Time For Us : Time 3

Time 3 : And Finally I come back

Minho POV

Aku tiba di rumah menjelang matahari terbenam. Hari ini melelahkan sekali. Tenangaku seolah terkuras habis. Aku menghempaskan diri di sofa ruang tengah, melonggarkan dasiku dan membuka kancing kemeja di leher. Kupijat leherku berulang kali.

“Kau lelah?” tanya eomma yang tiba-tiba sudah muncul di hadapanku.

“Hmm, begitulah,” jawabku sambil lalu. Aku tidak ingin eomma mengkhawatirkanku. Eomma mendekatiku dan memijat punggungku.

“Bolak balik Ilsan – Seoul, bukankah itu jauh?” tanya eomma lagi.

“Eomma, aku ini namja. Aku akan baik-baik saja,” jawabku halus.

“Bagaimana dengan Hyemi?” tanya eomma, sambil terus memijitku. Aku memegang tangan eomma, menghentikan pijitannya dan menghadapnya.

“Buruk, tadi dia mengamuk,” jawabku lelah.

“Jinja? Wae?” eomma terlihat kaget.

“Keluarga Park datang mengunjungi mereka dan Hyemi mendadak menjadi sangat marah,” ujarku. “Melihatnya lepas kendali begitu, itu pertama kalinya dalam hidupku,” tambahku enggan.

Anehnya, eomma malah tersenyum. “Hyemi sedang mengalami masa sulit sekarang, sebagai sahabatnya kau harus mendukungnya,” nasihat eomma bijak.

Aku membalas senyum eomma, lalu menutup mata sebentar. Bayangan Hyemi mengamuk tadi kembali muncul di otakku, namun bukan itu yang mengangguku. Gadis yang dimaki oleh Hyemi tadi, entah kenapa terasa begitu familiar bagiku.

“Eomma,” panggilku dengan mata terpejam sementara eomma mulai menyalakan televisi.

“Ne, Minho~ya?” jawab eomma.

“Apa eomma masih ingat Hyeki?” tanyaku pelan. Tawa eomma tiba-tiba meledak, membuatku langsung membuka mata.

“Kenapa eomma tertawa?” protesku. Ditertawakan tanpa alasan oleh ibumu sendiri, jelas terasa menyebalkan.

“Kau ini,” eomma menudingku dengan telunjuknya, “kau sedang galau ya?”

“Eomma, aku kan hanya bertanya,” bantahku membela diri.

Eomma masih saja terkekeh. “Tentu saja, eomma ingat. Gadis kecil tetangga kita yang membuatmu betah bermain di rumahnya seharian,” jawab eomma. “Lagipula bagaimana mungkin eomma lupa, kau kan masih menyimpan fotonya di kamarmu,” ledek eomma.

Aish, jinja. Eomma benar-benar menguji kesabaranku hari ini. Aku beranjak dari ruang tengah menuju kamar.

“Minho~ya, kau mau kemana?” tanya eomma.

“Mandi,” jawabku singkat.

“Ne, air mandinya sudah eomma siapkan. Mandi yang bersih ya,” teriak eomma seolah-olah aku masih berumur 10 tahun, ckck.

* * *

Dua hari berlalu sejak peristiwa tembakan Seunghyun itu. Peristiwa itu diliput oleh banyak media massa dan disiarkan dengan luas. Ditambah lagi bumbu-bumbu mengenai proyek besar Park Coorporation dan peristiwa mengamuknya Hyemi di pemakaman. Untunglah hal tersebut mulai mereda, karena Jungsoo bergerak cepat menghalau semua pemberitaan itu.

Hyeki dilarang keluar rumah oleh Jungsoo sampai dia menemukan pengawal baru yang pas untuk HyeKi.  Kondisi Hyeki mulai membaik, setidaknya dia sudah berhenti menangis dan menyalahkan diri sendiri.

Jungsoo baru saja menyelesaikan meetingnya bersama klien. Dan sekarang dia sedang mengecek berkas-berkas untuk proyek selanjutnya. Pikirannya tidak sepenuhnya diisi oleh pekerjaan. Bayang-bayang Hyeki yang kesepian sedikit memecah konsentrasinya.  Jungsoo meraih iPhonenya. Terdengar nada tunggu dari seberang sana.

“Yobseyo?” sapa suara seorang namja di seberang.

“Yobseyo? Jinki~ya?” sapa Jungsoo tanpa ragu.

* * *

Jinki POV

Panggilan itu akhirnya datang. Tanpa kusadari, aku tersenyum tipis. Aku akan segera pulang. Kukemasi barang-barangku sambil memesan pesawat tercepat yang akan berangkat ke Seoul. Kusambar koper dan ranselku, serta bergegas mengendarai porsche-ku menuju bandara. Tidak ada orang yang begitu penting di sini untuk kuucapkan selamat tinggal. Seoul, aku akan segera datang.

* * *

Bandara Incheon ternyata semakin ramai. Aku melangkah menuju pintu keluar dengan hati-hati. Kulihat seorang pria dengan stelan hitam mengacungkan kertas bertuliskan namaku “ONEW”. Tidak salah lagi, dia orang yang bertugas menjemputku.

“Sajangnim menyuruhku membawamu ke kantornya,” ujar orang itu begitu aku mendekatinya.

Aku mengangguk dan mengikuti orang itu menuju gedung pencakar langit Park Coorporation. Aku melangkah santai masuk ke dalam gedung dan orang itu mempersilahkanku memasuki sebuah ruangan. Dan Park Jungsoo menyambutku di sana.

“Apa kabar, Jinki~ya?” tanyanya ramah sambil memelukku. Dia terlihat semakin tua dan matang. Kharisma itu semakin kuat melekat pada dirinya.

“Baik sekali, ahjusshi. Senang aku bisa kembali pulang,” jawabku tersenyum riang.

“Aku punya tugas untukmu,” nada bicaranya berubah serius. “Kau akan menjadi pengawal putriku,” ujarnya pendek. Mungkin baginya ini adalah pernyataan, tapi bagiku ini perintah. Setelah semua hal yang dilakukannya untukku, setiap ucapannya adalah titah bagiku.

“Arraseo,” jawabku pendek. “Lalu kapan aku akan mulai?”

“Hari ini juga. Kau akan tinggal di rumah bersama kami, menjaganya setiap saat dan setiap jam. Penyerangan yang lalu nyaris membunuhnya dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi,” ujar Jungsoo ahjusshi. Matanya berkilat penuh kemarahan.

“Arraseo,” jawabku paham. Menjaga putrinya? Park HyeKi? Seperti apa gadis kecil itu sekarang?

* * *

Kyuhyun mengernyit mendengar permintaan Nara di telepon. Nara memintanya menemaninya menjenguk HyeKi. Saat ini sudah menjelang jam makan siang, Kyuhyun memutuskan sekalian saja dia meninggalkan kantor lebih awal. Kyuhyun menyambar jaketnya dan bergegas keluar kantor, namun dia dicegat oleh salah satu koleganya, Lee Sungmin.

“Akan ada dua jaksa baru di kantor kita minggu depan,” Sungmin memberitahu Kyuhyun.

“Benarkah? Lalu apakah aku harus membantu mereka?” tanya Kyuhyun sambil memakai jaketnya.

“Ne, kau akan ditempatkan satu tim bersama mereka dan pengacara Kim Heena,” jawab Sungmin, lalu melirik Kyuhyun yang masih memakai jaketnya. “Mau kemana kau? Jam makan siang masih 20 menit lagi kan?” tanya Sungmin heran.

Kyuhyun nyengir. “Aku mau menjemput Nara, hyung. Biarkan aku bolos sekali ya,” bujuk Kyuhyun pada Sungmin.

Sungmin terkekeh geli dan membiarkan Kyuhyun pergi. Keduanya berjalan ke arah masing-masing, sampai Kyuhyun tiba-tiba berhenti dan bertanya, “hyung, siapa nama jaksa yang akan bersamaku?”

Sungmin ikut berhenti dan berpikir sebentar. “Hmm, kalau tidak salah Kang Hyemi dan Choi Minho. Mereka berdua lulusan terbaik,” jawab Sungmin, lalu melangkah pergi. Sementara Kyuhyun masih mematung. Evil smirknya tiba-tiba terkembang. Takdir yang menarik, pikir Kyuhyun.

* * *

“Kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Nara, menatap Kyuhyun aneh.

“Kalau kuberitahu sekarang, nanti tidak seru,” jawab Kyuhyun iseng, sambil terus menyetir Hyundainya menuju rumah keluarga Park.

“Cish, kau bicara apa sih Cho Kyuhyun,” dengus Nara sebal.

Kyuhyun tertawa. “Bagaimana kalau aku bilang putri Seunghyun ahjusshi akan bekerja di kantorku?” tanyanya geli.

“Mwo? Kau bercanda? Itu tidak lucu,” ujar Nara kesal.

“Aigoo~ Kwan Nara, aku serius,” Kyuhyun berusaha meyakinkan Nara, sementara gadis itu menatap keluar kaca mobil. Nara tahu Kyuhyun pasti sudah mendengar mengenai pemberitaan penyerangan terhadap HyeKi dan insiden amukan putri Seunghyun ahjusshi. Sekarang pun dia memutuskan menjenguk HyeKi karena khawatir pada keadaan psikologis bocah itu. Dan kini? Ditambah dengan informasi bahwa putri Seunghyun ahjusshi akan bekerja bersama Kyuhyun. Entahlah, ada perasaan tidak suka yang tidak bisa dijelaskan di hati Nara. Pandangannya terhadap Hyemi berubah total sejak perlakuan kasarnya pada Hyeki di pemakaman.

“Ayo turun, Kwan Nara sayang. Kita sudah sampai,” Kyuhyun menyenggol lengan Nara untuk menyadarkannya.

“Eh, apa? Kita sudah sampai?” Nara tergagap.

“Tentu saja. Kau melamun sampai tidak sadar aku menyetir di atas kecepatan 120 km/jam,” kata Kyuhyun sambil membuka pintu mobil.

Nara masih belum mencerna ucapan Kyuhyun sepenuhnya, sampai kemudian.. “Ya! Cho Kyuhyun, kau ingin membunuhku ya dengan kecepatan itu?!”

* * *

Kyuhyun dan Nara disambut oleh SooYan di rumah keluarga Park. Kepala pelayan itu memberitahu mereka bahwa Hyeki akan segera turun menemui mereka. SooYan juga menawarkan agar Kyuhyun dan Nara makan siang di rumah keluarga Park. Kyuhyun dan Nara masih tetap santai mengobrol bersama SooYan, sampai sebuah suara memanggil mereka.

“Ah, eonni dan oppa. Annyeong,” sapa Hyeki sambil menuruni tangga rumahnya. Saat ini sudah jam makan siang, tapi Hyeki masih mengenakan piyama biru tuanya. Mata Nara semakin membulat saat melihat lingkaran hitam dan bengkak di sekeliling mata HyeKi.

“Ahjumma, tolong ambilkan sekantong es batu,” pinta Nara pada SooYan.

“Ne, ahgashi,” SooYan bergegas mengambil kantong es batu.

“Kau berkelahi dengan siapa, HyeKi~ya? Sampai matamu seperti panda begitu,” goda Kyuhyun begitu Hyeki tiba di lantai bawah. Hyeki tidak menggubrisnya, malah menarik lengan Nara menuju ruang makan.

“Ahjumma, kau masak apa? Aku lapar sekali,” ujar HyeKi sambil duduk di salah satu kursi meja makan. Nara dan Kyuhyun ikut duduk bersama HyeKi, sementara SooYan dan pelayan lainnya sibuk menghidangkan makanan.

“Sudah berapa lama kau tidak makan?” tanya Nara khawatir.

“Hmm, mungkin kemarin siang,” jawab HyeKi sekenanya, sambil mengambil piring.

“Astaga! Kau bisa mati kalau begini terus, HyeKi~ya,” marah Nara. Kyuhyun memegang lengan Nara, mengingatkannya agar tidak emosi, mengingat kondisi HyeKi sedang tidak stabil belakangan ini. Mereka semua lalu makan siang dalam diam, hanya sekali-kali diiringi oleh lelucon Kyuhyun yang sama sekali tidak lucu.

Setelah makan siang, Nara menyeret HyeKi ke kamar, memaksa HyeKi berbaring dan mengompres matanya, sementara Kyuhyun harus kembali ke kantor.

“Eonni…” panggil HyeKi pelan. Nara yang sedang menyiapkan baju ganti untuk HyeKi menoleh.

“Waeyo, Ki~ya?” tanya Nara. Hyeki bangun dan duduk, wajahnya kusut sekali.

“Apa Hyemi eonni akan memaafkanku?” tanya Hyeki.

Nara menatap wajah gadis itu. HyeKi sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. Sama-sama besar dalam kesepian, Nara dan Hyeki berbagi banyak hal bersama. Orang tua mereka adalah rekan kerja dan karena itu mereka menjadi dekat.

“Jangan dipikirkan HyeKi~ya. Hyemi hanya belum bisa menerima,” jawab Nara lembut. “Sekarang mandilah dan ganti bajumu. Suasana hatimu perlu diperbaiki,” suruh Nara sambil mendorong Hyeki ke kamar mandi.

“Arraseo,” Hyeki berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Nara yang masih memikirkan Hyemi.

* * *

“Sepertinya appa-mu sudah pulang,” ucap Nara sambil memandang ke arah halaman depan keluarga Park. Sebuah Audi Putih memasuki gerbang, diikuti Porsche putih di belakangnya.

“Jinja?” Hyeki ikut mandang ke luar, melihat ayahnya turun dari audi dan seorang namja turun dari Porsche putih.

“Kita turun sekarang yuk. Kyuhyun bilang dia sudah hampir sampai,” ajak Nara. Kyuhyun memang akan menjemputnya sepulang kantor. Nara mengangguk dan turun ke lantai satu. Di sana ada Appanya dan seorang namja tinggi.

“Oh, Appa? Kenapa appa pulang cepat hari ini?” tanya Hyeki heran.

Jungsoo hanya tersenyum. “Annyeong Nara~ya, kau membuat Hyeki menjadi lebih baik sepertinya,” sapa Jungsoo pada Nara yang berdiri di sebelah Hyeki. Nara hanya tersenyum dan membungkuk sopan.

“Nona Nara, Tuan Kyuhyun sudah menunggu di depan,” salah seorang pelayan memberitahu mereka.

“Oh, terima kasih,” ujar Nara pada pelayan itu. “Jaga dirimu baik-baik Hyeki~ya, eonni akan datang lagi lain kali,” pamitnya pada HyeKi.

“Eonni, mianhe. Karena aku, toko bungamu ditutup,” sesal Hyeki.

“Gwenchana. Itu hanya ditutup sementara,” ujar Nara ringan. Toko bunga Nara memang ditutup, karena berada tepat di depan TKP dan masih diselidiki polisi.

“Ahjusshi, aku pamit dulu,” Nara membungkukkan badan dan mengangguk pada namja yang berdiri di samping Jungsoo, lalu berjalan menuju halaman depan rumah keluarga Park. Kyuhyun sudah menunggu dengan bersandar pada mobilnya.

“Lama sekali,” keluh Kyuhyun. Nara hanya tertawa dan masuk ke dalam mobil.

“Bagaimana keadaan Hyeki?” tanya Kyuhyun sambil menyetir.

“Sudah lebih baik. Namun dia masih merasa bersalah,” jawab Nara. Kyuhyun bisa melihat dengan jelas gurat kekhawatiran di wajah Nara, sama persis seperti saat dia mengantar Nara ke rumah keluarga Park siang tadi.

“Sudahlah, jangan terlalu memikirkan masalah orang lain,” tukas Kyuhyun khawatir.

Nara tersenyum tipis. “Ketika aku lari dari rumah dulu, Hyeki adalah satu-satunya orang yang bertahan bahwa aku benar. Ketika aku memutuskan mundur dari perusahaan dan bersamamu, Hyeki ikut membelaku di hadapan Appa. Kurasa, adalah hal yang bijaksana bukan kalau saat ini aku membantunya?” tanya Nara pelan.

Kyuhyun menghela nafas. Memang benar, ada masa-masa berat hubungan mereka, yang bahkan di saat itu Kyuhyun merasa kesempatannya bersama Nara sangatlah kecil. Tapi bocah cilik keluarga Park itu selalu mendukungnya dan Nara. Kyuhyun menjulurkan telunjuknya dan meletakkannya di dahi Nara. Matanya masih fokus menyetir.

“Tapi aku tidak suka Kwan Nara yang terlalu banyak berpikir,” ujar Kyuhyun sambil menghapus kerutan di dahi Nara dengan telunjuknya.

Nara hanya terdiam dan menahan nafas. Kyuhyun membuat jantungnya berdebar lebih cepat daripada biasanya. Selalu, walaupun mereka sudah 5 tahun bersama.

* *  *

HyeKi POV

“Jadi dia itu siapa?” tanyaku pada appa. Saat ini kami ada di ruang kerja appa bersama namja yang tidak ku kenal. Nara eonni baru saja pulang. Nara eonni setidaknya berhasil memperbaiki moodku yang buruk belakangan ini.

“Dia Lee Jinki, anak angkat appa,” jawab appa sambil duduk di kursinya dan mempersilahkan namja itu duduk di kursi di depan mejanya.

“Mwoya? Aku tidak tahu appa punya anak selain aku,” ujarnya kesal. Apa appa bercanda mengatakan itu? Kelihatannya beliau serius sekali.

Appa mengabaikan pertanyaanku. “Dia akan menggantikan Seunghyun ahjusshi. Dia akan mengawalmu,” ujar Appa sambil menatapku.

Mwo? Mengawal? Aku menatap namja itu dengan pandangan menilai. Tubuhnya tinggi dan tegap, tapi kelihatannya bukan seseorang yang dibentuk untuk menjadi pengawal. Wajahnya terlalu berciri khas anak baik-baik. Entahlah, sebenarnya bukan itu masalahnya.

“Aku tidak mau memakai pengawal lagi,” ucapku pada akhirnya.

“Apa yang kaubicarakan Park Hyeki?” Appa bertanya dengan nada tegasnya.

“Sudah jelas kan? Aku menolak memakai pengawal mana pun,” jawabku keras kepala.

“Waeyo?” appa bertanya.

“Aku… aku tidak ingin ada lagi yang mati karena melindungiku,” jawabku ngeri. Aku melihat raut wajah Appa mengeras, seakan beliau mempertimbangkan cara untuk memaksaku. Dan namja yang sedari tadi berdiam diri itu akhirnya buka suara.

“Eh, ahjusshi. Biar aku saja yang bicara dengan Hyeki,” sarannya pada appa. Aku mendelik menatapnya. Berani sekali dia, aku bahkan tidak mengenalnya.

Appa terdiam sejenak. “Baiklah, kuserahkan semua ini padamu, Jinki~ya,” ujarnya. “Bicaralah di luar, dan kamarmu ada di depan kamar Hyeki.”

Namja itu mengangguk, lalu memberi isyarat padaku agar aku mengikutinya keluar.

“Apa yang mau kaubicarakan?” tanyaku langsung. Namja itu tersenyum mendengar pertanyaanku. Dia memiliki eye smile yang dapat meluluhkan hati banyak gadis, tapi tidak denganku.

“Aku tidak akan marah kalau kau bicara menggunakan banmal, tapi tetap saja, aku lebih tua daripada dirimu dan kau harus memanggilku ‘oppa’,” ujarnya sambil lagi-lagi memamerkan eye smilenya.

“Tsk, kita kan baru kenal,” bantahku.

“Jeongmal? Kau tidak ingat aku? Padahal aku yang lebih dulu ada di rumah ini,” katanya santai sambil menaiki tangga ke lantai 2.

Benarkah? Apakah aku mengenalnya? Kelihatannya tidak. Aku mengabaikan ucapannya. Aku menahan lengannya, “Baiklah, err, siapa namamu tadi oppa?”

“Jinki..” jawabnya, menghentikan langkahnya dan menatapku.

“Ne, Jinki oppa. Kau mau bicara apa sesungguhnya?” tanyaku lagi.

“Aku ingin memberitahumu. Mungkin kau tidak percaya, tapi aku beritahu, Jungsoo ahjusshi mencintaimu lebih dari nyawanya sendiri. Karena itu, dia akan melakukan apa pun demi melindungi keluarganya,” ujar Jinki oppa. Matanya menatap langsung ke mataku.  “Lalu, mungkin kau tidak percaya pada kemampuanku, tapi tenang saja, aku tidak akan mati hanya karena melindungimu.”

* * *

TBC

Author’s note :

Aiyaaa. akhirnya, part 3 ini selesai juga dengan penuh perjuangan. kebuuuut. sampe skrg aku belum kebayang mw dijadiin berapa chapter, hehe. Yang ini agak lebih panjang dari 2 sebelumnyaa.

Daaan, di part ini ada kisi-kisi tentang hubungan Kyuhyun-Nara dan Nara-Hyeki. Penjelasan lengkapnya bakal ada di part selanjutnya. Jinki juga udah muncul di part ini. Konfliknya belum terlalu complicated, soalnya plotnya masih aku kembangin, hehe

seperti biasa, komennya ditunggu 😀

Advertisements

2 thoughts on “Time For Us : Time 3

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s