Time for Us : Time 5

Time 5 : Complicated History

Jinki mencuci wajahnya di wastafel dapur. Merasa gerah padahal suhu AC di kamarnya sangat dingin. Dia sedang menuangkan air ke gelas saat tiba-tiba seseorang menyalakan lampu dapur. Jinki langsung waspada, namun segera menyadari bahwa itu hanya SooYan, kepala pelayan keluarga Park.

“Kau sedang apa Jinki~ya?” tanya Sooyan heran.

“Aniyo, hanya merasa haus,” elak Jinki sambil menunjukkan gelas yang dipegangnya.

“Kau sulit tidur? Duduklah, akan ahjumma buatkan sesuatu untukmu,” ucap Sooyan lembut. Jinki duduk di bar dapur, sementara Sooyan membuatkan sesuatu untuknya. Jinki tersenyum saat Sooyan menyodorkan segelas cokelat hangat untuknya.

“Kau sudah lama tidak minum cokelat kan?” tebak Sooyan. Jinki meminum cokelat itu sambil mengangguk.

“Kau terlihat lelah,” komentar Sooyan sambil menatap Jinki khawatir.

“Gwenchana ahjumma, aku sudah besar,” balas Jinki.

“Apa mengurus Hyeki sangat melelahkan?” goda SooYan lembut.

Jinki tertawa. “Dibesarkan sendiri di rumah ini membuatnya keras kepala rupanya,” komentarnya sambil terkekeh. SooYan ikut tertawa.

“Apa Park sajangnim memberikan beban yang terlalu berat untukmu?” tanya Sooyan lagi.

Jinki menggeleng. “Apapun yang dikatakan Park sajangnim adalah perintah bagiku. Setelah semua yang dilakukan beliau untukku, aku harus membalas semua budi baiknya,” jawab Jinki tenang.

Sooyan menatap namja itu kasihan. Lalu mengelus kepalanya. Bagi Sooyan, Jinki adalah anaknya sendiri, sama seperti dia menganggap Hyeki. Keduanya dibesarkan oleh ayah yang sama, namun tanpa ibu. Bedanya Hyeki sempat merasakan kasih sayang ibunya selama 7 tahun sebelum ibunya meninggal. Jinki tidak seberuntung itu.

“Jangan terlalu memaksakan dirimu,” nasehat Sooyan.

“Ne, ahjumma,” jawab Jinki.

Sooyan berdiri dan berjalan meninggalkan dapur. “Kapan-kapan akan ahjumma buatkan ayam goreng kesukaanmu. Sekarang tidurlah. Semoga tidur nyenyak Jinki~ya,” ujarnya lagi. Jinki hanya mengangguk. Sooyan selalu membuatnya teringat pada eommanya.

* * *

“Menyetir sendiri tanpa pengawalan, untung Jinki berhasil menyusulmu. Kau membuat appa kelabakan,” keluh Jungsoo. Jungsoo menatap Hyeki pasrah. Entah bagaimana caranya dia bicara dengan putrinya yang keras kepala ini. Meyakinkannya bahwa tindakannya berbahaya.

“Appa, tapi aku baik-baik saja kan saat ini?” bantah Hyeki. “Lagipula, kasihan sekali Ferrariku hanya terparkir di garasi saja.”

“Kau bisa menggunakan Ferrari itu dengan syarat disupiri oleh Jinki, arraseo?” ucap Jungsoo. Ada nada final dalam suaranya, untuk menyudahi perdebatan dengan putrinya.

Hyeki merengut, melirik Jinki yang tersenyum riang. Dia tahu tidak akan bisa mendebat ayahnya bila keputusan sudah diambil. Hyeki hanya pasrah. Jungsoo menolak mentah-mentah semua laporannya mengenai sikap protektif Jinki. Jungsoo malah membela tindakan Jinki. Oke, dia tidak punya backing sekarang.

“Ada yang perlu appa bicarakan denganmu,” ujar Jungsoo serius.

“Mwoya?” tanya Hyeki.

“Appa akan mengumumkan secara resmi mengenai hak warismu,” ujar Jungsoo. Hyeki bagai tersambar petir. Mengumumkan hak waris? Apa ayahnya gila? Belum resmi saja, Hyeki sudah berulang kali menjadi sasaran penculikan. Dan sekarang apa? Peresmian?

“Andwae!! Aku menolak,” Hyeki menjawab tanpa berpikir. Jungsoo tahu Hyeki akan menolak. Dia tahu resiko mempertaruhkan nyawa Hyeki akan semakin besar, tapi di sisi lain hal ini justru akan membuat Hyeki terlindungi. Status pewaris resmi akan membuatnya dikenal dan secara sosial dia akan lebih terjaga.

“Baiklah. Peresmian ini akan ditunda sampai kau berumur 19 tahun,” Jungsoo mengambil keputusan. “Tidak ada alasan untuk menundanya lebih lama lagi. Kau pewaris keluarga Park, tidak ada yang bisa merubah itu. Cepat atau lambat, semua orang akan tahu,” ujarnya lagi saat melihat Hyeki sudah membuka mulut untuk protes.

Hyeki menatap Jungsoo dengan pandangan sulit diartikan. Menghela nafas, lalu meninggalkan ruang kerja Jungsoo tanpa pamit dan menuju kamarnya. Dia mengabaikan Jinki yang berusaha menenagkannya. Dia menutup pintu dengan keras dan menguncinya.

Hyeki merebahkan dirinya di tempat tidur. Memijat kepalanya yang terasa pusing. Memang tidak biasanya Hyeki memberontak begini. Peristiwa yang terjadi belakangan ini seakan mengguncang hidupnya. Membuatnya memikirkan hal-hal yang sebelumnya selalu ditolak untuk dipikirkannya. Tentang ayahnya. Tentang Jinki. Tentang masa kecilnya. Tentang semua hal yang ada dalam hidupnya. Hyeki merasa ada banyak benang tak kasatmata yang kusut menjalari hidupnya. Dan tugasnya adalah mencari tahu benang apa itu dan mulai merapikannya.

Hyeki bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Sedikit menyibak gorden biru itu untuk melihat langit. Tidak ada apa-apa, hanya hamparan gelap tanpa bintang dan bulan. Hyeki mendesah. Untuk pertama kalinya sejak ia tinggal di rumah ini, dia merindukan kamarnya di Ilsan dan yang paling penting, dia merindukan eommanya.

* * *

“Oh. Appa masih di sini?” tanya Hyeki saat melihat Jungsoo ada di ruang makan bersama Jinki. Kontras sekali melihat ayahnya dengan stelan formal yang didominasi putih itu duduk berbincang dengan Jinki yang hanya mengenakan semi blazer. Eh? Semi-blazer?

“Kau kemanakan stelan resmi ala pengawal keluarga Park, Oppa?” kali ini Hyeki bertanya pada Jinki.

“Wah, akhirnya kau mau memanggilku oppa juga. Daebak~” puji Jinki sementara Hyeki meleletkan lidahnya.

“Appa tidak ingin mendengar tingkahmu yang aneh-aneh lagi untuk hari, arraseo?” Jungsoo memperingatkan Hyeki yang dengan cuek menyambar sepotong roti bakar.

“Ne~” jawabnya singkat.

“Baiklah. Appa akan memantau tingkah lakumu. Jinki, tolong jaga dia,” pesan Jungsoo lalu bangkit berdiri. Jinki mengangguk sopan. Sambil keluar ruang makan dan melewati Hyeki, Jungsoo mengecup puncak kepala putrinya itu. Hyeki hanya menatap kepergian Jungsoo dalam diam.

“Wae? Kau baru sadar appamu sangat menyayangimu?” tanya Jinki membuyarkan lamunan Hyeki.

Hyeki tersenyum tipis. Jinki benar, dia baru sadar kalau Jungsoo sangat menyayanginya.

* * *

Di gedung  utama Park Corporation, Jungsoo sedang memilah-milah bahan presentasi produk terbarunya. Perusahaan mereka bergerak di bidang properti dan teknologi, bidang yang saat ini sedang diminati banyak kalangan bisnis untuk dikembangkan. Pintu ruangannya diketuk dan sekretarisnya Kang Sora, masuk.

“Sajangnim, Yesung-ssi ingin bertemu Anda,” ujarnya.

“Suruh dia masuk,” jawab Jungsoo dan beberapa menit kemudian Yesung sudah muncul di hadapannya.

“Ada apa?” tanya Jungsoo tanpa basa basi

“Ada perkembangan baik mengenai kasus Seunghyun,” Yesung memulai pembicaraan. Jungsoo menoleh, memberikan perhatian penuh, kasus ini penting baginya. “Kami berhasil menemukan saksi mata selain yang ditemukan kepolisian. Dia mengingat nomer plat mobil yang menyerang Seunghyun dan Nona Park.”

“Teruskan,” perintah Jungsoo.

“Kami berhasil mengetahui bahwa nomer plat itu berasal dari salah satu klan kuat bisnis ilegal, Tuan. Klan Choi,” lanjut Yesung. Sebelah alis Jungsoo terangkat. Choi? Mau apa dia dengan keluargaku? Batin Jungsoo.

“Salah satu sumber dalam klan itu berkata bahwa Tuan Choi tidak mengincar Park Corporation, tapi mengincar ‘sesuatu’ yang lain,” Yesung mengakhiri laporannya.

Jungsoo terhenyak, lalu dalam analisisnya terhadap laporan Yesung. Dia tahu persis siapa Choi yang dimaksud, tentu saja Choi Siwon. Pria dengan kekayaan luar biasa yang tidak hanya diperolehnya dari bisnis perusahaannya, tapi juga bisnis ilegal. Kini dia bilang dia menginginkan sesuatu yang lain dari Jungsoo. Jungsoo berusaha berpikir keras, kemudian dia tersentak.

“Perketat keamanan di rumah dan di sekeliling Hyeki dan Jinki,” perintahnya pada Yesung. “Aktifkan sistem pengaman 24 jam dan suruh pengawal tambahan mengawasi Hyeki dan Jinki dari jauh. Aku percayakan ini semua padamu Yesung-ssi,” tambahnya.

Yesung mengangguk khidmat. “Algesseumnida Sajangnim. Kalau begitu aku permisi dulu,” ujarnya sambil membungkuk, lalu keluar ruangan.

Sepeninggal Yesung, Jungsoo memukul mejanya dengan marah. Choi Siwon ternyata tidak main-main. Jungsoo tahu persis apa yang diinginkan Siwon, tapi Jungsoo akan memastikan Siwon tidak akan mendapatkannya dengan mudah.

* * *

Kantor jaksa wilayah pusat sedang senggang. Sekarang jam istirahat dimana semua orang sedang mengobrol santai sambil menikmati kopi. Tapi Hyemi tidak bisa santai, ada hal yang terus menganggu pikirannya.

Hyemi menarik lengan Minho yang sedang mengobrol dengan Kyuhyun. “Minho~ya, bisa kita bicara sebentar?” Minho menatap Hyemi heran, namun mengikuti langkahnya menjauh dari Kyuhyun dan malah menuju ruang kerja mereka yang sedang sepi.

“Waeyo? Kau mau bicara apa?” tanya Minho.

Hyemi melipat tangannya di depan dada dan menyenderkan tubuhnya di meja. Matanya menatap Minho lurus.

“Aku… aku…” Hyemi menarik nafas, mengumpulkan kekuatannya. “Aku ingin menyelidiki kematian Ayahku,” ucap Hyemi dengan penuh keyakinan.

Bola mata Minho membesar, kaget dengan pernyataan tiba-tiba gadis itu. “Kenapa kau tiba-tiba ingin melakukan itu?” tanya Minho shock.

“Tidak tiba-tiba. Aku sudah memikirkannya sejak pemakaman appa, sejak kita dilantik. Aku hanya baru menyuarakannya sekarang,” Hyemi membela diri.

“Tapi kenapa Hyemi~ya?”.

Hyemi menunduk. “Aku tidak bisa membiarkan pembunuh appa berkeliaran tanpa diadili,” suara Hyemi bergetar. Minho mendekati Hyemi, mendekap sahabatnya itu dalam pelukannya. Entah sejak kapan sahabatnya menjadi cengeng dan pendiam seperti ini.

“Tapi kau tidak bisa sembarangan melakukannya,” ujar Minho menasehati.

“Kita tidak perlu melakukannya secara besar-besaran. Cuma penyelidikan tertutup, tak perlu ada yang tahu. Bahkan eomma sekalipun. Hanya kau dan aku yang tahu,” suara serak Hyemi membantah Minho. Minho melepaskan pelukannya dan Hyemi mendongak menatapnya. “Kau mau membantuku kan, Choi Minho?” tanyanya pelan.

Minho mendesah, menghapus air mata Hyemi, lalu kembali memeluknya. “Ne, aku akan membantumu.”

“Gomawo,” ucap Hyemi dalam pelukan Minho.

Sayangnya, bukan hanya Hyemi dan Minho yang tahu mengenai penyelidikan itu. Ada satu orang lagi yang ikut mengetahui hal itu. Cho Kyuhyun yang berdiri sambil memegang kenop pintu.

“Semakin menarik,” bisik Kyuhyun, lalu berlalu dari depan pintu.

* * *

Nara terus merangkai bunga, berusaha pura-pura tidak peduli dengan Kyuhyun yang sedang tiduran sambil mengutak atik iPadnya di atas sofa. Kyuhyun bolos lagi dari pekerjaannya dan sekarang dia malah ada di apartemen Nara. Nara memang belum bekerja kembali, toko bungannya masih diberi garis polisi karena itu sebagian pekerjaannya dilakukan di apartemennya.

“Ya! Cho Kyuhyun, kerjaanmu hanya malas-malasan saja,” bentak Nara tak tahan pada akhirnya. Kyuhyun menoleh ke arahnya, lalu tertawa.

“Kau takut aku tidak bisa memberikanmu makan kalau nanti kita menikah ya?” goda Kyuhyun pada Nara. Biasanya Nara akan membantah apa pun yang Kyuhyun ucapkan. Namun pernikahan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibantahnya dari Kyuhyun. Jadi sebagai gantinya, Nara hanya merengut kesal.

Nara ikut duduk di sofa karena sekarang Kyuhyun sudah mengubah posisinya menjadi duduk. Lalu merebut iPadnya dan terbelalak melihat apa yang dicari Kyuhyun di dunia maya. Semua halaman web itu tentang Park Corporation atau paling tidak tentang Park Jungsoo.

“Kau jadi stalker ya sekarang?” tuduh Nara pada Kyuhyun. Kyuhyun tertawa lagi dan menjitak kepala Nara.

“Tentu saja tidak,” jawabnya ringan.

“Lalu ini apa?”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Penyelidikan.”

Nara mengernyit. “Mwo? Penyelidikan? Memangnya kenapa dengan Park Ahjusshi?”

“Hyemi berniat menyelidiki kematian ayahnya, karena itu aku menebak dia pasti akan mulai dengan menyelidiki Park Corp atau yang lebih mudah Park Jungsoo,” ucap Kyuhyun. Nara melongo. Kang Hyemi akan menyelidiki kematian ayahnya?

“Tapi kenapa? Toh polisi sudah mengurusnya,” tanya Nara tidak mengerti.

“Tidak ada kemajuan dalam penyelidikan polisi. Kasus yang bersih dan rapi begitu, polisi akan langsung angkat tangan,” jawab Kyuhyun. “Buktinya toko bungamu masih disegel sampai sekarang.”

Nara mengangguk. Dia paham, tapi ada yang menganjal di hatinya. Kyuhyun mengambil alih iPad dari tangan Nara.

“Karena rencana Hyemi itu aku jadi sadar bahwa aku tidak tahu banyak mengenai Park Corp atau Park ahjusshi,” gumam Kyuhyun sambil terus men-scroll salah satu layar. “Bahkan media pun tidak.”

“Jadi kau berencana ikut menyelidiki kematian Seunghyun ahjusshi?” tanya Nara lagi.

“Ya, tanpa diketahui Minho dan Hyemi, bahkan Park Ahjusshi sendiri,” jawab Kyuhyun.

“Minho?” Nara mendengar nama itu disebutkan Kyuhyun.

“Dia sahabat Hyemi atau setidaknya begitulah dia mengaku padaku. Hubungannya dengan Hyemi sepertinya lebih dari teman. Dia teman sekantorku yang baru bersama Hyemi, Choi Minho,” jelas Kyuhyun.

“Aaah, daebaa~k!! Cho Kyuhyun ternyata tidak hanya pintar menginvestigasi kasus, tapi juga menginvestigasi kehidupan pribadi orang lain,, ckck~” ujar Nara geleng-geleng kepala.

“Ya! Kwan Nara, aish..”

Nara tertawa. “Ngomong-ngomong, aku baru diberitahu oleh Hyeki. Dia sudah mendapatkan pengawal baru, namanya Lee Jinki. Aku sudah lihat orangnya, walaupun tidak terlalu ingat,” ujar Nara pada Kyuhyun.

“Jinja? Kalau begitu, undang Hyeki datang kemari, aku ingin lihat pengawal barunya,” saran Kyuhyun pada Nara. Nara langsung mengeplak kepala Kyuhyun dengan bantal sofa.

“Ya! Kau ini..!! Hyeki kelihatannya tidak terlalu suka dikawal lagi karena peristiwa tembakan itu,” ujar Nara menerawang. Mengingat percakapan mereka di telepon tempo hari dimana Hyeki berteriak-teriak frustasi karena Jinki.

“Haish, sepertinya dia akan jadi pemberontak seperti eonninya,” keluh Kyuhyun.

“Ya!” Nara mengangkat tangannya untuk memukul Kyuhyun, namun Kyuhyun sudah menangkap lengannya. Menatap gadis itu langsung di matanya. Nara mendadak susah bernafas, dan tiba-tiba Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya.

“Cha~ sana masak, waktu makan malam sebentar lagi tiba,” ujar Kyuhyun merusak suasana.

Nara langsung mengeplak wajah Kyuhyun. “Aish, jeongmal. Kau pikir aku pembantumu,” ujarnya sambil mengomel dan berjalan ke dapur.

Kyuhyun hanya tertawa menikmati kekesalan Nara.

* * *

“Oh, kau sudah pulang?” sambut Sooyan ketika melihat Yesung berjalan tergesa-gesa.

“Aku harus ke ruang keamanan dulu, nanti kita bicara,” ujar Yesung sambil berjalan melalui SooYan menuju ke ruang keamanan di lantai basement.

SooYan menghela nafas. Yesung jarang sekali ada di rumah sejak diangkat menjadi kepala keamanan. Ada saja hal-hal yang harus diurusnya. SooYan memasuki kamarnya. Tugasnya mengecek shift para pelayan sudah selesai dan dia ingin beristirahat.

Didengarnya pintu kamar terbuka dan Yesung masuk sambil membuka jasnya. Sooyan buru-buru membantu Yesung.

“Kau akan pergi lagi?” tanya SooYan.

“Ne. Ada banyak hal yang harus kuurus. Keamanan kita tidak sestabil biasanya, SooYan-ah,” jawab Yesung.

“Akan kusiapkan air mandi dan baju ganti. Duduklah sebentar,” SooYan memasuki kamar mandi. Sedangkan Yesung duduk di sofa sambil memejamkan mata.

“Bagaimana keadaan rumah?” tanya Yesung begitu Sooyan kembali sambil membawa secangkir kopi dan kue. Tadi Sooyan sempat mampir ke dapur.

“Aman, kurasa,” jawab SooYan sambil duduk di hadapan Yesung. “Kau sudah bicara pada Jinki?” tanya Sooyan lagi.

Yesung menggeleng. “Belum, anak itu juga sama sibuknya,” jawabnya.

“Dia tidak seperti Jinki yang dulu,” komentar SooYan prihatin.

Yesung tersenyum. “Dia sudah dewasa SooYan-ah, dia bukan Jinki kecil lagi,” jawab Yesung bijaksana.

Sooyan menghela nafas. “Bukan itu maksudku, bagaimana mungkin dia terlalu memforsir tenaganya untuk membalas budi tuan Park,” keluh Sooyan.

“Aku juga berusaha sekeras ini untuk membalas budi Tuan Park. Kita semua tergantung padanya,” jawab Yesung. “Aku mandi dulu, kau istirahatlah,” ujar Yesung lalu mengecup kening SooYan. Sooyan hanya terdiam. Dia masih belum terbiasa melihat Jinki berusaha sekeras ini.

* * *

Hyeki duduk di tanah berumput, sambil beberapa kali membidik orang yang berlalu lalang dengan kameranya. Jinki duduk tak jauh dari Hyeki, menatap waspada ke sekeliling dan berkali-kali memastikan gadis itu masih ada dalam jangkauan penglihatannya.

Rambut panjang Hyeki yang dikuncir bergoyang-goyang ketika dia berlari-lari menghampiri penjual es krim. Jinki tanpa sadar tersenyum. Hyeki membawanya seakan kembali ke masa kanak-kanak. Masa yang paling menyenangkan baginya. Masa yang membuatnya selalu merasa penting. Masa yang merubahnya menjadi seperti sekarang ini.

“OPPAA!! KAU MAU SATU TIDAK?” Hyeki berteriak menawarinya es krim, sedangkan Jinki hanya mengangguk. Gadis itu tidak malu berteriak sembarangan begitu. Wajar saja, orang-orang belum mengenalinya sebagai putri pemilik Park Corp.

Jinki melihatnya yang tidak sengaja menabrak seorang namja jangkung, membuat es krimnya terjatuh. Hyeki membungkuk beberapa kali meminta maaf dan Jinki bergegas mendekatinya.

“Gwenchana?” tanya Jinki pada Hyeki . Hyeki mengangguk.

“Mianhamida,” ujarnya lagi sambil membungkuk sopan pada orang itu.

“Ah, gwenchana. Itu kan tidak sengaja,” jawab namja itu. “Kalau begitu, aku permisi dulu. temanku menunggu,” ujar namja itu sambil berlalu pergi. Jinki dan Hyeki mengangguk.

“Kau sih.. makanya hati-hati,” omel Jinki pada Hyeki. Tampang Hyeki langsung cemberut.

“Tadinya kupikir oppa akan baik padaku, tapi ternyata aku malah dimarahi. Heuu, sudah baik aku mau membelikan es krim,” keluh Hyeki.

“Mwo? Aku kan tidak minta?”

“Jadi aku yang salah?”

“Tentu saja.”

“Aish, aku benci Jinki oppaaa,” teriak Hyeki sambil berjalan cepat menuju Porsche Jinki.

“Ya! Bocah es krim, mau kemana kau? Kuncinya kan ada padaku,” Jinki tergelak sementara Hyeki semakin kesal.

“OPPAAA~” akhirnya Hyeki meledak.

TBC

AN : Jeongmal, wuiiih, abis ujian aku ngebut ngerjain part ini, haha. udah berasa ada konfliknya kaaan? di part 6 akan ada beberapa masalah yaang terungkap. aseeek. Wait for next time, keke~ gomawo 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Time for Us : Time 5

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s