Unspeakable Words

Title : Unspeakable Words

Cast : Hyeki, Jungsoo, Kyuhyun, Donghae

Genre : Bromance, Family, Angst

Rating : G

Lenght : Oneshot

* * *

UW

Unspeakable Words

Hyeki membuka pintu apartemennya dengan terburu-buru dan terpekik kaget saat melihat lampu apartemennya sudah menyala. Inyoung sedang di luar negeri menghabiskan cutinya bersama SeungHo. Sooyan sedang sibuk mengurus Yesung yang katanya baru saja cedera. Tidak ada orang lain yang mengetahui password apartemennya selain orang-orang tadi.

“Kenapa kau bengong di depan pintu?” tanya sebuah suara bass.

Hyeki terlonjak. “Kau mengagetkanku, Oppa!” sungut Hyeki sebal.

Pria yang sedikit botak itu hanya nyengir lebar, memperlihatkan lesung pipinya.

“Kenapa bisa ada di sini?” Hyeki bertanya heran sambil meletakkan ranselnya di ruang TV.

“Aku dapat jatah libur, ingat?” ujarnya sambil tersenyum.

Hyeki baru menyadari bahwa pria itu mengenakan apron dan mengacung-acungnya spatula.

Oppa memasak?” tanya Hyeki sangsi.

Pria itu mencibir mendengar pertanyaan Hyeki. “Di kamp militer aku juga memasak tahu,” jawabnya sedikit ketus.

Hyeki hanya terkikik geli. Diam-diam dia merasa senang menemukan Jungsoo di apartemennya. Kakaknya terlihat sehat, walaupun kulitnya sedikit menghitam dibandingkan dengan yang diingatnya.

Sepuluh menit kemudian, sepanci kimchi jiggae dan makanan pelengkapnya sudah hadir di atas meja makan yang lebih sering digunakan Hyeki untuk mengerjakan tugas. Hyeki menyantap nasi yang mengepul sambil menatap oppanya. Dia rindu. Jelas sekali.

“Setelah makan nanti, kau bisa memelukku sepuasnya, Hyeki-ya,” ujar Jungsoo kalem.

Peluk? Hyeki mendengus. Bagaimana mungkin Jungsoo bisa membaca pikirannya? Kalau saja tadi Jungsoo tidak sedang memasak, mungkin Hyeki sudah menghambur memeluknya.

Setelah makan, dua kakak beradik itu malah duduk di depan televisi sambil menonton koleksi DVD Spongebob Squarepants milik Hyeki. Jungsoo tidak protes. Kebetulan dia sedang butuh tertawa dan ditemani, jadi dia akan melakukan apa pun asalkan Hyeki duduk tenang di sebelahnya.

Hyeki melirik Jungsoo, paham benar dengan tabiat kakaknya. Jungsoo terlihat gelisah, namun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Hyeki.

Oppa tidak ingin bertemu eomma?” tanya Hyeki pelan.

Jungsoo terdiam sesaat sebelum menjawab. “Ingin, tapi aku tidak bisa,” suara serak Jungsoo yang menyahut. Jungsoo memaki, kenapa suaranya mendadak menjadi serak.

Oppa juga tidak ingin bertemu Super Junior oppadeul?” Hyeki bertanya lagi.

Kali ini Jungsoo hanya diam tanpa menjawab.

“Yesung oppa mengalami cedera kaki, oppa sudah tahu? Sooyan kemarin malam menginap di sini, menangisi nasib pacarnya yang katanya tidak bisa ikut Sushow 5,” jelas Hyeki panjang.

Ucapan Hyeki bagaikan tusukan jarum di kulit Jungsoo, tidak sakit namun cukup menyengat.

“Aku tahu,” hanya itu yang diucapkan Jungsoo membuat Hyeki terdiam.

Jungsoo mengulurkan tangannya, lalu membiarkan adik bungsunya menggengam tangannya. Dia menarik gadis itu ke dalam pelukannya, membuat Hyeki terheran-heran.

“Nah, sekarang siapa yang kangen siapa?” goda Hyeki nakal.

“Oh,diamlah!” gerutu Jungsoo sedikit terkekeh.

Hyeki ikut tertawa kecil.

Jungsoo memeluk tubuh mungil adiknya, menopangkan dagunya ke puncak kepala gadis itu. Lalu dia mulai bersenandung di antara kebisingan yang ditimbukan oleh Spongebob dan Patrick.

Waktu terasa berhenti bagi Jungsoo, seakan semuanya hanya ilusi. Wajib militer. Member Super Junior. Sushow. GDA. Mubank. Sukira. StrongHeart. Eomma. Appa. InYoung. Hyeki. Semua hal itu berputar dalam benaknya bagaikan film. Semua hal yang dirindukannya. Dia tidak tahu pada siapa harus mengatakan semua kecemasannya, rasa takutnya dan hal-hal lain akan masa depannya. Memeluk Hyeki memberinya waktu untuk berpikir.

Jungsoo tidak tahu berapa lama dia melamun memikirkan semua kekhawatirannya sampai Hyeki tiba-tiba berdeham.

“Ng, oppa, filmya sudah habis. Oppa mau aku memutarkan film lain?” tanya Hyeki pelan.

Jungsoo melepaskan pelukannya. “Tidak, tidak usah. Kau bisa tidur. Oppa akan kembali ke kamp pagi-pagi,” jawab Jungsoo.

Hyeki tidak membantah. Gadis itu menurut perintah Jungsoo, mematikan televisi dan beranjak menuju kamarnya.

“Aku tidak tahu oppa mengkhawatirkan siapa, tapi aku selalu siap kalau oppa mau cerita,” ujarnya tiba-tiba sebelum menutup pintu kamar.

Jungsoo tersenyum dan mengangguk sekilas. Tiba-tiba dia merasa ingin bicara dengan seseorang. Jemarinya menarik telepon di dekat sofa, menekan kombinasi nomer dan menunggu nada dering.

Yobseyo?” suara di seberang terdengar mengantuk.

Jungsoo hanya diam. Tidak ingin berkata apa pun.

“Kau baik-baik saja Hyeki-ya? Kenapa  tidak menelepon menggunakan ponselmu, huh?” tanya suara itu masih dengan nada mengantuk.

Jungsoo terkekeh kecil mendengar suara menggerutu itu. Sejak kapan dia tidak suka tidurnya diganggu? Ah, benar, kecuali kalau dia sudah beberapa hari tidak tidur.

Ya?!” suara itu kembali mengomel. “Anak nakal, kau mau mengerjaiku?”

Sudah cukup. Jungsoo meletakkan gagang telepon kembali di tempatnya. Sudah cukup dia menikmati hari liburnya. Dia tidak tahan berlama-lama di luar karena ini membuat rindunya pada orang-orang yang disayanginya semakin meluap.

Jungsoo bangkit dan meraih mantelnya setelah meninggalkan catatan kecil di nakas meja telepon. Pria itu lalu bangkit dan menuju pintu.

Gomawo,” ucapnya.

Bunyi bel pintu apartemen benar-benar menganggu tidur Hyeki. Hyeki terduduk di tempat tidurnya dalam keadaan setengah sadar dan mengucek matanya yang masih terasa berat. Hyeki melirik jam di kamarnya. Sekarang pukul setengah tiga pagi. Orang gila macam apa yang bertamu di jam larut malam begini? Lagipula, Jungsoo oppa kan ada di ruang tamu, mengapa tidak membukakan pintu?

Masih berbalut selimut dengan rambut kusut dan memeluk boneka, Hyeki beranjak keluar kamar.

Oppa, kenapa kau—?” ucapan Hyeki terpotong saat dia tidak melihat Jungsoo dimana pun.

Hyeki mengecek kamar InYoung dan kamar tamu, namun kosong. Bahkan mantel dan sepatunya sudah menghilang. Hyeki menghela nafas. Kebiasaan buruk.

Bel pintu masih berdering. Hyeki beranjak pelan mengintip lubang pintu dan melihat dua pria bermasker di luar. Hyeki mengenali topi dan mantel yang mereka pakai.

Hyeki membuka pintu dan kedua pria itu langsung menyerbu masuk.

“Ya?! Kau dirampok? Apakah terjadi sesuatu padamu?” pria yang satu, bertubuh pendek dengan rambut pirang yang tertutup topi sudah mencengkram lengan Hyeki. Mengamati tubuh gadis itu kalau-kalau ada lebam atau sesuatu hal yang sesuai dengan hal-hal melankolis yang dibayangkannya.

Sedangkan pria tinggi berambut cokelat dengan kantung mata tebal hanya berdiri bersedekap sambil menatap Hyeki tajam.

“Kalau teleponmu tadi itu hanya main-main, itu keterlaluan Hyeki-ya,” ucapnya dengan nada dingin. “Semua hyung panik menyuruh kami kemari.”

Hyeki mengernyit. Telepon?

“Maksudmu, Kyuhyun oppa?” tanya Hyeki tak paham.

“Eiiyy, jangan pura-pura! Menelepon dari telepon rumah, tidak bicara apa-apa dan saat kutelepon ke ponsel, ponselmu mati! Kau mau mengerjaiku?” omel Kyuhyun dengan sebal.

Hyeki masih menatap kedua personil super junior itu dengan keheranan, sampai kemudian sebuah pemahaman menghampirinya. Gadis itu tidak menjawab Kyuhyun maupun Donghae, melainkan beranjak menuju meja telepon. Gadis itu menyerahkan catatan yang dibuat Jungsoo ke hadapan wajah dua pria itu.

“Jungsoo hyung?” tanya Donghae tak percaya.

“Benar,” jawab Hyeki singkat, sambil merapikan sedikit rambutnya yang acak-acakan.

Kyuhyun mengenggam catatan itu erat-erat. “Tapi kenapa? Kenapa tidak bicara saja padaku?” tanyanya frustasi. Dia juga merindukan hyung nomer 1nya itu.

Hyeki menghempaskan dirinya di sofa. “Mungkin dia memang tidak ingin bicara. Dia hanya ingin mengecek apakah kalian baik-baik saja,” ujar Hyeki pelan. “Jungsoo oppa juga tidak berkata apa-apa padaku. Dia hanya memelukku dan bersenandung selama hampir satu jam,” tambahnya.

Kyuhyun terduduk di samping Hyeki dan mengacak rambutnya.

“Kembalilah ke dorm, oppa. Jungsoo oppa akan baik-baik saja,” kata Hyeki.

Donghae menepuk pundak Kyuhyun. “Ayo, Kyu! Kita pulang,” ajaknya.

Keduanya pamit dan meninggalkan apartemen Hyeki. Wajah Kyuhyun masih tertekuk. Dia pasti merasa sedih.

Hyeki menutup pintu dan menghela nafas. Dia bahkan tidak berpisah dengan benar dengan kakaknya. Hyeki tersentak dan berlari menuju ponselnya yang kehabisan baterai. Begitu ponsel itu menyala, Hyeki langsung membuka aplikasi pesan suara.

“Hiduplah dengan baik! Aku merindukan dan sangat menyayangimu. Jungsoo oppa.”

Pesan singkat yang sama dengan yang tertulis di kertas. Hyeki menyeka air matanya.

Uri angel. Uri oppa.

Oppa juga harus hidup dengan baik selama di sana,” gumam gadis itu.

– Unspeakable Words. Fin-

AN : Just another random things~

Advertisements

3 thoughts on “Unspeakable Words

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s