Time For Us : Time 11

Time 11 The Good and The Bad

Minho berlari kecil saat melihat eomma-nya menyambutnya di ruang tamu. Tanpa aba-aba, Minho langsung memeluk eomma-nya.

“Minho-ya, gwaenchana?” tanya Nyonya Choi khawatir, melihat tingkah putra-nya yang tiba-tiba saja menjadi kekanak-kanakan. Minho kan biasanya paling ahli menutupi sifat kekanak-kanakannya itu.

Eomma, aku bahagia sekali,” seru Minho riang sambil tetap memeluk eommanya.

“Apa maksudmu Minho-ya?” tanya Nyonya Choi bingung.

“Aku menemukannya,” ucap Minho, masih dengan nada riang yang sama. “Aku menemukan Hyeki-ku, anak perempuan eomma,” imbuhnya riang.

Dan Nyonya Choi hanya melongo karena kaget.

* * *

Hyeki berlutut di hadapan Sooyan yang memandangnya dengan cemas.

“Hyeki ahgasshi, berdirilah, jangan seperti ini,” pinta Sooyan sambil memegang pundak Hyeki,  menariknya berdiri. Tapi Hyeki bergeming. Kedua telapak tangannya mengatup di depan dada.

Jebaaal, ahjumma, tolong aku,” Hyeki memohon sambil memasang ekspresi tersedihnya.

Sooyan hanya menghela nafas. Tidak tega menolak permintaan putri satu-satunya Park Jungsoo, orang yang paling diseganinya.

“Baiklah, akan aku ceritakan, tapi berdirilah ahgasshi. Jangan membuat ahjumma ini merasa tidak nyaman,” ucap Sooyan menyerah pada sifat keras kepala Hyeki.

Hyeki bangkit tergesa, setengah menyeret Sooyan agar duduk di sofa di kamar Hyeki, kemudian ikut duduk manis dan menatap Sooyan menantikan ceritanya.  Lagi-lagi Sooyan menghela nafas. Sebenarnya dia sama sekali tidak punya hak untuk menceritakan hal ini. Tentang bagaimana Hyeki bisa tiba di rumah ini. Tapi dia juga tidak bisa menolak permintaan Hyeki.

“Kau keras kepala,” ujar Sooyan akhirnya memulai ceritanya.

“Sama seperti appa,” sambung Hyeki tak sabar. “Bagian yang itu aku sudah tahu. Ceritakan yang lain, tentang Jinki oppa misalnya,” bujuk Hyeki.

Sooyan tertawa melihat tingkah Hyeki. Benar kata Jinki, sedikit banyak gadis ini egois, manja dan keras kepala. “Saat pertama kali ahjumma bekerja di sini, rumah ini baru selesai dibangun. Hanya ada appa-mu dan eomma-mu, namun orang tua Jinki sering berkunjung kemari. Jinki sendiri masih berusia balita saat itu,” cerita Sooyan.

Hyeki mengangguk, menandakan dia memahami cerita Sooyan sampai di situ. Jadi orang tua Hyeki dan Jinki berteman, begitu kan? “Lalu?” tanya Hyeki.

Ahjumma tidak tahu apa yang terjadi, tapi tepat saat Jinki berumur 4 tahun, eomma-mu menghilang dan ibu Jinki meninggal. Ayah Jinki meninggal nyaris di bulan yang sama, dan sejak itu Jinki tinggal di sini bersama appa-mu,” ujar Sooyan. Hatinya seperti disayat mengingat betapa shock dan menderitanya Jinki yang saat itu masih sangat kecil karena kehilangan orang tuanya dalam waktu yang berdekatan. Bayangan bocah kecil yang menangis keras di pemakaman melintas di pikiran Sooyan. Bagaimana saat Sooyan berusaha menenangkan bocah yang tidak ingin orang tuanya dikubur dalam tanah yang dingin.

Ahjumma, gwaenchana?” panggil Hyeki pelan, membuyarkan lamunan Sooyan.

Sooyan mengangguk pelan, berusaha mengendalikan ekspresinya.

“Lalu? Di mana aku ketika itu?” tanya Hyeki.

“Entahlah, agasshi. Mungkin Nyonya Park sedang mengandungmu saat dia pergi dari rumah ini. Kau baru kembali ke rumah saat berusia tujuh tahun,” kenang Sooyan. Tentu dia masih ingat jelas, saat Jungsoo pulang sambil menggendong anak perempuan yang terlelap. Tanpa banyak bicara Jungsoo menuju sebuah kamar yang kuncinya selalu dipegang langsung oleh dirinya sendiri. Kamar yang ternyata sudah disiapkan Jungsoo hanya untuk putrinya.

Hyeki ingat itu, bagaimana dia tertidur di pangkuan Minho dan terbangun di kamar yang sama sekali berbeda. Saat Jungsoo mengatakan bahwa dia adalah appa Hyeki. Saat Hyeki tiba-tiba mempunyai oppa. “Tujuh tahun?” ulang Hyeki. Berarti saat itu, Minho berumur 11 tahun, begitu juga dengan Jinki. Hyeki paham sekarang kenapa dia bisa menganggap orang yang sekali dua kali muncul dalam memorinya adalah orang yang sama.

Ne,” jawab Sooyan memastikan. “Kau bermain dengan baik bersama Jinki, menganggapnya oppa-mu karena kau anak tunggal. Lalu, Jinki harus dikirim ke Amerika untuk melanjutkan sekolahnya. Hari itu kau mengamuk,” Sooyan terkekeh sedikit, “menolak berpisah dari oppa-mu dan kabur dari bandara saat mengantar Jinki. Lalu…” Sooyan ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.

Hyeki menyadari perubahan nada bicara dan tatapan khawatir Sooyan, seolah lanjutan cerita ini akan membuatnya sakit hati. “Ada apa ahjumma? Apa hal buruk terjadi padaku?” tanya Hyeki, yang justru semakin penasaran.

“Kau.. menjadi korban tabrak lari,” ucap Sooyan pelan.

Dan ini adalah shock yang sekian kali dialami Hyeki selama beberapa bulan belakangan ini.

* * *

Hyeki bergelung dalam selimutnya, menolak untuk bangun. Dia tidak ingin kuliah dan tidak ingin bertemu siapa pun. Dia butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya. Sekeping demi sekeping misteri mulai terangkat ke permukaan, membentuk jalinan cerita kehidupannya. Namun masalahnya jalinan itu masih kosong di beberapa tempat dan membuat Hyeki nyaris putus asa.

Kini dia tahu, dia pernah tinggal di Ilsan bersama ibunya, dia mengenal Choi Minho sebagai teman masa kecil, kemudian ibunya meninggal dan dia pindah ke Seoul bersama appa-nya. Di Seoul, dia mengenal Jinki yang yatim piatu hingga dia mengalami kecelakaan dan melupakan beberapa kenangan mengenai masa kecilnya. Semua fakta-fakta itu terlihat berhubungan sekaligus juga membingungkan.

Mengapa ibunya harus pergi dari rumah? Padahal jika ibunya menginginkan keamanan, tinggal bersama ayahnya adalah pilihan yang tepat.

Mengapa pula ayahnya tidak bisa menemukan ibunya dengan mudah? Ayahnya kan punya banyak pengawal yang selalu bisa diandalkan.

Dan kematian orang tua Jinki. Apa penyebab kematian mereka? Bagaimana mungkin dua orang yang sehat meninggal dalam waktu berdekatan?

Lalu kecelakaan yang dialaminya. Mungkinkah itu disengaja? Apakah itu karena perusahaan? Atau sesungguhnya memang ada yang mengincarnya? Pembunuhan Seunghyun ahjusshi juga terjadi saat Hyeki bersama dengannya. Lalu yang terakhir penyusup di dalam rumah. Mungkinkah semuanya berkaitan?

Satu demi satu spekulasi terbentuk dalam pikiran Hyeki dan dia tahu siapa yang harus ditanyai. Appa-nya. Park Jungsoo.

Maukah kali ini appa-nya berbicara jujur padanya? Tidak menutupi atau menghindari apa pun? Bahkan Hyeki pun ragu, hal itu bisa terjadi. Tapi dia harus mencobanya kalau dia ingin semuanya menjadi jelas.

Hyeki menyibak selimutnya, memutuskan akan menemui appanya. Kalau perlu dia akan memaksa Kibum mengantarnya ke Park Corp. Permasalahan ini harus jelas secepatnya, sebelum spekulasi liar lainnya semakin membanjiri otak Hyeki.

* * *

Minho menelusuri ruangannya dengan heran. Mengapa meja Hyemi mendadak tampak kosong? Tidak ada lagi map-map maupun bingkai foto berisi foto keluarga Hyemi di atas meja. Minho duduk di mejanya sendiri, matanya masih terpaku pada meja Hyemi. Kim Heena yang menyadari arah pandangan Minho membuka mulut.

Waeyo, Minho-ssi?” tanyanya heran.

Minho menoleh, sedikit kaget. “Aniya, hanya merasa sedikit heran. Apakah hanya perasaanku saja kalau meja Hyemi mendadak terlihat kosong?” tanya Minho balik.

Kim Heena mengernyit, merasa aneh dengan pertanyaan Minho. “Hyemi tidak memberitahumu?” tanyanya lagi.

Kali ini gantian Minho yang merasa aneh. “Memberitahu apa?”

“Dia dipindahtugaskan oleh Direktur Lee Sungmin untuk bergabung dengan jaksa dari tim lain,” jawab Kim Heena, memandang Minho dengan curiga.

Otak Minho bekerja lambat merespon ucapan Kim Heena. Hyemi tidak mengucapkan sepatah kata pun semenjak pertemuan terakhir mereka di rumah Hyemi. Bahkan sejak pernyataan cinta itu keluar dari mulut Hyemi. Mereka seolah putus hubungan bahkan Hyemi menolak diantar jemput oleh Minho. Awalnya Minho pikir itu karena Hyemi masih sungkan, tapi ternyata efeknya lebih dari yang Minho bayangkan. Dia yakin Hyemi menghindarinya.

“Hyemi pindah?” suara Kyuhyun menginterupsi pemikiran Minho.

Kim Heena dan Minho sama-sama menoleh menatap Kyuhyun.

O!” jawab Kim Heena.

“Kau tidak tahu kalau Hyemi pindah?” tanya Kyuhyun pada Minho.

Minho menggeleng dan sekejap perasaan bersalah menyelip di hatinya. Minho bangkit berdiri, merasa dia perlu menemui Hyemi.

“Mau kemana Minho-ya?” tanya Kyuhyun.

“Aku ada urusan sebentar, hyung,” jawab Minho sekilas, lalu menghilang di balik pintu.

Setengah berlari, Minho menemui Direktur Jaksa Lee Sungmin, menanyakan dimana ruangan Hyemi yang baru. Namun Sungmin hanya berkata bahwa Hyemi sedang mengambil cuti selama seminggu dari kantor. Hyemi tidak menjelaskan alasannya mengambil cuti dan itu semakin membuat Minho merasa khawatir.

Minho menghubungi Ibu Hyemi, namun sayangnya Nyonya Kang juga tidak tahu kalau putrinya sedang tidak di kantor. Perasaan khawatir semakin menyergap Minho. Kemanakah Hyemi pergi?

Otaknya berputar cepat memikirkan dimana Hyemi sekarang. Sebuah tempat yang jarang dikunjunginya tiba-tiba muncul di ingatannya. Hyemi mungkin ada di sana.

* * *

Butik bridal yang mewah dan elegan itu kini dipenuhi pelayan-pelayan keluarga Kwan yang sibuk membawakan berbagai macam peralatan yang dipakai untuk pernikahan. Nyonya Kwan sendiri terlihat duduk di salah satu sofa, sambil menyilangkan kaki. Beliau sibuk membolak-balik katalog baju pengantin yang ada di butik itu sembari menunggu putrinya mencoba berbagai gaun.

Tirai yang menutupi panggung kecil itu tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan Nara yang berdiri di sana dengan senyum canggung. Nara dengan balutan gaun putih pernikahan yang mewah dengan rambut yang disanggul anggun. Sungguh cantik.

“Oh, Nara-ya. Neomu yeppo,” seru Nyonya Kwan sambil menahan haru.

Eomma,” bisik Nara gemas. Walaupun Nara tahu, gaun itu penting dalam pesta pernikahan, tapi dia tetap tidak suka menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk mencoba gaun-gaun itu.

“Aku sudah mencoba sepuluh gaun dan semuanya eomma bilang bagus. Setidaknya biarkan aku istirahat dulu,” keluh Nara.

Nyonya Kwan tertawa. “Baiklah, untuk hari ini sudah cukup dulu. Kita tunggu Kyuhyun pulang bekerja, setelah itu kalian bisa mencoba bersama-sama, otte?”

Nara memutar bola matanya, merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Ibunya. Toh, semuanya juga  akan berjalan sesuai dengan keinginan ibunya. Nara hanya perlu jadi anak baik yang mematuhi semua wejangan ibunya.

Tanpa berganti baju lebih dulu, Nara meraih android yang ada di dalam tasnya. Ada satu pesan dari Hyeki. Gadis itu bertanya kapan mereka bisa bertemu. Kelihatannya ada banyak hal yang ingin diceritakannya pada Nara. Benar juga, semenjak kunjungan terakhir Hyeki ke apartemen Nara, mereka nyaris tidak berhubungan karena Nara harus disibukkan dengan mengurus berbagai hal mengenai keperluan pernikahannya. Nara bahkan tidak yakin bahwa Hyeki tahu kalau dia sedang mengurus persiapan pernikahannya.

To : Park Hyeki~

Datanglah ke apartemen nanti malam, Eonni menunggu.

Pintu butik bridal itu bergemerincing terbuka. Nara menoleh untuk melihat siapa yang datang. Kyuhyun melangkah masuk ke dalam butik, membuat Nara kelimpungan karena dia masih memakai gaun pengantin. Nara bisa mendengar Kyuhyun menyapa ibunya yang sangat senang dengan kehadiran Kyuhyun yang tiba-tiba dan dengan senang hati juga menunjukkan dimana Nara berada.

Haish, rutuk Nara, berusaha mencari tempat persembunyian. Mana mungkin dia rela mempermalukan diri sendiri dengan memakai gaun pengantin di hadapan seorang Cho Kyuhyun. Namja itu bisa menertawakannya habis-habisan.

Akhirnya Nara bersembunyi di salah satu ruang ganti, walaupun baju gantinya tidak ada di situ. Jantungnya berdegup dengan keras saat mendengar langkah Kyuhyun yang mendekat.

“Kwan Nara, sedang apa kau di dalam sana? Cepat keluar, aku perlu bicara,” ujar Kyuhyun tepat di ruang ganti.

“Aku sedang ganti baju, bodoh,” jawab Nara. Berbohong tentu saja. “Lagipula sedang apa kau di sini? Kenapa tidak bilang-bilang dulu kalau mau datang?” omel Nara panjang lebar.

“Cish, ppaliwa! Sekarang kan sedang istirahat makan siang, makanya aku datang dan aku tidak bisa lama-lama di sini,” ujar Kyuhyun ketus.

Nara ikut menggerutu dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang ganti. Wajahnya memerah, jadi dia menunduk supaya Kyuhyun tidak menyadari kalau dia sudah merasa sangat malu. Tapi ternyata hal yang sama juga terjadi pada Kyuhyun. Bukannya menertawakan Nara, namja itu justru terpaku melihat gadisnya memakai gaun pengantin. Entahlah Kyuhyun hanya bisa berpikir bahwa Nara memang sangat cantik dengan gaun itu.

Kyuhyun berdeham untuk mengembalikan konsentrasinya. Dia melepaskan jasnya dan menyampirkannya ke bahu Nara. “Gaunmu cantik, tapi bahunya terlalu terbuka. Jangan dipakai kecuali di hadapanku, arraseo?” ucapnya tajam.

Nara melongo. Sejak kapan Cho Kyuhyun menjadi begitu protektif padanya? Tapi Nara tidak menyuarakan keheranannya dan hanya mengangguk. “Eomma bilang kita akan memilih gaunnya bersama, jadi jangan khawatir,” ujar Nara memberitahu Kyuhyun.

“Kau datang untuk mengatakan sesuatu yang penting kan? Ada apa?” tanya Nara lagi, heran melihat Kyuhyun yang kelihatannya sama sekali tidak fokus.

“Ah iya. Hyemi pindah tugas dengan jaksa lain, kurasa terjadi sesuatu antara Hyemi dan Minho,” ucap Kyuhyun, nadanya menjadi serius.

Jinja? Hyeki bilang ingin bertemu kita, jadi aku menyuruhnya datang ke apartemen nanti malam. Bukankah ini terlalu kebetulan?” ujar Nara heran.

Wajah Kyuhyun berpilin cemas. “Pastikan Hyeki datang nanti malam, kita harus tahu ceritanya. Aku harus kembali ke kantor, Minho absen hari ini dan aku harus mengambil alih tugasnya,” kata Kyuhyun.

Nara mengangguk. Kyuhyun yang sibuk adalah hal yang biasa bagi Nara.

Namun, Kyuhyun tidak langsung pergi. Kyuhyun maju selangkah mendekati Nara dan menarik Nara mendekat padanya. Nara sadar dirinya menahan nafasnya saat bibir Kyuhyun menempel di keningnya. Mereka kan bukan pasangan yang hobi skinship tapi dia bisa merasakan kasih sayang dari perlakuan Kyuhyun.

“Jaga dirimu baik-baik. Sampai ketemu nanti malam,” ujar Kyuhyun jahil, sambil mengedipkan mata.

Nara hanya tersenyum miring sambil menatap punggung Kyuhyun yang berbalik pergi. Menikah dengan Kyuhyun memang hal yang sudah diputuskan Nara sejak lama, namun baru sekarang ia sadar bahwa dia tidak akan pernah meragukan keputusan yang diambilnya.

* * *

Hyemi duduk bersimpuh di depan pusara Ayahnya. Foto ayahnya yang tersenyum semakin membuat hatinya sakit. Dia sudah berusaha tegar, namun air matanya tidak bisa dibendung lagi. Hyemi terisak dalam kesendiriannya.

Appa, apa kau sangat menyayangi nona muda itu hingga berani mati untuknya?” tanya Hyemi. Bayangan jenazah ayahnya dengan peluru di dada membanjiri ingatan Hyemi.

Appa, aku sudah berusaha tegar, tapi batasku hanya segini,” ujarnya lagi. Hyemi terisak semakin keras. “Appa tahu, ternyata selama ini appa salah. Minho tidak pernah menyukaiku. Aku sudah menyatakan perasaanku padanya Appa, tapi dia menolakku. Dan ini lucu sekali. Appa tahu dia menolakku karena apa? Karena dia menyukai orang lain,” ujar Hyemi lagi, mengadu pada foto ayahnya.

“Tapi itu tidak terlalu menyakitkan appa, yang lebih menyakitkan adalah dia menyukai Park Hyeki. PARK HYEKI!!!” pekik Hyemi.

“Apa dosaku? Kenapa aku harus selalu hidup di bawah bayang-bayang nona besar itu?” bisik Hyemi pelan. Hyemi tidak sadar kalau dia tidak lagi sendiri. Minho sudah ada di sana tetapi tidak berani melangkah lebih jauh melihat bagaimana Hyemi menangis. Hati Minho sakit mendengar apa yang barusan Hyemi ucapkan.

Minho melangkah meninggalkan tempat itu. Pikirannya dipenuhi bagaimana Hyemi bisa tahu tentang Hyeki. Padahal Minho tidak pernah menyebut nama gadis itu jika bersama Hyemi.

Hyemi berhenti menangis karena tertidur. Saat Hyemi terbangun, diia melihat arloji, dan menyadari bahwa sekarang sudah hampir gelap. Hyemi harus pulang sebelum membuat ibunya cemas. Dengan langkah yang diseret, Hyemi meninggalkan ruangan itu. Hyemi tersentak kaget saat melihat Minho ada di sana. Minho duduk bersandar di tempat tunggu. Matanya menerawang melihat langit yang mulai gelap.

Bagaimana Minho tahu aku ada di sini? Hyemi membatin.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Hyemi dengan nada  dingin.

Minho menoleh, tersenyum hambar. “Aku mencemaskanmu, jadi aku menyusul kemari.”

Hyemi menatapnya. Seberapa pun besar rasa kecewanya terhadap Minho karena hubungan Minho dengan Park Hyeki tidak akan semudah itu menghapus rasa cintanya pada Minho. Hyemi tahu dia sangat bergantung pada Minho sejak mereka kuliah di tempat yang sama. Namun sekarang, Hyemi harus berusaha menegarkan diri untuk mengambil satu langkah penting dalam hidupnya.

“Bukankah kau sudah menolakku?” tanya Hyemi pelan. Nada bicaranya tajam, tapi Minho bisa melihat kerapuhan dari bola mata Hyemi.

“Aku menolak pernyataan cintamu, bukan menolak menjadi sahabatmu,” jawab Minho sediplomatis mungkin. Dia tidak ingin menyakiti Hyemi lebih jauh setelah mendengar apa yang Hyemi ucapkan di depan abu Ayahnya.

“Bukankah kalau kau berhubungan dengan Park Hyeki, berarti kau mengkhianatiku?” tanya Hyemi lagi.

Minho menghela nafas. “Park Hyeki bukan musuhmu, Hyemi-ya. Dia hanya anak yang tak bersalah yang tanpa sengaja terlibat.”

Hyemi diam. Tidak berusaha membalas ucapan Minho. Dari nada bicaranya saja, Hyemi tahu namja itu akan membela nona besar itu apa pun yang dikatakan Hyemi.

“Baiklah, aku tahu kau tidak akan mendengarkan aku lagi, Minho-ssi,” ujar Hyemi dingin. “Pergilah, jangan muncul lagi di hadapanku. Persahabatan kita sudah berakhir. Lupakan semua hal mengenai penyelidikan appa, aku akan menyelesaikannya sendiri.”

Minho terhenyak, bukan hanya panggilan –ssi yang dialamatkan padanya, namun juga tentang penyelidikan Seunghyun ahjusshi. Minho tidak sekali pun berpikir Hyemi akan memutuskan persahabatan mereka semudah ini hanya karena satu pernyataan cinta. Ada perasaan tak rela yang menyelip di relung hati Minho saat mendengar Hyemi mengusirnya. Benar-benar mengusirnya.

Minho menyerah, dia tahu dia tidak akan bisa membujuk Hyemi.

“Baiklah, aku pergi. Tapi ingatlah, aku akan selalu menjadi temanmu kalau kau butuh,” ucapnya pelan, sambil melangkah meninggalkan Hyemi.

Hyemi tetap mempertahankan wajah dingin dan angkuh hingga dia mendengar mobil Minho menderu menjauh. Tapi kemudian, kakinya melemah. Hyemi terpuruk. Terisak dan terluka. Sungguh, dia benar-benar mencintai Choi Minho.

* * *

“Sudah kubilang, Jungsoo ahjusshi melarangmu pergi kemana pun,” seru Jinki. Suaranya sedikit keras. Jinki benci berdebat dengan Hyeki, apalagi sekarang gadis itu menunjukkan wajah cemberutnya. Jinki tahu dia akan kalah, tapi dia harus tegas, Jinki tidak akan membiarkan satu kesempatan pun membiarkan Hyeki celaka.

“Aku kan hanya ingin bertemu Nara eonni,” sungut Hyeki. Sebal karena Jinki terus menerus membantah ucapannya. “Oppa juga boleh ikut kalau tidak percaya.”

Jinki mendengus. Mengeluarkan android dari saku jaketnya dan menelepon Jungsoo untuk meminta izin. Ayah Hyeki itu mengizinkan saja. Lagipula Hyeki hanya ingin bertemu Nara.

“Tuuh kan, sudah kubilang appa pasti mengizinkan,” ucap Hyeki sebal.

“Aku akan ikut,” putus Jinki, menyambar kunci Porsche.

Hyeki mengangkat bahu.

Mereka berdua duduk diam di dalam mobil. Tidak saling bicara dan menghindari bertatapan. Mereka berdua tidak pernah berbaikan secara langsung sejak peristiwa pembatas buku sialan itu. Keduanya hanya mengobrol biasa saja. Senormal mungkin.

“Kenapa kau mengunjungi Nara?” tanya Jinki.

“Kenapa oppa mau tahu?” Hyeki bertanya balik. Begitulah, jawaban Hyeki yang selalu diberikan Hyeki kalau mereka mengobrol.

“Lupakan,” jawab Jinki. Tangannya mencengkram setir lebih keras.

Hening menyelimuti mereka berdua. Hyeki menyalakan radio Jinki namun yang mengalun justru melodi piano. Lullaby mereka.

Terhenyak. Melodi ini seakan membangkitkan perasaan Jinki. Perasaan memiliki dan kasih sayangnya pada Hyeki. Jinki mengerling Hyeki yang juga terlihat terpaku.

“Seperti apa kita dulu?” tanya Hyeki lirih.

Jinki tersenyum tipis. Dirinya adalah bagian dari memori yang dilupakan Hyeki.

“Seperti melodi lulllaby ini,” jawab Jinki singkat.

Hyeki menelan ludah. Dia mengerti apa maksud Jinki dan bisa mendengar dengan jelas nada getir dalam kalimat Jinki tadi.

“Aku minta maaf aku melupakanmu, oppa,” bisiknya.

Gwenchana, akulah yang menyebabkanmu terluka,” jawab Jinki pelan. “Kita  masih bisa membuat memori baru yang jauh lebih menyenangkan.”

Bisakah? Hyeki bertanya-tanya dalam hati. Dunianya dipenuhi teror sekarang, masihkah dia layak bermimpi mendapatkan kehidupan normal?

* * *

Porsche putih milik Jinki terparkir mulus di basement apartemen Nara. Mereka berdua turun. Jinki langsung waspada, sigap menempeli Hyeki, menjaganya dari berbagai kemungkinan.

Setelah pembicaraan tadi, suasana di antara mereka lebih mencair. Prospek memori yang menyenangkan sedikit membuat mood Hyeki lebih baik. Seperti saat ini, dia sedang sibuk membujuk Jinki ikut mencoba cokelat buatannya dengan Sooyan.

Hyeki masih tertawa-tawa melihat Jinki bersungut-sungut memakan cokelat darinya ketika pintu lift menuju apartemen Nara berdenting terbuka. Dan Choi Siwon keluar dari lift.

Ahjusshi!” pekik Hyeki gembira, jelas masih terbawa mood baiknya.

Siwon tersenyum pada Hyeki.

Rahang Jinki mengeras. Dia berusaha mengendalikan ekspresinya saat melihat Siwon. Ini adalah pertemuan langsungnya dengan Siwon setelah dia pulang dari Amerika. Hei, tunggu dulu. Ahjusshi? Sejak kapan Hyeki dekat dengan orang ini? pikir Jinki.

Ahjusshi, sedang apa di sini?” tanya Hyeki.

“Ah, aku berkunjung ke tempat teman. Kau juga sedang apa kau di sini Hyeki-ya?” tanya Siwon. Senyum ramah menghiasi wajahnya.

“Kami mengunjungi teman,” jawab Jinki cepat sebelum Hyeki menjawab.

Siwon beralih pada Jinki, senyum ramah masih melekat di bibirnya. “Siapa ini Hyeki-ya? Temanmu yang lain?” tanya Siwon.

Teman yang lain? ulang Jinki heran.

“Ah, aku lupa memperkenalkan,”Hyeki menepuk jidatnya sendiri. “Ini Jinki oppa. Jinki oppa, ini Siwon ahjusshi,” ujarnya Hyeki.

Oppa?” alis Siwon terangkat. “Aku pikir kau tidak punya oppa,” ucapnya.

“Dia sudah kuanggap oppaku sendiri,” jawab Hyeki cepat.

Jinki benar-benar berharap Hyeki tidak menjawab seperti itu. Jinki bersumpah dia bisa melihat kilat kepuasan yang keji di bola mata Siwon setelah mendengar jawaban Hyeki.

“Choi Siwon,” siwon mengulurkan tangan pada Jinki.

“Lee Jinki,” Jinki menyambut tangan Siwon. Berharap bisa mematahkan jari Siwon saat mereka bersalaman.

Jinki melepaskan salamnya dengan Siwon, lalu menarik Hyeki mendekat.

“Aaah, aku ingat. Dulu kita juga pertama kali bertemu di sini bukan?” tanya Siwon. “Saat ahjusshi mengembalikan iPodmu?”

Hyeki mengangguk. “Ne, benar sekali.”

Jinki tidak suka pembicaraan ini terus berlanjut, jadi dia menyela. “Kkajja, mereka menunggu,” ujarnya setengah menyeret Hyeki masuk lift.

“Eeh,” Hyeki kaget diseret Jinki, “sampai jumpa Siwon ahjusshi,” serunya sebelum pintu lift tertutup.

Siwon melambai, hingga Hyeki dan Jinki tidak terlihat. Pria paruh baya itu melangkah keluar lobby apartemen dan menuju basement.

Jinki sudah tumbuh dewasa. Dalam beberapa kali menguntitnya saat transaksi, Siwon sudah melihat bagaimana pertumbuhan Jinki menjadi dewasa. Namun, saat berhadapan langsung dengannya, Siwon merasa hatinya dicabik. Dia bisa melihat bagaimana wajah Jinki memiliki rupa yang sama dengan Hyojin, terutama matanya. Mata yang dulu selalu membuatnya luluh. Tapi dia juga bisa melihat bagaimana garis rahang Jinki dibentuk dari Donghae, sosok paling dibencinya. Apapun yang berkaitan dengan Donghae harus dihancurkan, termasuk Lee Jinki.

Sekarang Siwon bisa melihat hubungan Hyeki-Jinki jauh lebih kuat dari apa yang diharapkannya. Mendorong Hyeki ke jurang akan membuat Jinki ikut melompat ke jurang untuk menyelamatkannya. Semuanya akan menjadi lebih mudah mulai sekarang.

* * *

“Ada apa dengan oppa? Oppa memikirkan sesuatu?” tanya Hyeki khawatir melihat wajah Jinki berpilin cemas.

Jinki menggeleng. “Siapa itu Choi Siwon?” tanyanya.

Hyeki menatap Jinki bingung. “Molla~ yang aku tahu dia alumni SNU jurusan ekonomi bisnis juga sepertiku. Dia pernah menolongku waktu aku menjatuhkan iPodku. Dia baik padaku dan kami sering bertemu,” jawab Hyeki.

“Bertemu?”

“Hm. Tanpa sengaja, tentu saja, di kafe kampus.”

“Kau pernah bertemu dengannya saat bersama orang lain?” tanya Jinki lagi.

Hyeki terdiam, sepertinya sedang berpikir. “Aku pernah bertemu dengannya saat sedang bersama temanku,” jawabnya ragu.

“Teman?” alis Jinki terangkat. “Kupikir Nona Park tidak punya teman di kampusnya.”

“Aaah i-ituu,” Hyeki tergagap. Pintu apartemen Nara sudah terlihat dan Hyeki berlari mendekati pintu, menghindari menjawab pertanyaan Jinki.

Pintu apartemen terbuka dan Kwan Nara berdiri di depan pintu dengan menggunakan apron. Jinki sudah pernah melihat Nara sekali ketika dia pertama kali tiba di Korea.

Annyeong,” sapa Hyeki ceria.

Nara tersenyum, memeluk gadis itu erat layaknya seorang kakak. “Kau baik-baik saja?” tanya Nara.

Hyeki mengangguk, berjalan memasuki pintu dengan Jinki mengikuti di belakang.

“Ah, kau juga datang rupanya,” ucap Nara pada Jinki.

Jinki mengangguk dan membungkuk singkat. “Aku yakin aku belum pernah memperkenalkan diri. Lee Jinki, bangeupsemnida,” ucap Jinki.

Nara mengangguk.

Hyeki terdiam kita melihat apartemen Nara dipenuhi berbagai macam barang-barang yang terlihat hanya saat pernikahan. Beberapa pelayan mondar-mandir mengisi meja makan dengan berbagai makanan. Hyeki semakin bingung. Apalagi saat melihat mannakin yang memakai gaun putih pernikahan Nara. Jinki bisa melihat sinar mata Hyeki meredup, seakan pernikahan Nara membuatnya sedih.

“Aaah, uri aegi,” pekik Nyonya Kwan yang muncul dari dapur.

Hyeki membungkuk sopan. “Annyeong, eommonim,” sapanya ramah.

Nyonya Kwan memeluk Hyeki erat dan ikut memandang gaun pernikahan Nara. “Cantik, bukan? Kyuhyun dan Nara memilih sendiri gaunnya.”

Hyeki mengangguk pelan.

Jink sedikit tersentak saat ada yang menyentuh bahunya. Dia sejak tadi terlalu fokus mempelajari ekspresi Hyeki hingga tidak menyadari seorang pria sudah berdiri di sebelahnya.

“Aku Cho Kyuhyun, tunangan Kwan Nara,” ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangan.

“Lee Jinki. Hyeki sering bercerita mengenaimu juga,” ucap Jinki, menyambut uluran tangan Kyuhyun. Lalu kembali menatap Hyeki yang sekarang sedang mengobrol bersama Nyonya Kwan, ikut menggoda Nara di dekat meja makan.

“Kau menyukainya?” tembak Kyuhyun pada Jinki.

“Menyukai siapa?” Jinki bertanya balik. Mengalihkan fokusnya pada ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun menyeringai. “Hyeki, siapa lagi?”

Jinki tertawa kecil, tawa kecil yang kaku. “Dia adikku,” jawab Jinki pelan.

Adik? Benarkah begitu? Kalau begitu kenapa Jinki harus begitu peduli?

“Kalau kau terus mengingkari perasaaanmu, Hyeki akan diambil orang lain. Kau bukan satu-satunya yang memasang mata tajam, mengawasinya dari jauh,” ucap Kyuhyun ringan.

Jinki menatap Kyuhyun seakan laki-laki itu sudah gila. Tapi ucapan Kyuhyun seakan membangkitkan pemikirannya. Ada orang lain, ada orang lain yang sama pedulinya seperti dirinya pada Hyeki. Tapi siapa? Diakah teman Hyeki yang lain itu?

“Kenapa kalian berdua di sana? Ayo, makan malam sudah siap,” ajak Nara.

Jinki mengangguk dan mengikuti Kyuhyun menuju meja makan.

* * *

Mata itu tak henti-hentinya menatap Hyeki, semakin memperjelas dugaan Kyuhyun. Lee Jinki menyukai Park Hyeki, walaupun namja itu menyangkal. Anak bodoh, gerutu Kyuhyun.

Makan malam itu berlangsung singkat. Nyonya Kwan memonopoli pembicaraan dengan mengajak Hyeki berbicara (salah menyangka Jinki adalah namjachingu Hyeki, membuat wajah Jinki memerah). Kyuhyun tahu Hyeki berkali-kali mengerling Nara, mencari celah untuk bercerita namun tidak kunjung mendapatkannya. Bahkan di akhir kunjungan mereka.

Hyeki dan Jinki pamit. Namun sebuah kalimat fatal muncul tepat sebelum pintu apartemen menutup.

“Hat-hati di jalan, jangan sering menghabiskan waktu bersama jaksa muda itu Hyeki-ya,” ucap Nara sambil memeluk Hyeki.

Kyuhyun tahu kalimat itu hanya dimaksudkan agar Hyeki saja yang mendengarnya, namun ekspresi keheranan sudah lebih dulu muncul di wajah Jinki. Kyuhyun bisa mencium aroma kesalahahaman di udara.

Eonni,” protes Hyeki pelan, kesal digoda Nara. “Aku akan menghantuimu karena kau tidak bilang-bilang akan menikah dalam waktu secepat ini,” ancamnya pada Nara.

Lalu Hyeki memeluk Kyuhyun singkat. “Aku tahu oppa bisa menjaga eonni dengan baik,” bisiknya di pelukan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum, melepaskan pelukan mereka dan mengelus puncak kepala gadis kecil yang dulu selalu mengekorinya dan Nara. “Arraseo, oppa minta maaf kau tidak punya cukup waktu untuk bercerita,” ujar Kyuhyun.

Hyeki menggeleng. “Cukhae~” ucapnya.

Kyuhyun mengerling Jinki yang sekarang sedang mengobrol dengan Nyonya Kwan dan Nara. “Dia akan menjagamu bukan?”

Hyeki ikut menatap Jinki, memutar bola matanya. “tentu saja, dia pengawalku kan?”

Kyuhyun tersenyum misterius. Ikut melambai bersama Nyonya Kwan dan Nara, saat Jinki dan Hyeki pamit pulang. Dalam hati Kyuhyun berdoa, semoga Jinki tidak terlalu mempermasalahkan si jaksa muda yang disebutkan Nara.

* * *

Jinki menyetir dengan kecepatan biasa, sesekali menoleh ke samping untuk mengecek keadaan Hyeki. Gadis itu menyandarkan kepalanya ke pintu mobil, matanya terpejam, pura-pura tidur.

“Kau sedih?” tanya Jinki pelan.

Porsche itu berhenti saat lampu merah.

Hyeki duduk tegak, menatap lampu merah yang kembali berganti hijau.

“Sedih tidak patut digunakan ketika orang lain sedang berbahagia,” jawab Hyeki diplomatis.

Jinki tertawa muram. Pikirannya dipenuhi dengan jaksa yang disebutkan Nara tadi. Tapi dia tidak ingin bertanya sekarang. Tidak di saat Hyeki sedang berdamai dengannya.

Jinki memarkir Porschenya di garasi rumah keluarga Park yang besar. Audi Jungsoo tidak tampak, kelihatannya beliau kembali tidak pulang malam ini. Hyeki dan Jinki berjalan ke ruang depan. Seorang pelayan bergegas menyambut mereka.

“Nona Hyeki kedatangan tamu,” ucapnya.

Hyeki mengernyit. “Tamu?”

Sementara Jinki juga ikut merasa bingung. “Nugu?” tanyanya pada si pelayan.

“Namanya Tuan Choi,” pelayan itu menjawab pelan.

“Choi?” rahang Jinki mengatup keras. Choi Siwon kah?

Hyeki sudah berlari mendahului Jinki ke ruang tamu saat menyadari siapa Choi yang dimaksud pelayan itu. Choi Minho, jaksa muda yang sedang duduk dengan memandang lantai.

“Minho-ssi?” panggil Hyeki tak yakin.

Minho mendongak dan menatap Hyeki dengan ekspresi terluka. Hyeki terperangah, Minho terlihat sangat kacau. Kemejanya berantakan dan dasinya sudah tidak beraturan. Belum lagi ekpresi wajahnya yang sangat menyedihkan.

“Hei, apa yang terjadi?” tanya Hyeki sambil berjalan mendekat.

Minho bangkit terhuyung dan mendekati Hyeki. Tanpa aba-aba, jaksa muda itu menarik Hyeki dalam pelukannya. Minho membenamkan kepalanya di bahu Hyeki.

“Hei, Minho oppa, ada apa?” tanya Hyeki khawatir saat mendengar isakan Minho.

Minho tidak menjawab. Dia hanya butuh dukungan dari pelukan Hyeki.

Namun sayangnya, tepat di depan pintu, Lee Jinki berdiri memperhatikan. Sebuah kemarahan aneh meluap dalam dirinya. Dalam sekejap, dia tahu siapa yang dimaksud Kyuhyun dan Siwon.

* * *

Minho menatap kepulan asap dari teh hangat yang disediakan Sooyan untuknya. Hyeki duduk di hadapannya, menatap Minho dengan pandangan khawatir.

“Maaf aku datang tanpa pemberitahuan,” ucap Minho pelan.

Tadi setelah menemui Hyemi, dia tidak bisa berpikir. Tidak bisa menerima alasan tidak logis Hyemi dan mendadak merasa sangat jahat. Dia butuh seseorang yang bisa mengembalikan dirinya ssperti semula. Dan pilihannya adalah Hyeki.

“Tidak apa,” jawab Hyeki singkat. “Ada masalah apa sebenarnya oppa?”

Minho menelan ludah, pahit. “Hyemi,” ucapnya.

“Hyemi? Kang Hyemi? Putri seunghyun ahjusshi?” tanya Hyeki memastikan.

Minho mengangguk.

Hyeki paham bahkan tanpa Minho perlu menjawab. Tingkat kebencian Hyemi padanya pasti semakin meningkat. Tapi yang tidak bisa dipahami Hyeki adalah mengapa Minho harus sekacau ini setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Hyemi?

Oppa bisa menginap di sini kalau mau,” tawar Hyeki. Dia tidak yakin Minho akan sampai di Ilsan dengan selamat bila melihat keadaannya seperti ini.

“Tidak apa, aku harus pulang Hyeki-ya,” tolak Minho halus.

Hyeki ingin bersikeras tapi Jinki menginterupsinya.

“Biar oppa yang mengantarnya pulang,” tawar Jinki yang tiba-tiba muncul.

Hyeki langsung merasa tidak enak, Jinki bahkan tidak mengenal Minho, namun harus mengantarnya. Tapi Hyeki tidak punya pilihan lain yang lebih baik.

Minho tidak bersuara, kelihatannya dia percaya pada Jinki.

“Kau boleh ikut kalau kau tidak percaya,” ucap Jinki lagi.

“Aniya, keunyang….” Hyeki tidak melanjutkan ucapannya dan membiarkan Minho diantar oleh Jinki.

“Oppa pastikan dia kembali ke rumah dengan selamat,” janji Jinki sebelum masuk ke mobil Miho. Hyeki hanya mengangguk.

Dan mobil itu melaju kencang. Hyeki memandang mobil itu hingga menghilang di balik gerbang rumah keluarga Park.

* * *

“Aku Choi Minho, maaf kau terpaksa mengantarku,” ujar Minho.

Sosok yang mengemudi di samping terlihat datar, hanya mengangguk. “Lee Jinki,” balasnya singkat.

Minho mengalihkan pandangannya, urung mengajak Jinki berbicara lagi. Dia seolah pernah melihat Jinki sebelum ini. Pikirannya menerawang mengingat-ingat orang-orang yang pernah ditemuinya. Hingga sebuah ingatan menghantamnya.

Minho kembali menatap Jinki tajam.

Jinki yang merasa diperhatikan menoleh menatap Minho. “Waegeurae?”

“Tidak ada apa-apa,” Minho menoleh lagi. Dia harus memastikan sendiri.

*TBC*

AN : Hello all. Mian yaa untuk keterlambatan publish TFU yang ke 11 ini. Ini part terpanjang dengan 20 halaman hehehe. Part 12 udah ada ide, tapi belum aku tulis sama sekali dan part 12 akan jadi penutup TFU.

semoga masih berminat menunggu. Comments and likes are loved :*

NO SR. NO PLAGIATORS. 

Advertisements

5 thoughts on “Time For Us : Time 11

  1. huaaaa..akhirnya TFU post jgaaaa hihihi 😀
    it’s getting more complicated now…everyone getting confused with their own feeling each other..
    idk what i’ve to say again, this ff really daebakida hehe
    cannot wait for the next chap 😀

    Like

    1. naraaa i miss u so bad
      haha, kamu udah kayak beta readerku 🙂
      lagi sibuk kuliah ya neng? lain kali main2 yaa

      TFU 12 dan final masih terbengkalai
      kuliah oh kuliaah

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s