(Drabble) Sunset

Kau memandang ombak di lautan. Bergulung-gulung, menyapu bibir pantai dan membasahi kakimu. Kau tetap tak beranjak dan menatap di kejauhan. Memandang matahari terbenam. Langit yang biru mulai ternoda dengan semburat jingga sang matahari. Membuat sapuan warna emas indah yang membuatmu semakin betah memandangnya.

Kau masih memandang matahari, sampai kau tersadar ada burung camar berterbangan. Menambah ornamen di langit keemasan. Kau tersenyum dan memperhatikan burung itu terbang kembali ke sarangnya. Kembali pada keluarganya.

Lalu kau tersadar. Kapal-kapal mulai berlayar menuju lautan. Kau memandang dengan penuh kekaguman. Melihat tiang-tiang kokoh, menopang layar-layar besar kapal. Dalam hati kau berharap, suatu saat kau akan bisa ikut berlayar dan melihat seluruh lautan. Dan kau tersenyum lagi.

Matahari kian sepenggal dan kau masih tetap betah duduk di pasir pantai, walaupun ombak sudah membasahi kaki celana jeansmu. Kau tidak menyadari bahwa pantai kini semakin sepi. Kau memandang berkeliling. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada istana pasir yang ditinggalkan pembuatnya dan jejak kaki-kaki yang membuktikan bahwa sebelumnya kau tidak sendiri. Selain itu, tidak ada siapa pun. Hanya ada deburan ombak dan batu-batu besar di pinggir pantai. Sepi. Sunyi.

Namun, anehnya kau tetap tersenyum dalam kesunyian ini. Entah karena apa.

Mungkin ombak? Mungkin batu? Mungkin istana pasir?

Mungkin burung camar? Mungkin kapal-kapal dengan layarnya?

Atau mungkin……

Atau mungkin matahari terbenam dengan latar belakang langit keemasan?

Bukan. Semua hal itu memang membuatmu tersenyum. Namun bukan alasan untuk membuat tetap tersenyum dalam kesunyian. Bukan. Kau tersenyum karena merasakan sepasang tangan kokoh namun lembut meletakkan jaket di bahumu. Kau tahu itu dia. Namja yang membuatmu bertahan menunggu matahari terbenam. Namja yang selalu membuatmu nyaman bersamanya. Kau menoleh dan tersenyum semakin lebar ketika menatap wajah teduhnya.

“Kau bisa kedinginan kalau terus di sini,” ucapnya sambil duduk di sebelahmu.

Kau tertawa. “Lalu kenapa oppa ikut duduk bersamaku?”

Dia menatap matamu dalam-dalam. “Karena aku tidak akan membiarkanmu sendirian,” jawabnya pelan.

Kau terpaku mendengar kata-katanya. Namun beberapa detik kemudian, kau kembali menunjukkan senyummu. Kau menyandarkan kepalamu di bahunya, lalu bergumam, “Gomawo oppa. Saranghae.”

Namja itu tersenyum. “Nado saranghae.”

Dan kalian berdua menatap matahari yang semakin menghilang di ufuk bumi dengan bahagia.

-End-

Credits : Picture by google.

A.N :

Hahaha, apaan ini. sumpaah, saya sedang menggalau riaa. setelah bantuin temen ngerjain tugas deskripsi dengan sunset, akhirnya keidean bikin drabble atau mini oneshoot, dan jadinya fail alias gagal begini. dan ini dikerjakan hanya dalam waktu 30 menit. Mianhee.Castnya boleh diganti sm siapa pun  bias yang kamu suka kok.

seperti biasa, komen ditunggu 🙂

Advertisements

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s