Time for Us : Time 8

Part 8 Unpredictable

Jungsoo menatap putrinya yang hari ini sama cerianya seperti biasa. Mengoceh mengenai kuliahnya dan pernikahan Kyuhyun-Nara. Berita itu tidak mengejutkan bagi Jungsoo, dia tahu cepat atau lambat hubungan Kyuhyun-Nara akan menuju ke sana.

Pagi ini, hari senin, mereka sarapan bersama, bahkan Jinki juga ikut duduk di sana. Dia tidak banyak bicara. Jungsoo tahu Jinki masih cemas memikirkan soal Choi Siwon. Semalam, Jinki sudah bercerita pada Jungsoo mengenai Siwon yang tiba-tiba muncul di lokasi transaksi. Entah mengapa Jinki sangat yakin Siwon akan kembali memanfaatkan Hyeki.

“Ada apa? Apa ada masalah di kantor?” tanya Hyeki bingung.

“Tidak apa-apa,” jawab Jungsoo cepat. “Hari ini appa akan mengantarmu ke kampus.”

Hyeki mengernyit bingung. “Kenapa?” tanyanya.

Appa ingin kembali merasakan seperti saat kau masih kecil dulu,” jawab Jungsoo menjulurkan tangannya mencubit pipi Hyeki.

Hyeki meringis meraba pipinya tapi tersenyum senang. Bukan tanpa alasan Jungsoo memutuskan akan  mengantarnya. Jungsoo ingin melihat kondisi kampus Hyeki, berjaga-jaga siapa tahu Choi Siwon sudah menempatkan orangnya di sana.

* * *

“Park Corp?!” bisik Hyemi lemah. Dia membolak-balik berkas mengenai perusahan raksasa multi-sektor itu, namun tidak menemukan hal yang ganjil. Bunyi klakson mobil menyadarkan Hyemi, Minho sudah menjemputnya.

Senyum tanpa komando muncul di wajah Hyemi. Lagi-lagi Minho berhasil membuatnya lupa akan kecemasannya. Hyemi menarik nafas dalam, menenangkan diri sebelum bertemu Minho. Hyemi tahu, walaupun tidak ada perkembangan signifikan dalam hubungannya dengan Minho, minimal mereka semakin sering bersama karena kasus ayah Hyemi, membuat ruang Minho bersama gadis lain semakin kecil. Hyemi sadar itu egois, tapi dia hanya menginginkan Minho.

Hyemi berlari keluar rumah setelah pamit dan mencium pipi ibunya. Minho duduk di belakang setir, menyambutnya dengan senyum ramah. Hyemi balas tersenyum manis, duduk di samping Minho, memakai seatbelt dan mobil melaju meninggalkan halaman rumahnya.

“Aku tidak menemukan satu pun fakta aneh mengenai Park Corp,” ujar Hyemi memulai percakapan.

Jeongmal? Sudah kuduga,” respon Minho singkat.

“Sudah kuduga?” ulang Hyemi heran.

“Tentu, kita hanya tahu bagian luar permukaan Park Corp, tapi kita tidak tahu bagaimana perusahaan itu sesungguhnya,” jelas Minho.

Hyemi diam. Minho benar, itu artinya mereka harus mempunyai sumber salah satu pegawai Park Corp. Tapi siapa?

“Temanku sudah berjanji akan membantu menyelidiki nomer polisi misterius itu. Kita berdoa saja, semoga akan segera mendapat titik terang,” sambung Minho.

Hyemi mengangguk, memutuskan tidak menjawab apa pun atas pernyataan Minho tadi. Dia yakin , Minho akan selalu bisa diandalkannya dalam masalah apa pun.

* * *

Jungsoo menghempaskan dirinya di kursi ruang kerja di gedung pencakar langit Park Corp. Ada banyak berkas yang harus diurusnya, namun keselamatan Hyeki lagi-lagi membagi konsentrasinya. Sejauh ini, Jinki menjalankan black company dengan baik. Nyaris seperti Donghae, klien mereka bertambah dua kali lipat dan luas wilayah kerja mereka juga bertambah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari hal itu. Hanya saja gerak-gerik Choi Siwon yang cenderung pasif yang membuatnya khawatir.

Pintu ruang kerjanya diketuk dan dibuka. Yesung muncul dari balik pintu dengan sikap waspada.

“Anda memanggil saya, sajangnim?” tanya Yesung.

“Ya,” Jungsoo memperbaiki posisi duduknya. “Siapa yang sedang bertugas menjaga Hyeki?” tanyanya.

“Ah, dia sangat terlatih, sajangnim. Namanya Kim Kibum,” jawab Yesung.

“Baiklah, pastikan dia tidak meninggalkan Hyeki sedetik pun. Choi Siwon bisa menyelinap di antara celah itu,” tekan Jungsoo.

Yesung mengangguk. “Kalau begitu, saya pamit dulu, sajangnim.”

Jungsoo juga mengangguk, lalu kembali menerawang menatap foto di atas meja kerjanya. Hyeki tersenyum lebar sambil memeluk boneka beruang putih.

* * *

Kyuhyun mencuri-curi pandangan ke arah Hyemi dan Minho yang bekerja dalam diam. Dia sangat ingin tahu sudah sejauh apa penyelidikan Minho dan Hyemi, tapi dia tidak mungkin bertanya bukan? Waktu berlalu cepat dan istirahat makan siang sudah tiba. Kim Heena yang paling pertama meninggalkan ruangan, disusul Kyuhyun. Di tengah jalan menuju kantin, Kyuhyun berpikir akan lebih baik kalau dia makan siang di apartemen Nara saja sekalian. Kyuhyun kembali ke ruangan, berniat mengambil kunci mobil, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara.

Mwo? Nomer polisinya diblokir?” Itu suara Minho.

“Jadi aksesnya dibatasi hanya untuk penyelidikan itu?” lagi-lagi suara Minho. Kelihatannya dia sedang menelepon seseorang dari caranya mengulang apa yang didengarnya.

“Baiklah, aku mengerti. Gomawoyo, Jonghyun hyung,” Minho mengakhiri pembicaraannya.

“Ada apa?” kali ini suara Hyemi. Nadanya cemas dan lemah. Kyuhyun semakin merapatkan dirinya ke pintu.

“Nomer polisi mobil itu diblack listed,” jelas Minho lemah.

“Tapi kenapa?”

“Katanya ada mafia yang terlibat,” jawab Minho, lagi-lagi dengan nada lemah dan lelah. Minho tidak menyadari bahwa ada kata yang menjadi penting dalam kalimat yang diucapkannya sendiri. Tapi tidak dengan Kyuhyun, Kyuhyun menyadari sesuatu. Otak Kyuhyun berputar cepat. Mafia? Penembakan? Hyeki? Park Jungsoo? Park Corp?

“Lalu bagaimana?”

“Kita fokus pada apa yang sudah kita dapat. Kita akan memulainya lagi dari Park Corp,” putus Minho. Dalam sekejap Kyuhyun paham, dia mencapai satu kesimpulan penting yang tidak kunjung disadari Minho dan Hyemi. Naluri dan logika seorang jaksa senior membimbingnya pada kesimpulan itu walaupun dia belum menyelidiki sejauh itu. Kali ini, dia akan membutuhkan bantuan Nara.

* * *

Hyeki pulang kuliah lebih awal kali ini. Namun dia tidak memberitahu pengawal barunya, Kibum, bahwa dia sudah pulang. Dia lebih memilih menghabiskan es krim di kedai kopi langganannya di dekat kampus.

Pikirannya melayang-layang. Minho tidak muncul di kampus beberapa hari ini, Hyeki mengambil kesimpulan penyelidikannya sudah selesai.

“Oh, ahgasshi, kita bertemu lagi,” sapa seseorang sambil tersenyum ramah. Hyeki mendongak, Choi Siwon berdiri di hadapannya dengan stelan eksekutif.

Hyeki tersenyum sopan. Itu ahjusshi yang kemarin mengembalikan iPodnya di lobi apartemen Nara. “Annyeonghaseyo, ahjusshi,” sapanya.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Siwon ramah. “Kau lihat, sekarang jam makan siang dan tempat lain sudah penuh semua.”

“Ah, silahkan. Aku juga akan segera selesai,” jawab Hyeki sambil membereskan tumpukan novel dan buku kuliah yang tadi dibacanya. Dia sedikit merasa tidak nyaman karena mereka baru saja bertemu beberapa kali.

“Tidak perlu buru-buru,” tahan Siwon. “Aku Choi Siwon, pemilik Choi Corp,” tambahnya sambil mengulurkan tangan.

Hyeki tidak pernah mendengar mengenai Choi Corp, tapi dia tetap menyambut uluran tangan Siwon. “Park Hyeki.”

“Panggil Siwon ahjusshi saja dan aku akan memanggilmu Hyeki,” ujar Siwon ramah. “Oh, kau kuliah di manajemen bisnis bukan? Gadis termuda dengan nilai terbaik?” tanya Siwon lagi. “Aku alumni jurusan yang sama di SNU.”

“Ah, aku tidak sehebat itu,” Hyeki merendahkan diri. Wajar saja, pikir Hyeki, Siwon tahu mengenai hal itu karena dia alumni rupanya. Sedikit senang sejujurnya, bahwa ternyata ada juga yang menghargai kerja kerasnya tanpa membawa-bawa nama ayahnya.

Siwon dan Hyeki larut dalam perbincangan mengenai bisnis. Tidak sama sekali menyinggung ayahnya dan itu membuat Hyeki tiba-tiba menjadi sangat menyukai Siwon. Android Hyeki bergetar dan nama Kibum tertampang di layar. Hyeki melirik jam dan mendengus. Sudah waktunya Kibum menjemputnya. Dia permisi pada Siwon, bangkit berdiri dan berjalan menuju jendela di dekat konter untuk mengangkat telepon.

“Oh, Kibum-ssi. Waeyo?” tanya Hyeki.

Ahgasshi, kau sudah pulang? Aku akan menjemputmu sekarang,” ujar Kibum. Di balik suaranya, terdengar deru mesin. Kelihatannya dia sedang menikmati ngebut di jalan.

“Hmm, ne. Aku tunggu di depan kampus seperti biasa,”  balas Hyeki. Kibum di seberang mengiyakan dan Hyeki menutup teleponnya. Dia kembali ke mejanya dan melihat Siwon sedang menikmati espressonya.

Ahjusshi, aku permisi dulu, masih ada hal yang harus kukerjakan,” ucap Hyeki pada Siwon. Dia mengangkat tumpukan bukunya dan memasukkan beberapa buku di dalam ranselnya.

Siwon mendongak dan tersenyum. “Oh, ne. Sampai jumpa lain kali, Hyeki-ya. Senang bisa mengobrol denganmu hari ini,” ujarnya kalem.

Hyeki balas tersenyum riang, “aku juga merasa senang. Sampai jumpa, Siwon ahjusshi.” Dia melambaikan tangan dan berlalu keluar dari kedai kopi.

Senyum Siwon semakin tipis seiring sosok Hyeki yang menghilang dari kedai kopi itu. Siwon melarikan jarinya di bibir cangkir dan tersenyum miring. “Putrimu terlalu baik untuk jadi korban kesenanganku, Jungsoo-ya. Andai saja kau dulu mau minggir, memberikanku kesempatan untuk melenyapkan Donghae dan putranya dan memiliki Hyojin, kau tidak perlu mengorbankan putrimu. Kau menyembunyikan terlalu banyak rahasia besar yang akan menyakiti putrimu sendiri,” bisiknya pelan.

Choi Siwon bangkit dari kursinya dan meninggalkan kedai kopi juga.

* * *

Minho duduk di karpet ruang keluarga sambil menelaah beberapa file mengenai penyelidikannya tentang kematian ayah Hyemi. Wajahnya terpilin saat dia menatap berkas yang berisi data pribadi Hyeki. Minho bahkan tidak menyadari ibunya duduk di sofa tepat di belakangnya setelah meletakkan cokelat hangat di atas meja.

“Oh, eomma mengagetkanku,” keluh Minho mengusap dadanya.

Mrs. Choi tertawa pelan. “Kau terlalu fokus, sayang. Apa yang sedang kaulakukan?” tanya Mrs. Choi penasaran.

Aniya, hanya riset kecil-kecilan,” jawab Minho menghindari tatapan Ibunya. Minho tidak bisa berbohong, tidak kalau orang yang dibohongi adalah Ibunya. Mrs. Choi mengangkat bahu, mengamati pekerjaan anaknya. Minho meletakkan berkas Hyeki yang tadi dipegangnya dan meraih cangkir cokelat hangat.

“Oh,” pekik Mrs. Choi kaget, melihat nama Hyeki tertulis di lembaran pertama berkas itu. Tanpa sadar, tangan Mrs. Choi meraih berkas itu sebelum Minho sempat mencegahnya. Minho hanya tercengang, ngeri melihat ibunya mulai membolak-balik berkas itu. Bagaimana kalau ibunya tahu bahwa dia dan Hyemi sedang menyelidiki pembunuhan Seunghyun ahjusshi?

Nappeun,” omel Mrs. Choi sambil memukul pelan kepala putranya dengan berkas itu. “Sejak kapan kau jadi stalker?”

Minho meringis karena pukulan ibunya. “Mwo?” ulang Minho bingung dengan reaksi Mrs. Choi.

“Aish, kau tidak pintar berbohong pada eomma, Minho-ya. Kau mencari tahu tentang Hyeki ‘kan?” tebak Mrs. Choi.

Minho akhirnya paham. Ibunya salah sangka. “Aniyo, aku tidak mencari tahu tentang Hyeki, eomma.”

“Tsk, masih bohong juga. Kau tidak bisa melupakannya ya?” serang Mrs. Choi lagi.

Kali ini Minho mengangguk. “Tapi gadis itu hanya namanya saja yang sama dengan Hyeki. Sama-sama Park Hyeki. Selebihnya, aku tak bisa membuktikan dia Hyeki yang sama atau bukan,” keluh Minho. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa dekat kaki ibunya.

Mrs. Choi menatap Minho kasihan. Tangannya bergerak mengelus kepala putranya itu. Pikirannya mengenang masa kecil Minho yang dihabiskan bersama Hyeki. Gadis yang dijemput ayahnya dan menghilang hingga sekarang.

“Ah, eomma ingat sesuatu Minho-ya,” gumam Mrs. Choi pelan.

Minho menoleh menatap wajah eommanya. “Eomma bicara apa?”

“Dulu eomma memberikan boneka beruang putih untuknya,” jawab Mrs. Choi menerawang.

Aigoo, eomma, boneka beruang putih bisa dimiliki setiap anak perempuan,” balas Minho menggelengkan kepalanya.

“Hah, anak ini. Kalau orang tua bicara, dengarkan dulu sampai selesai,” bantah Mrs. Choi kembali memukul kepala putranya pelan. “Boneka itu bukan sembarang boneka. Eomma hanya punya satu anak, padahal eomma ingin punya anak perempuan juga. Dulu eomma Hyeki sering menitipkannya pada eomma, jadi eomma sudah menganggap Hyeki seperti anak eomma sendiri. Boneka itu memang eomma beli, tapi eomma menyulam namamu di boneka itu.”

“Kenapa harus namaku?” tanya Minho.

“Karena mata boneka itu besar seperti matamu dan Hyeki ingin boneka itu bersamanya selalu, seperti dia ingin kau selalu bersamanya,” jelas Mrs. Choi.

“Aku tidak pernah lihat Hyeki dengan boneka itu,” ujar Minho. “Di bagian mana eomma menyulam namaku? Eomma menyulam ‘Choi Minho’ begitu?”

“Kalau tidak salah di bagian leher belakang boneka. Tidak, eomma tidak menyulam Choi Minho, tapi bulkeok charisma,” jawab Mrs. Choi.

“Aku? Bulkeok charisma?” tunjuk Minho pada dirinya sendiri.

Mrs. Choi terkekeh. “Hyeki yang minta begitu, eomma hanya menuruti keinginannya saja.”

Minho tersenyum, dia pasti sudah sinting. Entah kenapa, dia malah merasa senang. Bocah itu, batin Minho dalam hati, darimana dia belajar istilah bulkeok charisma saat usianya sekecil itu? Kalau begitu urusannya mudah, Minho hanya perlu memastikan Hyeki mempunyai boneka itu dan mengecek sulamannya. Kalau ternyata ada, maka semuanya jelas. Kalau ternyata Hyeki tidak mempunyai boneka itu lagi, satu-satunya jalan adalah membawa Hyeki ke Ilsan.

* * *

Entah kenapa, hari ini Jinki sangat gelisah. Berulang kali menatap layar Android yang menuliskan nomer telepon Hyeki. Berkali-kali menelepon dan membatalkannya. Sungguh, dia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Pembawaannya yang biasanya tenang menghilang entah kemana.

Ini bukan masalah pekerjaan. Tidak ada yang tidak beres dengan transaksi, semua berjalan sebagaimana mestinya. Tapi dia tetap merasa tidak tenang.

Jinki tersenyum pedih menatap wallpaper Androidnya. Dia bahkan lupa, sejak kapan dia memakai foto dirinya dan Hyeki sebagai wallpaper. Gadis itu tertawa riang di sisinya sambil memegang es krim. Kedai es krim itu terlihat jelas, tempat favorit dimana mereka menghabiskan waktu bersama. Tapi sekarang, bahkan di rumah keluarga Park pun, Jinki jarang bisa melihatnya. Mereka hanya bertemu saat sarapan. Selain itu, Jinki lebih sering menginap di kantornya ketimbang pulang ke rumah. Melihat gadis itu, dia selalu merasa sakit. Menyesal karena gadis itu belum menyadari siapa Jinki sebenarnya.

Gadis itu tidak banyak berubah. Dia hanya lebih tinggi dan lebih pintar, namun selebihnya dia tetap Hyeki yang sama seperti sebelum dia berangkat keluar negeri. Dia selalu menganggap Hyeki seperti dongsaeng-nya, karena Jungsoo adalah ayah angkatnya.

Jinki menghela nafas panjang. Jantungnya berdebar tidak karuan. Sepertinya dia memang harus pulang. Menit berikutnya, Jinki sudah menyambar kunci Porcshe nya. Dia melirik jam di dinding. Tepat tengah malam, sangat terlambat untuk pulang, namun dia ingin memastikan saat sarapan besok Hyeki baik-baik saja.

* * *

Hyeki bermimpi jatuh dalam lubang gelap. Tidak bisa melihat dan dia hanya bisa merasakan sepasang tangan mencengkram bahunya. Dia bisa melihat cahaya kebencian dari iris mata orang itu dan dia juga bisa mendengar sirene bertalu-talu di telinganya. Hyeki menutup mata, menahan ketakutannya ketika wajah orang itu semakin dekat dengannya. Dekat dan semakin dekat.

Hyeki menjerit dan terduduk di tempat tidur dengan kaget. Dia memandang berkeliling dengan liar. Tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Tapi Hyeki tidak salah dengar dengan sirene. Dia mendengar bunyi sirene dengan jelas dan paham apa yang terjadi. Ada penyusup di rumahnya dan sirene itu adalah alarm pengaman rumah.

Sambil kembali memandang berkeliling, Hyeki mencengkram selimutnya takut. Bimbang antara lari atau tidak. Beberapa menit kemudian listrik padam dan lampu emergency menyala otomatis. Hyeki terlonjak pelan. Dia benar-benar takut sekarang. Haruskah dia lari?

Kenop pintu kamar Hyeki diputar pelan. Hyeki merinding. Bagaimana kalau itu orang jahat? Apa sebaiknya dia menjerit saja? Kemana para pengawalnya? Kibum?  Nama itu muncul di ingatan Hyeki saat dia memutuskan meraih Android yang terletak di nakas samping tempat tidur. Belum sempat dia menyentuh Android itu, sosok muncul dari pintu kamar.

Sesaat Hyeki ingin menjerit, namun dia langsung mendesah lega saat sadar siapa sosok yang justru menghampirinya dengan tergesa-gesa.

Gwenchana?” tanya Jinki, suaranya tercekat melihat wajah Hyeki yang pucat ketakutan.

Hyeki menelan ludah dan mengangguk. Langsung merasa aman, saat melihat wajah Jinki yang cemas samar-samar dalam kegelapan kamar. Jinki merogoh kantung jaketnya, mengeluarkan senter kecil.

“Kita keluar sekarang. Kkaja,” ajak Jinki, menarik lengan Hyeki untuk mengikutinya.

Mereka berjalan menyusuri koridor gelap lantai 2 dengan penerangan senter. Menuruni tangga dan menuju ruang tamu. Semua pelayan, termasuk Sooyan ahjumma ada di sana. Tepat saat Hyeki menginjakkan kaki di ruang tamu, lampu kembali menyala.

Oppa akan menemui Yesung ahjusshi dulu, kau duduklah di sini bersama Sooyan ahjumma,” perintah Jinki lembut.

Hyeki hanya mengangguk dan duduk. Jinki meninggalkan ruang tamu setelah menyampirkan jaketnya menutupi piyama Hyeki. Hyeki menatap punggung Jinki yang menjauh. Apa yang terjadi? Hyeki benci memikirkan kemungkinannya. Jinki kembali ke ruang tamu setelah tiga puluh menit. Entah apa yang dibicarakannya dengan Yesung, Hyeki memutuskan tidak perlu tahu.

“Oppa akan mengantarmu kembali ke kamar. Kkaja,” ajak Jinki, mengulurkan tangan.

Hyeki menatap telapak tangan Jinki, lalu menggeleng. “Aniya, aku bisa ke kamar sendiri.”

Jinki menghela nafas melihat reaksi Hyeki. “Oppa akan menemanimu sampai kau tidur. Tidak ada bantahan,” ujar Jinki memaksa. Tangannya tetap terjulur. Hyeki menyambut telapak tangan Jinki dengan ragu. Lalu beberapa menit kemudian mereka sudah berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju kamar Hyeki. Tangan mereka masih saling mengenggam.

Jinki membukakan pintu kamar Hyeki, melangkah masuk lebih dulu dan kemudian disusul Hyeki. Dia memaksa Hyeki naik ke tempat tidur.

Oppa akan tidur di sofa, kalau kau butuh sesuatu panggil saja,” ujarnya memberitahu Hyeki.

Hyeki hanya diam, melepaskan jaket yang tadi diberikan Jinki. Saat Hyeki menyerahkan jaket itu pada Jinki, dia baru sadar, Jinki masih berpakaian rapi dan lengkap. Itu berarti dia baru pulang saat kejadian itu terjadi. Hyeki naik ke atas tempat tidur tanpa suara. Menarik selimutnya sebatas dagu dan berbaring memunggungi Jinki yang masih berdiri di samping tempat tidurnya. Hyeki masih bisa mendengar langkah Jinki menuju sofa.

Hyeki mencengkram selimutnya. Apa yang terjadi? Di mana ayahnya saat ini? Hyeki takut sekali. Mimpi buruk itu terlalu nyata baginya. Hyeki tahu Jinki juga pasti merasa resah dan tidak bisa tidur. Berusaha mengenyahkan semua pikiran negatif, Hyeki memaksakan diri untuk tidur.

*TBC*

A.N : ada yang nunggu kelanjutan TFU? well, mianhe buat keterlambatannya. harusnya diposting kemarin cuma lupa, wkwk~

as usual, don’t forget to leave comments and likes 😀

NO SILENT READERS. NO PLAGIATOR. 

Advertisements

2 thoughts on “Time for Us : Time 8

  1. Siwooon, sumpah geregetan dirimu tuh maunya apa sih? Misterius banget!
    Tambah lagi nih yang bikin aku penasaran: Kyuhyun!
    Kok aku curiga gini ya sama Kyu, dia sebenarnya ada di pihak mana? Di pihak Park corp., atau hanya seorang jaksa senior yang ikut menyelidiki kematian Seunghyun, atau jangan-jangan di pihak Choi corp.?
    Aigooo~ Sumpah semuanya masih teka-teki, bikin penasaraan!
    Titip pesen buat Jinki. Tolong jaga Hyeki baik-baik ya? Buat Minho, cepetan sadar ya kalau Hyeki itu sahabat masa kecil kamu.
    Satu lagi, aku suka banget karakter Jinki di sini XD

    Oke, lanjutannya ditunggu~

    Like

    1. ooh, haii mya.
      gomawo udah datang kembali, hihi.

      siwon, udah nasib selalu jahat kalau di sini. skali2 ntr aku bikin dia jadi baik dan malaikat kyk biasa deh.
      untuk kyuhyun, well karena dia bukan lead cast, jadinya dkit dkit doang munculnya. kita liat tindak tanduk kyu di time berikutnya yaa. ada yg nyadar gak, kalau kyu di sini sering nguping? hihi
      haha, banyak banget nih, kayaknya emang gak bakal tamat dalam sepuluh part. TT
      okeeh, nanti eon bilangin. iyaa, semoga. #go-minho
      yes! asyiik, ada yang suka.

      gomawo mya 🙂

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s