Miracle in December

Title                 : Miracle in December

Author             : qL^^

Main Casts      : SungYan Couple (Yesung – Sooyan)

Others             : Super Junior, Park Hyeki

Genre              : Romance, fluff

Rating             : G

Lenght             : Oneshot

Backsong        : EXO – Miracle in December (Just listen, not related to lyrics)

Summary         : Let’s count how much miracle Sooyan has this December as Yesung be her

biggest miracle :J

—–

Miracle in December

‘Hari ini tidak akan bisa jadi lebih buruk lagi,’ batin Sooyan kesal.

Sooyan bergegas masuk ke dalam apartemennya, meletakkan sepatu di rak samping kiri pintu, melepaskan syal wol yang melilit leher dan buru-buru meraih remote untuk menyalakan pemanas ruangan. Bulan Desember sudah tiba dan suhu di luar semakin menurun mendekati minus, walaupun salju pertama belum turun.

Sambil duduk di meja dapur meneguk segelas air putih, mata Sooyan beralih pada kalender di atas meja. Lalu dengan perlahan, gadis berusia 20 tahun itu menghela nafas perlahan ketika memori mengenai seluruh kejadian menyebalkan sepanjang hari ini memenuhi pikirannya. Pekerjaan yang kacau, masalah dengan teman kuliahnya dan yang paling membuatnya kalut adalah berita hubungan SeungGi dengan Yoona.

Gelisah, Sooyan berdiri dan beranjak menuju jendela, menatap jalanan di depan apartemennya yang dipenuhi mobil berlalu lalang. Seharian ini suasana hatinya sedang buruk. Sooyan bahkan tidak tahu kenapa, yang jelas dia merasa semua yang dilakukannya belakangan ini tidak pernah benar. Lagi-lagi menghela nafas, Sooyan mengurut keningnya yang berdenyut.

‘Berendam di air panas mungkin bisa membantu,’ gumamnya beranjak menuju kamar mandi.

Ponsel Sooyan menderingkan Fly oleh Super Junior KRY tepat sebelum Sooyan membuka pintu kamar mandi. Kening Sooyan berkerut, sebuah nomer yang tidak dikenal.

“Halo?” sapa Sooyan ragu-ragu.

“Sooyan-ah!” suara di seberang membuat Sooyan terlonjak.

“Hyeki?” tanya Sooyan bingung.

“Hai! Kupikir kau tidak akan mengangkat teleponku, jadi aku meminjam ponsel Yesung oppa,” sahut Hyeki di seberang.

Sooyan menghela nafas. “Kalau kau mau merecokiku dengan berita SeungGi-Yoona lebih baik …..” ucapan Sooyan terputus begitu mengingat kalimat Hyeki sebelumnya. “Park Hyeki! Kau menelepon dari ponsel Yesung oppa?!” tanya Sooyan panik.

“Yep!” yang ditanya hanya menyahut santai.

“Kau gila! Cepat putuskan sambungannya dan telepon aku lagi dengan ponselmu,” ujar Sooyan. Kali ini dia benar-benar panik. Dia punya dial log berisi nomer artis. Ya Tuhan!

Hyeki hanya terkekeh di seberang telepon. “Tenanglah, aku punya nomer ponsel hampir separuh dari jumlah member Super Junior di ponselku. Tidak akan terjadi apa-apa. Lagipula, aku tidak punya pulsa dan Cho Kyuhyun yang pelit itu tidak mau meminjamkan ponselnya,” keluh Hyeki.

Sooyan mengipasi dirinya sendiri dengan tangan. Panik itu perlahan mulai memudar. Ah, Sooyan lupa sekarang dia bicara dengan siapa. Dia bicara dengan Hyeki si adik Leader Super Junior. Mendadak dia merasa sedikit iri dengan keberuntungan Hyeki.

“Sooyan-ah, kau dengar aku tidak sih?” Hyeki bertanya. Sepertinya Sooyan melamun lebih lama sampai melewatkan beberapa kalimat Hyeki.

“Kau bilang apa? Weekend ini?” ulang Sooyan.

“Yep! Aku akan menjemputmu di apartemen. Eonniedeul yang lain juga akan datang hampir seperti saat ulang tahun Yesung oppa beberapa bulan lalu,” kata Hyeki lagi.

“Baiklah,” sahut Sooyan menyerah. “Kalaupun aku bilang tidak bisa, kau pasti akan memutuskan menculikku, iya kan?”

Hyeki hanya tertawa dan lalu menyudahi perbincangan mereka.

Sooyan meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan dia tercengang kaget saat melihat wajahnya di cermin. Ya Tuhan! Dia baru saja tersenyum sendiri. Hilang sudah ekspresi kesedihan akibat semua kejadian buruk hari ini. Satu kata tentang Yesung sudah berhasil membuat harinya berbunga-bunga.

Dengan hati yang lebih ringan, Sooyan melangkah menuju kamar mandi sambil bertanya-tanya. Jangan-jangan bukan Hyeki yang cenayang, tapi Yesung yang dengan ajaibnya memperbaiki suasana hatinya.

00000ooooo00000

Rasanya Yesung ingin tertawa saat melihat ekspresi Sooyan yang kebingungan melihatnya muncul di lobby apartemen Sooyan. Gadis itu buru-buru menyeret Yesung menuju van yang terparkir rapi di depan lobby, van yang tadinya dikendarai Yesung.

“Ya Tuhan! Oppa membuatku jantungan,” keluh Sooyan sambil duduk di sebelah kursi pengemudi. “Apa yang oppa pikirkan?! Kalau ada yang melihat, nanti bisa jadi skandal,” omel Sooyan lagi.

Yesung kali ini benar-benar tidak bisa menahan tawanya lagi. Dia terkekeh geli sekaligus terharu melihat Sooyan begitu memikirkan reputasinya sebagai selebritis. As expected from a fan, especially Clouds.

“Sedikit skandal akan membuat hari-hari penuh tantangan, Sooyan-ah,” sahut Yesung menggoda Sooyan sedangkan Sooyan hanya menggelengkan kepalanya. Pria itu mulai menyetir mobil menuju arah luar kota Seoul.

“Kita mau kemana? Dan kupikir aku akan dijemput Hyeki?” tanya Sooyan bingung.

“Donghae mengundang kita semua menginap di rumahnya di Mokpo. Sedikit suasana pantai dapat menyenangkan hatimu,” jawab Yesung. “Dan ah ya, perubahan rencana. Karena semua barang terlanjur dimasukkan ke dalam van ini dan hanya muat untuk berdua, jadi Hyeki terpaksa ikut mobil Jungsoo hyung.”

Sooyan menoleh ke belakang dan baru menyadari bahwa van ini lebih mirip truk barang. Berbagai barang ditumpuk di sini, seperti alat panggang, kotak pendingin berisi bahan makanan dan beberapa barang bawaan yang sepertinya milik para member. Sooyan menggelengkan kepalanya lagi. Yesung seperti biasa, terlalu baik untuk menolak. Ah, apakah jangan-jangan dia menjemput Sooyan karena tidak enak hati menolak?

Seperti bisa membaca pikiran Sooyan, Yesung mendadak bicara, “dan aku menawarkan diri untuk menjemputmu.”

Yesung tersenyum tipis melihat semburat merah menjalar di pipi Sooyan. Gadis itu memalingkan wajahnya menatap jalanan dan mendadak suasana canggung menyelimuti mereka.

Yesung sengaja meletakkan tangannya di atas kemudi dengan jelas berusaha membuat Sooyan melihat bahwa dia memakai cincin pemberian Sooyan di hari ulang tahunnya. Tapi Sooyan sama sekali tidak berkata apa-apa. Baik Yesung maupun Sooyan tidak bercakap-cakap lagi sepanjang perjalanan, hingga akhirnya van mereka memasuki gerbang rumah tradisional. Rumah Donghae.

Sooyan turun dari van dan disambut oleh Nari yang memeluknya erat. Yesung tahu bahwa sejak berkenalan dengan Nari beberapa bulan yang lalu, Sooyan dan Nari bertukar nomer telepon dan saling berkomunikasi.

“Kau terlihat pucat, Sooyan-ah,” kata Nari dan Yesung diam-diam setuju.

Sooyan menggeleng. “Cuacanya terlalu dingin, eonni,” sahutnya.

Nari hanya tersenyum paham. “Kamarmu ada di sebelah kiri lorong bersama Hyeki. Anak itu sedang pergi bersama Jungsoo oppa dan Donghae, membeli beberapa kebutuhan,” kata Nari menjelaskan.

Yesung melihat Sooyan mengangguk dan membawa barang bawaannya ke dalam, sedangkan dirinya mulai membantu para member mengatur alat panggang dan menurunkan barang-barang lain dari dalam van. Ryeowook hanya tersenyum penuh konspirasi bersama Sungmin saat Yesung datang mendekat.

“Bagaimana kemajuannya, hyung?” goda Sungmin.

Yesung hanya mengangkat bahu.

“Uwooo~~” dua orang itu berseru kegirangan dengan respon Yesung. Yesung sama sekali tidak ambil pusing dengan Sungmin dan Ryeowook yang pasti sedang berspekulasi.

“Berhentilah menggoda Yesung hyung,” tegur Siwon yang tahu-tahu muncul sambil membawa batu bara di karung kecil.

Sungmin dan Ryeowook mencibir lalu memutuskan membantu gadis-gadis para member yang kesulitan membawa koper-koper mereka. Yesung tetap tinggal dan membantu Siwon menyalakan bara api pemanggangan mereka. Siwon sedang sibuk berdecak-decak melihat gadis-gadis itu yang kelihatannya menolak bantuan Sungmin dan Ryeowook.

“Terkadang aku heran pada wanita,” Siwon memulai khutbahnya. Yesung memutar bola matanya. “Sudah tahu barang mereka berat, tapi masih saja menolak bantuan, ckckck,” pria necis itu berdecak.

Kali ini Yesung harus setuju dengan Siwon karena Sooyan yang kewalahan membawa barangnya juga sama sekali tidak meminta bantuan Yesung.

00000ooooo00000

“Maafkan aku, eomma,” kata Sooyan pelan. “Aku sudah berjanji akan menemani Hyeki weekend ini dan lagipula aku juga tidak punya rencana merayakan ulang tahun dengan teman mana pun selain Hyeki.”

Suara Ibu Sooyan terdengar khawatir.

“Tenang saja, besok malam aku sudah sampai di Seoul, okey?” kata Sooyan menenangkan ibunya. “Baik, baik, aku pasti akan makan malam di rumah.”

Setelah ibunya meninggalkan pesan-pesan, Sooyan memutuskan sambungan telepon mereka. Ah, Ibunya memang ibu paling baik sedunia yang sangat mengerti Sooyan. Ibu bahkan tidak marah saat Sooyan harusnya besok merayakan ulang tahunnya di rumah.

15 Desember hanya tinggal 1 jam lagi.

Ulang tahunya hanya tinggal hitungan jam, ah bahkan kurang dari 60 menit lagi saat Sooyan mengecek jam ponselnya.

Sebenarnya Sooyan bisa saja menolak pergi walaupun Hyeki sudah mengancam akan menculiknya. Namun dia benar-benar kesepian. Perasaan menyedihkan di saat tidak ada sama sekali yang mengingat hari ulang tahunnya. Keikutsertaannya ini menjadi semacam pelarian.

Saat ini Sooyan sedang duduk di beranda rumah tradisional milik keluarga Donghae. Di ruang tengah sekarang sedang terbaring orang-orang yang tertidur pulas karena Soju. Sooyan tidak suka soju, rasanya aneh bagi Sooyan. Sepanjang hari tadi dia merasa senang. Berkumpul dengan para member Super Junior dan gadis-gadis mereka ternyata tidak buruk, bahkan lebih menyenangkan daripada reuni sekolahnya.

Mereka memanggang daging, bermain jengga dengan hukuman-hukuman konyol yang baru pertama kali didengar Sooyan (Kyuhyun harus bicara dialek Mokpo sebagai hukuman), karaoke (tentu saja, dengan kembalinya si Raja Narsis, Kim Heechul) dan nostalgia berbagai hal – hal yang tidak terpikirkan. Sooyan cepat beradaptasi bahkan dengan Heechul yang terkenal suka sewot dengan gadis-gadis para member.

Sooyan merasa dirinya diterima, seolah menemukan dunia baru.

Dia merasa diperhatikan.

Disayang.

Lagi-lagi Sooyan menghela nafas.

“Sooyan-ah, jangan terlalu lama di luar, sekarang hampir tengah malam,” suara Nari sedikit berteriak agar Sooyan mendengar.

“Ya,” jawab Sooyan sedikit berteriak juga.

Angin malam berhembus membuat Sooyan merapatkan jaket dan syal yang membalut tubuhnya. Uap dingin keluar dari mulutnya. Dari kejauhan, Sooyan bisa mendengar suara ombak Laut Timur yang suka dibanggakan Donghae karena sama dengan namanya. Bau pantai mengalahkan udara dingin di sekeliling Sooyan.

Sooyan memejamkan matanya merasakan kenyamanan di sekelilingnya. Rasanya sepeti terapi.

Angin.

Ombak.

Pantai.

Dan salju.

Ah, kalau saja salju pertama turun malam ini.

“Ramalam cuaca bilang salju pertama akan turun malam ini. Kau disini karena menunggu salju?” Yesung mendadak muncul dan membuyarkan konsentrasi Sooyan.

Mata Sooyan membuka dan dia melihat pria itu berjalan mendekat. Yesung tertawa pelan dan duduk di sebelah Sooyan. “Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu kaget.”

Sooyan menggeleng. “Tidak apa-apa.” Bagaimana mungkin dia bisa bilang kenapa-kenapa kalau itu menyangkut Yesung.

“Jadi, menunggu salju?” Yesung bertanya lagi.

Kali ini giliran Sooyan yang tertawa. “Lebih tepatnya mengharapkan salju dan aku sama sekali tidak baca ramalan cuaca,” katanya.

Yesung mengangkat bahu. “Gadis-gadis lebih senang membaca horoskop,” gumam Yesung dan Sooyan tertawa lagi.

Betapa menyenangkannya bisa tertawa di saat seminggu ini dunianya terasa bagai neraka.

Sooyan baru menyadari betapa anehnya mereka yang bisa bicara dengan nyaman saat ini dibandingkan dengan beberapa puluh jam yang lalu saat mereka di dalam van. Tidak ada kecanggungan. Mungkin setelah melewati beronde-ronde permainan konyol dan berbagai macam curhatan saat makan malam tadi, kecanggungan itu sudah berubah menjadi asap. Hilang.

Sooyan melirik jam ponselnya lagi. Sekarang hanya tinggal 20 menit sebelum malam berganti dan umurnya bertambah. Mana Sooyan tahu bahwa sekarang yang duduk di sebelahnya sebelum usianya bertambah adalah bias nomer 1 nya di Super Junior. Wajah kalem pria itu yang sedang menggumamkan nada-nada.

Apakah malam ini Sooyan boleh menjadi egois? Bolehkah dia meminta sesuatu yang mungkin bisa dikategorikan sebagai ‘keajaiban’ dari pria di sebelahnya?

Satu keajaiban kecil saja.

“Salju!” pekik Yesung penuh semangat. Pria itu tiba-tiba berdiri dan berlari ke tengah halaman dengan sandal rumahnya.

Oppa! Heechul oppa akan mengomel kalau sandalmu kotor,” tegur Sooyan di tengah-tengah keinginannya untuk tertawa.

Butir-butir lembut halus mulai berjatuhan dari langit dan mendarat lembut di permukaan tanah. Butir-butir lembut favorit Sooyan seolah-olah salju membersihkan hatinya dan pikirannya yang penat.

Tangan Sooyan pelahan terjulur, ingin merasakan butir salju mendarat di telapak tangannya. Suhu mendadak menjadi lebih dingin, tapi Sooyan tidak peduli. Butir-butir salju menempel lembut di telapak tangannya. Dinginnya menyengat sekaligus memberi efek tenang di kulit Sooyan.

Salju pertama.

“Salju pertama!” pekik Yesung lagi yang masih berlarian di halaman. “Harapanmu terkabul, Sooyan-ah.”

Sooyan mengangguk. Harapannya terkabul.

Keajaiban pertama bulan Desember.

Sooyan buru-buru menurunkan tangannya begitu akal sehatnya kembali. Dia tidak sadar bahwa Yesung sudah tidak lagi berlari-lari mengelilingi halaman. Pria itu sekarang berdiri di hadapan Sooyan sambil menatap intens. Membuat Sooyan mengigil dengan alasan yang berbeda.

“Selamat ulang tahun!” kata Yesung.

Mata Sooyan membulat. Apa katanya?

“Selamat ulang tahun!” Yesung mengulang ucapannya.

Yesung tahu hari ini ulang tahunnya? Sooyan mengecek jam ponselnya. Pukul 00.00 KST.

Keajaibannya yang lain.

00000ooooo00000

Sooyan terlihat menawan. Itu pikiran Yesung. Berdiri dengan jaket putih dan syal wol hitam di antara butiran salju utama, pipi memerah karena dingin dan ekspresi wajah yang damai dengan tangan terjulur merasakan salju. She’s breathtaking, itu pujian yang pernah diajarkan Siwon pada Yesung.

Demi Tuhan, Yesung yakin 100% saat ini dia benar-benar jatuh cinta seperti yang dispekulasikan Sungmin dan Ryeowook.

Eskpresi wajah Sooyan berubah kaget saat Yesung mengucapkan selamat ulang tahun. Mungkin dia pikir Yesung tidak mencari tahu ulang tahun Sooyan, yah walaupun sebenarnya dia tidak perlu diberitahu saat Hyeki dengan sukarela menjadi ‘Perpus pribadi Yesung soal Sooyan’.

Yesung tersenyum kecil dan menghampiri Sooyan yang masih terlihat kaget. Diraihnya tangan Sooyan dan diletakkanya sebuah kotak kecil di dalam tangan Sooyan. Kotak kecil berbungkus kado hijau dengan pita emas di sekelilingnya. Dia menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan hadiah ini.

“Hadiah!” ujar Yesung. “Dan jangan berpikir untuk menolak.”

“Tapi …” protes Sooyan terhenti saat Yesung menggenggam tangannya, memaksa kotak kecil itu tetap ada di dalam genggaman Sooyan.

“For Clouds,” kata Yesung. ‘and mine.

Yesung tersenyum tulus dan Sooyan balas tersenyum. Perhatian mereka teralih saat bunyi denging microphone terdengar. Yesung melepaskan genggaman tangannya dan mendadak suhu terasa lebih dingin daripada saat ia menggenggam tangan Sooyan..

“Aa, aa, test, check sound,” suara Heechul terdengar dari ruang tengah.

Yesung berdecak kesal membayangkan apa yang akan dikatakan Heechul.

Ya! Kim Jongwoon, bawa Sooyan masuk supaya kita bisa mulai pesta ronde keduanya,” kata Heechul berteriak-teriak walaupun dia sudah memakai microphone. Terdengar cibiran sebal di sana sini dengan sikap Heechul yang semena-mena.

Yesung melirik Sooyan yang sekarang tertawa kecil. “Kau sudah dengar kan? Ibu Suri Heechul memanggil kita ke dalam,” tukas Yesung sebal.

Ya! Jangan lupa ganti sendal rumahmu,” omel Heechul lagi.

Sooyan tertawa lebih keras sedangkan Yesung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seluruh atmosfer romantis salju pertama berubah menyebalkan.

Yesung mulai berjalan menuju ruang tengah saat Sooyan menahan lengannya. Yesung menatapnya bingung.

“Terima kasih oppa, untuk hadiah dan ucapannya,” ujar Sooyan tulus, sedikit tersipu.

Yesung mengangguk. “Ayo!” katanya mengulurkan tangan.

Sooyan menyambut tangan Yesung dan kehangatan itu kembali, membuat Yesung bertanya-tanya apakah itu hanya imajinasi indera perasanya atau justru ini efek samping perasaannya. Apa pun itu, dengan senang hati Yesung berjalan beriringan bersama Sooyan menyambut pesta ronde kedua.

Pesta ulang tahun Sooyan.

00000ooooo00000

Dengan hati-hati, Sooyan membuka pita emas yang mengelilingi kotak hijau kecil itu. Dia sangat penasaran dengan hadiah Yesung. Sepanjang pesta tadi Sooyan tidak berhenti memikirkan kotak kecil yang berada di dalam saku jaketnya.

Sooyan merasa harus berterima kasih pada Hyeki, Nari serta eonnideul lain pacar para member Super Junior yang merencanakan pesta ulang tahunnya. Pesta ulang tahun Sooyan adalah agenda yang mereka perjuangkan mati-matian untuk bisa dimasukkan dengan acara jalan-jalan mereka bersama. Sooyan juga baru tahu bahwa ternyata sepanjang malam mereka membiarkan Sooyan di luar agar mereka bisa mendekorasi ruang tengah dengan leluasa.

Malam itu Sooyan menangis. Terharu pada kebaikan mereka.

Dia benar-benar merasa disayang.

Dengan hati-hati, Sooyan membuka kertas pembungkus kotak kecil itu dan dia tersentak saat melihat isinya.

Sebuah cincin di dalam kotak bening.

Cincin yang sama seperti cincin yang diberikan Sooyan tempo dulu. Cincin kuil Shan.

Sooyan yakin ini bukan cincin yang diberikannya untuk Yesung. Karena saat Yesung menggengam tangannya tadi, Sooyan bisa melihat Yesung masih memakai cincin yang diberikannya. Sooyan yakin Yesung pasti pergi ke kuil Shan dan meminta cincin itu pada biksu di sana.

Yesung memberikan Sooyan apa yang pernah Sooyan berikan padanya.

Sooyan mengangkat kotak bening itu dan melihat ukiran dalam huruf hangul di sana. Sooyan paham betul itu yang paling dibutuhkannya sekarang.

Kesehatan dan kebahagiaan.

Keajaiban lagi dalam Desember.

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Sooyan. ‘Semoga kesehatan dan kebahagiannya selalu menyertaimu. Wanna add me in your happiness?– YS’

Sooyan tertawa. Keajaiban lagi.

Dia sudah lupa berapa banyak keajaiban yang bisa dihitungnya malam ini. Entahlah, mungkin dia lupa bersyukur dan hanya sering melihat pada hal-hal yang tidak menyenangkan. Bagaimana mungkin Sooyan bisa menghitung keajaibannya saat Yesung dengan mudahnya menyimpulkan seluruh keajaibannya malam ini.

Sooyan menyelipkan cincin itu ke tangannya. Dia yakin besok pagi para member dan gadis-gadis mereka akan heboh dengan cincin kembar Yesung dan Sooyan. Tapi seperti kata Yesung, bukankah sedikit skandal akan memberi tantangan dalam hidup?

Dengan hati ringan, Sooyan berbaring di kamarnya dan menatap langit-langit. Dia masih bisa mendengar debur ombak di kejauhan dan Hyeki yang bergumam dalam tidurnya di sampingnya.

Benar-benar keajaiban yang menyenangkan di bulan Desember.

Sebagai keajaiban terakhirnya, Sooyan tertidur lelap untuk pertama kalinya selama seminggu ini.

*THE END*

A.N 1: Hey Sooyan, cheers! Happy belated birthday!! – Hyeki

A.N 2 : What a ficts! Susah banget euy nulisnya. Saya udah nyerah sama tema ulang tahun kayanya. Please, tetap komen 🙂 

Advertisements

2 thoughts on “Miracle in December

  1. kak, aku bacanya bener ngga sih urutannya? Ini ceritanya itu harusnya setelah apa sebelum love disease?

    ‘Sedikit skandal akan memberikan tantangan dalam hidup’ apaan?! orang pisah sama sooyan yang tujuannya biar sooyan aman, ngga diteror fans, itu aja Yesung udah galau -,- dasar! haha xD
    aduuh sooyan ternyata lucky fans, lucky clouds. lucu juga ngebayangin heechul teriak-teriak,ngomel-ngomel kaya gitu. bener bener udah kaya emak-emak *plak. Kak, aku tebak, 15 Desember itu ulang tahun kak Qiqi bukan? *sotoy.
    Wah, bener-bener keajaiban di bulan desember. 5 MIRACLES.

    Like

    1. bukaan, aku lahirnya bulan April haha
      15 Desember itu ulang tahun temanku yang suka banget sama yesung makanya aku nulis semua seri SCS juga request-an dari diaa
      baca SCS nya ngacak aja gpa2 kok, aku juga nulisnya ga ngurut sebenarnya

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s