Long Time No See

Long Time No See

Seoul, early February 2012, 2.00 am

Hyeki meregangkan tubuhnya dengan lelah. Matanya membelalak lebar saat menyadari waktu bahkan sudah melebihi tengah malam. Diliriknya iPhone yang tak tersentuh sejak dia mulai mengerjakan tugas sesudah makan malam tadi. Ada beberapa pesan di sana, dari Sooyan, Jjung oppa dan beberapa teman kampusnya, termasuk Donghyun. Hyeki membaca pesan-pesan itu satu persatu.

From : Sooyan

Jaga kesehatan! Aku menyayangimu 🙂

Hyeki tersenyum samar. Hampir sama dengan semua pesan yang dikirimnya setiap hari. Jemari Hyeki menyentuh pesan lainnya.

From : Jjung oppa

Oleh-oleh mu sudah di koper. Oppa segera pulang.

Kali ini dia tersenyum lebar. Senang, setidaknya oppa yang sibuk dengan dunia idol itu masih sempat mengingat oleh-oleh yang disebutkan Hyeki secara asal beberapa minggu yang lalu. Pesan berikutnya.

From : Donghyun

Aku akan menjemputmu besok. Kita bicarakan dalam perjalanan ke kampus saja.

Hyeki menghela nafas. Kali ini dia kembali terlibat proyek sosial bersama Donghyun untuk merayakan bulan kasih sayang. Sekeras apa pun Hyeki menolak untuk ambil bagian dalam proyek itu tidak sama sekali membuat Donghyun menyerah membujuknya. Hyeki tidak merayakan hari kasih sayang -dia tidak peduli tentang hal-hal seperti itu. Tapi karena Donghyun mengatasnamakan proyek sosial juga, Hyeki tidak bisa menolak dengan mudah.

Tidak ada satu pun pesan yang dibalasnya dan Hyeki meletakkan iPhonenya di atas meja. Hyeki mengecek tugasnya sekali lagi, memastikan tidak ada cacat dalam tugas penting itu. Pintu kamar Hyeki terbuka, membuatnya sedikit terlonjak kaget.

“Oh, eonni! Kau mengagetkanku,” gerutu Hyeki sambil menenangkan debaran jantungnya.

Wajah InYoung berkerut di ambang pintu. “Apa yang kaulakukan Park Hyeki? Bukankah eonni sudah menyuruhmu tidur?” tanya InYoung galak, sedikit mengomel.

Hyeki nyengir. “Tugasku baru saja selesai eon,” jawabnya ringan dan bersamaan dengan itu, Hyeki bersin. Buru-buru diraihnya tissue di atas meja untuk membersihkan hidungnya.

“Kau akan sakit kalau terus begini,” keluh InYoung pasrah.

Arraseo,” jawab Hyeki. Demi menyenangkan hati eonni tertuanya itu, Hyeki bergegas mematikan netbook. Lalu bergerak menuju tempat tidurnya dan menutupi diri dengan selimut tebal.

InYoung memperhatikan Hyeki naik ke tempat tidur dan setelah memastikan dongsaengnya tidak akan nakal, InYoung mematikan lampu besar dan menyalakan lampu tidur. “Tidurlah, jaljayo,” ucapnya. Lalu menutup pintu kamar.

Hyeki berbaring dalam keremangan lampu kamar, berpikir mengenai seseorang yang terasa semakin jauh. Dan pikiran itu dibawanya terlelap ke alam mimpi.

* * *

The next day, in Seoul early February  2012 06.00 am

Walaupun tidur larut, Hyeki selesai berpakaian dan turun ke ruang makan tepat waktu. Dilihatnya Donghyun duduk bersama InYoung di meja makan, saling mengobrol. Dalam waktu sebulan setelah bakti sosial di fakultas Donghyun, hubungan keduanya semakin akrab, hingga sekarang Donghyun sudah beberapa kali mampr di rumah Hyeki, membuat Jungsoo yang sedikit banyak tahu protes pada InYoung. Namja itu tersenyum riang begitu melihat Hyeki membuat yeoja itu ikut tersenyum, kemudian bergabung di ruang makan.

Dua puluh menit kemudian, setelah sarapan bersama dan berpamitan pada InYoung (“Eonni akan pulang malam, hati-hati Hyeki-ya”), Hyeki dan Donghyun sudah naik motor menuju ke kampus. Hyeki senang-senang saja dibonceng dengan motor besar khas namja itu.

“Kau sudah mempertimbangkan permintaanku?” tanya Donghyun memulai pembicaraan.

Hyeki menghela nafas, memperbaiki letak helm di kepalanya. “Kalau kau tanya begitu, jawabannya tetap sama,” jawab Hyeki datar.

“Ayolah, kau tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan beramal kan?” bujuk Donghyun lagi.

Hyeki tidak menjawab, malah membuang muka. Dia tahu Donghyun meliriknya lewat spion, tapi dibiarkannya saja. Motor Donghyun parkir dengan mulus di depan gerbang fakultas Hyeki.

Hyeki menyerahkan helm-nya pada Donghyun dan dia yakin Donghyun masih menunggu jawabannya. “Baiklah,” jawab Hyeki menyerah. “Tapi aku melakukan ini karena ingin beramal, bukan merayakan valentine konyol itu,” sergah Hyeki buru-buru saat melihat ekspresi bahagia Donghyun.

Arraseo,” jawab Donghyun penuh kemenangan. “Aku akan menghubungimu lagi nanti,” tambahnya penuh semangat saat menggas motornya melesat meninggalkan Hyeki.

Hyeki menggeleng-geleng. Bagaimana mungkin bocah yang biasanya belajar ilmu teknik itu tertarik dengan hal-hal romantis? Entahlah, Donghyun memang sedikit aneh.

* * *

Onew hanya duduk terpekur di sofa dan tidak banyak berkomentar melihat Jonghyun dan Taemin yang sudah berpakaian rapi pagi-pagi sekali. Mereka baru pulang dari MuBank Paris dan masih harus berlatih untuk comeback sekitar bulan April nanti. Hari ini kebetulan hari libur latihan yang seharusnya digunakan para member untuk beristirahat seperti yang dilakukan Minho. Flaming charisma itu kembali bergelung di tempat tidur setelah sarapan pagi tadi.

“Jangan pulang terlalu sore, nanti manajer akan mengomel,” pesan Key yang jelas terdengar seperti omelan di telinga Taemin.

Ne, eomma,” jawab Taemin acuh. “Hyung, kau mau titip sesuatu?” tanyanya girang sambil melirik Onew yang poker face.

Onew menggeleng pelan dan Taemin beserta Jonghyun melesat meninggalkan dorm setelah memakai penyamaran. Key menghela nafas melihat kepergian mereka dan ikut menghempaskan tubuhnya di samping Onew.

“Mau kemana mereka pagi-pagi begini?” tanya Onew akhirnya buka suara.

Tanpa menoleh, Key menjawab. “Taemin pulang ke rumah orangtuanya dan Jonghyun hyung,” Key mendengus sebelum melanjutkan kalimatnya yang singkat,”kencan.”

Onew terkekeh tertahan melihat ekspresi Key yang semakin membuat Key sebal.

“Haish, kau melakukan apa seharian ini, Hyung?” tanya Key malas, kentara sekali dia sedang bosan. “Apa aku mengikuti jejak Minho, tidur seharian ya?” gumamnya lebih pada diri sendiri.

Onew mengangkat bahu. Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalanya. Onew melesat menuju lemari pakaian dan menyambar perangkat penyamarannya. Key bahkan kaget melihat gerakan tiba-tiba Onew hingga mulutnya setengah terbuka dan tidak tahu berkomentar apa. Dalam sekejap, Onew siap berangkat dengan menyamar.

Hyung, mau kemana?” tanya Key akhirnya.

“Aku perlu mengunjungi seseorang,” jawabnya singkat lalu menyambar kunci mobil dan meninggalkan dorm.

* * *

One weeks later, in Seoul mid February 2012 08.00 pm

H-7 Acara! Hyeki sudah mulai gila. Bukan karena bakti sosial yang menjadi tanggung jawabnya –tugas Hyeki sudah dikerjakan dengan sangat baik- tapi justru karena Donghyun. Sepanjang persiapan  kegiatan dimana Donghyun adalah ketuanya, Hyeki dipaksa menempelinya terus. Mengikuti Donghyun rapat ini-itu, bertemu dengan orang ini-itu dan kegiatan lain yang membuatnya terlihat sebagai orang kedua dalam acara ini.

Hyeki duduk sendirian di luar ruang rapat, menolak untuk ikut rapat karena bosan dan dia hanya memainkan iPhone-nya secara asal. Beberapa orang panitia junior lewat di hadapannya sambil berbicara.

“Kau tahu yeoja yang selalu mengikuti Donghyun sunbae?” tanya salah seorang di antara mereka.

Hyeki menajamkan telinganya dan merapatkan hoodie yang menutupi kepalanya.

“Ah, ne. Anak fakultas kedokteran itu kan? Kudengar dia seumuran dengan kita,” sahut temannya.

“Tapi dia seangkatan dengan Donghyun sunbae,” bantah temannya yang lain.

Ne, ne. Gosipnya dia yeojachingu Donghyun sunbae, mereka pernah bekerjasama sebelum tahun baru,” ujar seorang yang memulai percakapan.

“Aah, bahta. Karena itu dia selalu menempeli Donghyun sunbae.”

“Apa dia mencari kesempatan?”

Hyeki tersentak, namun tidak bisa mendengar hal yang lebih jelas lagi karena rombongan gadis itu semakin menjauh. Hyeki mengigit bibirnya, entahlah apakah dia ingin marah atau justru seharusnya dia mengabaikan saja. Bukan salah mereka menganggapnya yeojachingu Donghyun, dia kan selalu mengikuti Donghyun walaupun itu terpaksa. Tapi tetap saja ada nyeri saat mendengar kalimat terakhir junior itu.

Hyeki berdiri tiba-tiba, memutuskan untuk kabur dari gedung itu, namun tepat saat itu Donghyun muncul dari ruang rapat.

“Hyeki-ya, waeyo?” tanyanya melihat ekspresi Hyeki yang kacau dan terguncang. Donghyun mengambil keputusan cepat, “kuantar kau pulang.”

* * *

Onew menatap bayangan yeoja yang turun dari motor seorang namja. Ada lingkaran hitam di bawah mata yeoja itu yang bisa dilihat Onew walaupun dalam jarak yang jauh. Ini adalah kedua kalinya setelah seminggu yang lalu Onew mengunjungi yeoja itu, hanya duduk di mobil melihatnya dari jauh. Bedanya saat itu pagi hari, tapi sama saja yeoja itu bersama namja yang sama yang dilihat Onew minggu lalu.

Yeoja itu mengobrol sebentar dengan namja itu atau lebih tepatnya hanya namja itu yang berbicara. Yeoja itu hanya menggeleng dan tersenyum ketir. Motor namja itu berlalu beberapa menit kemudian dan Onew bisa melihat dengan jelas wajah yeoja itu. Pucat dan kacau. Membuat kecemasan Onew bertambah beberapa kali lipat. Dipukulkan tangannya ke setir yang malah membuat bunyi klakson bergaung di gang yang sepi itu.

Yeoja yang hampir masuk ke dalam rumah itu, kembali berjalan ke arah pagar setelah mendengar bunyi klakson. Onew merutuk dirinya sendiri, kenapa Onew sangtae harus muncul sekarang? Buru-buru distarternya mobil dan melesat meninggalkan yeoja yang masih kebingungan di depan rumahnya.

Di perjalanan menuju dorm, Onew mulai berhasil mengendalikan diri. Otaknya dipenuhi oleh bayang wajah pucat dan kacau yeoja itu. Apa yang terjadi? Kelihatannya dia terlalu lelah. Siapa namja itu? Namjachingunya? Apakah Onew harus menghubunginya? Apakah itu tidak berlebihan? Setahunya yoeja itu tidak pernah menghubunginya dulu, kecuali ada hal darurat. Apa yeoja itu sebegitu tidak bergantungnya pada seorang namja?

“Hyeki,” Onew menggumamkan namanya.

“Kenapa dengan Hyeki?” tanya Taemin penasaran.

“AAAA.!!!” Onew menoleh dan melompat kaget melihat wajah Taemin ada di balik bahunya. Taemin mengangkat bahu tidak peduli, melangkah masuk dorm dengan santai. Sedangkan Onew menoleh ke sana kemari dengan kebingungan.

“Apa yang terjadi? Perasaan tadi aku masih di mobil?” tanya Onew bingung, ikut masuk ke dalam dorm,

“Kau melamun, hyung. Bahkan kau tidak sadar aku berjalan di belakangmu,” kata Taemin santai. “Mana Hyeki?” tanyanya lagi, mengedarkan pandangan ke ruang tamu dorm. Hanya ada Key yang sedang menonton Minho dan Jonghyun bertanding PS.

“Hyeki?” sahut Key heran, menoleh menatap Taemin. “Memangnya dia disini?” Key bertanya lagi. Minho dan Jonghyun juga ikut menoleh menatap Taemin.

“Tadi Onew hyung menyebutkan namanya, kupikir dia sedang main kemari,” jawab Taemin sambil mengambil banana milk dari kulkas.

Key mengernyit heran. “Dia tidak kemari tahu,” jawabnya.

Dan tiba-tiba saja ekspresi semua member berubah paham.

“Kau habis bertemu dengannya ya hyung,” goda Jonghyun. Tentu, urusan begini dia yang akan menjadi paling pertama.

“Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Hyeki?” cecar Minho khawatir.

“Dia sakit?” sambar Key cepat.

“Atau kecelakaan?”

“Apa dia akan pindah ke luar negeri?”

“Atau dia sudah punya namjachingu ya hyung?”

Onew menatap dongsaengdongsaengnya dengan setengah kesal. Dia baru pulang dan mereka sudah memberondongnya dengan pertanyaan. Lebih kesalnya lagi karena dia tidak tahu sama sekali jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Molla,” jawab Onew singkat dan menghempaskan diri ke sofa, tanpa sengaja menimpa Jonghyun yang mengaduh kesakitan.

Key yang cepat tanggap dengan perasaan Onew langsung memberi masukan. “Kalau kau merasa tidak bisa menghubunginya, temui saja langsung.”

Onew hanya diam, tidak merespon. Otaknya berputar memikirkan rencana untuk menghubungi Hyeki.

* * *

Valentine day 14 February 2012 03.00 pm

Hyeki ikut tersenyum lebar melihat anak-anak yang kurang beruntung itu berebutan mendapatkan cokelat yang dibagikan oleh Hyosoo. Di sisi lain, ada pemusik jalanan yang menghibur penonton dengan panggung kecil. Yap, acara amal bertema berbagi kasih sayang ini sukses besar. Beberapa senior Hyeki di kedokteran sedang melakukan pemeriksaan kesehatan umum dan gigi bagi beberapa pengunjung dengan bayaran seikhlasnya. Hyeki sendiri sejak tadi ikut membantu melakukan penyuluhan, namun sekarang shiftnya sudah berakhir.

Sejak awal pembukaan hingga sekarang, Hyeki berhasil menjauhi Donghyun. Dia tidak marah pada namja itu, hanya saja dia sedang membangun batas aman. Hyeki yakin Donghyun tahu dan Donghyun sangat baik hati tidak memaksa Hyeki untuk menceritakan alasan Hyeki menghindarinya.

Hyeki berdiri di dekat pagar pembatas jalan setapak dengan taman. Berulang kali beberapa pasangan lewat di depan Hyeki dengan wajah bahagia. Hyeki menatap mereka sambil tersenyum kecil. Walaupun menurutnya valentine itu konyol, tapi dia suka melihat wajah bahagia pasangan-pasangan itu.

Tiba-tiba saja Donghyun sudah berdiri di sebelah Hyeki tapi Hyeki hanya pura-pura tidak sadar.

“Kau tidak punya cokelat untukku?” tanya Donghyun.

“Kau kan tahu aku tidak merayakannya,” jawab Hyeki singkat. Hyeki mendengar Donghyun tertawa pelan.

Gomawoyo,” ucap Donghyun lagi. “Untuk semuanya,” tambahnya.

Hyeki menoleh, menatap Donghyun yang balas menatapnya tulus. Kelihatannya Donghyun sudah ingin mengucapkan sesuatu namun tepat saat itu bunyi musik yang meriah memenuhi tengah taman tempat pelaksanaan acara, membuat perhatian keduanya teralih.

“Kelihatannya acara puncak sudah dimulai,” kata Hyeki mencegah Donghyun berbicara lebih dulu.

Donghyun menggangguk menyetujui. “Ayo kesana,” kata Donghyun, mengajak Hyeki ke tengah taman. Donghyun berjalan duluan dan Hyeki menyusul, namun seseorang mencengkram lengannya.

Onew.

Hyeki membeku di tempat, matanya terbelalak lebar. Jelas sekali itu Onew walaupun dia menyamar. Onew berdiri di sana dengan kemeja sederhana dan jeans, menggunakan masker dan topi baseball. Kacamata baca menutupi matanya. Semua MVP pasti akan mengenalinya dengan mudah kalau saja rambutnya yang biasanya di-style itu tidak dicat hitam seperti orang biasa. Hyeki tidak bisa melihat apakah Onew tersenyum atau tidak dibalik maskernya, namun yang jelas Hyeki sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Dia menurut saja ketika Onew dengan gugup menyeretnya, menerobos kerumunan yang ramai dan menuju bagian taman yang sepi. Beberapa kali Onew menabrak orang-orang sehingga cukup membuat Hyeki khawatir orang-orang akan mengenalinya, namun Onew tidak peduli. Sambil sesekali menggumamkan maaf pada orang yang ditabraknya, dia mempererat genggamannya di tangan Hyeki dan terus menarik yeoja itu mengikutinya. Di sana mobil manajer Onew terparkir rapi.

Onew menekan tombol pembuka kunci, namun hasilnya justu alarm mobil yang berbunyi nyaring, membuat Hyeki panik dan geli pada saat bersamaan. Akhirnya pintu mobil terbuka dan keduanya masuk.

Gwenchana?” bukan Onew yang menanyakan kalimat itu, tapi justru Hyeki.

Onew menoleh menatap Hyeki dan mengangguk pelan. “Kau sendiri?”

Nan gwenchana,” jawab Hyeki riang, tersenyum lebar.

Onew tidak menjawab, malah menatap Hyeki. Memperhatikan yeoja itu dari dekat, melihat kantung mata Hyeki yang semakin jelas terlihat, menilai wajah riang gadis itu yang matanya sedikit redup, menyadari pergelangan tangannya semakin kurus, memikirkan…

Oppa!” tegur Hyeki keras. “Jangan menatapku seperti itu. Risih tahu!” omelnya lagi.

Onew nyengir, ketahuan sedang memperhatikan yeoja itu. “Kau semakin kurus, kiddo. Bukankah sudah kubilang makan yang benar,” balas Onew.

Hyeki mendengus. Jelas ini hanya basa-basi Onew saja. Dia tahu Onew bukan orang yang senekat itu hingga berani menyamar dan muncul di tempat umum begini hanya untuk bertemu dengannya.

“Aku menguntitmu selama dua minggu ini. Melihatmu pucat dan lelah membuatku khawatir, tidak bisakah hidup saja dengan baik? Cukup kuliah, tidak perlu terlibat dalam banyak kegiatan sosial, aku yakin kau akan punya banyak waktu untuk dirimu sendiri,” kata Onew pelan. Dia mencengkram stir dengan kuat dan pandangannya lurus ke depan, mencegah kekhawatirannya terlihat jelas.

Hyeki hanya diam dan menatap Onew dengan sedih. “Kau juga orang yang tidak punya waktu untuk dirimu sendiri oppa, jadi jangan menasehatiku begitu,” sergah Hyeki.

“Aku mencemaskanmu,” ujar Onew pelan.

“Terima kasih. Tapi lebih banyak orang yang mencemaskanmu,” balas Hyeki dingin.

Hati Onew mencelos. Dia menoleh menatap Hyeki yang sedang mengigit-gigit bibir menahan tangis. Bodoh, bagaimana mungkin dia tidak sadar kalau yeoja ini juga mencemaskannya? Dia sudah tidak menghubungi Hyeki selama hampir sebulan dan tiba-tiba muncul di saat seperti ini, mengaku mencemaskan Hyeki. Apa yang dilakukannya selama sebulan itu?

Hyeki menelan ludah, memaksa air matanya masuk kembali ke rongga matanya. Dia tidak mau menangis di depan Onew. Tidak sekarang! Hari ini puncaknya, setelah semua perjuangan yang dia lalui dengan label “yoejachingu Donghyun” dan sekarang Onew muncul menasehatinya agar berhenti. Terlambat, Onew sangat terlambat untuk menghentikannya.

Mianhe,” ujar Onew. Tangannya mengusap kepala Hyeki yang semakin tidak kuat menahan tangis.

“Tidak apa,” jawab Hyeki, mengangkat kepalanya dan tersenyum manis. “Terima kasih sudah datang dan menasehatiku oppa,” imbuhnya.

Onew mengangguk, tenggorokannya tercekat.

“Aku harus kembali, Donghyun pasti mencariku,” pamit Hyeki sambil membuka pintu mobil. Tangan Onew bergerak cepat menahan pintu mobil itu.

“Maafkan aku, aku tidak akan menghilang lagi seperti sebulan yang lalu,” katanya cepat.

Hyeki hanya tersenyum tipis dan melangkah keluar mobil. Onew tidak berusaha menahannya lagi. Dia tidak punya alasan untuk menahan Hyeki. Onew merosot di jok mobilnya, merutuki diri betapa bodohnya dia.

Berjalan dengan lambat menuju tengah lapangan, Hyeki setengah melamun memikirkan ulang percakapannya dengan Onew. Lama tak berjumpa, Hyeki dan Onew malah membicarakan hal-hal yang sensitif begitu. Onew bahkan tidak tahu bagaimana perasaan Hyeki saat digosipkan sebagai pacar Donghyun, seolah-olah dia gadis genit. Hyeki nyaris terpeleset karena tidak melihat ada lubang di jalan setapak itu dan Donghyun menahannya tepat waktu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Donghyun khawatir.

“Tentu,” kata Hyeki riang dan melepaskan diri dari pegangan Donghyun. “Ah, aku ketinggalan acara puncak ya?”

Donghyun mengernyit menyadari perubahan sikap Hyeki yang sebelumnya. “Tidak, acaranya masih berlangsung,” jawabnya heran.

“Kalau begitu, ayo kita ke sana!” ajak Hyeki, setengah menyeret Donghyun menuju tengah taman. Donghyun mengikuti saja, hanya berbisik dalam hati bahwa dia senang Hyeki sudah kembali terbuka padanya.

Hyeki tersenyum riang, sedikit menoleh untuk melihat apakah mobil Onew masih di sana, namun ternyata tidak. Entah seperti apa hubungan mereka sekarang. Mungkin akan kaku dan tidak seperti oppa-dongsaeng lagi. Long time no see, Onew O, batin Hyeki.

-THE END-

AN : sebagai bntuk kegalauan menunggu comeback Shinee, hehe. Banner menyusul kalau sempat, haha

Leave comments please. NO PLAGIATOR!!

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s