Time For Us : Time 12

time for us2

Time 12 Revival

Hyeki duduk di kafe bersama Nara, menunggu kedatangan fotografer yang akan memotret foto pre wedding Nara dan Kyuhyun. Sebelumnya Hyeki juga menemani Nara mengurus beberapa dokumen di catatan sipil. Hari ini adalah hari terakhir Hyeki ujian, karena itu sejak sepulang kampus dia bersedia menemani Nara pergi. Lagipula Jinki tak tahu dimana dan dia tidak bisa menghubungi Minho. Dua orang itu tiba-tiba lenyap begitu saja dari hadapannya.

Seminggu sudah berlalu sejak Minho untuk pertama kalinya muncul di ruang tamu keluarga Park dengan penampilannya yang acak-acakan. Minho tidak menjelaskan apa pun padanya, hanya menyebutkan sesuatu tentang Hyemi, tapi Hyeki bisa menyimpulkan secara garis besar apa yang terjadi pada mereka. Dia tidak perlu memastikan bahwa Hyemi menyukai Minho tapi Hyeki tidak tahu bagaimana perasaan Minho pada Hyemi. Hubungan mereka sangat dekat – mungkin sedekat hubungannya dan Jinki- dan Minho selalu menyangkal bahwa dia punya hubungan yang lebih dari teman dengan Hyemi.

Jinki pun sepulang mengantar Minho tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengatakan Minho tiba di rumah dengan selamat. Wajahnya datar dan nada bicaranya mendadak menjadi dingin. Semenjak itu, keduanya hilang dari jangkauan Hyeki membuatnya bingung dan kelabakan.

“Hyeki-ya,” panggil Nara sedikit keras.

Hyeki tersentak, mengangkat wajahnya menatap Nara yang balas menatapnya khawatir.

“Kau melamun lagi,” keluh Nara.

Hyeki hanya nyengir, merasa bersalah. Lalu kembali membolak-balik katalog tema pemotretan yang ada di tangannya. Dia menatap konsep klasik victoria, lalu mengangkat katalog itu dan menunjukkannya pada Nara.

“Aku suka konsep klasik,” kata Hyeki. “Eonni akan terlihat cantik dengan gaun yang seperti ratu itu dan lagipula wajah Kyuhyun oppa yang dingin mengingatkanku pada vampir eropa,” tambahnya lagi dengan nada jenaka.

Nara tertawa kecil mendengar komentar Hyeki.

“Ya! Ya! Selalu membicarakan hal-hal buruk di belakangku,” seru Kyuhyun yang tiba-tiba muncul di balik bahu Hyeki, membuat gadis itu terlonjak kaget. “Sejak kapan aku jadi mirip vampir nona Park?” seru Kyuhyun gemas.

Kyuhyun menjitak Hyeki ketika melewatinya dan duduk di kursi di sebelah Nara, sementara Hyeki menggerutu dan mengusap-usap bekas jitakan Kyuhyun di kepalanya.

“Fotografernya belum datang?” tanya Kyuhyun pada Nara.

“Kau bisa lihat sendiri aku hanya berdua dengan Hyeki di sini, Cho Kyuhyun sayang,” jawab Nara sarkastis.

Hyeki tertawa mendengar jawaban Nara. Jelas, walaupun dua orang ini akan menikah tapi sifat mereka terhadap satu sama lain tidak berubah sama sekali.

“Mana bocah pengawal itu? Kau tidak dibuntuti siapa-siapa hari ini?” tanya Kyuhyun pada Hyeki.

Hyeki berdecak, kesal. “Ya! Dia itu punya nama, oppa,” jawab Hyeki kesal.  “Dan aku kemari bersama buntut yang lain,” sambungnya dengan nada lelah mengingat Kibum yang muncul kembali saat Jinki hilang selama seminggu ini.

Kyuhyun mengangkat bahu. Dia cukup mengenal Park Jungsoo yang tidak akan membiarkan adanya kesempatan membahayakan nyawa putrinya bahkan pada hal-hal remeh.

“Jaksa muda itu juga tidak menemuimu?” tanya Kyuhyun lagi.

Hyeki menggembungkan pipinya. “O, keduanya hilang seperti ditelan bumi. Ngomong-ngomong kenapa aku baru sadar, bukankah Kyuhyun oppa juga jaksa? Apa oppa mengenalnya?” tanya Hyeki tiba-tiba.

Kyuhyun hanya mengangguk sambil melirik Nara. “Aku tidak tahu apakah dia Choi Minho yang sama dengan yang kaumaksud,” jawabnya diplomatis.

Hyeki tertegun. Di dunia ini memang terlalu banyak kesamaan yang berbuah kebetulan. Dia bahkan bertanya-tanya sendiri seberapa luas sebenarnya kehidupannya. Kyuhyun dan Nara adalah bagian dari kehidupan Hyeki yang juga berkaitan dengan orang lain. Jangan-jangan dunianya selama ini memang hanya berputar di tempat.

“Ah, sepertinya fotografernya sudah datang,” seru Nara saat melihat sosok laki-laki bersama beberap orang timnya masuk ke dalam kafe.

Kyuhyun mengangguk membenarkan. “Minggu depan kami akan mengecek kesiapan ballroom, kau mau ikut lagi?” tanya Kyuhyun pada Hyeki yang masih membolak-balik katalog.

Hyeki tersenyum lebar. “Keurom, kebetulan aku juga sedang libur,” jawabnya bersemangat.

Kyuhyun balas tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik kandung sendiri. Diam-diam Nara melemparkan pandangan berterima kasih. Kyuhyun cukup mengerti bahwa Hyeki sedang membutuhkan sedikit pengalih perhatian.

* * *

Minho duduk di meja kerjanya. Otaknya terus mengingat pertemuan pertamanya dengan Jinki. Ya, Minho sudah mengingatnya. Mereka sudah pernah bertemu, bersamaan dengan pertemuan pertamanya dengan Hyeki. Tabrakan di taman dengan es krim.  Minho sekarang berusaha menerka-nerka hubungan apa yang dimiliki Jinki dan Hyeki karena jelas mereka terlihat cukup dekat.

Lamunan Minho buyar ketika menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Kang Hyemi berdiri di hadapan Minho dengan wajah datar. Gadis itu meletakkan dokumen di atas meja Minho. Minho hanya menatap dokumen itu lalu menatap Hyemi dengan pandangan bertanya.

“Ketua Jaksa Lee Sungmin menginginkan gabungan tim Jaksa Cho Kyuhyun untuk bekerja sama. Ini kasus yang sudah lama dikerjakan oleh timku bersama kepolisian pusat,” ujar Hyemi menjelaskan.

“Jaksa Cho sudah tahu?” tanya Minho berusaha bersikap seprofesional mungkin.

“Dia sudah tahu. Kim Heena dan yang lain sudah menunggu di ruang rapat, kuharap kau juga segera menyusul,” ujar Hyemi lagi, lalu membalikkan badannya dan meninggalkan Minho.

Minho menyambar jasnya di kursi lalu mengikuti Hyemi yang juga menuju ruang rapat. Di sana seluruh anggota tim sudah berkumpul termasuk Kyuhyun yang melambai pada Minho. Minho hanya mengangguk dan duduk di sebelah Kyuhyun. Minho bahkan menyadari ada Jonghyun serta Taemin di sana. Mungkin mereka perwakilan kepolisian.

Hyung, ige mwoya?” tanya Minho bingung. Tentu saja dia merasa bingung karena mendadak dilibatkan dalam kasus yang sama sekali tidak pernah didengarnya.

Mollaseo. Aku juga baru saja dipanggil oleh Sungmin hyung,” jawab Kyuhyun mengangkat bahu.

Ketua Lee Sungmin bangkit berdiri dan menuju layar yang menampilkan kasus mereka. “Penyelidikan ini sudah dimulai sejak satu tahun yang lalu secara diam-diam oleh kepolisian, NIS dan kantor kejaksaan. Kasus ini adalah kegiatan ilegal, perdagangan senjata,” jelas Sungmin.

Layar berganti menampilkan logo bertuliskan huruf K besar yang dihias serta foto seorang pria yang sangat familiar di mata Minho.

“Pria ini bernama Choi Siwon. Itu hanyalah salah satu dari sekian nama yang dia punya. NIS bekerjasama dengan FBI, CIA dan Intelijen China sudah berhasil mengumpulkan data mengenai pria ini. Dia pemilik K Group yang cabang sahamnya tersebar di mana-mana dan ternyata salah satu cabang K Group adalah perusahan Mauvel, perdagangan senjata ilegal,” ujar Sungmin lagi.

Minho tersentak. Apa? Choi Siwon ini seorang mafia perdagangan senjata?

Tampilan layar kembali berganti. Kali ini menampilkan logo Park Corp dan foto Park Jungsoo serta Kang Seunghyun, ayah Hyemi. Minho melirik Hyemi yang sekarang menunduk memandang lantai. Minho sendiri harus mempersiapkan hatinya untuk mendengar berita yang lebih mengejutkan.

“Kalian tentu masih ingat dengan Kang Seunghyun, salah satu pengawal Park Hyeki, putri tunggal Park Jungsoo. Kematiannya masih menjadi misteri hingga saat ini. Kepolisian ternyata menemukan bukti baru, selongsong peluru yang ditemukan dalam tubuh Kang Seunghyun adalah jenis peluru langka yang dijual hanya oleh Mauvel. Kami berusaha menemukan alasan mengapa Mauvel mengincar Kang Seunghyun,” Inspektur Kepolisian Seoul Kim Jonghyun melanjutkan penjelasan Sungmin.

“Tidak, Mauvel atau seseorang yang menggunakan senjata yang dijual Mauvel bukan mengincar Kang Seunghyun, tapi mengincar Park Hyeki sebagai calon pewaris Park Corp,” celetuk Kyuhyun.

Taemin menjentikkan jari. “Benar sekali. Tapi kenapa harus Park Corp?” tanya Taemin.

“Dalam list penjualan mereka, tidak ada satu pun perusahaan pembeli senjata yang mempunyai alasan untuk mengincar Park Corp,” ujar Lee Taemin, staf analisis data Kepolisian Seoul.

Semua terdiam. Hyemi pelan-pelan mengangkat kepalanya. “Bagaimana jika ini ulah K Group? Karena K Group menganggap Park Corp sebagai saingannya,” katanya pelan.

Maldo andwae,” seru Kim Heena tak percaya. “Park Corp dan K group jelas-jelas berada dalam jalur bisnis yang berbeda, bagaimana mungkin mereka bisa dianggap saingan?” bantahnya.

“Kecuali, Park Corp juga bergerak dalam bisnis ilegal  perdagangan senjata,” ujar Kyuhyun. Entah pemahaman dari mana hingga dia berani berkesimpulan seperti itu. Minho sekarang menatap Kyuhyun seolah dia gila.

“Jaksa Cho benar. Park Jungsoo memang menjalankan bisnis lain dii luar sana dengan nama Leeteuk,” kata Inspektur Kim. “Bisnis perdagangan senjata.”

* * *

Kepala rumah tangga Kim Sooyan berjalan cepat menyambut kepulangan Tuan Park. Barisan pelayan sudah menunggu rapi di depan pintu. Yesung berjalan tepat di belakang Park Jungsoo. Jungsoo melihat sekeliling rumah dan tidak menemukan Hyeki di sana.

Uri ddal eodisseo?” tanyanya pada Sooyan.

“Nona Park sedang pergi bersama Nona Kwan, Tuan,” jawab Sooyan.

Jungsoo mengangguk, lalu tidak berkata apa-apa lagi. Dia melangkah menuju ruang kerjanya dan menutup pintu rapat-rapat. Sooyan segera menemui Yesung yang sudah sebulan ini tidak ditemuinya karena suaminya itu harus menemani Jungsoo berpergian.

“Kau lelah?” tanya Sooyan pada Yesung.

“Aku baik-baik saja,” jawab Yesung sambil merebahkan diri di tempat tidurnya.

“Tuan Park terlihat kurang sehat,” komentar Sooyan sambil menyiapkan air mandi untuk Yesung.

Yesung terdiam sejenak. “Beliau sedang banyak pikiran,” jawabnya. Pikirannya terbang ke perjalanan yang dilakukan oleh mereka selama sebulan ini.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Jungsoo terdiam sambil menatap fotonya dan putri tunggalnya. Gadis kecil itu tersenyum lebar ke arah kamera. Senyum dengan lesung pipi yang sama dengan yang dimilikinya. Ah, bukan tanpa alasan selama sebulan ini Jungsoo tidak pernah di rumah. Dia harus melakukan hal-hal yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan keluarga mereka, terutama Hyeki dan Jinki.

Memori mengenai pertemuannya dengan Choi Siwon di Hongkong terkenang kembali. Pertemuan menegangkan yang membuatnya merasa dia ingin menyembunyikan Hyeki ke suatu tempat yang paling aman di bumi ini.

Flashback

Harusnya malam ini restoran di tepi lingkungan Star Ferry ini akan terlihat menyenangkan. Pertunjukkan Symphony of The Light sedang berlangsung. Pertunjukan favorit Hyeki yang harus selalu mereka tonton setiap kali mereka mengunjungi Hong Kong.

Jungsoo baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama klien untuk kontrak mereka di Park Corp saat tiba-tiba tamu tak diundang duduk di hadapannya. Choi Siwon dengan tuksedo hitam menatapnya sambil menyeringai licik.

“Mau apa kau?” tanya Jungsoo tanpa nada ramah.

“Wow, wow, sambutanmu sama sekali tidak menyenangkan, Jungsoo-ya,” balas Siwon.

Jungsoo hanya balas menatap tajam. Dia tidak akan bersikap ramah untuk orang yang sudah membunuh istrinya dan teman-teman baiknya serta mengancam keselamatan putrinya.

“Apakah putrimu sudah memberitahu kalau dia sering bertemu denganku?” tanya Siwon mengejek. “Siwon ahjusshi-nya yang baik hati?”

Jungsoo hanya diam. Dia tahu tentu saja, Jinki sudah menceritakannya dan dia punya mata-mata yang memberitahunya.

“Bukankah miris melihat putrimu berteman dengan pembunuh Ibunya? Pembunuh orangtua orang yang sudah dianggapnya oppa?” tanya Siwon sarkartis.

Jungsoo meraih gelas wine-nya, mengabaikan ucapan Siwon. Dia mengenggam gelas sloki itu dengan kuat, menyalurkan kebenciannya di sana.

“Akan sangat menyenangkan melihat putri kecilmu jatuh dengan mudah ke dalam perangkapku,” ujar Siwon lagi dengan pandangan menerawang.

“Aku peringatkan kau untuk tidak mencoba menyentuh putriku lagi,” ucap Jungsoo dengan penuh penekanan.

Siwon tertawa.  “Mulai sekarang aku tidak akan main-main lagi Park Jungsoo. Hingga aku melenyapkan seluruh keturunanmu dan keturunan Lee Donghae,” ujar Siwon mengancam.

“Kau yang melakukannya bukan? Percobaan tabrak lari Hyeki, membunuh Seunghyun dan mengacaukan alarm rumahku?” tebak Jungsoo.

“Bingo!” seru Siwon bangga. “Dan aku akan melakukan yang lebih dari ini. Bayangkan bagaimana perasaan putrimu yang ditipu oleh ayah yang paling disayangnya? Bagaimana bila putrimu membencimu?”

Jungsoo hanya diam, semakin mengenggam erat gelas kaca itu.

“Kita akan segera tiba dalam permainan terkahir. Aku hanya bisa berharap semoga putrimu akan pergi tanpa perlu merasakan sakit yang berlebihan seperti istrimu,” seru Siwon, lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Jungsoo sendirian.

Jungsoo menarik nafas panjang. Dia harus segera bertindak.

Flashback End.

Itulah yang dilakukan Jungsoo selama sebulan ini, mempersiapkan diri menghadapi serangan Siwon. Walaupun Siwon tidak mengatakan apa pun, Jungsoo sudah bisa mengantisipasi serangannya.

Tidak, Jungsoo memang tidak hanya menghabiskan sebulan ini di luar negeri, tapi juga di Ilsan.

Flashback

Jemari Jungsoo membersihkan rumput liar yang tumbuh di makam itu. Dia lalu berdiri, menatap dua makam yang bersisian. Dua orang keluarganya yang meninggal secara tragis. Satu orang yang berbagi darah dengannya dan satu lagi belahan jiwanya. Jungsoo meletakkan dua buket bunga segar di atas makam itu.

“Ah, permisi. Apakah Anda Tuan Park?” tanya seorang wanita paruh baya yang berdiri di belakangnya, menatapnya dengan pandangan heran.

Jungsoo berbalik, menatap wanita itu. Wanita yang sangat familiar baginya. “Ne, saya Park Jungsoo. Apa kabar Nyonya Choi?” sapa Jungsoo ramah. Dia membuka kacamata hitamnya dan menjabat tangan Nyonya Choi.

Aigo, kupikir aku tidak akan bertemu Anda lagi,” balas Nyonya Choi ramah. Wanita itu melirik dua makam dengan bunga segar itu di atasnya.

“Sejak dulu aku selalu bertanya-tanya siapa yang setiap bulan selalu mengganti bunga di makam itu dengan bunga segar,” ujar Nyonya Choi. “Dan aku selalu menebak bahwa itu Anda dan ternyata aku memang benar.”

Jungsoo hanya tersenyum simpul.

“Bagaimana kabar Anda? Dan Hyeki? Kudengar Minho sekarang sudah bertemu dengan Hyeki kembali?” tanya Nyonya Choi.

“Hyeki sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik, dia bukan bocah kecil yang menangis di pemakaman lagi,” jawab Jungsoo.

“Benarkah? Anda pasti membesarkannya dengan baik Tuan Park,” puji Nyonya Choi.

“Tentu saja. Aku appa-nya,” jawab Jungsoo. Jawaban yang sama ketika dia menjemput Hyeki di pemakaman sepuluh tahun yang silam.

“Aeri pasti bahagia melihat Hyeki tumbuh dengan baik,” gumam Nyonya Choi.

Jungsoo menghela nafas. Ya, dua makam itu adalah makam istrinya, Song Aeri dan adik laki-lakinya, Park Jungwoo. Saat Siwon mengancam keselamatan mereka, Jungsoo memang membiarkan Aeri pergi bersama adiknya untuk menyelamatkan diri.

“Aku sangat menyesal atas kecelakaan yang menimpa istri dan adikmu,” kata Nyonya Choi.

Jungsoo menelan ludah, kecelakaan yang direkayasa oleh Choi Siwon. Syukurlah Hyeki tidak bersama mereka saat itu hingga dia selamat.

“Bila nanti terjadi sesuatu, kuharap Ilsan bisa menjadi tempat yang aman untuknya,” ucap Jungsoo pelan.

“Maksudmu?” tanya Nyonya Choi.

Jungsoo tidak menjawab, melainkan pamit dan memakai kacamatanya kembali. Meninggalkan tanah pemakaman dan Nyonya Choi dalam keadaan bingung.

Flashback End.

Pintu ruang kerja Jungsoo tiba-tiba terbuka dan Hyeki menghambur masuk. Memeluk appa-nya erat-erat dengan penuh kerinduan. Gadis itu bahkan mulai terisak dalam pelukan ayahnya yang tidak pernah ditemuinya selama sebulan ini.

Jungsoo tertawa kecil sambil membelai-belai kepala Hyeki.

“Hyeki-ya, kenapa kau jadi cengeng begini?” tanya Jungsoo menggodanya.

Hyeki melepaskan pelukannya, lalu menghapus sisa air matanya. “Aku merindukan appa, aku khawatir tidak pernah bertemu dengan appa selama ini,” jawabnya parau.

Jungsoo mengecup kening putrinya. “Nah, sekarang appa sudah pulang, jadi kau tidak perlu merindukan appa lagi,” ujarnya lembut.

Gadis itu hanya menatapnya dengan menggelembungkan pipinya. Mata yang sama denagan mata Aeri. Ah, Jungsoo sungguh merindukan istrinya itu. Jungsoo mencubit pipi Hyeki menghentikan aksinya menggelembungkan pipi.

Appa dengar Kyuhyun dan Nara akan menikah?” tanya Jungsoo membuka pembicaraan.

Ne, aku bahkan ikut mendesain ballroom dan memilih konsep pre wedding mereka,” jawab Hyeki bangga.

Jungsoo menepuk kepalanya, tertawa. “Jadi kau menghabiskan seharian ini mengikuti Nara mempersiapkan pernikahannya?” tanya Jungsoo lagi.

Hyeki mengangguk polos. “Tidak apa-apa kan? Lagipula Kwan eomonim sangat baik dan selalu memberiku makan enak setiap aku ikut bersama mereka,” jawab Hyeki tertawa.

Jungsoo menggelengkan kepalanya, pasrah dengan kelakukan ajaib putrinya. “Appa tidak melihat Jinki sejak tadi. Kau meihatnya?” tanyanya lagi.

Hyeki terdiam. Dia menjawab dengan jeda yang cukup lama seolah mempertimbangkan jawaban yang baik untuk diberitahukan pada appa-nya. “Sepertinya dia marah padaku,” jawab Hyeki dengan air muka sedih. “Dia bahkan tidak mengangkat teleponku.”

Jungsoo hanya mengangguk. Dia yakin Jinki pasti ada di perusahaan, tempatnya melarikan diri setiap kali dia bermasalah dengan Hyeki. Jungsoo menatap Hyeki yang kali ini balas menatapnya dengan ragu-ragu.

“Kenapa? Kau punya hal yang ingin dikatakan pada appa?” tanya Jungsoo membaca wajah Hyeki.

Putrinya mengangguk ragu-ragu. “Tapi appa harus mendengarkannya sampai akhir,” pinta Hyeki memelas.

Jungsoo mengangguk, membiarkan Hyeki berbicara. Putrinya menarik nafas dalam dan memandangnya lekat-lekat.

“Aku ingin ke Ilsan,” ucap gadis itu pelan. Suaranya merambat dengan pelan menuju telinga Jungsoo. Gadis itu berbicara lagi sebelum Jungsoo sempat bereaksi. “Aku ingin melihat makam eomma dan appa,” tambahnya.

Jungsoo membuang nafas berat. Sudah diduga, cepat atau lambat Hyeki akan mengatakan hal ini padanya. Jungsoo sudah menunggu-nunggu hal ini tiba.

“Sooyan ahjumma sudah menceritakannya padamu? Apakah kau sudah bisa mengingat masa kecilmu?” tanya Jungsoo pelan.

Hyeki menggeleng. “Tapi aku ingin ke sana, aku ingin ke Ilsan,” jawab Hyeki dengan suara pecah.

Jungsoo meletakkan tangannya di pundak Hyeki, lalu menunduk menatapnya lekat.

“Tidak sekarang, Hyeki-ya,” larangnya. “Kau tidak bisa ke Ilsan sekarang, belum waktunya.”

Mata Hyeki mulai berkaca-kaca, kecewa dengan penolakan ayahnya. “Waeyo? Apakah aku tidak boleh bertemu eomma dan appa?” tanyanya sedih.

Jungsoo menggeleng, tidak melepaskan pegangannya di bahu Hyeki. “Dia bukan appa-mu. Dia pamanmu,” ralat Jungsoo.

“Paman?”

Ne, aku appa-mu. Park Jungwoo adalah adik appa, pamanmu,” ralat Jungsoo memperjelas maksudnya. Dia menatap Hyeki dengan sedikit kecewa. “Jadi selama ini kau tidak percaya kalau appa adalah appa kandungmu?” Jungsoo balik bertanya. Dia berjalan menjauh, melepaskan pegangannya dari bahu Hyeki.

Hyeki terdiam sebentar sebelum menjawab. “Aniya. Aku selalu menganggap appa sebagai appaku. Aku hanya bingung, bagaimana eomma meninggal, bagaimana aku bisa di sini, bagaimana Jinki oppa..” suara Hyeki terputus karena dia mulai terisak kecil.

Jungsoo tersenyum tipis, merangkul darah dagingnya itu dan menuntunnya duduk di sofa ruang kerja. Jungsoo menepuk-nepuk bahu Hyeki menenangkan tangisannya.

“Ah, rasanya baru kemarin appa menepuk-nepuk punggungmu setiap kali kau menangis karena mengamuk,” ucap Jungsoo pelan.

Hyeki hanya diam tidak menyahut.

“Ibumu dalam bahaya, jadi appa menyuruhnya lari bersama adik appa. Supaya kau tumbuh dan besar dalam lingkungan normal, tanpa harus takut dicelakai,” Jungsoo tiba-tiba bercerita.

Hyeki terkesiap, mendekap mulutnya karena kaget.

“Penjahat itu ternyata tidak berhenti sampai disitu dan akhirnya aku kehilangan istri dan adikku. Jinki kehilangan kedua orangtuanya,” Jungsoo melanjutkan ceritanya.

“Nuguya? Siapa orang yang sangat membenci kita?” Hyeki memberanikan diri bertanya.

Jungsoo mengecup puncak kepala Hyeki. “Choi Siwon,” jawabnya pelan. Jungsoo bisa merasakan Hyeki bergerak gelisah dalam rangkulannya pertanda dia bimbang.

“Dan Choi Siwon tidak akan berhenti sampai seluruh keluarga Park menghilang dari bumi ini,” sambung Jungsoo lagi.

Kebenaran yang menyakitkan.

* * *

Jinki menatap boks-boks besar senjata yang akan dikirim menggunakan kapal ke Hong Kong malam ini. Dia sudah seminggu menginap di perusahaan. Mengalihkan segala kecemasannya dengan mengecek lebih ketat transaksi bisnisnya. Bersikap lebih kejam kepada para relasinya. Namun usahanya gagal. Bahkan sekarang Jinki bisa merasakan wajah Hyeki menari-nari dalam benaknya. Jinki sendiri tidak paham perasaan apa yang sekarang meracuni dirinya. Nalurinya untuk melindungi gadis itu terlalu kuat hingga dia tidak bisa membedakan apakah Kyuhyun benar atau ini hanya semacam perasaan posesifnya.

Dia tahu Hyeki mencemaskannya. Jinki juga mengabaikan telepon dan pesan singkat gadis itu selama seminggu ini, berusaha menyediakan sesedikit mungkin komunikasi di antara mereka. Jinki bahkan harus meminta Kibum agar kembali menjaga Hyeki sementara dia melarikan diri untuk menenangkan pikirannya.

“Onew sajangnim,” panggil salah satu bawahannya.

Wae?” Jinki menjawab singkat tanpa menoleh. Wajahnya memandang lurus ke arah senjata-senjata yang sedang dipaketkan ke dalam boks.

“Leeteuk sajangnim ada di ruangan Anda,” jawab bawahannya dengan nada takut-takut. Tentu saja takut, melihat wajah poker face Jinki dengan nada bicaranya yang dingin. Senyum sumringah milik Jinki seolah sirna ditelan kepahitan.

Jinki segera menuju ruangannya dan menemukan Jungsoo sedang memandangi foto Hyeki dan Jinki yang diletakkannya dua bulan yang lalu di atas meja.

Ahjusshi sudah kembali?” tanya Jinki, suaranya bercampur dengan rasa lega.

Jungsoo hanya tersenyum. “Kau bertengkar lagi dengan Hyeki? Apakah karena Minho?” tanya Jungsoo langsung.

Jinki menunduk, meringis karena sebenarnya dia pun tidak tahu kenapa dia harus marah saat melihat Minho muncul di rumah keluarga Park seminggu yang lalu. Tapi yang jelas emosinya meluap dan tidak bisa dikontrol, membuatnya memutuskan melarikan diri dari Hyeki.

“Aku sudah menceritakan pada Hyeki tentang memori yang dilupakannya,” ujar Jungsoo memberitahu. Tangannya meraih pigura lain yang berisi foto Donghae dan istrinya.

Jinki mendongak, kaget dengan fakta baru ini. “Apakah dia menerimanya dengan baik?”

Jungsoo mengangguk, meletakkan pigura itu kembali di tempatnya. “Dia terkejut, tentu saja. Tapi Hyeki sudah cukup dewasa untuk mempercayai semuanya. Aku tidak mungkin menutupi ini untuk selamanya. Kita harus mendapatkan kepercayaan  Hyeki sebelum Siwon mengacaukan segalanya,” kata Jungsoo.

Jinki diam. Hatinya tercabik. Dulu dia sendiri tidak mudah menerima segala hal rumit yang terjadi dalam hidupnya. Takdir tragis yang menghancurkan keluarganya. Dia sangat yakin Hyeki pasti akan melakukan sesuatu untuk membuktikan segala hal yang diucapkan Jungsoo.

“Ah, aku datang untuk mengatakan hal yang lebih penting,” ujar Jungsoo lagi. Dia tersenyum pada Jinki dengan tulus. “Mulai besok, kau tidak akan berkantor di sini lagi. Kau akan pindah ke Park Corp,” sambung Jungsoo.

Jinki tercengang. “Maksud ahjusshi?” dia bertanya kebingungan.

“Ya, kau tidak akan mengurus perusahaan ini lagi Jinki-ya, kau akan membantuku di Park Corp. Perusahaan ini akan diurus oleh bawahanku,” jelas Jungsoo. Dia beranjak menuju lemari es, mengeluarkan wine dan menuangnya ke dalam gelas kaca. Jungsoo meneguk wine itu perlahan sementara Jinki mencerna ucapannya.

“Tapi kenapa aku harus pindah? Apakah aku tidak mampu mengurus bisnis yang dibangun aboeji?” tanya Jinki. Dia sungguh ingin meneruskan jejak ayahnya. Perusahaan ini adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa bahwa ia pernah punya keluarga.

Jungsoo meneguk winenya lagi, lalu menatap Jinki. “Hanya untuk sementara Jinki-ya, setelah itu kau boleh melakukan apa pun yang kau mau,” jawab Jungsoo.

Jinki hanya diam. Dia tidak pernah bisa menolak permintaan Jungsoo, jadi dia mengangguk. Ayah angkatnya ini pasti sedang merencanakan sesuatu terkait Choi Siwon dan Jinki tidak bisa menduga apa yang sedang direncanakannya. Dan kenyataan bahwa dia tidak dilibatkan dalam hal ini berarti ini jau lebih berbahaya. Bahaya yang bisa mengancam nyawa.

*TBC*

AN : halohaaa~ finally TFU is back haha. maaf yaa buat yang udah nunggu lama. aku ga komen banyak deh, silahkan komen part sebelum final ini. Part 13 akan jadi final dn akan dipost hari minggu.

Tungguin yaaa,

xoxo

qL^^

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s