Time For Us : Time 4

Time 4 : Tangle

“Aku tidak akan mati hanya karena melindungimu.” Kata-kata Jinki masih melekat jelas dalam benak Hyeki. Hyeki tahu Jinki serius dengan ucapannya, tapi dia juga serius tentang tidak ingin memakai pengawal mana pun lagi.

Hyeki menyambar kunci Ferrarinya di atas meja belajarnya. Ferrari itu mobil yang dibelikan Jungsoo untuknya di ulang tahunnya ke 17, bertepatan dengan saat dia berhasil mendapatkan SIMnya. Selama ini Ferrari itu jarang digunakan karena ada Seunghyun yang selalu mengantar jemput Hyeki. Namun sekarang kesempatannya mengendarai Ferrari itu. Hyeki memakai ranselnya dan mengendap-endap keluar kamar lalu menuruni tangga. Sayangnya, Jinki sudah menunggunya di kaki tangga.

“Siap berangkat, Nona Park?” Jinki tersenyum dengan wajah innocentnya.

Hyeki mendengus. “Sudah kubilang kan, AKU-TIDAK-INGIN-DIKAWAL!” Hyeki mengucapkan kata demi kata dengan penuh penekanan.

“Bagaimana kalau aku bilang aku tidak peduli?” Jinki mengangkat bahu. “Pagi ini kau harus tetap berangkat bersamaku.”

“Cish, pemaksa,” umpat Hyeki. Hyeki tetap menuruni tangga mengabaikan Jinki yang terus mengikutinya menuju garasi mobil keluarga Park.

“Jangan ikuti aku!” ancam Hyeki sambil menatap Jinki tajam. Para pengawal lainnya yang bersiaga di sekitar garasi hanya terdiam melihat Hyeki yang tiba-tiba marah.

“Tidak bisa. Ini tugasku,” jawab Jinki tenang nyaris tanpa ekspresi.

“Aku tidak peduli. Aku sudah bilang tidak mau memakai pengawal lagi dan aku minta jangan ikuti aku. Aku bukan anak kecil,” tegasnya. Hyeki membuka kunci Ferrari dan naik ke dalam mobil. Menyalakan mesinnya dan menderu melesat keluar gerbang. Hyeki bisa melihat para pengawal lain menatap kepergiannya dan Jinki bergantian dengan panik. Dia juga sempat melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Jinki untuknya. Hyeki tahu, pemberontakannya ini akan segera sampai ke telinga Ayahnya, namun dia tidak peduli. Dia tidak ingin ada lagi orang yang mengorbankan hidup untuk dirinya lagi.

* * *

Jinki menatap Ferrari biru muda yang dikendarai Hyeki dengan tatapan tajam. Keras kepala, batin Jinki dalam hati. Dia menyalakan mesin Porschenya dan melaju mengikuti mobil Hyeki. Dipasangnya eraphone dan menghubungi gadis itu.

“Apa yang kaulakukan?” marah Jinki begitu teleponnya diangkat.

“Kalau kau tidak bicara mengenai sesuatu yang penting, akan kututup teleponnya,” ancam Hyeki di seberang sana. Bagaimana mungkin gadis ini begitu penurut pada ayahnya, namun sangat keras terhadapku? Omel Jinki dalam hati.

“Neo.. Kau gila! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada dirimu?” geram Jinki. “Kau tidak percaya pada kata-kataku kemarin?” Jinki mendengar Hyeki menghela nafas.

“Terima kasih sudah mencemaskanku, Lee Jinki-ssi,” ucap Hyeki pelan dan terdengar nada putus di telepon, membuat Jinki ingin membanting setir.

“Baik, kalau itu maumu Hyeki~ya. Aku akan menjadi pemaksa mulai sekarang,” ucapnya pelan, lalu menekan pedal gas lebih dalam dan menyusul Hyeki. Mobilnya berusaha menyalip mobil Hyeki yang kecepatannya semakin bertambah, sampai akhirnya kesempatan itu datang saat Jinki berhasil memotong jalan dan menghentikan mobilnya melintang di depan mobil Hyeki.

Jinki mengetuk jendela Ferrari itu, lalu mengucapkan, “keluar.”

Hyeki bergeming, hanya menatap nyalang jauh ke depan. Jinki mengetuk lagi namun masih diacuhkan. Kali ini Jinki tidak mengetuk lagi, melainkan langsung membuka pintu mobil Hyeki yang sebenarnya terkunci. Mata Hyeki membelakak melihat begitu mudahnya Jinki membuka pintu mobilnya.

“Ya! Bagaimana caranya kau bisa mendapatkan kunci mobil cadanganku?” Hyeki menatap Jinki dengan pandangan heran bercampur ngeri.

Jinki mengangkat kunci  cadangan itu dan mengoyangnya di depan hidung Hyeki, seolah menggodanya. “Kau hanya tidak tahu apa saja yang bisa kulakukan,” jawab Jinki sambil tersenyum manis namun justru terlihat mengerikan. Jinki menarik lengan Hyeki yang berontak, setengah menyeretnya menuju Porsche miliknya yang masih  diparkir melintang di hadapan mobil Hyeki.

“Duduk!” perintah Jinki sambil menutup pintu mobil. Dia duduk di depan kemudi, lalu mulai menyetir.

“Ya! Bagaimana dengan mobilku?” tanya Hyeki tak terima sambil menoleh ke belakang.

“Orang suruhanku akan mengambilnya,” jawab Jinki. “Sekarang, pikirkan saja bagaimana caranya melewati 6 jam di kampus dengan selamat tanpa diriku.”

* * *

Hyemi membuka pintu mobil Minho, menaikinya dan duduk di samping Minho sambil memasang seatbelt. Minho menatap Hyemi sambil tersenyum.

“Siap berangkat?” tanyanya dengan nada riang.

Hyemi hanya mengangguk sebagai jawaban. Minho menstarter mobilnya dan mulai melaju meninggalkan rumah Hyemi.

“Tersenyumlah,” kata Minho saat melihat Hyemi mulai melamun, “ini hari pertama kita bekerja sebagai jaksa yang sesungguhnya.”

Hyemi menatap Minho sambil tersenyum tipis. Entahlah, dunia belum terasa normal untuknya, biarpun pemakaman ayahnya sudah berlangsung seminggu yang lalu. Pukulan ini terlalu berat baginya. Hyemi memalingkan wajahnya saat dia sadar bahwa mendadar ia ingin menangis.

Minho membiarkan Hyemi berdiam diri. Dia mengerti kehilangan orang tua pasti berat, tapi dia juga bingung harus bersikap bagaimana.

Mobilnya mulai memasuki pelataran parkir kantor baru mereka. Dan mereka berdua bergegas turun. Di sana, mereka disambut oleh Lee Sungmin, kepala jaksa tertinggi di kantor itu.

“Selamat datang di kantor kami,” sapa Sungmin sambil mengulurkan tangan. “Kudengar kalian berdua adalah lulusan terbaik tahun ini,” tambahnya lagi.

Minho menyambut uluran tangan Sungmin sambil tersenyum. “Ah, kamsahamnida.”

Hyemi ikut menyalami Sungmin.

“Ah, kalian berdua akan bekerja sama dengan pengacara Kim Heena dan polisi Cho Kyuhyun. Mereka berdua akan segera datang,” ujar Sungmin lagi. Minho mengangguk sopan, namun Hyemi mematung. Cho Kyuhyun? Dia akan bekerja dengan Cho Kyuhyun? Ini sama sekali bukan kabar baik.

Dan saat itu pula Kyuhyun memasuki ruangan Sungmin bersama wanita cantik di belakangnya yang pasti adalah Kim Heena. Kyuhyun tersenyum dengan evil smirknya dan menjabat tangan Hyemi serta Minho.

“Kita akan bekerja sama. Mohon bantuannya, Cho Kyuhyun-ssi dan Kim Heena-ssi,”ujar Minho sopan. Hyemi hanya terdiam.

“Ne, tentu saja,” jawab Kim Heena.

Setelah perkenalan singkat itu, mereka menuju ke ruangan masing-masing dan setumpuk kasus sudah menunggu. Hyemi merutuk dirinya setiap kali tanpa sadar menoleh ke arah Kyuhyun, bagaimana mungkin dia bekerja dengan Cho Kyuhyun. Hyemi kenal Cho Kyuhyun, namja itu tunangan Kwan Nara, gadis yang sudah dianggap Park Hyeki sebagai kakaknya sendiri. Hyemi pernah bertemu Kyuhyun dan Nara beberapa kali, di setiap perayaan penting keluarga Park dimana terkadang dia juga diundang. Saat ini, dia menghindari orang-orang yang berhubungan dengan Park Hyeki, tapi kenapa dia justru bekerja dengan Kyuhyun? Dunia ini benar-benar menyebalkan.

* * *

Hyeki berulang kali mencoba menghubungi appa-nya, namun sekretaris Jungsoo selalu mengalihkan line teleponnya. Hyeki tahu Jungsoo tidak pernah mengabaikan teleponnya, sekalipun dalam rapat penting. Tapi, dia juga bukan anak manja yang akan merengek pada ayahnya dan menganggu rapat penting Jungsoo. Dia hanya ingin Jungsoo tahu bagaimana Jinki memperlakukan dirinya selama beberapa hari ini.

Jinki sangat protektif. Dia menempelkan semacam pelacak di handphone Hyeki, membuatnya lebih mudah mengontrol Hyeki. Setiap sejam sekali selama di kampus, dia akan menelepon Hyeki. Jinki bahkan sudah tiba di kampus sejam sebelum jam kuliah terakhir Hyeki berakhir.

Hyeki menyerah menghubungi Jungsoo. Melemparkan IPhonenya ke atas sofa, Hyeki ikut menghempaskan dirinya di sana. Dia melirik ke arah Jinki yang sama sekali tidak peduli dengan suasana hatinya yang buruk. Jinki duduk di depan piano di dekat tangga ruang tengah itu. Jari-jarinya bergerak lembut di atas tuts hitam putih. Menghasilkan melodi indah bergema di ruangan besar yang sepi ini. Memasuki telinga Hyeki, membuatnya merasakan melodi familiar di telinganya. Hyeki terdiam, menikmati permainan piano Jinki. Namun, tiba-tiba dia tersentak. Melodi ini bukan hanya familiar, tapi dia memang mengenalnya.

Terhipnotis, Hyeki berjalan melintasi ruangan, mendekati piano itu. Samar-samar memori masa kecil mengisi otaknya.

Denting piano memenuhi ruangan besar itu. Hyeki kecil memeluk boneka teddy bear berwarna putih, memandang Jungsoo yang bermain piano sambil tersenyum ke arahnya. Melodi ini lullaby, pengantar tidur Hyeki yang sering disenandungkan Jungsoo. Seorang namja kecil duduk di samping Jungsoo (Hyeki tidak ingat jelas wajahnya), memandang piano itu dengan penuh minat.

“Wae? Kau mau coba?” tanya Jungsoo pada namja itu. Namja itu mengangguk, lalu meletakkan tangan kecilnya di tuts piano dan mulai bermain. Melodinya sama persis seperti yang dimainkan Jungsoo.

“Kau juga mau coba?” tawar Jungsoo pada Hyeki. Hyeki mengangguk malu-malu. Namja kecil itu menghentikan permainan pianonya, menunggu Hyeki duduk di atas bangku piano dibantu Jungsoo. Lalu melodi itu kembali terdengar, kali ini dimainkan oleh 4 tangan dengan sempurna.

Masih terbawa memori masa kecilnya, Hyeki duduk di samping Jinki di bangku piano yang sama. Jinki kelihatannya sama sekali tidak terusik, masih terus menekan tuts menghasilkan nada indah yang sangat Hyeki suka. Hyeki meletakkan tangannya di atas tuts, seolah dikuasai alam bawah sadarnya, Hyeki memainkan melodi yang sama dengan Jinki. Mereka melakukannya, memainkan melodi yang sama dengan empat tangan tanpa cela. Saling menyesuaikan, tanpa kesalahan nada. Dan ketika nada terakhir berdenting, Hyeki seolah sadar dari transnya, memandang kedua tangannya dengan bingung. Bagaimana dia bisa ingat melodinya? Sejak kapan dia mampu bermain piano bersama orang lain seperti tadi?

Hyeki melirik Jinki yang sekarang tersenyum lebar padanya. “Kau masih mengingatku ternyata?” tanyanya. Hyeki bisa mendengar nada bahagia dalam suara Jinki.

“Mwoya? Aku..?” Hyeki mengerjap bingung.

“Ne. Melodi tadi, kau tidak ingat?” Jinki bertanya lagi.

Hyeki menggeleng.

“Aish jeongmal. Bukankah sudah kukatakan kalau aku lebih dulu ada di rumah ini? Melodi itu selalu kita mainkan kalau kita sedang bersama atau kau sedang sedih atau kau sedang bosan. Tak herankah kau, kenapa bisa selancar itu? Karena kita melakukannya berulang kali. Kau masih tidak ingat?”

Hyeki menggeleng lagi. Kali ini merasa bodoh.

“Yasudahlah, setidaknya permainan pianomu masih sebaik dulu. kita masih sinkron,” ujar Jinki menyerah sambil menepuk kepala Hyeki lembut.

Hyeki terdiam lagi. Apa benar yang dikatakan Jinki? Benarkah mereka mengenal sejak kecil? Apakah namja samar yang diingat Hyeki itu Jinki?

Sebelum Hyeki sempat bertanya, Jinki sudah bangkit dari bangku piano dan berjalan menuju dapur.

“Ya! Lee Jinki! Kau mau kemana?” tanya Hyeki.

Jinki menoleh cepat, menatapnya tajam. “Tsk, aku ini lebih tua daripada dirimu. Panggil aku oppa,” tekannya kesal.

“Ne, JIN-KI OP-PA,” Hyeki mengulang panggilannya dengan penuh penekanan. “Kau mau kemana?”

“Aku mau mencari makanan,” jawab Jinki acuh tak acuh.

“Bagaimana kalau kita makan es krim?” tawar Hyeki penuh harap. Jinki mengernyitkan dahinya. Tumben, gadis ini memohon padanya. Biasanya dia kan hobi membantah Jinki.

“Kau sakit?” tanyanya penuh selidik.

Hyeki menggeleng. “Ayolah, jebaaal.”

Jinki menatap Hyeki lagi dengan pandangan menilai, kemudian mengangguk dan mengeluarkan kunci Porsche-nya. Sementara Hyeki sudah terlonjak-lonjak kegirangan. Bukan tanpa alasan Hyeki mengajak Jinki keluar, dia harus tahu bagaimana kehidupan masa kecilnya.

* * *

Kedai es krim itu tidak terlalu ramai, sehingga mereka tidak akan menarik perhatian. Bagaimana tidak, Jinki selalu mengawal Hyeki dengan pakaian super rapi, stelan pengawal keluarga Park. Stelan hitam dengan kemeja putih, sepatu pantofel, lengkap dengan earphone komunikasi yang selalu terpasang di telinganya.

Jinki menatap Hyeki yang sedang mengemut sendok es krimnya sambil memperhatikan orang-orang di kedai itu.

“Ya! Cepat habiskan es krimmu,” ujarnya galak. Hyeki balas menatapnya sinis.

“Apa itu menyenangkan? Berapa usiamu sampai kau senang mengemut sendok es krim sambil menatap orang-orang?” tanyanya lagi.

Hyeki menyendok es krim, lalu mengemutnya sebentar. “Itu menyenangkan, setidaknya kau bisa melihat seperti apa orang-orang di sekelilingmu,” jawabnya ringan. Hyeki menunjuk ke pasangan yang sedang berbagi es krim. “Lihat, mereka bahagia sekali sampai-sampai tidak memperhatikan sekeliling kan?”

Jinki ikut memperhatikan pasangan yang asyik mengobrol itu. Di wajah mereka terlukis senyum yang tidak pernah pudar.  Hyeki tersenyum melihat Jinki yang amaze menatap pasangan itu.

“Oppa, apa aku berubah?” tanyanya tiba-tiba.

“Mwo?” Jinki kaget. Pertama, karena untuk pertama kalinya, Hyeki memanggilnya oppa tanpa terpaksa. Kedua, karena pertanyaannya. “Apa maksudmu?”

“Yaah, tentu saja. Apa aku masih sama dengan Hyeki yang dulu kau kenal?”

Jinki terdiam. Gadis ini banyak berubah. Dia lebih tangguh, lebih keras kepala dan lebih dewasa daripada Hyeki yang dulu dikenalnya. Dan yang paling berubah adalah Hyeki tidak lagi bergantung padanya. Tapi sayangnya semua jawaban itu tidak terlontar dari mulut Jinki. Mulutnya hanya mengucapkan, “Mollaseo.”

Hyeki setengah sebal mendengar jawaban Jinki. Tidak mudah mengorek masa kecilnya kalau begini caranya. “Kau bilang kau sudah ada di rumah sebelum aku, berarti kau mengenalku kan? Bagaimana dulu aku ketika kecil?” tanyanya lagi.

“Kau tidak ingat apa pun tentang …. aku?” Jinki balik bertanya.

Hyeki menggeleng. Kali ini sepenuhnya jujur.

Jinki terhenyak. Bagaimana mungkin Hyeki bisa lupa? Apakah dia melupakan semua memori masa kecilnya? Atau ….

“Kita pulang sekarang,” putus Jinki, lalu bangkit berdiri membayar es krim. Hyeki hanya memandangnya dengan bingung. Hyeki tahu dia gagal mencari tahu masa kecilnya, tapi Hyeki yakin Jinki tahu lebih banyak daripada yang selama ini dia tunjukkan.

* * *

Minho menyeruput kopi di halaman depan rumah Hyemi. Dia mengantar Hyemi pulang dan Hyemi memaksanya mampir untuk membuatkan kopi. Hyemi duduk di sebelahnya sekarang sambil menatap tanah.

“Kau terlihat tidak nyaman dengan Kyuhyun hyung,” ujar Minho membuka percakapan. Hyemi mendongak. Hyung? Secepat itukah mereka menjadi akrab.

“Hyung?” Hyemi mempertanyakan panggilan itu.

“Wae? Dia sunbae kita dan dia baik padaku, jadi dia memperbolehkanku memanggilnya hyung,” jawab Minho.

Hyemi hanya ber-ooh, lalu kembali diam.

“Kenapa kau tidak nyaman dengan Kyuhyun hyung?” tanya Minho lagi.

“Dia…” Hyemi menarik nafas berat. “Dia tunangan Kwan Nara.”

Minho meletakkan cangkir kopinya. “Siapa? Kwan Nara? Lalu apa hubungannya?”

“Kwan Nara itu dekat dengan Park Hyeki dan aku tidak suka,” tambah Hyemi kesal. “Aku tidak suka apa pun yang berhubungan dengan Park Hyeki.”

Minho tertegun. Hyemi yang pendendam bukanlah sahabatnya yang dia kenal. Hyemi yang seperti ini membuatnya merasa asing. Hei, tunggu. Park Hyeki itu nama yang tidak asing. Nama sahabat masa kecilnya.

“Park Hyeki itu gadis yang kaumarahi di pemakaman?” tanya Minho hati-hati.

“Ne,” jawab Hyemi pendek dan ketus.

Minho menghela nafas. Dia mendadak merasa rindu pada sahabat masa kecilnya itu. “Baiklah, Hyemi~ya. Tenangkan dirimu dan berpikirlah dengan jernih,” nasehat Minho, lalu pamit pulang. Hyemi mengantar Minho sampai ke mobil, lalu melambai sampai mobil itu menjauh. Hyemi merasa Minho seakan tidak suka mendengarnya menjelekkan Park Hyeki. Entahlah mungkin hanya perasaannya.

Sementara di dalam mobil, Minho memikirkan gadis di pemakaman itu. Berulang-ulang berusaha mengingat memori di pemakaman yang terasa kabur. Dia tidak bisa mengingat dengan jelas tentang gadis itu. Tapi Minho tahu, dia harus menyelidikinya.

TBC

A.N :

Halaoha.. Haah, nyaris aja kehilangan mood ngelanjutin ini FF, huhu. Tapi akhirnya sampai juga di part 4, padahal endingnya udah aku perkirakan looh. hehe

smoga moodku akan terus bagus. Part 5 mungkin akan tertunda soalnya aku mau ujiaan. Wish me luck!

Kecup muaah. Comment jangan lupaa yaa

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s