Time for Us : Time 7

TIME 7 Something Fishy around Hyeki

Hyeki menendang-nendang kerikil di kakinya saat mengikuti Minho memotret lingkungan Seoul University. Kuliahnya sudah berakhir dan Hyeki -demi menghilangkan perasaan kalutnya- rela menemani Minho menyelidiki Seoul University. Sikap Jinki yang seolah-olah menyatakan perpisahan berhasil membuatnya tidak tidur nyenyak semalaman.

“Hei, Ahgasshi. Kau dengar tidak pertanyaanku tadi?” Minho mengeraskan volume suaranya, karena merasa gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Eh, apa? Kau bertanya apa tadi?” Hyeki tergagap sendiri.

Minho menghela nafas. “Sudahlah, lupakan saja. Mungkin kau terlalu capek menemaniku, duduklah, akan kubelikan minuman hangat,” ujar Minho lalu berlari menuju mesin penjual minuman.

Hyeki duduk di bangku taman, sedikit merasa bersalah pada Minho. Hyeki memperhatikan Jaksa Choi Minho itu membeli minuman di mesin penjual minuman. Minho berpakaian sangat rapi ala seorang jaksa, mengingatkan Hyeki pada pakaian Jinki saat memakai seragam pengawal keluarga Park.

“Kenapa tersenyum sendiri?” Minho bertanya heran sambil menyerahkan lemon tea hangat pada Hyeki.

Aniyo,” Hyeki menggeleng ,mengembalikan eskpresi datarnya. Jujur saja, bayangan Jinki dengan seragam pengawal keluarga Park itu nyaris membuatnya meledak tertawa.

“Setelah ini, kau mau kemana lagi?” tanya Hyeki pada Minho.

“Mungkin kembali ke kantor,” jawab Minho singkat. Dia memperhatikan bagaimana ekspresi Hyeki berubah-ubah dalam waktu beberapa menit itu.

“Oh ya, kau bilang kau tinggal di Ilsan, benar tidak?” tanya Hyeki. Jantung Minho berdegup kencang.

Ne, aku tinggal di sana sampai sekarang,” jawab Minho melirik Hyeki.

“Seperti apa Ilsan?” tanya Hyeki.

Mwo? Hanya kota kecil biasa, wae?” tanya Minho lagi.

Hyeki menggeleng. “Ani, hanya penasaran saja. Kajja, aku akan segera dijemput.” Hyeki berdiri dari duduknya dan menatap Minho. “Sampai jumpa lain kali, Minho-ssi.”

Minho menatap punggung Hyeki yang semakin menjauh. Benarkan dia Hyeki? Hyeki yang sama dengan yang selalu dijaganya dulu?

* *  *

Hari minggu yang cerah. Minho sedang menyetir dan Hyemi duduk di sebelahnya. Sedari tadi Hyemi meremas-remas tangannya gugup dan Minho tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak mencemaskan Hyemi.

“Kau yakin kita akan kesana?” tanya Minho. Dia sudah mengajukan pertanyaan yang sama sejak dia menjemput Hyemi di rumah.

“Kalau kau bertanya sekali lagi, maka akan genap sepuluh kali, Choi Minho,” tukas Hyemi, tidak bisa menyembunyikan nada gugup di suaranya. “Jangan buat aku berubah pikiran,” tambahnya lagi.

Minho mengangkat bahu, malas mendebat Hyemi.

Mobil Minho berhenti di depan sebuah toko roti, tepat berseberangan jalan dengan toko bunga “Flowers and Beauties”. Ya, itu toko bunga milik Kwan Nara. Tempat kejadian perkara dimana ayah Hyemi terbunuh. Hyemi dan Minho turun dari mobil dan menatap toko bunga yang diberi garis polisi. Ini sudah tiga minggu sejak kejadian tersebut, namun toko bunga itu masih tutup.

Hyemi menatap toko bunga itu. Dia bisa melihat masih ada bekas darah di tempat itu. Mata Hyemi berkaca-kaca.

Appa….” gumamnya lirih.

Minho yang mendengar merangkul Hyemi dari samping. “Jangan paksakan dirimu, kita pulang saja, otte?” tanya Minho lembut.

Hyemi menggeleng. “Penyelidikan kita harus segera dimulai, aku tidak tahan lagi ingin menangkap pelakunya,” geram Hyemi.

Minho tersenyum tipis dan menepuk pundak Hyemi. Dia berjalan masuk menuju toko roti.

Eoseo oseyo,” sapa ahjumma penjual roti sambil tersenyum. Minho balas tersenyum.

“Ah, ahjumma. Aku ingin membelikan bunga untuk gadis yang sedang menunggu di luar itu,” tunjuk Minho pada Hyemi yang masih mematung menatap toko bunga. “Dan biasanya aku membeli di toko bunga itu. Apa yang terjadi? Kenapa toko bunganya diberi garis polisi begitu?” tanya Minho.

“Kau tidak tahu?” ahjumma itu balik bertanya dan Minho menggeleng. “Tiga minggu yang lalu ada pembunuhan di depan toko itu,” lanjut si ahjumma.

Tipe tukang gosip, batin Minho. “Pembunuhan?”

Ne, pembunuhan,” jawab si ahjumma mantap.

“Siapa yang dibunuh?” tanya Minho lagi.

“Pengawal Nona Park, kau tahu kan, dia putri pemilik Park Corp,” jawab si ahjumma. “Pengawalnya ditembak orang tak dikenal.”

Ahjumma, kau melihat kejadiannya?”

Keurom, hanya aku yang melihat kejadian itu,” jawab si ahjumma bangga. “Ah, kemarin ada yang menanyakan nomer polisi mobil yang berisi orang yang menembak itu.”

Huh? Ada yang ikut menyelidiki juga rupanya, batin Minho. “Nuguseyo?” tanya Minho.

Mollayo, tapi aku ingat nomer polisi yang dimintanya,” jawab si ahjumma, lalu menuliskan sesuatu di secarik kertas dan memberikannya pada Minho. Minho menatap tulisan itu.

“Ah, halmonie, jangan sembarangan bicara,” kata seorang gadis dengan seragam pelayan toko yang tiba-tiba muncul. “Kan sudah kubilang jangan bicara apa pun tentang pembunuhan itu, nanti kita terlibat,” bisik gadis itu kesal.

“Sst,, aku tidak bilang apa-apa,” bantah si ahjumma.

Mianheyo, dia hanya asal bicara,” ujar gadis itu pada Minho.

“Tidak apa-apa, maaf aku mengganggu. Kalau begitu, aku permisi,” ujar Minho sambil melangkah keluar toko.

Hyemi menoleh pada Minho. “Apa yang kaudapat?” tanyanya.

Minho mengacungkan kertas kecil pemberian si ahjumma. “Nomer polisi mobil si pembunuh,” jawabnya.

* * *

Di saat yang sama, Hyeki sedang berada di apartemen Nara dalam rangka mengunjungi Nara setelah dua minggu tidak bertemu.

 “IGE MWOYA??!!” tanya Hyeki histeris.

 “Sst, pelankan suaramu Hyeki-ya,” omel Nara sambil mengaduk sop tulang di dalam panci.

“Kau tidak serius kan eonni?” tanya Hyeki bingung.

“Aku serius,” jawab Nara pelan, tapi mantap. Hyeki menganga. Nara dan Kyuhyun akan menikah. Apa hanya dua minggu tidak bertemu, maka hubungan mereka berkembang sebegitu pesatnya?

“Tapi, tapi…” Hyeki mencari bantahan lagi.

“Ya! Ya! Kau tidak senang kami menikah?” sebuah suara menginterupsi Hyeki. Nara dan Hyeki menoleh, melihat Kyuhyun yang berdiri bersandar di dinding dapur.

“Aku yang memberitahu Kyuhyun kalau kau akan  makan siang di sini dan Kyuhyun memutuskan untuk bergabung,” ujar Nara memberitahu Hyeki. Hyeki mendengus.

“Mana pengawalmu yang baru?” tanya Kyuhyun sambil duduk di meja makan di hadapan Hyeki.

“Maksud oppa? Jinki oppa?” tanya Hyeki dan Kyuhyun mengangguk. “Dia tidak mengawalku lagi,” jawab Hyeki singkat.

“Huh? Waeyo?” tanya Kyuhyun heran.

Hyeki mengangkat bahu. Malas menjawab. Topik mengenai Jinki sering membuatnya pusing mendadak dan gelisah, membuatnya selalu menghindari membahas mengenai Jinki.

“Jadi kalian akan menikah?” tanya Hyeki lagi saat mereka makan malam.

Kyuhyun tertawa geli sambil menyendok sop. “Kau kelihatannya tidak rela Nara jatuh ke tanganku,” ujarnya.

“Bukan begitu, oppa kan tahu aku selalu mendukung kalian. Aku hanya … kaget,” jawab Hyeki.

“Kami hanya akan menikah Hyeki-ya, bukan pergi ke Mars,” kekeh Kyuhyun lagi.

“Aku tahu,” balas Hyeki sengit sambil menyendok nasi.

Nara yang menyadari sebentar lagi akan ada perang segera menengahi. “Ngomong-ngomong, katanya kau kenalan dengan seorang jaksa muda. Siapa namanya?” tanya Nara mengalihkan topik pembicaraan.

“Choi Minho,” jawab Hyeki malas dan Kyuhyun tersedak.

Nara buru-buru mengambilkan air untuk Kyuhyun, sementara Hyeki hanya berjengit menatapnya. “Waeyo? Reaksimu berlebihan sekali,” ucapnya heran.

Kyuhyun meminum airnya dan mengatur nafasnya, sedangkan Nara menatapnya khawatir. “Di mana kau kenal dengannya?” tanya Kyuhyun.

“Tidak sengaja bertemu di kampus,” jawab Hyeki lagi, curiga dengan pertanyaan Kyuhyun. “Waeyo?” tanyanya.

“Tidak apa-apa,” ucap Kyuhyun sambil mengerling Nara, memberikannya isyarat.

Hyeki menatap couple yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu dengan heran, namun akhirnya ia mengangkat bahu dan meneruskan makan siangnya.

* * *

Jinki berjalan mantap, memimpin langkah bawahannya. Siang yang sama di saat Hyeki makan bersama Kyuhyun dan Nara, mereka mengadakan transaksi kembali dengan klien dari Hongkong. Jinki sudah mulai terbiasa memimpin sendiri jalannya bisnis ilegal itu. Tempat transaksi adalah restoran mewah khas para miliyuner Hongkong itu. Jinki menempatkan diri pada meja yang sudah dipesan sebelumnya. Kliennya belum datang. Secara refleks, Jinki menyapukan pandangannya dengan waspada. Tubuhnya menegang ketika melihat Choi Siwon ada di sana. Sedang apa Siwon dii sana? Namun Jinki berusaha menguasai diri.

“Ah, Tuan Lee. Maaf membuat Anda menunggu sejak tadi,” sapa seorang lelaki berwajah oriental dengan aksen Hongkong yang kentara.

Gwaenchana. Bisa kita mulai sekarang?” tanya Jinki sambil tersenyum. Pria tersebut menyerahkan sebuah koper yang ditukar oleh koper yang diserahkan Jinki. Jinki diam, menunggu pria tersebut mengecek kopernya. Pria tersebut tersenyum puas.

“Ah, kami memang tidak pernah kecewa dengan Anda,” puji pria itu.

Jinki tersenyum. “Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Hong.”

“Anda tidak mengecek jumlah uangnya?” tanya Tuan Hong heran melihat Jinki tidak mengecek koper yang diberikan olehnya.

“Saya percaya pada Anda,” jawab Jinki sambil tersenyum tipis. “Dan jika Anda curang, saya pastikan Anda akan membayarnya,” tambahnya. Lalu bangkit dari kursi. Pemimpin salah satu klan mafia Hongkong itu hanya tercengang. Ucapan Jinki yang berkesan ringan ternyata punya kekuatan untuk menekannya.

Jinki meninggalkan restoran itu. Menyerahkan koper tersebut pada bawahannya yang mengikuti langkahnya. Mereka lalu berpisah dengan menaiki mobil masing-masing. Jinki melajukan Porsche-nya dengan kecepatan tinggi sambil melirik spion. Dia baru menyadari ternyata Choi Siwon tidak mengikutinya.

* * *

“Tidak ada apa-apa,” keluh Minho sambil menghempaskan tubuhnya di kasur kamar Hyemi. Mereka menghabiskan berjam-jam melacak pemilik mobil dengan nomer polisi yang didapat Minho dari ahjumma penjaga toko roti. Mereka bahkan sudah menggunakan database Departemen Perhubungan Seoul, namun hasilnya nihil. Satu benang merah yang putus kembali.

Minho melirik Hyemi yang terduduk dengan tatapan kosong pada layar netbook. Gadis itu kembali seperti saat ayahnya baru saja meninggal. Hampa dan menyedihkan. Minho turun dari tempat tidur, tergerak untuk meraih gadis itu dalam dekapannya. Baru beberapa menit saja, Minho sudah merasakan air mata Hyemi di bagian depan kemejanya.

“Minho-ya, ottokhae?” bisik Hyemi lirih.

Mwo ottokhae? Kita akan menemukan jalan lain, tenang saja,” jawab Minho pelan.  “Aku akan minta bantuan dari temanku di kepolisian Seoul. Tenanglah,” ucap Minho pelan.

Hyemi hanya mengangguk pelan dalam pelukan Minho. Maka penyelidikan dilanjutkan dengan membuat beberapa rencana tambahan. Minho akan mengumpulkan data mengenai nomer polisi mobil pembunuh itu dan sekaligus mengumpulkan data mengenai keluarga Park. Sementara Hyemi akan mengumpulkan data mengenai Park Corp.

Sepanjang sore itu, Hyemi dan Minho berkutat dengan berkas-berkas yang menggunung. Berkali-kali menuliskan mind map di papan tulis kecil di kamar Hyemi. Membuat kata-kata kunci dan saling menghubungkannya dengan garis.

“Ilsan?” tanya Minho heran ketika membaca akte kelahiran Hyeki.

“Memangnya kenapa?” tanya Hyemi heran. Dia baru saja menuliskan kata Park Hyeki dan Park Jungsoo yang saling dihubungkan dengan spidol merah.

“Tidak, aku baru tahu,” jawab Minho.

“Dia lahir di Ilsan, namun besar di Seoul sampai sekarang,” tambah Hyemi. “Dan aku baru saja menyadari hal yang aneh. Kenapa istri Park Jungsoo tidak pernah disebut-sebut?”

Minho terdiam, ikut memikirkan pernyataan Hyemi dan tiba-tiba dia teringat namja yang dipanggil Hyeki dengan sebutan oppa di taman. “Apa Park Jungsoo punya anak laki-laki? Atau keponakan laki-laki?” tanya Minho.

Hyemi menggeleng. “Opseoyo. Dia hanya memiliki satu putri dan tidak ada satu pun keluarga yang mengaku-ngaku sebagai bagian dari keluarga Park.”

Mata Minho menerawang. Hubungan ini semakin ganjil. Siapa namja itu? Dan Hyeki lahir di Ilsan? Minho membalik halaman pendataan Hyeki, mencari-cari nama ibunya. “Lee Aeri,” Minho mengeja nama tersebut dan menatap Hyemi.

“Tidak pernah disebut dalam media massa, tapi nama itu tercantum di semua data mengenai nama ibu Park Hyeki,” ujar Hyemi.

Mereka sama-sama terdiam. Minho bangkit berdiri, menatap main map yang baru dibuat sejak siang hingga sore ini. Hyemi ikut berdiri di sebelah Minho. Dan keduanya sama-sama terpaku pada satu kata. Park Corp.

“Bagaimana kalau sasaran sebenarnya adalah Park Corp dan Hyeki hanya umpan?” tanya Minho nyaris dalam bisikan.

“Park Corp?!” Mata Hyemi melebar, heran dengan pertanyaan Minho.

* * *

Hyeki berjalan cepat meninggalkan lift yang membawanya turun dari lantai apartemen Nara. Dia menolak tawaran baik Kyuhyun untuk mengantarnya pulang. Hyeki memasukkan agenda dan beberapa buku kuliahnya dengan terburu-buru ke dalam ransel sambil berjalan, bergegas menuju lobi apartemen. Hari ini bukan Yesung yang menjemputnya.

Ahgasshi, kau menjatuhkan sesuatu,” sapa seseorang sambil menyerahkan iPod biru milik Hyeki.

“Ah, kamsahamnida, ahjusshi,” Hyeki membungkuk sopan dan mengambil iPodnya dari tangan lelaki itu.

Choi Siwon tersenyum simpul, melihat betapa sopannya sikap Hyeki padanya. “Berhati-hatilah, jangan menjatuhkan barang yang penting bagimu. Kulihat itu pemberian ayahmu,” ujarnya.

Hyeki balas tersenyum, mengingat stiker permanen di bagian belakang iPod tersebut yang bertuliskan “Saranghaeyo, Jungsoo appa©©”. “Aku akan berhati-hati, kamsahamnida,” ujar Hyeki sambil membungkuk lagi dan berlari keluar mobil.

Siwon menatap anak perempuan itu dengan senyum sadis. Mengingat tadi dengan mudahnya, anak buahnya bisa mengambil iPod Hyeki saat gadis itu memasukkan buku-bukunya, membuat kejadian itu terlihat seolah tidak sengaja.

“Ini akan mengawali pertemuan kita selanjutnya, Hyeki-ya,” ucapnya pelan.

Sementara itu, Hyeki berlari keluar mendekati Porsche putih yang terparkir di depan lobi. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman lebar ketika dia melihat siapa yang duduk di belakang setir sambil melirik keluar jendela dengan cemas.

Oppa,” panggil Hyeki riang sambil mengetuk jendela mobil.

Jinki membukakan pintu mobil dan menyuruh gadis itu masuk. “Aku hampir mati cemas menunggumu, kenapa kau lama sekali?” omel Jinki.

“Aish, jeongmal. Kau cerewet sekali,” keluh Hyeki, sambil memakai seatbelt. Jinki melajukan Porsche, meninggalkan lapangan parkir apartemen. “Kenapa oppa menjemput hari ini?” tanya Hyeki.

“Tidak apa-apa,” jawab Jinki cepat. Dia lega sekali melihat gadis itu baik-baik saja. Tadi siang, saat dia menyadari Choi Siwon tidak mengikutinya keluar restoran, Jinki mendadak merasakan perasaan buruk. Jinki yakin sekali satu-satunya sumber perasaan itu adalah Hyeki. Dia menelepon Hyeki memastikan gadis itu baik-baik saja dan dia tetap tidak tenang walaupun tahu Hyeki sedang bersama Nara dan Kyuhyun. Maka akhirnya Jinki memutuskan menjemput Hyeki sore itu.

“Apa kau bertemu orang aneh hari ini?” tanya Jinki.

Hyeki menggeleng. “Aniyo, wae?” dia balik bertanya. Hyeki akan sadar beberapa minggu kemudian kalau dia lalai memberitahu Jinki mengenai pertemuan pertamanya dengan Choi Siwon.

“Tidak apa-apa,” lagi-lagi Jinki menjawab cepat. Membuat Hyeki penasaran, namun memilih untuk bungkam.

* * *

Nara meletakkan secangkir kopi di hadapan Kyuhyun yang sedang melamun, dan duduk di samping Kyuhyun.

“Kau mengkhawatirkan sesuatu?” tanya Nara pelan.

Kyuhyun mengangkat wajahnya, menatap wajah Nara yang cemas, kemudian menggeleng. “Aniya, aku hanya memikirkan Hyeki dan Minho.”

“Aku juga kaget ketika mendengarnya dari Hyeki,” ujar Nara menghela nafas.

Kyuhyun hanya diam. Pelan-pelan tangannya meraih tangan Nara, mengenggamnya. “Aku akan menuntaskan penyelidikan kematian Seunghyun ahjusshi, setelah itu kita akan segera menikah. Aku tidak bermaksud menduakanmu dengan masalah itu, tapi aku takut semuanya akan semakin rumit,” ucap Kyuhyun.

Nara mengangguk, “aku percaya padamu.”

*TBC*

Heihooo. Kaget dengan hubungan Kyuhyun-Nara yang berkembang pesat? gregetan sama Hyemi-Minho yang perasaannya gak jelas? penasaran juga sama Siwon yang mau ngapain gak jelas? Haha, emang ide sinting ngumpul semua di part ini.

akhirnya part 7 yang dinanti-nanti keluar jugaa, hehe. mianhe untuk lagi-lagi keterlambatan publish hingga 2 bulan, maklum sibuk ngejar kuliah, jadinya harus ada yang dikorbanin. selama libur ini aku bakal nyicil bikin TFU, jadi publishnya bisa regular, doakan ide mengalir lancar yaa.

as usual, comments and likes are loved. karena comment itu sumber inspirasiku, hehe

NO SR. NO PLAGIATOR. 

Advertisements

4 thoughts on “Time for Us : Time 7

  1. huwa~
    annyeong…
    i’m a new reader here…
    maafkan karena ngcomment hanya di part 7 aja…
    FFnya keren bgt, ampe ngga nyadar tiba-tiba uda di part ini…
    FFnya daebak..!!

    ditunggu part lanjutannya y…
    hwaiting…!!!

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s