Time For Us : Time 10

Time 10 Hyemi’s Confession

Hyeki masih marah pada Jinki hingga keesokan harinya. Menolak bicara sepatah kata pun pada Jinki. Wajahnya akan berkerut kesal dan bibirnya akan memberengut setiap melihat Jinki muncul di hadapannnya. Sejak pembobolan rumah mereka, Jinki kembali memutuskan mengantar jemput Hyeki. Dia sudah membicarakannya dengan Jungsoo dan Jungsoo tahu Jinki mengkhawatirkan Hyeki, jadi Jungsoo membiarkannya saja. Tapi Hyeki tidak suka, walaupun Jinki berdalih bahwa dia sedang senggang, jadi dia mengisi waktu luang dengan mengantar Hyeki. Dalih yang konyol dan itu semakin membuat Hyeki kesal.

Hyeki turun dari mobil dan membanting pintu Porsche putih milik Jinki itu dengan sengaja.

Ya!” protes Jinki galak. “Kau tidak tahu ini mobil mahal,” dumalnya.

“Berhenti mengangguku kalau begitu,” balas Hyeki lebih galak dan melengos begitu saja, meninggalkan Jinki yang menatapnya dengan pandangan yang sama. Gelisah bercampur khawatir, mungkin.

Tepat di belokan menuju kelasnya, langkah Hyeki terhenti saat berhadapan dengan seorang namja memakai dasi dan blazer rapi sambil menenteng tas plastik. Siapa lagi kalau bukan Choi Minho. Mau tak mau, senyum Hyeki sedikit terkembang ketika melihat senyum sumringah Minho.

“Selamat pagi, Hyeki-ssi,” sapa Minho riang.

“Wah, selamat pagi. Ada urusan apa muncul di kampus pagi-pagi begini Jaksa Choi?” goda Hyeki.

Minho terkekeh. “Aku ke sini bukan untuk urusan penyelidikan kok. Aku ke sini khusus untuk bertemu denganmu,” ujar Minho ringan.

Mata Hyeki membulat kaget. “Denganku? Ada perlu apa?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Hanya ingin memastikan beberapa hal,” jawab Minho singkat, membuat Hyeki mengernyit bingung. “Mau menemaniku minum kopi sebentar?” tawar Minho sambil mengangkat tas plastik yang ternyata berisi kopi.

Hyeki mengangguk dan mengikuti Minho berjalan menuju taman kampus. Kelasnya masih akan dimulai sejam lagi. Hyeki sengaja datang pagi karena bila di rumah dia akan melihat Jinki terus yang akan membuatnya semakin sebal.

Minho dan Hyeki duduk berdampingan. Minho menyerahkan gelas kardus berisi kopi pada Hyeki yang mengambil sambil mengucapkan terima kasih. Mereka terdiam sambil meyeruput kopi masing-masing.

“Kau ingat teman masa kecilku yang namanya sama denganmu?” tanya Minho memulai percakapan. Ya, hari ini dia ingin memastikan siapa Hyeki yang sekarang duduk di sampingnya ini.

“Mm,” Hyeki menjawab dengan gumaman. “Waeyo?”

Eomma bercerita tentangnya dan membuatku ingat padanya lagi,” jawab Minho.

Hyeki ber-ah panjang. “Jadi dimana teman kecilmu itu sekarang?” tanya Hyeki, menoleh menatap Minho.

“Dia hilang,” jawab Minho dan Hyeki tersentak. “Tapi sekarang aku berusaha menemukannya,” imbuh Minho yang sekarang menatap Hyeki.

Hyeki menelan ludah, kaku dan kaget dengan ucapan Minho. “Lalu?” responnya singkat.

Eomma bilang pernah memberi Hyeki boneka beruang putih dan di lehernya disulam bulkeok charisma,” cerita Minho.

Hyeki terkekeh geli. “Bulkeok charisma?” ulangnya geli. Mana ada bocah yang mengenal istilah itu saat usianya masih kanak-kanak.

“Heum, itu nama panggilan eomma untukku,” jawab Minho mengangkat bahu.

Hyeki masih tertawa-tawa geli, namun tiba-tiba dia menangkap maksud Minho menceritakan semua itu padanya. Hyeki berhenti tertawa dan menatap Minho curiga. “Jangan bilang kalau kau berpikir bahwa teman masa kecilmu itu aku?” tebak Hyeki.

Minho mengangguk dan Hyeki menatapnya ngeri.

“Mana mungkin, aku kan lebih muda—”

“Empat[U1]  tahun dariku? Teman masa kecilku itu memang berusia empat tahun lebih muda dariku,” potong Minho.

Hyeki menatap Minho tak percaya. Mulutnya terbuka, tapi dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tidak tahu berapa tahun mereka berbeda usia, tapi yang jelas Minho memang sudah pasti lebih tua daripada dirinya. Hyeki juga tidak peduli bagaimana Minho tahu perbedaan usia mereka tapi yang jelas fakta ini membuatnya shock.

“Kalau kau memang punya boneka itu lengkap dengan sulamannya, berarti aku menemukan teman masa kecilku,” ujar Minho dengan nada menerawang.

“Dan kalau tidak?” tanya Hyeki. Penasaran dengan apa yang dipikirkan Minho.

Minho kembali menoleh menatap Hyeki, memberinya senyum tulus yang membuat Hyeki berdebar. “Kalau tidak, kita akan tetap bisa berteman baik kan?”

* * *

“Kau memikirkan sesuatu?” tanya Jungsoo. Jinki menoleh, sedikit kaget mendapati Jungsoo mengunjungi kantornya secara mendadak. Jinki berdiri dan mempersilahkan Jungsoo masuk. Jungsoo mengedarkan pandangannya ke ruang kerja Jinki. Rapi dan bersih. Walaupun Jinki bergerak secara ilegal, kantor mereka bukanlah seperti bar atau tempat-tempat gelap lainnya. Kantornya memang mewah dan jauh dari kesan kotor dan kasar.

Jinki hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jungsoo. “Hyeki,” ucapnya singkat.

Jungsoo tersenyum tipis. Ikut duduk di sofa bersama Jinki. Pelayan Jinki muncul sambil membawa sebotol brandy dan gelas-gelas. Pelayan itu menuangkan brandy di dalam gelas kaca berkaki panjang untuk mereka, kemudian membungkuk pergi.

“Aku mengkhawatirkannya,” ucap Jinki lagi, memandang ayah angkatnya cemas.

Jungsoo tahu itu, Jinki terus mengulang kalimat yang sama sejak Choi Siwon muncul. Tapi Jungsoo menangkap sesuatu yang lebih. Sesuatu yang bahkan tidak disadari Jinki. Ada jejak posesif di sana, yang awalnya Jungsoo tangkap sebagai respon wajar karena Jinki selama ini menganggap Hyeki sebagai adik. Namun sekarang, Jungsoo sedikit curiga, hampir-hampir yakin bahwa Jinki -mungkin tanpa sadar- tidak lagi menganggap Hyeki sebagai adik.

“Kita sudah menempatkan orang-orang paling terpercaya untuk menjaganya, Jinki-ya. Berhentilah mengkhawatirkannya,” saran Jungsoo.

Jinki diam saja, merasa heran dengan reaksi Jungsoo yang cenderung mengabaikan. Tidak seperti biasanya, batin Jinki.

“Hyeki bertanya kenapa dia melupakanmu, mengapa dia melupakan banyak memori kanak-kanaknya,” ujar Jungsoo.

“Jujur, ahjusshi, aku juga bertanya-tanya hal yang sama,” ucap Jinki.

Jungsoo tidak langsung menjawab, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. “Tepat setelah kau berangkat ke MIT, Choi Siwon berulah. Dia baru tahu kalau selama ini aku melindungimu, menutupi eksistensimu. Dia menginginkanmu, tentu saja. Tapi aku sudah lebih dulu mengamankanmu di MIT, di bawah perlindungan temanku di sana. Jadi dia mencari sasaran lain, yaitu Hyeki,” jelas Jungsoo pelan.

Apa? Jadi selama ini Choi Siwon tidak tahu dimana dia? Kalau dia tahu, Jinki akan mati bahkan sebelum dia bisa sekolah di MIT. “Apa yang dia lakukan pada Hyeki?” tanya Jinki geram.

“Hyeki masih berusia 13 tahun ketika itu, menangis dan marah padaku, karena aku mengirim oppa-nya ke Amerika,” cerita Jungsoo tertawa miris. “Dia lolos dari pengawasanku di bandara dan saat itu Siwon mengambil kesempatan. Hyeki ditabrak dengan mobil berkecepatan tinggi, terlihat seperti tabrak lari. Syukurlah dia selamat dan hanya mengalami amnesia parsial. Dokter bilang semua memori yang membuatnya tertekan terhapus secara otomatis karena trauma itu,” jelas Jungsoo. Meneguk brandy untuk menenangkan suaranya yang nyaris bergetar karena marah.

Ucapan itu memukul Jinki, membuatnya nyeri. Hyeki melupakan dirinya karena dirinya sendiri. Nyawa Hyeki dalam bahaya karena dirinya. Dan sekarang hal yang sama terulang kembali.

Jinki menatap Jungsoo dan seolah dapat membaca ekspresinya, Jungsoo mengangguk, menyetujui pikiran Jinki.

* * *

Nara menggigit bibirnya, bimbang, kemudian menoleh pada Kyuhyun yang balas menatap dengan pandangan bertanya.

“Kau mau berada di mobil seharian Nona Kwan?” tanya Kyuhyun, sedikit tidak sabar.

“Aku …” Nara mencari kata yang tepat, “gugup,” suaranya mencicit.

“Gugup?” ulang Kyuhyun tak percaya. “Nara-ya, ini rumahmu, kenapa kau harus gugup? Lagipula aboeji dan eomonim sudah setuju dengan rencana pernikahan kita,” ujar Kyuhyun menenangkan, sedikit banyak dia prihatin dengan kondisi tunangannya ini.

Semalam Nara menelpon ayahnya, ingin bertanya mengenai mafia-mafia itu, namun di luar dugaan, ayahnya malah menyuruhnya dan Kyuhyun untuk datang ke rumah. Dan di sinilah mereka sekarang, di dalam mobil Kyuhyun di halaman parkir rumah keluarga Kwan.

Kyuhyun beranjak keluar mobil dan memutari mobil, membukakan pintu untuk Nara. Nara keluar dengan enggan, seakan-akan ini bukan rumah keluarganya. Hubungannya dengan ayahnya memang tegang sejak Nara memutuskan akan bersama Kyuhyun. Namun semuanya semakin membaik seiring berjalannya waktu. Apalagi dengan keteguhan Kyuhyun untuk terus mempertahankan Nara.

Kyuhyun dan Nara melangkah menuju pintu depan. Keduanya berjalan berdampingan dan saling mengenggam tangan erat, terutama Nara. Dia memang bukan tipe gadis penakut, namun ayahnya saja sudah cukup untuk membuat tangannya yang berada dalam genggaman Kyuhyun berkeringat dingin.

Pintu terbuka dan keduanya melangkah masuk. Orang tua Nara sudah menunggu. Kyuhyun dan Nara mendekat, kemudian membungkuk menyapa orang tua Nara sebelum duduk di hadapan mereka.

Eomma sangat senang melihat kalian bersama,” ujar Nyonya Kwan setelah berbasa-basi sejenak, sambil tersenyum lebar melihat tangan keduanya yang masih saling mengenggam.

Kamsahmnida, eomonim,” ujar Kyuhyun membalas senyum Ibu Nara.

Nyonya dan Tuan Kwan saling berpandangan. Nyonya Kwan mengangguk, memberi isyarat agar Tuan Kwan bicara. “Kami sudah memutuskan untuk mempercepat pernikahan,” ujar Tuan Kwan.

Nara dan Kyuhyun hanya saling berpandangan, kaget.

“Persiapan pernikahan akan dimulai sesegera mungkin, biar eomonim dan Nara yang mengurus semuanya. Kyuhyun pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai jaksa,” imbuh Nyonya Kwan.

Nara memandang Kyuhyun. Hanya dengan melihat sekilas, Kyuhyun tahu bahwa Nara tidak sepenuhnya setuju. Tapi mereka juga tahu, menolak bantuan orang tua Nara bukanlah hal yang bijaksana saat rencana kehidupan mereka telah mencapai tahap yang sangat serius. Jadi pasangan itu hanya bisa mengangguk pasrah. Walaupun mereka berdua tahu, Hyeki masih menjadi prioritas untuk diselamatkan.

* * *

“Kau tidak mau mampir?” tawar Hyemi pada Minho. Suaranya penuh harap. Seperti biasa, setiap pulang kantor Hyemi dan Minho akan pulang bersama. Minho akan mengantar Hyemi sampai di rumah dan terkadang dia ikut mampir,  yang intensitasnya semakin lama semakin jarang.

Minho menoleh menatap Hyemi, menangkap dengan jelas nada penuh harap dari pertanyaan Hyemi. “Baiklah,” jawab Minho singkat, lalu turun dari mobilnya.

Hyemi menyerahkan secangkir  teh yang diambil Minho sambil mengucapkan terima kasih. Keduanya menyesap teh hangat itu dalam diam, sambil menatap taman rumah Hyemi.

“Aku ingin membicarakan sesuatu padamu,” ujar Hyemi, pelan nyaris seperti bisikan.

“Katakanlah,” seru Minho.

Hyemi menarik lengan Minho, memaksa namja itu berhadapan dengannya. Hyemi menarik nafas dalam, berusaha menenangkan debaran jantungnya.  Dia sudah memikirkannya sejak berhari-hari yang lalu. Dia bahkan sudah meminta nasehat Kim Heena. Maka dia harus mampu mengatakannya sekarang.

Minho hanya menatap Hyemi heran, menunggu yeoja itu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.

Saranghae,” ucap Hyemi. Matanya menatap manik mata Minho yang besar. Berusaha menunjukkan kesungguhan dari matanya pada Minho.

Mwo?” Tersentak, Minho seolah merasa salah dengar.

Saranghae,” ulang Hyemi, masih tetap menatap Minho.

“Hyemi-ya…” Minho bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Ini terlalu mengejutkan baginya.

Waeyo?” tanya Hyemi, dia bahkan tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya dengan respon Minho. “Kau pikir aku bercanda?”

“Ini… Bukan, aku sama sekali tidak berpikir seperti itu,” jawab Minho cepat. “Aku…” Minho tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dia terlalu takut menyakiti perasaan Hyemi.

“Kenapa? Kau tidak menyukaiku? Bukankah aku satu-satunya yeoja yang selalu bersamamu?” tuntut Hyemi. Pegangannya di lengan Minho semakin erat, seolah tidak ingin melepaskan namja itu.

“Aku menyukai orang lain, Hyemi-ya,” akhirnya Minho mengatakannya. Minho bisa melihat raut wajah Hyemi yang berubah kelam, matanya yang mulai berkaca-kaca dan bibirnya yang bergetar menahan tangis. Minho mengangkat tangannya, ingin mengusap kepala Hyemi untuk menenangkannya. Namun belum sempat tangannya bergerak, android Minho bergetar.

Yobseyo?” sapa Minho. Tidak ada suara, hanya ada isakan samar yang terdengar. Hyemi tidak bergeming di tempatnya.

Ya! Gwaenchana?” tanya Minho lagi.

“Minho-ssi, bisa kita bertemu? Aku… aku sudah memiliki jawabannya,” bisik suara di seberang dengan lirih.

Arraseo. Di tempat biasa?” tanya Minho. Si penelepon mengiyakan dan memutuskan sambungan telepon.

“Hyemi-ya, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik, arra?” pesan Minho sambil memeluk Hyemi sekilas.

“Mau kemana?” tahan Hyemi. Tangannya semakin mencengkram erat lengan Minho. Tidakkah Minho melihatnya yang sedang terluka karena penolakan Minho? Hyemi butuh penjelasan. Bukan hanya kalimat ‘aku menyukai orang lain’.

Minho melepaskan pegangan tangan Hyemi dengan lembut.

“Ini sangat mendesak, aku harus pergi. Kita bicarakan lain kali, mianhe Hyemi-ya,” ujar Minho buru-buru. Dia meletakkan cangkir teh di atas meja taman dan berlari menuju mobilnya yang terparkir di luar pagar.

Hyemi mengejar Minho hingga ke pagar rumahnya. Namun, Minho bahkan tidak menoleh. Mobilnya melesat meninggalkan rumah Hyemi.

Penolakan Minho tidak sesakit apa yang dirasakannya saat ini. Saat dia ingin menangis namun Minho justru meninggalkannya. Siapa orang itu? Siapa yang membuat Minho yang selalu setia menjaganya, kini mengabaikannya? Siapa yang lebih penting dari Hyemi bagi Minho? Hyemi belum tahu jawabannya. Dia tidak ingin mencari tahu. Dia ingin Minho yang menceritakannya sendiri.

* * *

Sepanjang perjalanan pulang, Hyeki tidak sabar. Berkali-kali menyuruh Kibum untuk ngebut membelah jalanan kota Seoul yang padat. Ya, Kibum yang menjemputnya sore ini. Rupa-rupanya Jinki menyerah menganggu Hyeki sebelum Hyeki benar-benar mengamuk.

Hyeki membanting pintu kamarnya hingga tertutup karena ia begitu terburu-buru. Dia segera menuju lemari khusus tempat penyimpanan boneka-boneka. Kebanyakan boneka itu hadiah dari relasi bisnis ayahnya ketika Hyeki berulang tahun, tapi ada juga beberapa dari Nara, Kyuhyun dan bahkan ada yang Hyeki tidak ingat siapa pemberinya. Tapi kalau boneka beruang putih, Hyeki ingat dengan jelas dia memiliki boneka itu. Benar saja, boneka itu terletak di rak yang setinggi pinggang Hyeki, tinggi yang mampu dijangkau anak-anak. Jelas menunjukkan boneka itu favoritnya di masa kanak-kanak.

Dengan tangan bergetar, Hyeki membungkuk meraih boneka itu. Tidak berdebu karena semua boneka dibersihkan dengan baik oleh pelayannya. Hyeki memperhatikan boneka itu dengan teliti. Tidak terlihat terlalu istimewa. Pelan-pelan Hyeki beralih memeriksa leher boneka itu. Beruang putih itu nyaris terlepas dari pegangannya saat Hyeki menemukan sulaman dengan benang biru di leher boneka itu. ‘Bulkeok Charisma’ Hyeki mengeja tulisan dalam huruf hangul itu.

Hyeki menggigit bibirnya. Jadi Minho itu teman masa kecilnya? Apakah saat di Ilsan? Lalu Jinki? Jinki dulu bermain piano bersamanya, saat itu Hyeki juga masih kecil kan? Lalu bagaimana Hyeki bisa berpisah dari Minho? Dari eomma-nya? Hyeki tiba-tiba merasa yakin ada banyak hal yang ditutupi ayahnya. Untuk dirinya? Atau untuk melindungi perusahaan?

Hyeki meraba-raba saku mantelnya, meraih androidnya. Tangannya gemetar saat mencari-cari kontak Minho. Mereka harus segera bertemu.

Yobseyo?” sapa Minho. Suara Minho memenuhi gendang telinga Hyeki. Merambat pelan memasuki ruang otaknya dan mendadak Hyek menjadi sangat ingin menangis. Tiba-tiba saja Hyeki terisak, namun berusaha ditahannya. Hyeki bahkan tidak bisa menjawab sapaan Minho.

Ya! Gwaenchana?” tanya Minho lagi. Hyeki tahu Minho cemas karena mendengar isakannya. Hyeki mengumpulkan kekuatannya. Berusaha bicara.

“Minho-ssi, bisa kita bertemu? Aku… aku sudah memiliki jawabannya,” kalimat itu keluar juga, hanya berupa bisikan lirih.

Arraseo. Di tempat biasa?” tanya Minho. Hyeki hanya mampu mengiyakan dan memutuskan telepon.

* * *

Kafe itu ramai sekali. Wajar saja, sekarang pukul 7 malam, waktu di mana semua orang yang lelah sepulang kantor akan mampir untuk makan malam. Hyeki duduk di sudut favoritnya sambil memeluk boneka beruang putih. Di tempat ini, dia pernah bersama Jinki, Minho dan Siwon. Tapi suasananya berbeda. Hyeki jelas tidak dalam suasana hati yang kacau seperti sekarang ini.

Kibum ada di luar kafe, menunggu Hyeki di dalam mobil. Sama sekali tidak tahu menahu, mengapa Hyeki tiba-tiba memaksanya untuk mengantar Hyeki kemari.

Hyeki mengaduk-aduk hot chocolate-nya dengan tidak berselera. Berkali-kali dia mengangkat kepalanya saat mendengar bunyi gemerincing bel pintu yang terbuka. Tapi orang yang diharapkannya belum muncul juga. Lima belas menit menunggu, Minho yang cemas melangkah masuk kafe. Hyeki langsung mendesah lega saat melihat Minho bergegas menghampirinya.

“Ada apa denganmu? Kenapa menangis?” kalimat pertama Minho langsung membuat mata Hyeki kembali berkaca-kaca. Mata Minho menelurusi wajah Hyeki, mencari-cari penyebab gadis itu menangis. Dan Minho hanya bisa tercengang kaget saat melihat boneka beruang putih di pelukan Hyeki.

“Aku… aku menemukan sulamannya,” ujar Hyeki serak. Air matanya kembali berlinang. Entah kenapa persoalan ini membuatnya cengeng. “Aku menemukannya,” ulang Hyeki lagi. “Apakah aku teman masa kecilmu?” tanyanya pada Minho.

Minho tidak menjawab, malah mengambil boneka itu dan melihat lehernya. Benar, tulisan itu ada di sana. Sudut bibir Minho tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.

Annyeong, Hyeki-ya,” ujarnya ceria.

Hyeki terkesiap. Minho bicara banmal dengannya? Sedekat itukah mereka?

Minho berpindah tempat duduk tepat di samping Hyeki. “Dulu kau juga menangis saat orangtuamu meninggal dan aku juga yang menghapus air matamu. Uljima, kenapa kau harus menangis?” tanya Minho pelan sambil mengusap air mata Hyeki.

“Kau tahu, aku seperti kehilangan jati diri. Kenapa aku bisa tidak ingat semua ini?” keluh Hyeki, suaranya masih serak. Dia menatap Minho dengan pandangan yang tidak bisa ditafsirkan Minho. Dan sebelum Minho membuka mulut untuk menjawab, seseorang menyerukan nama Hyeki.

“Hyeki-ya?” suara bass orang itu membuat Hyeki dan Minho menoleh.

“Siwon ahjusshi?!” pekik Hyeki tak percaya. Siwon tersenyum lebar.

“Wah, kita bertemu lagi di sini,” serunya riang, lalu duduk di hadapan Minho dan Hyeki. Minho yang salah tingkah, melepaskan tangannya yang tadi menghapus air mata di pipi Hyeki. Siwon memperhatikan dengan seksama.

“Oh, senang bertemu denganmu ahjusshi,” balas Hyeki, berdeham untuk menghilangkan seraknya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Siwon heran, jelas melihat bekas air mata di pipi Hyeki. “Kau terlihat kalut sekali, Nak. Apakah ada hal buruk?” tanya Siwon lagi.

Hyeki cepat-cepat menggeleng. “Aku baik-baik saja.”

Siwon mengangguk paham, sekali lagi matanya tertuju pada Minho yang duduk dekat sekali dengan Hyeki. Hyeki langsung sadar saat melihat tatapan Siwon.

“Oh, ahjusshi. Ini temanku, Choi Minho, dia seorang jaksa,” ujar Hyeki buru-buru memperkenalkan Minho. “Minho-ssi, ini Siwon ahjusshi, pemilik Choi’s Corp.”

Alis Siwon terangkat sedikit mendengar kata jaksa dari mulut Hyeki. “Choi Siwon,” kata Siwon mengulurkan tangan. Minho menyambut uluran tangan itu dengan mengucapkan namanya.

“Haha, sesama keluarga Choi,” gurau Siwon. “Temanmu menarik juga Hyeki-ya,” ujar Siwon.

Hyeki hanya tersenyum masam. Sekarang bukan saat yang tepat untuk berbicara dengan Siwon, dia perlu bicara dengan Minho. Tapi bagaimana caranya?

Android Hyeki bergetar, tanda panggilan masuk. Jinki. Hyeki mendesah, kenapa Jinki selalu ada dalam urusan apa pun terhadap hidupnya? Hyeki mereject panggilannya, tahu bahwa dia harus segera pulang.

“Minho-ssi, Siwon ahjusshi, aku pamit dulu,” ujar Hyeki sambil bangkit berdiri dan membawa boneka beruang putih.

Minho ikut bangkit. “Akan kuantar sampai ke depan kafe,” ujarnya.

Siwon hanya mengangguk. “Ahjusshi masih harus menunggu teman makan malam, jadi pergilah,” kata Siwon tenang.

Minho dan Hyeki membungkuk sedikit, lalu berlalu menuju pintu kafe. Siwon tersenyum miring. Bekas air mata dan wajah kalut Hyeki entah mengapa malah membuatnya merasa sedikit menang. “Hebat juga efek penyeludupan itu. Kasihan sekali melihat anak kecil itu kalut,” ucap Siwon remeh. “Tapi ini belum selesai. Masih ada kejutan lain yang menunggu,” bisiknya sinis.

Sementara itu di pintu depan kafe, Hyeki berjalan lambat-lambat menuju Kibum. Tepat di depan mobil, Hyeki berbalik menghadap Minho yang berjalan di belakangnya. Lagi-lagi dia menatap Minho dengan pandangan yang sulit dijelaskan, sementara Minho hanya tersenyum. “Aku akan menghubungimu lagi,” ujar Hyeki pada Minho.

“Kalau kau butuh sesuatu, jangan sungkan,” imbuh Minho. Tangannya bergerak mengacak poni Hyeki dan lagi-lagi tersenyum tulus.

Hyeki mengangguk dan masuk mobil. Minho terus menatap mobil itu sampai menghilang di balik belokan dan kemudian bergegas menuju mobilnya sendiri. Dia harus pulang secepat mungkin kalau tidak ingin kemalaman sampai di Ilsan.

* * *

Air mata Hyemi tidak bisa dibendung lagi saat melihat tangan Minho mengacak rambut Hyeki. Dia bisa melihat rasa kasih sayang dari perlakuan Minho pada Hyeki. Pandangan mata dan senyum tulus Minho yang biasanya hanya diberikan untuk Hyemi, kini sudah dirasakan oleh yeoja lain. Hyemi bodoh, dia merutuki dirinya sendiri. Bukankah sebelumnya dia tidak ingin mencari tahu? Bukankah dia akan menunggu Minho bercerita?

Tapi Hyemi tidak bisa melawan kehendaknya sendiri. Tanpa dia sadari, dia menaiki taksi dan mengikuti mobil Minho hingga ke depan kafe. Dan dia harus melihat pemandangan menyakitkan tadi.

“Kita kembali ke rumah, ahjusshi,” serunya pada supir taksi.

Taksi itu membawa Hyemi kembali ke rumah. Hyemi tidak memperhatikan jalanan, pikirannya dipenuhi oleh Minho, Minho dan Minho. Bagaimana mungkin Minho seakrab itu dengan Hyeki? Mereka tidak saling kenal, bukan? Kecuali… kecuali, selama ini Minho ternyata menemui Hyeki dengan dalih penyelidikan mereka. Jadi selama ini Minho tidak tulus membantunya? Jadi selama ini Hyemi benar-benar menaruh harapan kosong? Tapi, buat apa Minho mendekati Hyeki?

Hyeki lagi, Hyeki lagi, kenapa semua orang yang Hyemi sayang harus terikat padanya? Kenapa nona besar itu selalu saja menganggunya? Apa lagi yang diinginkan Hyeki dari Hyemi? Hidupnya sudah cukup sempurna.

Malam ini, dengan hati yang nyeri, Hyemi membuat keputusan. Sama seperti saat dia memutuskan akan menyatakan perasaannya pada Minho, Hyemi juga memantapkan diri melakukan keputusannya kali ini.

*TBC*

A.N. : Halooooo. Akhirnya Time 10 berhasil publish setelah bikin draft untuk Time 11, hehe. Mian lama menunggu, urusan kampus menghantui, hihi. Mohon bantuannya untuk menjadi beta reader dan mengoreksi typoo.

Akhirnya Hyeki tau kalau Minho itu temen masa kecilnya, perlu waktu lama untuk itu karena ini semua nnti ada kaitannya sama Siwon dan Hyemi, hehe. Penasaran keputusan apa yang akan diambil Hyemi di part depan? tunggu saja. haha *dibakar, wkwk. Highlight part ini adalah confessionnya Hyemi dan nikahan Nara Kyuhyun yang memperumit sekaligus memuluskan beberapa hal #semoga reader paham

Aku gak janji bisa post time 11 tepat malam minggu kayak sekarang tapi aku usahain, hehe. 

Spoiler, part depan Hyeki bakal dihadapkan pada banyak fakta mengejutkan dimana dia harus memilih antara yang terlihat baik namun buruk dan yang terlihat buruk namun baik. Ada bonus tuh buat yang nunggu2 time 11, hihi. Cekidot.  

Tapi sebelumnya, comments and likes for this part are loved :* Gomawo

*Preview Next Part*

Ahjumma, kumohon beritahu aku.”

“Tapi, ahgasshi….”

Jebaaaal.”

* * *

“Siapa dia?”

Uri oppa.”

Oppa? Kau punya oppa?”

“Dia sudah seperti oppa-ku.”

* * *

Mwo? Ilegal? Tidak mungkin.”

“Percayalah.”

* * *

“Aku akan ke Ilsan.”

“Tidak boleh!”

“Aku tetap akan ke sana.”

BRAKK!!

“Hyeki-ya!!!”

 *End of Preview*
Advertisements

4 thoughts on “Time For Us : Time 10

  1. smkin complicated aj critanya… akhir.y Minho tahu jg klo si Hyeki itu his childhood friend… Hyemi d tolak..kasian bener.. 😦 KyuNara udh mau nikah.. yeyeyye..:D

    Siwon mau ngapain lgi?? muncul dmna” deh prasaan..
    itu next part.y bkin pnasaran… d tungguin ^^

    Like

    1. hi nara-ya!
      mian yaa eon belum smpat update TFU 11, masih harus diedit lagi, hehe. semntra eon mnggu ini full sama kegiatan sosial, bakal terisolasi dr laptop dan inet selama bbrp hari.
      thanks for visit yaaa.
      ttp ditunggu TFU 11nyaa. *hug

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s