Time For Us : Time 6

Time 6 : Big Twist!

Seoul National University @ Business Finance Class

Hyeki mengetuk-ngetukkkan pena di atas meja. Matanya masih fokus pada apa yang sedang diajarkan oleh dosen dari luar negerinya, Mr. Smith.  Sesekali dia menuliskan catatan di iPadnya, hal-hal yang dianggapnya penting dari ucapan Mr. Smith. Hyeki melirik iPhone-nya cemas. Android itu tidak bergetar sama sekali, padahal seharusnya saat ini Jinki sedang mengecek keadaannya untuk yang ke sekian kalinya. Namun untuk pertama kalinya dalam tiga minggu ini, Jinki tidak mengecek keadaannya, baik menelepon atau mengiriminya sms sejak dia mengantar Hyeki ke kampus.

Hyeki mendesah. Ada apa dengan Jinki? Belakangan ini hubungan mereka mulai membaik. Biarpun Hyeki masih tidak suka dirinya dikawal, tapi setidaknya Jinki bisa memposisikan dirinya sebagai teman. Seseorang yang nyaris tidak pernah dimiliki Hyeki sejak dia menapakkan kakinya di rumah keluarga Park. Jinki memperlakukannya dengan baik. Dia cukup sabar menghadapi Hyeki yang kadang-kadang masih suka kekanak-kanakan.

Mata kuliah business finance berakhir tepat pukul 12 siang. Ciri khas Mr Smith yang selalu tepat waktu. Masih ada istirahat makan siang dan dua jam mata kuliah terakhir yang harus diikuti Hyeki sebelum dia bertemu dengan Jinki dan menjawab rasa penasarannya.

Dan disinilah dia sekarang. Di sudut kantin, menyesap milkshakenya sendirian. Bangku ini sudah ditempati Hyeki sejak awal dia kuliah di sini, seolah-olah bangku ini ditempeli label ‘Milik Park Hyeki. Berbahaya!’ Awalnya dia jengkel, namun lama-lama diabaikannya. Hyeki tidak ingin ambil pusing. Hyeki mengutak atik iPhonenya, menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia menelepon Jinki. Nomer telepon Jinki ada di panggilan darurat kedua, setelah appanya di urutan pertama.

Hyeki mengurungkan niatnya. Dia takut justru nanti kalau dia menelpon Jinki, Jinki akan membawa rombongan pengawal yang lain karena mengira Hyeki dalam bahaya. Hyeki terkikik sendiri membayangkan kemungkinan konyol itu.

Mengabaikan pandangan mata beberapa mahasiswa yang menatapnya, Hyeki bangkit dan berjalan menuju kelas berikutnya. Dia sedang tidak lapar, memutuskan lebih baik dia makan siang di rumah saja. Masakan SooYan ahjumma jauh lebih enak daripada masakan kantin. Namun sialnya, dia justru menubruk seseorang membuat milkshakenya mengotori baju orang itu. ‘Aish, jeongmal. Bagaimana aku bisa begitu sering menabrak orang?’ batinnya mengomel dalam hati.

“Ah, jeoseonghamnida, aku tidak sengaja,” Hyeki meminta maaf pada orang itu. Dia mendongak untuk melihat siapa yang dia tabrak dan ternyata itu namja yang sama yang ditabraknya di taman dengan es krim beberapa hari yang lalu.

Gwenchana,” jawab namja itu. “Lho? Kau kan yang waktu itu?” tanyanya dengan nada terkejut begitu melihat Hyeki. Hyeki mengangguk.

“Maafkan aku, ini kedua kalinya aku menabrakmu,” Hyeki membungkuk pada orang itu.

“Tidak apa-apa, aku juga salah,” balas namja itu sambil tersenyum ramah. “Ehm, sepertinya kita menjadi tontonan orang, mau bicara di tempat yang lebih enak?” tawar namja itu begitu melihat para mahasiswa menatap mereka ingin tahu.

Hyeki mengangguk dan mengikuti namja itu berjalan.

“Siapa namamu?” tanya namja itu lagi.

Hyeki mendengus. “Aku tidak sembarang memberitahukan namaku,” ujarnya sedikit ketus. Kalau dipikir-pikir buat apa dia mengikuti orang ini, cukup meminta maaf dan membayar ganti rugi, masalah mereka akan selesai kan?

Namja itu tertawa mendengar jawaban Hyeki. “Choneun Choi Minho imnida,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.  Hyeki menyambut uluran tangan itu ragu-ragu.

“Park Hyeki,” katanya pelan. Dan Minho kaget. Dia bertemu dengan orang yang kebetulan dia cari.

“Kau putri Park Jungsoo?” tanya Minho.

“Ne, Park Jungsoo hanya punya satu putri. Buat apa kau bertanya tentang ayahku, dia tidak ada urusannya dengan kita. Urusan kita hanya masalah tabrak-tak-sengaja saja,” Hyeki kembali ketus mendengar nama ayahnya disebut. Dia tidak suka membawa-bawa ayahnya dalam masalah pribadi.

Minho terkekeh. “Tenanglah, aku hanya bertanya kok. Soalnya aku dulu juga punya teman bernama Park Hyeki, sayangnya aku tidak tahu nama orang tuanya.”

Hyeki diam saja, membuat Minho berdeham. “Baiklah, aku tidak mempermasalahkan soal tabrak menabrak itu, lupakan saja,” ujar Minho sambil tersenyum.

“Bagus kalau begitu, aku permisi kembali ke kelas dulu,” ujar Hyeki sambil membalik badan dan berjalan menuju kelas terakhirnya.

“Hei, tunggu sebentar,” panggil Minho membuat langkah Hyeki terhenti. Minho berlari mendekati Hyeki.

“Aku butuh bantuanmu,” ucap Minho membuat Hyeki bingung. Bantuan?

“Kau ingin bantuan apa dariku? Kita kan baru kenal,” Hyeki benar-benar bingung.

“Aku seorang jaksa dan sekarang sedang melakukan investigasi. Ini kartu namaku dan aku butuh nomermu, nanti aku akan menghubungimu,” Minho menjelaskan sambil menyerahkan selembar kartu nama pada Hyeki.

Hyeki mengambil kartu itu dan membacanya. Ada alamat kantor Minho dan nomer teleponnya tercantum di situ. Juga ada alamat rumah Minho. Ilsan? Hyeki mengernyit. Hei, dulu kan dia pernah tinggal di sana.

Waeyo? Kau tidak mau membantu?” tanya Minho khawatir.

Aniyo. Akan kubantu,” jawab Hyeki cepat. Ehm, agak gegabah memang langsung setuju, tapi seorang jaksa tidak mungkin bermaksud buruk kan?

Hyeki mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan kartu namanya juga.

Gamsahamnida, aku akan segera menghubungimu,” ucap Minho senang.

Hyeki mengangguk. “Kelasku akan segera dimulai, aku permisi dulu,” dusta Hyeki lalu segera berlalu.

“Ne~ Kamsahamnida Hyeki-ssi,” teriak Minho, sementara Hyeki pura-pura tidak mendengar.

Hyeki menatap kartu nama itu lagi. Ilsan? Tempat itu sangat familiar baginya. Ada makam kedua orangtuanya di sana dan rumah masa kecilnya. Juga teman masa kecilnya. Choi Minho, nama yang sama dengan orang yang baru saja dikenalnya.

Minho terkekeh. “Tenanglah, aku hanya bertanya kok. Soalnya aku dulu juga punya teman bernama Park Hyeki, sayangnya aku tidak tahu nama orang tuanya.”

Kata-kata Minho terngiang di pikirannya. Mungkinkah? Hyeki memukul kepalanya sendiri dengan pelan. Pabo, dunia tidak sesempit itu, omelnya pada diri sendiri.

* * *

Sementara itu Minho tersenyum kecut memandang punggung Hyeki yang menyandang ransel dan terus menjauh. “Mianhe Hyeki~ya, sebenarnya aku harus menyelidikimu,” bisiknya pelan.

Minho tidak makan siang bersama Hyemi kali ini. Dia mendatangi Hyeki di kampusnya. Semalam dia mencari tahu banyak hal mengenai keluarga Park dan menemukan bahwa Hyeki mengambil jurusan ekonomi bisnis di Seoul National University. Dan takdir sepertinya berpihak padanya dan mempertemukan mereka tanpa sengaja.

Betapa kagetnya Minho ketika tahu Hyeki pernah bertemu dengannya di taman. Namun saat itu Hyeki bersama seorang namja yang dipanggilnya Oppa. Tapi dalam artikel-artikel mengenai Park Jungsoo tidak pernah disebutkan bahwa Jungsoo memiliki anak laki-laki. Minho berusaha menebak-nebak siapa namja itu.

Minho memasuki kantor saat jam makan siang hampir habis. Tercengang saat tiba-tiba saja Hyemi berdiri di hadapannya dengan wajah tertekuk.

“Kemana saja kau Choi Minho?” tanyanya.

“Aku makan siang di luar,” jawab Minho tenang, mengabaikan wajah Hyemi yang sudah berkedut-kedut marah.

Mwo? Makan siang di luar dan tidak mengajakku?” omel Hyemi kesal.

Minho tertawa. Begini baru Hyemi, Hyemi yang selalu menempel padanya.

“Cish, tidak mau menjawab rupanya,” rutuk Hyemi kesal. “Minho~ya, ada yang mau kutunjukkan padamu,” ujar Hyemi tiba-tiba menjadi serius.

“Apa?” tanya Minho, lalu mendekati Hyemi yang mulai menyalakan laptopnya dan menunjukkan halaman-halaman web.

“Oh, itu. Ada beberapa halaman yang sudah kulihat,” komentar Minho saat melihat beberapa artikel mengenai Park Corp, Park Jungsoo dan Park Hyeki.

“Tapi ada yang aneh, artikel tentang Park Hyeki sangat sedikit, seolah-oleh eksistensinya ditutupi,” ujar Hyemi sambil terus membuka halaman web yang lain.

Memang aneh, pikir Minho. Tapi cukup wajar mengingat resiko bahaya yang dihadapi Hyeki. “Mungkin bukan ditutupi, tapi dibatasi,” ralat Minho.

Hyemi mengalihkan wajahnya dari laptop ke wajah Minho, ingin membantah lagi, namun tiba-tiba dia merasa sesak nafas. Posisinya dan Minho sangat dekat. Minho menumpukan kedua lengannya di atas meja, memandang laptop dari balik bahu Hyemi. Wajahnya dekat sekali dengan wajah Hyemi, membuat Hyemi bisa merasakan hembusan nafas Minho yang tenang. Omooo~ dia bisa jantungan kalau begini.

Tiba-tiba pintu kantor dibuka seseorang membuat Hyemi dan Minho langsung berdiri tegak.

“Kalian sedang apa?” tanya Kim Heena heran melihat Hyemi dan Minho salah tingkah.

“Emm, kami… tidak sedang apa-apa,” jawab Hyemi gugup. Minho juga gugup. Bedanya, Hyemi gugup karena tadi posisinya dekat sekali dengan Minho sedangkan Minho gugup karena takut penyelidikan mereka ketahuan.

“Kalian sedang pacaran? Lalu aku datang menganggu ya?” tanya Kim Heena lagi.

Aniyo!” jawab mereka serempak.

Heena tertawa. “Maaf saja kalau begitu, tapi waktu istirahat sudah habis. Kalian bisa lanjutkan di lain waktu,” goda Kim Heena. Dan di saat itu, Kyuhyun memasuki kantor dengan setumpuk berkas. Mendadak suasana menjadi kaku. Hyemi dan Minho segera duduk di kursi kerja masing-masing.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun menyadari perubahan suasana yang aneh.

“Tidak ada apa-apa, hanya saja aku memergoki mereka pacaran,” goda Kim Heena sambil terkekeh.

Jinja? Wah, Minho kemarin kau bilang kalian hanya berteman,” Kyuhyun ikut menggoda Minho.

Aniya, hyung, kami memang hanya berteman,” bantah Minho. Hyemi tertegun? Hanya … berteman? Kenapa dia jadi ingin menangis setelah Minho mengucapkan itu?

Jeongmal?” Kim Heena terkejut. “Kupikir kalian sepasang kekasih mengingat sejak awal masuk kerja, kalian pulang pergi bersama dengan mobil yang sama. Gosip itu sudah menyebar ke seluruh kantor lho,” tutur Kim Heena.

Benarkah? Hyemi tersenyum kecil, benarkah ada yang menganggapnya dan Minho seperti itu?

Aniya. Itu tidak benar. Kami hanya bersahabat, iya kan Hyemi?” Minho meminta dukungan Hyemi. Hyemi hanya mengangguk. Itu impiannya, impiannya bersama Choi Minho sebagai kekasihnya. Tapi Minho sepertinya tidak merasakan hal yang sama. Lagi-lagi Hyemi mendadak ingin menangis. Ya, dia memang hanya sahabat seorang Choi Minho.

* * *

Hyeki hanya melongo saat yang menjemputnya sepulang kuliah hari itu adalah Yesung.

“Jinki oppa eoddigessoyo?” tanyanya pada Yesung.

“Dia sedang dibutuhkan oleh Park Sajangnim,” jawab Yesung singkat. Mwo? Dibutuhkan oleh ayahnya? Bukankah ayahnya sendiri yang bilang kalau Jinki bertugas menjaga Hyeki? Kenapa ayahnya juga yang mengambilnya? Pikiran-pikiran dan teori-teori aneh memenuhi otak Hyeki.

“Eh ahjusshi, apa kau tahu apa yang Jinki oppa lakukan di luar negeri?” tanya Hyeki tiba-tiba. Dia penasaran sekali dengan kehidupan Jinki.

“Ehm, dia kuliah di MIT dan sekarang sudah lulus,” jawab Yesung.

Jeongmal? Dia kan masih muda. Umurnya bahkan masih 21,” ucap Hyeki tidak percaya. Namun Yesung hanya mengangguk.

“Apa jadinya kalau kita ke kantor appa hari ini?” tanya Hyeki membuat Yesung kaget.

Andwae, ahgashi. Sajangnim bilang kau harus di rumah hari ini,” ujar Yesung.

Ya, ya, ya. Hyeki menggumam tak jelas. Kantor Jungsoo, gedung utama Park Corp, adalah tempat yang paling jarang dikunjungi Hyeki seumur hidupnya. Dia kesana hanya beberapa kali untuk merayakan ulang tahun perusahaan atau jamuan yang benar-benar penting. Selebihnya, Hyeki jarang ke sana. Dan apalagi ayahnya sudah menyuruhnya tinggal di rumah. Yesung adalah orang nomer 1 yang loyal pada ayahnya dan Sooyan adalah orang nomer 2. Pasangan suami istri itu sangat patuh pada perintah Jungsoo. SooYan dan Yesung  bahkan sudah bekerja di rumah ketika Hyeki datang. Hei, Hyeki tiba-tiba baru menyadari sesuatu. Kalau SooYan dan Yesung lebih dulu ada di rumah keluarga Park, pasti sedikit banyak mereka tahu tentang Jinki.

Ahjusshi, apa sebelumnya Jinki oppa pernah tinggal bersama kita?” tanya Hyeki lagi. Dia memperhatikan bagaimana raut wajah Yesung berubah tegang dan seolah-olah mempertanyakan, apakah perlu dia menjawab pertanyaan Hyeki.

Ne, dia pernah tinggal bersama kita,” jawab Yesung.

“Lalu kenapa aku tidak mengingatnya?” tanya Hyeki.

“Soal itu, aku bukan orang yang tepat untuk menjelaskan, Ahgasshi. Silahkan tanya pada Park Sajangnim saja,” jawab Yesung mengakhiri bincang-bincangnya dengan Hyeki.

* * *

Jinki duduk berhadapan dengan Jungsoo di ruang kerjanya di gedung utama Park Corp. Jungsoo terlihat tegang walaupun beliau masih dapat menjaga wibawanya. Hari ini aneh sekali. Harusnya sekarang Jinki sedang mengecek keadaan Hyeki dan bersiap-siap untuk menjemputnya sejam lagi. Namun Jungsoo menahannya dan membiarkannya tidak menghubungi Hyeki hari ini.

“Choi Siwon… dia kembali,” kalimat pertama Jungsoo langsung menyentak Jinki. Jinki mengangkat wajahnya, menatap Jungsoo. Jungsoo bisa melihat tidak ada ketakutan di mata Jinki dan memang itulah kenyataannya. Jinki tahu suatu saat Choi Siwon akan kembali. Dia tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang. Dan tentu saja, berkat bantuan Jungsoo, Jinki seakan sudah bersiap menyambutnya.

“Penyerangan terhadap Hyeki tempo hari dilakukan oleh anak buahnya,” Jungsoo melanjutkan ucapannya, menanti reaksi dari Jinki yang hanya menyimak. “Sumber dalam klan Choi mengatakan mereka menginginkan sesuatu yang lain.”

Kali ini Jinki buka suara. “Sesuatu yang lain?” tanyanya bingung.

Jungsoo mengangguk. “Ya, dan itu adalah milikmu.”

Jinki membuang muka. Dia tidak suka bila harus membicarakan ‘sesuatu’ yang menjadi miliknya. Tidak, bukan dia tidak menerimanya. Hanya saja hal itu membuatnya mengingat masa lalunya.

“Kurasa memang sudah saatnya kau mengambil milikmu, Jinki~ya,” ucap Jungsoo sambil menatap Jinki dalam-dalam. “Kau sudah siap untuk itu.”

Jinki menghela nafas. Bukan ini tujuannya pulang ke Korea. Dia hanya ingin menikmati waktunya di sini, bukan untuk mengambil haknya.

Melihat Jinki yang terus terdiam, Jungsoo kembali berbicara, “Donghae mempercayakan ini padaku hanya sementara, hingga kau siap untuk mengurusnya.”

Jinki terkesiap, ini memang bukan pertama kalinya Jungsoo menyebutkan nama ayahnya dalam pembicaraan mereka. Namun ini pertama kalinya Jungsoo menyebutkan nama ayahnya ketika membahas hak milik Jinki.

“Kau lulusan MIT, menguasai bela diri dan senjata api, kepintaran dan wibawa. Kau akan mampu menjadi seperti Donghae,” Jungsoo menguatkan hati Jinki.

“Baiklah, akan kuterima,” Jinki menjawab.

Jungsoo mengangguk. “Aku akan tetap membantumu. Mulai sekarang kau tidak perlu mengawal Hyeki lagi. Kau harus mengurus hakmu dengan baik. Donghae menjaganya sepenuh hati untukmu,” tambah Jungsoo.

Jinki mengangguk. Jadi mulai sekarang dia akan jarang bersama Hyeki lagi? Mulai sekarang, dia harus mengurus hak yang diwariskan oleh ayahnya.

“Kalau begitu aku pamit dulu ahjusshi,” Jinki bangkit dari duduknya.

“Semuanya sudah kusiapkan, kau bisa segera memulainya,” ujar Jungsoo. Jinki mengangguk paham, lalu menghilang di balik pintu ruangan Jungsoo. Jungsoo masih menatap pintu yang tertutup. Pikirannya kembali ke dua puluh lima tahun yang lalu. Saat dia mengenal Lee Donghae. Saat mereka bersama-sama membangun kehidupan yang lebih baik. Saat mereka menemukan gadis yang mereka cintai, Jung Hyojin dan Song Aeri. Saat mereka menikah bersama-sama. Saat Hyojin melahirkan Jinki dan saat Aeri mengandung  Hyeki empat tahun kemudian. Lalu saat masa-masa berat di dalam hidup mereka. Pembunuhan dan penculikan Hyojin, penculikan Jinki, menghilangnya Aeri dan Hyeki dan terbunuhnya Donghae. Semua memori itu mengalir di dalam kepala Jungsoo membuatnya pusing dan ingin membanting sesuatu. Dan Jungsoo tahu betul siapa penyebab kehancuran kehidupan mereka, Choi Siwon.

* * *

Jinki duduk dan mendengarkan laporan dari bawahannya. Inilah yang dimaksudkan Jungsoo mengenai haknya, sebagai pimpinan perusahaan bisnis. Bukan, ini bukan perusahaan yang sama dengan milik Jungsoo. Ini perusahaan Jungsoo yang lain, black company. Bisnis ilegal? Yeah, ini bisnis ilegal Jungsoo. Bukan milik Jungsoo lebih tepatnya, namun milik Lee Donghae, sahabatnya. Maka tidak aneh kalau perusahaan ini yang diincar oleh Klan Choi, karena mereka bermain di lahan yang sama.

Jinki tahu cerita itu. Sebuah kenangan pahit mengenai Lee Donghae, wanita yang dicintainya, Choi Siwon dan Park Jungsoo. Jungsoo menceritakannya saat dia berusia 17 tahun, sebelum dia masuk MIT. Kisah tragis dimana Choi Siwon menginginkan wanita yang dimiliki Lee Donghae dan menjadikan Jinki sebagai umpan. Siwon menculik Jinki dan Hyojin sekaligus. Hyojin, ya Jung Hyojin itu nama ibu Jinki. Sayangnya, ibunya tewas saat itu dan Jinki ingat dengan jelas bagaimana aliran darah membasahi pelipis ibunya. Ayahnya terbunuh dalam usaha menyelamatkannya dan meninggalkan dirinya yang masih berumur 4 tahun dalam tanggung jawab Jungsoo. Karena itu sungguh wajar mengapa Jinki yang lebih dulu ada di rumah keluarga Park dan mengapa dia menjadi anak angkat Park Jungsoo. Namun, Choi Siwon tidak berhenti sampai di situ.

Choi Siwon mengancam Aeri, ibu Hyeki, bahwa dia akan membinasakan bayi dalam kandungannya. Maka malam itu, Aeri menghilang dalam keadaan mengandung, membuat Jungsoo menyebarkan orang-orang suruhannya mencari anae dan putrinya itu. Dan baru bertahun-tahun kemudian Hyeki ditemukan, saat ibunya justru sudah meninggal..

“Barangnya akan dikirim ke pelabuhan nanti malam, Sajangnim dan transaksi akan dilakukan malam itu juga,” bawahannya masih berkicau menyampaikan laporan sementara Jinki memaksa dirinya untuk fokus.

“Bagaimana dengan polisi?” tanya Jinki.

“Leeteuk sajangnim sudah memastikan keamanannya. Atau anda ingin melihat sendiri transaksinya?” tanya bawahannya lagi.

“Tidak perlu. Kupercayakan semuanya padamu, aku akan ikut lain kali,” Jinki memutuskan. Bawahannya meninggalkan ruangannya. Jinki bangkit dan menatap peta yang menunjukkan wilayah transaksi mereka.

Jungsoo dan Donghae berbagi pekerjaan. Jungsoo mengelola perusahaan legal dan Donghae mengelola black company. Di saat Donghae meninggal, Jungsoo mengurus semuanya dengan baik dan membuat perusahaan mereka semakin kuat. Mungkin itulah yang mengusik Choi Siwon. Atau justru karena dia tahu Jinki kembali ke Korea? Apa pun itu, Jinki tahu Siwon menginginkan kehancurannya.

* * *

Hyeki berguling terlentang di atas tempat tidurnya. Dia merasa gelisah karena belum melihat Jinki seharian ini. Hyeki menyambar iPhonenya, menuruni tangga dan menuju dapur. Ada SooYan ahjumma di sana, tersenyum menyambutnya.

“Cokelat hangat, ahgasshi?” tawar SooYan ahjumma  lembut.

Hyeki mengangguk bersemangat, lalu duduk di kursi ruang makan. Mengedarkan pandangan ke ruangan yang sepi. Hyeki menghela nafas berat. iPhonenya tiba-tiba bergetar menandakan pesan singkat masuk.

From : 085XXXX

Selamat malam. Maaf aku menganggu. Besok aku akan ke SU untuk melihat-lihat gedung dan memotret lokasi penyelidikan. Kau bisa menemaniku?

-Choi Minho-

Hyeki mengernyit. Minho? Oh, namja yang ditemuinya di kampus siang itu. Jaksa muda yang aneh menurut Hyeki. Hyeki menimbang-nimbang dalam hati. Tidak ada salahnya membantu namja itu, lagipula dia punya waktu luang.

To : 085XXXX

Ne~ akan aku bantu.

SEND-

From : 085xxx

Gamsahamnida 🙂

Hyeki menyimpan nomer kontak itu dengan nama ‘Jaksa Choi Minho’, menutup aplikasi messagenya dan kembali terpekur di meja makan. SooYan ahjumma meletakkan mug biru kesayangan Hyeki yang terisi coklat hangat dengan krim mocca berbentuk senyum di atasnya. Hyeki nyengir menatap SooYan ahjumma.

“Tersenyumlah, kelihatannya semua orang sedang stress sekarang,” gurau SooYan ahjumma.

Cengiran Hyeki semakin lebar. “Aku ke atas dulu ahjumma,” ucapnya disambut anggukan SooYan ahjumma lalu berjalan meninggalkan dapur. Belum beberapa langkah berjalan, Hyeki sudah kembali ke dapur dan memeluk SooYan ahjumma.

“Gomawo,” bisiknya pelan, SooYan ahjumma mengelus kepalanya dan tersenyum.

“Habiskan cokelatmu dan tidurlah,” nasehat SooYan ahjumma.

Hyeki mengangguk dan kembali ke kamarnya. Saat menuju belokan ke tangga, Hyeki melihat Jinki sudah menaiki tangga lebih dulu.

“OPPAA!!” teriaknya penuh semangat. Jinki menoleh, mencari sumber suara dan secara otomatis senyumnya mengembang.

“Hai, kangen padaku yaa?” goda Jinki pada Hyeki yang sekarang menaiki tangga dengan terburu-buru.

“Kemana saja kau? Tidak menjemputku, tidak menghubungiku walaupun hanya SMS,” omel Hyeki kesal, lalu meniup mugnya yang terasa agak panas karena cokelat. Jinki yang memperhatikan itu, mengambil mug Hyeki.

“Biar aku yang pegang,” ucapnya. Mereka menaiki tangga sambil berbicara.

“Aku bukan lagi pengawalmu sekarang, jadi aku tidak akan mengusikmu lagi,” ujar Jinki.

“Hah? Waeyo?” tanya Hyeki heran.

“Bukankah kau senang?” Jinki balas bertanya.

Keurom, tapi kenapa?” Hyeki kembali bertanya, sementara Jinki mengangkat bahu.

“Anak kecil tidak perlu tahu,” ujarnya iseng. Mereka tiba di depan pintu kamar mereka yang berhadap-hadapan. Jinki menyerahkan mug yang sekarang tidak panas lagi ke Hyeki, lalu meletakkan telunjuknya di kening Hyeki. “Karena kau anak kecil, maka jaga dirimu baik-baik. Aku tidak bisa melindungimu lagi.”

Jinki membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk, meninggalkan Hyeki yang masih terpaku sambil memegang mug.

Hyeki ikut masuk ke kamarnya sendiri. Bersandar di pintu kamar dan memeluk mugnya erat-erat. Perasaan apa ini? Dia seperti …. kehilangan?! Kenapa Jinki tiba-tiba tidak jadi pengawalnya lagi? Hyeki mengigit bibirnya kalut. Ada apa sebenarnya?

-TBC-

A.N:

mianhe utk keterlambatan publish part 6 ini, ini part yang plg susah bikinnya sejauh ini, harus milah-milah fakta mengejutkan mana yang mau dipaparin di sini.

part selanjutnya konfliknya akan mulai semakin banyak dan complicated dan akan semakin banyak juga rahasia yang terungkap.

gk bakal ada tokoh baru lagi, cuma tambahan sempil-sempil dikit. direncanakan sampe Part 10, semoga bisa segera selesai. ayoo, tebak akhirnya gimana. Gomawo :*

Advertisements

4 thoughts on “Time For Us : Time 6

  1. AUUUUUUUUUUUUH~ Penasaran gilaaa hahahaha!
    Eonnieee aku mampir lagi ya boleh?

    Dudududuh Jinki, kok aku ngerasa ada sesuatu yang bakal terjadi sama dia ya?
    Terus jangan-jangan entar HyeKi diapa-apain sama Siwon.
    Waaah Hae jadi pemimpin ‘black company’? Gak kebayang loh XD
    Penasaran banget itu Minho-HyeMi bakal kayak gimana penyelidikannya. Minho bakalan tau kan kalau itu tuh HyeKi sahabat pas dia masih kecil?
    Aiiiih penasaran bangetlah ini :O
    Tapii saya dukung Jinki-HyeKi lah pokoknya 😀

    Part selanjutnya ditunggu ya eonn. Fighting!

    Like

    1. haloo myaa.
      eon senang deh kamu mampir lagi, hihi

      penasaran yaa? aku juga sejujurnya gak sabar pengen namatin, cuma blm ada timing yang pas aja.
      yup, new image for Lee Donghae, pikirin aja dia badboy kyk di skip beat, haha.
      mari kita doakan smg minho cepet nyadar, hyeki itu sahabat masa kecilnya.
      waah, kamu dukung jinki-hyeki yaa? asyyik, seneng 🙂

      ne~ itu baru dipost.
      selamat membaca yaa :*

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s