HIDE!! – Chapter 3

Chapter 3 : Hide!

Harry siuman sejam kemudian, membuat Sandra berkali-kali mengucapkan rasa syukur dan berlinang air mata. Tanpa membuang waktu, Dennis segera memerintahkan agar mereka semua pergi dari rumah keluarga Park. Harry dipapah oleh Sandra dan dibantu Dennis, sementara Amelia mengecek keadaan rumah untuk terakhir kalinya bersama Kyuhyun.

“Kupikir kita bukan penjahat, tapi kenapa sekarang kita yang harus bersembunyi?” tanya Amelia tak terima pada Kyuhyun.

“Kita tidak tahu siapa yang mereka incar, hal yang paling aman dilakukan adalah bersembunyi sampai kita tahu siapa pelakunya dan apa mau mereka,” jawab Kyuhyun tenang.

Amelia mengunci pintu dan menenteng peralatan medisnya. Dennis memintanya membawa peralatan medis untuk pertolongan pertama bila mereka terluka atau tertembak. Kyuhyun mengawal Amelia berjalan menuju van hitam dengan Dennis, Harry dan Sandra di dalamnya. Kyuhyun duduk di bangku kemudi dan Amelia duduk di sebelahnya. Van itu melaju meninggalkan rumah keluarga Park.

“Ah, FBI,” gumam Amelia sambil menatap jalanan yang mulai sepi. Sekarang nyaris tengah malam dan mereka akan menuju lokasi persembunyian. Di bangku belakang, Dennis sedang berbicara melalui telepon dengan seseorang yang bernama Sungmin, sedangkan Harry dan Sandra sedang mengobrol dalam bisikan lemah yang nyaris tidak terdengar. Kepala Harry bersandar di pundak Sandra membuat Amelia buru-buru menatap ke arah jendela samping mobil. Amelia merasa Kyuhyun meliriknya diam-diam. Awalnya dibiarkannya, namun Kyuhyun semakin sering meliriknya.

“Waeyo? Jangan melirikku begitu. Aku tidak akan lompat dari mobil,” dengus Amelia pada Kyuhyun.

“Aniya. Aku hanya merasa heran. Kau kelihatannya benci sekali pada FBI,” ujar Kyuhyun dingin.

“Cish, aku pikir Dennis menceritakan semuanya padamu. Siapa yang tidak akan membenci FBI kalau organisasi itu nyaris membuat masa kecilku seperti mimpi buruk?” tanya Amelia retoris.

“Mimpi buruk?” tanya Kyuhyun bingung.

“Ayahku juga dulunya FBI,” jawab Amelia pelan sambil membuang muka.

Ah, Kyuhyun paham sekarang kenapa gadis itu takut sekali pada senjata api, FBI, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Kyuhyun membelokkan van memasuki sebuah kawasan apartemen sederhana. Lalu mereka semua turun dengan waspada. Dennis memimpin jalan menuju lantai 11. Dia mengetuk tiga kali dan pintu terbuka. Seorang laki-laki muda berwajah cukup imut muncul dari balik pintu.

“Sungmin, maaf kami menganggu,” ujar Dennis langsung melangkah masuk ke dalam apartemen diikuti oleh Harry yang kali ini dipapah Kyuhyun dan Sandra, lalu Amelia yang terakhir masuk yang terpekik kaget.

Apartemen itu bukan layaknya apartemen biasa, tapi lebih menyerupai markas. Ada banyak layar monitor dengan kabel-kabel, papan tulis yang dicoret-coret, peta kota Seoul, dan alat-alat elektronik lain yang baru pertama kali dilihat Amelia.

“Selamat datang kembali di markas kita,” ucap lelaki yang bernama Sungmin. Sungmin bertatapan dengan Amelia dan tersenyum kikuk.

“Neo?” pupil Amelia melebar.

“Annyeong, Amelia,” sapa Sungmin, nada bicaranya semakin memperjelas kekikukannya.

Amelia tidak membalas sapaan Sungmin, matanya beralih menatap Dennis. “Aku tidak menyangka kalau Sungmin-ssi yang Oppa maksud adalah Sungmin-ssi yang aku kenal,” ucapnya kaget.

Dennis hanya mengangkat bahu.

“Kalian saling mengenal?” tanya Kyuhyun yang tiba-tiba muncul. Dia baru saja memapah Harry dan membantu Sandra membawa Harry ke salah satu kamar tidur di sana.

Amelia dan Sungmin mengangguk serempak. Kyuhyun hanya mengangguk dan tidak bertanya apa pun lagi. Amelia memang mengenal Sungmin. Sungmin adalah teman Dennis yang pertama kali menggunakan jasa Amelia sebagai dokter forensik. Sungmin menjabat sebagai inspektur di kepolisian Seoul. Bahkan sampai sekarang Amelia masih bekerja di tempat Sungmin, maka otomatis Sungmin adalah atasannya.

Mereka semua lalu duduk di kursi-kursi yang ada di ruang itu. Kyuhyun sudah mulai berkutat dengan Macbooknya lagi.  Amelia duduk berhadapan dengan Dennis, melemparkan pandangan apa-maksud-semua-ini pada Dennis yang berpura-pura tidak melihatnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Sungmin sambil meletakkan beberapa air mineral di atas meja.

“Entahlah, semua keanehan ini berlangsung begitu cepat,” ujar Dennis pelan, lalu meneguk air mineralnya.

“Hanya dalam sehari,” tambah Kyuhyun tanpa mengalihkan tatapannya.

Dahi Sungmin berkerut. “Maksudnya?”

“Semua ini dimulai dari penculikan Minrin,” Dennis memulai penjelasan.

“Mwo? Minrin diculik? Kapan?” Sungmin tercengang.

“Kemarin, dia diculik di taman, tepat di depan mataku,” kali ini Kyuhyun menjawab. Nada bicaranya getir.

“Lalu tiba-tiba Sandra dan Harry diserang. Harry ditusuk dan Amelia menjahit lukanya,” tambah Dennis mengakhiri pembicaraan.

“Tidak ada petunjuk? Tidak ada motif?” tanya Sungmin.

“Hanya ada beberapa microchip di rumahku dan surat ancaman dari penculik Minrin,” jawab Dennis pelan. Lalu memberikan kertas yang ditinggalkan sang penculik.

“Chankaman. Minrin itu siapa?” tanya Amelia yang sedari tadi hanya mendengarkan.

Dennis, Kyuhyun dan Sungmin terdiam. Tidak ada yang menjawab, sementara Amelia menatap mereka bergantian.

“Tunanganku,” Kyuhyun menjawab pelan.

Baiklah, ini entah kejutan yang ke berapa untuk Amelia seharian ini. Ada perasaan mencelos yang aneh di hatinya mendengar kabar itu.

“Tunangan? Lalu bagaimana Dennis dan Sungmin bisa mengenal Minrin?” Amelia bertanya lagi.

Keheningan yang tidak menyenangkan kembali menyelimuti mereka. Lalu Dennis tiba-tiba berdiri.

“Sudah hampir pagi. Tidurlah, El. Kau butuh istirahat, kita akan melanjutkan pembicaraan ini besok pagi,” Dennis memegang lengan Amelia, lalu menarik Amelia pelan dan menuntunnya menuju pintu yang terletak di samping pintu kamar yang sebelumnya dimasuki Harry dan Sandra.

“Tunggu dulu Oppa,” Amelia memberontak pelan, tapi Dennis hanya menggeleng dan terus menuntun Amelia. Dennis membukakan pintu dan terlihatlah sebuah kamar tidur sederhana.

“Beristirahatlah, El. Oppa sayang padamu,” lalu Dennis menutup pintu. Meninggalkan Amelia sendiri di kamar itu. Amelia duduk di tempat tidur. Kepalanya dipenuhi berjuta-juta pertanyaan tentang misteri ini, hingga dia tertidur.

* * *

Amelia terbangun keesokan harinya dengan kaget. Dia mengecek jam tangan yang masih dikenakannya, masih terlalu pagi untuk bangun. Matahari bahkan belum bersinar. Dia baru saja bermimpi buruk. Mimpi buruk semalam membuatnya mengingat orang tuanya, tapi dia tahu akan lebih bijaksana tidak menghubungi orang tuanya sekarang, saat dia dalam persembunyian begini. Amelia butuh Dennis untuk menenangkannya, maka dia bangkit menuju pintu kamar, lalu membukanya. Tidak ada Dennis di sana, hanya ada  Kyuhyun yang tertidur di sofa dengan kaki di atas meja dan Macbook masih menyala di dekat kakinya. Amelia kembali ke kamar, mengambil selimut dan menyelimuti Kyuhyun dan itu malah membuatnya terbangun.

“Kau.. sedang apa di sini?” tanya Kyuhyun bingung.

“Aku menyelimutimu, kau tertidur di sini sepertinya,” jawab Amelia sambil menunjuk selimut di badan Kyuhyun.

“Apa yang lain sudah bangun?” tanya Kyuhyun. Dia menurunkan kakinya dari atas meja dan mengusap-ngusap wajahnya.

“Sepertinya belum. Kalau aku menganggumu, aku akan kembali ke kamar,” ujar Amelia sambil berjalan kembali ke kamar, namun tangan Kyuhyun menahan lengannya.

“Di sini saja,” ucap Kyuhyun pelan. Amelia hanya mengerjap bingung, lalu duduk di samping Kyuhyun yang masih mengusap-ngusap wajahnya. Kyuhyun bangkit berjalan menuju arah kiri pintu masuk.

“Kau mau kemana?” tanya Amelia.

“Toilet,” jawab Kyuhyun pendek.

Amelia mendengus. Tadi Kyuhyun menyuruhnya tetap di sini, tapi sekarang Kyuhyun malah pergi meninggalkannya sendirian. Ketika Kyuhyun kembali dari toilet, Amelia hanya memasang tampang kesal padanya.

“Kau tidak mau kan melihat ada pulau di pipiku,” ucap Kyuhyun seakan tahu apa yang dipikirkan Amelia.

Amelia tertegun, tidak menyangka Kyuhyun akan menjawab seperti itu, lalu tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Kyuhyun cepat-cepat membekap mulut Amelia untuk menghentikan tawanya.

“Ini masih terlalu pagi El, kau bisa membangunkan orang-orang,” sungut Kyuhyun sambil tetap membekap mulut Amelia.

Amelia meronta, melepaskan tangan Kyuhyun dari mulutnya. “Ya! El? Siapa yang memberikanmu izin memanggilku El?” tanya Amelia garang.

Kyuhyun mendadak salah tingkah. “Aku terlalu sering mendengarnya dari Dennis,” jawab Kyuhyun cuek. Amelia tersenyum sinis.

“Bukan berarti kau boleh memanggilku begitu,” ucapnya kesal.

“Aish, sudahlah. Nama panggilan saja diperdebatkan, menyebalkan,” umpat Kyuhyun sambil kembali mengoperasikan Macbooknya. Amelia menggerutu di sampingnya, namun ikut memperhatikan apa yang dilakukan Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi..” panggil Amelia pelan. Kyuhyun menoleh kearahnya, menatap dengan penuh tanya mendengar nada suara Amelia yang pelan. Yeoja itu kan belum pernah berbicara pelan padanya.

“Apakah kau khawatir pada Minrin?” tanya Amelia sambil menatap Kyuhyun lekat-lekat.

“Kenapa kau tanya begitu?” Kyuhyun balik bertanya.

“Karena kau tunangannya,” jawab Amelia kesal.

Kyuhyun melemparkan tatapan mautnya pada Amelia. “Itu bukan urusanmu,” jawabnya ketus.

Amelia membalas tatapan galak Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, jawab aku,” Amelia menarik lengan Kyuhyun.

“Jangan manja, Amelia Park. Aku bukan Dennis yang bisa mentolerir sikap manjamu,” tukas Kyuhyun. Amelia memandangnya kesal, lalu bangkit berdiri.

“Baiklah, lupakan,” ucap Amelia keras lalu beranjak menuju kamarnya, tanpa menoleh sedikit pun pada Kyuhyun.

* * *

Bukan markas namanya kalau tidak digunakan untuk menyusun rencana. Mereka sedang bersembunyi, namun sekaligus merencanakan apa yang akan mereka lakukan berikutnya. Ini hari kedua mereka di apartemen aneh ini. Kondisi kesehatan Harry sudah jauh lebih baik, walaupun bekas lukanya belum pulih sempurna. Amelia sudah melakukan yang terbaik untuk merawatnya. Dennis, Sungmin dan Kyuhyun bergantian keluar setiap hari. Entah apa yang dilakukan oleh mereka, mereka tidak mau membicarakannya.

“Aku punya dugaan, mereka mengincar Kyuhyun dengan menjadikan Minrin sebagai umpannya,” kata Sungmin sore itu. Mereka semua ada di ruang keluarga. Sandra sedang membantu mengganti perban Harry (dia sudah mahir melakukannya karena diajari Amelia), Dennis sedang mencoret-coret sesuatu di kertas, Kyuhyun bermain game di Macbook dan Amelia hanya duduk diam memandang mereka semua.

“Aku juga berpikir begitu. Tapi kenapa?” jawab Dennis, Amelia memperhatikan, tangan Dennis masih mencoret-coret kertas, namun wajahnya terpilin keras. Seolah-olah gadis yang menghilang itu adalah tunangannya, bukan tunangan Kyuhyun.

“Tidakkah FBI bisa bekerja lebih cepat?” seru Amelia tiba-tiba membuat semua orang menoleh. “Mworago?” tanya Sungmin bingung.

Amelia berdiri dengan tidak sabar, menatap ke empat orang itu tidak sabar. “Tidakkah kalian khawatir? Terhitung hari ini, Minrin-ssi sudah menghilang selama 2 hari. Bagaimana kalau dia … terbunuh?” suara Amelia mengecil saat mengucapkan kata terakhir itu.

Amelia menangkap kegelisahan yang semakin menjadi di wajah Dennis, sementara wajah Kyuhyun hanya menunjukkan kegetiran. Keheningan kembali menyelimuti mereka.

iPhone Kyuhyun yang bergetar membuat mereka semua terlonjak dari tempat duduk. Semuanya menatap iPhone itu dengan pandangan ngeri. Kyuhyun meraih iPhonenya dan dari ekspresi wajahnya yang menjadi suram, Amelia tahu iu bukan kabar baik.

“Sebuah pesan entah dari siapa,” Kyuhyun memberitahu mereka, suaranya tercekat. Dia melanjutkan membaca isi pesan tersebut, “dua tahun yang lalu, satu nyawa yang paling kulindungi pergi, maka kali ini aku akan membalasnya dengan lima nyawa. Satu nyawa sudah dalam genggamanku, pilihan kalian adalah mengabaikannya atau ikut menghilang selamanya bersamanya.”

Ketika Kyuhyun mengakhiri membaca pesan tersebut, Amelia merinding dan aura menakutkan menyebar di ruang tengah itu. Dia memperhatikan Sandra yang merapat pada Harry seolah mencari perlindungan. Amelia berdiri dan berjalan mondar-mandir di sekeliling ruangan. Eh, tunggu dulu, dua tahun yang lalu?

“Mereka tidak bisa menemukan kita dan sekarang berusaha memancing melalui sms,” ujar Dennis.

“Siapa dia? Dia kelihatannya sangat membenci kita,” pekik Sandra ketakutan.

“Tidakkah kalian merasa aneh?” Amelia bertanya.

Semua orang menatapnya keheranan. “Apanya yang aneh?” Kyuhyun balik bertanya.

Amelia menghembuskan nafas keras. “Dia menyebut-nyebut kasus dua tahun yang lalu, tapi kasus apa itu? Lalu dia bilang akan balas dendam pada lima nyawa dan itu termasuk Minrin-ssi, tapi siapa empat lainnya?” tanya Amelia bingung. Dia menghitung total orang yang ada di ruangan, jumlahnya ada 6 orang.

“Berarti ada dua orang yang tidak terlibat di kasus dua tahun yang lalu,” ujar Kyuhyun menyimpulkan. Amelia mengangguk membenarkan.

“Apa mungkin itu kasus dimana aku menjadi dokter forensik untuk pertama kalinya?” Amelia bertanya dan wajah-wajah tegang yang sangat dihapalnya muncul. Ekspresi yang sama setiap kali mereka tidak mau membahas masalah di depan Amelia.

“Oh, Tuhan. Tolonglah, nyawa kita semua dalam bahaya, tidak bisakah kalian memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi?” omelnya kesal.

Dennis menghela nafas. “Seharusnya memang kau tidak perlu tahu,” ujarnya.

“Oppa, kalau kita tidak bergerak cepat, kita semua bisa terbunuh,” bantah Amelia.

“Diai benar,” Harry membela Amelia.

“Baiklah, akan kuceritakan,” Kyuhyun memutuskan. Tapi Dennis menyela, “biar aku saja.” Dan cerita itu pun dimulai.

TBC-

A.N :

Baiklaaah, masih ada yang ingat cerita ini? gr2 nonton athena sm city hunter jadi niat nulis cerita ini, eh ditengah2 ngatung feelnya, padahal endingnya udah diperkirain gmna.

kali ini aku lanjutin sebagai selingannya time for us yang alurnya bolak-balik aku ubah supaya rapi.

dan berhubung blok ini aku lagi padat banget dengan segala kepanitiaan akhir tahun, mgkn FFnya banyak yang bakal ngantri, tapi tenaaang, aku gak bakal hiatus kok. nulis itu salah satu cara refreshing buat aku..

see yaa. comment and like are love :*

 

Advertisements

4 thoughts on “HIDE!! – Chapter 3

  1. saya seperti merasa KyuHyun-ssi ada apa2 dengan Amelia Park? -_____-”
    sejujur’a ide cerita’a ga jauh beda ama time for us,
    tapi over all baguslah.
    misteri kejadian’a semakin lama semakin terungkap,
    cerita’a rapi dan tidak terlalu membingungkan.
    tetap semangaaaaaat. 😀
    teruslah berkarya..
    Jjang!!!! ^^ #prokprokprok

    Like

  2. haha, waah, ketauan neh, keke~
    liat di next chapt yaaa

    ehm memang, hehe
    gak bisa nulis kalau genrenya bukan misteri, kebanyakan nonton film action plus gk pnya bakat romantis, keke~ #slap

    makacii udh komen saaay :*

    Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s