The Decision

Title : The Decision

Main Casts :

Lee Cheonsa, Lee Seungri ‘Big Bang’, Kim Kibum ‘Key’ SHINee

Support Casts : Kim Youngmi

Genre : Romance, Angst

Rated : Teen

Lenght : One shot

Recommended Song : JYJ – In Heaven

Warning : Full galau, haha. Happy Reading

Credits : Plot and story line copyright of qL^^. Gorgeous poster by : DazDhev @ HSG

* * *

the-decision1

The Decision

Lee Cheonsa turun dari mobil, tersenyum pada Kim Kibum yang membukakan pintu mobil untuknya. Mereka lalu berjalan berdampingan masuk ke dalam gedung sekolah. Beberapa anak langsung berbisik-bisik melihat Cheonsa dan Kibum bersama. Cheonsa tahu itu, dia sudah mempersiapkan diri sejak dua hari lalu. Sejak keputusan penting yang mengubah seluruh kehidupannya dibuat. Dan semuanya berhubungan dengan Kibum.

Sedikit mencuri pandang, Cheonsa berusaha melihat ekspresi Kibum. Tapi wajahnya datar saja. Tidak tersenyum, tidak mengernyit. Tanpa ekspresi. Cheonsa tidak bisa menembus sisi dingin Kibum yang itu. Jadi dia memutuskan akan diam saja dan mengikuti langkah Kibum.

Lagi-lagi, di depan pintu kelas, Kibum membukakan pintu untuknya. Sangat gentle. Cheonsa yakin semua gadis akan senang kalau diperlakukan sepeti itu oleh Kibum, namun permasalahannya hal itu tidak berlaku bagi Cheonsa.

Suasana kelas sama persis ketika tadi mereka berjalan di koridor. Bisik-bisik para siswa tidak kunjung berhenti. Cheonsa duduk di bangkunya tepat di depan bangku Kibum. Dia bisa merasakan Kibum duduk di belakangnya dan hampir-hampir yakin Kibum sekarang pasti sedang berusaha menebak-nebak pikiran Cheonsa karena yeoja itu sama sekali tidak berbicara.

Kim Youngmi, sahabat Cheonsa mendekat dan duduk di hadapan yeoja itu. Cheonsa yang tadinya menunduk, mengangkat kepalanya menatap Youngmi. Cheonsa tahu Youngmi khawatir padanya hanya dengan sekali lihat. Cheonsa hanya tersenyum tipis.

“Kau tidak baik-baik saja, Cheonsa-ya. Jangan tersenyum seperti itu di depanku,” ujar Youngmi dengan suara rendah. Mungkin takut anak-anak lain mendengar atau justru takut Kibum yang mendengar.

Cheonsa menggeleng dan tersenyum lagi. Dia sedang malas berbicara.

“Kau masih bisa melakukan sesuatu,” ucap Youngmi lagi.

Kali ini, Cheonsa hanya bisa tersenyum pahit. “Keputusan itu sudah dibuat. Aku sendiri yang menyetujuinya,” kata Cheonsa dengan suara serak.

Youngmi sedikit tersentak mendengar suara serak Cheonsa, pertanda chingunya itu banyak menangis. Youngmi tahu keputusan ini menyakitkan. Bukan hanya menyakiti Cheonsa, tapi juga menyakiti Seungri.

“Dia sudah datang,” bisik Youngmi.

“Apa? Siapa?” tanya Cheonsa hendak berbalik melihat pintu kelas, namun Youngmi mencekal tangannya. Melarang Cheonsa melihat ke sana.

Lee Seungri, namja itu melangkah masuk kelas. Bisik-bisik seru para siswa tiba-tiba terhenti, seakan aura Seungri membungkam para siswa. Seungri hanya mengedarkan pandangannya heran, lalu duduk di bangkunya di pojokan kelas. Matanya menangkap sosok Cheonsa yang masih mengobrol dengan Youngmi dan detik itu juga, Seungri merasa nafasnya tercekat.

“Dia menatapmu,” bisik Youngmi lagi.

Cheonsa menghembuskan nafasnya. “Rasanya aku ingin mati,” bisiknya nyaris tak terdengar.

Youngmi hanya bisa menggeleng prihatin. Kibum yang duduk di belakang Cheonsa menggunakan headset sambil melakukan entah apa di iPadnya. Mungkin sedang menghitung penjualan saham atau urusan perusahan lainnya. Entahlah. Sedangkan Seungri yang duduk di pojokan kelas, sedang mencoret-coret sesuatu di kertas yang Youngmi yakin itu adalah lirik lagu. Dua namja dengan kepribadian yang bagaikan bumi dan langit.

* * *

“Kau di sini?”

Cheonsa menoleh, mendapati Kibum berdiri di belakangnya dengan dua gelas kertas di tangan. Kibum berjalan mendekat –masih dengan ekspresi dingin yang sama- dan mengulurkan gelas kertas yang ternyata berisi hot chocolatte. Sekarang memang sudah mulai masuk musim semi, tapi udara masih tetap terasa dingin.

Cheonsa mengambil gelas kertas itu dan kembali memandang keluar. Mereka ada di koridor samping ruang eskul tari. Koridor ini mempunyai jendela lebar yang memungkinkan mereka melihat isi dalam gedung sekolah mereka yang besar dan mewah. Jendela di koridor lantai tiga ini punya view yang bagus terhadap seluruh sudut sekolah. Cheonsa suka menghabiskan waktu seusai latihan menari dengan menatap keluar melalui jendela ini.

Mianhe,” ucap Kibum tiba-tiba.

Cheonsa menoleh. “Untuk?” tanyanya bingung. Kalau ini masalah keputusan itu, Kibum tidak perlu minta maaf. Kibum tidak pernah memaksanya, Cheonsa sendiri yang setuju terhadap keputusan itu.

Kibum balas memandang Cheonsa dengan aneh. “Bukankah kau dikeluarkan dari eskul tari?” tanya Kibum tanpa basa-basi. “Aku minta maaf karena itu.”

“O-oh,” mata Cheonsa membulat. “Tidak, aku tidak dikeluarkan. Aku mengundurkan diri, jadi kau tidak perlu minta maaf,” ujarnya pelan, sambil meminum hot chocolattenya.

Keduanya diam. Cheonsa malas berbicara dan Kibum bingung harus berkata apa. Sejak keputusan itu dibuat dan Cheonsa setuju, Cheonsa tidak pernah mengucapkan keluhan atau apa pun pada Kibum. Kibum tahu, Cheonsa memang tidak dikeluarkan dari eskul tari. Tapi gosip-gosip yang beredar membuat gadis itu harus menghancurkan pertahanannya sendiri dan mundur. Entahlah, bagi Kibum, Cheonsa selalu berusaha tegar di hadapannya.

“Kita pulang sekarang?” tanya Kibum.

Cheonsa melirik arlojinya. Pukul 17.10 KST. Sudah waktunya mereka pulang.

“Baiklah, kajja,” ucap Cheonsa menatap Kibum sambil tersenyum.

Seakan ada yang menggerakkan tangannya, Kibum meraih telapak tangan Cheonsa dan mengenggamnya. Cheonsa hanya sedikit terkejut melihat tingkah Kibum.

Kajja,” ajak Kibum.

Itu adalah kali pertama, Cheonsa dan Kibum berpegangan tangan.

* * *

“Seungri?” panggil Cheonsa tidak percaya.

Seungri sedang berdiri bersandar di motornya yang parkir di depan pagar rumah Cheonsa. Kibum memang mengantar Cheonsa pulang, tapi mobilnya tidak berhenti tepat di depan rumah. Cheonsa menolak dengan halus diantarkan tepat sampai di depan rumah dan lebih memilih berjalan kaki. Dan sekarang, betapa kagetnya dia mendapati Seungri ada di depan rumahnya.

“Seungri?” panggil Cheonsa lagi karena Seungri tidak menanggapi panggilan pertamanya. “Sedang apa kau disitu?”

Seungri gelagapan. Bingung harus menjawab apa. Tidak menyangka Cheonsa akan muncul sekarang. Dia berdiri tegak dan menatap Cheonsa.

Cheonsa balas menatap, mengamati Seungri dari jauh. Namja itu terlihat seperti biasa, tipikal anak band dengan rambut cepaknya hitam legam, matanya diberi eyeliner tipis, tindik di telinga, seragam sekolah yang tanpa dasi dan menaiki motor besar. Sungguh kontras dengan Kibum yang seorang presiden sekolah dan calan pewaris perusahaan raksasa multinasional, selalu berpakaian rapi, tanpa tindik dan mengendarai mobil. Cheonsa mengamati wajah Seungri sekali lagi. Syukurlah, Seungri terlihat baik-baik saja. Itu sudah cukup bagi Cheonsa.

Cheonsa berjalan mendekat dan tersenyum. “Kau mau masuk?” tawarnya pada Seungri.

Seungri bagaikan disihir, langsung mengangguk. Mengikuti langkah Cheonsa masuk ke dalam rumahnya yang kecil. Cheonsa menyalakan lampu. Hanya ada ruang tengah, dua kamar tidur dan kamar mandi di rumah Cheonsa. Seungri tersenyum tipis, mengingat dulu betapa seringnya Seungri bernyanyi di ruang tengah, menghibur Cheonsa yang kesepian karena ditinggal kedua orangtuanya.

Seungri duduk di sofa sementara Cheonsa membuatkan minuman. Dua gelas susu hangat dan beberapa potong biskuit diletakkan di atas meja oleh Cheonsa yang kemudian duduk di hadapan Seungri.

“Kau sudah makan?” tanya Cheonsa.

Seungri menggeleng.

Cheonsa menghela nafas. “Aku tidak punya bahan makanan apa pun sekarang. Apa kau mau aku berbelanja dulu?” tawar Cheonsa.

Seungri kembali menggeleng. Perhatian Cheonsa membuat dadanya sesak. “Kau sendiri sudah makan?” tanya Seungri.

Cheonsa mengangguk ragu-ragu. Bahkan tanpa dijawab pun, Seungri tahu Cheonsa pasti makan malam dengan Kibum.

“Apa kau masih merasa kesepian?” tanya Seungri.

Cheonsa terhenyak. Seungri tidak pernah melankolis begini. Seungri yang dia kenal adalah orang yang selalu membuat Cheonsa tertawa dan melupakan masalahnya. Orang yang selalu mendukung apa pun yang dilakukan Cheonsa. Orang pertama yang Cheonsa jadikan tempat bersandar, walaupun mereka berdua hobi bertengkar dan saling teriak. Tapi Cheonsa bahagia, sangat bahagia bersama Seungri.

Tapi keputusan itu menghancurkan segalanya. Menghancurkan hubungannya dengan Seungri. Menghancurkan perasaan bahagianya.

“Apa kau masih merasa kesepian?” ulang Seungri.

Cheonsa menggigit bibir bawahnya, menahan tangis. “Aku akan baik-baik saja,” jawabnya pelan.

“Kau ingin kabur? Kau ingin aku membantumu lari dari semua ini?” tanya Seungri. Suaranya tertekan menunggu jawaban Cheonsa.

Tapi Cheonsa menggeleng. “Aku sendiri yang membuat keputusan itu, aku tidak akan lari,” ucap Cheonsa mantap. Suaranya bergetar, tapi nadanya sangat yakin dan tegas. Walaupun menyakitkan, tapi itulah kenyataannya. Cheonsa sendiri ikut ambil bagian dalam memutuskan hal itu dan dia sudah siap menanggung segala resikonya, termasuk melepaskan Seungri.

Seungri menatap Cheonsa seakan gadis itu sudah gila. Dan tiba-tiba pemahaman itu menghampiri Seungri. Cheonsa sudah menyerahkan dirinya pada Kibum. Seungri tidak punya secuil harapan agar gadis itu kembali padanya.

Tanpa bicara, Seungri bangkit berdiri dan meninggalkan rumah Cheonsa. Dengan terburu-buru dia menaiki motornya dan memacunya dalam kecepatan penuh. Pikiran-pikiran berseliweran di kepalanya. Seharusnya Seungri memang tidak datang ke rumah Cheonsa. Seharusnya Seungri tidak memikirkan untuk meminta Cheonsa kembali. Seharusnya Seungri tahu dia tidak punya harapan.

“Aaaaarrrgghh!!!” teriak Seungri. Dia terus memacu motornya sepanjang jalanan Seoul yang gelap.

* * *

Cheonsa terisak. Berkali-kali merutuki dirinya sebagai gadis bodoh sejak Seungri meninggalkan rumahnya. Dia bahkan tidak berusaha untuk menghentikan Seungri.

Cheonsa mengangkat cangkir susu yang dibuatnya untuk dirinya dan Seungri. Susu itu masih terasa hangat ketika diteguk, membuat isakannya melambat.

Cheonsa tahu dia tidak pantas menangis. Seungri tidak menyakitinya, malah dia yang menyakiti Seungri dengan keputusan itu. Keputusan untuk bersedia menjadi tunangan Kibum sebagai ganti pembayaran atas hutang kedua orangtuanya. Konyol bukan? Kenapa Cheonsa yang harus membayar hutang orangtua yang bahkan tidak diketahui keberadaannya sekarang? Orangtua yang meninggalkan rumah kecil ini untuk Cheonsa dan menghilang setelah perusahaannya bangkrut.

Cheonsa tersentak saat mendengar bunyi pintu dibuka. Setengah berharap, Seungri kembali. Tapi tenyata Kibum yang berdiri di sana.

Mata sipit Kibum membelalak ketika melihat bekas air mata di wajah Cheonsa. Dia terburu-buru mendekat dan menatap wajah Cheonsa dari dekat.

Waegeurae?” tanya Kibum khawatir. Tangannya memegang kedua bahu Cheonsa.

Cheonsa tidak menjawab, hanya menggeleng.

Kibum mengambil cangkir dari tangan Cheonsa dan meletakkannya di atas meja. Saat itu, Kibum sadar ada dua cangkir di sana yang berarti Cheonsa baru menerima tamu. Jelas tamu itu bukan Kibum, karena Kibum datang setelah berulang kali menelepon Cheonsa namun tidak dijawab. Tidak mungkin juga itu Youngmi, karena sebelum ke rumah Cheonsa, Kibum menelepon Youngmi menanyakan Cheonsa namun Youngmi tidak tahu. Jadi pastilah itu Seungri, satu-satunya orang yang selalu diharapkan Cheonsa.

Kibum mengangkat tubuh Cheonsa yang ternyata sangat ringan. Cheonsa tidak meronta, hanya pasrah saja saat Kibum menggendongnya ke kamar. Tubuhnya terasa lemah dan tidak bisa digerakkan. Kibum membaringkan Cheonsa di tempat tidur dan menyelimutinya. Gadis itu bahkan belum melepaskan seragam sekolah, membuat Kibum yakin Cheonsa benar-benar sedang tidak fokus.

Kibum menatap gadis itu khawatir, sementara Cheonsa memejamkan matanya. Cheonsa ingin tidur, dia ingin melupakan ekspresi wajah Seungri yang terluka saat meninggalkan rumahnya. Ingin mimpi-mimpi menghapus kejadian buruk tadi.

Tangan Kibum bergerak menyentuh kening Cheonsa, merapikan poni dan anak rambut Cheonsa. Kibum membuang nafas berat. Apakah keputusannya egois? Dia sudah memperhatikan Cheonsa sejak lama, sejak gadis itu sekelas dengannya ketika mereka masuk SMA. Gadis ceria yang kemana-mana tidak pernah jauh dari Seungri, si biang kenakalan yang hobinya berkelahi. Tapi Kibum tidak berani mendekati Cheonsa, sampai ketika kesempatan itu datang.

Cheonsa tiba-tiba muncul di kantor Ayahnya, saat Kibum sedang magang di sana. Cheonsa datang sendirian tanpa Seungri, membawa semacam surat peringatan pelunasan hutang. Surat itu rutin dikirimkan selama setiap bulan dan ini adalah peringatan terakhir. Saat itu, Cheonsa protes karena dia bahkan tidak tahu apa-apa mengenai orangtuanya. Tapi hutang adalah hutang yang harus dibayar. Kibum mengambil kesempatan itu, memohon pada Ayahnya agar membebaskan Cheonsa dengan syarat gadis itu mau hidup bersamanya.

Gosip-gosip menyebar di sekolah mengenai hutang keluarga Cheonsa. Seungri selalu ada di sana, membungkam siapa saja yang menjelekkan Cheonsa. Situasi semakin memburuk namun Cheonsa masih menggantungkan penawaran keluarga Kibum. Kibum bahkan sudah menyerah untuk berharap,  namun dua hari yang lalu, Cheonsa tiba-tiba menerima penawaran itu.

“Aku menginginkanmu, apakah aku egois?” tanya Kibum pelan. Kibum membungkuk, mencium kening gadis itu sebelum mematikan lampu dan meninggalkan rumah Cheonsa.

Cheonsa membuka matanya perlahan. Entah kenapa, perlakuan Kibum membuatnya merasa hangat. Haruskah dia membuka hatinya untuk Kibum? Haruskah dia benar-benar meninggalkan Seungri?

* * *

“Selamat pagi,” sapa Kibum pada Cheonsa. Cheonsa menutup pagar rumahnya dan tersenyum pada Kibum.

“Selamat pagi,” balasnya riang.

Kibum mengernyit heran, dia belum pernah mendengar Cheonsa berbicara ramah seperti itu padanya.

Mereka tiba di sekolah dan memasuki kelas seperti biasa. Cheonsa bersikap jauh lebih riang dan gembira dibandingkan kemarin. Sikapnya nyaris normal terhadap Kibum dan semua orang. Tidak terlihat seolah dia tertekan dengan keputusan yang telah dibuatnya.

Seungri tidak ada di kelas. Sonsaengnim bilang namja itu dipindahkan oleh orangtuanya ke Amerika. Keputusan itu baru dibuat hari ini.

Cheonsa melihat Youngmi mengerlingnya, ingin mengetahui apa yang dirasakan Cheonsa terhadap berita itu. Tapi Cheonsa balas menatap Youngmi sambil tersenyum. Cheonsa memang kecewa. Bukan apa-apa, Seungri tidak pernah memutuskan sesuatu tanpa dirinya, tapi sekarang dia tahu semuanya berbeda. Dia tidak pantas lagi untuk merasa kecewa.

Cheonsa yang memutuskan bersama Kibum.

Cheonsa yang memutuskan melepaskan Seungri.

Cheonsa yang menyerahkan dirinya pada Kibum.

Ya, keputusan itu sudah diambil. Dia akan memberikan kesempatan untuk membuka dirinya pada Kibum. Hidupnya sudah berubah dan tidak akan kembali lagi seperti dulu. Seperti Seungri yang terluka dan pergi. Dia akan menyimpan semua kenangannya bersama Seungri sebagai masa paling menyenangkan dalam hidupnya.

Maka ketika Kibum menggandeng tangannya saat jam istirahat, tidak ada lagi yang bisa dilakukan Cheonsa selain tersenyum menatap Kibum, laki-laki dingin yang akan menjadi masa depannya.

*The Decision-End*

AN : TFU 11 belom bisa dipost. Jadi gantiny aku kasih ini dlu yaaaa. Komennya ttp ditunggu

PS : Other Poster by : DazDhev @ HSGThank you ♥♥♥

the-decision2a

Please review 🙂

NO SILENT READERS! NO PLAGIARISTS!

Advertisements

3 thoughts on “The Decision

  1. anyeong, aq reader baru disini, salam kenal 🙂
    wah aq suka cerita kalo main castnya key, hehe
    ceritanya bagus, untung cheonsa akhirnya mau sama kibum ya
    semoga ada lanjutannya ya 🙂

    Like

    1. salam kenal keyraan 🙂
      lain kali mainmain lagi yaa, sedang menyiapkan sequel nih untuk the decision
      makasih udah baca dan komen 🙂

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s