satu itu. Soal Pekan Olahraga, Minyuk memang  selalu menjadi peserta sejak kelas satu dan wajar saja, Jihyun tidak mengingatnya. Mereka kan baru berteman dekat dan duduk sebangku di awal semester ini.

“Lagipula aku juga penasaran siapa yang akan jadi MVP semester ini,” kata Jihyun sambil menuangkan sirup maple lebih banyak di atas pancakenya.

Minhyuk seperti kehilangan selera makan saat mendengar kata-kata Jihyun, lagi-lagi membuat gadis itu terkekeh.  Anak laki-laki itu mendengus kesal. “Jangan bilang kau termasuk golongan gadis-gadis yang menjerit-jerit mendengar nama Choi Minho,” tuduh Minhyuk.

Jihyun hanya tersenyum misterius.

Ah, demi Guru Jo yang aneh, terlalu banyak yang Minhyuk belum tahu soal Jihyun. Dan Astaga! Minhyuk hampir tersedak saat mengingat perintah Guru Jo. Minhyuk lupa dia harus ke ruang guru.

“Aku harus ke ruang guru,” seru Minhyuk panik.

Jihyun hanya mengangguk kalem, sedangkan Minhyuk buru-buru bangkit berdiri.

“Hyuuuk! Kau mau aku menyisakan pancakenya?” tanya Jihyun sedikit berteriak saat Minhyuk sudah hampir mencapai pintu kelas.

“Sisakan satu,” kata Minhyuk tanpa sempat menoleh ke belakang dan berlari-lari kecil menuju ruang guru.

Di antara lari-lari kecilnya menuju ruang guru di ujung sayap kanan sekolah, Minhyuk mengerling papan besar berukuran 5 x 2 meter persegi yang membentang di sepanjang lorong. Papan alumunium yang biasanya berisi pengumuman nilai atau prestasi para murid. Langkah Minhyuk otomatis terhenti saat matanya mengeja sebuah nama familiar di sana.

Shin Jihyun.

Dalam menit-menit itu, Minhyuk lupa kalau dia sekarang harusnya buru-buru menuju ruang guru sebelum Guru Jo mengomel tiada henti. Tapi alih-alih takut dimarahi Guru Jo, pikiran Minhyuk justru dipenuhi nama Jihyun.

Ini adalah minggu ketiga nama Jihyun muncul lagi di papan pengumuman.

Lebih tepatnya, tiga minggu berturut-turut nama Jihyun muncul di sana.

Hal itu berarti Shin Jihyun memenangkan perlombaan lagi.

She is indeed something.

And she triggers something inside Minhyuk.

Suasana hati Lee Minhyuk sedang tidak baik belakangan ini. Bukan karena dia diomeli Guru Jo karena terlambat datang ke ruang guru tempo hari, bukan juga karena sembelit seperti yang dituduhkan Shin Jihyun padanya pagi ini dan yang pasti bukan karena patah hati seperti tebakan absurd Jung Ilhoon. Lee Minhyuk yang biasanya periang, ramah dan murah  senyum hari ini seperti anak-anak perempuan yang dalam  masa PMS. Sedikit diganggu, Minhyuk akan menggerutu panjang pendek sehingga membuat semua orang memilih menghindarinya termasuk jjak-nya.

Shin Jihyun, jjak-nya semester ini,  yang dengan suksesnya mengabaikan seluruh gerutuan Minhyuk dan fokus pada buku tebal yang dibacanya sejak pagi.

Benar-benar mengabaikan.

Di atas meja Minhyuk sekarang ada tumpukan formulir pendaftaran Pekan Olahraga yang sudah diisi oleh teman-teman sekelasnya. Hampir seluruh penghuni kelas 2-4 mendaftarkan diri, kecuali beberapa anak perempuan seperti Shin Jihyun. Tugas Minhyuk sebagai Ketua Kelas adalah menyortir formulir pendaftaran itu ke dalam kelompok atlet sesuai dengan kemampuan mereka.

Jihyun kelihatannya mulai tertarik saat Minhyuk mulai mengelompokkan kertas-kertas itu dalam tumpukan berbeda. Gadis itu sekarang sudah menutup  dan menyingkirkan buku tebalnya ke laci meja. Beberapa kelompok formulir bahkan sudah berpindah ke atas meja Jihyun agar tidak bercampur dengan formulir yang belum dikelompokkan Minhyuk. Mata Minhyuk menangkap pergerakan Jihyun yang tengah menatap dengan penuh minat pada formulir-formulir itu.

“Aku tidak tahu kalau teman-teman kita sangat berminat pada olahraga,” kata Jihyun.

Minhyuk hampir-hampir merasa Jihyun mengucapkannya dengan nada takjub, seperti anak kecil yang mengomentari pelangi.

“Tidak berbakat bukan berarti tidak berminat, Hyun,” sahut Minhyuk singkat, masih sibuk mencocokkan nama dan kelompok formulir itu.

Jihyun hanya berdecak. “Kau menyindirku, Hyuk?”

“Tidak,” Minhyuk menggeleng polos. Dia hanya menyuarakan apa yang dipikirkannya. Shin Jihyun memang sensitif soal olahraga. Pelajaran yang membuatnya memohon-mohon bantuan Minhyuk hanya agar lolos tes mendrible bola basket.

“Waah, kurasa kalau begini kelas kita akan jadi juara umum,” Jung Ilhoon tiba-tiba muncul dan ikut berkomentar. Anak laki-laki berambut cokleat itu duduk di kursi di hadapan Minhyuk sambil menunjuk formulir di meja Minhyuk.

“Benarkah?” Jihyun bertanya ragu. “Kurasa belum pernah ada kelas dua yang juara umum,” komentarnya.

Ilhoon mengangkat bahu. “Kuasa itu bukan hal mustahil. Kelas kita adalah kelas dua yang pertama kalinya berhasil jadi juara umum di Olimpiade Ilmiah bukan?” katanya.

Jihyun mengangguk-angguk setuju.

Ilhoon menambahkan kalimatnya, “dan itu juga karena dirimu,” katanya pada Jihyun.

Minhyuk yang sedari tadi diam saja mendengarkan percakapan antara Ilhoon dan Jihyun, perlahan mengerling ke arah gadis itu karena Jihyun menggumamkan terima kasih dengan malu-malu untuk merespon Ilhoon. Betapa terkejutnya Minhyuk saat dia melihat ada semburat merah di pipi Jihyun yang pasti disebabkan oleh  pujian Ilhoon. Demi Guru Jo! Minhyuk tidak pernah melihat Jihyun bersemu hanya karena dipuji. Yah, Minhyuk tahu sih Ilhoon sedang melancarkan modusnya mendekati Jihyun yang sulit sekali didekati.

Soal pujian itu harusnya Jihyun tidak bersemu mendengarkan pujian semacam itu. Bukankah harusnya dia sudah terbiasa? Juara kelas sejak kelas satu dan memenangkan berbagai lomba ilmiah ini dan itu, bukankah harusnya Shin Jihyun sudah biasa dipuji seperti itu? Kenapa dia harus bersemu saat Ilhoon yang mengatakannya?

Akhirnya Minhyuk hanya bisa mendelik menatap Ilhoon. Mungkin karena merasa ditatap dengan tidak bersahabat oleh Minhyuk dan mengerti bahwa temannya itu sedang tidak bersahabat, maka Ilhoon berkata bahwa dia harus pergi. Jihyun hanya menatap kepergian Ilhoon dengan bingung karena beberapa menit yang lalu mereka baru saja mengobrol.

“Kenapa dia tiba-tiba pergi?” tanya Jihyun heran.

Minhyuk mengangkat bahu acuh tak acuh. “Kenapa? Kau tidak suka dia pergi?” Minhyuk balik bertanya. Jengkel.

Alis Jihyun terangkat mendengar respon Minhyuk, namun menjadi Shin Jihyun berarti tidak menambah minyak dalam api yang tersulut, sehingga Jihyun memutuskan mengabaikan kalimat Minhyuk yang sedikit menyebalkan tadi.

Minhyuk kembali tenggelam dalam kesibukannya menyortir dan Jihyun kembali sibuk melihat-lihat formulir pendaftaran itu dengan penuh minat. Tangan Jihyun mengambil salah satu kertas dengan nama Minhyuk tertulis di atasnya. Entah apa yang membuat Jihyun iseng melihat formulir pendaftarannya.

“Hyuk, kau yakin tidak salah menandai pilihanmu?” tiba-tiba Jihyun bertanya.

“Apa?” Minhyuk tersentak mendengar pertanyaan Jihyun, buru-buru menarik kertas itu dari tangan Jihyun dan meneliti isinya baik-baik. Seingatnya tadi dia sudah mengisi semuanya dengan benar, termasuk pilihan kompetisi yang akan diikutinya. Minhyuk benar, dia tidak menemukan hal yang salah dari formulir pendaftarannya.  Jadi Minhyuk mengembalikan formulir itu ke dalam tumpukan yang sudah selesai disortirnya.

Jihyun kelihatannya sama sekali tidak puas dengan reaksi Minhyuk yang panik sebentar, mengecek formulirnya dengan seksama dan mengembalikan formulir itu ke tempatnya tanpa sama sekali berkomentar apa-apa. Jihyun mengambil formulir itu lagi.

“Kau yakin sudah mengisi dengan benar?” tanya Jihyun lagi,  sangsi. “Lihat, kau menandai 4 cabang kompetisi. Futsal. Lari 60 m. Lompat Tinggi. Estafet Campuran.” Jihyun menyebutkan cabang-cabang olahraga itu sambil menunjuk pilihan yang sudah ditandai Minhyuk sebelumnya.

“Tentu saja. Memangnya kenapa?” Minhyuk balik bertanya. Dia sudah selesai mengelompokkan seluruh formulir pendaftaran dan siap membawa seluruh formulir itu ke ruang guru dan melapor pada Guru Jo. Namun Minhyuk masih menunggu jawaban Jihyun.

Jihyun menghembuskan nafas berat. “Tapi, Hyuk, bahkan kudengar Choi Minho sunbaenim saja hanya ikut 1 cabang pertandingan. Apa kau tidak terlalu berlebihan?” tanya Jihyun lagi.

Rasa marah, kesal dan campur-campur itu muncul lagi di dalam hati Minhyuk saat mendengar Jihyun menyebut nama Choi Minho. Apakah Jihyun sedang membanding-bandingkan Minhyuk dengan Choi Minho?

“Sudahlah, yang ikut pertandingan kan aku, kenapa kau yang cerewet begitu sih?” tukas Minhyuk, sedikit lebih kasar daripada yang dimaksudkannya.

Jihyun menatapnya seolah ada dua kepala yang tumbuh di leher Minhyuk. “Ada apa sih denganmu belakang ini?” tanya Jihyun. Nadanya naik satu oktaf, pertanda dirinya tersinggung.

“Tidak ada apa-apa. Berhenti sok mencari tahu, Shin Jihyun,” kata Minhyuk singkat.

“Sok tahu? Menurutmu aku sok tahu?”

“Aku tidak bilang begitu. Aku bilang sok mencari tahu!”

“Astaga Lee Minhyuk! Aku hanya bicara baik-baik! Aku bertanya karena—“

Tapi Minhyuk sudah tidak mendengar apa pun yang dikatakan Jihyun, karena dia sudah melesat bersama tumpukan formulir menyebalkan itu menuju ruang guru.

Sungguh, tidak ada yang bisa menganggu niat Minhyuk untuk ikut 4 cabang sekaligus di Pekan Olahraga dua minggu lagi. Tidak karena Choi Minho yang dibanding-bandingkan dengannya. Tidak karena Shin Jihyun yang banyak bertanya ini dan itu dan tidak juga karena  rasa agak nyeri di kakinya yang membuatnya uring-uringan belakangan ini.

Rasa nyeri paska operasi ligamen.

Shin Jihyun dan Lee Minhyuk belum berbaikan sejak bertengkar beberapa hari yang lalu, padahal Guru Jo memasangkan mereka bersama dalam couple dodge ball di pelajaran olahraga kemarin. Guru laki-laki yang penuh semangat itu sudah menyerah mencarikan Jihyun partner lain dalam pelajaran olahraga. Memang Minhyuk-lah yang selama ini paling mampu mengimbangi  dan meningkatkan kemampuan atletik Jihyun yang sangat jelek.

Teman-teman kelas 2-4 juga mulai bertanya-tanya kenapa dua teman sebangku yang biasanya sangat akrab itu mendadak menjadi canggung. Apalagi Jung Ilhoon yang terus menerus bertanya pada Minhyuk mengapa dia tidak sering bersama Jihyun lagi, karena otomatis sejak Jihyun tak bersama Minhyuk, Ilhoon sama sekali tidak punya alasan mengobrol dengan Jihyun.

Kalau mau jujur, sebenarnya Minhyuk tidak tahan lama-lama saling mendiamkan dengan Jihyun. Dia terlalu terbiasa mendengar Jihyun yang tiba-tiba berbisik mengoreksi jawaban matematikanya tanpa diminta atau siku Jihyun yang menyenggol lengannya pelan saat dia hampir tertidur di pelajaran sejarah. Itulah salah satu keuntungan duduk sebangku dengan gadis paling pintar seangkatan sekaligus murid teladan.

Pekan Olahraga akan berlangsung dua hari lagi. Belakangan ini Minhyuk terlalu sibuk mempersiapkan diri dan teman-teman kelas 2-4 bersama Guru Jo untuk menghadapi saingan mereka. Mereka berlatih lebih keras dan penuh semangat, menyisakan sedikit waktu bagi Minhyuk untuk bertemu dengan Jihyun di luar kelas.

“Kakimu baik-baik saja, Minhyuk?” Guru Jo tiba-tiba bertanya di suatu sore saat mereka sedang beristirahat dari latihan futsal.

Tercabik antara kaget dan bingung, Minhyuk hanya bisa menatap Guru Jo dalam diam.

“Hei, bocah. Jawab kalau gurumu bertanya,” gerutu Guru Jo, menyentil kening Minhyuk.

Minhyuk yang tadinya terdiam, langsung tersadar. “Aku baik-baik saja,” katanya pelan.

Guru Jo menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jangan memaksakan diri, Minhyuk. Operasi ligamen bukan hal kecil,” nasihat Guru Jo.

“Ba-bagaimana Guru tahu?” tanya Minhyuk terbata. Dia tidak ingat pernah memberitahu siapa pun di sekolah tentang operasinya. Bahkan tidak pada Jihyun.

Guru Jo tersenyum dan menepuk pundak Minhyuk. “Berterimakasihlah pada Jihyun. Dia khawatir sekali terjadi sesuatu padamu dan akhirnya nekat melapor padaku. Kau punya teman yang sangat baik hatinya, Minhyuk-ah,” kata Guru Jo.

Hati Minhyuk mencelos. Jihyun tahu? Bagaimana bisa? Dan apa tadi yang dikatakan Guru Jo? Shin Jihyun mencemaskannya?

“Menang itu bukan sesuatu yang penting, Minhyuk-ah. Yang paling penting adalah proses kau mencapainya. Tidak masalah kalau kau tidak menang. Kemenanganmu tidak akan ada artinya kalau operasi ligamenmu harus diulang,” kata Guru Jo dan sekarang guru olahraga itu kembali terdengar seperti wali kelas pada umumnya.

Penuh perhatian, namun tetap saja cerewet.

Guru Jo kemudian bicara dengan suara yang lebih keras. “Latihan selesai sampai disini. Setelah hari ini tidak akan ada latihan lagi. Tetap jaga kondisi tubuh kalian, makan dengan baik dan beristirahat dengan cukup. Tetap lakukan latihan rutin yang ringan. Ingat, jangan paksakan diri,” tegas Guru Jo.

Seluruh murid menjawab dengan koor setuju dan setelah mengumandangkan yel-yel kelas mereka akhirnya kerumunan bubar. Minhyuk adalah siswa yang paling akhir meninggalkan lapangan futsal indoor. Berbagai pikiran berkecamuk dalam  kepala Minhyuk membuat anak lelaki itu berjalan sangat pelan.

Langkahnya terhenti tepat di papan pengumuman dimana seluruh motivasinya berawal. Minhyuk menyadari berteman dengan Jihyun berarti selalu dikelilingi dengan puluhan prestasi yang dimiliki gadis itu. Berkali-kali nama Jihyun tercantum di papan itu dengan berbagai penghargaan yang diraihnya. Dia bangga sebagai teman dekat dan jjak Jihyun, namun hal itu juga memancing suatu hal dalam diri Minhyuk.

Minhyuk ingin Jihyun juga merasa bangga. Bangga memiliki teman dekat dan jjak seperti Minhyuk. Sama seperti rasa bangga Minhyuk pada gadis itu.

Beberapa bulan yang lalu, untuk pertama kalinya Minhyuk memenangkan medali emas dalam kejuaraan lompat tinggi dan itulah pertama kalinya Minhyuk melihat Jihyun sangat bangga padanya. Gadis itu bahkan berlari memeluknya sebagai ucapan selamat tanpa merasa canggung dan Lee Minhyuk tidak bisa melupakannya.

Dia tidak bisa melupakan kebanggaan yang dilihatnya dari Jihyun.

Guru Jo bilang menang itu tidak penting, namun bila dengan kemenangan Minhyuk bisa melihat sorot kebanggaan lagi dari mata Jihyun, maka bukankah wajar jika Minhyuk berpendapat menang itu penting?

—-

Lee Minhyuk menarik nafas dalam-dalam.

Tinggal sedikit lagi, Lee Minhyuk.

Kalimat itu terus diulang-ulangnya sejak upacara pembukaan Pekan Olahraga dimulai kemarin. Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Minhyuk sadar diri bahwa dia dan timnya tidak mungkin bisa mengalahkan Hoya sunbaenim dan Woohyun sunbaenim yang larinya secepat kuda di cabang estafet campuran, maka Minhyuk puas dengan perak yang didapatnya. Soal mendapatkan emas di futsal cukup mudah, ada Yoon Doojoon, Yang Yeosoeb dan Lee Gikwang yang bermain bagaikan atlet nasional dalam tim futsal mereka. Begitu juga di cabang lari 60 meter, kebiasannya berlari dari rumah ke halte bis setiap hari menolong Minhyuk meraih emas dalam cabang itu.

Hanya tinggal 1 cabang lagi saja.

Lompat tinggi.

Minhyuk tidak tahu kenapa dia merasa cabang ini adalah yang paling penting baginya. Mungkin karena medali emas pertama Minhyuk berasal dari cabang lompat tinggi. Emas pertama yang membuatnya mendapatkan pelukan pertama dari Jihyun.

Sejak dimulai hingga kini, Minhyuk sudah berhasil melompati palang setinggi 180 cm itu. Pesaingnya hanya tinggal satu, Sung Hak si murid baru di kelas 3-1. Tantangan berikutnya adalah melompat setinggi 183 cm yang belum pernah dicoba Minhyuk sama sekali. Peluit bertiup dan Sung Hak melompat, namun sayang palang itu jatuh. Sung Hak gagal.

Beban mental itu rasanya bertumpuk di pundak Minhyuk. Bagaimana pun palang 183 cm itu jauh lebih tinggi daripada tinggi badannya sendiri, bahkan komentator pun merasa pesimis Minhyuk bisa melompati palang itu.

Minhyuk menarik nafas dalam-dalam lagi, kemudian mengatur jarak lari dari palang. Minhyuk kemudian berlari, awalnya berlari kecil, semakin lama semakin cepat dan akhirnya dia melompat. Badannya meliuk menghindari palang dan akhirnya jatuh ke pengaman di seberang palang, tanpa menyentuh palang itu sama sekali.

Minhyuk berhasil melompati palang setinggi 183 cm.

Medali emas lompat tinggi kini jadi miliknya.

Sorak sorakan gegap gempita mulai terdengar di seluruh gymnasium indoor Jeonsan High School. Teriakan paling keras berasal dari tribune sayap kiri yang diisi oleh penghuni kelas 2-4. Mereka sibuk meneriakkan yel-yel kelas, memukulkan balon-balon dan menjeritkan nama Lee Minhyuk. Minhyuk melambai pada mereka sambil tersenyum lebar.

Matanya mencari-cari sosok Shin Jihyun yang akhirnya ditemukannya sedang bertepuk tangan dan Minhyuk melihatnya lagi akhirnya. Sorot mata penuh kebanggaan dari Jihyun. Gadis itu mengacungkan ibu jarinya dan detik itu Minhyuk tahu mereka sudah berbaikan tanpa harus minta maaf lebih dulu.

Lompat tinggi adalah cabang terakhir yang diperlombakan, maka sore itu acara penutupan segera dilakukan. Semua siswa menunggu-nunggu acara ini, tentu saja, ada pengumuman juara umum dan MVP yang sejak awal merupakan agenda penting.

Guru Oh yang menjadi komentator sudah muncul di tengah-tengah gymnasium sambil membawa buket bunga dan piala bergilir.

“Terima kasih kepada seluruh atlet kelas yang telah berpartisipasi. Di antara kalian semua ada satu atlet yang semester ini sangat bersinar sehingga layak mendapatkan predikat MVP. Semester ini MVP kita berhasil meraih 3 emas dan 1 perak. MVP Pekan Olahraga Jeonsan High School adalah…….”

Suasana hening sekali sampai Guru Oh berkata, “Lee Minhyuk dari kelas 2-4!”

Lagi, kelas 2-4 bersorak riuh saat Minhyuk maju ke podium gymnasium untuk menerima buket bunga dan menyampaikan speech of apreciationnya. Tapi kali ini lebih banyak gadis-gadis dari kelas yang berbeda yang menjeritkan namanya.

“Untuk Guru Jo, teman-teman setim pertandingan dan Shin Jihyun, terima kasih atas dukungannya,” kata Minhyuk sambil mengangkat buket bunganya. Teman-teman lelaki Minhyuk mulai bersiul-siul iseng saat Minhyuk menyebutkan nama Jihyun membuat Minhyuk tersandung saat turun dari podium.

Suasana kembali ditenangkan saat Guru Oh membacakan juara umum tahun ini. “Kelas 2-4! Selamat! Wah rekor baru dipegang oleh kelas dua,” seru Guru Oh.

Seluruh siswa kelas 2-4 berhamburan menuju podium setelah Minhyuk sebagai ketua kelas menerima piala bergilir Pekan Olahraga. Minhyuk menyerahkan piala itu pada Ilhoon saat melihat Jihyun mendekatinya. Gadis itu tersenyum lebar melihat 4 medali di leher Minhyuk.

“Selamat!” kata Jihyun singkat.

Minhyuk merentangkan tangannya lebar-lebar, tapi Jihyun hanya menatapnya dengan kening berkerut.

“Kau tidak mau memelukku?” tanya Minhyuk yang masih merentangkan tangannya.

“Ha?” Jihyun merespon bingung.

Minhyuk mendecakkan lidahnya. “Ya! Waktu aku menang medali emas 3 bulan lalu, kau memelukku Shin Jihyun. Masa ketika aku menang 3 medali emas sekarang, kau tidak mau memelukku?” keluhnya jengkel karena Jihyun tidak menangkap kode yang diberikannya.

Jihyun tertawa geli melihat tingkah Minhyuk. “Aku tidak bisa sembarangan memeluk MVP kan? Selebritis baru di sekolah kita?” tanya Jihyun retoris.

Tapi Minhyuk tidak peduli, anak lelaki itu sudah merengkuh Jihyun dalam pelukannya di tengah keramaian teman-teman mereka yang masih sibuk mengagumi piala bergilir Pekan Olahraga. Awalnya Jihyun berontak, tapi Minhyuk terlalu kuat dan membuat gadis itu menyerah. Minhyuk memejamkan mata, kali ini membiarkan rasa lelah menguasai tubuhnya.

“Lee Minhyuk, aku bangga padamu,” bisik Jihyun pelan.

Sangat pelan sampai Minhyuk berpikir apakah dia tertidur saat memeluk Jihyun.

Minhyuk melepaskan pelukannya. “Coba diulang. Apa kau bilang?”

Jihyun menyentil kening Minhyuk gemas. “Kubilang aku bangga padamu, Hyuk! Dan jangan peluk-peluk aku lagi setelah kau habis lomba begini. Kau bau!” protes gadis itu.

Minhyuk tersenyum lebar.

Dia berhasil membuat Jihyun bangga.

Bis yang ditumpangi Minhyuk pulang bersama Jihyun sehabis acara penutupan pekan Olahraga berjalan lambat karena macet. Setelah acara penutupan tadi, Minhyuk menumpang mandi di sekolah, berganti baju, lalu bersama seluruh teman-teman sekelas dan Guru Jo merayakan keberhasilan kelas mereka.

Apa yang dikatakan Jihyun tentang popluaritas MVP memang benar. Hanya dalam waktu sejam setelah acara penutupan, kemana pun Minhyuk pergi bisa dipastikan ada siswi yang menyapanya.Bahkan Woori sunbaenim mengedipkan matanya pada Minhyuk membuat anak lelaki itu ngeri dan menyeret Jihyun terus berada di sampingnya.

Ah, bahkan sekarang ada rumor tentang dirinya dan Jihyun. Teman-teman lelaki Minhyuk tak henti-hentinya menggoda Minhyuk karena menyebut-nyebut nama Jihyun dalam speech of appreciation membuat gadis itu bersemu merah dan melirik Minhyuk dengan tatapan membunuh. Belum lagi ternyata ada siswa dari kelas lain yang memergoki Minhyuk memeluk Jihyun di gymnasium sore itu. Minhyuk hanya tertawa saat ditanya sedangkan Jihyun sudah salah tingkah. Jihyun bahkan menolak ajakan Minhyuk untuk pulang bersama, walaupun pada akhirnya Minhyuk berhasil memaksanya.

“Hyuk,” panggil Jihyun.

Gadis itu melirik Minhyuk yang dengan semena-mena sudah menopangkan kepalanya di bahu Jihyun. Mata Minhyuk terpejam, tapi Jihyun tidak yakin dia benar-benar tertidur.

“Hyuk,” Jihyun menyentil kening Minhyuk pelan karena dia tidak kunjung mendapatkan respon.

“Hmmm.” Hanya itu yang dikatakan Minhyuk.

“Aku mau membuat pengakuan,” kata Jihyun.

Minhyuk tertawa kecil mendengar nada bicara Jihyun yang sangat serius. “Pengakuan kalau kau diberitahu oleh eomma tentang operasiku dan melaporkannya pada Guru Jo?” Minhyuk menebak dengan mata yang terpejam.

Mata Jihyun membulat kaget. “Bagaimana kau tahu?”

Minhyuk hanya mengangkat bahu.

Jihyun menghela nafas jengkel dengan tingkah Minhyuk. “Kalau begitu, aku mau bertanya sesuatu,” kata Jihyun.

Kepala Minhyuk di bahu Jihyun bergerak karena anak lelaki itu memperbaiki posisi tidurnya agar tidak membuat lehernya pegal. Minhyuk mengangguk, matanya masih terpejam. “Tanyakan saja.”

“Kenapa kau menyebutkan namaku di speech-mu?” tanya Jihyun penasaran.

Minhyuk sama sekali tidak menyangka kalau Jihyun akan menanyakan hal itu. Mana mungkin dia bilang karena dia sungguh berterima kasih pada Jihyun yang telah memotivasinya melewati berbagai hal termasuk operasinya demi medali-medali itu. Entahlah, ada perasaan aneh yang dirasakan Minhyuk setiap kali bersama Jihyun, termasuk saat memeluk gadis itu sore ini.

“Karena aku butuh skandal,” jawab Minhyuk akhirnya.

“Skandal?”

“Kalau aku menyebutkan namamu, pasti akan jadi skandal. Gadis-gadis akan semakin penasaran. Selebritis kan butuh skandal,” jelas Minhyuk santai.

Jihyun menepuk keningnya sendiri.

“Astaga! Jadi kau memanfaatkanku sebagai skandalmu, hah?” tukas Jihyun kesal.

Gadis itu mendorong kepala Minhyuk yang bersandar di bahunya dan berusaha mencekik leher Minhyuk membuat mata-mata penumpang bus tertuju pada mereka. Minhyuk hanya tertawa sambil berkelit dari cekikan Jihyun.

Hari ini adalah sejarah baru dalam persahabatan Lee Minhyuk dan Shin Jihyun sebagai dua sahabat yang dapat saling berkata dengan gembira, “I am proud of you!”

-END-

 A.N : FF ini adalah FF gagal seleksi masuk saladbowldetrois.com yang akhirnya bikin aku ngerasa daripada sayang yaa mending publish di sini aja haha. Masih abal sih ya? Belum selevel sama penulis-penulis di sana hehhe. 

Pssst, pas nulis ini aku lagi jatuh cinta banget sama si Minhyuk BtoB HAHAHA

Comments and likes are welcomed 🙂 

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s