Time For Us : Time 13 [Final]

time for us2

Time 13 Finish Line

Choi Siwon menatap pigura besar berisikan foto seorang wanita muda yang cantik dengan eye smile. Gaun putih yang dikenakan wanita itu kontras dengan latar foto yang berwarna hitam memberi kesan innocent pada wanita itu. Siwon menatap foto itu dalam-dalam. Hatinya masih berdesir setiap kali dia melihat rupa wanita itu dimana pun, di wallpaper handphonenya, di pigura yang lebih kecil di kamarnya atau di kantornya.

Orang bilang cinta terkadang bisa membuat seseorang buta. Begitulah yang dirasakan Choi Siwon. Rasa cintanya yang dalam terhadap wanita itu telah membuatnya menjadi seperti ini.

Siwon masih bisa merasakan bagaimana sakitnya hatinya saat wanita itu lebih memilih Lee Donghae, bawahannya yang tidak bisa apa-apa daripada dirinya penguasa K Group yang kaya raya. Hatinya semakin marah saat mengetahui wanita itu bahkan sudah memiliki seorang putra dengan Lee Donghae. Di tengah kegilaannya Choi Siwon akhirnya memutuskan memaksa wanita itu untuk ikut bersamanya dan tanpa sengaja membawa serta putra Donghae. Puncaknya yang membuat Siwon gelap mata adalah wanita itu harus tewas, membuat Siwon menangis sambil memeluk tubuh wanita itu yang berlumuran darah. Wanita yang dicintainya pergi demi melindungi Lee Donghae dan putranya.

Siwon melemparkan gelas wine dengan marah, membuat gelas itu hancur berkeping karena menubruk dinding. Pecahan kacanya bergemerlapan di lantai marmer.

Cintanya pada Hyojin tak pernah tersampaikan dan dia tidak akan membiarkan orang-orang ini hidup tenang. Kita sudah memasuki masa akhir dari permainan ini dan akan melihat siapa yang paling dulu mencapai garis akhir.

* * *

“Kau sudah tahu tapi tidak mau mengatakannya padaku bukan? Itukah kenapa alasannya kau pindah divisi? Apakah itu pula alasannya kau menjadi dingin padaku di pemakaman?” tanya Minho bertubi-tubi pada Hyemi.

Hyemi hanya diam, bersandar pada pantry dapur sambil menyesap kopinya. Dia tidak ingin menjawab semua pertanyaan Minho.

“Bicaralah padaku, Hyemi-ya, jebal,” pinta Minho sungguh-sungguh. Kang Hyemi bisa membuatnya gila bila dia menyembunyikan banyak hal yag berkaitan dengan keselamatan Hyeki.

Hyemi akhirnya menatap Minho dingin. “Kau bertanya karena kau khawatir mengenai gadis itu atau karena kau benar-benar khawatir padaku?” tanyanya.

“Aku khawatir pada kalian berdua,” jawab Minho, berusaha tidak memihak siapa pun.

Hyemi mengangkat sebelah alisnya. “Oh, rupanya kau dan dia belum mencapai hubungan resmi hingga kau belum berani mengatakan dia lebih penting daripada aku,” simpul Hyemi sambil tertawa kasar.

Hyemi membuang gelas kertas bekas kopinya ke dalam tempat sampah, lalu berjalan pergi. Meninggalkan Minho yang mematung di hadapannya.

“Bersiaplah, surat penahanan akan dikeluarkan hari ini. Kau akan berurusan dengan Choi Siwon dan aku akan berurusan dengan Park Jungsoo,” ujar Hyemi menghentikan langkahnya. “Ah, rasanya menyenangkan sekali bisa mengunjungi perusahaan megah keluarga Park itu.”

Minho tertegun mendengar ucapan Hyemi. “Apa maksudmu? Penahanannya akan dilakukan secepat itu?” tanya Minho terkejut.

Hyemi tidak menjawab. Gadis itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Minho yang sendirian di dapur kantor kejaksaan. Tidak, tidak, dia harus melakukan sesuatu. Hyeki akan terpukul jika sesuatu terjadi pada ayahnya.

Minho meraih ponselnya yang ada di saku jas, menekan tombol panggilan darurat nomer 1. Nama Hyeki berkelap-kerlip di layar ponselnya, menunggu panggilan masuk. Lama tak diangkat, hingga…..

* * *

Hyeki memandang ballroom yang akan digunakan untuk pernikahan Kyuhyun dan Nara. Ballroom besar dan mewah yang memang cocok untuk mengadakan pernikahan putri tunggal keluarga Kwan. Nara ada di salah satu sisi ballroom bersama Nyonya Kwan sedang berbicara serius dengan pengelola gedung. Hyeki mengelilingi sisi ballroom lain sambil melihat-lihat.

Choi Siwon. Nama itu terus menerus bergaung di kepala Hyeki sejak Jungsoo menyebutkannya kemarin. Nama yang familiar sekaligus menakutkan baginya. Dulu Hyeki sangat berharap appa akan menceritakan segalanya tentang memori yang dilupakannya tapi mendengar semua jawaban dari appa membuatnya kebingungan. Siapkah dia untuk mendengar fakta lain mengenai kehidupannya?

Ah, Hyeki menggelengkan kepalanya pelan, berusaha membuat kepalanya jernih. Tidak mungkin Choi Siwon yang dimaksud appanya adalah orang yang sama. Jungsoo menggambarkan sosok Choi Siwon sebagai orang yang mengerikan namun Choi Siwon yang dikenal Hyeki tidak seperti itu. Dia ahjusshi ramah yang bisa menghargai Hyeki sebagai Park Hyeki, bukan sebagai putri kandung Park Jungsoo. Tapi dia harus memastikan sendiri bahwa spekulasinya benar. Untuk itu, Hyeki yakin sekali dia perlu ke Ilsan. Dia akan kesana, mungkin dengan sedikit mengancam Kibum atau kabur darinya.

Hyeki menoleh saat merasa namanya dipanggil. Nara dan Nyonya Kwan melambai, menyuruhnya mendekat. Hyeki berjalan mendekati Nara sambil memasang wajah gembira. Nara tidak boleh tahu apa yang terjadi padanya.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Nara pada Hyeki.

“Bagus, aku suka. Ruangan ini luas sekali dan bisa menampung banyak tamu,” jawab Hyeki seadanya.

Nyonya Kwan merangkul Hyeki dengan sayang. “Setelah ini kita akan ke dapur hotel untuk mencicipi beberapa pilihan makanan, kau tidak keberatan kan Hyeki-ya?” tanya Nyonya Kwan.

Hyeki menggeleng. “Tidak apa-apa, aku sedang bisa makan enak,” jawabnya sambil nyengir.

Mereka bertiga berjalan menuju dapur hotel diikuti pelayan-pelayan keluarga Kwan. Pengurus gedung sudah menyiapkan beberapa pilihan hidangan untuk jamuan pernikahan nanti. Hyeki tersenyum senang melihat semua makanan enak itu. Nyonya Kwan dan Nara sudah mulai mencicipi saat Hyeki merasa ponselnya bergetar. Hyeki meraih ponselnya dan terpekik kaget saat nama Minho muncul di layar.

Hyeki memberi isyarat permisi pada Nara, lalu berjalan keluar dari dapur untuk mengangkat telepon. Minho memang senang muncul di saat yang tak terduga.

Yobseyo?” sapa Hyeki.

Yang pertama kali Hyeki dengar adalah desahan nafas penuh kelegaan yang keluar dari mulut Choi Minho. Hyeki mengernyit. Waeyo? Memangnya dia sedang ada dalam masalah besar sehingga Minho merasa sangat lega ketika Hyeki mengangkat teleponnya?

“Apa yang terjadi?” tanya Hyeki lagi.

Minho berdeham. “Hyeki-ya, dengar baik-baik! Apa pun yang terjadi setelah ini akan membuatmu shock, tapi percayalah padaku, aku akan selalu membantumu,” ujar Minho.

Hah? Hyeki melongo, bingung dengan perkataan heroik Minho.

“Kau ada dimana sekarang?” tanya Minho.

“Hotel, aku sedang menemani Nara eonni dan Kwan eomonim mengecek ballroom untuk pernikahan Kyuhyun oppa dan Nara eonni,” jawab Hyeki.

“Kau datang bersama Kibum?”

“Ne,” jawab Hyeki. Apa sih yang sedang dipikirkan Minho, batinnya kesal.

“Aku akan memberikan alamat rumahku di Ilsan. Kau harus ke sana secepat mungkin dengan atau tanpa Kibum. Jangan biarkan ada orang lain yang mengetahui keberadaanmu selain aku, arraseo?” ujar Minho cepat.

Hyeki terdiam. Ilsan? Minho memberikan alamat rumahnya di Ilsan? Apakah itu berarti Hyeki bisa mengunjungi rumahnya juga? Makam orangtuanya? Hyeki menelan ludah. “Waeyo? Kenapa aku harus ke sana?” tanya Hyeki bingung.

“Bukankah kau ingin mengetahui kebenarannya? Bukankah kau ingin mengingat masa kecilmu?” Minho balik bertanya.

Ne,” jawab Hyeki gelisah.

“Akan kukirimkan alamatnya sekarang dan bergegaslah,” ucap Minho lagi. Nada bicaranya terburu-buru.

“Aku tahu, aku akan mengabarimu jika aku sudah di jalan,” kata Hyeki lemah.

“Hati-hati,” ujar Minho. “Dan Hyeki-ya, aku menyayangimu,” tambah Minho sebelum menutup teleponnya.

Hyeki terdiam. Berdiri kaku dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Apa yang tadi Minho katakan? Minho menyayanginya? Sebagai apa? Sebagai adik seperti Jinki, Kyuhyun dan Nara? Sebagai sahabat seperti Hyemi? Atau sebagai seorang gadis?

Hyeki masih berdiri dalam pose kaku yang sama ketika menutup telepon saat ponselnya yang bertipe android itu bergetar lagi. Sebuah alamat lengkap di Ilsan muncul di layar ponselnya. Hyeki menarik nafas berusaha menenangkan dirinya. Nanti saja dia akan mengkonfirmasi apa maksud Minho tadi, tapi untuk sekarang memperjelas masa kecilnya lebih penting.

Hyeki menoleh ke belakang, memastikan Nyonya Kwan dan Nara masih berada di dapur hotel. Dengan langkah cepat, dia menuju pintu lobby samping hotel mencegah pertemuan dengan Kibum yang dipaksanya menunggu di lobby depan hotel. Dalam hitungan menit, Hyeki sudah berhasil duduk nyaman di dalam taksi. Dia menyebutkan alamat yang dikirimkan Minho kepada supir taksi itu dan taksi itu melaju, membawanya meninggalkan Seoul menuju Ilsan. Pelan, jemari Hyeki mengetikkan pesan singkat untuk Minho seperti janjinya tadi. Jantungnya berdegup keras membayangkan apa yang menunggunya di Ilsan.

* * *

Jungsoo menatap layar ponselnya, melihat GPS ponsel Hyeki berkedip di layarnya. GPS itu menunjukkan lokasi Hyeki yang semakin bergerak menjauh dari pusat kota, menuju jalan yang akan membawanya ke luar dari Seoul. Jungsoo tersenyum kecut, gadis itu benar-benar putrinya sehingga Jungsoo bahkan merasa dia bisa membaca pikiran putrinya itu.

Jungsoo mendongak ketika pintu ruangannya terbuka. Lee Jinki masuk ke dalam dengan langkah kaku. Dia mengenakan jas hitam dipadu dengan kemeja merah darah. Rambutnya sudah dipotong rapi dan kakinya beralaskan pantofel. Jungsoo sudah menyuruh asistennya mendadani Jinki. Hari ini adalah hari penting untuk Jinki.

Jungsoo tersenyum pada Jinki yang balas tersenyum kaku.

Ahjusshi, aku tidak harus berpakaian seperti ini,” seru Jinki tertahan.

Waeyo? Aku ingin anak laki-lakiku terlihat tampan. Cha~ seluruh direksi sudah menunggu di ruang rapat,” ajak Jungsoo sambil menepuk bahu Jinki memberikan semangat.

Jinki berjalan mengikuti Jungsoo, memasuki ruang rapat yang dipenuhi oleh laki-laki yang memegang saham di Park Corp atau sebagai CEO di berbagai cabang perusahaan kecil milik Park Corp. Beberapa dari mereka memasang wajah tak ramah.

Jungsoo maju ke podium, tersenyum memamerkan lesung pipinya pada semua dewan direksi yang menatapnya dengan tak ramah.

“Tujuan rapat hari ini adalah untuk menentukan nasib perusahaan ini. Aku sudah merasa aku butuh istirahat untuk beberapa bulan dan karena putri kandungku, Park Hyeki masih sangat muda aku merasa putriku belum mampu memimpin perusahaan,” ujar Jungsoo membuka pidatonya.

Beberapa dewan direksi saling menatap dan berbisik-bisik mengenai apa maksud Jungsoo. Jinki duduk kaku di kursinya, sama sekali tercengang dengan ucapan ayah angkatnya.

“Aku tidak meminta persetujuan dari para dewan direksi karena aku tetap pemegang saham terbesar dalam perusahaan ini. Tujuanku hanyalah memperkenalkan secara resmi sosok yang akan mengantikan posisiku selama beberapa bulan aku beristirahat,” ujar Jungsoo lagi. Dia tersenyum berusaha menenangkan dewan direksi yang mulai berbisik-bisik lebih keras.

“Namanya Lee Jinki, putra sahabatku Lee Donghae sekaligus anak angkatku,” tangan Jungsoo menunjuk Jinki yang terdiam di kursinya. “Pria muda ini lulusan MIT dan dia sangat jenius, dia sudah pernah membantuku dalam mengurus perusahaan yang lebih kecil, jadi kujamin pria muda ini akan sangat berpengalaman dan tidak akan mengecewakan kalian,” tambah Jungsoo dengan nada bangga.

Pengacara keluarga Park muncul sambil membawa dokumen berisikan pengalihan kekuasaaan perusahaan kepada Jinki. Jungsoo turun dari podium, menandatangin dokumen itu dan mencapnya dengan seal miliknya. Jinki juga ikut menandatangani, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Para dewan direksi bertepuk tangan walaupun mereka sangat kebingungan dengan keputusan tiba-tiba Park Jungsoo.

Ya, inilah yang sudah direncanakan Jungsoo sejak lama. Dia mencari kekuatan hukum untuk membuat Jinki benar-benar sah secara hukum sebagai anak angkatnya dan memberinya kekuasaan untuk memimpin Park Corp saat dia tidak ada nanti.

Jungsoo kembali naik ke podium untuk melanjutkan pidatonya. “Lee Jinki cepat atau lambat memang akan memimpin Park Corp, aku hanya memberinya kesempatan untuk beradaptasi. Pria muda ini adalah tunangan putriku, dia akan membantu memimpin perusahaan ini bersama putriku saat waktunya tiba nanti,” ujar Jungsoo.

Lalu dia turun dari podium dan pemimpin rapat mempersilahkan Jinki melakukan presentasi. Tidak mengejutkan, Jinki melakukannya dengan baik. Membuat wajah-wajah ragu para dewan direksi berubah menjadi pandangan kagum. Jungsoo hanya mengulum senyum saat melihat para dewan direksi menyelamati Jinki atas presentasinya yang mengagumkan.

Lihat kan? Dia tidak pernah salah. Setidaknya dengan ini dia sudah menyelamatkan banyak hal. Hyeki, Jinki, dan Park Corp yang dibangunnya dengan susah payah.

* * *

“Apa maksudnya ini?” tanya Jinki saat Jungsoo dan dirinya sudah berada di dalam ruang kerja Jinki yang baru.

Jungsoo tidak menjawab, malah mendekati meja Jinki, mengelus papan pengenal bertuliskan ‘CEO Jinki Lee’ dalam hangul dan inggris. Beberapa foto Jinki dan Hyeki serta foto orangtua Jinki juga sudah dipindahkan dari kantor lama Jinki kemari. Pigura-pigura itu kini menghiasi bagian lemari buku.

Jinki masih menunggu Jungsoo menjawab. Dia berdiri kaku di dekat jendela.

“Apa maksudnya ini?” ulang Jinki lagi.

Jungsoo menoleh, tersenyum samar. “Aku hanya bermaksud baik, Jinki-ya,” jawab Jungsoo singkat.

Jinki mengernyit. Bermaksud baik? “Apa maksud ahjusshi? Kenapa aku tiba-tiba ditunjuk sebagai CEO? Dan kenapa ahjusshi menyebutku…..” Jinki tidak mampu menyelesaikan perkataannya. Tunangan Hyeki? Jinki bahkan tidak pernah bermimpi Jungsoo akan menyebutnya seperti itu.

Jungsoo menghela nafas. “Karena untuk beberapa waktu aku tidak akan berada di sini untuk mengawasi perusahaan,” jawabnya. “Dan kalau kau keberatan dengan tugas sebagai tunangan Hyeki, aku yakin Choi Minho akan melakukannya dengan senang hati,” sambung Jungsoo dengan kerlingan menggoda.

Jinki terdiam. Tidak, dia tidak menginginkan sebutan sebagai tunangan Hyeki, tapi dia juga tidak bisa menyerahkan Hyeki pada Minho begitu saja. Jinki memutuskan untuk tidak menyahut. Mempercayai Jungsoo adalah hal paling bijaksana yang bisa dilakukannya sekarang.

“Park sajangnim,” seru sekretaris Jungsoo yang tiba-tiba menghambur masuk ruangan Jinki tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Sekretaris itu menggumamkan permintaan maaf dan buru-buru mendekati Jungsoo dan Jinki. Wanita itu terlihat panik dan cemas.

“Ada apa ini?” tanya Jinki dengan nada dingin.

Joseonghamnida, di luar ada Jaksa Cho dan Jaksa Kang dari Kejaksaan Seoul. Mereka ingin bertemu Anda,” ujar sekretaris itu takut-takut.

Kening Jinki berkerut. Jaksa?

“Baiklah, katakan pada mereka untuk menunggu. Aku akan menemui mereka setelah membicarakan beberapa hal penting dengan Lee sajangnim,” ujar Jungsoo ramah.

Sekretaris itu mengangguk, lalu pamit dan meninggalkan ruangan. Jungsoo berbalik menatap Jinki yang balas menatapnya bingung.

“Apa yang dilakukan jaksa-jaksa itu di sini?” tanya Jinki tak mengerti.

Jungsoo memegang bahu Jinki, mengabaikan pertanyaannya. “Ingatlah, kalau kau sekarang ada CEO Park Corp. Jangan sekali-kali mencetuskan nama perusahaan ayahmu, mengerti?” pesan Jungsoo pada Jinki.

Jinki mengangguk.  Berbagai pertanyaan yang muncul di benaknya terpaksa ditutupnya rapat-rapat.

“Aku harus pergi dan aku memercayakan Hyeki padamu. Cari dia di Ilsan, dia pasti ada di sana,” ujar Jungsoo, lalu melangkah keluar ruangan.

Jinki berjalan di belakang Jungsoo, mengikuti ayah angkatnya itu menghadapi para jaksa di lobi depan perusahaan. Jaksa Cho Kyuhyun yang sangat dikenal Jinki serta seorang jaksa wanita yang diduga Jinki bernama jaksa Kang bergegas mendekat. Keduanya menjabat tangan Jungsoo dan Jinki.

“Kami membawa surat perintah penangkapan Anda, Tuan Park. Anda diduga terlibat dalam perdagangan senjata ilegal dan terkait dengan pembunuhan Kang Seunghyun,” ucap Jaksa Kang dengan wajah dingin.

Jinki menatap wajah jaksa Kang dan mendadak dia mengenalinya. Tidak salah lagi, dia putri Kang Seunghyun sendiri.

“Tunggu dulu,” Jinki menyela. “Apa kalian punya bukti yang kuat?”

Jaksa Kang menoleh ke arah Jinki, menghujamnya dengan tatapan tajam. “Kami memiliki cukup bukti yang bahkan bisa langsung menyeretnya ke penjara,” sahut Jaksa Kang.

Kyuhyun maju ke antara mereka, ikut menyela. “Tuan Park akan dipanggil mengikuti prosedur. Kau tidak perlu khawatir, beliau akan dibebaskan bila tidak terbukti bersalah,” ujar Kyuhyun menenangkan Jinki mulai dikuasai amarah. Kang Hyemi – Jaksa Kang yang dimaksud Jinki- mendengus mendengar ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun menepuk bahu Jinki sekilas, sementara Hyemi bergegas memborgol Jungsoo dan membawanya menuju mobil jaksa. Jungsoo melemparkan pandangan menenangkan dan mengangguk ringan. Para petugas kejaksaaan mulai menerobos masuk dan menuju ruang kerja Jungsoo untuk mengamankan berbagai barang bukti. Beberapa pegawai perusahaan hanya tertegun dan menutup mulut dengan kaget saat melihat CEO Park mereka digiring oleh petugas kejaksaan.

“Aku akan menjaganya selama dia di kantor kejaksaaan. Aku harap kau segera menghubungi Hyeki. Mendengar ayahnya ditahan pasti akan membuatnya terpukul,” saran Kyuhyun pada Jinki.

Jaksa muda itu menepuk bahu Jinki bersimpati, kemudian pamit dan mengikuti Hyemi menuju mobil jaksa. Mobil itu melaju meninggalkan halaman depan lobi perusahaan. Mata Jinki mengikuti pergerakan mobil itu sampai mobil itu tidak terlihat lagi di balik gerbang perusahaan.

Jinki berbalik dan berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Dihempaskannya tubuhnya di atas kursi. Matanya menerawang sementara otaknya berputar memikirkan apa yang terjadi saat ini. Jadi inilah yang dimaksud Jungsoo mengapa dia harus menyerahkan posisinya sebagai CEO pada Jinki saat ini juga. Itulah mengapa Jungsoo melarangnya bekerja di perusahaan milik ayahnya. Itulah mengapa Jungsoo mengumumkan bahwa Jinki adalah tunangan Hyeki. Ada konspirasi di balik ini semua dan Choi Siwon pasti terlibat.

Jinki meraih telepon, menekan tombol darurat yang menghubungkannya dengan sekretarisnya. “Tolong perintahkan Yesung ahjusshi ke ruanganku. Segera!” ujarnyahampir berteriak frustasi . Jinki bahkan nyaris tidak bisa mengontrol nada bicaranya.

Yesung muncul dalam waktu kurang dari lima belas menit di ruangan Jinki. Wajahnya sama tegangnya dengan wajah Jinki.

“Apa yang terjadi Jinki-ya?” tanya Yesung. “Mengapa Tuan Park ditahan?”

Jinki menggeleng frustasi. “Aku belum mendapatkan jawabannya. Kyuhyun-ssi sudah berjanji untuk membantu. Aku butuh ahjusshi untuk menemani Jungsoo ahjusshi di tahanan. Jangan lupa beritahu Sooyan ahjumma untuk menjaga keamanan rumah,” pesan Jinki.

Yesung mengangguk paham. “Para wartawan akan segera tiba. Apa Nona Park sudah tahu?” tanya Yesung lagi.

Jinki kembali menggeleng lemah. “Aku sudah mengatur agar para wartawan ditangani oleh kuasa hukum perusahaan untuk sementara. Sedangkan Hyeki, aku akan menghubungi Kibum dan mencarinya,” jawab Jinki.

Yesung mengangguk, lalu segera pamit. Jinki membuang nafas berat. Kenapa semua hal selalu terjadi tanpa diduga seperti ini?

Jinki menyalakan ponsel layar sentuhnya dan melacak GPS Hyeki. Benar saja, gadis itu sedang dalam rute menuju Ilsan, sedangkan GPS Kibum masih di Seoul. Gadis itu pasti kabur dari pengawasan Kibum. Jinki harus menyusulnya sebelum hal yang berbahaya terjadi.

* * *

Kediaman Choi Siwon mungkin adalah satu-satunya kediaman yang bisa menyaingi mewahnya kediaman keluarga Park. Rumah besar bergaya victoria itu dicat dengan warna-warna pucat dan kelabu. Dua penjaga berdiri sigap di sisi pagar tinggi yang menghalangi pandangan langsung ke halaman rumah besar itu.

Minho turun dari mobil tepat di depan rumah itu. Menunjukkan tanda pengenalnya dan menjelaskan maksud kedatangannya pada para penjaga gerbang rumah itu. Pintu gerbang terbuka dan mobil-mobil para jaksa itu meluncur masuk. Namun tiba-tiba puluhan tembakan memberondong mereka.

Minho tiarap di bawah dashboard mobil, melindungi dirinya sendiri dari peluru yang berdesing. Rekannya sesama jaksa tertembak di perut. Minho menarik temannya lebih merunduk, melepaskan dasinya dan menekannya ke luka tembakan temannya. Minho lalu menekan tombol radio darurat patroli kejaksaan, menyambungkannya ke bagian kedaruratan.

“Choi Minho, tim B, kediaman Choi Siwon, gangnam-gu, request for back up. We are attacked,” bisiknya melalui walkie talkie.

Headquarter copy, emergency situation have been marked,” balas suara di seberang.

Minho meraih pistol di balik saku jasnya, lalu melangkah keluar mobil sambil menghindari tembakan. Dia balas menembak dan merasa satu atau dua tembakannya pasti mengenai musuh. Dalam waktu lima menit, sirene mobil kepolisian menerobos halaman kediaman Choi Siwon, mengepung rumah megah itu.

Minho bersama Jonghyun dan Taemin serta pasukannya berpisah, berusaha menemukan Choi Siwon. Mereka berpencar sambil menyisiri sudut rumah. Tidak ada siapa-siapa selain mayat para penjaga yang ditembak Minho dan rekan jaksanya.

Choi Siwon melarikan diri.

Minho menggeram. Tidak ada jejak yang bisa memberikan petunjuk kemana Choi Siwon melarikan diri. Kecuali…

Ya, kecuali keberadaan Hyeki.

Hyeki sedang dalam perjalanan menuju Ilsan, maka bukan tidak mungkin Choi Siwon akan mengejarnya hingga ke sana.

Lamunan Minho terputus saat ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Kyuhyun.

Yobseyo hyung?” sapanya.

Yobseyo. Bagaimana?” tanya Kyuhyun tanpa basa-basi.

“Target menghilang. Dia kabur,” jawab Minho lesu sedangkan Kyuhyun langsung waspada.

“Apa?! Choi Siwon kabur? Bagaimana mungkin?” tanya Kyuhyun tak percaya. Kang Hyemi dan Park Jungsoo mengerlingnya saat menyebutkan kalimat itu.

“Entahlah, hyung. Apa yang harus kita lakukan?” Minho balik bertanya.

“Katakan pada Kepala Jaksa Lee Sungmin untuk memberikan kondisi siaga I bagi seluruh kantor kejaksaan di setiap distrik di Korea Selatan,” saran Kyuhyun.

“Akan aku lakukan. Bagaimana denganmu hyung?” tanya Minho.

Target is secured, we’re heading back to headquarter,” jawab Kyuhyun, lalu memutuskan sambungan telepon.

Minho menutup telepon dan menyimpan ponselnya kembali. Dia lalu memimpin timnya kembali ke kantor kejaksaan. Dia harus segera menyusul Hyeki ke Ilsan. Sesegera mungkin.

* * *

Wajah Kyuhyun berpilin cemas saat mengetahui Choi Siwon tidak ada di kediamannya. Fakta bahwa Choi Siwon kabur dan penyerangan terhadap Minho dan tim kejaksaan yang akan melakukan penyerangan memperkuat pendapat Kyuhyun bahwa K Group bukan hanya sebuah perusahaan biasa. K Group adalah mafia perdagangan senjata ilegal.

Satu nama yang muncul di benak Kyuhyun saat ini adalah Hyeki. Gadis itu pasti panik dengan berita penangkapan ayahnya. Belum lagi, Hyeki adalah satu-satunya saksi sekaligus target yang belum diamankan kejaksaan saat ini. Kyuhyun mengerling Park Jungsoo yang duduk berhadapan dengan Hyemi di ruang interogasi. Wajah Jungsoo tetap tenang menghadapi wajah Hyemi yang dingin dan penuh emosi. Hyemi memang keterlaluan, Kyuhyun harus menegurnya untuk hal itu.

Saat ini yang bisa dilakukan Kyuhyun adalah memastikan keberadaan Hyeki. Bukankah hari ini Hyeki akan pergi seharian bersama Nara dan Nyonya Kwan? Sebelum Kyuhyun meraih ponselnya untuk menghubungi Nara, nama Nara sudah lebih dulu muncul di layar ponselnya. Panggilan masuk.

“Kyuhyun-ah!” seru Nara di seberang. Nada bicaranya panik dan hampir menangis.

Wae? Terjadi sesuatu pada dirimu? Atau pada eomma?” tanya Kyuhyun bingung.

Aniya, aniya,” sangkal Nara cepat. “Hyeki menghilang. Tiba-tiba saja dia menghilang dari hotel dan bahkan Kibum tidak melihatnya,” lapor Nara panik.

Goddamnit! Umpat Kyuhyun dalam hati. “Tenang Nara-ya, kita akan menemukannya,” sahut Kyuhyun berusaha menenangkan Nara sekaligus menenangkan dirinya sendiri.

“Sekarang berpikirlah dengan jernih, kau tahu dia mungkin akan pergi kemana?” tanya Kyuhyun lagi.

Nara menarik nafas dalam, lalu terdiam untuk berpikir. “Ilsan?” jawabnya ragu. “Tapi Ilsan kan luas,” rintihnya.

“Choi Minho,” seru Kyuhyun tiba-tiba. “Mungkinkah Hyeki kembali ke Ilsan karena itu?”

Nara diam, menelan ludahnya dengan susah payah.

“Aku akan menyusul Hyeki ke Ilsan. Kau tetap di Seoul dan pantau keadaan,” putus Kyuhyun mendadak.

“Hati-hati,” hanya itu yang bisa dipesankan Nara sebelum menutup teleponnya.

* * *

Hyeki menatap kepulan asap dari secangkir teh yang dihidangkan Nyonya Choi di hadapannya. Wanita paruh baya itu tidak bisa berhenti menatap Hyeki, menyadari kecantikan sang Ibu yang diwariskan pada putri tunggalnya. Ya, kecuali lesung pipi yang sama persis dengan yang dimiliki ayahnya. Nyonya Choi juga belum pulih dari rasa terkejutnya saat menemukan gadis itu berdiri terpaku di depan pagar rumahnya.

Tangan Hyeki menggenggam cangkir teh itu dan perlahan meminumnya. Air hangat dan menenangkan itu mengalir membasahi kerongkongannya yang kering. Hyeki memandang berkeliling ruang tengah keluarga Choi ini dan betapa kagetnya dia ketika menemukan fotonya dan foto anak laki-laki yang sedikit lebih tua, yang diyakini Hyeki adalah Minho.

“Kau ingin melihat rumahmu?” tanya Nyonya Choi tiba-tiba, membuat Hyeki tersentak dan menatap wanita paruh baya itu.

“Mungkinkah? Apakah rumah itu belum dijual?” Hyeki balik bertanya.

Nyonya Choi tersenyum, lalu bangkit dari duduknya. Nyonya Choi berjalan menuju salah satu nakas berlaci dan mengeluarkan rangkaian kunci.

“Aku menyimpan kunci cadangan rumahmu karena ibu dan pamanmu sering tidak di rumah sementara kau sering dititipkan di rumahku,” ujarnya memberi penjelasan sambil menunjukkan kunci-kunci itu. “Dan rumah itu tidak pernah dijual Hyeki-ya, karena ayahmu tidak akan pernah rela melepaskan kenangan apa pun tentang ibumu,” tambahnya lagi.

Hyeki tersenyum, diam-diam bersyukur bahwa fakta itu menunjukkan seberapa besar cinta ayahnya pada ibunya. Gadis itu lalu bangkit dan mengikuti Nyonya Choi menuju rumah lamanya yang terletak persisi di sebelah kanan rumah keluarg Choi.

Nyonya Choi membukakan pintu rumah dan menyalakan lampu. Rumah itu tidak terlalu besar, namun terkesan hangat. Warna putih masih mendominasi rumah bergaya minimalis itu sama seperti rumah besar keluarga Park yang bergaya victoria. Semua furniturnya masih lengkap dan sekarang ditutupi kain putih. Hyeki menatap pigura foto yang terletak di atas lemari di dekat TV dan meja kecil di dekat telepon. Semuanya berisi fotonya saat kecil, bersama Minho atau bersama ibunya.

Hyeki mengalihkan tatapannya pada foto besar yang digantung di dinding dekat perapian  dan terdiam. Di foto itu, ada Hyeki kecil bersama ibunya, pamannya dan Jungsoo. Dia bahkan bisa merasakan kemiripan antara dirinya dan ibunya. Wanita dalam foto itu tersenyum anggun.

“Aeri cantik bukan? Sama seperti dirimu,” gumam Nyonya Choi.

Hyeki hanya mengangguk. Jadi nama ibunya benar-benar Song Aeri. Selama ini dia pikir itu hanya nama karangan ayahnya untuk melengkapi dokumen kelahirannya.

Nyonya Choi membiarkan Hyeki mengelilingi rumah itu sendirian. Hyeki berjalan menuju kamarnya. Kamar yang samar-samar dia ingat. Kamar yang didominasi warna biru yang ditempeli berbagai hasil lukisannya. Foto-foto Hyeki dalam berbagai acara ada di sana. Tersenyum polos dengan wajah kanak-kanak.

Hyeki kembali ke ruang tengah dimana Nyonya Choi menunggu dengan sabar. Gadis itu sudah menyusuri berbagai ruangan di sana. Tidak, dia memang tidak bisa mengingat kmbali semua memori yang dilupakannya, tapi setidaknya rumah ini mengingatkannya bahwa dia benar-benar punya ibu.

“Maafkan aku, tapi apakah aku bisa mengunjungi makam eomma?” tanya Hyeki pelan.

Nyonya Choi tersenyum, lalu mengantarkan Hyeki menuju tanah pemakaman. Hyeki hanya terdiam saat melihat dua makam dengan sebuket bunga di atasnya. Hyeki mengeja huruf  hangul di nisan itu. Song Aeri dan Park Jungwoo. Tanpa bisa ditahan, Hyeki terisak. Air mata itu mengalir deras membuatnya lemah hingga terduduk di tanah.

Nyonya Choi tersentuh melihat tangisan Hyeki, menarik gadis berusia 17 tahun itu dalam pelukannya. Membiarkan Hyeki terisak dalam pelukan lembut seorang ibu. Diam-diam Nyonya Choi mengingat kembali ucapan Jungsoo saat mereka terakhir bertemu.

‘Aku harap Ilsan akan menjadi tempat yang aman.’

Hyeki yang muncul tiba-tiba di Ilsan dan keingintahuannya pada masa kecilnya seolah-olah gadis itu lupa, mau tak mau membuat Nyonya Choi berpikir bahwa sesuatu sedang terjadi di Seoul.

Hyeki tidak tahu sudah berapa lama dia menangis dalam pelukan Nyonya Choi. Dia masih terisak namun sudah bisa mengendalikan dirinya. Nyonya Choi melepaskan pelukannya, lalu menatap Hyeki kasihan. Pandangan yang sama yang didapatkan Hyeki dari Sooyan.

“Kau ingin bicara berdua dengan eomma-mu? Ahjumma akan pergi, tapi kau tidak boleh lama-lama di sini, oke?” pesan Nyonya Choi khawatir. “Ahjumma akan menunggumu di rumah dengan masakan favoritmu,” tambahnya lagi sambil tersenyum.

Hyeki hanya mengangguk dan membiarkan Nyonya Choi pergi. Dia menatap makam itu lagi.

Eomma, aku butuh waktu. Aku butuh waktu bagi kita untuk menyelesaikan ini semua. Aku tidak bisa mengurai semua fakta kusut ini,” isak Hyeki pelan.

“Apa yang harus kulakukan?” rintihnya lagi. Hyeki terpuruk dan menangis lagi dalam diam. Membiarkan airmata membasahi wajahnya tanpa mengeluarkan suara isakan apa pun. Hatinya nyeri.

Matahari sudah mulai tenggelam saat Hyeki masih ada di posisinya. Dia masih berlutut dengan air mata yang mengalir di pipinya, sama sekali tidak berniat untuk merubah posisinya atau pulang. Tubuhnya semakin terasa lemah. Sepasang tangan mencengkram lengan Hyeki , menahan tubuh gadis itu yang mulai kehilangan keseimbangan.

“Apa yang kau lakukan disini?” desis sosok itu. Nada bicaranya campuran antara rasa marah, cemas dan lega.

Hyeki mengerjap. Tidak, dia tidak mungkin salah membedakan suara. Hyeki mengerjap lagi , menatap wajah itu lekat-lekat. “Oppa? Jinki oppa?” panggilnya lemah.

Jinki menarik tubuh mungil gadis itu dalam pelukannya. “Aku mencemaskanmu,” hanya itu yang keluar dari mulut Jinki. Jinki tidak pernah merasa dirinya seceroboh ini dalam hal bersama Hyeki. Tidak pernah benar-benar ada pelukan dalam hubungan mereka yang sering bertengkar.

Hyeki tidak menjawab, hanya tersenyum dalam pelukan Jinki. Tubuhnya sudah sangat lemah hingga sekarang Hyeki benar-benar hanya mengandalkan kekuatan Jinki yang menopangnya.

“Ini makam eomma, oppa,” Hyeki memberitahu Jinki.

Ne, arra,” sahut Jinki mempererat pelukannya. “Hyeki-ya, apa pun yang terjadi kau harus mempercayai oppa, arra?” pintanya.

“Huh?” Hyeki menyuarakan kebingungannya.

Jinki melepaskan pelukannya, namun tetap memegang kedua lengan Hyeki untuk menopangnya. “Appa-mu ditahan untuk penyelidikan dan sekarang Choi Siwon pasti mengincarmu,” ujar Jinki.

Appa?” ulang Hyeki lemah. Air mata mulai mengaburkan lagi pandangannya. Ayahnya ditahan? Bagaimana mungkin? Rasa cemas langsung menyerangnya detik itu juga. “Kita harus meminta pertolongan Kyuhyun oppa, kita harus menyuruh Yesung ahjusshi untuk menyelidiki, kita harus—“ ucapan panik Hyeki terpotong saat Jinki memeluknya lagi.

“Tenanglah, oppa sudah memastikan semuanya aman dan yang harus kita pikirkan sekarang adalah dirimu,” bisik Jinki.

Hyeki hanya diam. Pelukan Jinki memberinya rasa aman, meredakan kecemasannya terhadap nasib ayahnya. Jinki menarik Hyeki berdiri dan menuntunnya menuju lokasi dimana porschenya diparkirkan. Mobil itu baru berjalan sekitar 100 meter saat tiba-tiba kaca spion di sisi Hyeki duduk mendadak pecah. Jinki mengerem mobilnya dan menyuruh Hyeki menunduk. Lubang bekas peluru terlihat di spion mobil itu.

Dua tembakan lagi terdengar dan bersamaan dengan itu terdengar bunyi desisan. Jinki yakin dua ban depan mobilnya pecah. Mobil ini tidak akan bisa dipakai untuk melarikan diri.

“Tetaplah di dalam, pindah ke sisi pengemudi,” perintah Jinki pada Hyeki yang memucat ketakutan. Lagi-lagi Jinki memainkan peran untuk melindunginya. Jinki mengirimkan sebaris pesan pada Kyuhyun sebelum dia turun dari mobil dengan tangan terangkat di kepala.

Paling sedikit dua puluh laki-laki berpakaian hitam dengan senjata api di tangan mereka sudah mengepung porsche Jinki. Choi Siwon adalah salah satu di antaranya. Laki-laki itu tersenyum dengan seringai licik di wajahnya. Hyeki membekap mulutnya kaget. Itu Choi Siwon yang sama! Apa yang diceritakan ayahnya sama dengan Choi Siwon yang selama ini dikenalnya! Hyeki bahkan tidak bisa mengenali Siwon dengan cepat karena tidak ada wajah ramah di sana.

“Wah, wah, mengharukan sekali. Lee Jinki dan Park Hyeki akan mati bersamaan setelah saling menyatakan cinta,” ejek Siwon licik.

Jinki mengumpat dalam hati. Siwon sudah mengikutinya sejak tadi sehingga dia melihat pelukan yang diberikan Jinki di hadapan makam itu.

“Kau tidak takut berkeliaran seperti ini, dengan statusmu sebagai buronan?” sindir Jinki.

Siwon menggeram. “Tutup mulutmu! Lagipula sekarang sudah gelap dan jalanan ini sangat sepi, Jinki-ya. Tidak ada yang bisa menolongmu seperti 17 tahun yang lalu,” ujar Siwon sinis.

“Pengecut!” tambah Jinki. “Melawan seorang pria dengan membawa dua puluh pria bersenjata, sungguh pengecut!”

Choi Siwon menyeringai. “Kau ingin duel? Bagaimana kalau mati saat berduel? Kau membiarkan gadis itu sendirian melawan dua puluh pria?” tanya Siwon.

Jinki tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dengan smirk saat mendengar deru dari kejauhan. Sebuah helicopter melayang mendekat, membuat rerumputan di pinggir jalanan bergoyang. Lambang kantor kepolisian Seoul tercetak jelas di badan helikopter itu.

“Letakkan senjata dan angkat tangan!” perintah sebuah suara yang menggema dari dalam helikopter. Hyeki mendesah lega. Itu suara Kyuhyun.

Perlahan pasukan Siwon meletakkan senjata masing-masing di jalan beraspal dan mengangkat tangan mereka ke kepala. Siwon menggeram marah dan tanpa aba-aba menyerang Jinki. Dia menodongkan pistolnya ke arah Jinki, Jinki berkelit ke samping dan memutar tangan Siwon. Dengan sekali hentakan, pistol itu berpindah tangan ke Jinki yang balas menodongkannya ke Siwon.

Puluhan petugas kepolisian dan jaksa lapangan mengepung jalanan itu dan mulai memborgol pasukan Siwon. Inspektur Kim Jonghyun dari kepolisian pusat bergegas mendekati mereka dan memborgol Siwon. Siwon masih menatap Jinki dengan penuh dendam saat dirinya diseret menuju mobil tahanan. Tatapan marah dan haus darah, Choi Siwon sepertinya belum akan berhenti.

Petugas Lee Taemin mendekati Jinki dan Jinki menyerahkan pistol yang direbutnya dari Siwon pada Taemin. Sedangkan Minho juga sudah ada di sana. Pria itu berlari mendekti porsche Jinki, lalu membantu Hyeki yang terlihat sangat lemah. Jinki menoleh memastikan Hyeki baik-baik saja. Pandangan mereka bertemu sesaat dan setelah itu Hyeki kehilangan kesadarannya.

* * *

Satu minggu kemudian, Hyeki duduk di atas ranjang rumah sakit sambil memainkan tabletnya. Punggung tangan kanannya masih ada jarum infus yang memberikan Hyeki suplai makanan tambahan. Sejak siuman dua hari yang lalu, Hyeki sibuk mengejar ketinggalannya atas berita yang terjadi tentang ayahnya, dirinya, Park Corp, Choi Siwon serta Jinki. Hyeki sudah tahu bahwa ayahnya menunjuk Jinki sebagai CEO untuk sementara waktu, juga sudah tahu tentang status Jinki yang sekarang diumumkan secara publik sebagai tunangan Hyeki. Persidangan ayahnya sudah hampir selesai dan Hyeki tidak tahu apa yang akan diputuskan oleh persidangan. Choi Siwon tidak bersedia memberikan keterangan apapun membuat persidangan terhambat.

Jinki belum pernah menjenguknya sejak dia siuman. Hyeki merindukan laki-laki itu, merindukan pelukan yang sama yang diberikannya di pemakaman. Hyeki ingin Jinki meredam segala kepanikannya atas segala situasi ini. Hyeki tahu semuanya berjalan cukup lancar karena Jinki pasti sudah mengatur segalanya dengan rapi.

Pintu ruang rawat VIP itu bergeser terbuka. Choi Minho berdiri di depan pintu, tersenyum lebar.

“Halo,” sapanya singkat, lalu berjalan mendekati tempat tidur Hyeki.

“Halo,” balas Hyeki riang. Gadis itu menyimpan tabletnya dan balas tersenyum.

Minho mengeluarkan sebuket mawar dan sekotak cokelat lalu menyerahkannya pada Hyeki. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Minho.

“Aku sudah lebih baik,” jawab Hyeki. “Terima kasih, oppa menjengukku terus setiap hari.”

Minho hanya tersenyum dan menatap wajah gadis itu. Hyeki sedikit risih dengan tatapan Minho dan hal itu membuatnya ingat pernyataan Minho dulu sekali.

“Oppa, aku ingin mengkonfirmasi sesuatu,” ujar Hyeki tiba-tiba.

Minho menyela. “Aku dulu yang harus memberitahumu sesuatu,” ujarnya, lalu menarik nafas. “Aku akan melamar Hyemi setelah pernikahan Kyuhyun hyung,” sambungnya.

Mata Hyeki melebar tak percaya. “Jeongmal?” tanyanya.

Minho mengangguk mantap. “Aku mencintainya dan berjanji akan membahagiakannya,” ujar Minho lagi. “Kami sudah berpacaran sejak kau masuk rumah sakit.”

Hyeki menesah lega. Itu menjelaskan kenapa sikap Hyemi berubah jauh lebih menyenangkan padanya saat menjenguk Hyeki kemarin. Hyeki lalu pura-pura mendengus kesal. “Heol, berapa banyak berita bahagia yang aku lewatkan selama ini?” sungutnya. “Tapi cukhae~ aku senang mendengarnya.”

Minho tersenyum sambil mengumamkan terima kasih. Minho sendiri masih takjub ketika menyadari perasaannya. Malam itu setelah peristiwa pengepungan Choi Siwon dan Hyeki dilarikan ke rumah sakit, Minho menemukan Hyemi menangis terisak di depan foto ayahnya. Persis seperti Hyeki yang menangis di pemakaman ibunya. Minho tidak bisa menahan diri untuk memeluk Hyemi, menenangkan gadis itu dalam pelukannya. Ketika Hyemi mengucapkan kata saranghae, Minho membalasnya tanpa sadar. Mengatakan bahwa dia juga mencintai gadis itu.

Lebih dari itu, sebenarnya Minho memang sudah memutuskan menyerah dengan perasaannya pada Hyeki. Saat dia melihat Jinki yang terus menerus berjaga di samping gadis itu, Minho tahu Jinki memilki perasaan lebih pada Hyeki. Saat itu juga, Minho memutuskan menyerah.

Hyeki dan Minho mengobrol ringan selama setengah jam dan setelah itu Minho pamit. Tidak ada tamu yang menjenguk Hyeki lagi selain Minho seharian itu. Siang berganti malam dengan cepat. Sooyan ahjumma sedang kembali ke rumah untuk mengambilkan baju ganti sekaligus memastikan keadaan rumah, jadi Hyeki hanya sendirian di ruang rawatnya.

Pintu ruang rawat Hyeki bergeser dan akhirnya pria itu yang muncul di pintu. Dia tersenyum dengan eye smile dan menutup pintu. Dia masih mengenakan jas kantor dan melangkah mendekati tempat tidur Hyeki. Hyeki tidak bisa menahan diri untuk balas tersenyum dan mendadakan kelegaan tak kasatmata seakan menyelimuti dirinya. Seakan kehadirannya saja sudah membuat segala kecemasan Hyeki musnah entah kemana.

Jinki menatap Hyeki dengan pandangan menenangkan. Hyeki balas menatap dan mendadak dia ingin menangis, menangis penuh kelegaan. Perlahan Jinki merengkuh Hyeki dalam pelukannya.

Oppa merindukanmu..” bisiknya.

Dan tangis Hyeki meledak. Air matanya membasahi bagian depan kemeja Jinki sedangkan Jinki terus memeluknya. Memberinya rasa hangat dan nyaman.

* * *

Tujuh tahun kemudian

Angin pegunungan yang sejuk membuat Jungsoo semakin fokus dalam yoganya. Pikirannya mengalirkan ketenangan ke seluruh tubuhnya. Sejak bebas dari penjara dua tahun yang lalu, pegunungan inilah yang selalu memberinya ketenangan. Mengembalikan enerji postif bagi Jungsoo untuk menghabiskan hari tuanya.

Jungsoo membuka matanya perlahan saat merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Putri tunggalnya ada di sana, tersenyum lembut padanya.

“Kau sudah kembali?” tanya Jungsoo, berbalik agar dia bisa menatap putri tunggalnya dengan lebih jelas.

Park Hyeki berdiri di sana. Rambutnya sekarang panjang dan dikuncir rapi. Masih dengan stylenya yang sederhana dan sedikit tomboy. Namun pembawaan gadis itu lebih tenang. Bukan lagi Hyeki yang manja di usia 17 tahun. Hyeki yang berdiri di hadapannya adalah Hyeki dewasa berusia 24 tahun dengan gelar master ekonomi di Amerika.  Gadis itu berlari memeluk ayahnya.

“Aku merindukan appa,” ujarnya, suaranya serak menahan isak tangis.

Jungsoo hanya terkekeh sambil menepuk-nepuk punggung putrinya. Dia menangkap sosok Jinki yang baru muncul. Tersenyum pada Jinki yang selama tujuh tahun ini mati-matian mempertahankan perusahaan mereka hingga stabil. Kasus hukum yang menjerat Jungsoo membuat beberapa penanam saham mencabut investasi mereka, namun Jinki dengan segala kemampuannya membuat perusahaan bisa bertahan dan bahkan berkembang.

“Kalian tidak akan menginap di sini?” tanya Jungsoo pelan saat mereka makan siang bersama.

Hyeki menggeleng. “Aku akan menginap di sini lusa dan aku akan tinggal di sini seterusnya,” sahutnya. “Tapi besok Hyemi eonni akan melahirkan, kami harus datang untuk memberinya semangat.”

Jungsoo tertawa kecil.

“Hyeki memutuskan akan tinggal di sini bersama ahjusshi,” Jinki menjelaskan.

Aniya, appa tidak akan bisa tenang kalau kau ada di sini,” tolak Jungsoo dengan nada bercanda membuat Hyeki merengut.

“Bagaimana kabar Kyuhyun dan Nara?” tanyanya lagi.

“Kyungjoo akan masuk sekolah tahun ini dan dia sedang nakal-nakalnya. Aku hanya kasian pada Nara eonni yang harus mengurus dua bocah setan di rumahnya,” sahut Hyeki pura-pura prihatin.

“Kau sendiri tidak mau cepat-cepat menikah supaya memiliki dua dubu di rumah?” goda Jungsoo.

Ya! Appa!” teriak Hyeki gemas.

Jinki hanya tertawa mendengar perbincangan ayah dan anak ini. Jungsoo tidak bermaksud apa-apa dengan menggoda Hyeki tadi. Dia tidak akan ikut campur mengenai hubungan Hyeki dan Jinki, melihat mereka bersama sudah cukup bagi Jungsoo. Lalu Jinki dan Hyeki pamit setelah menghabiskan makan siang.

Jinki mengendarai Porschenya perlahan, sambil menikmati pemandangan indah pegunungan.

Rasa-rasanya tujuh tahun berlalu dengan begitu cepat. Waktu yang dibutuhkan oleh mereka semua untuk mengembalikan semuanya secara normal. Bagaimana ajaibnya hubungan mereka semua terjalin dengan baik. Hyemi, Minho, Kyuhyun, Nara dan bahkan Siwon yang saat ini masih mendekam di penjara khusus mafia.

“Kau masih merasa asing dengan Korea?” tanya Jinki pelan.

Hyeki menoleh menatapnya. “Aniya, aku hanya perlu waktu beradaptasi,” jawab Hyeki pelan.

Jinki menepikan Porschenya lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin. “Oppa tahu kau masih butuh waktu menyesuaikan diri, tapi maukah kau memberikan waktu yang cukup untuk kita? Kita akan memiliki waktu untuk kita sendiri, membuat berbagai memori menyenangkan dan mengejar mimpi kita bersama-sama.. Otte?” tanya Jinki.

Hyeki diam saja dan menatap wajah Jinki. “Call!” jawabnya sama sekali tak romantis sambil mengambil cincin yang diberikan Jinki.

Jinki hanya tertawa, sudah menduga Hyeki tidak akan menjawabnya dengan normal. Lalu dia memeluk gadis itu.

“Let’s have our entire future only as time for us,” bisik Jinki.

Hyeki mengangguk. “Time for us,” ulangnya dalam pelukan Jinki.

-END-

Author’s Note : Yayayaya!!!!

TFU 13 skaligus Final hapter akhirnya tamaaat!!

I finished this series in two years, ckckck

Comment yaaa.

sejauh ini belum ada ide buat FF series lagi, jadi plaingan cuma akan oneshot ajaa.

Bye-byee. Hope you love TFU forever ;*

Advertisements

2 thoughts on “Time For Us : Time 13 [Final]

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s