In His Touch

Title                     : In His Touch

Author                 : qL^^

Main Casts          : Sung Yang Couple ( Yesung – Kim Sooyan )

Other Casts         : Super Junior and their girls, Park Hyeki, Lee Seunggi

Genre                   : Romance, Angst

Lenght                 : Oneshoot

Rating                  : G

Summary             : Cause when a man loves a women, it is all in his touch………

Backsong             : Celine Dion – In His Touch

—-

SYC

In His Touch

“Jadi, kau memaafkanku?” Seunggi bertanya dengan nada ragu.

Sooyan menghela nafas. “Kau tidak salah. Aku-lah yang bereaksi terlalu berlebihan,” kata gadis itu, lalu meminum jusnya.

Kafe itu sepi. Salju di luar mulai menebal menunjukkan suhu udara yang turun drastis mendekati nol. Mungkin hal itu salah satu penyebab kafe ini sepi : orang-orang lebih memilih bergulung dalam hangatnya rumah.

Seunggi menatapnya skeptis. “Aku tidak ingin merusak persahabatan kita, Sooyan-ah,” ujarnya.

“Aku tahu,” Sooyan berkata.

“Jadi kita berteman lagi?” Seunggi menjulurkan tangannya.

Sooyan menyambutnya dan tersenyum. “Teman,” ulangnya pasti.

Seunggi dan Sooyan melepaskan jabat tangan mereka dan tertawa. Menertawakan kebodohan mereka dan persahabatan mereka yang baru.

“Lalu, bagaimana rasanya pacaran dengan Yoona?” tanya Sooyan mengalihkan pembicaraan.

Seunggi tertawa. “Berhentilah menggangguku! Bukankah lebih baik aku bertanya bagaimana hubunganmu dengan Yesung?” Seunggi balik bertanya.

“Hush!” Sooyan memukul lengan Seunggi pelan. “Jangan keras-keras! Kalau ada yang dengar bisa gawat!” tukas Sooyan kesal.

Seunggi kembali tertawa. Sooyan memang sangat menjaga rahasia kedekatannya dengan Yesung. Selain karena Yesung itu Yesung, ayolah Yesung itu lead vocal boyband terkenal Super Junior, Sooyan juga tidak ingin terlibat skandal macam-macam yang bisa membahayakan Yesung.

“Apa kalian sudah jadian?” tanya Seunggi lagi.

Sooyan menggeleng. “Aku bahkan tidak tahu dia menyukaiku atau tidak,” kata Sooyan pelan. Tanpa sadar, jarinya mengusap cincin kembar dari kuil Shan.

Seunggi menggelengkan kepalanya prihatin.

“Dia pasti memberikan gestur-gestur yang menunjukkan kalau dia suka atau tidak padamu,” kata Seunggi lagi.

Seunggi masih menunggu jawaban Sooyan, tapi Sooyan hanya mengangkat bahu.

“Aku tidak berani berharap,” kata Sooyan. Dia tidak tahu apakah dia masih punya stok keajaiban di akhir bulan Desember ini. Terlalu banyak yang terjadi selama bulan ini. Sooyan bahkan harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa seluruh kerjadian dua minggu lalu itu nyata. Bukan khayalannya.

Seunggi menghela nafas melihat ekspresi wajah Sooyan. Jelas, pikiran gadis itu sedang tidak bersama dirinya sekarang. Seunggi terlanjur bertekad. Dia merasa dengan begini dia dapat menebus kesalahannya terhadap perasaan Sooyan.

In all in his touch, you know,” kata Seunggi pelan.

Sooyan memfokuskan pikirannya kembali pada Seunggi.

Seunggi mengangkat bahu. “Ya, begitu kata Yoona. Dia bisa merasakan perasaanku hanya dari sentuhanku,” kata Seunggi. Dia buru-buru melanjutkan saat melihat alis Sooyan terangkat. “Hanya berpegangan tangan, salaman dan gestur kecil lain yang biasa dilakukan pasangan kekasih,” tambahnya.

Sooyan berpikir, berusaha mengingat semua gestur Yesung. Memang ada yang berbeda dari semua perhatianya. Tapi apakah itu hanya ilusi Sooyan saja? Ataukah apa yang dikatakan Seunggi ada benarnya?

Sooyan menggelengkan kepalanya pelan. “Kita bicarakan lain kali ya,” hanya itu yang dikatakan Sooyan.

000000000000

Matahari sudah tenggelam sempurna. Langit gelap masih menumpahkan salju, membuat hampir seluruh permukaan di luar ruangan terlapisi salju termasuk pohon-pohon kecil berlampu yang terletak di depan Great Genie. Banyak pejalan kaki berlalu lalang di depan jalan kecil coffee shop itu dan malam ini jelas lebih ramai dari malam-malam biasanya. Semua orang sedang mencari spot yang tepat untuk menikmati malam tahun baru, walaupun masih ada enam jam sebelum lonceng pergantian tahun dibunyikan.

Sooyan menghela nafas, melanjutkan observasinya pada keadaan luar Great Genie dari jendela lantai dua. Lucu, Sooyan mendengus, dia biasanya menjadi salah satu dari orang-orang di luar sana, yang kesepian dan berjalan sendirian menembus dinginnya salju Desember tapi untuk pertama kalinya di malam tahun baru dia terkurung dalam ruangan.

“Dari jendela itu kau bisa melihat kembang api tahun baru,” suara Yesung terdengar di belakang Sooyan membuat gadis itu berbalik.

Yesung tersenyum dan menyerahkan segelas milkshake strawberry pada Sooyan yang diterimanya sambil mengucapkan terima kasih. Satu gestur kecil yang membuat Sooyan mengingat ucapan Seunggi.

“Kau tidak mau bergabung ke sana?” tanya Yesung sambil mengedikkan kepalanya ke arah sekumpulan orang yang duduk mengelilingi meja besar. “Nari mulai cemas karena kau terus menerus memandang jendela sejak datang,” kata Yesung lagi.

Pandangan Sooyan jatuh pada kerumunan keluarga Super Junior yang sibuk mengobrol.

“Mungkin sebentar lagi,” kata Sooyan. “Salju di luar bagus sekali,” tambahnya mengalihkan pembicaraan.

Yesung mengikuti arah pandangan Sooyan. “Masih merasa canggung?” tanyanya.

Sooyan menatapnya kaget. Yesung tidak bisa membaca pikirannya kan? Perlahan Sooyan menggeleng, membalikkan badan menatap jendela lagi. “Tidak,” sahut Sooyan.

Yesung hanya tertawa kecil. “Sebuah keajaiban besar Super Junior bebas dari kegiatan musik  di malam tahun baru,” kata Yesung.

Sooyan mengangguk setuju. Dia yakin bila saja sekarang tidak banyak anggota Super Junior yang sedang cuti, grup Hallyu itu pasti sedang sibuk mengisi acara tahun baru. Diam-diam dia merasa bersyukur atas kesempatan langka ini.

“Ayolah, kau tidak ingin bergabung dan bersenang-senang? Hyeki dan Kyuhyun mungkin sudah menyelesaikan ronde game mereka yang entah ke berapa,” ajak Yesung lagi, masih tak menyerah.

Sooyan tertawa dan mengerling Hyeki dan Kyuhyun yang kelihatannya sedang sibuk mencari cara memecahkan misi mereka untuk naik ke level yang lebih tinggi. Ketika Sooyan mengalihkan pandangannya kembali pada Yesung, dia hanya bisa terpaku saat Yesung mengulurkan tangannya, seolah pria itu sedang mengajak Sooyan berdansa, bukan menemani Sooyan menuju meja besar itu.

Mendadak pikiran Sooyan terasa kosong, sama sekali tidak ada pikiran apa pun yang melintas di pikirannya seolah komando kepala dan tubuhnya terpisah, tangannya secara otomatis terangkat menyambut uluran tangan Yesung. Mereka berpegangan tangan bergabung dengan yang lain.

Ada perasaan yang berbeda yang dihasilkan oleh sentuhan itu. Seperti yang pernah dirasakannya berminggu-minggu yang lalu. Perasaan hangat dan nyaman seolah dia menemukan tempatnya.

“Aku pikir jendela itu jadi lebih menarik daripada seluruh anggota Super Junior, sampai-sampai kau berdiri di sana seperti orang terhipnotis, Sooyan-ah,” kata Eunhyuk menggoda Sooyan.

Sooyan tertawa. “Maafkan aku, oppa, tapi pemandangan di luar memang sedikit lebih menarik dari dirimu,” kata Sooyan bergurau.

Semua orang menertawakan Eunhyuk yang pura-pura memegang hatinya yang hancur karena gurauan Sooyan.

Hyeki berdeham, matanya melirik genggaman tangan Yesung dan Sooyan membuat pasangan itu cepat-cepat melepaskan pegangan tangan mereka. Bahkan ketika Sooyan duduk dan sebelum Hyeki berdeham tadi, Sooyan sama sekali tidak menyadari bahwa tangan Yesung masih menggengam tangannya. Rasanya seperti sudah sangat terbiasa sampai Sooyan sama sekali tidak merasa canggung dengan keadaan mereka.

“Ya! Ada apa dengan hubungan kalian?” tanya Hyeki berbisik.

Sooyan menggeleng. “Tidak ada apa-apa,” jawabnya singkat.

Hyeki menatap Sooyan dan Yesung dengan pandangan menilai, sebelum akhirnya Kyuhyun mengalihkan perhatian Hyeki kembali.

Sooyan menarik nafas pelan.

Get a grip, Kim Sooyan. He’s nobody.

000000000000

Yesung mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia membiarkan si gadis-bawel-penjaga-Sooyan memergokinya masih menggenggam tangan Sooyan barusan? Kalau pandangan bisa membunuh, Yesung yakin dirinya sedang dalam keadaan koma di rumah sakit karena pandangan Hyeki tadi.

Salahkan segala urusan perasaan yang mengalahkan logika. Yesung tahu harusnya dia berdamai dengan logikanya sendiri mengenai Sooyan. Logikanya jelas mengatakan gadis itu fansnya dan Yesung tidak bisa begitu saja memutuskan menyukainya. Tapi perasaannya tidak mau diajak berkompromi. Hyeki membawa Sooyan dalam lingkungan mereka dan dalam sekejap membuat Yesung yakin dirinya jatuh cinta.

“Hei, Donghae!” panggil Yesung pelan.

Donghae menoleh, heran dengan nada pelan yang digunakan Yesung di antara hiruk pikuk meja besar itu. “Ada apa, hyung?”

“Bagaimana rasanya pacaran dengan fans sendiri?”

Alis Donghae terangkat tinggi sekali hingga Yesung yakin alis itu terlihat menghilang di antara poni pirang si pria Mokpo. “Kau ngelindur hyung?” Donghae malah balik bertanya.

Yesung berdecak. “Aku serius.”

Mulut Donghae membentuk huruf O bulat dan alisnya kembali ke posisi semula. Sambil memelankan suaranya, dia menjawab. “Sebenarnya pacarku bukan Elfishy, hyung,” katanya.

Jawaban yang berhasil membuat Yesung ingin membuang pria itu ke laut timur sesuai namanya. Harusnya Yesung sudah tahu, bertanya pada Donghae sama sekali bukanlah opsi yang tepat.

Sooyan menoleh ke arah Yesung dan tersenyum.

Yesung balas tersenyum, sebelum beberapa detik kemudian senyum itu berubah menjadi ekspresi datar karena Hyeki sedang memergoki mereka berdua bertukar senyum.

“Dia sepertinya benci padaku,” kata Yesung tanpa berpikir.

“Huh?” kening Sooyan berkerut. “Siapa? Hyeki?” tanyanya saat mengikuti arah pandangan Yesung.

Si gadis-bawel sekarang sedang sibuk merebut PSP dari Kyuhyun.

Yesung cepat-cepat menggeleng, takut Sooyan juga jadi ikut membencinya, tapi gadis itu malah tertawa.

“Hyeki takut aku benar-benar menyukaimu, oppa,” katanya.

“Suka?” ulang Yesung tak percaya.

Sooyan mengangguk. “Bagi Hyeki, bias adalah bias. Bukan orang yang benar-benar kau sukai,” jelasnya.

Yesung menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa Hyeki terlalu pintar sampai membuat teori aneh seperti itu?

“Bagaimana kalau bias dan orang yang kita sukai adalah orang yang sama?” tiba-tiba Yesung kembali bertanya.

Pandangan Sooyan kepada Yesung membuatnya takut. Bukan pandangan membunuh seperti Hyeki, tapi pandangan teduh yang berusaha menjawab pertanyaan Yesung.

Namun, sayangnya tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut gadis itu.

000000000000

Bulan datang silih berganti.

Tanpa Yesung sadari kini sudah mendekati pertengahan Januari. Dia belum menerima kabar apa pun dari Sooyan sejak pertemuan terakhir mereka di malam tahun baru tempo hari. Yesung tahu Hyeki sudah kembali ke US beberapa hari yang lalu dan praktis tidak ada yang bisa dijadikan Yesung sebagai alasan selain Hyeki untuk mendapatkan kabar mengenai Sooyan.

Hari-hari berjalan begitu saja. Yesung masih ingat saat dia mengecek ponselnya sebelum acara liburan mereka ke rumah Donghae yang lalu, dia terkejut karena dia memiliki kontak Sooyan di ponselnya. Yesung tidak ingat pernah memprogram menyimpan nomer ponsel Sooyan tapi dia punya dugaan bagaimana kontak Sooyan bisa ada di ponselnya. Hyeki pasti menggunakan ponselnya untuk menelpon gadis itu tanpa diketahui Yesung.

Pada saat itu Yesung sama sekali tidak berpikir panjang ketika dia mengirimkan pesan singkat di malam ulang tahun Sooyan. Namun sekarang keberaniannya untuk menghubungi Sooyan menguap entah kemana.

Yesung duduk di sofa depan televisi dengan pandangan kosong, sama sekali mengabaikan acara musik yang sedang disiarkan. Matanya fokus menatap layar ponselnya dengan kontak Sooyan. Dan dia sedang sibuk berpikir dan menimbang, apakah pantas kalau dia menelepon Sooyan sekarang tanpa ada sesuatu hal yang perlu dibicarakan?

Tapi urusan perasaan Yesung memang harus dibicarakan.

Yesung malu mengakuinya, tapi dia rindu. Rindu melihat gadis itu. Tatapannya. Senyumannya. Sentuhan tangannya.

Sepertinya dia sudah mulai gila.

“Kalau bicara sendiri terus pasti akan jadi gila,” tukas Ryeowook polos sambil mengunyah cookies. Ryeowook menghempaskan tubuhnya di samping sofa sebelah Yesung sambil mengintip ponsel Yesung. “Oh, Sooyan. Apakah dia menelepon?”

Yesung menggeleng.

“Konser KRY bulan depan, ajak saja dia,” kata Ryeowook santai memasukkan potongan cookies lagi ke dalam mulutnya.

Ya! Kau gila!” protes Yesung.

Ryeowook menatap Yesung dengan pandangan tersinggung. “Hei, yang gila itu hyung!” tunjuk Ryeowook pada Yesung dengan cookiesnya.  “Memangnya hyung tidak mau mengajak Sooyan ke backstage?”

“Jangan macam-macam, Kim Ryeowook,” ancam Yesung galak.

“Kenapa? Hyung takut dia melihat aksimu di panggung?”

Yesung mengangguk ragu.

Kadang-kadang ketika mereka konser, ada konsep yang mengharuskan fan-service yang ekstrim, misalnya : bertelanjang dada atau sexy dance. Kondisi yang sering kali menyebabkan idol dan pacar mereka bertengkar hebat setelah konser.

“Yang akan melakukan hal-hal ekstrim kan Kyuhyun dan aku. Hyung cuma dapat bagian penuh kharisma selama konser. Tenang saja,” Ryeowook mengingatkan Yesung akan bagian mereka di konser.

Yesung masih terlihat ragu walaupun dia tidak berkata apa-apa.

Akhirnya Ryeowook mengangkat bahu. “Percayalah padaku, hyung. Itu cara yang ampuh untuk membuat alasan agar bertemu dengannya lagi,” kata Ryeowook, lalu mengedipkan sebelah matanya sebelum beranjak dari sofa membawa toples cookies yang setengah kosong.

Yesung kembali menatap ponselnya. Haruskah dia nekat? Haruskah dia mengikuti saran Ryeowook?

Jari Yesung menekan nomer ponselnya. Nada dering tunggu terdengar sampai kemudian suara Sooyan terdengar di ujung telepon, “Halo?”

Senyum Yesung merekah.

000000000000

Dua Februari akhirnya tiba. Hari dimana konser KRY kembali digelar di Stadium Seoul. Melihat antusiame penonton kali ini, konser KRY sama suksesnya dibandingkan dengan konser-konser sebelumnya. Antuasiasme yang ditunjukkan bahkan sebelum konser dimulai. Sejak beberapa jam sebelum konser, penggemar sudah memadati kawasan itu.

Semangat para penggemar tidak memudar ketika konser dimulai. Teriakan dan dukungan mereka lebih kuat daripada sebelumnya membuat Yesung terharu dan bahagia. Banner-banner pujian dan rasa cinta penggemar diacungkan tinggi-tinggi setiap kali mereka bernyanyi. Kerja keras KRY berlatih selama beberapa bulan seolah terbayar sudah. Hanya satu hal yang sedikit disayangkan Yesung.

Sooyan tidak termasuk dalam penonton itu.

Dia tidak bisa hadir dalam konser kali ini. Pada saat Yesung menelfonnya beberapa hari yang lalu, Sooyan berkata bahwa dirinya sibuk membuat senyum mereka Yesung padam seketika.

Ah, benar-benar sayang.

Yesung berjalan gontai kembali ke backstage untuk bersiap-siap menghadiri pesta perayaan konser KRY kali ini. Dia berjalan menunduk sambil memainkan ponselnya, mengecek apakah Sooyan mengiriminya pesan atau tidak dan sesekali menoleh balas mengucapkan terima kasih pada staff yang berpapasan dengannya.

Dari arah ruang tunggu, Yesung bisa mendengar suara tawa beberapa anggota Super Junior yang menjadi guest dalam konser KRY. Dia mendengar suara tawa gadis-gadis yang mungkin adalah fans VIP yang mendapatkan tiket backstage.

Betapa tercengangnya Yesung ketika dia mengenali salah satunya.

Sooyan?!

Oppa!” sapa Sooyan ramah.

Yesung mematung di depan pintu. Para anggota Super Junior saling bertukar pandangan, bingung dengan kelakukan Yesung yang tiba-tiba tidak bergerak. Para fans VIP itu juga terlihat bingung.

Hyung?” panggil Ryeowook pelan.

Yesung berjalan ke arah Sooyan, menggenggam tangan gadis itu lalu menariknya berjalan. Ada semacam sengatan aneh saat Yesung menggenggam tangan Sooyan, namun diabaikannya.  “Aku pinjam Sooyan sebentar ya,” kata Yesung, lalu terburu-buru keluar ruang tunggu dengan Sooyan yang kebingungan.

Para anggota Super Junior tidak sempat berbuat apa-apa, hanya menatap kepergian mereka berdua dengan melongo.

Yesung membawa Sooyan ke sudut panggung yang kini telah sepi karena sisi itu sudah selesai dirapikan. Dia menatap Sooyan lekat-lekat sedangkan gadis itu balas  memandangnya tak mengerti.

“Kau bilang kau sibuk,” kata Yesung dan langsung menyesal karena melontarkan kalimat bernada tuduhan  itu tanpa pikir panjang.

Sooyan tertawa. “Memang, aku sama sekali tidak sempat melihat konser,” katanya. “Aku buru-buru kemari setelah urusanku selesai, untung aku dapat tiket backstage dari Ryeowook oppa.”

“Ryeowook memberikanmu tiket?”

“Ya.”

Yesung menggerutu. Kenapa Ryeowook tidak bilang apa-apa padanya?

“Ayo, kita kembali ke dalam, oppa. Bukankah oppa akan menghadiri pesta?” tanya Sooyan mengingatkan.

Yesung menahan lengan gadis itu agar Sooyan tidak pergi dan dia merasakan sengatan itu lagi saat menyentuh Sooyan. Yesung menarik nafas dalam-dalam. “Ada yang harus kubicarakan padamu,” katanya.

Alis Sooyan terangkat naik. “Apa?”

Alih-alih menjawab, Yesung malah mengulurkan kedua tangannya, lalu menangkup tangan Sooyan. “Kau merasakan itu?” tanyanya.

Sooyan diam dan mengigit bibirnya. Matnya mengamati ekspresi wajah Yesung.

Yesung menggerakkan lagi tangan Sooyan, meletakannya tepat di atas jantung Yesung berdebar kencang. “Kau merasakan itu?” dia bertanya lagi.

Sooyan mengangguk pelan.

“Aku menyukaimu, Kim Sooyan,” kata Yesung tegas.

Mulut Sooyan terbuka karena kaget. “Op-oppa.….”

“Aku sungguh-sungguh menyukaimu. Setiap kali kita bersentuhan seperti itu rasanya jantungku ingin meledak karena tak kuat menampung rasa bahagia,” ujar Yesung. “Apakah kau tidak merasakan hal yang sama?”

Sooyan mengangguk pelan. “Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, oppa, aku ini fansmu,” kata Sooyan putus asa.

Yesung mendesah kecewa. “Apakah aku tidak boleh menyukaimu karena itu?” tanyanya.

Tidak ada jawaban. Perlahan, Sooyan mulai menarik tangannya dari genggaman Yesung, namun Yesung malah memperat genggaman tangannya. Sudah terlanjur. Dia tidak akan membiarkan Sooyan pergi tanpa menjawab pertanyaannya.

“Lihat mataku, Kim Sooyan,” Yesung menarik dagu Sooyan, memaksa gadis itu menatapnya. “Aku menyukaimu. Apakah kau menyukaiku juga?”

“A-aku…..”

“Jadilah kekasihku dan fansku sekaligus, bagaimana?”

Oh! Sooyan rasanya ingin kabur ke bagian dunia mana saja. Rasanya dia ingin segera menyerah dengan tatapan Yesung yang menusuk namun lembut. Apalagi suara Yesung yang membujuknya dengan nada rendah. Dan Ya Tuhan! Yesung masih menggengam tangannya.

Apakah Sooyan boleh tamak?

Dia menyukai Yesung. Sangat.

“Kenapa diam saja?” Yesung bertanya, mulai tak sabar.

Tenggorakan Sooyan tercekat. Suaranya tak mau keluar, jadi dia mengangguk.

Yesung girang sekali, nyaris melompat bahagia. “Sungguh?”

Sooyan mengangguk lagi dan Yesung langsung mendekap Sooyan dalam pelukannya. Sooyan sedikit tersentak karena Yesung tiba-tiba memeluknya, namun akhirnya dia rileks, menikmati pelukan dari orang yang disayanginya. Menikmati rasa aman dan nyaman yang dirasakannya tiap kali dia bersentuhan dengan Yesung.

Yesung melepaskan pelukannya, lalu menatap Sooyan. “Apakah aku tidak romantis karena menembakmu tanpa persiapan apa-apa?” tanyanya khawatir.

Sooyan tertawa. “Tidak masalah, oppa,” katanya mengerti.

Lagi, Yesung memeluknya sambil berbisik, “My girlfriend Kim Sooyan.”

Sooyan tersenyum. Ada kalanya Seunggi benar soal sentuhan itu. Satu gestur kecil dari orang yang disayangi akan terasa berbeda dibandingkan gestur dari orang lain.

It is all in his touch. 

000000000000

“Dia berlebihan sekali.”

Hyeki berkomentar dengan nada sinis melihat tumpukan vas bunga segar di atas meja ruang tamu apartemen Sooyan. Belum lagi setumpuk cokelat dan permen di dalam lemari es di dapur dan boneka super besar di dalam kamar Sooyan. Semuanya hasil kiriman dari Yesung sejak Sooyan dan Yesung resmi berpacaran, namun masih sembunyi-sembunyi dari publik.

“Biarkan saja,” sahut Sooyan sambil terus sibuk menyiapkan piring makan malam. “Yesung oppa masih merasa bersalah karena peristiwa di backstage KRY tempo hari. Dia masih merasa kurang romantis.”

“Cish,” Hyeki mendengus, masih merasa sebal dengan fakta tiba-tiba sahabat terbaiknya punya pacar bias. Mantra terbaiknya kini tidak bisa digunakan lagi.

“Benarkah kau hanya seminggu di sini?” tanya Sooyan mengalihkan topik pembicaraan.

Hyeki menggangguk. “Jungsoo oppa seminggu lagi akan masuk wamil. Aku ingin bertemu dengannya sebelum dia masuk wamil,” kata Hyeki.

“Ah, aku akan merindukan leader oppa,” Sooyan berkata.

Hyeki ikut bergumam setuju. Sooyan mengerti. Hyeki pasti akan sangat merasa rindu pada Jungsoo, kakak laki-laki yang disayanginya.

Bunyi bel pintu depan menghentikan percakapan Sooyan dan Hyeki.

“Coba cek siapa yang datang dan tolong bukakan pintu kalau itu Super Junior oppadeul,” pinta Sooyan pada Hyeki.

Hyeki beranjak ke depan pintu dan mengintip lewat lubang kunci. Dia mendengus sebal ketika wajah-wajah Super Junior dengan masker, topi dan kacamata hitam menyambutnya. Begitu pintu dibuka, mereka langsung berhamburan masuk layaknya penghuni asli apartemen itu.

Sooyan tersenyum, menyambut mereka ramah yang langsung menuju meja makan yang sudah terhidang makan malam buatan Sooyan.

Yesung berada paling belakang, menutup pintu sambil tersenyum ramah pada Hyeki yang balas melengos menyusul Kyuhyun yang memanggilnya dari ruang makan.

“Dia ngambek?” tanya Yesung memberi kode pada Hyeki.

“Sedikit,” jawab Sooyan. “Oppa kan tahu soal mantranya Hyeki.”

Yesung nyengir. Masa bodoh lah dengan mantra Hyeki. Urusan hati tidak ada yang tahu bukan? Pria itu menarik Sooyan mendekat, lalu memeluknya.

“Aku merindukanmu.”

“Aku juga merindukan oppa,” sahut Sooyan.

Yesung melepaskan pelukannya dan menatap Sooyan lekat-lekat. Dia sedikit menundukkan kepalanya, menyejajarkan dengan tinggi Sooyan. Wajahnya semakin mendekati wajah Sooyan hingga Yesung nyaris bisa merasa hembusan nafas Sooyan yang lembut. Mata Sooyan perlahan terpejam seolah menanti apa yang akan dilakukan Yesung. Tangan Sooyan mencengkram kemejanya.

Jarak antara wajah mereka semakin menipis, hingga….

“Woy! Get a room!” teriak Siwon yang tercengang. Pria itu tadinya bermaksud menyusul Yesung dan Sooyan yang masih di ruang tamu agar mereka bisa mulai makan malam, tapi dia malah memergoki mereka. Siwon sampai harus meletakkan tangannya menutupi mata Hyeki yang tadi ikut Siwon menyusul Yesung dan Sooyan.

Yesung dan Sooyan segera memisahkan diri dan tersenyum malu. Wajah mereka memerah. Hampir saja privasi mereka dilihat anggota Super Junior.

Siwon berbalik badan kembali menuju ruang makan sambil merangkul Hyeki yang terlihat kecil sekali di sebelah pria itu.

“Ayo makan!’ kata Siwon. “Nanti saja berbuat aneh-anehnya.”

“Ya! Choi Siwon!” omel Yesung sementara Hyeki malah melakukan hi-five dengan Siwon.

Sooyan tertawa saja. Dia masih berdebar dengan yang tadi dilakukan Yesun, tapi perasaan malu, deg-degan itu segera dialihkan oleh rasa lucu karena kekonyolan para anggota Super Junior dan Hyeki.

Hari-hari seperti ini akan menjadi masa depannya.

A bright future with her boyfriend, Yesung.

-Fin.-

A. N : Banyak typo saya tahu kok. Belum sempat diedit dengan baik dan benar karena nulisnya ngebut mumpung ada ide. 

Nulis in his touch ini susah banget, karena Celine Dion mengungkapkan in his touch nya sensual banget. Sentuhan gitu, bingung mau bikin plot kaya apa. Intinya sih kata orang kalau suka sama seseorang apa pun yang dilakukan terasa berbeda, ya contohnya karena saya suka Onew, mau Onew sekonyol apa pun, itu tetap cute dan cool namanya haha.

Pokoknya komen dan like nya dong tolong. 

Minggu ini dan minggu depan saya akan rajin pos FF tiap akhir minggu. Mulai dari Home Sweet Home  dan D.O Lils Series yang terbaru.

See yoou 🙂

Jangan plagiat yaaa

Advertisements

One thought on “In His Touch

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s