Time For Us : Time 2

Time 2 : The Tragedy

HyeKi POV.

Mercedes kami berhenti tepat di depan sebuah toko bunga “Flowers and Beauties”. Aku turun dengan penuh semangat, sambil menarik-narik lengan Seunghyun ahjusshi.

“Ahjusshi, Hyemi onnie menyukai bunga apa?” tanyaku mengebu-gebu sambil mendorong pintu toko itu. Kelihatannya toko bunga itu sedang sepi hari ini.

“Dia suka bunga Lily,” jawab Seunghyun ahjusshi kalem.

“Ah, bahta! Gampang sekali,” ucapku penuh semangat, lalu berlari menuju konter penjual. “Nara onnie!!” sapaku pada pemilik toko.

Nara onnie, gadis manis berkulit putih itu tersenyum meyambutku. Dia terlihat cantik sekali, memakai summer dress dan mengikat rambutnya tinggi ke atas. “Aigoo~ Nona Park, kemana saja kau?” tanyanya sambil memelukku.

“Aku sibuk melindungi diri agar tidak diculik,” jawabku setengah asal dan setengah benar, membuat Nara onnie menjitak kepalaku.

“Ya! Kau ini! Menganggu makan siangku saja,” teriak seseorang dari balik konter penjual. Aku melirik ke arahnya.

“Aish, oppa. Aku hampir saja tidak melihatmu, lagipula jam makan siang sudah lewat oppa,” balasku sinis pada orang tersebut. Namja itu mendengus kesal.

“Sudahlah, abaikan saja Cho Kyuhyun itu, Hyeki~ya,” ujar Nara onnie menenangkanku.

“Keurom. Bagaimana mungkin onnie tahan bersama namja bawel seperti dia,” kataku sengit.

Nara onnie tidak menjawab dan malah menggandengku menjauhi tempat Kyuhyun oppa. “Oh, ahjusshi. Kau datang bersama HyeKi?” sapa Nara onnie pada Seunghyun ahjusshi yang sedang melihat-lihat bunga.

“Ah, Nona Nara. Ne, aku bersama Nona Park,” Seunghyun ahjusshi tersenyum pada Nara onnie.

“Kami ke sini mau membeli bunga untuk pelantikan Hyemi onnie,” ujarku memberitahu Nara onnie.

“Jinjayo? Cukhae ahjusshi,” ucap Nara onnie. “Lalu, kalian ingin bunga apa?”

Maka setelah itu kami sibuk memilih bunga dan merangkainya serta menuliskan berbagai ucapan selamat. Sedangkan Kyuhyun oppa dan Seunghyun ahjusshi membicarakan sesuatu yang kelihatannya sangat seru.

“Kkeut! Sekarang aku bisa pulang,” kataku riang sambil mengagumi hasil karyaku yang pertama. Nara onnie ikut tersenyum.

“Kau bisa bekerja di tempatku kalau kau mau. Bakatmu lumayan juga,” katanya menyindirku.

Aku tertawa garing. Nara onnie juga seorang putri dari pengusaha kaya, tapi dia memilih hidup sederhana dan membiarkan perusahannya diurus oleh kakak laki-lakinya.

“Baiklah, kalau begitu, kami pamit dulu,” ujarku sambil melangkah menuju pintu keluar toko, dengan diantar oleh Nara onnie dan Kyuhyun oppa.

“Ne, sampaikan salamku pada Appamu,” ujar Nara onnie sambil memelukku lagi.

“Arraseo,” jawabku sambil memeluk rangkaian bunga itu. Kyuhyun oppa menepuk-nepuk kepalaku beberapa kali. Aku mengamati gerakannya yang seperti orang yang gelisah. Kuabaikan perasaan itu, lalu bergegas menuju mobil. Dan sesuatu terjadi dengan amat cepat, tanpa kusadari dengan jelas.

Sebuah mobil melaju cepat ke arah kami dan sebuah senapan menyembul dari jendelanya. Senapan itu mengarah ke tubuhku dan terdengar bunyi tembakan. Dalam sepersekian detik, aku sadar peluru itu akan segera mencapai tubuhku. Di tengah kegentingan itu, tubuhku kaku dan tidak bisa digerakkan walaupun aku jelas mendengar peringatan Kyuhyun oppa agar tiarap.

Aku menutup mataku, berdoa dalam hati, kalaupun aku harus mati, setidaknya biarkan aku bertahan sampai aku bertemu appa. Namun ternyata doa ku sia-sia.

* * *

Sebuah mobil melaju cepat ke arah di mana mercedes keluarga Park di parkir dan sebuah senapan menyembul dari jendelanya. Senapan itu mengarah pada Hyeki dan terdengar bunyi tembakan. Dalam sepersekian detik, peluru itu akan segera mencapai HYeki. Di tengah kegentingan itu, Hyeki  sama sekali tidak bergerak untuk mempertahankan diri walaupun dia  jelas mendengar peringatan Kyuhyun agar tiarap.

Matanya tertutup seolah menyambut kematian. Seunghyun berlari cepat, memposisikan diri di hadapan HyeKi yang menutup mata sambil memeluk rangkaian bunga yang disiapkannya untuk Hyemi. Seunghyun tahu pasti peluru itu sudah menyentuh kulitnya dan menembus jantungnya sebagai ganti jantung Hyeki. Dia roboh ke tanah. HyeKi membuka matanya mendengar bunyi jatuhnya Seunghyun. Rangkaian bunga itu terlepas dari tangannya, melihat darah yang merembes dari bagian depan kemeja Seunghyun.

“Ahjusshi,” panggilnya. Suaranya serak.

Seunghyun ingin merespon, namun tubuhnya sangat lemah dan bibirnya kaku. Nara dan Kyuhyun berlari mendekati mereka berdua.

“Telepon polisi dan ambulance,” kata Kyuhyun pada Nara. Nara mengangguk dan menelepon menggunakan handphonenya.

“Ahjusshi,” panggil HyeKi lagi. Suranya mulai bergetar dan tangisnya hampir pecah.

“Uljima,” Seunghyun akhirnya menjawab, tersenyum lemah. “Jangan lupa berikan itu pada Hyemi, ahgashi. Katakan appanya menyayanginya,” suara Seunghyun semakin terdengar lemah. Dan matanya mulai tertutup.

“Ahjusshi, ahjusshi,” panggil HyeKi panik. Air matanya tumpah. Nara memeluk Hyeki yang mulai histeris. Kyuhyun memeriksa denyut nadinya dan menggeleng, membuat HyeKi semakin histeris tak terkendali.

Hanya dalam hitungan menit, semuanya mulai berubah.

* * *

Jungsoo POV

Aku mengatur emosiku dengan baik ketika mendengar berita yang disampaikan Yesung, orang yang bertugas mengawalku, padaku. Sebuah penyerangan mendadak yang ditujukan pada HyeKi menewaskan Seunghyun, orang yang paling bisa kupercaya untuk menjaga satu-satunya keluarga yang kupunya.

“Cari dia,” ucapku geram. “Cari siapa yang berniat mencelakakan HyeKi.”

Yesung mengangguk paham.

“Bagaimana HyeKi sekarang?” tanyaku lagi. Nada khawatir itu kutekan dalam batas yang paling minimal.

“Ahgashi baik-baik saja, sedikit shock. Dia diantar Nona Nara dan Tuan Kyuhyun ke rumah. SooYan sedang merawatnya,” jawab Yesung.

“Lalu bagaimana dengan Seunghyun? Bukankah putrinya akan dilantik besok?” tanyaku pada Yesung.

“Pemakamannya akan dilaksanakan setelah pelantikan dan putri Seunghyun juga sudah mendapat pekerjaan,” jawab Yesung.

Aku mengangguk paham. “Kirimkan pesagon dalam jumlah besar dan ucapan belasungkawa. Besok aku akan datang ke sana,” pesanku pada Yesung. “Segera cari pelakunya dan tunda semua pertemuan dengan klien untuk nanti malam,” ucapku lagi.

“Ye, Sajangnim,” jawab Yesung, lalu meninggalkan ruang kerjaku. Aku bangkit berdiri, menatap keluar jendela ruang kerjaku di gedung pencakar langit ini.

Mataku tertumbuk pada foto di atas meja kerjaku. Fotoku bersama HyeKi. Satu-satunya harta berharga yang kupunya. Siapa pun dia, dia akan membalas perbuatannya. Membahayakan HyeKi berarti meminta nyawanya dipertaruhkan.

* * *

Aku memasuki rumah megah yang kubangun dengan susah payah itu. Kubiarkan Yesung memarkir Audiku. Aku melangkah memasuki ruang keluarga dan melihat ada banyak orang di sana.

Ada Kwan Nara yang duduk dengan wajah cemas, tangannya mengenggam tangan kanan Cho Kyuhyun yang duduk di sebelahnya, seolah membagi kecemasannya. Sebelah tangan Kyuhyun melingkar di pundak Nara, seolah memberikan gadis itu kekuatan. Sementara SooYan berjalan mondar-mandir tanpa tujuan. Semuanya langsung berdiri ketika melihatku datang.

“Nae ttal-eun eodi issjyo? (Dimana putriku?)” tanyaku pendek.

“Ahgashi ada di kamar. Dia menolak bicara dengan kami semua,” lapor SooYan.

“Arraseo,” ujarku sambil melangkah menuju kamar Hyeki. Aku berhenti sesaat, “Ah, Kyuhyun~ah dan Nara~ya, gomawo. Kalian bisa pulang sekarang, pengawalku akan melindungi kalian,” tambahku lalu kembali menaiki tangga menuju lantai 2, di mana kamar HyeKi terletak. Aku masih sempat melihat Kyuhyun mengangguk sekilas dan merangkul Nara keluar rumahku.

Kamar HyeKi sunyi sekali. Lampu kamarnya masih menyala, putri kecilku itu memang tidak bisa tidur bila lampu dimatikan. Aku memutar kenop pintu hati-hati dan melihat HyeKi duduk di atas tempat tidurnya dengan mata menerawang menatap bunga Lily yang terkena noda darah di atas mejanya.

“HyeKi~ya,” panggilku pelan sambil mendekat ke arah tempat tidurnya.

HyeKi mendongak dan kulihat air matanya berlinang. Ya Tuhan! Dia menangis, rutukku dalam hati. Kutarik ia dalam pelukanku dan kuelus rambutnya.

“Appa, appa,” gumamnya berulang-ulang. Tangisnya semakin keras.

“Ssh! Uljima, ada appa di sini,” aku menenangkannya.

“Ottokhaeyo appa? Ahjusshi, ahjusshi … Seunghyun ahjusshi… dia…dia,” kalimat Hyeki pendek-pendek dan putus-putus.

“Kau merasa bersalah?” aku melepas pelukanku, menatap wajahnya yang sembab.

Hyeki mengangguk.

“Itu tugasnya, dia melindungimu. Kau hanya berada di tempat yang salah dan di waktu yang salah,” ucapku.

“Tapi, tapi.. appa, aku tahu persis rasanya kehilangan orang tua,” ujar HyeKi getir, membuatku terdiam. Kenapa dia harus mengingat hal itu?

* * *

HyeKi POV

“Tapi, tapi.. appa, aku tahu persis rasanya kehilangan orang tua,” ujarku getir. Appa tidak merespon dan hanya diam. Aku mendongak menatapnya.

“Park HyeKi, dengarkan! Kau belum kehilangan orang tuamu, appa-mu masih di sini,” ucap Appa sambil menekankan setiap kata.

Aku mengangguk dengan susah payah. Appa mengelus rambutku lagi. “Tidurlah, Appa akan menjagamu,” ujarnya lagi.

Aku hanya mengangguk dan membaringkan tubuhku. Berusaha agar tidak menangis lagi. Aku tahu Appa tidak suka melihatku menangis, itu membuat hatinya sakit. Dan tentang kematian kedua orangtuaku, sejak aku bisa berpikir dengan baik, kami sepakat topik itu tidak akan dibahas lagi. Dan hari ini aku baru saja mengungkitnya.

Appa menyelimutiku dan mencium keningku. Beliau tidak beranjak dan hanya duduk di sofa yang terletak di depan tempat tidurku. Aku menatap Appa sembunyi-sembunyi, lalu mencoba menutup mataku. Menangis ternyata membuatku lebih mudah jatuh ke alam mimpi. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, aku kehilangan kendali atas kesadaranku.

* * *

Ini seperti De Javu sebelas tahun yang lalu. Aku terbangun dan menemukan Appa tertidur di sofa kamarku.

Aku mengambil selimut dari dalam lemari dan menyelimuti Appa. Lalu menatap wajahnya. Ada dua pribadi berbeda yang selalu kulihat dari appa. Yang satu adalah sosok lelaki kuat dan kharismatik, pemimpin sebuah perusahaan yang kian maju. Yang satu lagi adalah sosok penuh kasih sayang yang hanya kulihat saat bersamanya. Semakin aku beranjak dewasa, aku merasa semakin banyak hal yang tidak kutahu dari appa.

“Eo, kau sudah bangun?” tanya Appa membuatku kaget. Bahkan kata-katanya sama persis dengan yang diucapkannnya sebelas tahun yang lalu.

“Ne,” jawabku sambil mengangguk.

“Aigoo~ anak appa matanya sudah seperti panda. Appa akan menyuruh SooYan ahjumma menemanimu dan mengompres matamu,” ujar Appa sambil bangkit berdiri. Kutahan lengan appa.

“Appa, aku ingin ke rumah HyeMi onnie,” kataku pasti. Aku sudah memikirkan hal ini semalaman. Biar bagaimanapun aku harus menunjukkan belasungkawaku.

Appa menatapku tajam, lalu menggeleng. “Tidak perlu, biar Appa saja yang ke sana,” putusnya tegas. Tapi aku sudah mempersiapkan diri untuk jawaban ini. Aku berlutut di hadapan appa, menatap matanya dengan sungguh-sungguh.

“Jebaaal,” pintaku.

“Berdiri, Park HyeKi,” appa memerintahku. Suaranya mulai meninggi.

Aku tidak bergeming. “Shireoyo. Aku akan ikut ke rumah Hyemi onnie,” aku masih berlutut.

Appa menghela nafas. Keras kepala adalah sifat yang diturunkannya padaku. Kalau aku sudah berkeras, biasanya appa akan mengalah. Aku tahu pasti itu.

“Baiklah. Kau boleh ikut, tapi kau akan selalu dalam pengawasan appa. Arrachi?” ujar appa menegaskan.

“Ne, gomawo appa,” ujarku sambil berdiri dan memeluk appa.

* * *

Minho POV

Rumah HyeMi sepi sekali. Aku tahu para pelayat baru akan berdatangan setelah upacara pelantikan jaksa selesai. Sengaja aku datang pagi-pagi sekali. Aku, sebagai sahabatnya, ingin menghiburnya. Aku saja sangat shock mendengar kabar kematian ayah Hyemi, apalagi Hyemi sendiri. Itu akan menjadi pukulan yang berat baginya apalagi di hari pelantikannya.

Aku bertemu dengan beberapa orang yang kuyakin tetangga Hyemi yang membantu persiapan upacara pemakaman. Aku melihat Nyonya Kang, ibu Hyemi, wanita itu terlihat tegar di hari yang berat ini. Pakaiannya sudah rapi, kelihatannya sudah siap menghadiri pelantikan jaksa.

“Annyeonghaseyo eomonim,” sapaku sambil tersenyum.

“Ah, Minho~ya. Kenapa kau datang pagi-pagi sekali?” Nyonya Kang tersenyum kaget melihatku.

“Aku ingin menjemput kalian berdua ke upacara pelantikan,” jawabku.

“Aigoo~ Minho~ya, kau tidak perlu melakukan itu. Akan lebih baik kalau kau berangkat bersama kedua orangtuamu,” tolak Nyonya Kang.

“Aniya, gwenchana. Appa dan eomma sudah mengizinkan kok, mereka tahu betapa beratnya hal ini bagi Hyemi. Ngomong-ngomong, dimana HyeMi?” tanyaku saat menyadari sosoknya tidak terlihat.

“Dia ada di kamarnya. Temuilah dia, dia tidak ingin menghadiri upacara pelantikan,” ujar Nyonya Kang sedih.

“Tenanglah eomonim, aku akan membantumu,” ujarku lalu melangkah menuju kamar Hyemi. Jangan heran kenapa aku tahu di mana letak kamar Hyemi. Aku dan Hyemi bersahabat sejak kami sama-sama kuliah sebagai jaksa. Aku sering berkunjung ke rumahnya, karena itu aku mengenal orang tua Hyemi dengan baik. Aku tahu betapa besar kasih sayang Tuan Kang pada putri tunggalnya itu.

Kudorong pintu kamar HyeMi pelan-pelan. Kulihat Hyemi sedang berbaring dengan menggunakan hanbok putih di lantai. Wajahnya sembab habis menangis dan tangannya memeluk foto ayahnya.

“Hyemi~ya,” panggilku lembut. Hyemi mendongak dan dalam sekian detik, tubuhnya sudah memelukku. Hyemi yang periang sudah menghilang entah kemana.

“Gwenchana,” ujarku pelan sambil mengelus kepalanya, saat kusadari dia menangis.

“Appa, appa pergi Minho~ya. Dia tidak akan datang,” isak Hyemi histeris.

“Tenanglah, Hyemi~ya. Semuanya akan baik-baik saja,” aku menatap wajahnya yang lesu itu. Tuhan, dia membuatku ingat pada sahabat masa kecilku. HyeKi. Melihat Hyemi menderita begini, membuat memori sebelas tahun yang lalu kembali dalam ingatanku.

“Hyemi~ya, lihat aku,” kudongakkan kepala Hyemi agar menatapku, “tidakkah kau lihat aku sudah rapi? Aku akan mengantarmu ke upacara pelantikan itu Hyemi~ya, kita akan pergi ke sana bersama-sama. Otte? Bukankah itu terdengar menyenangkan?”

Hyemi menatapku kosong. “Aku tidak ingin pergi,” jawabnya singkat.

“Kau harus pergi Hyemi~ya. Buat appa-mu bangga,” bujukku.

Hyemi masih menatapku, sementara aku mengangguk-angguk memberinya semangat. Akhirnya Hyemi mengangguk dan berjalan menuju lemari pakaiannya.

“Aku akan bersiap-siap, kau tunggulah di luar,” ujarnya pelan.

Aku memeluknya, lalu tersenyum. “Kau pasti bisa!”

* * *

Hyemi POV

Tuhaan, kenapa segalanya begitu berat? Kenapa appa harus pergi di saat seperti ini? Tak tahukah dia bahwa aku membutuhkannya?

Minho tiba-tiba muncul di rumah pagi-pagi sekali, membuatku kaget sekaligus senang. Semua kata-katanya adalah sugesti bagiku. Senyumnya adalah penawar kesedihan hatiku. Sungguh, Minho memberiku terlalu banyak kekuatan. Kenapa kau selalu menambah alasanku untuk mencintaimu Minho~ya?

“Aku sudah selesai,” kataku sambil keluar dari kamar. Minho dan eomma yang sedang mengobrol pelan langsung tersenyum. Aku memaksakan diri balas tersenyum. Kami pun berangkat menuju tempat upacara pelantikan.

Aku begitu ingin menangis saat namaku disebut dan maju ke depan untuk mengambil ijazah. Setelahnya kami disumpah. Minho mengenggam tanganku erat-erat untuk menguatkan. Appa, kau lihat kan? Aku sudah menjadi seorang jaksa sekarang.

* * *

Menjelang sore, upacara pemakaman telah selesai dilakukan. Rumah kami masih dipenuhi para pelayat yang datang bergantian. Aku sudah lelah menangis dan hanya diam membisu. Minho belum pulang, dia masih setia menemaniku dan menghiburku. Untunglah, karena setiap melihat Minho aku seperti mendapatkan energi baru. Orang tua Minho juga hadir, namun hanya sebentar karena mereka harus segera kembali ke Ilsan.

Tiba-tiba, para pelayat menjadi gaduh sendiri. Aku melihat orang-orang berpakaian jas hitam memasuki rumah kami. Siapa mereka? Pikirku marah. Dan pertanyaan itu langsung terjawab ketika melihat dua orang berikutnya masuk ke rumah. Mereka pengawal keluarga Park, pekerjaan yang sama yang dilakukan Appa.

Park Jungsoo, pengusaha kaya itu mengambil bunga dan meletakkannya di depan foto Appa, lalu berbicara dengan eomma. Aku yang duduk agak jauh, hanya menatapnya sengit. Dan berikutnya, saat kulihat putri Park Jungsoo, Park HyeKi, akan melakukan hal yang sama, aku bergerak di luar kesadaran.

Tanganku menepis bunga yang hendak diletakkannya di depan foto Appa. Gadis itu terkejut. Wajahnya menyiratkan kebingungan. Dalam keadaan normal, aku pasti akan bersikap sopan padanya. Namun hari ini, bukan keadaan normal.

“Apa maumu?” aku membentaknya di hadapan para pelayat lain.

“On-onnie, aku…” suaranya mencicit.

“Aku tanya APA MAUMU!! Kau tidak puas menjadi penyebab dari semua ini, HAH?” bentakku lagi. Aku tidak peduli apa yang dipikirkan para pelayat tentangku saat ini.

“Onnie, aku turut berbelasungkawa dan cukhae atas pelantikanmu,” jawab Hyeki pelan. Dia menyerahkan buket bunga Lily padaku. APA? BERBELA SUNGKAWA katanya? Lalu apa? Cukhae? Dia gila.

Aku tersenyum sinis, mengambil buket bunga itu dari tangannya. “Kau pikir hanya dengan berbela sungkawa, appaku akan hidup lagi, huh? Kau penyebabnya!!! Kau membunuh appaku!!” teriakku lepas kendali dan melempar buket bunga itu ke kakinya.

Dalam sekejap aku merasa, lenganku ditarik seseorang, aku melihatnya. Minho rupanya sudah memutuskan untuk turun tangan agar aku tidak menjadi semakin brutal. Sementara Hyeki sudah berada dalam perlindungan ayahnya. Melihat itu hatiku semakin sakit.

“Onnie, mianhe,” ucap Hyeki, air matanya mulai tumpah. Tapi aku tidak akan tertipu oleh air mata buayanya.

“PERGI!! PERGI!!” aku berteriak histeris lagi. “AKU TAK MAU MELIHATMU!! PEMBUNUH!! PERGI!!”

Kulihat Hyeki dibawa oleh ayahnya menjauhi diriku yang semakin menggila. Minho mengguncang-guncang tubuhku, berusaha membuatku berpikir jernih.

“Hyemi~ya, dengarkan aku! Fokus Hyemi~ya,” suara Minho seakan berasal dari tempat yang sangat jauh. Kepalaku rasanya akan pecah. Air mata mulai mengaburkan pandanganku dan tiba-tiba semuanya terasa gelap.

* * *

Hyeki POV

“Appa, aku harus bicara pada Hyemi onnie,” pintaku sambil meronta dari pegangan appa. Hyemi onnie tadi mengamuk, meneriakkan pembunuh dan semacamnya untukku.

“Tidak. Kau lihat sendiri betapa tidak stabilnya dia sekarang? Kita akan pulang sekarang,” tegas Appa, sambil terus menyeretku menuju Black Mercedes kami.

“Appa …” rengekku lagi, namun appa tidak menggubrisnya. Oh , Tuhan, kuatkanlah Hyemi onnie, pintaku sambil menatap rumah Hyemi onnie yang semakin menjauh.

* * *

TBC

Author’s note :

Ahaha, hello yeorobeun. Gimana yang part 2 ini? Pasti bertanya2, Jinki-nya mana? Sabar yaa, semua ada gilirannya #plak!!

Masih banyak misteri yang belum terjawab, doakan moodku akan terus baik selama menulis ini.

RCL yooo 🙂

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s